Anda di halaman 1dari 18

Fakultas Kedokteran YARSI

RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139
BAB I
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. NS

Jenis Kelamin : Laki-laki

II.

Usia

: 45 tahun

Pekerjaan

: Mabes TNI

Alamat

: Pekayon RT 13/01 No. 12 Ps. Rebo Jakarta Timur

Agama

: Islam

ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 1 Juli 2014, pukul 11.30 WIB
Keluhan Utama

: Bercak kemerahan di pergelangan tangan


kanan sejak 2 hari SMRS

Keluhan Tambahan

: Gatal, disertai rasa perih

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSPAD Gatot
Soebroto dengan keluhan bercak kemerahan yang terasa perih dan gatal di
punggung pergelangan tangan kanan sejak 2 hari SMRS.
2 hari SMRS terdapat bercak kemerahan yang timbul pada pagi
hari. Bercak kemerahan disertai rasa perih. 1 hari SMRS bercak kemerahan
semakin menyebar disertai benjolan sebesar biji jagung, Bercak kemerahan
dan benjolan terasa gatal sehingga pasien cenderung menggaruknya, dan
tidak bertambah gatal ketika berkeringat. Pasien memberikan salep merk
cinolon untuk keluhan kulitnya, namun keluhan tidak mengalami perbaikan.
Pasien tidak memiliki riwayat demam, lemas dan lesu sebelum
timbulnya keluhan. Nafsu makan pasien baik. Pasien tidak memiliki riwayat
alergi terhadap suatu apapun. Pasien tidak merasakan pernah digigit oleh
serangga. Pasien merasa kontak dengan serangga pada daerah kelainan kulit

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

tersebut pada saat pasien tidur malam hari. Pasien terbiasa tidur dalam
kamar yang terang dengan ventilasi jendela yang terbuka. Pasien baru
pertama kali mengalami keluhan seperti ini.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga yang mempunyai keluhan yang sama dengan pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK ( 1 Juli 2014, pukul 11.30 WIB)


Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Tanda - tanda vital

: Tekanan Darah: 176/100 mmHg


Nadi

: 75 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 360C

Status Generalis
Kepala

: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

THT

: Deviasi septum (-), discharge (-), faring hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)

Thoraks

: Simetris, ketinggalan gerak (-)

Jantung

: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo

: Suara dasar vesikular +/+, wheezing -/-, rhonki -/-

Abdomen

: Datar, nyeri tekan (-), bising usus (+), hepar dan lien tidak
teraba

Ekstremitas

: Akral hangat, tidak ada edema

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

Status Dermatologikus
Lokasi

: Pergelangan punggung tangan kanan

Efloresensi

: Lesi multiple berukuran lentikuler (1x1cm), tepi berbatas


tegas, lesi eritematosa dengan penyebaran linear, krusta
berwarna merah kehitaman dengan dasar eritema.

Gambar 1. Pergelangan punggung tangan kanan

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

Gambar 2. Pergelangan punggung tangan kanan


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada

V.

RESUME
Tn. NS, usia 45 tahun, 2 hari SMRS terdapat bercak eritema yang
timbul di pagi hari pada dorsum manus dextra, yang diikuti dengan
timbulnya bula pada sore hari. Bercak eritema disertai rasa gatal dan perih.
1 hari SMRS bercak eritematosa meluas secara linear, timbul krusta
berukuran lentikuler. Pasien memiliki riwayat kontak dengan serangga.
Riwayat kebiasaan, pasien tidur dalam kamar yang terang dengan ventilasi
jendela yang terbuka. Pada status generalis tidak ditemukan kelainan. Pada
status dermatologikus pada regio dorsum manus dextra terdapat lesi
multiple berukuran lentikuler (1x1cm) tepi berbatas tegas, lesi eritematosa

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

dengan penyebaran linear, krusta berwarna merah kehitaman dengan dasar


eritema.

VI. DIAGNOSIS KERJA


Dermatitis venenata

VII. DIAGNOSIS BANDING


Tidak ada

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


Tidak ada

IX. PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
a. Menghindari pajanan terhadap serangga penyebab
b. Menyarankan pasien untuk tidak menggaruk lesi

2. Medikamentosa :
Sistemik
Antihistamin : Cetirizine tablet 1 x 10 mg selama 10 hari
Topikal

X.

