Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

HARGA DIRI KRONIS

I.

Kasus (Masalah Utama)


Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis

II.

Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan
rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri
sendiri dan kemampuan diri (Keliat, 2011)
Harga diri rendah adalah evaluasi perasaan diri negatif atau merasa
tidak mampuyang berlangsung dalam rentang waktu lama (Wilkinson,
2007)
Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri/perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu yang
lama (NANDA, 2005). Individu cenderung untuk menilai dirinya negatif
dan merasa lebih rendah dari orang lain (Depkes RI, 2000).
Harga diri rendah kronis adalah suatu kondisi penilaian diri yang
negatif berkepanjangan pada seseorang atas dirinya (Carpenito, 2001).
2. Etiologi
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping
individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif,
kurangnya system pendukung, kemunduran perkembangan ego,
pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi system keluarga
serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal (Townsend, M.C,
1998: 366).
Menurut Carpenito, L.J (2002: 82) koping individu tidak efektif
adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko
mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani stressor internal
atau lingkungan dengan adekuat karena ketidakadekuatan sumbersumber (fisik, psikologis, perilaku atau kognitif).
Sedangkan menurut Townsend, M.C (1998: 312) koping individu
tidak efektif merupakan kelainan perilaku adaptif dan kemampuan
memecahkan

masalah

kehidupan dan peran.

seseorang

dalam

memenuhi

tuntunan

Secara umum penyebab harga diri kronis antara lain :


a. Perkembangan ego terbelakang
b. Model-model peran berkurang
c. Kekurangan umpan balik positif
d. Umpan balik berulang berakibat pada berkurangnya nilai diri
e. Hubungan orang tua anak tidak memuaskan
f. Lingkungan yang tidak terorganisasi dan semerawut
g. Penganiayaan dan pengobatan anak
h. Disfungsi sistem keluarga
3. Tanda dan Gejala (Karakteristik)
Ada 10 cara individu mengekspresikan secara langsung harga diri
rendah (Stuart dan Sundeen, 1995)
a. Mengejek dan mengkritik diri sendiri
b. Merendahkan atau mengurangi martabat diri sendiri
c. Rasa bersalah atau khawatir
d. Manisfestasi fisik : tekanan darah tinggi, psikosomatik, dan
e.
f.
g.
h.
i.
j.

penyalahgunaan zat.
Menunda dan ragu dalam mengambil keputusan
Gangguan berhubungan, menarik diri dari kehidupan sosial
Menarik diri dari realitas
Merusak diri
Merusak atau melukai orang lain
Kebencian dan penolakan terhadap diri sendiri
Karakteristik individu dengan harga diri rendah kronis (Carpenito,

2001). :
Mayor : untuk jangka waktu lama / kronis : Pernyataan negatif atas
dirinya, ekspresi rasa malu / bersalah, penilaian diri seakan-akan tidak
mampu menghadapi kejadian tertentu, ragu-ragu untuk mencoba
sesuatu yang baru.
Minor: Seringnya menemui kegagalan dalam pekerjaan, tergantung
pada pendapat orang lain, presentasi tubuh buruk, tidak asertif
bimbang,dan sangat ingin mencari ketentraman.
Karakteristik lain yang muncul antara lain :
a. Mengatakan diri tidak berharga, tidak berguna dan tidak
mampu
b. Mengatakan hal-hal yang negatif terhadap keadaan tubuhnya
c. Mengeluh tidak mampu melakukan peran dan fungsi
sebagaimana mestinya
d. Menarik diri dari kehidupan social
e. Kritis terhadap diri sendiri atau orang lain
f. Destruktif terhadap orang lain dan diri sendiri

