Anda di halaman 1dari 18

BAB V

Ekstraksi Cair - Cair

A. Tujuan
1.

Mengetahui pengaruh rasio solven pada koefisien distribusi ekstraksi


cair-cair.

2.

Mengetahui pengaruh rasio solven pada yield ekstraksi cair-cair.

3.

Mengetahui kondisi operasi yang paling sesuai untuk ekstraksi cair-cair.

B. Dasar Teori
Salah satu masalah yang paling sering terjadi di bidang teknik kimia
adalah pemisahan komponen larutan cair. Mempertimbangkan larutan encer
dua zat yang ingin dipisahkan menjadi komponen-komponen dengan
recovery masing-masing dalam bentuk substansial murni. Salah satu cara
adalah dengan metode ekstraksi. ekstraksi adalah proses pemisahan satu atau
lebih komponen melalui kontak dengan cairan immiscible kedua yang disebut
pelarut. Jika komponen dalam larutan asli mendistribusikan masing-masing
antara dua fase dengan berbeda, pemisahan akan terjadi.
(Couper, 2010)
Ekstraksi cair-cair adalah proses untuk memisahkan komponen cairan
(feed) melalui kontak dengan fasa cair kedua (pelarut). Proses ini mengambil
keuntungan dari perbedaan dalam sifat kimia komponen umpan, seperti
perbedaan polaritas dan karakter hidrofobik/hidrofilik. Transfer komponen
dari satu tahap ke tahap lainnya didorong oleh penyimpangan dari
kesetimbangan termodinamika, dan keadaan setimbang tergantung pada sifat
interaksi antara komponen umpan dan fase pelarut. Potensi untuk
memisahkan komponen umpan ditentukan oleh perbedaan interaksinya.
Proses ekstraksi cair-cair menghasilkan aliran kaya pelarut disebut
ekstrak yang berisi sebagian dari umpan dan aliran sisa umpan terekstraksi
disebut rafinat. Sebuah proses komersial hampir selalu mencakup dua atau
lebih operasi tambahan di samping ekstraksi itu sendiri. Operasi-operasi
tambahan yang diperlukan untuk meperbaiki ekstrak dan aliran rafinat untuk

keperluan isolasi produk yang diinginkan, recoverypelarut untuk ekstraktor,


dan membersihkan komponen yang tidak diinginkan dari proses tersebut.
(Perry, 2008)
Ekstraksi cair sebagai sarana pemisahan dapat dilakukan dengan
beberapa cara, semua melibatkan distribusi zat antara dua cairan tak saling
larut. cairan asli dapat dicuci dengan cairan kedua, larutan immiscible dengan
pelarut larutan asli, sehingga secara istimewa melarutkan zat terlarut. larutan
asli dapat didinginkan atau dipanaskan sehingga membentuk dua fasa cair,
dimana konsentrasi zat terlarut di setiap tahap akan berbeda. Pendinginan atau
pemanasan dapat dilakukan setelah penambahan cairan ketiga. Yang paling
kompleks pada operasi ini, dua cairan yang tak saling bercampur
ditambahkan ke dalam larutan asli, masing-masing melarutkan komponen
yang berbeda dari aslinya (pecahan ekstraksi).
(Treyball, 1951)
Pelarut yang ideal akan dengan mudah direcovery dari ekstrak. Sebagai
contoh, jika distilasi adalah metode recovery, larutan solven campuran harus
memiliki volatilitas yang relatif tinggi, panas penguapan zat terlarut yang
rendah, dan kesetimbangan koefisien distribusi yangtinggi. Koefisien
distribusi yang tinggi akan memberikan persyaratan yang rendah terhadap
pelarut dan tingkat ekstrak yang rendah diumpankan ke kolomrecovery
pelarut. Faktor-faktor ini akan meminimalkan modal dan operasional biaya
yang terkait dengan sistem distilasi. Selain aspek recovery, pelarut harus
memiliki selektivitas yang tinggi (rasio distribusi koefisien), tak saling larut
dengan carrier, memiliki viskositas rendah, dan memiliki perbedaan densitas
yang tinggi (dibandingkan dengan carrier) dan tegangan antarmuka cukup
rendah.
(Couper, 2010)
Parameter yang digunakan pada pemilihan solvent proses ekstraksi :
1. Loading capacity
Properti ini mengacu pada konsentrasi maksimum zat terlarut fase ekstrak
dapat diambil sebelum dua fase cair tidak bisa lagi berdampingan atau zat
terlarut presipitat sebagai fase terpisah.