Kortikosteroid : betamethasone valerate 1 mg

Krim 5 gr

Antibiotik

oles 2-3x/hari

: Neomycin sulfate 5 mg

PROGNOSIS
1. Quo ad vitam

: ad bonam

2. Quo ad functionam : ad bonam


3. Quo ad sanationam : ad bonam

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dermatitis Venenata
I.

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berinteraksi dengan bahan bahan

yang mungkin dapat menimbulkan iritan maupun alergi bagi seseorang dan belum
tentu bagi individu lain. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan kelainan pada kulit
sesuai dengan kontak yang terjadi. Kelainan ini disebut dermatitis kontak.1
Penyebab dermatitis kadang-kadang tidak diketahui, sebagian besar
merupakan respon kulit terhadap agen eksogen maupun endogen. Dermatitis
kontak ini dibagi menjadi Dermatitis Kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi.
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang Dermatitis Kontak Iritan.
Dermatitis kontak iritan lebih banyak tidak terdeteksi secara klinis
disebabkan

karena penyebabnya yang bermacam-macam dan interval waktu

antara kontak dengan bahan iritan serta munculnya ruam tidak dapat
diperkirakannya. Dermatitis muncul segera setelah pajanan dan tingkat
keparahannya ditentukan berdasarkan kuantitas, konsentrasi, dan lamanya terpajan
oleh bahan iritan tersebut.3 Penanganan dermatitis kontak tidak selamanya mudah
karena banyak dan seringnya faktor-faktor tumpang tindih yang memicu setiap
kasus dermatitis.9 Pencegahan bahan-bahan iritasi kulit adalah strategi terapi yang
utama pada dermatitis kontak iritan.6
I.

DEFINISI 1

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai


respons terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel,
skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal.
Dermatitis Kontak Iritan adalah peradangan kulit yang disebabkan
terpaparnya kulit dengan bahan dari luar yang bersifat iritan yang menimbulkan
kelainan klinis efloresensi polimorfik berupa eritema, vesikula, edema, papul,

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

vesikel, dan keluhan gatal, perih serta panas.Tanda polimorfik tidak selalu timbul
bersamaan, bahkan hanya beberapa saja. 1
Dermatitis Venenata adalah Dermatitis Kontak Iritan yang disebabkan
oleh terpaparnya bahan iritan dari beberapa tanaman seperti rumput, bunga, pohon
mahoni, kopi, mangga, serta sayuran seperti tomat, wortel dan bawang. Bahan
aktif dari serangga juga dapat menjadi penyebab.1
II. Epidemologi 1
DKI adalah penyakit kulit akibat kerja yang paling sering ditemukan,
diperkirakan sekitar 70%-80% dari semua penyakit kulit akibat kerja. DKI dapat
diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin.
Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan
dengan pekerjaan (DKI akibat kerja). Insiden dari penyakit kulit akibat kerja di
beberapa negara adalah sama, yaitu 50-70 kasus per 100.000 pekerja pertahun.
Pekerjaan dengan resiko besar untuk terpapar bahan iritan yaitu pemborong,
pekerja industri mebel, pekerja rumah sakit (perawat, cleaning services, tukang
masak), penata rambut, pekerja industri kimia, pekerja logam, penanam bunga,
pekerja di gedung.
Pada DKI akibat serangga khususnya yang disebabkan kumbang Paederus
kejadiannya meningkat pada musim penghujan, karena cuaca yang lembab
merupakan lingkungan yang sesuai bagi organisme penyebab dermatitis venenata
(misal: Genus Paederus). Paederus dermatitis terjadi di seluruh bagian dunia,
khususnya daerah beriklim tropis seperti Indonesia, dan pernah dilaporkan
kejadian yang merebak di Australia, Malaysia, Srilanka, Nigeria, Kenya, Iran,
Uganda, Okinawa, Sierra Leone, Argentina, Brazil, Venezuela, Ecuador, India.
III. Etiologi 1,2,3
Dermatitis kontak iritan adalah penyakit multifaktor dimana faktor eksogen
(iritan dan lingkungan) dan faktor endogen sangat berperan.1

