Anda di halaman 1dari 26

KARYA TULIS ILMIAH Bidang IPS (Dibuat dalam rangka ajang Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas 2007)

Dengan Judul:

KURSUS PIJAT FISIOTERAPI ARTHRITIS SEBAGAI STRATEGI

PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN NELAYAN

SEBAGAI STRATEGI PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN NELAYAN Oleh : Darundiyo Pandupitoyo 070417391 JURUSAN ANTROPOLOGI

Oleh :

Darundiyo Pandupitoyo

070417391

JURUSAN ANTROPOLOGI SOSIAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2007

Pandupitoyo 070417391 JURUSAN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2007

LEMBAR PENGESAHAN Setuju untuk diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa, tulisan berjudul:

KURSUS PIJAT FISIOTERAPI ARTHRITIS SEBAGAI STRATEGI

PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN NELAYAN

Oleh:

Darundiyo Pandupitoyo 070417391 Surabaya, 7 Mei 2007

Dosen Pembimbing,

Dra. Retno Andriati, MA.

--------------------------------------------

NIP. 131 570 347

7 Mei 2007 Dosen Pembimbing, Dra. Retno Andriati, MA. -------------------------------------------- NIP. 131 570 347

Lembar Pengesahan Kata Pengantar Bab I Pendahuluan

DAFTAR ISI

1.1 latar Belakang Masalah

1

1.2 Rumusan Masalah

3

1.3 Tujuan Penulisan

4

1.4 Manfaat Penulisan

4

Bab II Telaah Pustaka

2.1

Keadaan Sosial Budaya Membentuk Arthritis

5

Bab III Metode Penulisan

3.1

Pemilihan Masalah

7

3.2

Pengumpulan Data

7

3.3

Pengolahan Data

7

3.4

Teknik analisis

9

3.5

Rekomendasi

9

Bab IV Analisa Data

4.1 Arthritis : Deskripsi dan Faktor Penyebabnya

10

4.2 Arthritis di Kalangan Nelayan

12

4.3 Kursus Fisioterapi model aplikatif

14

 

4.3.1 Pengaturan Tempat Kegiatan

15

4.3.2 Pengaturan Jumlah Siswa

16

4.3.3 Pengaturan Penyaringan Siswa

16

4.3.4 Pengaturan Tata Pelaksanaan Kursus

17

Bermodel Aplikatif 4.3.5Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus

18

Tata Pelaksanaan Kursus 17 Bermodel Aplikatif 4.3.5Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus 18

Bab V Penutup

5.1 Simpulan

19

5.2 Saran

20

Daftar Pustaka

Lampiran

Bab V Penutup 5.1 Simpulan 19 5.2 Saran 20 Daftar Pustaka Lampiran

Daftar Bagan

Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan pengolahan data

Bagan 1.2

Bagan 1.3

Analisis Sintesis permasalahan dalam penulisan Model kerjasama antar elemen dalam terlaksananya

kursus pijat fisioterapi

Daftar Tabel

Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga kecamatan Tambakboyo dan kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Daftar Gambar

8

9

15

13

Gambar 1.1

Rematik pada pinggul dan rematik pada lutut

10

Gambar 1.2

Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik

11

Rematik pada pinggul dan rematik pada lutut 10 Gambar 1.2 Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya sehat nasional merupakan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya sehat nasional merupakan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Budaya sehat nasional merupakan salah satu prioritas utama dalam

pembangunan di Indonesia, karena merupakan langkah awal bagi pengembangan

sumber daya manusia. Namun kesadaran diri dan wawasan masyarakat tentang

lingkungan hidup yang lebih berperan peran penting dalam membentuk budaya

sehat nasional tersebut. Pemerintah belum maksimal untuk mengatasi masalah

lingkungan dan kesehatan masyarakat, karena kendala intern dan kendala dari

masyarakat sendiri, khususnya kesehatan lingkungan kampung dan keluarga

nelayan di Indonesia. Contoh kurangnya perhatian pemerintah pada kampung

nelayan nampak pada Kelurahan Sukabumi dan Mayangan, Kecamatan

Mayangan, Kota Probolinggo, kampung nelayan Kenjeran, Kotamadya Surabaya

masih terlihat kumuh seperti dalam artikel ‘Kampung Nelayan Tidak Sehat’ &

‘Kenjeran, Pantai sampah’ (Kompas, 2005).

Kesehatan para nelayan masih banyak yang luput dari perhatian

pemerintah, khususnya para nelayan yang menderita suatu penyakit dalam

kategori tidak terlalu populer namun mempunyai efek yang cukup signifikan bagi

kehidupan para nelayan. Salah satu contohnya penyakit arthritis, yang terdiri dari

berbagai macam penyakit seperti rematik, encok, pegal linu, nyeri pada punggung

bagian bawah dll. pekerjaan nelayan melaut yang menjadi salah satu penyebab

nelayan menderita penyakit ini.

Salah satu hal yang menyebabkan Pemerintah Daerah tidak bisa meng

atasi permasalahan kesehatan tersebut, karena kurangnya anggaran. Beberapa

studi District Health Account (DHA) pada 83 Kabupaten/ kota menunjukkan

daerah-daerah belum cukup mengalokasikan anggaran untuk kesehatan.