2. Rasio partisi (koefisien distribusi)

Rasio partisi pada urutan Ki = 10 atau lebih tinggi diinginkan untuk proses
yang lebih ekonomis karena memungkinkan operasi dengan jumlah pelarut
minimal dan produksi konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi.
3. Selektivitas

Ketika campuran pelarut yang digunakan dalam proses komersial, sering


kali karena campuran memberikan selektivitas yang lebih tinggi, dan
sering mengorbankan rasio partisi sedikit lebih rendah. Oleh karena itu
tingkat pemurnian yang dapat dicapai juga tergantung pada skema
ekstraksi yang dipilih untuk proses, jumlah ekstraksi pelarut, dan jumlah
tahap yang digunakan.
4. Stabilitas
Pelarut harus memiliki sedikit kecenderungan untuk bereaksi dengan
produk zat terlarut dan bentuk yang tidak diinginkan oleh produk,
menyebabkan kerugian pada yield.
5. Yield

6. Perbedaan densitas
Umumnya, perbedaan densitas antara fase pelarut dan umpan pada kisaran
0,1 sampai 0,3 g / mL yang sering digunakan. Nilai yang terlalu rendah
membuat ekstraksi cair-cair yang buruk atau lambat, nilai yang terlalu
tinggi mempersulit untuk pembentukan droplet terdispersi yang tinggi
untuk perpindahan massa yang baik.
7. Viskositas
Viskositas rendah lebih disukai karena viskositas yang lebih tinggi
umumnya meningkatkan resistensi transfer massa dan pemisahan fase caircair akan mengalami kesulitan.

8. Tegangan antarmuka
Sistem dengan nilai tegangan antarmuka yang lebih rendah akan dengan
mudah teremulsi. Untuk sistem dengan lebih tinggi, droplet terdispersi
cenderung menyatu dengan mudah, sehingga luas antarmuka rendah dan
kinerja transfer massa menjadi sangat rendah.
9. Recoverability
Recovery pelarut dari ekstrak dan rafinat sangat penting untuk
keberhasilan komersial. fisik pelarut properti harus memfasilitasi pilihan
biaya

yang

murah

untuk

recoverypelarut,

mendaur

ulang,

dan

penyimpanan.
(Perry, 2008)
Ada tiga faktor penting yang berpengaruh dalam peningkatan
karakteristik hasil dalam ekstraksi cair-cair yaitu :
a. Perbandingan pelarut-umpan (S/F).
Kenaikan jumlah pelarut (S/F) yang digunakan akan meningkatan hasil
ekstraksi tetapi harus ditentukan titik (S/F) yang minimum agar proses
ekstraksi menjadi lebih ekonomis.
b. Waktu ekstraksi.
Ekstraksi yang efisien adalah maksimumnya pengambilan solut dengan
waktu ekstraksi yang lebih cepat.
c. Kecepatan pengadukan.
Untuk ekstraksi yang efisien maka pengadukan yang baik adalah yang
memberikan hasil ekstraksi maksimum dengan kecepatan pengadukan
minimum, sehingga konsumsi energi menjadi minimum.
(Martunus, 2007)
Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memulihkan komponen yang
diinginkan dari campuran cairan mentah atau untuk menghilangkan
kontaminan yang tidak diinginkan. Harus dapat diputuskan apa pelarut atau
campuran pelarut yang digunakan, bagaimana recovery pelarut dari ekstrak,
dan cara menghilangkan residu pelarut dari rafinat tersebut. Selain itu, juga
harus dapat memutuskan berapa suhu atau kisaran suhu yang haus digunakan
untuk ekstraksi, apa proses perancangan yang dipakai di antara banyak