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

Faktor Eksogen
Selain dengan asam dan basa kuat, tidak mungkin untuk memprediksi
potensial iritan sebuah bahan kimia berdasarkan struktur molekulnya. Potensial
iritan bentuk senyawa mungkin lebih sulit untuk diprediksi. Faktor-faktor yang
dimaksudkan termasuk : (1) Sifat kimia bahan iritan: pH, kondisi fisik,
konsentrasi, ukuran molekul, jumlah, polarisasi, ionisasi, bahan dasar, kelarutan ;
(2) Sifat dari pajanan: jumlah, konsentrasi, lamanya pajanan dan jenis kontak,
pajanan serentak dengan bahan iritan lain dan jaraknya setelah pajanan
sebelumnya ; (3) Faktor lingkungan: lokalisasi tubuh yang terpajan dan suhu, dan
faktor mekanik seperti tekanan, gesekan atau goresan. Kelembapan lingkungan
yang rendah dan suhu dingin menurunkan kadar air pada stratum korneum yang
menyebabkan kulit lebih rentan pada bahan iritan.1,2
Faktor Endogen
a. Faktor genetik
Ada hipotesis yang mengungkapkan bahwa kemampuan individu untuk
mengeluarkan radikal bebas, untuk mengubah level enzim antioksidan,
dan kemampuan untuk membentuk perlindungan heat shock protein
semuanya dibawah kontrol genetik. Faktor tersebut juga menentukan
keberagaman respon tubuh terhadap bahan-bahan iritan. Selain itu,
predisposisi genetik terhadap kerentanan bahan iritan berbeda untuk setiap
bahan iritan.2 Pada penelitian, diduga bahwa faktor genetik mungkin
mempengaruhi kerentanan terhadap bahan iritan. TNF- polimorfis telah
dinyatakan sebagai marker untuk kerentanan terhadap kontak iritan.2
b. Jenis Kelamin
Gambaran klinik dermatitis kontak iritan paling banyak pada tangan, dan
wanita dilaporkan paling banyak dari semua pasien.1 Dari hubungan antara
jenis kelamin dengan kerentanan kulit, wanita lebih banyak terpajan oleh
bahan iritan, kerja basah dan lebih suka perawatan daripada laki-laki.
Tidak ada pembedaan jenis kelamin untuk dermatitis kontak iritan yang
ditetapkan berdasarkan penelitian.2

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

c. Umur
Anak-anak dibawah 8 tahun lebih mudah menyerap reaksi-reaksi bahanbahan kimia dan bahan iritan lewat kulit. Banyak studi yang menunjukkan
bahwa tidak ada kecurigaan pada peningkatan pertahanan kulit dengan
meningkatnya umur. Data pengaruh umur pada percobaan iritasi kulit
sangat berlawanan. Iritasi kulit yang kelihatan (eritema) menurun pada
orang tua sementara iritasi kulit yang tidak kelihatan (kerusakan
pertahanan) meningkat pada orang muda.3

Reaksi terhadap beberapa

bahan iritan berkurang pada usia lanjut. Terdapat penurunan respon


inflamasi dan TEWL, dimana menunjukkan penurunan potensial penetrasi
perkutaneus.
d. Suku
Tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa jenis kulit mempengaruhi
berkembangnya dermatitis kontak iritan secara signifikan. Karena eritema
sulit diamati pada kulit gelap, penelitian terbaru menggunakan eritema
sebagai satu-satunya parameter untuk mengukur iritasi yang mungkin
sudah sampai pada kesalahan interpretasi bahwa kulit hitam lebih resisten
terhadap bahan iritan daripada kulit putih.1
e. Lokasi kulit
Ada perbedaan sisi kulit yang signifikan dalam hal fungsi pertahanan,
sehingga kulit wajah, leher, skrotum, dan bagian dorsal tangan lebih rentan
terhadap dermatitis kontak iritan. Telapak tangan dan kaki jika
dibandingkan lebih resisten.1,2
f. Riwayat Atopi
Adanya riwayat atopi diketahui sebagai faktor predisposisi pada dermatitis
iritan pada tangan. Riwayat dermatitis atopi kelihatannya berhubungan
dengan peningkatan kerentanan terhadap dermatitis iritan karena
rendahnya ambang iritasi kulit, lemahnya fungsi pertahanan, dan
lambatnya proses penyembuhan.3 Pada pasien dengan dermatitis atopi
misalnya, menunjukkan peningkatan reaktivitas ketika terpajan oleh bahan
iritan.3