Ketidakcukupan ini nampak dari kinerja para Pemerintah Daerah yang belum

memenuhi ukuran makro seperti rekomendasi Bank Dunia 1999 dengan Rp

42.000/ kapita/tahun untuk layanan kesehatan masyarakat dan orang miskin serta

1
1

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 7,8 dollar AS/kapita/tahun untuk pelayanan kuratif 1 . Demikian juga dengan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 7,8 dollar AS/kapita/tahun untuk pelayanan kuratif 1 . Demikian juga dengan

7,8 dollar AS/kapita/tahun untuk pelayanan kuratif 1 . Demikian juga dengan proporsi alokasi anggaran kesehatan antara 3-8 persen dari APBD, sementara komitmen bupati seluruh Indonesia adalah 15 persen dari APBD. Keterbatasan anggaran juga menyebabkan tidak cukupnya pendanaan. Sekitar 50-70% anggaran kesehatan daerah habis untuk biaya rutin (gaji, perjalanan, administrasi) dan sekitar 8-14 persen untuk operasional Puskesmas seperti tertulis dalam ‘Resentralisasi Layanan Kesehatan?’ (Kompas, 2005). Dengan anggaran yang terbatas tersebut, Pemerintah Daerah akan sangat sulit membuka pos-pos kesehatan di banyak titik. Untuk itu diharapkan masyarakat mampu secara mandiri memiliki pengetahuan pengobatan, khususnya yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang banyak menjangkiti masyarakat. Pengobatan yang murah dan cukup mempunyai efek kuratif adalah pijat fisioterapi dengan cara yang benar menurut medis tentunya. Namun ahli fisioterapi, jumlahnya sangat minim di Indonesia tercatat hanya sekitar 2.000 orang. Jika jumlah tersebut dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang mencapai kurang lebih 220 juta orang, maka ada 1 orang fisioterapis dari 100 .000 orang. Sementara di Thailand satu orang fisioterapis dibanding 15.000 orang, lihat Repubilka online ‘Fisioterapi Mulai Bayi Sampai Orangtua’ (Republika, 25 Februari 2003). Berdasarkan fenomena kesehatan lingkungan dan kesehatan keluarga neelayan ini, perlu pekerjaan alternatif sebagai fisioterapis mandiri bagi nelayan. Dalam karya ilmiah ini penulis mencoba memberikan alternatif dalam menangani penyakit arthritis secara mandiri, yakni pemberdayaan keluarga nelayan yang tidak ikut melaut melalui kursus pijat fisioterapi 2 arthritis. Penulis mengharapkan kursus ini bisa mencetak individu-individu yang mampu mengobati penyakit arthritis. Penulis juga berusaha agar alternatif ini bisa membantu permasalahan ekonomi penduduk di kampung nelayan, karena Kusnadi dalam Andriati (2004:15) menggolongkan penduduk kampung nelayan sebagai penduduk miskin dan menurut penelitian Sutawi dan Hermawan (2003), 70 % nelayan masih dalam

1 Penyembuhan suatu penyakit

2 Fisioterapi adalah metode penyembuhan dari luar tubuh, biasanya dipakai untuk pengobatan gangguan pada saraf, tulang dsb.

2
2

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat kodisi miskin apalagi Kebanyakan keluarga nelayan hanya menggantungkan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat kodisi miskin apalagi Kebanyakan keluarga nelayan hanya menggantungkan

kodisi miskin apalagi Kebanyakan keluarga nelayan hanya menggantungkan

kehidupannya dengan melaut.

Keluarga nelayan yang mendapatkan keahlian dari kursus tersebut bisa

menggunakannya untuk mengatasi penyakit arthritis yang diderita oleh

keluarganya yang berprofesi sebagai nelayan. Strategi ini juga berfungsi

membentuk pendapatan alternatif dengan membuka praktek pijat sendiri atau cara

lainnya adalah pemerintah sebagai penyelenggara kursus menyalurkan mereka ke

panti pijat yang dikelola oleh Dinas Sosial.

Strategi tersebut akan memberikan pekerjaan alternatif bagi keluarga

nelayan yang selama ini belum banyak diberdayakan, menurut hasil penelitian

Andriati (2005:27) pada saat musim-musim tertentu mengharuskan para nelayan

tidak melaut, seperti musim badai laut pada bulan November sampai dengan

Januari di Kelurahan Kingking dan Karangsari, Kecamatan Tuban. Sementara

nelayan di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban yang

sengaja tidak melaut saat musim angin barat, karena ikan teri yang menjadi

buruan utama mereka tidak muncul pada musim tersebut, mereka masih bisa

mendapatkan uang dari hasil memijat.

Penulis memfokuskan pada pelestarian fungsi lingkungan hidup

khususnya fungsi lingkungan sosial, yaitu bagaimana menciptakan simbiosis

mutualisme antara rakyat, pemerintah dan swasta serta pelestarian fungsi keluarga

dalam kehidupan bermasyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan

masalah sebagai berikut:

1. Strategi apakah yang tepat untuk mengatasi problem penyakit arthritis di kalangan nelayan?

2. Bagaimana proses mekanisme kerja dan strategi tersebut agar memberikan sumber pendapatan alternatif bagi keluarga nelayan?

3
3

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1.2 Tujuan Penulisan Penulisan ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan nelayan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 1.2 Tujuan Penulisan Penulisan ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan nelayan

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan

nelayan

kehidupan

2. Memahami strategi alternatif

sosial

ekonomi

dan

yang efektif dalam

budaya

masyarakat

mengatasi penyakit

arthtritis

secara

mandiri

dan

peningkatan

kehidupan

sosial

ekonomi

nelayan.

