Anda di halaman 1dari 19

copyright Yuflihul Khair (RY)

Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KETUBAN PECAH
DINI (KPD)
A. PENGERTIAN
1. Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang
terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai
(William,2001)
2. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu
apabila pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm dan pada
multipara kurang dari 5 cm (mohtar,1998)
3. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat
tanda persalinan dan di tunggu satu jam belum di mulainya tanda
persalinan (manuaba,2001)
4. Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina
setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan
berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (saifudin,2002)
5. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses
persalinan berlangsung.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena
berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan
intra uteri atau kedua faktor tersebut berkurangnya kekuatan
membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari
vagina servik (sarwono prawiroharjop,2002)
6. KPD adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila
pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari
5 cm. ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 )
Prinsip dasar :
1. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses
persalinan berlangsung
2. Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric
berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya
infeksi khoriokarsinoma sampai sepsis, yang meningkatkaan
morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.
3. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau
oleh kedua faktjor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane
disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan
serviks.
4. Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia
gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya
tanda-tanda persalinan. (Prawirohardjo, 2002 )

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

B. INSIDENSI
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan
didapatkan hasil yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10
% dari semua kehamilan. Hal yang menguntungan dari angka kejadian
KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang
cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %,
sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada
kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur.
KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan
kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka
kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan. Pengelolaan KPD
pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat komplek, bertujuan
untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS.
C. ETIOLOGI
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya
masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.
Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat
dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit
diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:
1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa
menyebabkan terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka
oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan,
curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara
berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion,
gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor
predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun
amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya
disertai infeksi.
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian
terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat
menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
a. Faktor golonngan darah
Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat
menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan
jarinngan kulit ketuban.
b. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
c. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

d. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).


7. Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm
a. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
b. riwayat persalinan preterm sebelumnya
c. perdarahan pervaginam
d. pH vagina di atas 4.5
e. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban.
f. flora vagina abnormal
g. fibronectin > 50 ng/ml
h. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi
misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi
persalinan preterm
i. Inkompetensi serviks (leher rahim)
j. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
k. Riwayat KPD sebelumya
l. Trauma
m. servix tipis / kurang dari 39 mm, Serviks (leher rahim) yang
pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
n. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis
Faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm
a. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik
b. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau
pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2
terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik,
inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, Ketuban Pecah
pada usia kehamilan preterm.
c. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis,
pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
d. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh,
ketuban
pecah
pada
preterm,
infeksi
intraamnion,
korioamnionitis klinik.
e. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35
minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa
praevia.
f. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar,
desiduositis, aktifitas uterus idiopatik
Menurut Taylor menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal
berikut :
a. Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum
ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis,
sevisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan
hipermotilitas rahim ini.
b. Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban )
c. Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis )
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

d. Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara,


malposisi, disproporsi, cervix incompetent dan lain-lain.
e. Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ), dimana ketuban
dipecahkan terlalu dini.
D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes
melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau
amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes,
dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan
berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi
bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di
bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk
sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut
jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang
terjadi.
E. ANATOMI FISIOLOGI
Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam
jumlah setara. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah
merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah
(trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut
berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam
amino, lemak, koleesterol, dan vitamin. Protein dalam darah misalnya
albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma.
1) Pembentukan Sel Darah
Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati
dan limfa pada sumsum tulang belakang. Proses pembentukan
sel-sel darah disebut hematopoiesis.
2) Sel Darah Merah
Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau
ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis. Fosforilasi oksidatif
sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar
oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel
darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar
120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati.
Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah
hemoglobin yang terdapat di dalam sel :
- Nermositik
: sel yang ukurannya normal
- Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
- Mikrositik
: sel yang ukurannya terlalu kecil
- Makrositik
: sel yang ukurannya terlalu besar
- Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit
- Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak
3) Hemoglobin

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut


hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul
hemoglobin dalam setiap sel darah merah. Hemoglobin dalam
darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total.
4) Pemecahan Sel Darah Merah
Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa
hidupnya, sel tersebut mengeluarkan hemoglobinnya kedalam
sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. Molekul globulin
diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan lmfa
sampai di gunakan kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya
diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan melalui tinja
atau urin.
F. PATOFISIOLOGI
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang
berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini
terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di
sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah
luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung
amnion. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam
anorganik serta bahan organik. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban
dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin,
serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu hamil, jumlah cairan
ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter. Namun
bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5
liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau
1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam.
Manfaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna
untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi
dari benturan yang diakibatkan oleh lingkungannya di luar rahim.
Selain itu air ketuban bisa membuat janin bergerak dengan bebas ke
segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain dari air ketuban ini adalah
untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa kematangan paru-paru
janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan),
susunan genetiknya, dan sebagainya. Caranya yaitu dengan
mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui
dinding perut ibu.

