Anda di halaman 1dari 17

PERANGKAP RESERVOIR

Perangkap reservoir adalah suatu lapisan kedap air (impermeable) yang membatasi gerakan
migas, dimana migas yang masuk ke lapisan tersebut tidak dapat keluar sehingga
terperangkap/terjebak di sana.
Jenis-jenis Perangkap Reservoir:
1. Perangkap Struktur
Perangkap Struktur merupakan perangkap yang paling orisinil dan sampai dewasa ini merupakan
perangkap yang paling penting. Berbagai unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat
dan lapisan reservoir, sehingga dapat menjebak hidrokarbon, disebabkan karena gejala tektonik
atau struktur, misalnya pelipatan dan patahan.
2. Perangkap Stratigrafi
Levorsen (1958), mengemukakan bahwa perangkap stratigrafi adalah suatu istilah umum untuk
perangkap yang terjadi karena berbagai variasi lateral dalam litologi suatu lapisan reservoir atau
penghentian dalam kelanjutan penyaluran minyak dalam bumi.
Prinsip perangkap stratigrafi adalah bahwa minyak dan gas bumi terjebak dalam perjalannya
keatas terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, karena batuan reservoir
menghilang atau berubah fasies menjadi batuan lain.
3. Perangkap Kombinasi
Perangkap hidrokarbon banyak yang merupakan perangkap kombinasi antara perangkap struktur
dengan perangkap stratigrafi.

Reservoir adalah suatu tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi. Pada umumnya reservoir
minyak memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung dari komposisi, temperature dan
tekanan pada tempat dimana terjadi akumulasi hidrokarbon didalamnya. Suatu reservoir minyak
biasanya mempunyai tiga unsur utama yaitu adanya batuan reservoir, lapisan penutup dan
perangkap. Beberapa syarat terakumulasinya minyak dan gas bumi adalah :
1. Adanya batuan Induk (Source Rock)
Merupakan batuan sedimen yang mengandung bahan organik seperti sisa-sisa hewan dan
tumbuhan yang telah mengalami proses pematangan dengan waktu yang sangat lama sehingga
menghasilkan minyak dan gas bumi.
2. Adanya batuan waduk (Reservoir Rock)
Merupakan batuan sedimen yang mempunyai pori, sehingga minyak dan gas bumi yang
dihasilkan batuan induk dapat masuk dan terakumulasi.
3. Adanya struktur batuan perangkap
Merupakan batuan yang berfungsi sebagai penghalang bermigrasinya minyak dan gas bumi lebih
jauh.
4. Adanya batuan penutup (Cap Rock)
Merupakan batuan sedimen yang tidak dapat dilalui oleh cairan (impermeable), sehingga minyak
dan gas bumi terjebak dalam batuan tersebut.
5. Adanya jalur migrasi
Merupakan jalan minyak dan gas bumi dari batuan induk sampai terakumulasi pada perangkap.

1. Sifat-Sifat Fisik Batuan Reservoir


Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, sedangkan suatu mineral dibentuk dari beberapa
ikatan kimia. Komposisi kimia dan jenis mineral yang menyusunnya akan menentukan jenis
batuan yang terbentuk. Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir dan karbonat (sedimen klastik) serta batuan shale (sedimen non-klastik) atau kadangkadang vulkanik. Masing-masing batuan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda,
demikian juga dengan sifat fisiknya. Pada hakekatnya setiap batuan dapat bertindak sebagai
batuan reservoir asal mempunyai kemampuan menyimpan dan menyalurkan minyak bumi.
Komponen penyusun batuan serta macam batuannya dapat dilihat pada Gambar 1.

1.1. Porositas ()
Dalam reservoir minyak, porositas mengambarkan persentase dari total ruang yang tersedia
untuk ditempati oleh suatu cairan atau gas. Porositas dapat didefinisikan sebagai perbandingan
antara volume total pori-pori batuan dengan volume total batuan per satuan volume tertentu,
yang jika dirumuskan :

Dimana :
= Porositas absolute (total), fraksi (%)
Vp = Volume pori-pori, cc
Vb = Volume batuan (total), cc
Vgr = Volume butiran, cc
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori total terhadap volume batuan total
yang dinyatakan dalam persen, atau secara matematik dapat ditulis sesuai persamaan sebagai
berikut :

2. Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori yang saling berhubungan

terhadap volume batuan total (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen.