1.4 Manfaat Penulisan

Pemerintah Daerah yang berada di pesisir pantai dan mempunyai

beberapa kampung nelayan dapat menggunakan strategi ini sebagai salah satu

program pembangunan di bidang kesehatan, karena walau terlihat ringan,

sebenarnya bila arthritis terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama,

maka jelas akan mengganggu aktifitas kerja para nelayan sehingga otomatis

pendapatan mereka berkurang.

keluarga dekat dan memiliki keahlian

fisioterapi, maka akan sangat berguna bagi mereka yang mengalami penyakit ini

karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk berobat. Keahlian yang dimiliki oleh

keluarga nelayan dapat dijadikan sebagai penghasilan tambahan, karena mereka

akan diberdayakan di panti pijat milik Pemerintah Daerah. Mekanisme dari

strategi ini juga akan meningkatkan hubungan antar elemen-elemen Pemerintah

Daerah, yaitu antara Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dinas perianan dan kelautan

serta masyarakat.

Nelayan

yang

mempunyai

4
4

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB II TELAAH PUSTAKA Dalam bab ini penulis menguraikan landasan berpikir yang
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB II TELAAH PUSTAKA Dalam bab ini penulis menguraikan landasan berpikir yang

BAB II TELAAH PUSTAKA

Dalam bab ini penulis menguraikan landasan berpikir yang digunakan

untuk mencari titik permasalahan dan menganalisis temuan data. Bab ini

mendeskripsikan mengenai etiologi dari arthritis dipandang dari persepektif sosial

budaya masyarakat nelayan.

2.1 Keadaan Sosial Budaya Membentuk Arthritis

Nelayan yang menderita arthritis dipengaruhi oleh salah satu dari tujuh

unsur kebudayaan, yaitu sistem mata pencaharian hidup. Foster dan Anderson

(2004:3) mempunyai pemikiran bahwa sebenarnya faktor sosial budaya ikut

membentuk kesehatan dan penyakit seseorang seperti misal jenis gangguan

culture bound syndrome pada kasus psikiatri akibat seseorang tidak mampu

mengikuti perubahan budaya yang sangat cepat. Dalam hal ini budaya menjadi

faktor pendukung sekaligus pembentuk gangguan kesehatan pada seseorang.

Para nelayan, khususnya nelayan buruh melakukan aktifitas melautnya

hampir setiap hari, padahal perlu tenaga yang ekstra untuk terus aktif di

dalamnya, karena melaut menuntut nelayan untuk selalu bekerja keras demi

kelangsungan hidup keluarganya. Hal-hal yang menyangkut sistem mata

pencaharian nelayan tersebut bisa menjadi faktor pendukung bagi munculnya

arthritis di kalangan nelayan. Foster dan Anderson (2004:3) menjelaskan bahwa

studi antropologi kesehatan mempelajari bagaimana budaya mempengaruhi

terbentunya kesehatan dan munculnya penyakit pada diri seseorang:

… memberi perhatian terhadap aspek-aspek biologis dan sosial- budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit….

Dalam kajian antropologi kesehatan juga mempelajari beberapa faktor

yang menyebabkan seseorang enggan untuk berobat ke rumah sakit, selain kondisi

ekonomi keluarga. Menurut pemikiran Brown dalam Foster dan Anderson (2004)

5
5

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat keengganan tersebut muncul karena pelayanan yang buruk terhadap pasien, transisi
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat keengganan tersebut muncul karena pelayanan yang buruk terhadap pasien, transisi

keengganan tersebut muncul karena pelayanan yang buruk terhadap pasien,

transisi pada budaya baru yang pasien tidak kenal hingga kelakuan para staf medis

yang cenderung menghilangkan identitas pasien. Kondisi-kondisi ini membuat

nelayan melakukan pemijatan-pemijatan sendiri yang dilakukan oleh orang-orang

terdekat, seperti anak atau istri mereka, karena strategi ini yang dianggap paling

efisien dan ekonomis. Tetapi apakah anak dan istri para nelayan mempunyai

pengetahuan fisioterapi yang baik, mengingat bila sampai terjadi kecelakaan fatal

dalam pemijatan akan mengganggu aktifitas nelayan dalam melaut. Padahal

banyak nelayan yang menggantungkan hidupnya hanya dari kegiatan melautnya

saja tanpa usaha alternatif lain, menurut Sutawi dan Hermawan (2003):

Kehidupan nelayan yang miskin juga diliputi oleh kerentanan, misalnya ditunjukkan oleh terbatasnya anggota keluarga yang secara langsung dapat ikut dalam kegiatan produksi dan ketergantungan nelayan yang sangat besar pada satu mata pencaharian, yaitu menangkap ikan

Menurut Acheson dalam Andriati (1996:21) penyebab kemiskinan nelayan

adalah kendala khusus berupa gangguan alam, yaitu hubungan alam dengan

lingkungannya selalu diliputi ketidakpastian. Kehidupan mereka semakin berat

dengan adanya kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), karena sebagian

besar nelayan menggunakan motor yang berbahan bakar solar untuk melaut setiap

harinya seperti tertulis dalam artikel ‘BBM Semakin Miskinkan Nelayan: Ada

Kecenderungan Jatah Makan Dikurangi’ (Kompas, 2006). Para nelayan harus

mengeluarkan biaya minimal Rp. 60.000,- dalam sekali melaut untuk biaya

membeli solar 15 liter walaupun sekarang menurut penelitian Andriati dkk

(2005:27) terdapat beberapa nelayan yang mencampur minyak tanah dengan oli

gardan sehingga mendapatkan harga relatif lebih murah.

6
6

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB III METODE PENULISAN Bab ini akan mengulas tentang metode penulisan yang
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB III METODE PENULISAN Bab ini akan mengulas tentang metode penulisan yang

BAB III METODE PENULISAN

Bab ini akan mengulas tentang metode penulisan yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini. Metode penulisan yang dimaksud mencakup pemilihan masalah, pengumpulan data, pengolahan data dan teknis analisis.

