Anda di halaman 1dari 10

Kebijakan Sosial Neoliberal; Belajar Dari Meksiko

RUDI HARTONO

Neoliberalisme, yang menjadikan pasar sebagai supremasi tertingginya, telah


melahirkan persoalan dimana-mana, seperti persoalan kemiskinan,
pengangguran, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Di tahun 1980 –an,
sebuah krisis ekonomi—yang segera disusul dengan ketegangan akibat
penerapan kebijakan penyesuaian struktural (SAP)—telah memprovokasi
terjadinya kemiskinan, pengangguran massal, dan ketimpangan sosial yang
sangat lebar di kawasan Amerika latin.

Pada tahun 1980, misalnya, 188 juta orang rakyat di amerika latin—yang
merupakan sepertiga dari populasi di kawasan ini—disebutkan miskin. di tahun
1990, jumlah ini meningkat menjadi 196 juta orang, atau hampir setengah dari
populasi penduduk di kawasan ini.

Meskipun setiap pemerintahan baru berjanji mengenai perbaikan ekonomi,


dengan menjanjikan pertumbuhan ekonomi tinggi melalui reformasi ekonomi, tapi
hanya sedikit rakyat yang mempercayai hal ini. Menurut pengalaman,
pertumbuhan ekonomi selalu tidak berhubungan dengan pengurangan jumlah
penganggur, kenaikan harga, dan peningkatan daya beli rakyat. Pada
kenyataannya, pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir orang di
pasar finansial.

Pada saat itu, kerusakan ekonomi sudah menciptakan ketegangan sosial yang
cukup tinggi, dan berpotensi mempengaruhi konstalasi politik berkepanjangan.
Untuk itu, pada masa pemerintahan Miguel Dela Madrid (1982-1988) dan Carlos
Salinas de Gortari (1988-1994) menciptakan sebuah program sosial yang didesain
khusus untuk menarik partisipasi orang miskin dalam mengatasi problem sosial
ini.

Akan tetapi, alih-alih program ini bisa mengurangi kemiskinan, justru program
sosial ini tetap memelihara kesenjangan ekonomi, yang menempatkan sebagaian
besar rakyat meksiko dalam kemiskinan, sementara segelintir orang menikmati
kemakmuran.
Esensi Kebijakan Sosial Neoliberal

Di dalam artikel saya sebelumnya, Neoliberalisme yang hendak disembunyikan,


bagi penganut neoliberal, negara harus menyokong kuat hak kepemilikan pribadi
individu, aturan hukum, dan institusi yang membebaskan berfungsinya pasar dan
perdagangan bebas. Selain itu, kebebasan membuat perjanjian dan hak individu
untuk bebas bertindak, bernegosiasi, berekspresi, dan memilih harus dilindungi.
Oleh karena itu, negara berhak menggunakan monopolinya atas alat-alat
kekerasan (polisi, militer, pengadilan, dsb) untuk menjamin kebebasan ini. Jadi
bagi penganut neoliberal, intervensi negara diperlukan sepanjang tidak
mengganggu mekanisme pasar bebas dan perdagangan bebas.

Di sektor finansial, misalnya, tercipta sebuah komitmen negara untuk melunasi


utang-utangnya kepada swasta. Disamping itu, mengutip David Harvey,
kekuasaan negara harus melindungi institusi financial, dengan segala
pembiayaannya. Prinsip ini bekerja pada saat krisis New York City pada
pertengahan 1970-an, dan dikenal secara internasional ketika Meksiko berada di
ujung kebangkrutan pada tahun 1982.

Melalui negara pula, sistim neoliberal ditegakkan berdasarkan sokongan dan


dukungan penuh dari negara. Di sini, seperti kita ketahui, negara lah yang
bertindak sebagai pemegang kendali pelaksaan sejumlah proposal neoliberal,
diantaranya pengalihan sektor publik (pendidikan, kesehatan, layanan sosial) ke
tangan swasta.

