Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

KANKER SERVIKS

OLEH:
Anrian Pratama Pah
0908012829
PEMBIMBING:
dr. Unedo H. M. Sihombing, Sp.OG

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG
2014

HALAMAN PENGESAHAN

Referat ini diajukan oleh:


Nama

: Anrian Pratama Pah

Fakultas

: Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang

Bagian

: Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

Referat ini telah disusun dan dilaporkan dalam rangka memenuhi salah satu syarat
Kepaniteraan Klinik di Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z.
Johannes Kupang.

PEMBIMBING KLINIK

1. dr. Unedo H. M. Sihombing, Sp. OG

Ditetapkan di

: Kupang

Tanggal

: November 2014

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kanker serviks merupakan suatu masalah kesehatan perempuan yang cukup besar,
dimana keganasan pada serviks merupakan keganasan tersering ketiga di dunia dan
penyebab kematian tertinggi kedua di negara-negara berkembang. 1 Pada tahun 2012
terjadi 528.000 kasus baru dan sebanyak 266.000 kematian terjadi akibat kanker serviks.
Insidens yang lebih tinggi dapat ditemukan di negara berkembang, yang menyumbang
seitar 84% dari total seluruh kasus kanker serviks di dunia tiap tahunnya. Dari 528.000
kasus yang terjadi pada tahun 2012, sebanyak 445.000 kasus terjadi di negara
berkembang.2 Sebanyak 8.9% penduduk dunia mengalami kanker serviks, dan sebanyak
2.8% meninggal karenanya. Di Indonesia, kanker serviks merupakan keganasan yang
paling sering ditemukan di berbagai laboratorium patologi dan rumah sakit. 3,4 Data
Indonesian Society of Gynecologic Oncology (INASGO) menunjukkan sebanyak 760
kasus kanker serviks terjadi pada tahun 2013, jauh lebih banyak dibandingkan dengan
kejadian keganasan ginekologik lainnya.Error: Reference source not found Data di
Rumah Sakit Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang pada tahun 2013 menunjukkan bahwa
terdapat 49 pasien yang didiagnosis dengan kanker serviks pada tahun tersebutError: Reference
source not found

Kanker serviks memberikan beban yang cukup besar secara ekonomi. Penelitian yang
dilakukan oleh Fleurence (2006) menunjukkan bahwa jumlah biaya untuk menangani
kondisi yang berhubungan dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang
merupakan etiologi dari kanker serviks adalah sebesar 2.25-4.6 milyar dollar Amerika
setiap tahunnya. Beban yang ditimbulkan penyakit ini hanya lebih rendah dari infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memberikan beban emosional dan sosial serta
hambatan dalam fungsi seksual penderitanya.5
Kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi dan
pemeriksaan screening berkala, namun adanya kesulitan ekonomi, terutama di negaranegara berkembang, menjadi suatu masalah yang meningkatkan kejadian kanker serviks
di negara berkembang.

Tingginya kejadian kanker serviks dan besarnya beban yang ditimbulkan pada keadaan
ekonomi, sosial serta emosional pasien serta pentingnya pencegahan kanker serviks
membuat penulis merasa sangat perlu untuk membuat referat yang membahas tentang
kanker serviks ini.
1.2. Tujuan
- Untuk menambah informasi dan pengetahuan tentang kanker serviks.
- Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan kanker serviks
- Sebagai acuan informasi untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang kanker
serviks, khususnya di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes
- Sebagai salah satu syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik dokter muda di stase
Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes dan Fakultas Kedokteran
Universitas Nusa Cendana Kupang.
1.3. Manfaat
- Memberikan informasi bagi pembaca tentang kanker serviks mulai dari penyebab,
patogenesis hingga penatalaksanaannya.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan kanker serviks
- Menjadi salah satu bahan acuan untuk membuat penelitian ataupun karya tulis
selanjutnya.

