Anda di halaman 1dari 46

BAB I

BAHAN ISOLASI
Bahan isolasi adalah bahan yang digunakan untuk memisahkan bagian
bagian yang bertegangan atau yang aktif. Untuk itu sifat kelistrikannya memegang
peran yang sangat penting. Namun demikian sifat mekanis, sifat termal, ketahanan
terhadap bahan kimia serta sifat-sifat lainnya perlu juga diperhatikan.
1.1 Sifat Kelistrikan
Terdapat 3 hal pokok yang dibahas didalam sub-bab ini yaitu resistivitas,
permitivitas, dan sudut kerugian dielektrik.
Dari 3 hal tersebut akan memberikan gambaran sifat kelistrikan suatu
bahan isolasidi samping sifat-sifat yang lain.
1.1.1 Resistivitas
Sesuai dengan fungsinya, bahan isolasi bahan isolasi yang baik adalah
bahan isolasi yang resistivitasnya besar tak terhingga. Tetapi pada kenyataannya
bahan yang demikian itu belum bias diperoleh.
Sampai saat ini semua bahan isolasi pada teknik listrik masih mengalirkan
arus listrik walaupun kecil yang lazim disebut arus bocor. Hal ini menunjukan
bahwa resistansi bahan isolasi bukan tidak terbatas besarnya.
Besarnya resistansi bahan isolasi sesuai dengan hokum Ohm adalah:
. . . . . (1-1)
Ri = resistansi isolasi (ohm)
V = tegangan yang digunakan (volt)
Ib = arus bocor (ampere)
Kalau diperhatikan lebih jauh, terdapat 2 macam resistansi yaitu resistansi
volume (Rv) dan resistansi permukaan (Rp).
Resistansi volume mengakibatkan mengalirnya arus bocor (Iv), sedangkan
resistansi permukaan menybabkan mengalirnya arus bocor Ip, seperti ditunjukan
pasa Gambar 1.1

Gambar 1.1 arus bocor Iv dan Ip pada bahan isolasi


Seperti terlihat pada Gambar 1.1, Rv dan Rp adalah paralel. Sehingga berdasarkan
Hukum Kirchoff I :
. . . . . . . . . . . . . . . . . .(1-2)
. . . . . . . . . . . . . .(1-3)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-4)

Resistivitas volume pasa umumny disebut resistivitas saja.


Besar resistivitas volume adalah
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-5)

v = adalah resistivitas volume dengan (ohm-meter)


I

= panjang bagian yang dilewati arus (m)

S = luas penampang (m)


Besarnya resistivitas permukaan di antara bidang sekitar b pada jarak a adalah :
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-6)

s adalah resistivitas peermukaan dengan satuan ohm.


2

Definisi dari resistivitas permukaan s adalah resistansi pada permukaan persegi


suatu bahan waktu arus mengalir di sisi lain dari penampang tersebut.

Gambar 1.2 ilustrasi perhitungan resistansi


a. Perhitungan resistansi volume
b. Perhitungan resistansi permukaan
Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan resistivitas adalah:
a. Baik resistivitas volume maupun resistivitas permukaan akan berkurang
besarnya jika suhu dinaikkan. Banyak bahan yang mempunyai

yang

besar pada suhu kamar, tetapi, turun drastic pada suhu 100 C.
b. Untuk bahan isolasi yang higroskopis, di daerah-daerah yang lembab
resistivitasnya akan turun secara mencolok.
c. Resistivitas akan turun jika tegangan yang diberikan naik.
Dari 3 hal tersebut diatas. Maka pada pemakaian sehari-hari dalam
pemakaian bahan isolasi misalnya untuk daerah yang suhunya lembab atau tinggi,
harus dipilih bahan yang sesui baik bahan maupun tegangan kerjanya.
1.1.2 Permitivitas
Setiap bahan isolasi mamiliki permitivitas. Hal ini penting bagi bahanbahan yang digunakan sebagai dielektrik kapasitor.
Kapasistansi suatu kapasitor tergantung beberapa factor yaitu: luas
permukaan, jarak antara keeping-keping kapasitir serta dielektriknya.
Besar kapasistansinya C (farad) dapat dihitung dengan:
. . . . . . . . . . . . . . . . .(1-7)
3

permitivitas bahan dielektrik


h = jarak keeping-keping kapasitor
s = luas permukaan keeping-keping kapasitor
Besarnya permitivitas udara hamper 1 yaitu 1,000589, sedangkan besarnya
permitivitas untuk zat padat dan zat cair selalu lebih besar dari 1.
1.1.

3 Sudut Kerugian Dielektrik


Pada saat bahan isolasi diberi tegangan bolak-balik, maka terdapat energi

yang diserap oleh bahan tersebut. Akibatnya terdapat faktor kafasitif. Hubungan
vektoris antara tegangan dan arus pada bahan isolasi adalah seperti ditunjukan
pada Gambar 1.3.
Besarnya kerugian yang diserap bahan isolasi adlah berbanding lurus
dengan tegangan V volt, frekuensi f hertz, kapasitansi C farad dan sudut kerugian
dielektrik tan , seperti ditunjukkan pada persamaan 1-8.

Gambar 1.3 Ic = f(Ir)


. . . . . . . . . . .(1-8)
Sehingga
. . . . . . . . . . . . . . . .(1-9)

Dari persamaan 1-9 terlihat bahwa semakin besar tegangan, frekuensi dan
kapasitansi untuk kerugian yang sama, maka makin kecil harga tan atau makin
kecil sudut antara arus resistif Ir dengan arus total I.
1.2 Sifat Terhadap Panas
4

Pada penghantar yang dilewati arus listrik selalu terjadi kerugian daya.
Kerugian daya ini selanjutnya didesipasikan dalam bentuk energy panas. Untuk
itu perlu dipelajari pengaruh panas terhadap bahan-bahan isolasi karena panas
dapat mempengaruhi bahan isolasi dalam hal: sifat kelistrikan, kekuatan mekanis,
kekerasan, viskositas, ketahanan terhadap pengaruh kimia dan sebagainya.
Suatu bahan isolasi dapat rusak disebabkan oleh panas dalam kurun waktu
tertentu. Waktu tersebut dikatakan sebagai umur panas bahan isolasi. Sedangkan
kemampuan bahan menahan suatu panas tanpa terjadi kerusakan disebut
ketahanan panas (heat resistance).
Klasifikasi bahan isolasi menurut IEC(International Electrotechnical Commission)
didasarkan atas batas suhu kerja bahan seperti ditunjukan pada Tabel 1.1
Kelas
Y

Bahan
Katun, sutera alam, wolsintetis, rayon,

Suhu Kerja Maks.


90 C

serat, poliamid, kertas, prespan, kayu,


A

poliakrilat, polietilen, polivinil, karet.


Bahan kelas Y yang diimpregnasi dengan

105 C

vernis, aspal, minyak trafo.


Email yang dicampur dengan vernis
E

poliamid.
Email kawat yang terbuat dari: polivinil,

120 C

formal, poliurethan dan dammar, bubuk


plastic, bahan selulosa pengisi pertinaks,
B

teksoloit, triasetat, polietilen tereftalat.


Bahan anargonik (mika, fiberglas, asbes)

130 C

bitumen, bakelit, polimonochloro tri fluor


etilen, poli etilen tereflatat, poli karbonat,
sirlak.
F

Bahan-bahan anorganik tanpa diimpregnasi

155 C

atau direkat dengan epoksi, poliurethan,


H

atau vernis dengan ketahanan yang tinggi.


Mika, fiberglas dan asbes yang
diimpregnasi dengan silicon tanpa
5

180 C

campuran bahan berserat, karet silicon,


C

email kawat poliamid murni.


Bahan-bahan anorganik tanpa diimpregnasi

Diatas 180 C

atau diikat dengan substansi organic yaitu:


mika, mikanit tahan panas, mikaleks, gelas,
keramik, Teflon (politetrafluoroetilen)
adalah satu-satunya substansi orgaik.
1.3 Ketahanan Terhadap Suhu Rendah
Ketahanan terhadap suhu rendah ialah kemampuan bahan isolasi untuk
digunakan pada suhu rendah dalam hal ini -60C hingga -70C.
Umumnya bahan isolasi jika terkena suhu rendah akan menjadi keras dan
regas. Untuk itu biasanya bahan isolsi juga diuji pada suhu rendah dengan diberi
vibrasi.
1.4 Konduktivitas Panas
Panas yang didesipasikan oleh penghantar atau rangkaian magnetik pada
mesin listrik melalui bahan isolasi diteruskan ke udara sekelilingnya. Kenaikan
suhu pada penghantar dipengaruhi pula oleh resistansi panas dari bahan isolasi.
Untuk menghitung besarnya resistansi panas dapat digunakan rumus yang
mirip dengan hokum ohm sebagai berikut:

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(1-10)

P = panas yang lewat malui bahan isolasi setiap detik dalam satuan watt.
T = beda suhu antra bagian yang panas dan bagian yang dingin dalam satuan C.
Rp = resistansi panas dalam satuan derajat per watt atau ohm meter panas (p).
Untuk menghittung besarnya resistansi panas (Rp) digunakan rumus :
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-11)

p = resistivias panas (o/W atau m panas).


6

h = jarak antara bagian panas dan dingin.