3.1 Pemilihan Masalah

Penulis memilih kasus-kasus gangguan kesehatan yang banyak diderita oleh para nelayan dari tipe-tipe gangguan kesehatan yang terasa remeh namun berakibat cukup fatal, karena masyarakat cenderung meremehkan gangguan kesehatan kecil. Penulis memilih arthritis yang biasa kita ketahui sebagai encok, rematik, pegal linu di kalangan nelayan khususnya dan masyarakat pada

umumnya. Masalah ini penulis anggap serius karena bila seseorang khususnya nelayan mengalami penyakit ini maka akan mengalami kelumpuhan fisik maupun perekonomian pada keluarga nelayan.

3.2 Pengumpulan Data

Penulis menggali data dari hasil telaah pustaka, yaitu buku-buku, artikel koran ataupun web site yang berhubungan dengan fokus masalah. Data kualitatif pendukung lainnya dari observasi dan interview terhadap beberapa warga kampung nelayan, serta dari beberapa beberapa puskesmas yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penulis mendatangi beberapa Puskesmas yang ada di kampung nelayan, dan mengambil data mengenai penyakit apa sajakah yang menduduki peringkat teratas dengan penderita terbanyak.

3.3 Pengolahan Data

Data yang didapat langsung diolah dengan menggunakan pendekatan- pendekatan yang sesuai dengan permasalahan. Penulis tidak hanya terpaku pada pendekatan-pendekatan yang ada dalam disiplin ilmu yang dipelajari oleh penulis

7
7

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat saat ini yaitu antropologi, namun disini penulis mencoba menggabungkan berbagai
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat saat ini yaitu antropologi, namun disini penulis mencoba menggabungkan berbagai

saat ini yaitu antropologi, namun disini penulis mencoba menggabungkan

berbagai pendekatan yang sekiranya cocok dan paling realistis untuk

diaplikasikan dalam mencari solusi permasalahan.

Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan Pengolahan data

Web-site Buku Dikumpulkan Filtrasi data Artikel koran Data kualitatif Data yang Wawancara dibutuhkan Observasi
Web-site
Buku
Dikumpulkan
Filtrasi data
Artikel koran
Data kualitatif
Data yang
Wawancara
dibutuhkan
Observasi
Diolah & dianalisis
8
8

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.4 Teknik Analisis Penulis menggunakan teknik analisis sintesis dalam
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 3.4 Teknik Analisis Penulis menggunakan teknik analisis sintesis dalam

3.4 Teknik Analisis

Penulis menggunakan teknik analisis sintesis dalam menganalisa data-data dan permasalahan yang ada dalam tulisan ini. Analisis sintesis yang ideal sesuai

dengan apa yang ditulis oleh Muhadjir (2000) adalah dengan mengembangkan pertanyaan terus menerus lalu menyempitkan fokus, tentunya penulis menyesuaikannya dengan tema dan topik penulisan ini. Berikut adalah bagan dari analisis sintesis dari permasalahan dalam penulisan ini

Bagan 1.2 Analisis Sintesis Permasalahan dalam Penulisan

Kesehatan lingkungan hidup Kesehatan lingkungan pesisir Kesehatan kalangan nelayan Penyakit yang banyak muncul, namun
Kesehatan lingkungan hidup
Kesehatan lingkungan pesisir
Kesehatan kalangan nelayan
Penyakit yang banyak muncul, namun dianggap remeh
oleh para nelayan
Bagaimana cara mengatasinya
secara mandiri agar tidak menghabiskan
dana untuk berobat
Bagaimana strategi ini juga dapat
membantu meningkatkan
pendapatan penduduk
Kursus pijat
Fisioterapi
9
9

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB IV KURSUS PIJAT FISIOTERAPI BAGI KELUARGA NELAYAN Bab ini membahas mengenai
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB IV KURSUS PIJAT FISIOTERAPI BAGI KELUARGA NELAYAN Bab ini membahas mengenai

BAB IV KURSUS PIJAT FISIOTERAPI BAGI KELUARGA NELAYAN

Bab ini membahas mengenai Arthritis di kalangan nelayan dan solusi pengobatan mandirinya melalui kursus pijat fisioterapi. Kursus ini menjadi strategi alternatif bagi penyembuhan arthritis dan sebagai strategi peningkatan ekonomi masyarakat nelayan.

4.1 Arthritis : Deskripsi dan Faktor Penyebabnya

Arthritis adalah istilah medis untuk penyakit atau kelainan yang menyebabkan pembengkakan atau kerusakan pada persendian. Penyakit-penyakit yang masuk dalam golongan arthritis adalah rematik, encok, pegal linu, radang sendi dsb. Faktor lingkungan, genetis dan biologis sangat mempengaruhi terjadinya arthritis. Pekerjaan dan aktifitas sehari-hari mewakili faktor lingkungan, faktor keturunan dari orang tua mewakili faktor genetis dan jenis hormon, umur, jenis kelamin mewakili faktor biologis. Menurut Iskadarwati (2005) salah satu penyebab penyakit encok dan rematik atau nyeri sendi, adalah jenis pekerjaan sehari-hari yang menyangkut kegiatan fisik melebihi kemampuan seseorang, kecelakaan sendi seperti kecetit, kecekluk atau jatuh dari tangga.

sendi seperti kecetit , kecekluk atau jatuh dari tangga. Gambar 1.1 rematik pada pinggul (gambar kiri)
sendi seperti kecetit , kecekluk atau jatuh dari tangga. Gambar 1.1 rematik pada pinggul (gambar kiri)

Gambar 1.1 rematik pada pinggul (gambar kiri) dan rematik pada lutut Sumber: www.musckids.com