kemungkinan, dan apa jenis peralatan yang akan digunakan untuk kontak
cair-cair dan pemisahan fase.
Karena ketersediaan ratusan pelarut komersial dan ekstraktan, serta
berbagai skema proses yang ditetapkan dan pilihan peralatan, ekstraksi caircair adalah teknologi serbaguna dengan berbagai aplikasi komersial. Hal ini
digunakan dalam pengolahan berbagai komoditas dan bahan kimia khusus
termasuk logam dan bahan bakar nuklir (hidrometalurgi), petrokimia, batu
bara dan organik yang kompleks seperti obat-obatan serta bahan kimia
pertanian. Ekstraksi cair-cair juga merupakan operasi penting dalam
pengolahan air limbah industri, pengolahan makanan, dan recovery
biomolekul dari fermentasi.(Perry, 2008)

C. Alat dan Bahan


1. Alat

Gambar V.1 Peralatan ekstraksi cair-cair

Keterangan :
a. Corong pisah

i. Corong kaca

b. Labu takar 25 mL, 50 mL

j. Shaker bath

c. Erlenmeyer 100 mL

k. Termometer

d. Beaker glass 100 mL

l. Spektrofotometer UV-Vis

e. Gelas ukur 10 mL

m. Cuvet

f. Pipet ukur 5 mL, 25 mL

n. Statif, clamp, bosshead

g. Pipet tetes

o. Timbangan

h. Ball filler

p. Kompor

2. Bahan
a. Kresol
b. Kerosen
c. Metanol
d. Aquades

3. Skema Kerja
METHANOL

KEROSEN

KRESOL

AQUADES

LARUTAN SAMPEL
Larutansampel di
kocokdenganbantuanshakker
LARUTAN SAMPEL

LARUTAN SAMPEL

RAFINAT

Penimbangan dan
pengukuran volume
rafinat

RAFINAT

Analisis rafinat
dengan
spektrofotometri

RAFINAT

Larutansampel di
diamkanpadacorongpemisahda
nterbentuk 2 lapisan

EKSTRAK

EKSTRAK

EKSTRAK

Penimbangan dan
pengukuran volume
ekstraksi
Analisis ekstraksi
dengan
spektrofotometri

Gambar V.2 Skema kerja ekstraksi cair-cair

D. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil
Tabel V.1 Data Pengamatan
No
Cara Kerja
Pengamatan
1. Pembuatan larutan kresol-kerosen 8% dari Larutan berwarna
konsentrasi 80% sebanyak 25 mL, dengan kuning bening
cara memasukkan larutan kresol-kerosen
80% sebanyak 2.5 mL ke dalam labu takar
25 mL, kemudian ditambahkan kerosen
sampai garis batas pada labu takar. (solut)

2.

Membuat larutan metanol 80% 50 mL Larutan jernih


dengan cara memasukkan 40 mL metanol
ke dalam labu takar 50 mL, lalu
menambahkan aquades sampai garis batas
labu takar. (solven)

3.

Membuat campuran dengan perbandingan Terdapat lapisan


solut : solven yaitu 1:1, 1:2, dan 1:3, minyak di atas lapisan
kemudian dishaker dengan kecepatan 200 jernih
rpm dan 220 rpm.

4.

Memisahkan
kedua
lapisan
yang (tabel 2)
terbentuk menggunakan corong pisah dan
melakukan pengukuran dan pengamatan
menggunakan spektrofotometer.

Tabel V.2 Data Hasil Pengukuran


Kecepatan
kode
berat gelas
volume
shaker
tabung
ukur (gr)
(ml)
48.05
2.6
1
21.81
2.7
1'
22.47
6.2
2
200 rpm
43.27
2.6
2'
45.48
8.6
3
46.73
2.7
3'

220 rpm

4
4'
5
5'
6
6'

48.05
21.81
22.47
43.27
45.48
46.73

2.6
2.7
5.8
2.6
8.8
2.8

berat gelas ukur


berisi larutan (gr)
50.4
23.9
27.51
45.3
52.68
48.58
50.18
23.81
27.64
45.27
53.01
48.83