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

Untuk dermatitis venenata spesies serangga yang paling sering menjadi


penyebab adalah dari genus Paederus. Spesies dari genus ini menyebabkan
paederus dermatitis. Paederus dermatitis sendiri di Indonesia paling banyak
disebabkan oleh Paederus peregrines. Paederus dewasa panjang tumbuhnya 7-10
mm dan lebar 0,5 mm seukuran dengan nyamuk. Paederus berkepala hitam
dengan abdomen di caudalnya dan juga elitral ( struktur yang membungkus sayap
dan sepertiga atas segmen abdomen). Meskipun paederus dapat terbang, namun
paederus lebih sering berlari dan meloncat. Paederus memiliki karateristik
mengangkat bagian abdomennya ketika mereka lari ataupun merasa terganggu.
Spesies yang biasa menyebabkan paederus dermatitis adalah Paederus melampus
di India, Paederus brasiliensis di Amerika Latin, Paederus colombius di
Venezuela, Paederus fusipes di Taiwan dan tentunya Paederus peregrinus di
Indonesia. Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, namun tepukan keras
pada kumbang ini diatas kulit akan memicu pengeluaran bahan aktifnya yang
berupa paederin.

Gambar. Paederus sp
Paederus merupakan makhluk nocturnal dan tertarik dengan cahaya putih dan
terang. Hemolimfe dari paederus mengandung suatu bahan aktif yakni paederin
yang kemudian menyebabkan keluhan gatal, rasa panas tebakar, kemerahan pada
kulit yang timbul dalam 12-48 jam setelah kulit terpapar. Paederin yang berumus
kimia

C25H45O9N

tetrahydropyran.

10

adalah

sebuah

struktur

amida

dengan

dua

cincin

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

IV. Patogenesis 2,3


Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan
melalui kerja kimiawi atau fisis. Ada 4 mekanisme yang berhubungan dengan
DKI.
1. Hilangnya membran lemak (Lipid Membrane)
2. Kerusakan dari sel lemak
3. Denaturasi keratin epidermal
4. Efek sitotoksik secara langsung
Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam
arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), dan
inositida (IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG
dan LT menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskular
sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga
bertindak sebagai kemoaktraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta
mengaktifasi sel mast melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga
memperkuat perubahan vaskular.
DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis
protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte-macrophage colony
stimulating factor (GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan IL-2
dan mengekspresi reseptor IL-2, yang menimbulkan stimulasi autokrin dan
proliferasi sel tersebut.
Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel-1
(ICAM-1). Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF, suatu
sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit,
menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin.
Rentetan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat
terjadinya kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat.
Bahan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak,
dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang

11

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah


kerusakan sel dibawahnya oleh iritan.
V. Gejala Klinik 4,5
Gejala klinik yang terjadi sangat beragam, bergantung pada sifat iritan. Iritan
kuat memberi gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis meskipun
faktor individu dan lingkungan sangat berpengaruh.
Kelainan kulit bergantung pada stadium penyakit, pada stadium akut kelainan
kulit berupa eritema, edema, vesikel, atau bula, erosi dan eksudasi, sehingga
tampak basah. Stadium sub akut, eritema berkurang, eksudat mengering menjadi
krusta, sedang pada stadium kronis tampak lesi kronis, skuama, hiperpigmentasi,
likenifikasi, papul, mungkin juga terdapat erosi atau ekskoriasi karena garukan.4
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis
memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis demikian pula
efloresensinya tidak selalu harus polimorfik, mungkin hanya oligomorfik.
Pada paederus dermatitis, lesi biasanya terjadi pada bagian tubuh yang tidak
tertutupi, misalnya tangan, kaki juga leher dan wajah, khususnya area periorbital,
yang merupakan bagian tubuh paling sering menjadi predileksi paederus
dermatitis. Tidak berbeda jauh dengan jenis dermatitis kontak iritan lainnya, lesi
yang biasa ditimbulkan oleh bahan aktif paederin berupa patch eritem linear yang
kemudian berlanjut menjadi bula, terkadang bula dapat menjadi pustular. Pada
pasien yang datang ke tenaga medis, bula dapat intak ataupun sudah terjadi erosi
dengan dasar eritem. Lesi mulai muncul setelah 12-48 jam pasca paparan paederin
dan membaik dalam waktu seminggu.
VI. Diagnosis 6,7
Anamnesis
Anamnesis yang detail sangat dibutuhkan karena diagnosis dari DKI
tergantung pada anamnesis mengenai pajanan yang mengenai pasien. Anamnesis
yang dapat mendukung penegakan diagnosis DKI (gejala subyektif) adalah :
-

Pasien mengklaim adanya pajanan yang menyebabkan iritasi kutaneus

12

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto
-

Karina
1102010139

Onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk DKI akut.

DKI lambat dikarakteristikkan oleh kausa pajanannya, seperti benzalkonium


klorida (biasanya terdapat pada cairan disinfektan), dimana reaksi inflamasinya
terjadi 8-24 jam setelah pajanan.
-

Onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu ada
DKI kumulatif (DKI Kronis). DKI kumulatif terjadi akibat pajanan berulang
dari suatu bahan iritan yang merusak kulit.

Penderita merasakan sakit, rasa terbakar, rasa tersengat, dan rasa tidak
nyaman akibat pruritus yang terjadi.
Kriteria Diagnostik DKI
Mayor

Minor

Subyektif

Onset dimulai dari beberapa

Onset dimulai 2 minggu setelah

menit

jam

paparan

rasa

Banyak

hingga

beberapa

kemudian dari paparan

Pada

awalnya

terdapat

orang

mempunyai

nyeri, rasa terbakar, perasaan

gejala sama pada lingkungan

tidak enak yang berlebih, gatal

tersebut

Obyektif

Didominasi oleh makula eritem,

Pada

hiperkeratosis, fissure

menunjukkan

Terdapat gambaran epidermis

konsentrasi

kering, seperti terbakar

sedikit perbedaan sedangkan

Proses penyembuhan dimulai

waktu

dengan menghindari iritan

perbedaan yang banyak pada

Patch tes negatif

tingkat kerusakan kulit

Pada Dermatitis Venenata terdapat gejala klinis berupa :


a. Tidak ada gejala prodormal.

13

perubahan

kontak

morfologi
tingkat

menghasilkan

menghasilkan

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

b. Lesi muncul tiba-tiba pada pagi hari atau setelah berkebun dan terasa gatal
serta pedih.
c. Lesi berbentuk garis linear dan berwarna merah dengan batas yang tegas
serta terdapat jaringan nekrosis ditengahnya.
d. Adanya kissing phenomenon, yang berarti kulit yang tertempel atau terkena
lesi akan berubah menjadi lesi yang baru.

VII.

Pemeriksaan Fisik

Menurut Rietschel dan Flowler, kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai
berikut :
-

Makula eritema, hiperkeratosis, atau fisura predominan setelah terbentuk


vesikel

Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh

Bentuk sirkumskripta tajam pada kulit

Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

VIII. Diagnosis Banding


1. Dermatitis Kontak Alergi
Berbeda dengan DKI, pada DKA, terdapat sensitasi dari pajanan/iritan.
Gambaran lesi secara klinis muncul pada pajanan selanjutnya setelah
interpretasi ulang dari antigen oleh sel T (memori), dan keluhan utama pada
penderita DKA adalah gatal pada daerah yang terkena pajanan. Pada patch tes,
didapatkan hasil positif untuk alergen yang telah diujikan, dan sensitifitasnya
berkisar antara 70 80%.
Perbedaan