Penyakit golongan arthritis mempunyai jenis lain, yaitu low back pain atau nyeri pada punggung bagian bawah, salah satu penyebabnya adalah berdiam diri pada posisi yang statis dalam jangka waktu karena dapat merusak otot-otot punggung yang penting. Keadaan diam tersebut menyebabkan otot kurang

10
10

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat bergerak, sehingga melemahkan otot-otot penyokong dan pelindung tulang belakang.
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat bergerak, sehingga melemahkan otot-otot penyokong dan pelindung tulang belakang.

bergerak, sehingga melemahkan otot-otot penyokong dan pelindung tulang belakang. Demikian hasil penelitian para ahli yang dituangkan dalam majalah New Scientist dalam artikel Berdiam Diri Cederai Otot Punggung’. Menurut Bajamal (2004:3) Penyebab lain dari nyeri punggung bagian bawah adalah hernia nucleous pulposus atau kondisi dimana saraf tulang belakang terjepit diantara kedua ruas tulang belakang. Penderita akan merasa kesemutan dari tungkai sampai ke kaki, bahkan bila parah akan menimbulkan kelumpuhan Arthritis sangat mengganggu kegiatan nelayan, namun para nelayan masih belum menganggap penyakit ini dalam prioritas utama dalam penyembuhan. Mereka menganggap masih bisa mengobatinya dengan pemijatan-pemijatan yang biasa dilakukan oleh anggota keluarga mereka. Pemijatan-pemijatan yang dilakukan tidak berdasar pada metode-metode yang disarankan oleh medis modern, akan menambah rasa sakit bagi si penderita. pemijat yang menangani lewat pemijatan dengan cara yang benar, kemungkinan akan menimbulkan efek kuratif pada penyakit si penderita.

akan menimbulkan efek kuratif pada penyakit si penderita. Gambar 1.2 Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik

Gambar 1.2 Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik Sumber: www.39clinic.com

Sebagian orang mengira manfaat pijat hanya untuk menghilangkan rasa pegal-pegal pada tubuh, padahal pijat memberi manfaat yang lebih luas pada semua organ tubuh, dengan syarat menerapkan pijat yang benar pada seluruh tubuh seperti ditulis dalam artikel ‘Pijat, Tubuh Segar Usai Mudik’ (www.kapanlagi.com, 2006). Selama ini masyarakat mengobati encok, pegal linu, rematik atau nyeri sendi dengan obat-obatan jenis analgesik yang mempunyai efek penghilang atau pereda rasa sakit yang ada pada tubuh. Salah satu merek dagang

11
11

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat obat-obatan berjenis analgesik adalah Antalgin, menurut artikel ‘Mengenal
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat obat-obatan berjenis analgesik adalah Antalgin, menurut artikel ‘Mengenal

obat-obatan berjenis analgesik adalah Antalgin, menurut artikel ‘Mengenal Analgetik Dan Antipiretik’ (www.banjarmasinpost.com, 2005) gangguan jangka panjang obat jenis analgesik ini mengakibatkan gangguan pada ginjal. Penggunaan analgesik sebagai obat rematik atau nyeri sendi, encok dan pegal linu terbukti dengan banyaknya produk-produk jamu yang beredar di masyarakat yang mempunyai khasiat mengobati penyakit-penyakit tersebut menggunakan antalgin di dalam ramuannya seperti misal Jamu Rematik Encok No 2 Prima Jasa produksi perusahan jamu Prima Jaya, Banyumas atau Jamu Rematik (Pegel Linu) 2 produksi perusahan jamu Sari Alam, Cilacap, seperti ditulis dalam artikel ‘Waspadai Jamu Berbahan Kimia Obat keras’ (www.jaga- jaga.com, 1999).

4.2 Arthritis di Kalangan Nelayan

Nelayan yang setiap hari berjibaku dengan pekerjaan berat mereka, menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya Arthritis dan pekerjaan tersebut hampir dilakukan setiap hari kecuali pada musim-musim tertentu, sehingga penderita akan semakin banyak. Kegiatan melaut, seperti menjala, memancing, duduk dalam posisi yang statis dalam waktu lama merupakan penyebab penyakit arthritis. Pekerjaan-pekerjaan tersebut rutin dilakukan dan merupakan beban yang sangat berat untuk dilakukan setiap hari. Menurut Raymond Firth dalam Sutawi dan Hermawan (2003), pendapatan para nelayan bersifat harian (daily increments)

dan tubuh mereka tidak bisa menyesuaikan dengan kerja yang terlalu berat, akhirnya terjadilah gangguan kesehatan tersebut. Salah satu contoh di Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang di dalamnya terdapat banyak kampung nelayan.

12
12

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga Kecamatan Tambakboyo
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga Kecamatan Tambakboyo

Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga Kecamatan Tambakboyo dan Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

No.

Jenis Penyakit

Tambakboyo (%)

Tuban (%)

1.

Arthritis

18,76

10

2.

Penyakit membran periodontal

18,13

6

3.

ISPA

10

32

4.

Diare

9,6

2

5.