BAB 2
ISI
2.1

Anatomi dan Histologi Serviks

Serviks uterus adalah bagian 1/3 inferior dari uterus yang berbentuk silinder, yang
berukuran 2.5 cm pada wanita yang tidak hamil. Serviks dibagi menjadi dua bagian, yaitu
bagian supravaginal yang berada diantara isthmus dan vagina, dan bagian vaginal, yang
menonjol ke dalam rongga vagina, di dinding anterior vagina. 6 Bagian vaginal dari
serviks, atau yang disebut juga dengan portio vaginalis, dilapisi dengan sel epitel
skuamous tidak bertanduk dan beberapa sel kelenjar mucus. Pada serviks terdapat saluran
menuju uterus yang disebut dengan orifisium uteri eksternus yang kemudian beralih ke
kanalis endoserviks, yang memiliki panjang kurang lebih 2 cm dan dilapisi dengan sel
epitel kolumnar dan kelenjar endoserviks. Di antara serviks dan kanalis endoserviks yang
memiliki lapisan epitel yang berbeda jenis selnya, terdapat area yang disebut dengan zona
transformasi atau sambungan skuamokolumnar. Zona peralihan antara sel skuamous ke
sel kolumnar inilah yang merupakan area yang paling rentan mengalami neoplasia.7

Gambar 1. Anatomi organ reproduksi wanitaError: Reference source not found

2.2

Etiopatogenesis

Kanker serviks disebabkan oleh adanya infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Banyak
penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa DNA dari HPV
terdeteksi pada sebesar 90 hingga 100% dari spesimen lesi serviks yang diteliti.8
HPV adalah virus kecil nonenveloped dengan diameter 55mm. Virus ini memiliki kapsid
ikosahedral yang terdiri dari 72 kapsomer yang setidaknya memiliki dua protein kapsid,
yaitu L1 (mayor) dan L2 (minor). Setiap kapsomer merupakan pentamer dari protein
kapsid mayor. Setiap kapsid virion memiliki beberapa kopi dari protein kapsid minor.
Genom virus ini terdiri dari satu molekul tunggal DNA sirkular rantai ganda, yang secara
fungsional dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama ialah noncoding upstream
regulatory region (URR). Bagian ini menganding p97 core promoter dan enhancer serta
silencer sequence yang mengatur replikasi DNA dengan cara mengontrol replikasi dua
bagian genom lainnya. Bagian kedua ialah early region, yang memiliki gen
E1,E2,E3,E4,E5,E6,E7 dan E8. bagian inilah yang terlibat dalam onkogenesis. Bagian
gen early region yaitu gen E6 dan E7 adalah onkoprotein, yang menentukan apakah
sebuah subtipe virus HPV bersifat invasif atau tidak. Ekspresi dari produk gen di bagian
ini menentukan apakah infeksi HPV merupakan infeksi aktif, infeksi laten, atau infeksi
yang berresiko tinggi bertransformasi menjadi malignansi. Bagian ketiga adalah late
region yang mengkode protein struktur L1 dan L2 untuk kapsid virus. Fungsi dari gen
HPV adalah sebagai berikut.9

Kategori gen

Gen

Fungsi

Early gene

E1

Replikasi virus

E2

Modulasi

transkripsi

replikasi
E3

Tidak diketahui

E4

Infeksi virus produktif

E5

Transformasi

dan

E6

Onkoprotein;

interaksi

dengan protein p53


E7

Onkoprotein;