DKI

DKA

Keluhan

Gatal, nyeri, perih menyengat

Nyeri, gatal

Lesi

Batas tegas, terbatas pada daerah

Lesi dapat melebihi

yang terpapar bahan iritan

daerah yang terpapar


bahan alergen,
biasanya berupa

14

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139
vesikel yang kecil

Bahan

Bahan iritan, tergantung pada

Bahan alergen, tidak

konsentrasi dan letak kulit yang

tergantung

terpapar, semua orang bisa kena

konsentrasi bahan,
hanya pada orang
yang mengalami
hipersensitivitas

Reaksi yang

Akibat kerusakan jaringan

muncul

Proses reaksi
hipersensitivitas tipe
4

2. Dermatitis Atopi
Merupakan keadaan radang kulit kronis dan residif, disertai dengan gatal yang
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan
dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga
penderita.6 Oleh karena itu, pemeriksaan IgE pada penderita dengan suspek
DKI dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan diagnosis dermatitis
atopi.
IX. Terapi 8,9
Penatalaksanaan dari dermatitis kontak iritan dapat dilakukan dengan
memproteksi atau menghindarkan kulit dari bahan iritan. Selain itu, prinsip
pengobatan penyakit ini adalah dengan menghindari bahan iritan, melakukan
proteksi (seperti penggunaan sarung tangan), dan melakukan substitusi dalam hal
ini, mengganti bahan-bahan iritan dengan bahan lain.9
Selain itu, beberapa strategi pengobatan yang dapat dilakukan pada
penderita dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut :
1. Kompres dingin dengan Burrows solution
Kompres dingin dilakukan untuk mengurangi pembentukan vesikel dan
membantu mengurangi pertumbuhan bakteri. Kompres ini diganti setiap 2-3
jam.

15

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

2. Glukokortikoid topikal
Efek topikal dari glukokortikoid pada penderita DKI akut masih kontrofersial
karena efek yang ditimbulkan, pada penggunaan yang lama dari
kortikosteroid dapat menimbulkan kerusakan kulit pada stratum korneum.8
Pada pengobatan untuk DKI akut yang berat, mungkin dianjurkan pemberian
prednison pada 2 minggu pertama, 60 mg dosis inisial, dan di tappering off
10mg.8
3. Antibiotik dan antihistamin
Ketika pertahanan kulit rusak, hal tersebut berpotensial untuk terjadinya
infeksi sekunder oleh bakteri. Perubahan pH kulit dan mekanisme
antimikroba yang telah dimiliki kulit, mungkin memiliki peranan yang
penting dalam evolusi, persisten, dan resolusi dari dermatitis akibat iritan,
tapi hal ini masih dipelajari. Secara klinis, infeksi diobati dengan
menggunakan antibiotik oral untuk mencegah perkembangan selulit dan
untuk mempercepat penyembuhan. Secara bersamaan, glukokortikoid topikal,
emolien, dan antiseptik juga digunakan. Sedangkan antihistamin mungkin
dapat mengurangi pruritus yang disebabkan oleh dermatitis akibat iritan.
Terdapat percobaan klinis secara acak mengenai efisiensi antihistamin untuk
dermatitis kontak iritan, dan secara klinis antihistamin biasanya diresepkan
untuk mengobati beberapa gejala simptomatis.
4. Anastesi dan Garam Srontium (Iritasi sensoris)
Lidokain, prokain, dan beberapa anastesi lokal yang lain berguna untuk
menurunkan sensasi terbakar dan rasa gatal pada kulit yang dihubungkan
dengan dermatitis iritan oleh karena penekanan nosiseptor, dan mungkin
dapat menjadi pengobatan yang potensial untuk dermatitis kontak iritan.
Garam strontium juga dilaporkan dapat menekan depolarisasi neural pada
hewan, dan setelah dilakukan studi, garam ini berpotensi dalam mengurangi
sensasi iritasi yang dihubungkan dengan DKI.
5. Kationik Surfaktan
Surfaktan kationik benzalklonium klorida yang iritatif dapat meringankan
gejala dalam penatalaksanaan iritasi akibat anion kimia.