Ashma

1

1

Sumber: Diolah kembali dari data yang diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Tambakboyo dan Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban

Keseluruhan dari 18,76 % penderita penyakit arthritis, 45 % diantaranya adalah nelayan di kampung-kampung nelayan Kecamatan Tambakboyo. Menurut Sutawi dan Hermawan (2003) di Indonesia saat ini terdapat sekitar 3,2 juta rumah tangga nelayan. Jika rata-rata tiap keluarga nelayan beranggota lima orang, maka jumlah masyarakat nelayan sekitar 16 juta jiwa, di antaranya 1,7 juta jiwa (10,6 persen) berada di Jawa Timur. Jumlah nelayan sebesar itu merupakan suatu kekuatan sosial maupun ekonomi yang harus betul-betul dilestarikan fungsinya terutama fungsi proteksi, sebab keluarga mempunyai fungsi proteksi terhadap anggota di dalamnya. Metode pijat fisioterapi merupakan salah satu cara yang tepat untuk pengobatan arthritis yang diderita oleh para nelayan, seperti ditulis Iskadarwati (2005). Menurut tulisan sebuah artikel yang berjudul ‘Fisioterapi Mulai Bayi Sampai Orang tua’ (Republika, 2001), fisioterapi juga memiliki efek preventif yaitu untuk memelihara kondisi umum. Penderita yang mengandalkan obat-obatan jenis analgesik 3 hanya bisa menghilangkan rasa sakitnya saja tanpa menghilangkan permasalahan sebenarnya. Penggunaan analgesik dalam jangka waktu lama akan menimbulkan gangguan pada ginjal. Pijat merupakan pemberian energi lewat sentuhan-sentuhan fisik yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk memperlancar peredaran darah, Sehingga dapat

3 Jenis obat-obatan penghilang rasa sakit

13
13

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat terhindar dari penyakit atau bahkan mengobati penyakit yang diderita. Pemijatan-
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat terhindar dari penyakit atau bahkan mengobati penyakit yang diderita. Pemijatan-

terhindar dari penyakit atau bahkan mengobati penyakit yang diderita. Pemijatan- pemijatan yang benar dapat memberikan kenyamanan tersendiri dan efek kuratif pada arthritis. Jasa pemijatan sebagian besar tidak memiliki keterampilan yang memadai mengenai pemijatan yang benar secara medis dan benar-benar memiliki efek kuratif, ditambah lagi dengan biaya pijat yang cukup mahal untuk ukuran seorang nelayan biasa. Penulis mendapatkan data dari panti pijat yang dikelola langsung oleh Dinas Sosial, rata-rata biaya satu kali pijat dengan durasi kurang lebih dua jam adalah Rp. 22.500,- .penulis juga mendapat data dari beberapa nelayan di Tuban, rata-rata mendapat Rp. 75.000,- sampai Rp. 90.000,- dari hasil penjualan ikan sehari, terkadang mereka harus menjualnya ke tengkulak dengan harga yang sangat murah karena sudah terlanjur terlilit hutang kepada tengkulaknya dari awal. Padahal biaya untuk sekali melaut minimal Rp. 60.000,- untuk biaya 15 liter solar belum lagi untuk biaya konsumsi dan keperluan yang lain saat melaut, sehingga kecil kemungkinan para nelayan datang ke panti pijat untuk mengobati sakitnya.

4.3 Kursus Pijat Fisioterapi Model Aplikatif Pelibatan elemen Pemerintah Daerah merupakan syarat utama strategi ini. Elemen-elemen tersebut adalah Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan dan Kelautan yang bekerjasama mengadakan program kursus pijat fisioterapi bagi keluarga keluarga nelayan. Pemerintah Daerah menunjuk Dinas Sosial sebagai perancang lapangan karena sering mengadakan kursus-kursus pemberdayaan bagi masyarakat menengah kebawah seperti contoh kursus-kursus pijat atau jahit yang diadakan di balai-balai desa atau di tempat-tempat rehabilitasi. Berdasar temuan data, maka penulis mengusulkan model strategi bentuk kerjasama antar elemen Pemerintah Daerah adalah:

14
14

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Bagan 1.3 Model Kerjasama antar Elemen dalam Terlaksananya Kursus Pijat
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Bagan 1.3 Model Kerjasama antar Elemen dalam Terlaksananya Kursus Pijat

Bagan 1.3 Model Kerjasama antar Elemen dalam Terlaksananya Kursus Pijat Fisioterapi

Pemerintah Daerah Dinkes: Dinas filtrasi Dinsos: Perikanan tenaga Pematangan dan pengajar strategi kursus
Pemerintah Daerah
Dinkes:
Dinas
filtrasi
Dinsos:
Perikanan
tenaga
Pematangan
dan
pengajar
strategi kursus
Kelautan:
serta
pijat
Penyuluhan
pengadaan
fisioterapi
terhadap
alat kursus
nelayan
Beberapa elemen yang
bekerjasama menghasilkan
: kursus pijat fisioterapi
Panti pijat Dinas
Sosial:
Mempekerjakan siswa

Dinas Kesehatan bertugas mendatangkan dan menyeleksi kru pengajar fisioterapi dari institusi-intitusi pendidikan yang memiliki program studi atau jurusan fisioterapi serta memiliki jam terbang tinggi dalam hal mengajar metode fisioterapi. Dinas Kesehatan setempat diharapkan mempunyai kemampuan menetapkan standardisasi bagi para pengajar yang layak untuk mengajar. Dinas Kesehatan bertugas menyiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan terkait dengan urusan medis. Dinas Perikanan dan Kelautan sebagai lembaga penyosialisasi ke keluarga nelayan sekaligus sebagai pencari lokasi yang strategis tempat kurus. Siswa yang lulus nantinya akan ditempatkan di panti pijat Dinas Sosial setempat yang biasanya seragam di seluruh Indonesia bernama “Tongkat Putih”. Detail pelaksanan kursus pijat fisioterapi adalah:

4.3.1 PengaturanTempat Kegiatan

Tempat kegiatan kursus harus mudah dijangkau oleh semua siswa dan mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pergi ke tempat tersebut. Berhubungan dengan hal ini Pemerintah Daerah harus menunjuk Dinas Perikanan dan Kelautan yang mengetahui seluk beluk kampung nelayan di daeahnya.