S = penampang (

Besarnya konduktivitas panas (

. . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . (1-12)

Bahan-bahan tersebut mempunyai p yang tinggi dan p tersebut turun


bila bahan diimpregnasi atau bila bahan menjadi lembab.
Tabel : 1.2
Konduktivitas Panas Beberapa bahan
No.

Nama Bahan

Konduktivitas Panas W/o.m

Udara (celah yang sempit)

Aspal

Kertas

Kain yang divernis

Pertinaks

Kuarsa

Porselin

Steatite

Titanium dioksid

10

Silicon dioksid

11

Grafit

12

Karborundum

13

Alumina

14

Magnesium

15

Besi

16

Beryllium

17

Aluminium

18

Tembaga

1.5 Sifat Fisis dan Kimia


Beberapa sifat fisis dan kimia yang akan dibahas disini adalah : sifat
kemampuan larut, resistansi kimia, higroskopitas, permeabilitas uap, pengaruh
tropis dan resistansi radio aktif.
1.5.1 Sifat Kemampuan Larut
Sifat ini adalah diperlukan ketika menentukan macam bahan pelarut untuk
suatu bahan misalnya: vernis, plastic, dan sebagainya.
Juga ketika menguji bahan isolasi atas kemampuan nya tetap tahan
didalam cairan selama diimpregnasi dan selama pemakaiannya (bahan isolasi trafo
minyak).
Kemampuan larut bahan padat dapat dievaluasi berdasarkan banyaknya
bagian permukaan bahan yang dapat larut setiap satuan waktu jika diberi bahan
pelarut. Kemampuan larut suatu bahan akan lebih besar jika suhunya dinaikkan.
Umumnnya bahan pelarut komposisi kimianya sama dengan bahan yang
dilarutkan. Contohnya: hidro karbon (paraffin, karet alam) dilarutkan dengan
cairan hidro karbon atau fhenol fomaldehida.
1.5.2 Resistansi Kimia
Bahan isolasi mempunyai kemampuan yang berbeda ketahanannya
terhadap korosi yang disebabkan oleh: gas, air, asam, basa dan garam. Hal ini

perlu diperhatikan untuk pemakaian bahan isolasi yang digunakan di daerah yang
konsentrasi

kimianya aktif, suhu diatas normal. Karena kecepatan korodi

dipengaruhi pula oleh kenaikkan suhu.


Bahan isolasi yang digunakan pada instalasi tegangan tinggi harus mampu
menahan terjadinya ozon. Artinya, bahan tersebut harus mempunyai resistansi
ozon yang tinggi. Karena ozon dapat menyebabkan isolasi berubah menjadi regas.
Pada prakteknya, bahan isolasi anorganik mempunyai ketahanan terhadap ozon
yang baik.
1.5.3 Hogrokopita
Beberapa bahan isolasi ternyata mempunyai sifat higrokopitas, yaitu sifat
menyerap air disekelilingnya. Uap air ternyata dapat mengakibatkan perubahan
mekanis-fisik (physic-mechanical) dan memperkecil daya isolasi.
Untuk itu selama penyimpanan dan pemakaian bahan isolasi agar tidak
terjadi penrerapan uap air oleh bahan isolasi, maka hendaknya bahan penyerap
uap air yaitu senyawa PO atau CaCl.
Bahan dielektrik yang molekulnya berisi kelompok hidroksil (OH),
higrokopitasnya relative besar. Sedangkan bahan dielektrik seperti: paraffin,
polietilin dan polietra fluoro etilen adalah bahan-bahan nonhigrokopis.
1.5.4 Permeabilitas Uap
Kemampuan bahan isolasi untuk dilewati uap disebut permeabilitas uap
bahan tersebut. Faktor ini perlu diperhatikan bagi bahan yang digunakan untuk:
isolasi kabel, rumah kapasitor.
Banyak uap M dalam satuan mkro-gram, selama t jam, mealui permukaan
Smeter persegi, dengan beda tekanan pada kedua sisi bahan p dalam satuan mmHg, adalah:

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-13)

Persamaan 1-13 tersebut analog dengan persamaan 1-1


A = permeabilitas uap yang disebut juga konstanta difusi
G = permeabilitas uap air dengan satuan
Table : 1.3
Permeabilitas uap beberapa bahan
No.

Nama Bahan

1
2
3
4
5
6

Parafin
Polistriri
Karet
Selulose triasetat
cellophane
Kaca atau logam

0,0007
0,03
0,03 s/d 0,08
1
5
0

1.5.5 Pengaruh Tropis


Terdapat 2 macam daerah tropis yaitu daerah tropis yang basah (termasuk
Indonesia) dan daerah tropis yang kering.
Di daerah tropis basah memungkinkan tumbuhnya jamur dan serangga
dapat hidup dengan baik. Suhu yang cukup tinggi serta kelembaban yang terjadi
dalam waktu lama dapat menyababkan turunnya resistivitas isolasi, menambah
besranya sudut rugi dielektrik, menambah permitivitas dan mengurangi
kemampuan kelistrikan bahan.
Pada penggunaan bahan isolasi di daerah tropis harus diperhatikan 2 hal
yaitu: perubahan sifat kelistrikan setelah bahan direndam dan kecepatan
pertumbuhan jamur pada bahan tersebut. Karena hal-hal tersebut maka bahan
isolasi sebaiknya dilapisi dengan bahan anti jamur,antara lain : paranitro phenol,
pentha chloro phenol.
1.5.6 Resistansi Radiasi

10

Pemakaian bahan isolasi sering dipengaruhi oleh bermacam-macam energi


radiasi. Pengaruh ini dapat sifat bahan isolasi.
Radiasi sinar matahari mempengaruhi umur bahan isolasi, khususnya jika
bahan tersebut bersinggungan langsung dengan oksigen.
Sinar ultraviolet dapat merusak bahan organik yaitu menurunnya kekuatan
mekanik, elastisitas, dan retak-retak.
Sinar X, sinar-sinar dari reaktor nuklir misalnya: sinar , dan partikelpartikel radio isotop, mempunyai pengaruh sangat besar pada bahan isolasi. Bahan
polimer organik akan menjadi lebih keras dan akan menjadi lebih tahan terhadap
panas jika terkena sinar-sinar tersebut, misalnya: polietrafluoroethilen.
Kemampuan suatu bahan untuk menahan pengaruh radiasi tanpa
mengalami kerusakan disebut resistansi radiasi.
1.6 Sifat-sifat Mekanis
Kekuatan mekanis bahan-bahan isolasi maupun logam adalah kemampuan
menahan beban dari dalam atau luar, pada prakteknya adalah beban tari dan geser.
Jika suatu bahan dengan penampang A cm ditarik dengan suatu gaya tarik yang
bertambah secara perlahan , maka bahan tersebut akan putus pada gaya tarik
tertentu sebesar PT Kg.
Dalam hal ini stress atau tegangan tarik bahan t adalah seperti ditunjukkan pada
persamaan 1-14.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(1-14)

Penambahan panjang bahan sebelum putus l dibagi dengan panjang mula-mula I


disebut penambahan panjang relative bahan atua strain adalah :

Untuk besi tempa dan sejumlah baja tertentu tarikan dan pemanjangannya
memperlihatkan kurva diskontinuitas, seperti ditunjukkan pasa Gambar 1.4
11

Gambar 1.4 Kurva t = f () pada baja lunak


Setelah titik Y penambahan panjang tanpa memerlukan penambahan gaya
atau mngkn hanya kecil saj. Gejala ini terjadi sekitar 5 hingga 7 dari panjang
mula I.
Titik Y disebut titik lumer (yield point) suatu bahan, sedangkan tegangan yang
menjadikan bahan lumer (yield point) yang besarnya adalah :
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (1-15)
Py adalah gaya yang menyebabkan bahan menyerah (Kg)
S adalah luas penampang mula-mula (m)
1.6.1 Pengujian Derajat Kekerasan
Pengujian derajat kekerasan dapat dilakukan dengan penggoresan atau
penumbukan dengan benda lancip terhadap bahan yang dapat mengalami
deformasi plastis yaitu logam dan plastik.
Derajat kekerasan suatu bahan perlu diperhatikan terutama untuk gawai
yang bergesekan seperti : mata bor, komutator, bantalan.
Pengujian

derajat

kekerasan

untuk

keramik

dilakukan

dengan

penggoresan. Satuan derajat kekerasan bahan dengan penggoresan adalah Moh


dengan intan sebagai bahan terkeras nilainya 10 dan kapur sebagai yang terlunak
dengan nilai1. Sedangkan untuk mengukur derajat kekerasan berdasarkan
tumbukan digunakan metode-metode : Brinell, Rockwell, dan Vickres.
Pada cara pengujian dengan metode Brinell, sebuah sebuah bola baja
dengan diameter 10 mm dan sudah diperkeras, ditekankan ke permukaan bahan
12

yang diuji dengan bahan statis sehingga menimbulkan lekukan pada permukaan
bahan yang diuji. Derajat kekerasan dapat dihitung dengan persamaan :

Derajat kekerasan dinyatakan dengan satuan Brinell (HG)