Keterangan:
1 = ekstrak dari sampel 1 (3ml larutan kresol kerosene
methanol 80 %, pada 200 rpm)
1 = rafinat dari sampel 1 (3ml larutan kresol kerosene
methanol 80 %, pada 200 rpm)
2 = ekstrak dari sampel 2 (3ml larutan kresol kerosene
methanol 80 %, pada 200 rpm)
2 = rafinat dari sampel 2 (3ml larutan kresol kerosene
methanol 80 %, pada 200 rpm)
3 = ekstrak dari sampel 3 (3ml larutan kresol kerosene
methanol 80 %, pada 200 rpm)

absorbansi
2.471
2.543
2.378
2.565
2.33
2.576
2.445
2.549
2.349
2.552
2.304
2.553

8%+ 3ml larutan


8%+ 3ml larutan
8%+ 6ml larutan
8%+ 6ml larutan
8%+ 9ml larutan

3 = rafinat dari sampel 3 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 9ml


methanol 80 %, pada 200 rpm)
4 = ekstrak dari sampel 4 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 3ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)
4 = rafinat dari sampel 4 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 3ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)
5 = ekstrak dari sampel 5 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 6ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)
5 = rafinat dari sampel 5 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 6ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)
6 = ekstrak dari sampel 6 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 9ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)
6 = rafinat dari sampel 6 (3ml larutan kresol kerosene 8%+ 9ml
methanol 80 %, pada 220 rpm)

larutan
larutan
larutan
larutan
larutan
larutan
larutan

2. Analisis Data dan Pembahasan


Dalam praktikum ekstraksi cair-cair, komponen yang akan di
ekstrak adalah kresol yang ada pada campuran kresol-kerosen 8%.
Pembuatan campuran kresol-kerosen 8% sebanyak 25ml, dibuat dari
pengenceran larutan kresol-kerosen 80%, dengan cara mencampurkan
2,5 ml larutan kresol-kerosen 80% ditambah dengan kerosen hingga
mencapai batas 25ml pada labu takar 25ml yang digunakan. Larutan
kemudian dihomogenkan. Larutan terlihat homogen dan bening.

Pengenceran larutan kresol-kerosen :

Kemudian membuat larutan methanol 80% 50 ml sebagai pelarut


untuk ekstraksi yang dibuat dengan mencampurkan 40 ml (80 % x 50
ml) methanol dan menambahkan aquades hingga batas 50 ml pada
labu takar 50 ml yang digunakan. Larutan menjadi homogen dan
bening.

Setelah larutan yang akan diekstrak dan pengekstrak terbentuk, maka


selanjutnya membuat larutan sampel berdasarkan 2 variabel, yaitu

variable perbedaan jumlah penambahan pelarut (solven), dan variable


perbedaan kecepatan pencampuran larutan (shaker). Sampel yang
dibuat antara lain:
Sampel 1 = 3ml larutan kresol kerosene 8% + 3ml larutan methanol
80%, pada 200 rpm
Sampel 2 = 3ml larutan kresol kerosene 8% + 6ml larutan methanol
80%, pada 200 rpm
Sampel 3 = 3ml larutan kresol kerosene 8%+ 9ml larutan methanol
80%, pada 200 rpm
Sampel 4 = 3ml larutan kresol kerosene 8% + 3ml larutan methanol
80%, pada 220 rpm
Sampel 5 = 3ml larutan kresol kerosene 8% + 6ml larutan methanol
80%, pada 220 rpm
Sampel 6 = 3ml larutan kresol kerosene 8%+ 9ml larutan methanol
80%, pada 220 rpm