interaksi

dengan protein pRb

Late gene

E8

Tidak diketahui

L1

Protein kapsid major

L2

Protein kapsid minor


Tabel 1. Fungsi gen HPV

Transmisi HPV terjadi melalui kontak kulit. Sel basal dari epitel skuamous berlapis dapat
terkena infeksi dari HPV, sementara sel lain cenderung resisten. Siklus replikasi HPV
dimulai dari masuknya virus ke dalam sel membrana basalis epitel. Masuknya HPV ke
dalam membrana basalis mungkin membutuhkan mikrotrauma epidermis. DNA dari HPV
akan melakukan replikasi sel dan bergerak ke permukaan epitel ketika virus ini telah
masuk ke dalam sel penjamu. Pada membrana basalis, replikasi virus bersifat
nonproduktif dan virus menjadi episom low-copy number, dan saat berada di atas lapisan
suprabasal, virus berubah menjadi episom high-copy number, yang memungkinkan
sintesis protein kapsid dan penyusunan virus.
Pada keadaan dimana terjadi neoplasia intraepitel dan kanker invasif, DNA HPV
terintegrasi ke dalam host genom, sementara pada kelainan jinak, DNA virus terletak di
dalam nukleus, namun berada di luar kromosom. Integrasi DNA HPV pada kelainan
invasif membuat terjadinya disrupsi atau delesi daerah E2 yang mengakibatkan tidak
terjaadinya ekspresi gen ini. Hal ini berarti, ekspresi E6 dan E7 akan meningkat, karena
pengaturan ekspresi kedua gen ini diatur oleh E2 yang telah mengalami delesi. Ekspresi
E6 dan E7 yang meningkat akan menyebabkan deregulasi dari siklus pertumbuhan sel
penjamu dengan cara mengikat dan menginaktivasi dua protein penghambat tumor yaitu
p53 dan produk gen retinoblastoma atau pRb. Produk gen E6 akan berikatan dengan p53
dan memicu degradasi cepat. Hal ini menyebabkan terhentinya fungsi G1, apoptosis dan

DNA repair yang diatur oleh p53. kemampuan ini tidak dimiliki oleh HPV low invasive,
dimana pada penelitian in vitro, protein E6 HPV low invasive tidak berikatan degnan p53
dan tidak mengganggu stabilitasnya.
Produk gen E7 berikatan dengan pRb dan ikatan ini mengganggu kompleks antara pRb
dan faktor transkripsi selular E2F-1, yang menyebabkan penurunan fungsi E2F-1, yang
berperan dalam transkripsi gen yang produknya dibutuhkan bagi sel untuk masuk ke
dalam fase S dalam siklus sel. Pada HPV low risk, protein E7 berikatan dengan pRb
dengan afinitas yang rendah.
Produk gen E5 akan menginduksi peningkatan aktivitas mitogen-activated protein kinase
(MAPK) yang akan mengakibatkan peningkatan respon selular terhadap faktor
pertumbuhan dan diferensiasi. Hal ini mengakibatkan sel penjamu mengalami proliferasi
secara terus-menerus dan diferensiasi sel mengalami keterlambatan.
Inaktivasi protein p53 dan pRb akan meningkatkan proliferasi dan instabilitas genom. Hal
ini menyebabkan sel penjamu mengalami kerusakan DNA yang terus menerus meningkat
dan tidak dapat diperbaiki, yang menyebabkan terjadinya transformasi sel menjadi sel
kanker. Proses metilasi DNA virus dan sel, aktivasi telomerase dan faktor-faktor
imunigenetik juga berperan dalam transformasi sel menjadi sel kanker.Error: Reference source not
found

Gambar 2. Mekanisme onkogenik infeksi HPVError: Reference source not found

Infeksi HPV yang dapat menyebabkan displasia pada sel serviks banyak terjadi pada
wanita yang aktif secara seksual. Meskipun demikian, sebanyak 90% dari infeksi HPV
dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun, dan hanya 5% yang
berubah menjadi Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN) atau neoplasia intraepitel
serviks dalam 2-3 tahun. Sebanyak 20% infeksi CIN 3 berubah menjadi kanker serviks
invasif dalam 5 tahun dan 40% berubah dalam 30 tahun. Beberapa faktor yang
diperkirakan sebagai penyebab berubahnya sebagian kecil infeksi HPV menjadi kanker
serviks adalah sebagai berikut.10

Tipe dan durasi infeksi HPV. Beberapa tipe HPV dihubungkan dengan penyakit
lain atau justru memiliki resiko yang rendah untuk menyebabkan HPV. Adapun
pembagian kelompok HPV berdasarkan hubungannya dengan penyakit tertentu
dan resikonya menyebabkan neoplasia dan kanker serviks adalah sebagai
berikut.11

Tabel 2. Kategori HPV berdasarkan penyakit yang berhubungan Error: Reference source not found

Kondisi host. Beberapa faktor host yang dapat mempengaruhi berubahnya infeksi
HPV menjadi neoplasia adalah keadaan seperti status gizi yang buruk, penurunan
sistem imun, dan infeksi HIV.