g. Pembicaraan kacau
h. Mempersiapkan adanya ketegangan peran
i. Mudah tersinggung
j. Produktifitas menurun
k. Pandang hidup yang ekstrim
l. Penolakan terhadap diri sendiri
m. Menarik diri dari realitas
n. Mengatakan pesimis dalam menghadapi kehidupan
o. Merasa diri tidak adekuat
p. Keluhan fisik
q. Penyalahgunaan obat
4. Mekanisme Sebab Akibat
Sebab
a. Gangguan citra tubuh
Gangguan citra tubuh merupakan perubahan persepsi tentang
tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk,
struktur, fungsi, keterbatasan makna dan objek yang sering
kontak dengan tubuh, klien biasanya tidak dapat menerima
kondisinya, merasa kurang sempurna kemudian akan timbul
harga diri rendah
Tanda dan Gejala
1. Menolak melihat, menyentuh bagian tubuh yang berubah.
2. Menolak penjelasan perubahan tubuh.
3. Persepsi negative terhadap perubahan tubuh.
4. Mengungkapkan keputusasaan.
5. Mengungkapkan ketakutan.
b. Ideal diri tidak realistik
Ideal diri yang terlalu tinggi sukar dicapai dan tidak realitas,
ideal diri yang suram dan tidak jelas, cenderung menuntut.
Kegagalan-kegagalan yang dialami dan fantasi yang terlalu
tinggi yang tidak dapat dicapai membuat frustasi dan timbul
harga diri rendah.
Tanda dan gejala
1. Merasa diri tak berharga
2. Perasaan tidak mampu
3. Rasa bersalah
4. Ketegangan peran yang dirasakan
5. Pandangan hidup yang pesimis
6. Penolakan
terhadap
kemampuan personal atau
ketidakmampuan untuk mendapatkan penghargaan yang
positif
Akibat
Isolasi sosial : menarik diri

Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi


dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. Selain
itu menari diri merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik
perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara
langsung (isolasi diri) (Stuart dan Sundeen, 1995).
Tanda dan Gejala
1. Apatis
2. Ekspresi wajah sedih
3. Afek tumpul
4. Menghindar dari orang lain
5. Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain
6. Komunikasi kurang
7. Kontak mata kurang
8. Berdiam diri
9. Kurang mobilitas
10. Gangguan pola tidur (Tidur berlebihan/ kurang tidur)
11. Mengambil posisi tidur seperti janin
12. Kemunduran kesehatan fisik
13. Kurang memperhatikan keperawatan diri
5. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah kronis adalah
penolakan orang tua yang tidak realitas, kegagalan berulang kali, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain,
ideal diri yang tidak realistis.
6. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah kronis adalah
hilangnya sebagian anggota tubuh, penampilan atau bentuk tubuh,
mengalami kegagalan, serta menurunnya produktivitas.
Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis ini dapat terjadi
secara situasional atau kronik.
a. Situasional
Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis yang terjadi
secara situasional bisa disebabkan oleh trauma yang muncul secara
tiba-tiba, misalnya harus dioperasi, mengalami kecelakaan, menjadi
korban pemerkosaan atau menjadi narapidana sehingga harus masuk
penjara. Selain itu, dirawat di rumah sakit juga bisa menyebabkan
rendanya

harga

diri

seseorang

di

karenakan

penyakit

fisik,

pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman, harapan


yang tidak tercapai akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh, serta

perlakuan petugas kesehatan yang kurang menghargai klien dan


keluarga.
b. Kronik
Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis biasanya sudah
berlangsung sejak lama yang dirasakan klien sebelum sakit atau
sebelum dirawat. Klien sudah memiliki pikiran negatif sebelum dirawat
dan menjadi semakin meningkat saat dirawat.
Baik faktor predisposisi maupun presipitasi diatas apabila telah
mempengaruhi seseorang baik dalam berfikir, bersikap maupun
bertindak, maka dianggap telah mempengaruhi koping individu
tersebut sehingga menjdai tidak efektif (mekanisme koping tidak
efektif). Bila kondisi klien dibiarkan tanpa adanya intervensi lebih
lanjut dapat menyebabkan kondisi dimana klien tidak memiliki
kemauan untuk bergaul dengan orang lain (isolaasi sosial). Klien yang
mengalami isolasi sosial dapat membuat klien asik dengan dunia dan
pikirannya sendiri sehingga dapat muncul resiko perilaku kekerasan.
7. Rentang Respon
Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu.
Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif
yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat
dari hubungan individu dan sosial yang maladaptif. Rentang respon
individu terhadap konsep dirinya dapat dilihat pada gambar 1.
Respon Adaptif
Aktualisasi diri

Konsep-diri
Positif

Respon Maladaptif
Harga diri
rendah

Kerancuan Identitas

Depersonalisasi

Gb 1. Rentang respon konsep diri (Stuart & Sundeen, 1998, hlm.