15
15

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Metode pembelajaran harus menyesuaikan pada tingkat pendidikan penduduk, karena
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Metode pembelajaran harus menyesuaikan pada tingkat pendidikan penduduk, karena

Metode pembelajaran harus menyesuaikan pada tingkat pendidikan penduduk, karena berhubungan dengan kemudahan penduduk setempat dalam menyerap pelajaran yang ada dalam kursus, sehingga bisa mengaplikasikan ilmunya dengan baik tanpa adanya kesalahan yang berarti. Pemerintah Daerah hendaknya menyerahkan tugas ini kepada Dinas Perikanan dan Kelautan. Lembaga tersebut adalah satu-satunya lembaga yang mengetahui seluk beluk kampung nelayan dari ketiga lembaga yang bekerjasama. Pengajar idealnya berada di tengah para siswa pada saat mengajar di kelas agar memudahkan siswa untuk melihat dan mendengarkan pengajar saat berbicara dan memberi contoh aksi.

4.3.2 Pengaturan Jumlah Siswa

Jumlah siswa keseluruhan sebaiknya dibatasi maksimal 40 siswa dan dibagi menjadi dua kelompok besar pertemuan, masing-masing kelompok berjumlah 20 siswa agar lebih efektif dalam proses pengajaran. Jumlah siswa yang terlalu banyak membuat pengajaran tidak efektif dan kelas cenderung gaduh membuat siswa tidak fokus ke pelajaran. Mekanisme pelaksanaan penting untuk dikontrol, sesuai dengan kondisi lapangan

4.3.3 Pengaturan Penyaringan Siswa

Siswa yang mendaftar berjenis kelamin pria ataupun wanita berasal dari keluarga nelayan, berumur minimal 20 tahun. Siswa minimal berusia 20 tahun sebab tubuh manusia biasanya telah mencapai fase remaja dan seterusnya telah menginjak fase dewasa, menurut Glinka (1994:65) di usia tersebut bagian-bagian badan dalam pertumbuhannya telah mencapai proporsi final dan sudah mulai proses pematangan secara fisik maupun mental, sehingga memudahkan siswa belajar sesuatu yang baru. Siswa yang masuk bukan seorang nelayan yang aktif membantu orang tua atau keluarganya dalam melaut, justru kita harus mengutamakan keluarga nelayan yang banyak menganggur di rumah, biasanya ibu-ibu atau anak-anak wanita yang beranjak dewasa tidak ikut melaut karena keluarga nelayan biasanya

16
16

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat mengandalkan seorang figur ayah (nelayan) untuk menjalankan roda kehidupan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat mengandalkan seorang figur ayah (nelayan) untuk menjalankan roda kehidupan

mengandalkan seorang figur ayah (nelayan) untuk menjalankan roda kehidupan keluarga. Keahlian sang ayah juga akan diturunkan kepada anak laki-laki saat anak tersebut beranjak dewasa, namun menurut penelitian Andriati dkk (2005) sekarang hal tersebut mengalami penurunan jumlah karena anak laki-laki semakin malu untuk diajak melaut oleh orang tuanya.

4.3.4 Pengaturan Tata Pelaksanaan Kursus bermodel aplikatif

Kursus dilaksanakan intensif 6 hari dalam seminggu, 3 hari untuk kelompok pertama dan 3 hari kemudian untuk kelompok kedua. Satu kali pertemuan kurang lebih dilaksanakan selama 2 sampai 3 jam, hal ini untuk menghindari kebosanan dalam proses belajar mengajar, sebab apabila pengajar atau yang diajar mengalami kebosanan, maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar dan efektif. Pelaksanaan kursus idealnya dilakukan pada siang atau sore hari, karena beberapa anggota keluarga nelayan beraktifitas pada pagi harinya, seperti menjual ikan di pasar, mengolah ikan dsb. Pengajaran dibuat dengan porsi aplikasi (praktek) dan diskusi lebih dominan dari pelajaran yang bersifat teoritis, karena pengajaran dengan metode diskusi dan praktek akan lebih mudah dicerna oleh para siswa. Penduduk kampung nelayan digolongkan sebagai penduduk yang miskin, sehingga tingkat pendidikan mereka juga rendah karena ketiadaan biaya melanjutkan sekolah ke jenjang yang tinggi. Hal tersebut nampak pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Andriati dkk terhadap 124 orang dari 64 pasangan suami-istri nelayan pada tiga Kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur (2005:24). Dari jumlah tersebut 19 orang lulus SLTP, 98 orang lulus SD, dan 11 orang sisanya buta huruf atau tidak pernah sekolah. Pengajaran lebih efektif apabila siswa dibagikan hand out sebagai panduan untuk belajar di rumah. Para pengajar diharapkan menghindari istilah yang sekiranya sulit untuk dimengerti dan dipahami penduduk, seperti istilah- istilah di bidang medis misalnya. Masalah materi pengajaran diserahkan pada para pengajar fisioterapi.

17
17

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 4.3.5 Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus Pemerintah Daerah akan
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat 4.3.5 Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus Pemerintah Daerah akan

4.3.5 Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus

Pemerintah Daerah akan mempekerjakan para siswa yang lulus kursus sebagai ahli pijat di panti pijat Dinas Sosial yang mempunyai keseragaman nama

yaitu Tongkat Putih. Dinas Sosial mendapat keuntungan dengan mendapat tambahan tenaga ektra untuk pemijat di panti pijatnya. Keluarga nelayan yang tadinya tidak begitu produktif dapat menambah penghasilan keluarganya serta dapat mengobati sang suami yang berprofesi sebagai nelayan dari penyakit arthritis. Namun penulis tidak ingin memberikan form baku agar semua lulusan bisa dipekerjakan, karena hal tersebut terserah pada kebijakan pelaksana.