Berbagai tempat di belahan dunia, yang menerapkan kebijakan neoliberal secara


konsekwen, persoalan kemiskinan telah menjadi sebuah problem yang
mengancam kesinambungan mereka. Menurut mereka, kemiskinan ini telah
berkembang menjadi salah satu sumber penting untuk terjadinya ketidakstabilan
politik, dan sebuah rintangan ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh politisi
demagog dan kerakyatan untuk mengancam proses restrukturisasi neoliberal.
Sehingga, dari sini, mereka membutuhkan sebuah agen untuk bertempur
mengurangi kemiskinan itu.
Dari jalan ini, mengutip Carlos Villas, kebijakan sosial memasuki agenda
reformasi neoliberal, seperti program pengurangan kemiskinan. Selain itu,
mereka menganggap pertumbuhan kemiskinan sebagai sebuah penyakit
(pathology), bukan sebagai konsekuensi dari sistim ekonomi yang ada. Pada
kenyataannya, mereka mengisolasi persoalan kemiskinan dari proses akumulasi
kapital dan perkembangan ekonomi.

Lebih lanjut, Vilas menjalaskan bahwa kebijakan sosial neoliberal ini menjalankan
dua fungsi penting; pertama, sebagai pendukung proses akumulasi kapital
melalui reproduksi sosial tenaga kerja. kedua, melegitimasi keseluruhan tatanan
politik yang ada dengan cara menciptakan konsesi dengan keseluruhan populasi
yang menerima sedikit keuntungan dari program ini.

Modus operandi kebijakan sosial neoliberal ini nampak nyata dalam kasus di
Indonesia, terutama Bantuan Langsung Tunai (BLT), Raskin, PNPM, KUR, dan
sejenisnya. Dalam prakteknya, seperti yang diungkap Salamuddin Daeng dari
Institute For Global Justice (IGJ), mengenai temuan soal kesamaan antara jumlah
pemilih yang berpartisipasi pada Pemilu Presiden 2009 dengan jumlah penerima
bantuan sosial, seperti bantuan langsung tunai (BLT), beras miskin (raskin), dan
sebagainya.

Kebijakan sosial ini berupaya mengurangi secara terbatas dampak-dampak


negatif dari penerapan kebijakan penyesuaian struktural, diantara penduduk di
sebuah negeri. Dampak negatif ini, menurut mereka, bersifat sementara
(temporer) yang berakar dari irasionalitas distribusi sumber daya. Sehingga,
menurut mereka, setelah periode yang begitu menyakitkan ini (baca,
penyesuaian struktural), akan lahir keseimbangan baru dalam ekonomi makro,
dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa inflasi. Dalam fase ini, sebuah
pertumbuhan tinggi akan melahirkan penyerapan tenaga kerja, serta melahirkan
“efek menetes” bagi sektor ekonomi yang lebih kecil dan rakyat keseluruhan.

Dalam neoliberalisme, untuk diketahui, kebijakan sosial bukan hal yang


permanen dalam perangkat ekonomi mereka, tapi sesuatu yang temporer
sifatnya.
Dalam memperkuat proses akumulasi capital, kebijakan sosial ini membantu
proses akumulasi capital melalui manuver finansial. Sebagai contoh, kebijakan
privatisasi sistim pensiun di banyak negara amerika latin, diambil alih oleh
perusahaan-perusahan finansial swasta, dan dijadikan sebagai sumber finansial
yang besar untuk diputar kembali di pasar finansial.

Dalam prakteknya, kebijakan ini beroperasi dalam bentuk “derma”, yang


diberikan secara langsung kepada sektor paling miskin (baca, ekstrim). Dengan
jumlah dana yang kecil, maka bantuan ini hanya akan habis untuk konsumsi,
sesuatu yang begitu dikehendaki oleh pasar kapitalis yang sedang terperosok
pada over-kapasitas.

Alih-alih memperbaiki kondisi kehidupan group penduduk berpendapatan rendah,


kebijakan sosial ini hanya membantu sangat sedikit korban penyesuaian
struktural, dan tetap tidak menghentikan laju kemerosotan ekonomi.

Dalam prakteknya, menurut Vilas, kebijakan sosial neoliberal ini memiliki tiga
karakteristik mendasar; privatisasi, penargetan, dan desentralisasi. Menurut
mereka, privatisasi layanan sosial merupakan jalan untuk mengatasi krisis
finansial, membuat jasa pelayan semakin efisien, dan menghilangkan segala
bentuk distorsi pasar di pelayanan public. Pada kenyataannya, privatisasi
berdampak buruk bagi pemenuhan kebutuhan dasar rakyat miskin, utamanya
pendidikan, kesehatan, transportasi umum, air minum, dan sebagainya.