374 ).
Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa
yang ada pada dirinya meliputi citra dirinya, ideal dirinya, harga
dirinya, penampilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini
akan menunjukkan bahwa individu itu akan menjadi individu yang
sukses.

Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya


sendiri, termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak
berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa. Adapun perilaku
yang berhubungan dengan harga diri yang rendah yaitu mengkritik diri
sendiri dan/ atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang
diarahkan kepada orang lain, gangguan dalam berhubungan,
perasaan tidak mampu, rasa bersalah, perasaan negatif mengenai
tubuhnya sendiri, keluhan fisik, menarik diri secara sosial, khawatir,
serta menarik diri dari realitas.
Kerancuan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk
mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kanak kanak ke dalam
kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Adapun perilaku yang
berhubungan dengan kerancuan identitas yaitu tidak ada kode moral,
sifat

kepribadian

yang

bertentangan,

hubungan

interpersonal

eksploitatif, perasaan hampa. Perasaan mengambang tentang diri


sendiri, tingkat ansietas yang tinggi, ketidak mampuan untuk empati
terhadap orang lain.
Depersonalisasi merupakan suatu perasaan yang tidak realistis
dimana klien tidak dapat membedakan stimulus dari dalam atau luar
dirinya (Stuart & Sundeen, 1998). Individu mengalami kesulitan untuk
membedakan dirinya sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri
merasa tidak nyata dan asing baginya.

III.

Pohon Masalah
Resiko isolasi sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri


rendah

Berduka disfungsional

B. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


1. Isolasi sosial : Menarik diri
Data Obyektif :
a. Apatis, ekspresi sedih, efek tumpul.
b. Komunikasi kurang atau tidak ada.
c. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
d. Berdiam diri dikamar/ tempat terpisah ; klien kurang mobilisasi.
e. Menolak berhubungan dengan orang lain.
f. Tidak melakukan kegiatan sehari- hari.
Data Subyektif
Klien mengatakan lebih suka sendiri daripada berhubungan
dengan orang lain.
2. Harga diri rendah.
Data Obyektif :
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri.
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik diri).
c. Merendahkan martabat.
d. Gangguan hubungan social, menarik diri, lebih suka sendiri.
e. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
f. Mencederai diri akibat harga diri rendah serta tatapan yang
suram.
Data Subyektif
a. Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh,
tidak tahu apa-apa.
b. Klien megungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
3. Gangguan citra tubuh
Data Obyektif :
a. Klien terlihat sedih
b. Klien terlihat melamun
c. Wajah tampak murung
d. Klien terlihat lebih suka sendiri
Data Subyektif :
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Perasaan negatif mengenai dirinya sendiri

IV.

Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan gangguan
konsep diri : harga diri rendah.
2. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan
gangguancitra tubuh

V.

Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa 1: Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga
diri rendah
Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan
meningkat harga dirinya.

Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
a. Bina

hubungan

perkenalan

diri,

saling

percaya

jelaskan

tujuan

salam
interaksi,

terapeutik,
ciptakan

lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu,


tempat dan topik pembicaraan)
b. Beri

kesempatan

pada

klien

untuk

mengungkapkan

perasaannya
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang
berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong
dirinya sendiri
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
Tindakan :
a. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
utamakan memberi pujian yang realistis

c. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang


dimiliki
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah
pulang ke rumah

4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai


dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
a. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan
setiap hari sesuai kemampuan
b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien
lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
a. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
a. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara
merawat klien.
b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
c. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
d. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
Diagnosa 2 : Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan
dengan gangguan citra tubuh
Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya


Kriteria evaluasi :
a. Ekspresi wajah bersahabat
b. Menunjukkan rasa senang dan ada kontak mata
c. Mau berjabat tangan dan mau menyebutkan nama
d. Mau menjawab salam dan duduk berdampingan dengan
perawat
e. Mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip
komunikasi terapeutik :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang
d.
e.
f.
g.

disukainya
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

klien
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki.
Kriteria evaluasi :
Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki :
a. Kemampuan yang dimiliki klien
b. Aspek positif keluarga
c. Aspek positif keluarga yang dimiliki klien
Intervensi :
a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
b. Setiap bertemu dengan klien hindarkan dari memberi
penilaian negatif
c. Usahakan memberi pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
selama sakit.
Kriteria evaluasi :
Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat
digunakan selama sakit.

b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat


dilanjutkan penggunaannya.