Anda di halaman 1dari 49

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium merupakan sebuah
paradigma pembangunan global yang dideklarasikan Konferensi Tingkat
Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa
(PBB) di New York pada bulan September 2000. Semua negara yang hadir
dalam pertemuan tersebut berkomitmen untuk mengintegrasikan MDGs
sebagai bagian dari program pembangunan nasiaonal dalam upaya
menangani penyelesaian terkait dengan masalah yang sangat mendasar
tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan
dan pembangunan.1
Satu di antara kedelapan target atau sasaran Pembangunan Milenium
atau Millenium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka
kematian anak. Target yang ingin di capai pada tahun 2015 adalah
mengurangi tingkat kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun (Balita)
hingga dua pertiganya dari kondisi tahun 1990.1
Angka kematian bayi (AKB) di Dunia tahun 2010 adalah sebesar 63/1000
kelahiran hidup. Imtiaz menyebutkan di dalam Jornal of Public Health and
Safety bahwa penyebab utama kematian neonatal disebabkan oleh asfiksia
intrapartum sebesar 21%. Menurut World Health Organization (WHO) di

dunia setiap tahunnya 3,6 juta (3%) dari 120 juta bayi mengalami asfiksia
neonatorum, dan hampir 1 juta (27,78%) bayi ini meninggal dunia.1
Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
menunjukkan di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 32/1.000
kelahiran hidup, sedangkan di Provinsi Lampung angka kematian bayi
mencapai 30/1000 kelahiran hidup atau lebih rendah di bandingkan dengan
jumlah AKB di Dunia dan Indonesia. Data SDKI menunjukan kejadian
asfiksia neonatorum kurang lebih 40/1000 kelahiran hidup dan secara
keseluruhan 110.000 neonatus meninggal setiap tahun karena asfiksia.2,3
Bayi dengan usia di bawah 28 hari yang meninggal jumlahnya mencapai
50 persen dari angka kasus kematian bayi secara keseluruhan dan umumnya
disebabkan karena kesulitan bernapas saat lahir (asfiksia), infeksi, dan
komplikasi lahir dini serta berat badan lahir rendah.5
Bayi dengan asfiksia dapat mengganggu fungsi organ tubuhnya.
Keadaan hipoksia dan iskemia yang terjadi akibat asfiksia akan menimbulkan
gangguan pada berbagai fungsi organ. Proses terjadinya gangguan
bergantung pada berat dan lamanya hipoksia terjadi dan berkaitan dengan
proses reoksigenisasi jaringan setelah proses hipoksia tersebut berlangsung.5
Faktor yang menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain: faktor
keadaan ibu, faktor keadaan plasenta dan faktor keadaan bayi. Faktor
keadaan ibu antar lain adalah preeklampsia dan eklampsia, plasenta previa,
solusio plasenta, partus lama atau macet, infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,
HIV) dan kehamilan lewat waktu. Faktor keadaan plasenta antara lain adalah

lilitan tali pusat, tali pusat pendek dan simpul tali pusat. Faktor keadaan bayi
antara lain adalah prematur, persalinan sulit (letak sungsang, kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum, forsep), kelainan kongenital dan ketuban bercampur
mekonium.6
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk
meneliti Faktor - faktor yang mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum
pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah: Faktor - faktor apa sajakah yang mempengaruhi kejadian asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013 ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Tahun Provinsi Lampung 2013
b. Untuk mengetahui hubungan usia kehamilan, lama persalinan, ketuban
pecah dini, preeklamsi dan eklamsi, pendarahan antepartum, BBLR,
infeksi berat pada gravidarum dan persalinan sulit dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai bahan referensi mengenai faktor-faktor yang dapat berhubungan
dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
2. Bagi Institusi Tempat Penelitian
Diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi petugas kesehatan di
Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan literatur atau referensi tentang faktor-faktor yang dapat
berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.

4. Bagi Peneliti
Untuk mengetahui dengan jelas mengenai faktor-faktor yang dapat
berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
Sehingga dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup


Penelitian mencakup program kesehatan preventif yang bertujuan untuk
mengetahui

faktor-faktor

apa

sajakah

yang

menyebabkan

asfiksia

neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Asfiksia dan Asfiksia Neonatorum


Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas secara spontan
dan teratur, sering kali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan
mengalami asfiksia sesudah persalinan.
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan
hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.7 Dari sumber lain menyebutkan bahwa
asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin
meningkatkan karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam
kehidupan lebih lanjut.13

2.2 Klasifikasi Asfiksia


Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity,
Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:14
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10

Tabel 2.1 Penilaian APGAR SCORE15


Tanda
Frekuensi
Jantung
Usaha bernafas
Tanus otot

0
Tidak ada
Tidak ada
Lumpuh

Refleks

Tidak ada

Warna kulit

Biru/pucat

Skor APGAR
1
2
< 100 x/menit
> 100 x/menit
Lambat tak teratur
Ekstremitas agak
fleksi
Gerakan sedikit
Tubuh kemerahan,
ekstremitas biru

Menangis kuat
Gerakan aktif
Gerakan
kuat/melawan
Seluruh tubuh
kemerahan

2.3 Etiologi Asfiksia


Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga oksigen ke bayi menjadi berkurang.
Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat
berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.5
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya
asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya:

2.3.1 Faktor Ibu


a. Preeklampsi dan eklampsi
Pre-eklampsi adalah salah satu sindrom yang dijumpai pada ibu
hamil diatas 20 minggu berupa berkurangnya perfusi organ akibat
vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan
tekanan darah dan proteinuria dengan atau tanpa edema. Preeklampsi

menyebabkan

insufisiensi

plasenta

sehingga

dapat

mengakibatkan hipoksia ante dan intrapartum. Hipoksia janin terjadi


karena gangguan pertukaran gas serta transport oksigen dari ibu ke
janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan oksigen dan
dalam menghilangkan karbon dioksida. Ia mengakibatkan asfiksia
neonatorum.13
b. Pendarahan antepartum

Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan


diatas 22 minggu hingga menjelang persalinan yaitu sebelum bayi
dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah
perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan
keadaan ibu semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan
gangguan ke plasenta yang mengakibatkan anemia pada janin
bahkan terjadi syok intrauterine yang mengakibatkan kematian janin
intrauterine. Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan
lahir rendah, sindrom gagal napas dan komplikasi asfiksia.5
c. Usia kehamilan
Usia kehamilan atau usia gestasi (gestational age) adalah ukuran
lama waktu seorang janin berada dalam rahim. Usia janin dihitung
dalam minggu dari hari pertama menstruasi terakhir (HPMT) ibu
sampai hari kelahiran.10
1) Partus prematurus adalah persalinan pada usia kehamilan kurang
dari 37 minggu atau berat badan lahir antara 500-2499 gram.
Kejadian prematuritas pada sebuah kehamilan akan di picu oleh

karakteristik pasien dengan: Status sosial ekonomi yang rendah,


termasuk didalamnya penghasilan yang rendah, kehamilan pada
usia 16 tahun dan primigravida >30 tahun, riwayat pernah
melahirkan prematur, pekerjaan fisik yang berat, tekanan mental
(stress) atau kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan
kejadian prematur, merokok, dan penggunaan obat bius/kokain.
Faktor

predisposisi

keadaan prematuritas antara

akan
lain:

infeksi

menambah
saluran

kemih,

penyakit ibu seperti hipertensi dalam kehamilan, asma, penyakit


jantung, kecanduan obat, kolestatis, anemia, keadaan yang
menyebabkan distensi uterus berlebihan yaitu kehamilan
multipel, hidramnion, diabetes dan perdarahan antepartum.
Kegagalan pernafasan pada bayi premature berkaitan dengan
defisiensi kematangan surfaktan pada paru- paru bayi. Bayi
premature mempunyai karakteristik yang berbeda secara
anatomi maupun fisiologi jika dibandingkan dengan bayi cukup
bulan. Karakteristik tersebut adalah:10
a) Kekurangan surfaktan pada paru-paru sehingga menimbulkan
kesulitan pada saat ventilasi.
b) Perkembangan

otak

yang

imatur

sehingga

kemampuan memicu pernafasan.


c) Otot yang lemah sehingga sulit bernafas spontan.

kurang

10

d) Kulit yang tipis, permukaan kulit yang luas dan kurangnya


jaringan lemak kulit memudahkan bayi kehilangan panas.
e) Bayi sering kali lahir disertai infeksi.
f) Pembuluh darah otak sangat rapuh sehingga mudah
menyebabkan perdarahan pada keadaan stres.
g) Volume darah

yang kurang, makin rentan terhadap

kehilangan darah.
h) Jaringan imatur, yang mudah rusak akibat kekurangan
oksigen.
2) Persalinan post term adalah persalinan yang terjadi pada usia
kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih (>249 hari),
istilah lainnya yaitu serotinus. Menentukan kehamilan post
term dengan menggunakan rumus Neagle dihitung dari HPHT dan
berdasarkan taksiran persalinan (280 hari atau 40 minggu) dari
HPHT. Pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan umur kehamilan
melebihi 42 minggu kejadian asfiksia bisa disebabkan oleh fungsi
plasenta yang tidak maksimal lagi akibat proses penuaan
mengakibatkan transportasi oksigen dari ibu ke janin terganggu.
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu
dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini
dapat dibuktikan dengan menurunya kadar estriol dan plasental
laktogen.10

11

2.3.2 Faktor plasenta


Plasenta merupakan akar janin untuk menghisap nutrisi dari ibu
dalm bentuk O2, asam amino, vitamin, mineral dan zat lain dan
membuang sisa metabolisme janin dan O2. Pertukaran gas antara ibu
dan janin dipengaruhi oleh luas kondisi plasenta. Gangguan pertukaran
gas di plasenta yang akan menyebabkan asfiksia janin. Fungsi plasenta
akan berkurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan O2 dan
menutrisi metabolisme janin. Asfiksia janin terjadi bila terdapat
gangguan mendadak pada plasenta.Kemampuan untuk transportasi O2
dan membuang CO2 tidak cukup sehingga metabolisme janin berubah
menjadi anaerob dan akhirnya asidosis dan PH darah turun. Dapat
terjadi pada bentuk: lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali
pusat.6

2.3.3 Faktor Bayi


a. Bayi Prematur
Kriteria untuk bayi prematur adalah yang lahir sebelum 37 minggu
dengan berat lahir dibawah 2500 gram. Bayi lahir kurang bulan
mempunyai organ dan alat-alat tubuh yang belum berfungsi normal
untuk bertahan hidup diluar rahim. Makin muda umur kehamilan,
fungsi organ tubuh bayi makin kurang sempurna, prognosis juga
semakin buruk. Karena masih belum berfungsinya organ-organ

12

tubuh secara sempurna seperti sistem pernafasan maka terjadilah


asfiksia.9
b. BBLR
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu akibat
tidak tumbuh sempurnanya pertumbuhan janin intrauterin. BBLR
adalah bayi yang mempunyai berat lahir < 2.500 gram. BBLR
mempunyai resiko mortalitas yang tinggi maupun kecenderungan
untuk menderita penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, diare,
respon imunitas yang rendah, dan keterlambatan pertumbuhan dan
perkembangan.11

2.3.4 Faktor Persalinan


Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup dari uterus melalui vagina ke dunia luar.8
a. Persalinan pervaginam
Persalinan pervaginam dibagi 3 (tiga), yaitu:
1)

Persalinan spontan, janin dilahirkan dengan kekuatan dan


tenaga ibu sendiri. Cara ini disebut Bracht. Pertolongan pada
tahap persalinan ini tidak boleh tergesa-gesa oleh karena
persalinan kepala yang terlalu cepat pada presentasi
sungsang dapat menyebabkan terjadinya dekompresi kepala
sehingga dapat menyebabkan perdarahan intrakranial.8

13

2)

Manual aid (partial breech extraction), janin dilahirkan


sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi
dengan tenaga penolong.8

3)

Ektraksi

sungsang

(total

breech

extraction),

janin

dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.8


Tahapan proses persalinan yang erat kaitannya langsung
dengan janin adalah pada kala I dan kala II. Apabila kala I dalam
persalinan berlangsung lebih lama maka akan ada kemungkinan terjadi
persalinan lama. Persalinan yang lama (partus lama) merupakan salah
satu faktor resiko intrapartum kejadian Asfiksia. Sedangkan Kala II
merupakan proses pengeluaran janin atau bayi, kontraksi akan terasa
sangat kuat pada fase ini, kontraksi yang kuat menimbulkan nyeri
hebat, nyeri biasanya menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang
dapat meningkatakan kerja saraf simpatis dan keadaan tersebut dapat
merangsang reseptor dan , rangsangan tersebut akan mengakibatkan
oksigenasi

janin

berkurang

dan

penurunan

oksigenasi

dapat

memperlambat proses persalinan dan merupakan salah satu faktor


resiko asfiksia neonatorum.12
b. Persalinan Perabdominam
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan
dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat
janin di atas 500 gram.8