Pada pengujian derajat kekerasan metode Vickres menggunakan intan
yang berbentuk pyramid. Penujian dengan cara lain lebih menguntungkan
disbanding dengan metode Brinell, Karen pada intan tidak akan terjadi deformasi
plastic. Untuk menentukan derajat kekerasannya digunakan persamaan 1-16. Yang
membedakan disini, lekukannya tidak berbentuk bidang bola. Pada pengujian
dengan metode Vickres (HD).
Pada pengujian kekerasan dengan metode Rockwell hasil pengujiannya
dapat langsung terbaca pada alat pengujian. Sehingga pengujian pada metode ini
lebih mudah dan cepat. Mata penumbuk yang keras atau bola baja jika bahan yang
diuji lunak.
BAB II
BAHAN ISOLASI GAS
Bahan isolasi gas adalah digunakan sebagai pengisolasi dan sekaligus
sebagai media penyalur panas. Bahan isolasi gas yang dibahas dalam bab ini
adalah : udara, sulphur hexa fluorida (SF6) sebagai titik berat di samping gas-gas
lain yang lazim digunakan di dalam teknik listrik.
2.1. Udara
Udara merupakan bahan isolasi yang mudah didapatkan, mempunyai
tegangan tembus yang cukup besar yaitu 30 kV/ cm. Contoh yang mudah
dijumpai antara lain : pada JTR, JTM, dan JTT antara hantaran yang satu dengan
yang lain dipisahkan dengan udara. Hubungan antara tegangan tembus dan jarak
untuk udara tidak linier seperti ditunjukkan pada Gambar berikut
13

Gambar 2.1. Vt = f (celah udara) pada p = 1 atm, F = 50 Hz

2.2 Sulphur Hexa Fluorida


Sulphur Hexa Fluorida (SF6) merupakan suatu gas bentukan antara unsur
sulphur dengan fluor dengan reaksi eksotermis :
S + 3 F2 ----------------SF6 + 262 kilo kalori
Molekul SF6 seperti ditunjukkan pada Gambar

Gambar 2.2 Molekul sulphur hexa fluorida


Terlihat pada gambar 2.2 bahwa molekul SF6 mempunyai 6 atom Fluor
yang mengelilingi sebuah atom Sulphur, di sini masing-masing atom Fluo
mengikat 1 buah elektron terluar atom Sulphur. Dengan demikian maka SF6
14

menjadi gas yang inert atau stabil seperti halnya gas mulia. Sampai saat ini SF6
merupakan gas terberat yang mempunyai massa jenis 6,139 kg/m3 yaitu sekitar 5
kali berat udara pada suhu 0 celsius dan tekanan 1 atmosfir.
Sifat lainnya adalah : tidak terbakar, tidak larut pada air, tidak beracun,
tidak berwarna dan tidak berbau. SF6 juga merupakan bahan isolasi yang baik
yaitu 2,5 kali kemampuan isolasi udara. Perbandingan SF6 dengan beberapa gas
lain seperti tercantum pada Tabel 2.1

Tabel 2.1
Sifat beberapa Gas
Gas

Masa jenis

Konduktivitas panas

Tegangan tembus

kg / m

W/.m

kV / cm

1,228

5.

30

6,139

1,9 .

75

1,191

5,4 .

30

Karbon dioksida

1,867

3,2 .

27

Hidrogen

0,086

3,3 .

18

Udara

Nitrogen (

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa untuk pembentukan SF6 timbul


panas, ini berarti bahwa pada pemisahan SF6 menjadi Sulphur dan Fluor
memerlukan panas dari sekelilingnya sebesar 262 k . kalori/ molekul. Hal ini
15

tepat sekali digunakan untuk bahan pendinginan pada peralatan listrik yang
menimbulkan panas atau bunga api pada waktu bekerja, misalnya : sakelar
pemutus beban. Sifat dari SF6 sebagai media pemadam busur api dan
relevansinya pada sakelar pemutus beban adalah :
Hanya

memerlukan

energi

yang

rendah

untuk

mengoperasikan

mekanismenya. Pada prinsipnya SF6 sebagai pemadam busur api adalah


tanpa memerlukan energi untuk mengkompresikannya, namun sematamata karena pengaruh panas busur api yang terjadi.
Tekanan SF6 sebagai pemadam busur api maupun sebagai pengisolasi
dapat dengan mudah dideteksi.
Penguraian pada waktu memadamkan busur api maupun pembentukannya
kembali setelah pemadaman adalah menyeluruh (tidak ada sisa unsure
pembentuknya)
Relatif mudah terionisasi sehingga plasmanya pada CB konduktivitasnya
tetap rendah dibandingkan pada keadaan dingin. Hal ini mengurangi
kemungkinan busur api tidak stabil dengan demikian ada pemotongan arus
dan menimbulkan tegangan antar kontak.
Karakteristik gas SF6 adalah elektro negatif sehingga penguraiannya
menjadikan dielektriknya naik secara bertahap.
Transien frekuensi yang tinggi akan naik selama operasi pemutusan dan
dengan adanya hal ini busur api akan dipadamkan pada saat nilai arusnya
rendah.
2.3 Gas-gas lain
Gas bentukan fluoro organik misalnya C7F14, C7F8, C14, F24
mempunyai tegangan tembus yang tinggi, berkisar antara 6 10 kali tegangan
tembus udara. Pemakaian gas ini cocok untuk bahan isolasi pada alat-alat
pemutus.
Gas karbon dioksoda (CO2) dapat digunakan sebagai gas residu pada
bahan dielektrik cair (minyak) pada alat-alat tegangan tinggi, antara lain : kabel
dan trafo.

16

Gas neon adalah salah satu gas mulia yang banyak digunakan sebagai
bahan pengisi lampu-lampu tabung.

BAB III
BAHAN ISOLASI CAIR
Bahan isolasi cair digunakan sebagai bahan pengisi pada beberapa
peralatan listrik, misalnya : transformator, pemutus beban, rheostat. Isolasi cair
memiliki dua fungsi yaitu sebagai pemisah antara bagian yang bertegangan dan
juga sebagai pendingin. Persyaratan untuk bahan cair yang dapat digunakan untuk
isolasi antara lain : mempunyai tegangan tembus dan daya hantar panas yang
tinggi. .
3.1 Mekanisme Ketembusan Isolasi Cair
Ada beberapa alasan mengapa isolasi cair digunakan, antara lain yang
pertama adalah isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan
dengan isolasi gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi
menurut hukum Paschen. Kedua isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang
akan diisolasi dan secara serentak melalui proses konversi menghilangkan panas
yang timbul akibat rugi energi. Ketiga isolasi cair cenderung dapat memperbaiki
diri sendiri (self healing) jika terjadi pelepasan muatan (discharge). Namun
kekurangan utama isolasi cair adalah mudah terkontaminasi.
17

Beberapa macam faktor yang diperkirakan mempengaruhi ketembusan


minyak transformator seperti luas daerah elektroda, jarak celah (gap spacing),
pendinginan, perawatan sebelum pemakaian (elektroda dan minyak ), pengaruh
kekuatan dielektrik dari minyak transformator yang diukur serta kondisi pengujian
atau minyak transformator itu sendiri juga mempengaruhi kekuatan dielektrik
minyak transformator.
Ketembusan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) disebabkan
karena beberapa hal antara lain isolasi tersebut sudah lama dipakai, berkurangnya
kekuatan dielektrik dan karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada
prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress)
yang harus dilawan oleh gaya dalam isolator itu sendiri agar supaya isolator tidak
tembus. Dalam struktur molekul material isolasi, elektronelektron terikat erat pada
molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan terhadap tekanan yang
disebabkan oleh adanya tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka
sifat isolasi pada tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan
tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari suatu molekul ke
molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Karakteristik
isolator akan berubah bila material tersebut kemasukan suatu ketidakmurnian
(impurity) seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat
menurunkan tegangan tembus.
3.2 Sifat-Sifat Listrik Cairan Isolasi
Sifat sifat listrik yang menentukan unjuk kerja cairan sebagai isolasi adalah:

Withstand Breakdown kemampuan untuk tidak mengalami ketembusan dalam


kondisi tekanan listrik (electric stress ) yang tinggi.

Kapasitansi Listrik per unit volume yang menentukan permitivitas relatifnya.


Minyak petroleum merupakan subtansi nonpolar yang efektif karena
merupakan campuran cairan hidrokarbon. Minyak ini memiliki permitivitas
kira-kira 2 atau 2.5 . Ketidak bergantungan permitivitas subtansi nonpolar
pada frekuensi membuat bahan ini lebih banyak dipakai dibandingkan dengan
bahan yang bersifat polar. Misalnya air memiliki permitivitas 78 untuk

18

frekuensi 50 Hz, namun hanya memiliki permitivitas 5 untuk gelombang


mikro.

Faktor daya: Faktor dissipasi daya dari minyak dibawah tekanan bolak balik
dan tinggi akan menentukan unjuk kerjanya karena dalam kondisi berbeban
terdapat sejumlah rugi rugi dielektrik. Faktor dissipasi sebagai ukuran rugi
rugi daya merupakan parameter yang penting bagi kabel dan kapasitor.
Minyak transformator murni memiliki faktor dissipasi yang bervariasi antara
10-4 pada 20oC dan 10-3 pada 90oC pada frekuensi 50 Hz.