18
18
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat BAB V
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat
BAB V

5.1 Simpulan

PENUTUP

Penyimpulan dari semua deskripsi dan analisa diatas adalah:

1. Kursus pijat fisioterapi model aplikatif untuk keluarga nelayan merupakan

cara yang efektif untuk mencetak individu-individu dengan hasil keahlian untuk mengobati Arthritis atau biasa kita kenal dengan encok, rematik dan pegal linu secara mandiri. Tingkat kesembuhan penderita atau paling tidak berkurangnya keluhan tentang penyakit ini di puskesmas dan rumah sakit di daerah tersebut menjadi parameter keefektifan program ini saat diaplikasikan. Metode aplikasi yang mendominasi kursus ini membuat para siswa dengan mudah memahami isi pelajaran serta mengetahui cara penerapan yang sesuai standart medis. Jadi, selain membantu meningkatkan perekonomian nelayan dan membantu elemen-elemen pemerintah daerah, strategi ini juga mempunyai nilai guna dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup dalam hal ini terlihat pada pelestarian fungsi lingkungan sosial, yaitu menciptakan simbiosis mutualisme antara rakyat dan pemerintah. Pelestarian fungsi lingkungan sosial ini juga fokus pada pelestarian fungsi keluarga dalam kehidupan sosial. Pemberdayaan keluarga harus dilakukan karena merupakan bentuk terkecil dari organisasi sosial dalam masyarakat agar keluarga tidak kehilangan perannya dalam lingkungan sosial. Keluarga sebagai organisasi sosial mempunyai banyak sekali fungsi, salah satunya adalah fungsi proteksi. fungsi tersebut harus tetap lestari karena akan sangat merugikan bila sampai hilang dalam sebuah keluarga.

2. Strategi yang penulis tawarkan ini bisa membentuk keahlian pijat

fisioterapi mandiri bagi keluarga nelayan sekaligus memberi memberdayakan keluarga nelayan yang tidak ikut melaut dengan memberi sumber penghasilan alternatif baru bagi mereka yaitu dengan menjadi fisioterapis arthritis. Strategi ini bila diterapkan akan menghasilkan para lulusan yang mempunyai keahlian

19
19

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat memijat yang sesuai dengan standart medis. kelanjutan dari strategi ini adalah
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat memijat yang sesuai dengan standart medis. kelanjutan dari strategi ini adalah

memijat yang sesuai dengan standart medis. kelanjutan dari strategi ini adalah penempatan para lulusan ke panti pijat komersil yang dikelola olah Dinas Sosial daerah masing-masing. Para lulusan akan mendapatkan pembagian hasil memijat dari panti pijat tersebut, sehingga keluarga nelayan yang tadinya kurang produktif bisa membantu menghasilkan uang bagi kelanjutan hidup. Para Ahli Antropologi Maritim berasumsi bahwa nelayan yang sukses adalah nelayan yang memiliki kemampuan untuk mengektensifikasikan lahan pekerjaan mereka. Nelayan sukses mampu mencari bidang pekerjaan lain selain melaut, sehingga tidak terlalu menggantungkan diri pada hasil pencarian ikan yang selalu fluktuatif, baik dari segi jumlah ikan maupun kondisi cuaca di laut. Akumulasi modal juga merupakan syarat utama bagi para nelayan yang ingin menjadi sukses. Nelayan yang dianggap gagal adalah nelayan yang hanya menggantungkan diri pada hasil melautnya dan tidak mau bereksperimen untuk mengekstensifikasikan lahan pekerjaan mereka. Mereka selalu terbelit hutang pada para tengkulak atau para juragan kapal, sehingga sepanjang hidup mereka hanya menjadi buruh nelayan turun temurun.

5.2 Saran Strategi kursus pijat fisioterapi arthritis untuk keluarga nelayan mempunyai banyak kegunaan bila diterapkan menjadi suatu program Pemerintah Daerah lebih lanjut. Kursus pijat fisioterapi dapat menjadi suatu solusi permasalahan bagi dua hal yang dianggap krusial, yaitu masalah kesehatan dan masalah ekonomi di daerah nelayan. Strategi ini adalah suatu solusi permasalahan bagi banyaknya kasus arthritis yang diderita oleh para nelayan khususnya dan masyarakat umumnya, sekaligus solusi untuk memberikan penghasilan alternatif bagi keluarga nelayan. Penerapan strategi ini dapat membantu Pemerintah Daerah masing-masing karena dapat merekatkan hubungan antara masyarakat kampung nelayan dan juga Pemerintah Daerah. Dinas Sosial juga mendapatkan keuntungan berupa tenaga ahli pijat tambahan dan Dinas Kesehatan merasa lebih ringan tugasnya dalam sosialisasi kesehatan ke masyarakat. Keuntungan yang didapat Dinas Perikanan dan

20
20

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Kelautan pengokohan eksistensinya sebagai pelindung bagi nelayan beserta
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Kelautan pengokohan eksistensinya sebagai pelindung bagi nelayan beserta

Kelautan pengokohan eksistensinya sebagai pelindung bagi nelayan beserta komoditas laut. Pemerintah Daerah diharapkan lebih jeli melihat benang merah antara permasalahan kesehatan dan permasalahan ekonomi, serta harus lebih memrioritaskan kesehatan penduduk karena kesehatan adalah gerbang awal menuju kemajuan sejati.

21
21