14

c. Partus lama atau partus macet


Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24
jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi. Sedangkan
partus macet adalah merupakan fase terakhir dari suatu partus yang
macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul komplikasi
pada ibu dan atau janin, seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu,
serta asfiksia dan Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK).8
d. Ketuban Pecah Dini (KPD)
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan pada primi kurang dari 3cm dan pada multipara kurang
dari 5 cm. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena
berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan
intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan
membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari
vagina dan serviks. Ketuban Pecah Dini mempunyai peranan
penting terhadap timbulnya plasentitis dan amnionitis. Dengan
pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat
hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara
terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin
sedikit air ketuban, janin semakin gawat.8

15

2.4 Patofisiologi Asfiksia


a. Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir
Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau
jalan untuk mengeluarkan karbondioksida. Pembuluh arteriol yang ada di
dalam paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO2)
parsial rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui
paru karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah dialirkan
melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus arteriosus
kemudian masuk ke aorta.
Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai sumber
utama oksigen. Cairan yang mengisi alveoli akan diserap ke dalam jaringan
paru, dan alveoli akan berisi udara. Pengisian alveoli oleh udara akan
memungkinkan oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli.
Arteri dan vena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan tahanan
pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik. Akibat
tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah
paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah
bekurang. Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah
sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah
dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat
sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun. Oksigen yang diabsorbsi di
alveoli oleh pembuluh darah di vena pulmonalis dan darah yang banyak
mengandung oksigen kembali ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan

16

ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Pada kebanyakan keadaan, udara


menyediakan oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah
paru. Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami
relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya
melalui duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru, akan mengambil
banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.
Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan menggunakan
paru-parunya untuk mendapatkan oksigen. Tangisan pertama dan tarikan
napas yang dalam akan mendorong cairan dari jalan napasnya. Oksigen dan
pengembangan paru merupakan rangsang utama relaksasi pembuluh darah
paru. Pada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah, warna kulit
bayi akan berubah dari abu-abu/biru menjadi kemerahan.10
b. Kesulitan yang dialami bayi selama masa transisi
Bayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama persalinan atau
setelah lahir. Kesulitan yang terjadi dalam kandungan, baik sebelum atau
selama persalinan, biasanya akan menimbulkan gangguan pada aliran darah
di plasenta atau tali pusat. Tanda klinis awal dapat berupa deselerasi
frekuensi jantung janin. Masalah yang dihadapi setelah persalinan lebih
banyak berkaitan dengan jalan nafas dan atau paru-paru, misalnya sulit
menyingkirkan cairan atau benda asing seperti mekonium dari alveolus,
sehingga akan menghambat udara masuk ke dalam paru mengakibatkan
hipoksia. Bradikardia akibat hipoksia dan iskemia akan menghambat
peningkatan tekanan darah (hipotensi sistemik). Selain itu kekurangan

17

oksigen atau kegagalan peningkatan tekanan udara di paru-paru akan


mengakibatkan arteriol di paru-paru tetap konstriksi sehingga terjadi
penurunan aliran darah ke paru-paru dan pasokan oksigen ke jaringan. Pada
beberapa kasus, arteriol di paru-paru gagal untuk berelaksasi walaupun paruparu sudah terisi dengan udara atau oksigen (Persisten Pulmonary
Hypertension Newborn).10
c. Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi normal
Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke
dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke
jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol
pulmonal dan menyebabkan arteriol berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu
maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan
pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen. Pada saat pasokan
oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol pada organ seperti usus,
ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung dan otak tetap
stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian
distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital.
Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi
kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung,
penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ
akan berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan
oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang
irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. Keadaan bayi yang

18

membahayakan akan memperlihatkan satu atau lebih tanda-tanda klinis


seperti tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot dan organ
lain, depresi pernapasan karena otak kekurangan oksigen, bradikardia
(penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen pada otot jantung
atau sel otak, tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot
jantung, kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke
plasenta sebelum dan selama proses persalinan, takipnu (pernapasan cepat)
karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru, dan sianosis karena kekurangan
oksigen di dalam darah.10

2.5 Diagnosis Asfiksia


a. Anamnesis : Gangguan/ kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas atau
menangis.14
b. Pemeriksaan fisik:14
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia
atau hipoksia janin. Diagnosis anoksia atau hipoksia janin dapat dibuat
dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal
yang perlu mendapat perhatian yaitu :14
1) Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya,
akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit
di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda
bahaya.

19

2) Mekonium dalam air ketuban


Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi
pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi
dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada
presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri
persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3) Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah
janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan
turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu
dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.

2.6 Pemeriksaan Penunjang Asfiksia


a. Darah
Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari:11
1) Hemoglobin (Hb) pada bayi dengan asfiksia Hb cinderung turun karena
O2 dalam darah sedikit.
2) Leukosit pada bayi dengan asfiksia leukositnya meningkat, karena bayi
preterm imunitas masih rendah.
3) Distrosfiks pada bayi preterm dengan pos asfiksi cinderung turun karena
sering terjadi hipoglikemi.

20

b. Analisa gas darah


Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari:11
1) Kadar pH cenderung turun karena terjadi asidosis metabolik.
2) Kadar pCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik.
3) Kadar pO2 bayi post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia
progresif.

2.7 Penatalaksanaan Asfiksia


a. Penatalaksanaan secara umum pada bayi baru lahir dengan asfiksia adalah
sebagai berikut:13

1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh
penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel
jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan
untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir dengan:
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c) Bungkus bayi dengan kain kering.
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan
amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan
keluarnya lendir.

21

3) Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan


Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua
telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan
vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.13
b. Penatalaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia adalah sebagai
berikut:13
1) Asfiksi Ringan (APGAR score 7-10)
Caranya:
a) Bayi dibungkus dengan kain hangat
b) Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung
kemudian mulut
c) Bersihkan badan dan tali pusat.
d) Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke
dalam inkubator.
2) Asfiksia sedang (APGAR score 4-6)
Caranya:
a) Bersihkan jalan napas.
b) Berikan oksigen 2 liter per menit.
c) Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada
reaksi, bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).