Dimana :
e = Porositas efektif, fraksi (%)
g = Densitas butiran, gr/cc
b = Densitas total, gr/cc
f = Densitas formasi, gr/cc
Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu :
1. Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang bersamaan dengan proses
pengendapan berlangsung.
2. Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah proses pengendapan.
Besar kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran butir, susunan butir,
sudut kemiringan dan komposisi mineral pembentuk batuan. Untuk pegangan dilapangan, ukuran
porositas dapat dilihat pada Tabel 1. berikut :

1.2. Permeabilitas ( k )
Permeabilitas didefinisikan sebagai ukuran media berpori untuk meloloskan/melewatkan fluida.
Apabila media berporinya tidak saling berhubungan maka batuan tersebut tidak mempunyai
permeabilitas. Oleh karena itu ada hubungan antara permeabilitas batuan dengan porositas
efektif.
Sekitar tahun 1856, Henry Darcy seorang ahli hidrologi dari Prancis mempelajari aliran air yang
melewati suatu lapisan batu pasir. Hasil penemuannya diformulasikan kedalam hukum aliran
fluida dan diberi nama Hukum Darcy. Dapat dilihat pada gambar 2 dibawah :

Dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :

Dimana :
Q = laju alir fluida, cc/det
k = permeabilitas, darcy
= viskositas, cp
dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
A = luas penampang, cm2
Besaran permeabilitas satu darcy didefinisikan sebagai permeabilitas yang melewatkan fluida
dengan viskositas 1 centipoises dengan kecepatan alir 1 cc/det melalui suatu penampang dengan
luas 1 cm2 dengan penurunan tekanan 1 atm/cm. Persamaan 4 Darcy berlaku pada kondisi :
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir, permeabilitas dibedakan
menjadi tiga, yaitu :
Permeabilitas absolute (Kabs)
Yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir melalui media
berpori tersebut hanya satu fasa atau disaturasi 100% fluida, misalnya hanya minyak atau gas
saja.
Permeabilitas efektif (Keff)
Yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir lebih dari satu
fasa, misalnya (minyak dan air), (air dan gas), (gas dan minyak) atau ketiga-tiganya. Harga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas
dan air.
Permeabilitas relatif (Krel)
Yaitu perbandingan antara permeabilitas efektif pada kondisi saturasi tertentu terhadap

permeabilitas absolute. Harga permeabilitas relative antara 0 1 darcy. Dapat juga dituliskan
sebagai beikut :

Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya, sehingga didalam reservoir akan
terdapat Permeabilitas relatif air (Krw), Permeabilitas relatif minyak (Kro), Permeabilitas relatif
gas (Krg) dimana persamaannya adalah :

Dimana :
Krw = permeabilitas relatif air
Kro = permeabilitas relaitf minyak
Krg = permeabilitas relatif gas

1.3. Saturasi
Saturasi adalah perbandingan antara volume pori-pori batuan yang terisi fluida formasi tertentu
terhadap total volume pori-pori batuan yang terisi fluida atau jumlah kejenuhan fluida dalam
batuan reservoir per satuan volume pori. Oleh karena didalam reservoir terdapat tiga jenis fluida,
maka saturasi dibagi menjadi tiga yaitu saturasi air (Sw), saturasi minyak (So) dan saturasi gas
(Sg), dimana secara matematis dapat ditulis :

Total saturasi fluida jika reservoir mengandung 3 jenis fluida :

Untuk sistem air-minyak, maka persamaan (12) dapat disederhanakan menjadi :