16

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

6. Emolien
Pelembab yang digunakan 3-4 kali sehari adalah tatalaksana yang sangat
berguna.

Menggunakan

emolien

ketika

kulit

masih

lembab

dapat

meningkatkan efek emolien. Emolien dengan perbandingan lipofilik :


hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat menghidrasi kulit
lebih baik.8
7. Imunosupresi Oral
Pada penatalaksanaan iritasi akut yang berat, glukokortikoid kerja singkat
seperti prednisolon, dapat membantu mengurangi respon inflamasi jika
dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal dan emolien. Tetapi, tidak
boleh digunakan untuk waktu yang lama karena efek sampingnya. Oleh
karena itu, pada penyakit kronik, imunosupresan yang lain mungkin lebih
berguna. Obat yang sering digunakan adalah siklosporin oral dan
azadtrioprim.8
8. Fototerapi dan Radioterapi Superfisial
Fototerapi telah berhasil digunakan untuk tatalaksana dermatitis kontak iritan,
khususnya pada tangan. Modalitas yang tersedia adalah fototerapi
photochemotherapy ultraviolet A (PUVA) dan ultraviolet B, dimana
penyinaran dilakukan bersamaan dengan penggunaan fotosensitizer (soralen
oral atau topikal). Sedangkan radioterapi superfisial dengan sinar Grentz juga
dapat digunakan untuk menangani dermatitis pada tangan yang kronis.
Penalataksanaan ini jarang digunakan pada praktek terbaru, hal ini mungkin
disebabkan oleh ketakutan terhadap kanker karena radioterapi.8

X.

Prognosis 8
Prognosisnya baik bila pasien menjauhi pajanan terhadap bahan iritan dan

patuh dalam menjalani pengobatan untuk menanggulangi keluhan. Prognosis


menjadi kurang baik jika bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat
disingkirkan dengan sempurna. Keadaan ini sering terjadi pada DKI kronis yang
penyebabnya multifaktor, juga pada penderita atopi.

17

Fakultas Kedokteran YARSI


RSPAD Gatot Soebroto

Karina
1102010139

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., editor. Djuanda S., Sularsito SA., penulis.
Dermatitis Kontak. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Kelima, Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2009, hal 129-138.
2. Anonim. 2009. Contact Dermatitis. Diunduh dari : URL:
http://nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article /000869..htm pada Selasa, 30 Juni
2014 pukul 16.00 WIB.
3. Hogan DJ. 2011. Contact Dermatitis Irritant. Diunduh dari : URL:
http://emedicine.medscape/ article/1049352-overview.htm pada Selasa, 30
Juni 2014 pukul 17.45 WIB.
4. Wolff K, Lowel AG, Stephen IK, Barbara AG, Amy SP, David JL, editor.
Fitzpatricks Dermatology in general medicine. 7th ed. New York: McGraw
Hill; 2008.p.396-401.
5. Wolff C, Richard AJ, and Dick S, editor. Fitzpatricks Color Atlas &
Synopsis Of Clinical Dermatology. 5th ed. New York: McGraw Hill; 2005.
6.

Grand SS. 2008. Allergic Contact Dermatitis Versus Irritant Contact


Dermatitis. Diunduh dari : URL: http://wsiat.on.ca/english/mlo/allergic.htm
pada Selasa, 30 Juni 2014 pukul 17.00 WIB.
7. Ngan Vanessa. 2010. Irritant Contact Dermatitis. Diunduh dari : URL:
http://darmnetnz.org/dermatitis/contact-irritant.htm pada Selasa, 30 Juni 2014
pukul 18.00 WIB.
8. Bourke J, Coulson I, and English J. Guidelines For The Management Of
Contact Dermatitis: An Update. London: British Journal of Dermatology;
2008.p.946-54.
9. Gould Dinah.2003. Occupational Irritant Dermatitis in Healthcare Workers
Meeting the Challenge of Prevention. Diunduh dari : URL: http://sslinternational.com pada Selasa, 30 Juni 2014 pukul 16.00 WIB.

18