22

d) Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc
disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk
mencegah tekanan intra kranial meningkat.
3) Asfiksia berat (APGAR skor 0-3)
Caranya:
a) Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
b) Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
c) Bila tidak berhasil lakukan Endotracheal Tube (ETT).
d) Bersihkan jalan napas melalui ETT.
f) Apabila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan
natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak
4cc.13

2.8 Komplikasi Asfiksia


Dampak atau komplikasi dari asfiksia berat pada organ atau sistem
adalah sebagai akibat dari vasokontriksi setempat untuk mengurangi aliran
darah ke organ yang kurang vital seperti saluran cerna, ginjal, otot, dan kulit
agar penggunaan oksigen berkurang, dan aliran darah untuk organ vital seperti
otak dan jantung meningkat. Organ atau sistem yang dapat mengalami
kerusakan adalah sebagai berikut:4

23

a. Sistem Susunan Saraf Pusat


Pada keadaan hipoksia aliran darah ke otak dan jantung lebih
dipertahankan dari pada ke organ tubuh lainnya, namun terjadi perubahan
hemodinamik di otak dan penurunan oksigenisasi sel otak tertentu yang
selanjutnya mengakibatkan kerusakan sel otak. Penelitian Yu, menyebutkan
8-17% bayi penderita serebral palsi disertai dengan riwayat perinatal
hipoksia. Salah satu gangguan akibat hipoksia otak yang paling sering
ditemukan pada masa perinatal adalah ensefalopati hipoksik iskemik (EHI).
Pada bayi cukup bulan keadaan ini timbul saat terjadinya hipoksia akut,
sedangkan pada bayi kurang bulan kelainan lebih sering timbul sekunder
pasca hipoksia dan iskemia akut. Manifestasi gambaran klinik bervariasi
tergantung pada lokasi bagian otak yang terkena proses hipoksia dan
iskemianya. Pada saat timbulnya hipoksia akut atau saat pemulihan pasca
hipoksia terjadi dua proses yang saling berkaitan sebagai penyebab
perdarahan peri/intraventrikular. Pada proses pertama, hipoksia akut yang
terjadi menimbulkan vasodilatasi serebral dan peninggian aliran darah
serebral. Keadaan tersebut menimbulkan peninggian tekanan darah arterial
yang bersifat sementara dan proses ini ditemukan pula pada sirkulasi
kapiler di daerah matriks germinal yang mengakibatkan perdarahan.
Selanjutnya keadaan iskemia dapat pula terjadi akibat perdarahan ataupun
renjatan pasca perdarahan yang akan memperberat keadaan penderita. Pada
proses kedua, perdarahan dapat terjadi pada fase pemulihan pasca hipoksia
akibat adanya proses reperfusi dan hipotensi sehingga menimbulkan

24

iskemia di daerah mikrosirkulasi periventrikular yang berakhir dengan


perdarahan. Proses yang mana yang lebih berperan dalam terjadinya
perdarahan tersebut belum dapat ditetapkan secara pasti, tetapi gangguan
sirkulasi yang terjadi pada kedua proses tersebut telah disepakati
mempunyai peran yang menentukan dalarn perdarahan tersebut.7
b. Sistem Pernapasan
Penyebab terjadinya gangguan pernapasan pada bayi penderita asfiksia
neonatus masih belum dapat diketahui secara pasti. Beberapa teori
mengemukakan bahwa hal ini merupakan akibat langsung hipoksia dan
iskemianya atau dapat pula terjadi karena adanya disfungsi ventrikel kiri,
gangguan koagulasi, terjadinya radikal bebas oksigen ataupun penggunaan
ventilasi mekanik dan timbulnya aspirasi mekonium.7
c. Sistem kardiovaskuler
Bayi yang mengalami hipoksia berat dapat menderita disfungsi
miokardium yang berakhir dengan payah jantung. Disfungsi miokardium
terjadi karena menurunnya perfusi yang disertai dengan kerusakan sel
miokard terutama di daerah subendokardial dan otot papilaris kedua bilik
jantung.7
d. Sistem urogenital
Pada sistem urogenital, hipoksia bayi dapat menimbulkan gangguan
perfusi dan dilusi ginjal serta kelainan filtrasi glomerulus. Aliran darah
yang kurang menyebabkan nekrosis tubulus dan perdarahan medula.7

25

e. Sistem gastrointestinal
Kelainan saluran cerna ini terjadi karena radikal bebas oksigen yang
terbentuk pada penderita hipoksia beserta faktor lain seperti gangguan
koagulasi dan hipotensi, menimbulkan kerusakan epitel dinding usus.
Gangguan fungsi yang terjadi dapat berupa kelainan ringan yang bersifat
sementara seperti muntah berulang, gangguan intoleransi makanan atau
adanya darah dalam residu lambung sampai kelainan perforasi saluran
cerna.7
f. Sistem audiovisual
Gangguan pada fungsi penglihatan dan pendengaran dapat terjadi
secara langsung karena proses hipoksia dan iskemia, ataupun tidak
langsung akibat hipoksia iskernia susunan saraf pusat atau jaras-jaras yang
terkait yang menimbulkan kerusakan pada pusat pendengaran dan
penglihatan.7
2.9 Prognosis Asfiksia
1. Asfiksia ringan: Prognosis baik
2. Asfiksia sedang: Bergantung pada kecepatan penatalaksanaan, jika
penatalaksanaan cepat prognosis baik
3. Asfiksia berat: Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama atau
kelainan syaraf permanen
Asfiksia dengan pH kurang dari 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma
dan kelainan neurologis yang permanen misalnya cerebral palsy dan retardasi
mental.5

26

2.10 Kerangka Teori

Faktor Ibu
Faktor Plasenta
Faktor Persalinan
Insufisiensi
uteroplasenta
Kehilangan nutrisi dan O2
dalam kandungan
Waktu persalinan terjadi
pengurangan aliran oksigen ke
plasenta sebagai akibat kontraksi
dinding uterus sehingga
kekurangan oksigen yang sudah
terjadi akan bertambah berat

Hipoksia
Janin
Lahir BBLR

Dinding dada sangat lemah dan


sering mengalami kegagalan dalam
menyelesaikan pernafasan
pertamanya

Pada akhir respirasi, volume toraks


dan paru-paru mendekati volume
residu

Atelektasis

Paru Kolaps

Hipoksia

Asfiksia
Neonatorumm

Gambar 2.1 Kerangka Teori 5,10,13

Aspirasi
Mekonium

27

2.11 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan
antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian
yang akan dilakukan.16 Pada penelitian ini peneliti ingin mengukur
hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang terlihat
pada gambar berikut:
1. Usia Kehamilan
2. Lama Persalinan
3. Ketuban Pecah
Dini
4. Preeklamsi dan
Eklamsi
5. Pendarahan
Antepartum
6. BBLR
7. Infeksi berat pada
gravidarum
8. Persalinan sulit