Beberapa faktor yang mempengaruhi saturasi fluida reservoir adalah :


a. Ukuran dan distribusi pori-pori batuan.
b. Ketinggian diatas free water level.
c. Adanya perbedaan tekanan kapiler.
Didalam kenyataan, fluida reservoir tidak dapat diproduksi semuanya. Hal ini disebabkan adanya
saturasi minimum fluida yang tidak dapat diproduksi lagi atau disebut dengan irreducible
saturation sehingga berapa besarnya fluida yang diproduksi dapat dihitung dalam bentuk saturasi
dengan persamaan berikut :
Dimana :
St = saturasi total fluida terproduksi
Swirr = saturasi air tersisa (iireducible)
Sgirr = saturasi gas tersisa (iireducible)
Soirr = saturasi minyak tersisa (iireducible)

1.4. Resistiviti
Batuan reservoir terdiri atas campuran mineral-mineral, fragmen dan pori-pori. Padatan-padatan
mineral tersebut tidak dapat menghantarkan arus listrik kecuali mineral clay. Sifat kelistrikan
batuan reservoir tergantung pada geometri pori-pori batuan dan fluida yang mengisi pori.
Minyak dan gas bersifat tidak menghantarkan arus listrik sedangkan air bersifat menghantarkan
arus listrik apabila air melarutkan garam.
Arus listrik akan terhantarkan oleh air akibat adanya gerakan dari ion-ion elektronik. Untuk
menentukan apakah material didalam reservoir bersifat menghantar arus listrik atau tidak maka
digunakan parameter resistiviti. Resistiviti didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu material
untuk menghantarkan arus listrik, secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

Dimana :
= resistiviti fluida didalam batuan, ohm-m
r = tahanan, ohm
A = luas area konduktor, m2
L = panjang konduktor, m
Konsep dasar untuk mempelajari sifat kelistrikan batuan diformasi digunakan konsep faktor
formasi dari Archie yang didefinisikan :

Dimana :

Ro = resistiviti batuan yang terisi minyak


Rw = resistiviti batuan yang terisi air

1.5. Wettabiliti
Wettabiliti didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk dibasahi oleh fasa fluida atau
kecenderungan dari suatu fluida untuk menyebar atau melekat ke permukaan batuan. Sebuah
cairan fluida akan bersifat membasahi bila gaya adhesi antara batuan dan partikel cairan lebih
besar dari pada gaya kohesi antara partikel cairan itu sendiri. Tegangan adhesi merupakan fungsi
tegangan permukaan setiap fasa didalam batuan sehingga wettabiliti berhubungan dengan sifat
interaksi (gaya tarik menarik) antara batuan dengan fasa fluidanya.
Dalam sistem reservoir digambarkan sebagai air dan minyak atau gas yang terletak diantara
matrik batuan.

Gambar 3 memperlihatkan sistem air-minyak yang kontak dengan benda padat, dengan sudut
kontak sebesar . Sudut kontak diukur antara fluida yang lebih ringan terhadap fluida yang lebih
berat, yang berharga 0o 180o, yaitu antara air dengan padatan, sehingga tegangan adhesi (AT)
dapat dinyatakan dengan persamaan :
Dimana :
AT = tegangan adhesi, dyne/cm
so = tegangan permukaan benda padat-minyak, dyne/cm
sw = tegangan permukaan benda padat-air, dyne/cm
wo = tegangan permukaan air-minyak, dyne/cm
= sudut kontak air-minyak
1.5.1. Wetting-Phase Fluid dan Non-Wetting Phase Fluid
A. Wetting-Phase Fluid
Fasa fluida pembasah biasanya akan dengan mudah membasahi permukaan batuan. Akan tetapi
karena adanya gaya tarik menarik antara batuan dan fluida, maka fasa pembasah akan mengisi ke
pori-pori yang lebih kecil dahulu dari batuan berpori. Fasa fluida pembasah umumnya sangat
sukar bergerak ke reservoir hidrokarbon.
B. Non-Wetting Phase Fluid
Non-wetting phase fluid sukar membasahi permukaan batuan. Dengan adanya gaya repulsive
(tolak) antara batuan dan fluida menyebabkan non-weting phase fluid umumnya sangat mudah
bergerak.