Resistivitas: Suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolasi cair bila


resitivitasnya lebih besar dari 109 W-m. Pada sistem tegangan tinggi
resistivitas yang diperlukan untuk material isolasi adalah 1016 W-m atau
lebih. (W=ohm) Berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh ASTM yakni
dalam standar D-877 disebutkan bahwa suatu bahan isolasi harus memiliki
tegangan tembus sebesar kurang lebih 30 kV untuk lebar sela elektroda 1 mm,
dengan kata lain kekuatan dielektrik bahan isolasi kurang lebih 30 kV/mm.
Sedangkan menurut standar ASTM D-1816 suatu bahan isolasi harus mampu
menahan tegangan sebesar 28 kV untuk suatu lebar sela elektroda sebesar 1,2
mm. Standar ini merupakan standar yang diterima secara internasional dan
harus dipenuhi oleh suatu bahan yang dikategorikan sebagai suatu bahan
isolasi.

3.3 Kegagalan Pada Isolasi Cair (Minyak)


Karakteristik pada isolasi minyak trafo akan berubah jika terjadi
ketidakmurnian di dalamnya. Hal ini akan mempercepat terjadinya proses
kegagalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan isolasi antara lain adanya
partikel padat, uap air dan gelembung gas.
3.3.1 Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair
Teori mengenai kegagalan dalam zat cair kurang banyak diketahui
dibandingkan dengan teori kegagalan gas atau zat padat. Hal tersebut disebabkan
karena sampai saat ini belum didapatkan teori yang dapat menjelaskan proses

19

kegagalan dalam zat cair yang benar-benar sesuai antara keadaan secara teoritis
dengan keadaan sebenarnya.
Teori kegagalan zat isolasi cair dapat dibagi menjadi tiga jenis sebagai
berikut:
a. Teori Kegagalan Gelembung
Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan zat cair yang
disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas di dalamnya.
b. Teori Kegagalan Bola Cair
Jika suatu zat isolasi mengandung sebuah bola cair dari jenis cairan lain, maka
dapat terjadi kegagalan akibat ketakstabilan bola cair tersebut dalam medan
listrik. Medan listrik akan menyebabkan tetesan bola cair yang tertahan
didalam minyak yang memanjang searah medan dan pada medan yang kritis
tetesan inimenjadi tidak stabil. Kanal kegagalan akan menjalar dari ujung
tetesan yang memanjang sehingga menghasilkan kegagalan total.
c. Teori Kegagalan Tak Murnian Padat
Kegagalan tak murnian padat adalah jenis kegagalan yang disebabkan oleh
adanya butiran zat padat (partikel) didalam isolasi cair yang akan memulai
terjadi kegagalan.
3.4 Minyak Transformator
Minyak transformator adalah minyak mineral yang diperoleh dengan
pemurnian minyak mentah. Dalam pemakaiannya, minyak ini karena pengaruh
panas dari rugi-rugi di dalam transformator akan timbul hidrokarbon.
Selain berasal dari minyak mineral, minyak transformator dapat pula yang
dapat dibuat dari bahan organik, misalnya : minyak trafo Piranol, Silikon. Sebagai
bahan isolasi, minyak transformator harus mempunyai tegangan tembus yang
tinggi.
Sebagian besar dari transformator tenaga memiliki kumparan-kumparan
yang intinya direndam dalam minyak transformator, terutama pada transformatortransformator tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak transformator
mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan juga berfungsi
pula sebagai isolasi (memiliki daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi
sebagai media pendingin dan isolasi.
Minyak transformator harus memenuhi persyaratan, yaitu:
20

kekuatan isolasi tinggi


penyalur panas yang baik, berat jenis yang kecil, sehingga partikel-partikel

dalam minyak dapat mengendap dengan cepat


viskositas yang rendah, agar lebih mudah bersirkulasi dan memiliki

kemampuan pendinginan menjadi lebih baik


titik nyala yang tinggi dan tidak mudah
tidak merusak bahan isolasi padat
sifat kimia yang stabil
Kegunaan minyak trafo adalah selain untuk bahan isolasi juga sebagai

media pendingin antara kumparan kawat atau inti besi dengan sirip pendingin.
Agar minyak trafo berfungsi dengan baik, kualitas minyak harus sesuai dengan
standar kebutuhan. Untuk minyak isolasi pakai berlaku untuk transformator
berkapasitas > 1 MVA atau bertegangan >30 kV. Jarak elektroda dibuat 2,5 cm,
sedangkan tegangannya dapat diatur dengan menggunakan auto transformator
sehingga dapat diketahui tengan sebelum saat terjadinya kegagalan isolasi yaitu
terjadinya loncatan bunga api. Loncatan bunga api dapat dilihat lewat lubang yang
diberi kaca. Selain itu dapat dilihat dari voltmeter tegangan tertinggi sebelum
terjadinya kegagalan isolasi (karena setelah terjadinya kegagalan isolasi voltmeter
akan menunjukkan harga nol).
3.5 Proses Pemurnian Minyak Transformator
Minyak transformator dapat dikotori oleh uap air, fiber (misalnya: kertas,
kayu, tekstil), dammar dsb. Hal ini dapat mempengaruhi kemurnian minyak
transformator. Bentuk dari pengotoran dapat bermacam-macam yaitu: meleleh dan
mencairnya bahan-bahan yang digunakan di dalam transformator, partikel-partikel
yang mengendap di dasar tangki, pada belitan atau pada intinya.
Dengan adanya pengotoran maka tegangan tembus minyakakan menurun
dan ini berarti mengurangi atau menurunnya umur pemakaian minyak.
Akhir-akhir ini usaha memperlambat terjadinya penurunan tegangan
tembus minyak transformator untuk pemakaian pada transformator yang
bertegangan kerja tinggi dan dayanya besar, ruangan yang terdapat di atas
permukaan minyak diisi bdengan gas murni (biasanya nitrogen).

21

Cara lain untuk memperpanjang umur minyak transformator adalah


dengan mencampurkan senyawa tertentu antara lain: paraoksi diphenilamin.
Senyawa tersebut dimasukan ke dalam minyak transformtor yang telah dipanasi
80 hingga 85C. campuran tersebut konsentrasinya dibuat 0,1% dan selanjutnya
didinginkan. Minyak transformator yang sudah diberi senyawa paraoksi
dipenilamin akan berwarna kemerah-merahan.
3.5.1 Pemanasan
Pada cara ini minyak transformator dipanasi hingga titik didih air pada
perangkat khusus yang disebut Penggodok minyak (Oil Boiler). Air yang yang
terkandung di dalam minyak akan menguap.
Cara ini dianggap sebagai cara yag paling sederhana dalam hal pemurnian
minyak transformator. Dengan cara ini bahan-bahan pencemar padat, misalnya:
fiber, jelaga: akan tetap tinggal di dalam minyak. Apabila pemanasan tersebut
mendekati titik penguapan minyak, akan menyebabkan umur minyak berkurang.
Namun hal ini dapat diiatasi dengan cara memanaskan minyak di tempat pakem,
sehingga air akan menguap pada suhu yang relative rendah. Namun demikian
pencemar selain air akan tetap tinggal di dalam minyak.
3.5.2 Penyaringan
Pada metode ini digunakan kertas khusus untuk menyaring minyak yang
tercemar. Untuk mempercepat waktu penyaringan, digunakan tekanan. Air yang
terkandung dalam ninyak transformator diserap dengan kertas higriskopis.
Dengan cara ini baik air maupun partikel-partikel pencemar lainnya akan tersaring
sekaligus. Untuk menambah output mesin penyaring, minyak dipanasi 40 hingga
45C sehingga viskositas minyak menurun dan dengan demikian makin
memudahkan penyaringan. Normalnya, minyak yang akan disaring dimasukkan
ke filter atau penyaring dengan tekanan 3 hingga 5 atmosfir. Biasanya penyaring
diganti setelah digunakan selama 4 jam, tetapi bila minyaknya sangat kotor,
penggantiannya dilakukan setiap 0,5 hingga 1 jam.
3.5.3 Pemusingan
Pencemaran minyak transformator misalnya: fiber, karbon maupun lumpur
adalah material yang lebih besar daripada minyak transformator sehingga kotoran22

kotoran tersebut suatu saat mengendap dan mudah dipisahkan secara kasar. Untuk
mempercepat proses pemisahan, maka minyak dipanaskan 45 hingga 55 di
dalam suatu tabung dan kemudian diputar atau dipusing dengan cepat. Karena
gaya sentrifugal, maka subtansi yang lebih berat akan berada di bagian pinggir
bejana dan minyaknya sendiri yang relative lebih ringan akan berada di tengah
bejana. Bagian utama dari pemutar adalah sebuah silinder yang memiliki
lempengan-lempengan (hingga 50 buah). Lempengan-lempengan tersebut
berputar bersama-sama dengan poros.
3.5.4 Regenerasi
Pencemaran akan lebih dapat dihilangkan dengan pemurnian khusus yaitu
regenerasi. Cara ini mengunakan absorben untuk regenarasi minyak transformator.
Dalam praktek, cara ini banyak digunakan pembangkit-pembangkit tenaga listrik
dan gardu-gardu induk.
Absorben adalah subtansi yang siap menyerap produk yang diakibatkan
oleh pemakaian dan kelembaban pada minyak transformator. Regenerasi dengan
absorben dapat lebih baik hasilnya jika dilakukan setelah minyak ditambah
dengan H2SO4. Selanjutnya jika terjadi kelebihan asam dapat dinetralisir dengan
kalium hidroksida (KOH) dan kemudian minyaknya dicuci dengan air yang
dialirkan, ditambah dengan absorben dan kemudian disaring.
Terdapat 2 cara untuk menambahkan absorben ke dalam minyak transformator,
yaitu:

