Anda di halaman 1dari 9

REFERAT

HIPOSPADIA

Pembimbing :
dr. Tri Budiyanto, Sp.U

Disusun Oleh :
Herlinda Yudi Saputri G4A013087

SMF BEDAH
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014

LEMBAR PENGESAHAN

HIPOSPADIA

Oleh :
Herlinda Yudi Saputri

G4A013087

Referat ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu tugas
kepaniteraan Klinik di Bagian Bedah Urologi RS Margono Soekardjo Purwokerto

Purwokerto,

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Tri Budiyanto, Sp.U

2014

BAB I
PENDAHULUAN

Hipospadia merupakan salah satu kelainan kongenital yang sering ditemui,


kemungkinannya sekitar 1:250 sampai 1:300 pada bayi baru lahir. Pada pasien
dengan hipospadia yang berat, kadang tampak seperti ambiguous genitalia.
Mengakibatkan stres emosional dan beban psikologis bagi orang tua, dan
menjadi pertanyaan mengenai jenis kelamin anak mereka. (Baskin, 2000).
Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa hipospadia hanya terjadi pada
laki-laki yang dibawa sejak lahir. Insidensinya 3:1000 atau 3 dari 1000
kelahiran. Berdasarkan data yang dicatat oleh Metropolitan Atlanta Congenital
Defects Program (MACDP) dan Birth Defects Monitoring Program (BDMP)
insidensi hipospadia mengalami dua kali peningkatan antara 1970-1990.
Prevalensi yang dilaporkan antara 0,3% menjadi 0,8% sejak tahun 1970an.
Hipospadia, merupakan konsekuensi dari suatu fusi yang tidak lengkap,
kulit uretra terdapat pada sisi alur uretra pada permukaan tengah dari lubang
kelamin. Pada 8 minggu perkembangan janin terjadi deferensiasi alat kelamin.
Setelah itu, pada pria, tepi medial dari lipatan uretra secara progresif menyatu
di garis tengah pada ventrum dari lubang kelamin; uretra penis benar-benar
tertutup pada minggu ke 14. Kelenjar dari uretra dibentuk pada minggu ke 16,
namun mekanisme yang mendasari langkah ini masih kontroversial.
Organogenesis uretra sebagian besar tergantung oleh hormone androgen.
Testosterone diproduksi oleh sel Leydig janin di kompartemen testis
interstisial

dan

kemudian

dikonversi

dalam

kulit

kelamin

menjadi

dihidrotestosteron (DHT), yang bertindak sebagai pengikat reseptor androgen.


Hipospadia adalah contoh virilisasi lengkap di mana meatus uretra normal
ditempatkan pada bagian ventral penis bukan ujung glansFungsi lainnya dari
hormone androgen adalah diferensiasi alat kelamin laki-laki seperti fusi
lipatan labioscrotal, pembesaran lubang kelamin, dan penurunan testis. (Rey,
2005).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Hipospadia sendiri berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di
bawah dan spadon yang berarti keratan yang panjang (Sastrasupena,
1995). Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang
terletak di sebelah ventral penis dan proksimal ujung penis. Letak meatus
uretra bisa terletak pada glandular hingga perineal (Purnomo, 2011).
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara
1.000 bayi baru lahir. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang
uretra terletak di dekat ujung penis, yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia
yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau
pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah
skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu
jaringan fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke
bawah pada saat ereksi (Sjamsuhidajat, 2005).

B. Epidemiologi
Hipospadia terjadi 1:300 kelahiran bayi laki-laki hidup di Amerika
Serikat. Kelainan ini terbatas pada uretra anterior. Pemberian estrogen dan
progestin selama kehamilan diduga meningkatkan insidensinya. Jika ada anak
yang hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20% anggota keluarga yang
lainnya juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial namun
tidak ditemukan ciri genetik yang spesifik.
BDMP menyatakan bahwa insdensi hipospadia meningkat menjadi
20,2 per 10.000 kelahiran hidup pada 1.970-39,7 per 10 000 kelahiran hidup
pada tahun 1993. Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark
tahun 1989-2003 tercatat 65.383 angka kelahiran bayi laki-laki dengan

jumlah kelainan alat kelamin (hipospadia) sebanyak 319 bayi (Sjamsuhidajat,


2005).

C. Etiologi
Hipospadia hasil dari fusi yang tidak lengkap dari lipatan uretra terjadi
pada usia kehamilan pada minggu ke 8 dan ke 14. Diferensiasi seksual lakilaki pada umumnya tergantung pada hormon testosteron, dihydrotestosteron,
dan ekspresi reseptor androgen oleh sel target. Gangguan dalam
keseimbangan sistem endokrin baik faktor-faktor endogen atau eksogen dapat
menyebabkan hipospadia. Indikasi untuk beberapa faktor risiko lain juga
telah dilaporkan. Namun, etiologi hipospadia masih belum diketahui
(Brouwers, 2006).
a. Metabolisme Androgen
Diferensiasi seksual yang normal tergantung pada testosteron dan
metabolismenya