Faktor lingkungan

Kurangnya akses terhadap skrining rutin

Gambar 3. Perjalanan penyakit kanker serviksError: Reference source not found

2.3

Epidemiologi

Kanker serviks merupakan keganasan tersering ketiga di dunia dan penyebab kematian
tertinggi kedua di negara-negara berkembang.Error: Reference source not found Pada
tahun 2012 terjadi 528.000 kasus baru dan sebanyak 266.000 kematian terjadi akibat
kanker serviks. Insidens yang lebih tinggi dapat ditemukan di negara berkembang, yang
menyumbang seitar 84% dari total seluruh kasus kanker serviks di dunia tiap tahunnya.
Dari 528.000 kasus yang terjadi pada tahun 2012, sebanyak 445.000 kasus terjadi di
negara berkembang.12 Sebanyak 8.9% penduduk dunia mengalami kanker serviks, dan
sebanyak 2.8% meninggal karenanya.Error: Reference source not found
Untuk wilayah ASEAN, sebanyak 25.0% wanita Singapura dengan ras Cina dan 17.8%
wanita dengan ras Melayu mengalami kanker serviks. Sementara itu di Indonesia,
diperkirakan ada sekitar 40 ribu kasus kanker serviks baru tiap tahunnya. Data yang
dikumpulkan dari 13 pusat laboratorium patologi di Indonesia menunjukkan bahwa
kanker serviks memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 36%
dari seluruh kanker yang ditemukan. Kanker serviks juga menempati urutan pertama
kanker yang ditemukan di 17 rumah sakit di Jakarta pada tahun 1977. Kebanyakan pasien
datang pada stadium lanjut, yaitu IIB-IVB, dengan pasien terbanyak penderita kanker
serviks stadium IIIB.Error: Reference source not found
Untuk kejadian kanker serviks di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes, data menunjukkan
terjadi 49 kasus kanker serviks pada tahun 2013.13
2.4

Faktor Resiko

Terdapat beberapa faktor yang telah diketahui dapat meningkatkan resiko terjadinya
kanker serviks.
-

Hubungan seksual

Hubungan seksual telah dibuktikan berhubungan dengan meningkatnya resiko terkena


kanker serviks. Wanita yang memiliki pasangan seksual yang banyak memiliki resiko

yang lebih tinggi untuk terkena kanker serviks. Selain itu, wanita yang memiliki onset
hubungan seksual di usia di bawah 18 tahun juga memiliki resiko yang lebih tinggi
yaitu 5 kali lipat dibandingkan dengan yang memiliki onset hubungan seks diatas 18
tahun, karena sel serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa.
-

Pasangan hubungan seksual

Penelitian kasus kontrol menunjukkan bahwa pasien kanker serviks lebih sering
melakukan hubungan seks dengan pasangan yang melakukan hubungan seks berulang
kali. Selain itu, pasangan seksual dari pria dengan kanker penis atau pria yang istrinya
meninggal karena kanker serviks juga memiliki resiko yang meningkat.
-

Riwayat Obstetrik

Kehamilan di usia muda dan manajemen persalinan yang tidak tepat, atau jumlah
kehamilan yang tidak sesuai dapat meningkatkan resiko kanker serviks.
2.5
2.5.1