1.5.2. Batuan Reservoir Water Wet


Batuan reservoir umumnya water wet dimana air akan membasahi permukaan batuan. Kondisi
batuan yang water wet adalah :
Tegangan adhesinya bernilai positif
sw so, AT > 0
Sudut kontaknya (0< <90)>
1.5.4. Imbibisi dan Drainage
Imbibisi adalah proses aliran fluida dimana saturasi fasa pembasah (water) meningkat sedangkan
saturasi non-wetting phase (oil) menurun. Mobilitas fasa pembasah meningkat seiring dengan
meningkatnya saturasi fasa pembasah. Misalnya pada proses pendesakan pada reservoir minyak
dimana batuan reservoir sebagai water wet.
Drainage adalah proses kebalikan dari imbibisi, dimana saturasi fasa pembasah menurun dan
saturasi non-wetting phase meningkat.
Adapun skema proses imbibisi dan drainage dapat dilihat pada gambar 4 berikut :

1.6. Tekanan Kapiler (Pc)


Tekanan kapiler pada batuan berpori didefinisikan sebagai perbedaan tekanan antara fluida yang
membasahi batuan dengan fluida yang bersifat tidak membasahi batuan jika didalam batuan
tersebut terdapat dua atau lebih fasa fluida yang tidak bercampur dalam kondisi statis. Secara
matematis dapat dilihat bahwa :
Dimana :
Pc = tekanan kapiler, dyne/cm2
Pnw = tekanan pada permukaan fluida non wetting phase, dyne/cm2
Pw = tekanan pada permukaan fluida wetting phase, dyne/cm2
Hubungan tekanan kapiler di dalam rongga pori batuan dapat dilukiskan dengan sebuah sistim
tabung kapiler. Dimana cairan fluida akan cenderung untuk naik bila ditempatkan didalam
sebuah pipa kapiler dengan jari-jari yang sangat kecil. Hal ini diakibatkan oleh adanya tegangan

adhesi yang bekerja pada permukaan tabung. Besarnya tegangan adhesi dapat diukur dari
kenaikkan fluida , dimana gaya total untuk menaikan cairan sama dengan berat kolom fluida.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan kapiler merupakan kecenderungan rongga pori batuan
untuk menata atau mengisi setiap pori batuan dengan fluida yang berisi bersifat membasahi.
Tekanan didalam tabung kapiler diukur pada sisi batas antara permukaan dua fasa fluida. Fluida
pada sisi konkaf (cekung) mempunyai tekanan lebih besar dari pada sisi konvek (cembung).
Perbedaan tekanan diantara dua fasa fluida terebut merupakan besarnya tekanan kapiler didalam
tabung.

Untuk sistem udara-air (gambar 5) :


Untuk sistem minyak-air (gambar 5) :
Dimana :
Pa = tekanan udara, dyne/cm2
Pw = tekanan air, dyne/cm2
Pc = tekanan kapiler, dyne/cm2
w = densitas air, gr/cc
o = densitas minyak, gr/cc
g = percepatan gravitasi, m/det2
h = tinggi kolom, m
2. Karakteristik Minyak Bumi
Setiap reservoir yang ditemukan, akan diperoleh sekelompok molekul yang terdiri dari elemen
kimia Hidrogen (H) dan Karbon (C). Minyak dan gas bumi terdiri dari kedua elemen ini, yang
mempunyai proporsi yang beraneka ragam. Apabila ditemukan deposit hidrokarbon disuatu
tempat, akan sangat jarang dapat ditemukan di tempat lain dengan komposisi yang sama, karena
daerah pembentukkannya berbeda.
Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan air formasi. Hidrokarbon sendiri terdiri dari
fasa cair (minyak bumi) maupun fasa gas, tergantung pada kondisi (tekanan dan temperatur)
reservoir yang ditempati. Perubahan kondisi reservoir akan mengakibatkan perubahan fasa serta
sifat fisik fluida reservoir.
Fluida minyak bumi dijumpai dalam bentuk cair, sehingga sesuai dengan sifat cairan pada
umumnya. Pada fasa cair, jarak antara molekul-molekulnya relatif lebih kecil daripada gas. Sifatsifat minyak bumi yang akan dibahas adalah densitas dan spesifik grafiti, viskositas, faktor
volume formasi, kelarutan gas, kompressibilitas dan tekanan bubble point.