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung


sebagai berikut :
1. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat
dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput
ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air
ketuban.
2. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas,
jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi
jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi
interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan
inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin,
menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi
kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput
ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
3. Patofisiologi Pada infeksi intrapartum :
a. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada
hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia
luar.
b. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion,
atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput
janin, kemudian ke ruang intraamnion
c. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi
intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
d. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya
pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya,
predisposisi infeksi.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena
diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti
melahirkakn bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya
tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti
akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan
mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu
diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD ditegakkan
dengan cara :
1. Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan
yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan
berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluanya cairan
tersebut tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum ada
pengeluaran lendir darah.
2. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari
vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih
banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

3. Pemeriksaan dengan spekulum.


pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan
dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak
keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau
megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan,
akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada
fornik anterior.
4. Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada
lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu
dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum
dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena
pada waktu
pemeriksaan dalam, jari
pemeriksa
akan
mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang
normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi
patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD
yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan
dan dibatasi sedikit mungkin.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi,
bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air
ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu
hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap
kuning.
a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah
menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air
ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat
mengahsilakan tes yang positif palsu.
b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada
gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik
menunjukkan gambaran daun pakis.
2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan
ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan
ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahn pada
penderita oligohidromnion.
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan
caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis
dengan anamnesa dan pemeriksaan sedehana.

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

Tabel : Diagnosis
Gejala & Tanda
Selalu Ada
Keluar cairan ketuban

Cairan vagina berbau


Demam / menggigil
Nyeri perut

Cairan vagina berbau


Tidak
ada
riwayat
ketuban pecah
Cairan vagina berdarah
Cairan berupa darahlendir
(sumber : internet, 2008

Gejala & Tanda


Diagnosis
Kadang-Kadang Ada
Kemungkinan
Ketuban pecah tiba- Ketuban pecah dini
tiba
Cairan
tampak
di
introitus
Tidak ada his dalam 1
jam
Riwayat
keluarnya Amnionitis
cairan
Uterus nyeri
Denyut jantung janin
cepat Perdarahan per
vaginam sedikit
Gatal
Vaginitis / servisitis
Keputihan
Nyeri perut
Disuria
Nyeri perut
Perdarahan antepartum
Gerak janin berkurang
Perdarahan banya
Pembukaan
& Awal persalinan aterm
pendataran serviks
atau preterm
Ada his
blog cornelia : ketuban pecah dini (KPD) )

Diagnosis infeksi intrapartum


a. febris di atas 38 C (kepustakaan lain 37.8 C)
b. ibu takikardia (>100 denyut per menit)
c. fetal takikardia (>160 denyut per menit)
d. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
e. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau
f. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)
g. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi
leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
I. KOMPLIKASI
1. Tali pusat menumbung
2. Prematuritas, persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan
preterm.
3. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air
ketuban habis.
4. infeksi maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens
dari vagina ke intrauterine, korioamnionitis (demam >380C,

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

takikardi, leukositosis, nyeri uterus, cairan vagina berbau busuk atau


bernanah, DJJ meningkat), endometritis
5. penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat
hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang),
trauma pada waktu lahir dan Premature.
6. komplikasi infeksi intrapartum
a. komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium
(distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan
intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi
syok septik sampai kematian ibu.
b. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai
kematian janin.
J. PENATALAKSANAAN MEDIS
Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera mengakhiri
kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar, dan kalau
menunggu
persalinan
spontan
akan
menaikkan
insidensi
chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh caracara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS, dan kalau
menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu
pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi
yang akan memperjelek prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau
umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan
pemeriksaann ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan
dan letak janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin
kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu
pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk
menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. Pada umur
kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang,
chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan
sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Pada
kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung berhubungan dengan
lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.
1. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu)
Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan
durasi KPD keduanya mempunyai hubungan yang bermakna
dengan peningkatan kejadian infeksi dan komplikasi lain dari KPD.
Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan
disebut periode latent = L.P = lag period. Makin muda umur
kehamilan makin memanjang L.P-nya. Pada hakekatnya kulit
ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan dengan
sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan
melahirkan dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah.bila
dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