Asfiksia

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

2.12

Hipotesis
a. Ada hubungan usia kehamilan dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
b. Ada hubungan lama persalinan dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

28

c. Ada hubungan ketuban pecah dini dengan asfiksia neonatorum pada


bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
d. Ada hubungan preeklamsi dan eklamsi dengan asfiksia neonatorum
pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
e. Ada hubungan pendarahan antepartum dengan asfiksia neonatorum
pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
f. Ada hubungan berat bayi lahir rendah dengan asfiksia neonatorum pada
bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
g. Ada hubungan infeksi berat pada gravidarum dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
h. Ada hubungan persalinan sulit dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

29

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu penelusuran
dilakukan sesaat, artinya subjek diamati hanya satu kali dan tidak ada
perlakuan terhadap responden.16

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Maret Tahun 2014 di Rumah Sakit Umum
Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Batasan Populasi
Populasi penelitian adalah semua bayi baru lahir di Rumah Sakit
Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung pada
bulan Januari-Desember 2013.
3.3.2 Besar Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek peneliti
yang dianggap mewakili seluruh populasi. Penentuan besarnya sampel
peneliti menggunakan rumus Krejcie dan Morgan.16
n

X2.N.P(1-P)
(N-1).d2+X2.P(1-P)

29

30

Keterangan:
n = Besar sampel
N = Besar populasi
X2 = Nilai Chi kuadrat
P = Proporsi populasi
d = Tingkat penyimpangan yang diinginkan (0.05)

n=

1413,49
3,68 + 0,96

= 304,78 atau dibulat menjadi 305 sampel


Berdasarkan perhitungan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan
dalam penelitian ini adalah 305 responden dengan kriteria.

a. Kriteria Inklusi:
a) Semua bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung pada
bulan Januari Desember 2013
b) Semua bayi baru lahir dengan asfiksia neonatorum di Rumah
Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi
Lampung pada bulan Januari Desember 2013
b. Kriteria Eksklusi:
c) Bayi dengan umur di atas 28 hari di Rumah Sakit Umum
Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung
pada bulan Januari Desember 2013

31

a)

3.3.3 Tehnik Sampling


Teknik pengambilan sampel ini secara acak sederhana (Random
sampling) yaitu setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Teknik
pengambilan sampel secara acak sederhana ini dilakukan dengan cara
mengundi anggota populasi (Lottery Technique).16

3.4 Variabel Penelitian


Variabel independen yang dibahas dalam penelitian ini adalah variabel
usia kehamilan, lama persalinan, ketuban pecah dini, preeklamsi dan eklamsi,
pendarahan antepartum, BBLR, infeksi berat pada gravidarum dan persalinan
sulit.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah asfiksia neonatorum.

3.5 Definisi Operasional


Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan atau mengamati
variabel - variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrument
penelitian (alat ukur).16 Definisi operasional variabel - variabel dalam
penelitian ini ialah sebagai berikut:

32

Tabel 3.1 Definisi Operasional


No
1

Variabel
Asfiksia
Neonatorum

Definisi Operasional
keadaan dimana bayi baru lahir
tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur

Cara Ukur
Observasi
rekam
medis

Alat Ukur
Lembar
Check list

Hasil Ukur
1. Asfiksia (jika
APGAR
SKORE < 7)
0. Tidak Asfiksia
(jika APGAR
SKORE >7)

Skala
Nominal

Usia
Kehamilan

Partus prematurus adalah


persalinan pada usia kehamilan
kurang dari 37 minggu

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Prematur
0. Normal

Nominal

Lama
Persalinan

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Persalinan lama
0. Normal

Nominal

Ketuban
Pecah Dini

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. KPD
0. Tidak KPD

Nominal

Preeklamsi
dan Eklamsi

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Preeklamsi dan
Eklamsi
0. Tidak
Preeklamsi dan
Eklamsi

Nominal

Pendarahan
Antepartum

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

Berat Bayi
Lahir Rendah

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Pendarahan
Antepartum
0. Tidak
Pendarahan
Antepartum
1. BBLR
0. Tidak BBLR

Nominal

Persalinan lama adalah


persalinan yang berlangsung
lebih dari 24 jam pada primi dan
lebih dari 18 jam pada multi
KPD adalah pecahnya ketuban
sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan pada primi kurang
dari 3cm dan pada multipara
kurang dari 5 cm atau pecahnya
ketuban 18 jam sebelum inpartu
Preeklampsia merupakan
timbulnya hipertensi (>160/110
mmHg) disertai proteinuria (>5
g dalam spoesimen urin 24 jam
atau +3) dan edema akibat
kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan
Eklampsia merupakan
preeklamsi yang disertai dengan
kejang dan atau koma yang
timbul bukan akibat kelainan
neurologi
Perdarahan antepartum
merupakan perdarahan pada
kehamilan diatas 22 minggu
hingga menjelang persalinan
yaitu sebelum bayi dilahirkan
Berat bayi lahir rendah adalah
Bayi yang lahir dengan berat <
2500g

Infeksi Berat
Pada
Gravidarum

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Infeksi
0. Tidak Infeksi

Nominal

Persalinan
Sulit
(Distosia)

Infeksi Berat Pada Gravidarum


adalah infeksi berat yang terjadi
pada gravidarum yang dapat
disebabkan oleh beberapa
penyakit seperti malaria, TBC,
sivilis dan HIV
Distosia adalah persalinan
abnormal atau sulit yang
ditandai dengan kelambatan atau
tidak adanya kemajuan proses
persalinan dalam satuan waktu
tertentu (letak sungsang,
kembar, distosia bahu, ekstraksi
vakum, forsep)

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check list

1. Persalinan Sulit
0. Persalinan
Normal

Nominal

Nominal

33

3.6 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar check list dengan
menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu bulan Januari Desember 2013.