bersamaan

dengan

kehadiran

reseptor

androgen

fungsional. Gangguan genetik dalam jalur metabolisme androgen


(misalnya disfungsi 5 -alfa-reduktase II atau gangguan reseptor androgen)
dapat menyebabkan hipospadia. Meskipun kelainan dalam metabolisme
androgen dapat menyebabkan hipospadia yang berat, namun tidak dapat
menjelaskan etiologi terjadinya hipospadia yang sedang dan ringan
(Baskin, 2000).
b. Sinyal Seluler Abnormal
Hipotesis lain mengenai hipospadia adalah adanya abnormalitas
dari perantara seluler selama perkembangan alat kelamin. Hipotesis ini
berdasarkan penemuan terjadi perubahan diferensiasi otot halus pada
perkembangan genitalia pria dan wanita (Baskin, 2000).
c. Gangguan Endokrin
Salah satu penyebab hipospadia kemungkinan disebabkan adanya
kontaminasi lingkungan, dimana dapat mengintervensi jalur androgen
yang normal dan dapat mengganggu sinyal seluler. Hal ini dapat diketahui
dari beberapa bahan yang seing dikonsumsi oleh manusia yang banyak

mengandung aktivitas estrogen, seperti pada insektisida yang sering


digunakan untuk tanaman, estrogen alami pada tumbuhan, produk-produk
plastic, dan produk farmasi. Selain itu, banyak bahan logam yang
digunakan untuk industry makanan, bagian dalamnya dilapisi oleh bahan
plastic yang mengadung substansi estrogen. Substansi estrogen juga dapat
ditemukan pada air laut dan air segar, namun jumlahnya hanya sedikit.
Ketika estrogen tersebut masuk ke dalam tubuh hewan, jumlah estrogen
paling tinggi berada pada puncak rantai makanan, seperti ikan besar,
burung, mamalia laut dan manusia, sehingga menyebabkan kontaminasi
estrogen yang cukup besar. Pada beberapa spesies, kontaminasi estrogen
dapat mempengaruhi fungsi reproduksi dan kesehatan. Sebagai contoh,
terjadi penipisan kulit telur karena pengaruh estrogen (Baskin, 2000).
d. Faktor Genetik
Usia ibu saat melahirkan dapat menjadikan salah satu factor resiko
terjadinya hipospadia. Sebuah langsung korelasi terlihat antara usia ibu
yang tua dengan meningkatkan kejadian hipospadia, dan lebih ditandai
dengan bentuk parah dari cacat lahir (Fisch, 2001).
Faktor genetik dan non genetik berpengaruh dalam terjadinya
hipospadia, dengan terjadinya hipospadia familial terjadi pada 28% kasus
mekanisme genetik yang sebenarnya sangat rumit dan bervariasi. Adanya
kemungkinan

dari

penurunan

gen

autosomal

dominan

sedang

diperdebatkan, hipotesis lain adalah penurunan gen autosomal resesif


dengan manifestasi inkomplit. Aberasi kromosomal ditemukan secara
sporadik. Faktor non-genetik utama yang dihubungkan dengan hipospadia
adalah pemberian hormon sexual, peningkatan insiden hipospadia
ditemukan pada bayi yang lahir yang ibunya terpapar terapi estrogen
selama kehamilan. Prematuritas juga memiliki kejadian yang lebih besar
dengan hipospadia dibandingkan dengan populasi umum (Schnack, 2007).

D. Klasifikasi Hipospadia
Berdasarkan letak muara uretra, Browne (1936) membagi hipospadia:
a. Hipospadia Anterior
Hipospadia anterior terdiri atas tipe granular, subkoronal dan penis distal
b. Hipospadia Medius
Hipospedia medius terdiri atas midshaft dan penis proksimal
c. Hipospadia Posterior
Hipospadia posterior terdiri atas peoskrotal, skrotal dan perineal
(Purnomo, 2001)

BAB III
KESIMPULAN

Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi
seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat
menyebabkan kerusakkan jaringan. Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan 2
cara: sumber penyebab dan derajat atau kedalaman luka bakar. Berdasarkan
sumber di bedakan atas panas, bahan kimia, listrik, cahaya dan radiasi.
Berdasarkan derajat dibagi menjadi derajat satu, dua A, dua b, tiga dan empat.
Luas luka bakar dihitung berdasarkan rumus Rule Of Nine atau Rule of
Wallace. Bila permukaan tubuh dihitung sebagai 100%, maka kepala adalah 9%,
tiap-tiap ekstremitas bagian atas adalah 9%, dada bagian depan adalah 18%,
bagian belakang adalah 18 5, tiap-tiap ekstremitas bagian bawah adalah 18% dan
leher 1%. Initial assessment pada penanganan luka bakar yaitu ada primery survey

dan secendary survey. Dimana pada primary survey terdapat monitoring airway,
breathing, circulation dan dissability. Penatalaksanaan paka luka bakar yaitu
sesuai dengan fase luka bakar dan resusitasi cairan.
Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan
luasnya permukaan luka bakar, dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan.
Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia dan keadaan kesehatan penderita
juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. Sistemic Inflammatory Response
Syndrome (SIRS), Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS),dan
Sepsis adalah komplikasi dari luka bakar.