Di Indonesia, program sosial ini merupakan kompensasi terhadap privatisasi


layanan publik. Sungguh ironis, privatisasi semakin mengeluarkan rakyat miskin
dari pelayanan publik, sementara pemerintah menggantinya dengan dana
bantuan yang diperoleh dari program utang luar negeri.

Selanjutnya, karakteristik program ini adalah pentargetan. Argumentasi mereka,


pentargetan ini dimaksudkan agar alokasi dana bisa efektif dan efisien, artinya
benar-benar terarah kepada pihak yang membutuhkan. Pada kenyataannya,
pentargetan ini merupakan konsekuensi dari penurunan anggaran sosial (belanja
sosial). Akhirnya, penerima program ini sangat terbatas, dan hanya sebagian
kecil dari populasi miskin yang membutuhkan. Jadi, mereka hanya menargetkan
kelompok orang miskin yang paling terjerembab dan sudah tidak tertolong, dan
itupun tidak seluruhnya.

Ciri ketiga adalah desentralisasi, yakni program pemberian bantuan sosial ini
dilakukan secara terdesentralisasi hingga kepada eselon pemerintahan terendah,
seperti kotamadya dan kabupaten. Di kabupaten dan kotamadya di Indonesia
kini, ada sebuah program yang diberinama jaminan kesehatan daerah
(Jamkesda), bagian dari program sosial neoliberal di bidang kesehatan.

Meskipun desentralisasi ini, dalam kacamata neoliberal, dimaksudkan untuk


memberi kesempatan kepada unit pemerintahan terendah, maupuan LSM dan
organisasi sosial, tapi tidak bersifat mendorong partisipasi politik rakyat. Dalam
prakteknya, mereka hanya melibatkan rakyat pada persoalan implementasi
(pendataan, penyaluran, dsb), bukan pada persoalan perancangan dan desain
(partisipasi politik).

Sehingga, dalam aplikasinya, konflik sosial dan politik yang dihasilkan dari
kelemahan program ini, akan berhadapan dengan unsur pemerintah lokal dan
petugas-petugas lapangan, bukan dengan pemerintah pusat.

Pengalaman Meksiko

Pada tahun 1980-an itu, sebagai strategi untuk menghadapi dampak krisis
ekonomi, pemerintah neoliberal begitu agressif menjalan program penyesuaian
struktural, diantaranya memotong secara drastic anggaran sosial, memotong
anggaran pendidikan dan kesehatan, serta menghapus segala jenis subsidi untuk
kebutuhan dasar.

Besarnya pengurangan subsidi sosial ini terekam dalam data anggaran sosial.
Pada tahun 1981, anggaran sosial masih berada di kisaran 17,2% dari total
anggaran belanja negara; pada tahun 1982, anggaran itu merosot hingga 9,2%.
Situasi ini, tentunya, berkontribusi pada kejatuhan standar kehidupan rakyat
secara keseluruhan.

Untuk merespon ini, rejim Miguel de la Madrid segera menurunkan dua program
sosial neoliberal, yaitu program Dana Untuk Perumahan Rakyat (FONHAPO) dan
Program Distrubusi Bahan Makanan Nasional Untuk Zona Rakyat Miskin Kota,
namanya program PAZPU. Pada saat itu, Meksiko dikenal dengan politik
klientalisme dan korupsi, terutama di kalangan partai politik tradisional; PAN dan
PRI. Sehingga, pada saat itu, pemerintah banyak meminta uluran tangan LSM dan
sektor-sektor independen.

Program FONHAPO, yang sumber pendanaannya sangat terbatas, difokuskan


kepada pembangunan rumah bagi mereka yang berpendapatan sangat rendah.
Pada prakteknya, dengan mengadopsi sistim kredit kolektif, FONHAPO
memberikan bantuan dana kepada orang miskin untuk menyelesaikan
pembangunan rumahnya.

Pada tahap pertama, program ini gagal mencapai target yang sudah diputuskan
pemerintah, dikarenakan persoalan managemen dan pengelolaan dana. Dalam
beberapa kasus, pemerintah lokal menggunakan program ini sebagai nilai tawar
dalam kampanye pemilihan lokal, seperti di pilkada Meksiko City.

Untuk itu, pada tahun 1983, FONHAPO direorganisasi dan melahirkan administrasi
baru, dimana keterlibatan organisasi popular dan LSM lebih besar. pada saat itu,
organisasi-organisasi kiri yang berakar di organisasi popular, juga berupaya
menunggangi proyek ini untuk membangkitkan partisipasi politik rakyat. mereka
mengorganisasikan rumah tangga yang belum terdata, supaya diberikan peluang
untuk masuk dalam program ini.