Minyak dipanaskan dan dicampur dengan absorben yang dipadatkan dan


kemudian disaring. Cara atau metode ini disebut Metode Sentuhan

(Contact Method).
Minyak yang telah dipanasi dialikan melalui lapisan tipis dari absorben
yang disebut Metode Filtrasi.
Filtrasi penyerap untuk regenerasi minyak transfortor terdiri dari sebuah

silinder yang dilas dengan sebuah kawat kasa di dasarnya, di sini penyerap
dimasukkan ke dalam minyak kemudian dialirkan melalui kawat kasa tersebut.
23

Lama kelamaan kawat kasa akan tersumbat partikel-partikel halus dari absorben.
Untuk membersihkan absorben yang tersaring dan sisa-sisa minyak, silinder dapat
dibalikkan atau diputar 180. Instalasi ini akan lebih efisien jika 10% sampai 20%
absorben dibuang dari dasar absorber dan ditambahkan absorben baru. Dapat
digunakan 2 absorber yang dikopel secara seri sehingga minyak mengalir pada
awal melalui absorber yang mash baru, kemudian minyak dialirkan ke absorber
yang berikutnya. Absorber yang digunakan untuk regenerasi kebanyakan produk
buatan misalnya: silikagel, alumina atau tanah liat khusus
3.6 Perbandingan Tegangan Tembus Media Isolasi Minyak Baru dan Minyak
Bekas
Tegangan tembus pada isolasi minyak baru lebih besar dibandingkan
dengan isolasi minyak bekas. Hal ini disebabkan karena pada minyak bekas
terdapat

kandungan

partikel-partikel

dan

uap

air

yang

menyebabkan

ketidakmurnian pada minyak. Apabila jumlah partikel yang melayang pada


minyak sangat banyak, partikel-partikel tersebut akan membentuk semacam
jembatan yang menghubungkan kedua elektroda sehingga mengakibatkan
terjadinya peristiwa kegagalan. Namun bila hanya terdapat sebuah partikel,
partikel tersebut akan membuat perluasan area medan (local field enhancement)
yang luasnya ditentukan oleh bentuk partikel itu sendiri. Jika perluasan area
medan ini melebihi ketahanan benda cair, maka terjadilah peristiwa kegagalan
setempat (local breakdown) yaitu terjadi di dekat partikel-partikel asing tersebut.
Hal ini akan membuat terbentuknya gelembung-gelembung gas yang pada
akhirnya juga menyebabkan peristiwa kegagalan pada minyak tersebut.
Pada minyak bekas cenderung memiliki kadar uap air yang lebih besar
daripada minyak baru. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada saat
medan listrik yang tinggi, molekul uap air yang terlarut memisah dari minyak dan
terpolarisasi membentuk suatu dipol. Jika jumlah molekul-molekul uap air
benyak, maka akan terbentuk kanal peluahan. Kanal ini akan merambat dan
memanjang sampai menghasilkan tembus listrik.
Ketidakmurnian ini sangat berpengaruh dalam kegagalan isolasi sehingga
pada minyak bekas akan lebih mudah terjadi discharge dibandingkan dengan
24

minyak baru karena kekuatan isolasi minyak bekas sudah tidak sebagus minyak
baru
3.7 Bahan-bahan Isolasi Cair Lain
Jenis-jenis minyak bumi di samping minyak transformator didapat bahan
isolasi lain yang mempunyai kekentalan, permunian serta sifat-sifat lain yang
berbeda. Sebagai contoh, minyak untuk kabel berisolasi kertas, dibuat lebih kental
daripada minyak transformator. Disamping itu terdapat pula bahan isolasi kabel
diimpregnasi dengan minyak yang kekentalannya rendah dengan pemurnian yang
tinggi yaitu kabel dengan tegangan ekstra tinggi yang diisi minyak. Kapasitorkapasitor kertas diisi dengan minyak yang sangat kental yaitu vaselin yaitu dengan
titik kepadatan di antara 30 hingga 50 cm, permitivitas relative 2,2 dan tan teta
pada 1 khz tidak lebih dari 0,0002.
Disamping bahan-bahan tersebut diatas, diadapat pula isolasi cair sintesis
yang juga digunakan pada teknik listrik. Isolasi cair sintesis yang banyak
digunakan adalah cairan yang berisi chloor (hidrokarbon seperti difenil C10 H12)
dimana 3 sampai 5 atom hydrogen diganti dengan atom chloor. Bahan-bahan ini
diantaranya adalah: Sovol, Askarel, Arcalor, Pyralen, Shibanol.
Sovol adalah cairan yang agak kental, tidak berwarn. Massa jenisnya jauh
lebih besar dari minyak transformator yaitu 1,5 g/cm 3. Tegangan tembus sovol
kurang lebih sama dengan minyak transformator yaitu 20 kv/cm, sedangkan
permitivitasnya

lebih

tinggi.

Bahan

sovol

ditambah

sedikit

dengan

Trichlorobenzena (C8H13CL3) untuk memperoleh kekentalanya diperoleh bahan


baru dengan nama sovtol. Salah satu manfaat penggunaan sovol dan sovtol adalah
karena pencampuran uapnya dengan udara tidak tidak terbakar dan tidak
menyebabkan ledakan. Karena itu transformator yang diisi dengan Sovtol tidak
mempunyai resiko kebakaran dan dipasang di dalam ruangan jika transformator
minyak biasa tidak mungkin memungkinkan diapasang. Sovol dan Sovtol tidak
dapat digunakan utuk bahas isolasi pemutus, karena akibatnya adanya busur api
pada waktu terjadinya pemutusan akan mengahasilkan karbon. Kekurangan yang
lain, bahan ini beracun, karena itu jika menggunakan bahan ini harus diimbangi
dengan ventilasi yang baik.
Bahan lain adalah minyak silicon. Bahan ini harganya lebih mahal
daripada minyak transformator. Tatapi mempunyai kelebihan lain, yaitu sudut
25

kerugian dielektrik kecil, hidrokopositasnya dapat diabaikan dan resistivitas


panasnya relative tinggi. Massa jenisnya + 1g/cm 3, permittivitas relatifnya 2,5; tan
e 0,0002 pada 1000 hz, titik nyala tidak kurang dari 145 oC, titik beku tidak lebih
rendah dari -60C.

BAB IV
BAHAN ISOLASI BERSERAT
Bahan-bahan isolasi berserat sangat besar peran dan penggunaannya pada
teknik listrik. Bahan dasar yang dipergunakan untuk bahan berserat berasal dari
tiga macam, yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang, dan bahan tiruan (sintesis).
Dikatakan sebagai bahan berserat karena bahan-bahan ini terdiri dari serat-serat
yang terpisah satu sama lain. Pada kebanyakan bahan ini (benang, kain, pita)
struktur seratnya sangat mudah dilihat, sedangkan pada kayu dan kertas, untuk
memeriksa strukturnya perlu menggunakan mikroskop.
26

Sebenarnya bahan ini kurang baik sebagai bahan penyekat listrik karena
sifatnya sangat menyerap cairan, sedangkan cairan itu dapat merusak penyekat
yang menyebabkan daya sekatnya menurun. Tetapi karena faktor-faktor lain
seperti : bahan berlimpah sehingga murah harganya; daya mekanisnya cukup kuat
dan fleksibel; dan dengan disusun berlapis-lapis dan dicampur dengan zat-zat
tertentu untuk meningkatkan daya sekat, daya mekanisnya dan daya tahan panas,
sehingga bahan berserat ini banyak dipakai sebagai penyekat listrik. Untuk
mengatasi hal tersebut, bahan-bahan berserat yang akan digunakan sebagai
pengisolasi perlu diimpregnasi. Bahan berserat asli tergolong bahan isolasi kelas
Y sedangkan jika sudah diimpregnasi menjadi kelas A.
4.1. Kayu
Pada tahun-tahun yang silam, kayu banyak digunakan sebagai penyekat
misalnya untuk tiang listrik, karena mudah didapat, murah dan mudah diproses.
Sekarang kayu banyak terdesak oleh besi, beton dan bahan sintesis.
Sifat-sifat kayu :
1. Mekanik cukup baik
2. Kekuatan tariknya 700 1300 kg/m
3. Massa jenisnya 0,5 gr/cm
Kelemahan kayu :
1. Mudah menyerap air
2. Mudah terbakar
3. Dapat rusak karena hama dan penyakit serangga sehingga mudah rapuh
Bahan pengimpregnasi kayu :
1.
2.
3.
4.
5.