Sampel dihomogenkan menggunakan shaker bath selama 30 menit


dengan kecepatan yang telah ditentukan untuk masing-masing sampel.
Pencampuran solute (larutan kresol-kerosen) dan solven (larutan
methanol) menggunakan shaker bath dengan waktu 30 menit
bertujuan untuk mengoptimalkan kontak masing masing larutan agar
kresol larut dalam methanol dan meninggalkan kerosene. Setelah
proses pencampuran selama 30 menit, terlihat adanya 2 larutan yang
tidak saling bercampur (terbentuk lapisan minyak). Kedua lapisan
tersebut kemudian dipisahkan dengan menggunakan corong pemisah.
Larutan dimasukkan ke dalam corong pemisah dan didiamkan selama
1 jam. Setelah itu dipisahkan masing-masing lapisan dan ditampung
pada gelas ukur yang tersedia dengan kode yang sesuai. Setiap gelas
ukur ditimbang dan diukur massa kosong, volume larutan, dan massa
gelas ukur yang berisi larutan. Sehingga dapat diketahui densitas
masing-masing larutan, melalui rumus:

Tabel V.3 Data Pengukuran Densitas


Kecepatan
shaker

200 rpm

220 rpm

kode
tabung
1
1'
2
2'
3
3'

berat gelas
ukur (gr)
48.05
21.81
22.47
43.27
45.48
46.73

volume
(ml)
2.7
2.6
6.2
2.6
8.6
2.4

berat gelas ukur


berisi larutan (gr)
50.4
23.9
27.51
45.3
52.68
48.58

Densitas

4
4'
5
5'
6
6'

48.05
21.81
22.47
43.27
45.48
46.73

2.6
2.7
5.8
2.6
8.8
2.8

50.18
23.81
27.64
45.27
53.01
48.83

0.8192
0.7407
0.8913
0.7692
0.8557
0.75

0.8703
0.8038
0.8129
0.7807
0.8372
0.7708

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa densitas ekstrak lebih


besar dibanding dengan densitas rafinat. Sehingga ekstrak berada pada
lapisan dibawah rafinat.
Setelah dilakukan pengukuran massa dan volume, ekstrak yang
diperoleh selanjutnya diuji menggunakan spektrofotometer dengan
panjang gelombang 298 nm, sehingga diperoleh absorbansi masingmasing larutan dan dapat dihitung konsentrasinya dengan data larutan
standar yang telah diketahui.
Tabel V.4 Data Absorbansi Larutan Standar
Konsentrasi Larutan
Absorbansi ( A )
0.2
2.273
0.4
2.436
0.6
2.567
0.8
2.661

larutan standar

2.7

y = 0.6475x + 2.1605
Absorbansi

2.6
2.5

larutan standar

2.4

Linear (larutan
standar)

2.3
2.2
0

0.2

0.4
0.6
konsentrasi larutan

0.8

Gambar V.3 Kurva Larutan standar

Dari persamaan garis y = 0.647x + 2.160 tersebut, maka dapat digunakan


untuk menghitung konsentrasi dari larutan ekstrak yang didapat.
Tabel V.5 Data Pengukuran Koefisien distribusi
Kecepatan shaker sampel Absorbansi (y) Konsentrasi (x) Ki ( Ce/Cr )
0.4807
0.81201
1
2.471
200 rpm
0.3369
0.538272
2
2.378
0.2627
0.408654
3
2.33
0.732643
4
2.445
0.4405
220 rpm
0.482143
5
2.349
0.2921
0.366412
6
2.304
0.2225
Neraca Massa
Data Densitas :
Kresol 1023,58 kg/m3 = 1,02358 g/ml
Kerosene 817,15 kg/m3 = 0,81715 g/ml
Methanol 791,30 kg/m3 = 0,79130 g/ml
Methanol 80% volume
Air 20% volume
Kresol 8% volume
Kerosen 92 % volume

MIXER

Kresol
kerosen

Gambar V.4 Neraca massa ekstraksi cair-cair

Kresol
Methanol

Sampel 1
1. Umpan
a. Kresol kerosen
Volume kresol = 8% x 3 ml = 0,24 ml
Massa jenis kresol = 1,02358 gr/ml
Massa kresol = 0,24 x 1,02358 = 0,245 gram
Mr = 108,14 g/mol
n = 0,245 / 108,14 = 0,0023 mol
Volume kerosene = 92% x 3 ml = 2,76 ml
Massa jenis kerosene = 0,81715 gr/ml
Massa kerosene = 0,81715 x 2,76 = 2,255 gr
Mr = 170 g/mol
n = 0,0133 mol
n total larutan = 0,0023 + 0,0133 = 0,0156 mol
fraksi mol kresol dalam umpan