Dalam perkembangannya, organisasi-organisasi popular ini berhasil disatukan


dalam sebuah front besar, CUD. Keterbatasan program ini, memaksa sejumlah
organisasi popular untuk berdialog dan bernegosiasi dengan pemerintah, agar
besaran anggaran dan cakupan program ini ditambah. Meskipun mereka berhasil
memaksa pemerintah untuk menambah anggaran dan memperluas cakupannya,
tapi mereka gagal menerapkan proyek self-management bagi rakyat.

Sementara itu, program PAZPU menyiapkan bahan makanan dengan harga


murah kepada zone rakyat miskin kota yang berpendapatan di bawah minimum.
Melalui program ini, DICONSA, sebuah administrasi yang bertanggung jawab
terhadap penyaluran bahan makanan ini, menciptakan sejumlah toko makanan di
berbagai komunitas rakyat miskin kota. Dengan mendasarkan idenya pada co-
partisipasi antara negara dan pihak yang menerima manfaat dari program ini,
maka mereka mendukung komunitas untuk mengorganisir toko dan mengatur
distribusi subsidi makanan. Ini menciptakan ruang dan peluang bagi organisasi
popular untuk berpartisipasi.

Dengan peluang itu, mereka berupaya menekan pemerintah untuk merubaha


kebijakannya soal pangan. Selain itu, mereka juga berupaya merombak karakter
program sosial ini yang bersifat pentargetan, dengan memperluas jangkauannya
kepada orang miskin di berbagai tempat.

Pada tahap ini, dengan program advokasi dan pendidikan politik, organisasi sosial
berhasil memutus hubungan antara penerima program ini dengan partai
pemerintah, PRI, yang seharusnya mendapat keuntungan dari program
pemerintah ini.

Dengan bersandar pada mobilisasi, berbeda dengan metode LSM yang


berdasarkan lobby, organisasi sosial berhasil mendapatkan dukungan luas dari
rakyat miskin kota, terutama ketika memenangkan negosiasi soal penambahan
anggaran dan perluasan cakupan program ini. pada saat itu, LSM benar-benar
menentang mobilisasi politik.

Dengan semakin berkembangnya tuntutan massa, rejim Salinas pun mengalami


kesulitan untuk memenuhi tuntutan mereka, sebab karakter program ini memang
terbatas, mengejar target. Akhirnya, rejim Salinas tampil buruk di mata rakyat,
dan yang mengambil keuntungan adalah Partai revolusioner Demokratik (PRD),
sebuah partai bertendensi kiri-tengah.

Membuka Dari Atas

Di bawah administrasi Salinas, program menghadapi kemiskinan semakin


mendapatkan tempat utama dalam agenda nasional. Dari situ, pemerintah
kembali meluncurkan program untuk orang miskin, yang disebut PRONASOL,
mirip sekali dengan program Bantuan langsung Tunai (BLT)-nya SBY.

Pada awalnya, program ini disalurkan melalui organisasi korporatis yang


bernaung di bawah partai PRI, sebuah partai pendukung utama pemerintah.
Dengan ini, PRI berhasil mengakumulasi sebuah kemenangan elektoral di pemilu
tahun 1991. Ini mendapatkan banyak kritikan dari kekuatan politik lain, terutama
oposisi dan gerakan sosial.

Akhirnya, pada tahun 1992, program PRONASOL disalurkan melalui pemerintahan


kotamadya dan kabupaten, dan menjangkau komite-komite di komunitas.
Meskipun berbasikan kepada ide partisipasi rakyat, tapi banyak aktifis LSM
kurang concern pada pengorganisasian rakyat, melainkan berfokus kepada
persoalan transparansi dana dan sebagainya. (Robert, 1995)

Dengan menyerahkan kepada administrasi lokal, dan juga sejumlah organisasi-


organisasi yang terkait dengan pemerintah, sejumlah analis berpendapat bahwa
PRONASOL merupakan tangga presiden Salinas untuk membangun fondasi
politiknya hingga ke bawah. Paul Haber, misalnya, menganggap program ini
justru memberikan legitimasi kuat kepada pemerintah, meskipun sangat teoritis.
Bagi gerakan kiri yang memanfaatkan program ini, tujuan utama mereka adalah
mengorganiskan massa rakyat secara luas, dan mendorong kemampuan mereka
untuk bernegosiasi dengan pemerintah. Hanya saja, memang, program ini juga
mendorong fragmentasi di kalangan organisasi rakyat.