2.1. Densitas Minyak ( o ) dan Spesifik Grafity ( )


Densitas didefinisikan sebagai masa dari satuan volume suatu fluida (minyak) pada kondisi
tekanan dan temperatur tertentu. Dari definisi tersebut dapat dirumuskan sebagai beikut :

Dimana :
o = densitas minyak, lb/ft3
m = massa minyak, lb
V = volume minyak, ft3
Sedangkan spesifik grafiti merupakan perbandingan dari densitas suatu fluida (minyak) terhadap
densitas air. Baik densitas air maupun fluida tersebut diukur pada kondisi yang sama (60 F dan
14.7 Psia).

Dimana :
o = spesifik grafiti minyak
o = densitas minyak mentah, lb/ft3
w = densitas air, lb/ft3
Meskipun densitas dan spesifik grafiti dipergunakan secara meluas dalam industri perminyakan,
namun API grafiti merupakan skala yang lebih sering dipakai. Grafiti ini merupakan spesifik
grafiti yang dinyatakan dengan rumus :

API grafiti dari minyak mentah pada umumnya memiliki nilai antara 47 API untuk minyak
ringan sampai 10 API untuk minyak berat.
2.2. Viskositas Minyak ( o )
Viskositas fluida merupakan sifat fisik suatu fluida yang sangat penting yang mengendalikan dan
mempengaruhi aliran fluida didalam media berpori maupun didalam pipa. Viskositas
didefinisikan sebagai ketahanan internal suatu fluida untuk mengalir.
Viskositas minyak dipengaruhi oleh temperatur, tekanan dan jumlah gas yang terlarut dalam
minyak tersebut. Kenaikan temperatur akan menurunkan viskositas minyak dan dengan
bertambahnya gas yang terlarut dalam minyak maka viskositas minyak juga akan turun.
Hubungan antara viskositas minyak dengan tekanan ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6 menunjukkan bahwa tekanan mula-mula berada di atas tekanan gelembung (Pb),
dengan penurunan tekanan sampai (Pb), mengakibatkan viskositas minyak berkurang, hal ini
akibat adanya pengembangan volume minyak. Kemudian bila tekanan turun dari Pb sampai pada
harga tekanan tertentu, maka akan menaikkan viskositas minyak, karena pada kondisi tersebut
terjadi pembebasan gas dari larutan minyak.

2.3. Faktor Volume Formasi Minyak ( Bo )


Faktor volume formasi minyak didefinisikan sebagai volume minyak pada tekanan dan
temperatur reservoir yang ditempati oleh satu stock tank barrel minyak dan gas dalam larutan.
Harga ini selalu lebih besar atau sama dengan satu. Untuk minyak tersaturasi, Standing membuat
korelasi berdasarkan persamaan :

Dimana :
Bo = faktor volume formasi minyak, bbl/STBO
T = temperature, F
Rs = kelarutan gas, SCF/STBO
C = faktor tambahan seperti perhitungan Rs

Faktor volume formasi minyak merupakan fungsi dari tekanan. Gambar 7 memperlihatkan faktor
volume formasi minyak.
Terdapat dua hal penting dari gambar 7 diatas, yaitu :
1. Jika kondisi tekanan reservoir berada diatas Pb, maka Bo akan naik dengan berkurangnya
tekanan sampai mencapai Pb, sehingga volume sistem cairan bertambah sebagai akibat
terjadinya pengembangan minyak.
2. Setelah Pb dicapai, maka harga Bo akan turun dengan berkurangnya tekanan, disebabkan
karena semakin banyak gas yang dibebaskan.
2.4. Kelarutan Gas ( Rs )
Kelarutan gas bumi didefinisikan sebagai cuft gas yang diukur pada keadaan standar (14.7 Psi ;
60 F) didalam larutan minyak sebanyak satu barrel stock tank minyak pada saat minyak dan gas
berada pada tekanan dan temperatur reservoir.
Kelarutan gas dalam minyak (Rs) dipengaruhi oleh tekanan, temperatur dan komposisi minyak
dan gas. Pada temperatur minyak yang tetap, kelarutan gas tertentu akan bertambah pada setiap
penambahan tekanan. Pada tekanan yang tetap kelarutan gas akan berkurang terhadap kenaikan
temperatur.
2.5. Kompressibilitas Minyak ( Co )
Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume minyak akibat adanya
perubahan tekanan. Secara matematis didefinisikan sebagai berikut:

Pada kondisi tekanan di bawah bubble point, Co didefinisikan sebagai berikut :

Dengan menggunakan grafik korelasi, maka harga kompressibilitas minyak dapat diperoleh
dengan persamaan :

Kompressibilitas minyak pada kondisi dibawah bubble point akan cenderung membesar bila
dibandingkan dengan harga ketika diatas bubble point karena dengan turunnya tekanan, gas
membebaskan diri dari larutan. Volume total minyak yang tertinggal sebenarnya berkurang
dengan turunnya tekanan terebut, akibatnya volume fluida total yang terdiri dari minyak dan gas
makin lama menjadi besar seiring dengan turunnya tekanan.

2.6. Tekanan Bubble Point (Pb)


Tekanan bubble point (titik gelembung) suatu sistem hidrokarbon didefinisikan sebagai tekanan
tertinggi dimana gelembung gas mulai pertama kali terbebaskan dari minyak. Harga ini
ditentukan secara eksperimen terhadap minyak mentah dengan melakukan test ekspansi constantcomposition (test flash liberation).
Apabila pengukuran laboratorium tidak tersedia untuk menentukan tekanan bubble point, maka
dapat digunakan korelasi Standing. Secara matematis, tekanan bubble point dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan :

3. Mekanisme Pendorong Reservoir


Minyak bumi tidak mungkin mengalir sendiri dari reservoir ke lubang sumur produksi bila tidak
terdapat suatu energi yang mendorongnya. Hampir sebagian besar reservoir minyak memiliki
energi pendorong yang berbeda-beda untuk memproduksikan suatu reservoir. Dengan turunnya
tekanan pada reservoir minyak dapat mempengaruhi besarnya tenaga pendorong pada reservoir
tersebut yang berperan pada pergerakan minyak mula-mula pada media berpori.
3.1. Kompaksi Batuan
Tenaga ini berasal dari beban overburden batuan di atas dan selalu berubah akibat
diproduksikannya fluida (minyak) dari reservoir tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar
8 yang memperlihatkan pengaruh kompaksi batuan terhadap fluida yang berada didalamnya.

3.2. Graviti Drive


Gejala alam yang mempengaruhi fluida formasi yang menyebabkan terjadinya pemisahan akibat
perbedaan berat jenis dari fluida reservoir. Gambar 9. menggambarkan pengaruh grafitasi
terhadap kelakuan fluida yang mana pada fluida yang mempunyai densitas yang lebih besar akan
bermigrasi kebagian bawah struktur reservoir sedangkan fluida yang mempunyai densitas yang

lebih kecil akan bermigrasi kebagian atas reservoir.

3.3. Water Drive


Jika air berada dibawah zona minyak pada suatu reservoir, maka dengan tekanan yang dimiliki
oleh air ini akan membantu minyak bergerak keatas. Jika minyak dieksploitasi, tekanan
direservoir akan dijaga (mainteained) oleh gaya hidrostatik air yang masuk menggantikan
minyak yang telah terproduksi. Energi ini dihasilkan oleh air (aquifer) yang berada pada kondisi
bertekanan. Pada umumnya reservoir minyak dan gas berasosiasi dengan aquifer. Dengan
merembesnya air ke reservoir sehingga menjadi suatu tenaga pendorong yang biasa disebut
dengan water drive.
Hal ini dapat dilihat pada gambar 10. yang memperlihatkan proses pendorongan air terhadap
minyak.

Reservoir berpendorong air memiliki cirri-ciri sebagai berikut :


1. Penurunan tekanan reservoir relative kecil
2. GOR permukaan rendah
3. Produksi air mula-mula sedikit kemudian bertambah banyak karena minyak didorong oleh air
3.4. Solution Gas Drive
Solution gas drive atau depletion gas drive adalah mekanisme pendorong yang berasal dari
ekspansi larutan gas yang berada dalam minyak dan pendesakan terjadi akibat berkurangnya
tekanan. Setelah terjadi penurunan tekanan pada dasar sumur, maka gas yang terlarut dalam
minyak akan bebas keluar sebagai gelembung-gelembung yang tersebar merata dan merupakan
fasa yang terdispersi yang tidak kontinu sehingga mencapai saturasi minimum. Setelah seluruh

gas tergabung dan mencapai saturasi kritik, maka gas akan mulai bergerak. Hal tersebut dapat
dilihat pada gambar 11.