Diagnosis
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Pada negara yang telah menjalankan skrining kanker serviks secara rutin, pasien yang
asimptomatis biasanya diketahui mengalami perubahan sel serviks pada pemeriksaan
rutin Pap smear. Pasien dengan kanker serviks biasanya mengeluhkan perdarahan per
vaginam, yang biasanya terjadi setelah melakukan hubungan seksual (post-coital
bleeding). Pasien juga dapat mengeluhkan adanya rasa tidak nyaman di vagina, keluarnya
cairan berbau, dan disuria. Pada kanker yang telah menyebar ke vesika urinaria dan
rectum, dapat muncul gejala-gejala konstipasi, hematuria, fistula dan obstruksi uretra.
Pada pemeriksaan fisik, pasien dengan kanker serviks stadium awal tidak ditemukan
kelainan. Pada serviks yang telah mengalami kelainan lebih lanjut dapat terlihat
abnormalitas seperti erosi, ulkus, maupun adanya masa. Massa yang telah menjalar ke
rektum dapat diperiksa dengan pemeriksaan colok dubur. Metastasis ke perimetrium
dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan bimanual. Adanya hepatomegali dapat

mengarahkan kecurigaan adanya metastasis ke hepar, dan adanya edema tungkai dapat
menunjukkan obstruksi limfatik ataupun vaskular yang terjadi karena tumor.Error:

Reference

source not found

2.5.2

Pemeriksaan Penunjang

a. Papanicolaou Smear
Pemeriksaan Pap Smear dapat digunakan untuk melakukan skrining kanker serviks,
namun penggunaannya dalam menegakkan kanker serviks tidak disarankan. Pap
smear hanya memiliki sensitivitas sebanyak 55-80% dalam mendeteksi lesi serviks
tingkat lanjut, dan pemeriksaan ini menunjukkan hasil positif hanya pada 30-50%
sampel pasien yang telah mengalami kanker stadium I. Pada kanker serviks,
penegakkan diagnosis yang lebih disarankan ialah dengan biopsi menggunakan forsep
Tischler atau kuret Kevorkian.14
b. Kolposkopi dan Biopsi
Kolposkopi dapat digunakan untuk memeriksa serviks secara visual. Biopsi juga
dapat digunakan untuk menilai sel kanker serviks.
2.5.3

StagingError: Reference source not found

Pemeriksaan untuk menentukan stadium atau staging pada kanker serviks dilakukan
secara klinis. Staging dapat dilakukan dengan pemeriksaan pelvis bimanual dengan
bantuan anestesi untuk kenyamanan pasien. Pemeriksaan stadium juga didukung dengan
pemeriksaan laboratorium penunjang, untuk melihat adanya metastasis ke organ lain,
seperti ke uretra, hepar dan paru.

Pemeriksaan yang dilakukan

Hal yang diidentifikasi dari pemeriksaan

Laboratorium
Darah lengkap

Anemia

Urinalisis

Hematuria

Fungsi hepar

Metastasis ke hepar

Ureum dan kreatinin

Hidronefrosis karena obstruksi

Radiologi
Foto thoraks

Metastasis paru

Intravenous pyelogram (IVP)

Hidronefrosis

CT Scan abdomen dan pelvis

Metastasis ke organ sekitar, metastasis ke


kelenjar limfatik, dan hidronefrosis

MRI

Invasi ekstraservikal

PET Scan

Metastasis ke kelenjar limfatik

Prosedural
Sistoskopi

Metastasis ke vesika urinaria

Proktoskopi

Metastasis ke rektum

Pemeriksaan bimanual dibawah anestesi

Penyebaran tumor di rongga pelvis

Tabel 3. Pemeriksaan penunjang untuk penentuan stadium kanker serviksError: Reference source not found

Pemeriksaan bimanual dilakukan untuk menentukan ukuran dan penyebaran tumor, yang
kemudian dapat dikategorikan dalam stadium-stadium tertentu sebagai berikut.