Minyak cat
Minyak vernis
Vernis bakelit
Diberi antiseptik (tahan terhadap serangga)
Diberi antipirin (tidak mudah terbakar)

Cara mengimpregnasi kayu:


27

1. Bahan untuk mengimpregnasi antara lain minyak cat, minyak vernis yang
dipanaskan hingga suhu 120C hingga 130C bersama-sama kayu yang
diimpregnasi dimasukkan kedalamnya. Selanjutnya didinginkan hingga
suhu 60C dan kayu dikeluarkan dari minyak. Kemudian kayu dikeringkan
dalam oven dengan suhu 110C hingga 130C.
2. Jika digunakan minyak cat, impregnasi dilakukan tanpa pemanasan selama
20 jam hingga 30 jam. Selanjutnya kayu ditiriskan dan dikeringkan selama
5 hingga 8 jam pada suhu 135C. Kayu yang telah selesai diimpregnasi
beratnya bertambah 70 % - 80% disamping kekuatannya bertambah.
3. Kayu dapat diimpregnasi dengan vernis bakelit dengan kadar alkohol 50%.
Benda yang sudah diimpregnasi harus dikeringkan pada suhu 110C
hingga 130C, kemudian dicelupkan lagi kedalam bahan pengimpregnasi
dan selanjutnya dikeringkan lagi dengan suhu 130C hingga 135C.
4. Kayu yang akan digunakan sebagai isolator selain diimpregnasi juga perlu
diberi antiseptik agar tahan terhadap peluruhan dan dilapisi dengan
antipirin agar tidak mudah terbakar.

4.2 Kertas
Kertas atau karton adalah termasuk bahan berserat yang seratnya pendek.
Kertas atau karton pada dasarnya adalah selulose (CHO) atau asetat. Selulose
ini berserat, fleksibel, lunak dan menyerap air, sedangkan bahan pembuat
kertasnya diambil dari kayu, merang, rami, majun (sisa bahan tekstil), dan lainlain. Dibuat dari merang atau bambu atau kayu menggunakan proses kimia
dengan cara menjadikannya bubur kertas (pulp) terlebih dahulu.
Kertas yang terlalu kering atau lembab, kekuatan penyekatnya berkurang
karena kertas sangat menyerap cairan, sehingga untuk mengatasinya kertas
dilapisi lak penyekat. Pengunaan kertas untuk penyekat selain pembalut lilitan
kawat dan kumparan, juga untuk penyekat kabel dan kondensator kertas. Untuk
memenuhi tebal yang diharapkan kertas dibuat berlapis lapis.

28

Jenis kertas lain adalah prespan berbentuk lembaran atau gulungan dengan
ukuran tebal antara 0,1 sampai 0,5mm denganw arna kekuning-kuningan, coklat
muda atau abu-abu dan kertas mika yang terbuat dari serat katun, substansi
tumbuhan serat panjang.
Pemakaian kertas sebagai bahan isolasi adalah untuk :
1.
2.
3.
4.

Bahan isolasi kabel


Kertas telepon
Penyaring minyak transformator
Kertas kapasitor (dielektrik)

Kelebihan kertas mika :


1. Kekuatan tariknya memanjang lebih besar daripada arah melebar.
2. Digunakan untuk memperkuat pita kertas dengan cara mengelemkan.
3. Diperkuat dengan vernis.

Kelebihan prespan :
1.
2.
3.
4.
5.

Lebih padat
Lebih keras dan kuat
Dapat dibengkokkan tanpa retak
Baik digunakan sebagai penyekat rotor atau stator
Penyekat lilin pada trafo

4.3 Benang
Benang merupakan hasil pemintalan pertama dari sebuah kapas yang
berserat cukup panjang, setelah biji-bijinya yang menempel dipisahkan terlebih
dahulu. Dari kumpulan benang ini dapat dibuat tali, pita, dan kain tenun, yang
selanjutnya disebut dengan tekstil. Dalam bidnag kelistrikan banyak digunakan
sebagai penyekat kawat. Pemakaian benang banyak dipakai untuk penyekat kawat
halus yang digunakan dalam pembuatan pesawat-pesawat cermat seperti
pengukuran listrik. Sekarang banyak digunakan benang sintesis dari bahan plastik,
gelas, dan sebagainya karena lebih kuat dan tahan panas.
29

4.4 Bahan Isolasi dari Tekstil


Tekstil termasuk bahan yang mempunyai serat panjang. Tekstil secara
mekanis adalah kuat khususnya untuk mengikat dan tidak terjadi penyusutan yang
berarti jika terkena lembab. Namun tegangan tembusnya rendah jika dibanding
dengan kertas.
Dengan menenun benang menjadi tekstil (pita dan kain dengan berbagai
macam corak, ukuran dan kualitas) maksudnya untuk memperoleh penyekat yang
lebih baik, yaitu pertama lebih kuat, dan kedua dalam beberapa hal mempermudah
teknis pelaksanaan (membalut lilitan penyekat kawat). Selain tekstil dari kapas
ada juga dari serat tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan lena (linnen). Bahan
ini lebih kuat daripada kertas. Pada tekstil ini ada yang terbuat dari bahan tiruan
(sintesis), dimana bahan ini digunakan dalam bidang kelistrikan sebagai penyekat
kawat-kawat lilitan mesin listrik, pengikat, dan sebagainya. Karena sifat tekstil ini
dapat menyerap cairan, maka untuk memperbaiki daya seratnya dilapisi atau
dicelup ke dalam cairan lak penyekat.
Akhir-akhir ini banyak tekstil sintesis yang digunakan sebagai bahan
isolasi karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.

Kekuatan mekanis
Elastisitas
Ketahanan terhadap panas yang tinggi
Higroskopisitas rendah
Lebih stabil terhadap pengaruh kimia

Serat sintesis yang paling penting :


1.
2.
3.
4.

Serat poliamid (Nilon, Kapron, Silon, Dederon)


Serat polyester (Lavsan, Terilin, Tetron, Dakron)
Serat polistirin
PVC (Politetrafluoroenthilen)
Tabel 4.1
Perbandingan sifat-sifat lavsan, kapron, dan sutera

NO

SIFAT-SIFAT UTAMA

LAVSAN
30

KAPRON

SUTERA

ALAM
1

Panjang pemutusan dalam keadaan

40 - 50

40 - 50

32 36

10

15

48

53

20 - 25

20 25

17 18

kering (km)
2

Pengurangan kekuatan mekanis


dalam keadaan basah (%)

Pengurangan kekuatan mekanis


setelah 3 jam pada suhu 190C (%)

Pemuluran dalam keadaan kering


(%)

Massa jenis (g/cm)

1,38

1,14

1,37

Persentase kelembaban pada

0,5

3,4 - 4

11

kelembaban relative 65 %

Suatu hal yang perlu diperhatikan pada bahan berserat yaitu panjang
pemutusan (rupture-length). Panjang pemutusan adalah panjang rentangan suatu
bahan yang menyebabkan bahan tersebut patah atau putus secara mendadak
disebabkan oleh berat badan itu sendiri. Besarnya panjang pemutusan adalah :

L = Panjang pemutus (m)


Ps = Kuat tarik pemutus (gr)
f = Faktor
Besarnya faktor (f) adalah merupakan perbandingan panjang bahan terhadap
beratnya yaitu :

I = Panjang bahan (m)


31

G = Berat bahan (gr)


Di beberapa negara ketebalan sutera dan bahan-bahan sintesis dinyatakan dengan
Titer yaitu berat bahan-bahan sintesis dalam gram setiap panjang bahan 9000
meter. Dengan demikian hubungan Titer (T) dengan faktor (f) adalah :

Tabel 4.2
Beberapa bahan tekstil untuk isolasi listrik
Nama Bahan

Tebal (mm)

A. Katun :
1. Chifton
2. Cambric
3. Cambric muslin dan calico kasar
B. Sutera :
1. Fluorentin
2. Flourard
C. Pita Katun :
1. Plester
2. Calico
3. Cambric

0,15
0,12
0,4

0,08
0,07

0,45 0,02
0,22 0,02
0,12 0,01

4.4.1 Kain Pernis

32

Bahan kain yang telah dipernis sering disebut dengan cambric. Kelebihan
bahan ini adalah fleksibel, kekuatan mekanisnya tinggi sedangkan lapisan
pernisnya merupakan penyekat listrik yang baik. Sehingga daya penyekat
semacam ini sangat luas digunakan pada pekerjaan mesin listrik, peralatan, serta
kabel listrik selain dijadikan pita dan pembalut. Macam penyekat ini dapat
digunakan untuk suhu sekitar 1000C, dengan bahan sintetis seperti polyester dan
polyamid.
4.4.2 Pita Penyekat
Bahan ini banyak digunakan dalam bidang instalasi listrik, yang
merupakan pita penyekat dengan campuran karet dalam gulungan kecil antara 1
dan 5 cm lebar dan garis tengah luar kira-kira 15cm. Tebal pita kira-kira 0,25 mm.
Sekarang banyak pita perekat terbuat dari bahan sintesis kuat dan tidak menyerap
air, tetapi tidak untuk suhu yang tinggi.
4.5 Bahan Berserat Anorganik
Salah satu kelebihan bahan berserat anorganik adalah ketahanannya
terhadap panas lebih tinggi. Jenis bahan isolasi anorganik berserat ada 2 yaitu :
asbes dan fiberglass. Terdapat beberapa beberapa macam asbes yang mempunyai
komposisi kimia yang berbeda. Kristolin atau serpentin dengan komposisi kimia
3MgO.2SiO.2HO adalah jenis asbes yang paling umum digunakan sebagai
bahan isolasi.
Asbes dapat diperoleh dari batu-batuan, yang merupakan jalur kecil yang
terdiri atas kumpulan serat yang paralel satu sama lain. Panjang serat-serat
tersebut tergantung ukuran jalurnya yang berkisar satu hingga beberapa
centimeter. Makin panjang serat suatu asbes, makin tinggu mutunya dan makin
mahal harganya. Serat asbes yang ditemukan pada batu-batuan (tambang) pada
umumnya adalah pendek. Pada suhu 300 hingga 400 asbes dianggap tidak
terjadi perubahan, tetapi pada suhu yang lebih tinggi lagi kandungan airnya akan
hilang dan kekuatan mekanisnya akan menurun. Hal yang menyebabkan asbes

33

tahan terhadap suhu tinggi adalah karena pori-porinya mudah dimasuki udara
sehingga konduktivitas panasnya rendah. Asbes akan meleleh pada suhu 1150.
Bahan-bahan asbes tidak digunakan diatas 1000 volt karena kemampuan
isolasinya jelek. Asbes yang mengandung ferry-oksida sangat banyak akan
menjadi semikonduktor. Untuk menaikkan kemampuan isolasi suatu bahan asbes
adalah dengan cara mengimpregnasinya.