Reservoir jenis pendorong solution gas drive mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Tekanan reservoir turun secara cepat dan kontinu
2. Perbandingan komulatif produksi gas (Gp) dengan komulatif produksi minyak (Np) meningkat
dengan cepat (GOR) meningkat
3. Produksi air hampir tidak ada (relatif sangat kecil)
3.5. Gas Cap Drive
Energi alamiah ini berasal dari dua sumber yaitu ekspansi gas cap dan ekspansi gas yang terlarut
kemudian melepaskan diri. Adanya gas cap dalam reservoir antara lain disebabkan oleh adanya
pemisahan secara gravitasi dari minyak dan fasa gas bebas dibawah tekanan titik gelembung.
Karena tekanan reservoir berada dibawah tekanan gelembung maka komponen hidrokarbon
ringan akan terbebaskan dari fasa cairnya dan membentuk fasa gas. Penurunan tekanan secara
kontinu akan membebaskan gas lebih banyak lagi dan akan membentuk gas cap pada bagian atas
dari minyak. Hal tersebut akan menyebabkan terdorongnya minyak karena pengembangan dari
gas cap akibat penurunan tekanan secara kontinu. Gamabar 12. memperlihatkan proses
pendorongan gas cap terhadap minyak.

Reservoir gas cap drive mempunyai cirri-ciri sebagai sebagai berikut :


1. Tekanan reservoir turun perlahan-lahan dan kontinu
2. Kenaikan GOR sejalan dengan pergerakan permukaan minyak dengan gas kearah bawah
(meningkat secara kontinu)
3. Produksi air hampir tidak ada (relative kecil)
3.6. Combination Drive
Mekanisme pendorong dari tipe ini adalah kombinasi dari beberapa tipe pendorong yang telah
dijelaskan sebelumnya. Combination drive yang paling umum adalah kombinasi antara gas cap
drive dan water drive. Hal ini dapat dilihat pada gambar 13. dibawah.

4. Jenis-Jenis Reservoir
Jika terjadi suatu retakan atau perekahan pada batuan induk (source rock) maka minyak dan gas
akan mengalami migrasi keluar yang biasa disebut dengan migrasi primer. Setelah itu minyak

dan gas bumi akan bermigrasi terus sampai terjebak didalam suatu wadah yang tidak bisa dilalui
oleh minyak dan gas, yang biasa disebut dengan reservoir.
Reservoir adalah suatu tempat berkumpulnya minyak dan gas bumi. Dalam hal ini akan dibahas
jenis reservoir jenuh dan reservoir tidak jenuh.

4.1. Reservoir Jenuh


Reservoir jenuh (saturated) biasanya mengandung hidrokarbon dalam bentuk minyak yang
dijenuhi oleh gas terlarut dan dalam bentuk gas bebas yang terakumulasi membentuk gas cap.
Bila minyak dan gas diproduksikan, kemungkinan akan ada air yang ikut terproduksi, tekanan
reservoir akan turun. Dengan turunnya tekanan reservoir, maka volume gas yang membentuk gas
cap akan mengembang dan merupakan pendorong keluarnya fluida dari dalam reservoir. Selain
pengembangan volume gas cap dan pembebasan gas terlarut, mungkin juga terjadi perembesan
air kedalam reservoir.
4.2. Reservoir Tidak Jenuh
Reservoir tidak jenuh (under saturated) pada keadaan mula-mula tidak terdapat gas bebas yang
terakumulasi membentuk gas cap. Apabila reservoir diproduksikan, maka gas akan mengalamai
pengembangan yang menyebabkan bertambahnya volume minyak. Pada saat tekanan reservoir
mencapai tekanan bubble point maka gas akan keluar dari minyak.