=
= 0,146

b. Methanol air
Volume methanol = 80% x 3 ml = 2,4 ml
Massa jenis methanol = 0,79130 g/ml
Massa methanol = 2,4 x 0,79130 = 1,899 gr
Mr = 32,04 g/mol
n = 1,899/32,04 = 0,059 mol
Volume air = 20% x 3 ml = 0,6 ml
Massa jenis air = 1 gr/ml
Massa air = 0,6 x 1 = 0,6 gr
Mr = 18,015
n = 0,6 / 18,015 = 0,033 mol
n total larutan = 0,059 + 0,033 = 0,092 mol
massa total umpan = 0,245 + 2,255 + 1,899 + 0,6 = 4,999 gr

2. Ekstrak
Kresol methanol air
Volume = 2,6 ml
Massa = 2,35 gr
Massa jenis = 0,903 g/mol
Mr = 32,04 + 18, 015 + 108,14 = 158,195 g/mol
n = 2,35 / 158,195 = 0,0148 mol
3. Rafinat
Kresol kerosene
Volume = 2,7 ml
Massa = 2,09 gr
Massa jenis = 0,77 g/ml
Mr = 32,04 + 170 = 202,04 g/mol
n = 2,09 / 202,04 = 0,0103 mol

Neraca Komponen Kerosene :


input

= output

xk kresol-kerosen+xk methanol-air = xk kresol-methanol-air+xk kresol-kerosen


(0,85 x 3ml) + (0 x 3 ml)

= (0 x 2,6ml) + (xk . 2,7)

2,55

= xk . 2,7
xk

= 0,94

jadi dalam rafinat fraksi masing-masing komponen adalah


xkerosen

= 0,949

xkresol

= 1 - 0,94 = 0,051

Neraca Komponen Kresol :


xkr kresol-kerosen+xkr methanol-air = xkr kresol-methanol-air+xkr kresol-kerosen
(0,146 x 3ml) + (0 x 3)

= (xkr . 2,6) + (0,051 x 2,7)

0,438

= xkr . 2,6 + 0,1377

0,3

= xkr . 2,6

xkr

= 0,115

Jadi fraksi kresol dalam ekstrak adalah 0,115.

Yield =[ (2,35 gr x 0,115) : (4.999 x 0,146)] x 100 %


= 0,2702 : 0,729
= 37 %
Koefisien distribusi

=
=
= 2,25

Dengan cara yang sama untuk menganalisis sampel lainnya :


Tabel V.6 Analisis Rafinat
Sampel

volume
2.7
2.6
2.7
2.7
2.6
2.8

1
2
3
4
5
6

massa
2.09
2.03
1.85
2
2
2.1

rafinat
Mol
fraksi kerosen
0.0075142 0.948721885
0.0072985 0.985211188
0.0066513 0.948721885
0.0071906 0.948721885
0.0071906 0.985211188
0.0075502 0.914838961

fraksi kresol
0.051278115
0.014788812
0.051278115
0.051278115
0.014788812
0.085161039

Tabel V.7 Analisis Ekstrak,Yield dan Koefisien Distribusi


Ekstrak
sampel
volume massa
Mol
fraksi kresol
Yield
1
2.6
2.35 0.014856 0.115384615 37.11359
2
6.2
5.04 0.031862 0.064516129 44.50574
3
8.6
7.2
0.045518 0.034883721 34.37735
4
2.6
2.13 0.013466 0.115384615 33.63912
5
5.8
5.17 0.032684 0.068965517 48.80223
6
8.8
7.53 0.047604 0.022727273 23.42391