BAB V
BAHAN ISOLASI MINERAL
Bahan isolasi atau sering disebut dengan istilah penyekat adalah suatu
bahan yang digunakan dengan tujuan agar dapat memisahkan bagian bagian
yang bertegangan atau bagian bagian yang aktif. Sehingga untuk bahan
penyekat ini perlu diperhatikan mengenai sifat sifat dari bahan tersebut yang
meliputi : sifat listrik, sifat mekanis, sifat termal, ketahanan terhadap bahan kimia
dan lain lain.
Salah satunya bahan isolasi mineral yang diperoleh dari tambang dan
digunakan sebagai isolasi pada ikatan kimia atau keadaan alaminya tanpa proses
kimia atau termal sebelumnya. Adapun jenis-jenis bahan isolasi mineral:
1.

Mika

2. Mikanit
a. Mikanit komutator
b. Mikanit lempengan
c. Mikanit cetakan
d. Kertas mika
e. Mikanit fleksibel
f. Pita mika
3. Marmer
4. Batu tulis
34

5. Klorida

5.1 Mika
Mika adalah sejenis mineral. Kata "mika" berasal dari kata bahasa Latin
micare, "bergemerlapan", sebab mineral satu ini terlihat gemerlap (khususnya saat
berskala kecil). Mika memiliki bentuk lamela berkilap hitam.
Mika merupakan isolasi mineral (bahan tambang). Tahanan listrik dan
kekuatan mekanisnya tinggi, tahan panas dan tahan dari pengaruh uap air, sangat
ringan, elastis, warnanya bening (transparan) dan licin mengkilat, bentuknya
berlapis lapis. Pada suhu tinggi (diatas batas suhu kerja) mika akan
mengeluarkan air yang merupakan bagian dari susunannya. Kebeningannya
berkurang atau menjadi kusam. Dalam keadaan demikian mika telah kehilangan
kekuatan mekanisnya, mudah retak retak sehingga daya sekatnya berkurang.
Pada suhu 1250 C hingga 1300 C susunn kristal mika berubah sama sekali dan
mulai meleleh.
Mika digunakan sebagai isolasi pada mesin mesin besar dengan
tegangan kerja yang tinggi, misalnya generatot turbo, generator hidro pada
pembangkit, motor motor araksi. Disitu mika dipakai untuk menyekat komulator
antara lamel lamel dan sebagai dielektrik kondensator. Mika juga dapat
digunakan untuk kaca penjenguk pada tungku tungku (untuk melihat dalam dari
tungku). Selain daripada itu maka banyak dipakai dalam industri alat alat rumah
tangga, untuk menyekat elemen elemen pemanas dan alat pemasak (kompor
listrik), setrika listrik, pemanggang roti dan lain sebagainya. Karena memiliki kuat
dielektrik yang tinggi dan stabilitas kimiawi yang sempurna, mika sering
dijadikan bahan pembuatan kondensator untuk penerapan frekwensi radio. Selain
digunakan sebagai insulator dalam alat listrik tegangan tinggi, mika yang juga
merupakan bias ganda biasanya digunakan untuk membuat lempeng gelombang
paruh.

35

Mika juga dipakai untuk memisahkan konduktor listrik dalam kabel yang
dirancang untuk memiliki sebuah tingkat tahan api agar menyediakan integritas
sirkuit. Idenya adalah mencegah bersatunya konduktor yang terbuat dari logam
agar tidak terjadi korsleting sehingga kabel tetap operasional saat kebakaran
terjadi, ini penting untuk berbagai aplikasi seperti penerangan darurat.

Jenis mika antara lain :


A. Muscovit, yaitu mika dengan rumus kimia (K2O . 3Al2O3 . 6SiO2 . 2H2O),
memilki resistivitas

ohm.cm . Suhu sampai terjadi penguapan

(dehidrasi) pada muskovit adalah 500 hingga 600 C, sedangkan untuk


flugofit adalah 800 hingga 900 C.
B.

Flogopit, yaitu mika dengan rumus kimia (K2O . 6MgO . 3Al2O3 .


6SiO2 . 2H2O) memiliki resistivitas

ohm.cm . Flugofit banyak

digunakan pada peralatan rumah tangga, misalnya penyekat pemanggang,


setrika dan sebagainya. Jenis jenis plogofit yang banyak mengandung air
(hydrated-flogopite) adalah agak lunak dan kemampuan isolasinya lebih
rendah. Flogopit jenis ini mulai menunjukkan gejala kerusakan pada suhu
150 hingga 250 C.
C. Mikanit .

5.2 Mikanit
Mika diperoleh dari tambang dengan jumlah besar dengan ukuran atau
dimensi yang tidak teratur sementara alat alat listrik ukurannya tertentu dan
bervariasi. Untuk keperluan itu dibuat mikanit, yaitu mika yang dibuat sesuai
dengan yang dikehendaki. Seringkali pada salah satu sisi mikanit dilapisi dengan

36

kertas atau kain dengan tujuan untuk mendapatkan kekuatan mekanis yang lebih
tinggi atau untuk menjaga agar tidak terjadi keretakan ketika mika dibengkokkan.
Tujuan melapis lapis mika dan kadang kadang dengan tambahan
lapisan kain, kertas atau pita ialah memperoleh tebal yang diinginkan sehingga
mempertinggi daya sekat listrik dan menambah kekuatan mekanis, terutama agar
tidak retak jika digulung atau dilipat (dengan lapisan mika).
Jenis mikanit antara lain :
a.

Mikanit Komutator, yaitu mikanit yang digunakan untuk bahan


isolasi antara lamel-lamel pada komutator mesin DC. Mikanit ini sangat kuat,
karena dikerjakan pada suhu tinggi, mengandung sedikit resin, dan tahan aus.
Mikanit komutator mengandung bahan pengikat maksimum 4%, masa
jenisnya 2,4 hingga 2,6 gr/cm3. Secara mekanis mikanit ini kuat karena pada
waktu pengerjaannya digunakan tekanan tinggi , mengandung sedikit resin ,
tahan arus walaupun mendapat tekanan yang tinggi dan suhu kerjanya hingga
1800C.
Hal ini yang menjadi dasar pertimbangan sehingga mikanit ini tepat untuk
penyekat lamel-lamel komutator. Kontraksi mikanit pada suhu 20 0C tidak
lebih dari 9 % dengan tekanan hingga 600 kg/cm2.

b.

Mikanit lempengan, yaitu mikanit yang diproduksi dari muscovit


atau flogopit atau paduan keduanya diikat dengan sirlak atau gliptal.untuk
keperluan pembuatan lempengan tersebut kandungan mikanya dibuat 75 %
hingga 85 % sedangkan bahan pengikatnya adalah berkisar 15 % hingga 25 %.
Dalam hal ini lempengan diperlukan untuk isolasi yang tidak memerlukan
bengkokan. Baik mikanit komutator maupun mikanit lempengan adalah
tergolong mikanit keras.

c.

Mikanit Cetakan, yaitu mikanit yang bentuknya dapat diubah


dengan cara dipanasi lalu dicetak sebelum didinginkan. Mikanit ini digunakan
untuk pengisolasi antara poros dengan komutator dan antara poros dengan
intirotor.
37

Mikanit cetakan dipabrikasi dengan ketebalan 0,1 hingga 0,5 mm dengan


bahan pengikat sirlak atau gliptal dengan komposisi bahan pengikat 8 hingga
25 % dan sisanya adalah mikanya.
d.

Kertas Mika, yaitu mikanit cetakan yang satu sisinya dilapisi kertas
setebal 0,05 sampai 0,06 mm. Penggunaannya untuk membuat isolasi yang
keras pada belitan jangkar mesin tegangan tinggi.
Kertas mika dibuat dari muskovit atau flogopit dengan bahan pengikat sirlak
atau resin sintesis. Kertas mika dipabrikasi dengan bentuk gulungan selebar
0,4 m dan dengan tebal 0,15 hingga 0.3 mm.

e.

Mikanit Fleksibel, yaitu mikanit yang pada suhu kamar dapat


dibengkokkan tanpa perlu pemanasan lagi. Digunakan sebagai penyekat
fleksibel, isolasi alur pada mesin listrik. Mikanit fleksibel diproduksi dalam
bentuk lempengan dengan ketebalan 0,15 hingga 0,6 mm, terbuat dari
muskovit atau flogopit yang dilapisi dengan minyak vernis bitumen atau
dilapisi dengan minyak vernis gliptal.

f.