3.7 Pengolahan Data


3.7.1

Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh atau dikumpulkan. Pada penelitian ini melakukan
editing

dengan

cara

memeriksa

kelengkapan,

kesalahan

pengisian.17
3.7.2

Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik pada data
yang terdiri atas beberapa kategori. 17

3.7.3

Entry
Data entry adalah kegiatan memasukan data yang telah
dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base komputer.17

3.7.4

Cleaning (Pembersihan data)


Data

yang

telah

kebenarannya.17

di

entry

diperiksa

kelengkapan

dan

34

3.8 Analisis Data


3.8.1 Analisis Univariat
Bertujuan untuk menyajikan secara deskriptif dari variabel-variabel
yang diteliti. Analisis yang bersifat univariat untuk melihat distribusi
frekuensi dari seluruh faktor yang terdapat dalam variabel masingmasing,

baik

mendapatkan

variabel
gambaran

bebas

maupun

jawaban

variabel

responden,

dan

terikat,

untuk

menjelaskan

karakteristik masing-masing variabel.17


3.8.2 Analisis Bivariat
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square.17
Berdasarkan hasil perhitungan statistic dapat dilihat kemaknaan
hubungan antara 2 variabel, yaitu: 17
a.

Jika p value 0.05 maka bermakna/signifikan, berarti ada


hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependen atau hipotesis (Ho) ditolak.

b.

Jika p value > 0.05 maka tidak bermakna/signifikan, berarti tidak


ada hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependen atau hipotesis (Ho) diterima.

35

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan terhadap 315 responden yang memenuhi kriteria
inklusi antara lain semua bayi baru lahir dan bayi baru lahir dengan asfiksia
neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu
Provinsi Lampung tahun 2013.
Karakteristik subjek penelitian ditampilkan pada tabel 4.1 yang menunjukan
kejadian asfiksia, usia kehamilan, lama persalinan, ketuban pecah dini, preeklamsi
dan eklamsi, pendarahan antepartum, berat bayi lahir rendah, infeksi berat pada
gravidarum, dan persalinan sulit.
Distribusi responden berdasarkan kejadian asfiksia neonatorum, jumlah bayi
yang mengalami asfiksia neonatorum lebih rendah dibandingkan dengan bayi
yang tidak mengalami asfiksia neonatorum. Ketuban pecah dini merupakan
distribusi responden yang terbesar, sedangkan infeksi berat pada gravidarum
merupakan distribusi responden yang terkecil.
Berat bayi lahir rendah dalam penelitian ini ditemukan bayi dengan berat 2000
g - 1500 g sebanyak 40, bayi dengan berat 1500 g - 1000 g sebanyak 21, dan bayi
dengan berat < 1000 g sebanyak 10.
Pendarahan antepartum yang ditemukan di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu meliputi plasenta previa dan solusio plasenta. Infeksi berat pada

35

36

gravidarum yang ditemukan di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu meliputi


malaria, tbc dan hepatitis. Persalian sulit yang ditemukan di Rumah Sakit Umum
Daerah Pringsewu meliputi bayi dengan letak sungsang, kembar dan distosia
bahu.

4.1.2 Analisis Univariat


Table 4.1 Karakteristik subjek penelitian
No
1

Variabel
Kejadian asfiksia
- Asfiksia
- Tidak Asfiksia
Usia Kehamilan
- Normal
- Prematur
Lama Persalinan
- Normal
- Persalinan Lama
Ketuban Pecah Dini
- KPD
- Tidak KPD
Preeklamsi dan Eklamsi
- Preeklamsi dan Eklamsi
- Tidak Preeklamsi dan
Eklamsi
Pendarahan Antepartum
- Pendarahan Antepartum
- Tidak Pendarahan
Antepartum
Berat Bayi Lahir Rendah
- BBLR
- Tidak BBLR
Infeksi Berat Pada Gravidarum
- Infeksi Berat
- Tidak Infeksi Berat
Persalinan Sulit
- Persalinan Sulit
- Persalian Normal
Jumlah Responden

Frekuensi

Persentase (%)

126
189

40,3
59,7

275
40

87,3
12,7

276
39

87,6
12,4

97
218

30,8
69,2

43
272

13,7
86,3

16
299

5,1
94,9

71
244

22,5
77,5

12
303

3,8
96,2

86
229
315

27,3
72,7
100

37

4.1.3 Analisis Bivariat


Faktor faktor yang mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum
di tampilkan pada tabel 4.2. Penelitian menunjukan hasil yang
bermakna mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum yaitu usia
kehamilan, lama persalinan, ketuban pecah dini, dan preeklamsi dan
eklamsi.

Tabel 4.2

Faktor faktor yang mempengaruhi kejadian asfiksia neonatorum


Asfiksia
Tidak
Asfiksia
Asfiksia
N
%
N
%

Jumlah
N

OR

p-value

95%Cl

2.35

0.038

1.37-6.13

4.56

0.010

2.1012.47

4.17

0.048

1.6210.76

2.10

0.023

2.26

0.045

Usia Kehamilan
-Normal
-Prematur
Lama Persalinan
-Persalinan
Normal
-Persalinan
Lama
KPD
-Tidak KPD
-KPD
Preeklamsi dan
Eklamsi
-Tidak
-Ya
Pendarahan
Antepartum
-Tidak
Pendarahan
-Pendarahan
BBLR
-Tidak BBLR
-BBLR
Infeksi Berat
-Tidak Infeksi
-Infeksi
Persalinan Sulit
-Normal
-Persalinan Sulit

104
22

33,0
7,0

171
18

54,3
5,7

275
40

87,3
12,7

103

32,7

173

55,0

276

87,6

23

7,3

16

5,0

39

12,4

95
31

30,1
9,9

123
66

39,0
21,0

218
97

69,2
30,8

102
24

32,3
7,7

170
19

54,0
6,0

272
43

86,3
13,7

116

36,8

183

58,0

299

95,0

10

3,2

2,0

16

5,0

94
32

29,8
10,2

150
39

47,6
12,4

244
71

77,5
22,5

1.30

0.322

0.76-2.23

120
6

38,1
1,9

183
6

58,1
1,9

303
12

96,2
3,8

1.52

0.471

0.48-4.83

96
30

30,5
9,5

133
56

42,2
17,8

229
86

72,7
27,3

1,74

0.256

1.44-6.24

1.09-4.03

0.93-7.42

38

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian asfiksia
Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,038
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara asfiksia neonatorum
dengan usia kehamilan pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Usia kehamilan / masa gentasi merupakan salah satu faktor resiko
terjadinya asfiksia neonatorum dan sangat berpengaruh pada bayi yang
akan dilahirkan, umumnya gangguan telah dimulai sejak dikandungan,
misalnya gawat janin atau stress janin saat proses kelahirannya.
Bayi prematur mempunyai karakteristik yang berbeda secara anatomi
maupun fisiologi jika dibandingkan dengan bayi cukup bulan salah satu
karakteristik bayi preterm ialah pernafasan tidak teratur dan dapat
terjadi gagal nafas. Adanya hubungan antara usia kehamilan dengan
kejadian asfiksia neonatorum desebabkan karena pada bayi yang di
lahirkan sebelum 37 minggu mempunyai organ organ tubuh yang
belum sempurna sehingga mengalami defisiensi kematangan surfaktan
pada paru- parunya, kemudian menimbulkan kesulitan pada saat
ventilasi, perkembangan otak yang imatur sehingga kurang kemampuan
memicu pernafasan dan otot yang lemah sehingga sulit bernafas
spontan.10
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lintang
Brillianningtyas. L, Masykur. B dan Novita. C di RSUD dr. A. Dadi