persalinan maka dilakukan induksi persalinan,dan bila gagal


dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi
pada ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin
dalam uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih
penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik
profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya
diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan
pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan
infeksi telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih
dari 6 jam.
Beberapa penulis meyarankan bersikap aktif (induksi
persalinan) segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan
alasan penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Dengan
mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek
sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan
dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang
sangat ketat terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya proses
persalinan berhubungan dengan komplikasinya. Pengawasan yang
kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi dan
ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin
kepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan
mempehatikan bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan,
sebaliknya < 5, dilakukan pematangan servik, jika tidak berhasil
akhiri persalinan dengan seksio sesaria.
2. Penatalaksanaan Kpd Pada Kehamilan Preterm (< 37 minggu)
Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang
bulan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat
koservatif disertai pemberian antibiotik yang adekuat sebagai
profilaksi.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi
trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk
mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa
mencapai 37 minggu, obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic
agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan.
Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian
kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah
agar tercapainya pematangan paru, jika selama menunggu atau
melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

infeksi, maka segera dilakukan


memandang umur kehamilan.

induksi

persalinan

tanpa

Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai


berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his ternyata
dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang kadang-kadang
tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin
sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan
juga mungkin terjadi intoksikasi.
Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan
dengan tindakan bedan sesar. Seperti halnya pada pengelolaan
KPD yang cukup bulan, tidakan bedah sesar hendaknya dikerjakan
bukan semata-mata karena infeksi intrauterin tetapi seyogyanya
ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat
janin, partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat
tindakan aktif. Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat
menyebabakan komplikasi yang berbahaya, maka perlu dilakukan
pengawasan yang ketat. Sehingga dikatan pengolahan konservatif
adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap
kemungkinan infeksi intrauterin.
Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit darah tepi
setiap hari, pemeriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur
setiap 4 jam, pengawasan denyut jamtung janin, pemberian
antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6
jam.
Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah
dilaporkan secara pasti dapat menurunkan kejadian RDS.(8) The
National Institutes of Health (NIH) telah merekomendasikan
penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan 3032 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. Sedian terdiri atas
betametason 2 dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau
dexametason 4 dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam.

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

NURSING PATHWAY

(Sumber : http://medlinux.blogspot.com/2009/02/ketuban
http://medlinux.blogspot.com/2009/02/ketuban-pecah-dini
kpd.html)
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan,
Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama
Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat,
Tanggal Pengkajian.
b. Keluhan utama :
Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau /
kecoklatan sedikit / banyak, pada periksa dalam selaput ketuban
tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula tampak air
ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban
sudahkering
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

c. Riwayat haid
Umur menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang
keluar, konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir,
perkiraan tanggal partus
d. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah
perkawinan sah atau tidak, atau tidak direstui dengan orang
tua?
e. Riwayat Obstetri
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium :
USG , darah, urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi
emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan
pengobatan yang diperoleh
f. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana
cara pengobatan yang dijalani nya, dimana mendapat
pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini
atau kambuh berulang ulang
g. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang
diturunkan secara genetic seperti panggul sempit, apakah
keluarga ada yg menderita penyakit menular, kelainan
congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh
keluarga
h. Kebiasaan sehari hari
1) Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami
penurunan nafsu makan, frekuensi minum klien juga
mengalami penurunan
2) Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri
pada daerah pinggang sehingga pola tidur klien menjadi
terganggu, apakah mudah terganggu dengan suara-suara,
posisi saat tidur (penekanan pada perineum)
3) Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan,
adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran
urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau
tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi,
apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi,
konsistensi,rasa takut BAB karena luka perineum, kebiasaan
penggunaan toilet.
4) Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi,
penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola
berpakaian, tata rias rambut dan wajah
5) Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien
dengan KPD di anjurkan untuk bedresh total
6) Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang
menyenangkan, kegiatan yang membuat fresh dan relaks.
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

i. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu
2) Head To Toe
a) Rambut
: warna rambut, jenis rambut, bau nya,
apakah ada luka lesi / lecet
b) Mata
: sklera nya apakah ihterik / tdk, konjungtiva
anemis / tidak, apakah palpebra oedema /
tidak,bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak,
apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan /
tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva anemis
c) Telinga
: apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada
terdapat serumen / tidak, apakah klien menggunakan
alt bantu pendengaran / tidak, bagaimana fungsi
pendengaran klien baik / tidak
d) Hidung
: apakah klien bernafas dengan cuping
hidung / tidak, apakah terdapat serumen / tidak, apakah
fungsi penciuman klien baik / tidak
e) Mulut dan gigi
: bagaimana keadaan mukosa bibir
klien, apakah lembab atau kering, keadaan gigi dan gusi
apakah ada peradangan dan pendarahan, apakah ada
karies gigi / tidak, keadaan lidah klien bersih / tidak,
apakah keadaan mulut klien berbau / tidak. Pada ibu
hamil pada umum nya berkaries gigi, hal itu disebabkan
karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium
f) Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
g) Paru paru
Inspeksi : warna kulit, apakah pengembangan dada nya
simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka
memar / lecet, frekuensi pernafasan nya
Palpasi : apakah ada teraba massa / tidak , apakah ada
teraba pembengkakan / tidak, getaran dinding dada
apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan
Perkusi : bunyi Paru
Auskultasi : suara nafas
h) Jantung
Inspeksi : warna kulit, apakah ada luka lesi / lecet, ictus
cordis apakah terlihat / tidak
Palpasi : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus
cordis pada ICS% Midclavikula
Perkusi : bunyi jantung
Auskultasi : apakah ada suara tambahan / tidak pada
jantung klien
i) Abdomen

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

I : keadaan perut, warna nya, apakah ada / tidak luka


lesi dan lecet
P : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala
apakah sudah masuk PAP / belum
P : bunyi abdomen
A : bising usu klien, DJJ janin apakah masih terdengar /
tidak
j) Payudara : puting susu klien apakah menonjol /
tidak,warna aerola, kondisi mamae, kondisi ASI klien,
apakah sudah mengeluarkan ASI /belum
k) Ekstremitas
Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi / memar,
apakah ada oedema / tidak
Bawah : apakah ada luka memar / tidak , apakah
oedema / tidak
l) Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada
oedema / tidak pada daerah genitalia klien
m) Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit
baik / tidak.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah
ketuban, kerusakan kulit, penurunan hemoglobin, pemajanan
pada patogen
b. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya
ketegangan otot rahim
c. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau
konfirmasi tentang penyakit
d. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya
nyeri, peningkatan HIS
e. Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik (Dangoes:2000)

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

3. Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa
Tujuan dan kriteria
keperawatan
hasil
1
Resiko infeksi
Tujuan :
berhubungan infeksi tidak terjadi pada
ibu
dengan
kriteria hasil:
prosedur
pencapaian tepat waktu
invasif, pecah
pada pemulihan luka
ketuban,
tanpa komplikasi
kerusakan
kulit,
penurunan
hemoglobin,
pemajanan
pada patogen

Gangguan rasa
nyaman : nyeri
berhubungan
dengan terjadi
nya
ketegangan
otot rahim

Tujuan :
rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil :
klien tampak
tenang
klien tampak
nyaman

Inervensi
Tinjau
kondisi/faktor
yang
sebelumnya.
waktu
ketuban.

ulang
risiko
ada
Catat
pecah

Rasional
Dasar ibu, seperti
diabetes atau
hemoragi,
menimbulkan potensial
resiko infeksi atau
penyembuhan luka
yang buruk. Resiko
korioamnionitis
meningkat dengan
berjalannya waktu,
sehingga
meningkatkan resiko
infeksi ibu dan janin.

Kaji terhadap tanda


dan gejala infeksi
(misalnya:
peningkatan suhu,
nadi, jumlah sel
darah putih, atau
bau/warna
rabas
vagina).

Pecah ketuban terjadi


24jam sebelum
pembedahan dapat
menyebabkan
amnionitis sebelum
intervensi bedah dan
dapat mengubah
penyembuhan luka.