Pita Mika, yaitu mikanit fleksibel yang dibuat dalam ukuran besar
yang dipotong-potong kemudian digulung. Mikanit ini dapat dibuat dari
muskovit atau flogopit dan dilapisi vernis hitam atau vernis jernih. Pita mika
diberi warna cerah dan mempunyai ketahan panas yang lebih tinggi,
penggunaannya terutama untuk isolasi belitan rotor pada generator turbo.

5.3 Bahan isolasi mineral lain


Beberapa bahan isolasi mineral lain disamping mika yaitu : marmer, batu
tulis, dan klorida padat yang penggunaannya sebagai isolator pada Papan Hubung
Bagi (PHB).
a) Marmer
Marmer ikatan kimianya sama dengan batu kapur tapi sifat fisiknya
berbeda. Marmer mempunyai massa jenis paling rendah 2,6 g/cm 3,makin tinggi
kepadatannya makin tinggi massa jenisnya , makin kecil kristalnya , makin tidak

38

higrokopis dan makin baik hasilnya jika dipoles. Untuk mendapatkan marmer
yang kemampuan listriknya makin baik, marmer perlu diimpregnasi dengan
paraffin, polistrin, bitumen, minyak dan sebagainya. Marmer sifatnya regas dan
sensitive terhadap asam. Warna yang alami dalah putih atau abu-abu atau kuning
atau kemerah-merahan.
b) Batu Tulis
Warnanya abu-abu kehitam-hitaman, strukturnya berlapis-lapis sehingga
dapat dibentuk sebagai papan (sepanjang lapisannya) dengan menggunakan pali
dan pahat serta pengasah. Batu Tulis digunakan pada panel PHB. Batu tulis lebih
mudah pecah dari marmer, tidak dipoles, sifat kelistrikan dan higroskopisnya
dibawah marmer. Namun batu tulis tahan terhadap asam dan panas. Massa
jenisnya adalah berkisar antara 2,7 hingga 2,8 g/cm3.
c) Klorida
Bahan ini berwarna abu-abu yang kekuatan mekanis dan sifat
kelistrikannya di bawah batu tulis. Karena itu mudah dipotong, digergaji dan
dibor. Saat digunakan sebagai isolator, harus diimpregnasi menggunakan bakelit
yang dicairkan agar sifat kelistrikan dan mekanisnya naik dan higroskopisitasnya
turun. Jika akan digunakan sebagai isolator harus terlebih dahulu diimpergnasi
dengan resin misalnya: Bakelit yang dicairkan, agar sifat kelistrikkannya serta
kekuatan mekanisnta naik serta higroskopositasnya menurun.

DAFTAR PUSTAKA
Buku panduan Bahan - Bahan listrik Jurusan Teknik Elektro Program Studi
Teknik Listrik tahun 2013.
39

http://elektroteknik-unm.blogspot.com/2013/05/bahan-isolasi-penghantarlistrik.html
Faizahnizbah.blogspot.com/2013/06/isolator-bentuk-cair.html
Myblogianpratama.blogspot.com/2011/03/bahan-isolasi-cair-bahan-isolasicair.html
Ancharyu.wordpress.com/2010/02/7/isolator-cair/
www.scribd.com/doc/32931918/bahan-isolasi-cair
http://www.scribd.com/doc/45486678/Makalah-Bahan-Isolasi

Kelompok 4
Bahan Isolasi
M. Ade Kurniawan
40

Khoirul Insan
Hengky Rusliansyah

Pertanyaan :
1. Apri (Kelompok 1)
Mengapa isolasi dapat mengalami perubahan bentuk?
2. M. Ikhsan (Kelompok 3)
Apa bedanya arus bocor IV dan IP?
3. Aris fadhel (kelompok 2)
Bahan isolasi apa saja yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari?
4. Khaidir (kelompok 5)
Apa hubungan atau kegunaan resistivitas dan permitivitas?
Jawaban :
1. Karena adanya faktor cuaca, tekanan air, suhu dan waktu.
2. - Arus bocor IV : kebocorannya ole resistansi volume
- Arus bocor IP : kebocorannya oleh resistansi permukaan
3. Bahan yang terbuat dari karet
4. Resistivitas dan permitivitas merupakan sifat sifat kelistrikan dari bahan
isolasi, keduanya akan saling berhubungan jika di masukkan dalam rumus.

Kelompok 3
Bahan Isolasi Gas
M.ikhsan
Hamzah apriyanto
Delvi mardiati
M. Fatriansyah
41

Pertanyaan :
1. Khoirul Insan (kelompok 4)
Apa kekurangan dari bahan udara, nitrogen, dan SF6? Dan apa contohnya
dalam kehidupan sehari hari?
2. Kania (kelompok 5)
Apa yang dimaksud dengan busur api?
3. Sabrina (kelompok 1)
Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam proses isolasi
gas?
4. Pebi muhammad (kelompok 2)
Apa kelebihan bahan isolasi gas dibanding isolasi lain?
Jawaban :
1.

- Kekurangan dari bahan udara, udara tidak baik jika digunakan pada
tegangan yang sangat tinggi. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari
yaitu Miniature Circuit Breaker ( MCB ) dan lain lain.
- Contohnya dalam kehidupan sehari-hari dari bahan Nitrogen yaitu, pada
Trafo ( pada alat penampung minyak pada trafo )
- Kekurangan dari bahan SF6 yaitu, harganya lebih mahal, walaupun
kerusakan kecil tapi butuh waktu lama untuk perbaikan, harus dipompa
ke dalam tabung penyimpanan apabila ada penelitian, dan karena titik
didihnya rendah maka di perlukan alat pengontrol suhu untuk
melakukan penelitian.

2. Busur api adalah proses perpindahan muatan yang terjadi diantara kedua
elektroda dan yang melalui bahan dielektrik diantara bahan dielektrik
tersebut telah berubah sifat dari isolasi menjadi konduktor.
3. - Produknya tidak sesuai standar
- Tidak sesuai kapasitas
4. Arus bocornya lebih kecil dibanding bahan isolasi lain dan dielektrik nya
mendekati nol.

42

Kelompok 2
Bahan Isolasi Cair
Aris Fadhel
Berlian Roza
Pebi Muhammad Rizki
Muharraran Akhsanul A

Pertanyaan :
1. Hengki Rusliansyah ( Kelompok 4 )
Isolasi Cair terdapat dimana dan digunakan pada alat apa?
2. Apriansyah Eka S ( Kelompok 1 )
Adakah isolasi cair selain minyak ?
43

3. Jasmine Febrina S ( Kelompok 5 )


Bagaimana bahan isolasi cair ini dapat memperbaiki dirinya sendiri ?
4. Hamzah Apriyanto ( Kelompok 3 )
Apa yang menyebabkan kegagalan dalam isolasi cair ?
Jawaban :
1. Di dalam transformator / gardu induk
2. Ada, yaitu askarel, silikon cair dan flourinisasi cair
3. ( Belum dijawab )
4. - Dalam benda padat : Masuk nya debu
- Dalam benda cair : karna penguapan yang terlalu panas
- Dalam gas : karena adanya gelembung

Kelompok 5
Bahan Isolasi Berserat
Jasmine Febrina S
Kania yusriani A
Khaidir Imam K

Pertanyaan :
1. Hamzah apriyanto ( Kelompok 3 )
Apa alasan memilih bahan isolasi berserat dibanding jenis isolasi
lain ?
44

2. M. Ade kurniawan ( Kelompok 4 )


Apakah setiap jenis kayu memiliki kualitas yang sama dan jenis
apa yang sering digunakan ?
3. Aris Fadhel ( Kelompok 2 )
Apa kegunaan macam macam bahan isolasi berserat ?
Jawaban :
1. Karena relatif murah,
Kekurangannya : higroskopis, mudah menyerap air
2. Kualitas tergantung kandungan air, semakin dikit airnya semakin
baik kualitasnya. Jenis kayu yang sering digunakan yaitu kayu
yang mengandung kadar air yang sedikit
3. ( Belum dijawab )
Kelompok 1
Bahan Isolasi Mineral
Abyan Nugraha
Apriansyah Eka S
Sabrina
Warnu Reksa S

Pertanyaan :
1. M. Ikhsan ( Kelompok 3 )
Bahan-bahan isolasi ini biasa digunakan dimana ?
45

2. Hengky Rusliansyah ( Kelompok 4 )


Bagaimana gambar kertas mika dan apa contoh nya setelah dilapisi?
3. Khaidir imam Khanafi ( Kelompok 5 )
Apakah air dapat dijadikan sebagai bahan isolasi ? Jika iya nengapa, jika
tidak mengapa ?
4. Berlian Roza ( Kelompok 2 )
Jelaskan sifat-sifat dari bahan isolasi tersebut ( Sifat Listrik, Sifat Mekanis,
Sifat Termal )
Jawaban :
1. Biasa digunakan pada generator listrik dan kumparan dalam TV

2.

3. Air tidak dapat dijadikan bahan isolasi karena air adalah jenis mineral
yang tidak dapat menghantarkan arus listrik tetapi bukan isolator.
4. ( Belum dijawab )

46