39

Tjokrodipo Bandar Lampung yang menunjukan tedapat variabel yang


berhubungan secara signifikan antara usia kehamilan dengan asfiksia
pada bayi baru lahir dengan nilai p-value = 0,002.21

4.2.2 Hubungan Lama Persalinan Dengan Kejadian Asfiksia


Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,010
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara asfiksia neonatorum
dengan lama persalinan pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Partus lama menimbulkan efek berbahaya baik terhadap ibu
maupun anak, beratnya cidera terus meningkat dengan semakin
lamanya proses persalinan, resiko tersebut naik dengan cepat setelah
waktu 24 jam. Semakin lama persalinan, semakin tinggi morbiditas
serta mortalitas janin dan semakin sering terjadi asfiksia akibat partus
lama itu sendiri. Persalinan yang berlangsung lama dapat menyebabkan
bayi mengalami hipoksia dikarenakan berkurangnya transport O2 dari
ibu ke janin, janin mengalami devisiensi O2 dan kelebihan CO2,
kemudian dapat berlanjut dengan bayi lahir dengan asfiksia
neonatorum. Hal ini dapat di sebebkan oleh faktor ibu dan atau faktor
janin seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu dan air ketuban yang
bercampur mekonium.8,22
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Desfauza. E di
RSU Dr. Pringadi Medan yang menunjukan tedapat variabel yang

40

berhubungan secara signifikan antara persalinan lama dengan asfiksia


pada bayi baru lahir dengan nilai p-value = 0,015.19

4.2.3 Hubungan Ketuban Pecah Dini Dengan Kejadian Asfiksia


Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,048
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara asfiksia neonatorum
dengan KPD pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Ketuban pecah dini (KPD) adalah selaput ketuban yang pecah
sebelum adanya tanda persalinan. Ketuban pecah dini pada kondisi
kepala janin belum masuk pintu atas panggul, dapat menyababkan
kepala janin terjepit dinding panggul, keadaan sangat berbahaya bagi
janin. Dalam waktu singkat janin akan mengalami hipoksia hingga
kematian janin dalam kandungan (IUFD). Hipoksia dan asidosis berat
yang terjadi sebagai akibat pertukaran oksigen dan karbondioksida
alveoli kapiler tidak adekuat, terbukti berdampak sangat fatal pada bayi.
Adanya hubungan antara KPD dengan asfiksia neonatorum karena
dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya menyebabkan terjadinnya
oligohidramnion yang menekan tali pusat, sehingga pertukaran gas dan
transport O2 antara ibu dan janin menjadi terganggu, sehingga terjadi
hipoksia atau asfiksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin
dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin
gawat.8,23

41

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Widuri, M.R di


Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiah Bantul yang menunjukan
tedapat variabel yang berhubungan secara signifikan antara ketuban
pecah dini dengan asfiksia pada bayi baru lahir dengan nilai p-value =
0,012.18

4.2.4 Hubungan Preeklamsi dan Eklamsi Dengan Kejadian Asfiksia


Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,023
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara asfiksia neonatorum
dengan preeklamsi dan eklamsi pada bayi baru lahir di RSUD
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Preeklamsia dan eklampsia dapat menyebabkan spasmus pembuluh
darah dan disertai dengan retensi garam dan air, pada beberapa kasus
lumenarteriol demikian kecilnya, sehingga hanya dapat dilalui oleh satu
sel darah merah saja. Tekanan darah yang meningkat merupakan usaha
mengatasi kenaikan tekanan perifer, agar oksigenasi jaringan dapat
tercukupi. Pada preeklampsi juga

dijumpai kadar aldosteron yang

rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi dari pada kehamilan


normal, aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan
mengatur retensi air dan natrium. Preeklamsi dan eklamsi akan
menyababkan aliran darah menuju uterus pada ibu hamil terganngu,
berkurangnya aliran darah pada uterus menyebabkan berkurangnya
aliran oksigen ke plasenta kemudian akan berdampak pada gangguan

42

pertukaran nutrisi dan gangguan pertukaran O2 dari ibu ke janin.


Spasme arteriola yang mendadak dapat menyebabkan asfiksia berat
sampai kematian janin. Preeklamsi dan eklamsi menyebabkan
vasokonstriksi pembuluh darah yang mengakibatkan kurangnya suplai
darah ke plasenta sehingga terjadi hipoksia janin. Akibat lanjut dari
hipoksia janin adalah gangguan pertukaran gas antara oksigen dan
karbon dioksida sehingga terjadi asfiksia neonatorum.13
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ravindran. G.S
di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang
menunjukan tedapat variabel yang berhubungan secara signifikan antara
pre-eklampsi dengan kejadian asfiksia poada bayi baru lahir dengan
nilai p-value = 0.001.13

4.2.5 Hubungan Pendarahan Antepartum Dengan Kejadian Asfiksia


Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,045
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara asfiksia neonatorum
dengan pendarahan antepartum pada bayi baru lahir di RSUD
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Perdarahan antepartum merupakan suatu kejadian patologis berupa
perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan 28 minggu atau lebih.
Perdarahan yang terjadi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu perdarahan
yang ada hubungannya dengan kehamilan (plasenta previa, solusio
plasenta, pecahnya sinus marginalis, dan perdarahan vasa previa) dan