Ki
2.250173
4.362496
0.680285
2.250173
4.663358
0.266874

Koefisien Distribusi
Koefisien Distribusi

5
4
3
2
1
0
0

3
sampel

Ki 200 rpm
5 Ki 220 rpm6

Gambar V.5 Grafik Pengaruh Solven pada Koefisien distribusi

Dari grafik tersebut, dapat diketahui bahwa untuk ekstraksi kresol


dari kerosene dengan menggunakan methanol, semakin besar perbandingan
jumlah solven yang digunakan, maka semakin besar pula koefisien
distribusinya. Dan saat tertentu Koefisien distribusi akan mencapai
maksimum, yang kemudian akan menurun kembali. Pada ekstraksi cair-cair
ini, koefisien distribusi tertinggi ada pada rasio 1 : 2 antara solute dan
solven. Sedangkan pada rasio sama, tapi dengan perbandingan kecepatan
pengadukan, maka dengan pengadukan 220 rpm akan menunjukkan
koefisien distribusi yang lebih tinggi dibandingkan saat 200 rpm. Hal ini
sesuai dengan teori dalam Perrys handbook bahwa koefisien distribusi yang
tinggi umumnya memungkinkan untuk penggunaan jumlah pelarut yang
lebih rendah, lebih kecil dan biaya untuk pemulihan pelarut dan daur ulang
juga lebih rendah. Nilai Ki terbesar yang diperoleh dalam ekstraksi ini
adalah 4,66 pada sampel 5.

Dengan cara yang sama dapat dihitung yield pada masing-masing


sampel, dan data dalam table bisa diplotkan akan memperoleh grafik seperti
berikut:

Yield
50
45

Yield

40
35
30
25
20
0

sampel

5
yield 200 rpm

yield 220 rpm

Gambar V.6 Grafik Pengaruh Solven Pada Yield

Dari grafik tersebut, dapat diketahui bahwa untuk ekstraksi kresol


dari kerosene dengan menggunakan methanol, semakin besar perbandingan

jumlah solven yang digunakan, maka semakin besar pula yield yang
dihasilkan. Dan hingga saat tertentu yield akan mencapai maksimum, yang
kemudian akan menurun kembali seiring dengan penambahan solven. Pada
ekstraksi cair-cair ini, koefisien distribusi tertinggi ada pada rasio 1 : 2
antara solute dan solven. Sedangkan pada rasio sama, tapi dengan
perbandingan kecepatan pengadukan, maka dengan pengadukan 220 rpm
akan menghasilkan nila yield yang lebih tinggi dibandingkan saat 200 rpm.
Nilai yield tertinggi ada pada sampel 5 yaitu sebesar 48,8 %.

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
a. Rasio solven akan meningkatkan nilai Ki hingga titik maksimum,
dan akan menurun saat telah mencapai Ki maksimum. Ki
maksimum pada praktikum ini adalah 4,66 yang diperoleh dari
sampel 5 dengan konsentrasi solut : solven sebesar 1:2 dan kondisi
operasi kecepatan pengadukan 220 rpm.
b. Rasio solven akan meningkatkan yield hingga titik maksimum, dan
akan menurun saat yield telah mencapai maksimum. Yield
maksimum pada praktikum ini adalah 48,8% yang diperoleh dari
sampel 5 dengan rasio solut : solven sebesar 1 : 2 dan kondisi
operasi kecepatan pengadukan 220 rpm.
c. Dalam praktikum oni kondisi operasi terbaik dicapai oleh sampel 5
yaitu dengan rasio solut : solven sebesar 1 : 2 dan kecepatan
operasi pencampuran 220 rpm, yang menghasilkan yield dan
koefisien distribusi tertinggi.

2. Saran
a. Pengukuran bahan dilakukan dengan teliti agar perolehan yield
lebih akurat.
b. Pemisahan ekstrak dan rafinat dipastikan benar-benar terpisah agar
data yang diperoleh lebih valid.

DAFTAR PUSTAKA

Martunus, Zuchra Helwani. 2007.Ekstraksi Dioksin Dalam Limbah Air


BuanganIndustri Pulp Dan Kertas Dengan Pelarut Toluen. Pekanbaru.
Treyball, Robert E. 1951. Liquid Extraction. New York : Mc Graw-Hill Book
Company, Inc.
Perry, Robert H. 2008. Perrys Chemical Engineers Handbook. New York : Mc
Graw-Hill Book Company, Inc.
Couper, James R. 2010. Chemical Process Equipment : Selection and Design.
Burlington : Elsevier Inc.