Berikan perawatan
perineal sedikitnya
setiap 4 jam bila
ketuban telah pecah
Monitor tanda
tanda vital :TD,
pernafasan,
nadi
dan suhu

Untuk mencegah agar


tidak terjadi infeksi

Nyeri
dapat
mengakibatkan
peningkatan frekuesni
pernafasan dan nadi

Ajarkan klien teknik Untuk


mengurangi
relaksasi
rasa
nyeri
yang
dirasakan klien
Atur posisi klien

Untuk
memberikan
kenyamanan
pada
klien

Berikan lingkungan Agar


klien
yang nyaman dan beristirahat
batasi pengunjung
http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

dapat

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

Ansietas
berhubungan
dengan kurang
nya
pengetahuan
atau
konfirmasi
tentang
penyakit

Tujuan :
klien pengetahuan klien
bertambah setelah
diberikan informasi
mengenai penyakit nya
Kriteria Hasil : klien
tidak resah lagi dengan
peyakitnyamenunjukkan
pemahaman akan
proses penyakit dan
prognosis

Tinjau
penyakit
harapan
depan

proses Memberikan
dan pengetahuan
dasar
masa dimana klien dapat
membuat pilihan

Dorong
periode
istirahat
yang
adekuat
dengan
aktifitas terjadwal

Agar
klien
tidak
merasa jenuh dan
mempercepat proses
penyembuhan

agar klien mengerti


Berikan pelayanan dengan bahaya nya
kesehatan mengenai infeksi dan penyakit
penyakit nya
nya
Jelaskan
kepada Menunjukkan
klien apa yg terjadi, situasi yang
Berikan kesempatan
untuk bertanya dan
berikan
jawaban
yang terbuka dan
jujur

Gangguan
kebutuhan
istirahat tidur
berhubungan
dengan adanya
nyeri
,
peningkatan
HIS

Tujuan : Kebutuhan
istirahat tidur klien
terpenuhi

realitas

Dapat membantu klien


atau orang terdekat
menerima realitas dan
mulai menerima apa
yang terjadi

dapat
Lakukan pengkajian Agar
terhadap gangguan memberikan gambaran
kebutuhan tidur
sampai sejauh mana
kebutuhan
tidur
terganggu

Kriteria Hasil : klien


dapat tidur dengan
tenang dan tidak gelisah Motivasi klien agar Dengan mengalihkan
perhatian,
maka
klien menunjukkan pola mengalihkan
perhatian
perhatian klien tidak
tidur yang adekuat
hanya tertuju pada
rasa nyeri sehingga
membantu
relaksasi
pada klien sewaktu
tidur
Monitor
tidur

http://yuflihul.blogspot.com

kebutuhan Untuk
mengetahui
apakah
kebutuhan
tidur klien terpenuhi
seperti
biasa
atau
belum

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

Ciptakan
nyaman

Intoleransi
Tujuan : aktivitas
aktifitas
b.d. kembali sesuai
kelemahan
kemampuan pasien.
fisik
Kriteria hasil : Pasien
bisa beraktivitas seperti
biasa.

suasana Suasana yang tenang


dapat
membantu
relaksasi
sehingga
nyeri berkurang dan
klien bisa tidur

Bantu pasien dalam


memenuhi
kebutuhan seharihari
seminimal
mungkin

Agar kebutuhan sehari


hari klien dapat
terpenuhi seperti biasa
nya

Beri posisi nyaman

Agar
klien
merasa
nyaman dan tenang

Anjurkan
menghemat energy
hindari
kegiatan
yang melelahkan.

Kelelahan
dapat
menyebabkan
lama
nya
proses
penyembuhan
klien,,jadi
dengan
menghindari kegiatan
yang melelahkan dapat
membantu
proses
penyembuhan

Jelaskan pentingnya proses penyembuhan


mobilisasi diri.

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

copyright Yuflihul Khair (RY)


Ns. YUFLIHUL KHAIR, S.Kep

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI, 2001, Konsep Asuhan Kebidanan, Jakarta.
Manuaba, Ida bagus Gede, 1998, Ilmu Kebidanan Penyaki Kandungan
dan KB, Penerbit Buku Kedokteran, EGC : Jakarta.
Muhtar, Rustam, etc, 1998, Sinopsis Obstetri, Jilid I, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC : Jakarta.
Prawirohardjo, Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan, Edisi III, Penerbit
yayasan Bina Pustaka : Jakarta.
___________________, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal, Cetakan Kedua, Penerbit
JNPKKR POGI dan Yayasan Bina Pustaka : Jakarta.
Saefuddin, Abdul Bari, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Jakarta : YBP-SP, 2002.
Sastrawinata, Suliman, 2005, Obstetri
Reproduksi, Edisi 2, FKUP : Jakarta.

Patologi

Ilmu

Kesehatan

Varney, Hellen, 1997, Midwifery, Edisi ketiga.


-

http://yuflihul.blogspot.com

EBOOK YUFLIHUL KHAIR

Anda mungkin juga menyukai