43

perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan (pecahnya


varises, perlukaan serviks, keganasan serviks, dll). Perdarahan
antepartum yang berhubungan dengan kehamilan harus segera
dilakukan tindakan agar tidak berakibat fatal bagi ibu dan janinnya,
sedangkan perdarahan antepartum yang tidak berhubungan dengan
kehamilan tidak membahayakan janin tapi hanya memberatkan ibu.
Pendarahan antepartum dapat menyebabkan anemia dan syok yang
menyebabkan

keadaan

ibu

semakin jelek,

keadaan ini

yang

menyebabkan anemia pada janin dan asfiksia neonatorum.5


Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Desfauza. E di
RSU Dr. Pringadi Medan yang menunjukan tedapat variabel yang
berhubungan secara signifikan antara pendarahan antepartum dengan
asfiksia pada bayi baru lahir dengan nilai p-value = 0,033.19
4.2.6 Hubungan Berat Bayi Lahir Rendah Dengan Kejadian Asfiksia
Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,322
sehingga disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara asfiksia
neonatorum dengan BBLR pada bayi baru lahir di RSUD Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. BBLR dapat di
bagi menjadi dua kategori yaitu prematuritas murni dan dismaturitas.
Disebut Prematuritas murni jika masa gestasinya kurang dari 37
minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa

44

gestasinya, biasa pula disebut neonatus kurang bulan sesuai masa


kehamilan. Dismaturitas ialah bayi lahir dengan berat badan kurang dari
berat badan seharusnya untuk masa gestasinya, artinya bayi mengalami
retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk
masa kehamilannya. Hipoksia sering di temukan pada bayi dengan berat
lahir rendah, kejadian ini umumnya telah di mulai sejak janin dalam
kandungan berupa gawat janin atau stress janin pada waktu proses
kelahiran, akibatnya bayi mengalami asfiksia. Asfiksia terjadi
umumnya karena belum matangnya paru-paru dan kekurangan bahan
surfaktan yang berfungsi mempertahankan mengembangnya gelembung
paru. 11
Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Prasetyo. A.B,
Darmawan dan Soeroyo. M di Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap
mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara berat bayi lahir
rendah dengan asfiksia pada bayi baru lahir dengan nilai p-value =
0,030.20
Perbedaan hasil penelitian dapat di sebabkan oleh beberapa hal
diantaranya adalah karena proporsi sampel bayi dengan asfiksia
neonatorum dan kesalahan dari peneliti

(kesalahan pengambilan

sampel, kesalahan teknik analisis atau kesalahan menginput data).

45

4.2.7 Hubungan Infeksi Berat Pada Gravidarum Dengan Kejadian


Asfiksia
Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,471
sehingga disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara asfiksia
neonatorum dengan infeksi berat pada bayi baru lahir di RSUD
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Plasenta merupakan organ penghubung antara ibu dan janinnya,
plasenta juga berfungsi sebagai Barrier (penghalang) terhadap
bakteri, parasit dan virus. Karena itu jika ibu terinfeksi parasit, bakteri
atau virus maka akan mengikuti peredaran darah sehingga akan
ditemukan pada plasenta bagian maternal. Bila terjadi kerusakan pada
plasenta, parasit, bakteri maupun virus dapat menembus plasenta dan
masuk kesirkulasi darah janin. Janin yang terinfeksi parasit, bakteri
ataupun virus terutama parasit malaria yang masuk melalui plasenta
dapat merusak hampir 65% eritrosit janin yang akan menyebabkan
anemia janin, hipoksia dan meningkatkan kemungkinan bayi
mengalami asfiksia saat dilahirkan. Infeksi berat pada gravidarum
meliputi penyaki-penyakit infeksi seperti malaria, TBC, sivilis dan
HIV.24
Belum ditemukan penelitian sebelumnya mengenai hubungan
infeksi berat pada gravidarum dengan kejadian asfiksia neonatorum
pada bayi baru lahir.

46

4.2.8 Hubungan Persalinan Sulit Dengan Kejadian Asfiksia


Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,256
sehingga disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara asfiksia
neonatorum dengan persalinan sulit pada bayi baru lahir di RSUD
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.
Distosia adalah persalinan abnormal atau sulit yang di tandai
dengan melambatnya atau tidak adanya kemajuan dalam proses
persalinan dalam satuan waktu tertentu. Persalinan sulit dapat di
sebebkan oleh beberapa hal seperti bayi dengan letak sungsang,
kembar, dan distosia bahu. Janin dengan letak sungsang dapat
meningkatkan resiko cidera dan putusnya tali pusat yang berarti
terputusnya suplai darah dari ibu ke janin, dan berdampak terputusnya
suplai nutrisi dan pertukaran oksigen dari ibu ke janin, hal tersebut
dapat mengakibatkan hipoksia janin dan bayi terlahir dengan asfiksia
neonatorum. Persalinan sulit meliputi letak sungsang, kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum, forsep.10,24
Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Desfauza. E di
Rumah Sakit Umum Dr. Pringadi Medan mengatakan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara persalinan sulit dengan asfiksia pada
bayi baru lahir dengan nilai p-value = 0,026.19
Perbedaan hasil penelitian dapat di sebabkan oleh beberapa hal
diantaranya adalah proporsi sampel bayi dengan asfiksia neonatorum,
kesalahan dari peneliti (kesalahan pengambilan sampel, kesalahan

47

teknik analisis atau kesalahan menginput data), penegakan diagnosis


dini dan tepat, dan penatalaksanaan yang tepat saat persalinan.

48

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir di
RSUD Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013 terhadap
315 responden, dapat disimpulkan bahwa :
1. Bayi baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum dengan presentase
40,3% lebih rendah dibandingkan dengan bayi baru lahir yang tidak
mengalami asfiksia neonatorum dengan presentase 59,7%.
2. Ada hubungan antara usia kehamilan, lama persalinan, ketuban pecah dini,
dan preeklamsi dan eklamsi dengan kejadian asfiksia neonatorum pada
bayi baru lahir.
3. Tidak ada hubungan antara pendarahan antepartum, berat bayi lahir
rendah, infeksi berat pada gravidarum, dan persalinan sulit dengan
kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
5.2 Saran
1. Bagi Institusi Kesehatan
Disarankan petugas kesehatan di rumah sakit, puskesmas, ataupun bidan
praktek swasta agar dapat lebih waspada terhadap ibu yang mengalami
usia kehamilan kurang dari 37 minggu, ketuban pecah dini, dan preeklamsi

48

49

dan eklamsi karena dapat beresiko tinggi bayi lahir dengan asfiksia
neonatorum.
2. Bagi Masyarakat
Disarankan bagi ibu yang sedang mengandung dapat memeriksakan
kandungannya secara rutin untuk mengurangi resiko bayi terlahir dengan
asfiksia neonatorum dan mengurangi kemungkinan komplikasi yang
terjadi akibar asfiksia neonatorum.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dapat meneruskan penelitian ini dengan menggunakan faktorfaktor yang lain dan mensosialisasikan faktor-faktor tersebut guna
menambah informasi faktor-faktor yang berhubungan dengan asfiksia.