Dalam prakteknya, bagi organisasi popular, program PRONASOL dapat


dimanfaatkan untuk tujuan memperluas keanggotaan dan memperkuat kapasitas
anggota dalam menghadapi birokrasi pemerintah. Dalam situasi itu, organisasi
sosial menggunting birokrasi pemerintah, dan mendorong rakyat mengakses
dana ini secara langsung.

Di level komunitas, seperti dicatat seorang antroplogis Meksiko, Paula Sabloff,


program ini dimanfaatkan oleh sejumlah gerakan sosial untuk mengorganisasikan
rakyat di komunitas; meregulerkan rapat-rapat, melakukan pendidikan politik,
serta menganjurkan mobilisasi politik. Dengan keterlibatan gerakan sosial
(termasuk aktifis kiri), program PRONASOL semakin terpisah dari tangan PRI,
partai pemerintah, dan semakin dijalankan secara independen.

Dalam beberapa pemilu lokal, misalnya, partai komunis meksiko yang tidak
mendapatkan peran di pemilu nasional karena UU pemilu, berhasil memupuk
dukungan di pemilihan lokal, dan memperkuat basis politiknya di tingkatan
massa.

The Frente Democrático Campesino (FDC), sebuah organisasi rakyat di


Chihuahua, berhasil memanfaatkan program ini untuk memperkuat
organisasinya, memajukan kapasitas anggotanya, namun tetap mandiri
dihadapan pemerintah. Dalam hal ini, FDC mengkombinasikan perjuangan sosial
ekonomi dan politik.

Dalam perjuangan ekonomi, mereka memanfaatkan program PRONASOL untuk


menggali dana bagi pembangunan usaha ekonomi anggota, seperti koperasi,
usaha-usaha kecil, dan sebagainya. Mereka mengorganisir petani, pekerja kebun,
dan kelompok miskin, supaya diberikan kesempatan mengakses dana itu.

Dalam perjuangan politik, mereka membangun blok politik kerakyatan untuk


mengubur partai-partai tradisional milik para elit oligarki, khususnya PAN dan PRI.
Mereka mendidik rakyat, mengajari berorganisasi, mengirim mereka
bernegosiasi, dan sesekali melakukan mobilisasi politik untuk menekan
pemerintah.

Di PRD, partai kiri tengah di Meksiko, penolakan terhadap PRONASOL


berkembang, sebab dianggap dapat mengkooptasi basis pendukung mereka.
Meskipun mengaku independen, tapi banyak pimpinan FDC memberikan
dukungan kepada PRD, khusunya kepada sayap organisasi petaninya. Pengaruh
FDC di partai politik dimanfaatkan untuk menempatkan wakil-wakil mereka di
pemerintahan dan parlemen, sehingga bisa memainkan peran penting untuk
mengontrol kebijakan di tingkat lokal. dari situ, mereka berhasil memberikan
keuntungan kepada anggotanya, diantaranya jaminan harga bagi produk petani,
menaikkan subsidi dan kepemilikan lahan dari 100 ribu hektar menjadi 160 ribu
hektar, dan sebagainya.

Secara umum, manfaat yang diterima oleh gerakan sosial dan partai kiri dari
memanfaatkan program ini adalah; (1) memperluas basis keanggotaan, basis
dukungan, dan struktur partai. (2) berhasil menggunakan dana pemerintah untuk
memperkuat kapasitas anggota, baik dalam pengelolaan ekonomi komunal
(komunitas) maupun dana organisasi. (3) berhasil menaikkan kesadaran dan
kapasitas organisasi rakyat untuk berhadapan maupun bernegosiasi dengan
pemerintah. (4) mendorong terbentuknya organisasi-organisasi rakyat, yang
mempromosikan partisipasi demokrasi. (5) berhasil memutus akar atau tali
penghubung partai tradisional dengan massa; mengeliminasi basis pendukung
partai tradisional.

RUDI HARTONO, Penulis adalah Peneliti di Lembaga Pembebasan Media dan


Ilmu Sosial (LPMIS), juga aktif mengelola media Berdikari Online dan Jurnal Arah
Kiri.