Stage Karakteristik
0

Carcinoma in situ, cervical intraepithelial lesion (CIN) 3

Karsinoma terbatas pada serviks


IA

Invasi terbatas pada stroma dengan kedalaman maksimal 5 mm dan lebar


maksimal 7mm
Kedalaman 3 mm dengan luas <7 mm

Stage Karakteristik
IA1
Kedalaman invasi 3-5 mm dengan luas < 7mm
IA2
IB

Lesi terbatas pada serviks dengan ukuran yang lebih besar daripada lesi stadium
IA
Lesi 4mm

IB1
Lesi > 4 cm
IB2
II

Karsinoma dengan penyebaran melewati serviks namun belum dampai dinding


pelvis, dan melibatkan vagina namun tidak sampai 1/3 inferior vagina.

IIA

Tidak menyebar ke parametrium

IIB

Menyebar ke parametrium

III

Menyebar ke dinding pelvis. Tidak ada ruangan bebas kanker pada pemeriksaan
rectal, tumor melibatkan 1/3 inferior vagina. Semua kasus dengan hidronefrosis
atau penurunan fungsi ginjal.

IIIA

Tidak menyebar ke dinding pelvis, namun melibatkan 1/3 inferior vagina

IIIB

Menyebar ke dinding pelvis, atau adanya hidronefrosis atau penurunan fungsi


ginjal yang terjadi karena tumor

IV

Menyebar ke organ lain atau melibatkan mukosa vesika urinaria atau rectum

IVA Penyebaran ke organ lain intrapelvik


IVB Metastasis jauh
Tabel 4. Stadium kanker serviks.Error: Reference source not found

Gambar 4. Stadium kanker serviks berdasarkan ukuran dan penyebaran lesi.Error: Reference source not found

2.6

Penatalaksanaan

a. Stadium IA1

Kanker serviks stadium ini adalah kanker yang tidak kedalaman invasinya tidak
melebihi 3 mm dan luasnya tidak melebihi 7 mm. Penanganan konservatif dengan
konisasi serviks merupakan penanganan yang efektif pada kanker stadium ini, jika
tidak ada invasi ruang vaskular limfatik (Lymphatic Vascular Space Invasion/LVSI).
Selain itu, histerektomi total intrafasial (histerektomi tipe I) dengan pendekatan
abdominal, vaginal, maupun laparoskopik dapat dilakukan pada pasien yang sudah
cukup anak. Pada prosedur ini, dilakukan pengangkatan uterus, serviks dan juga
eksisi jaringan parametrium. Pada pasien kanker serviks stadium IA1 dengan adanya
LVSI, resiko metastasis ke kelenjar limfe dan rekurensi kanker meningkat 5 persen,
sehingga penanganan yang sering dilakukan adalah dengan histerektomi radikal
modifikasi (histerektomi tipe II) dan limfadenektomi pelvis. Pada histerektomi tipe II,
yang dilakukan adalah pengangkatan serviks, vagina proksimal, serta jaringan
parametrium dan paraserviks.
b. Stadium IA2
Penanganan secara konservatif belum dapat dibuktikan keamanannya pada pasien
dengan kanker serviks stadium IA2. Oleh karena itu pada pasien dengan stadium ini,
dilakukan histerektomi radikal modifikasi dengan limfadenektomi pelvis.
Penatalaksanaan pasien dengan kanker serviks stadium IA2 dengan trakelektomi
radikal dan limfadenektomi untuk mempertahankan fungsi reproduksi juga pernah
dilakukan, dan beberapa studi juga merekomendasikan serklase yang dilakukan
menggunakan benang yang tidak dapat diserap setelah tindakan trakelektomi untuk
mempertahankan kompetensi serviks saat pasien hamil. Teknik ini memiliki angka
kesembuhan yan tinggi dan kehamilan pada pasien kanker yang menjalani
penatalaksanaan ini juga pernah dilaporkan.
Kanker serviks stadium IA1 dan IA2 juga dapa ditangani dengan brakiterapi vaginal,
khususnya pada pasien yang sudah tua, pasien yang tidak dapat dioperasi karena
alasan medis tertentu, atau yang memilih untuk tidak mempertahankan fungsi
hormonal dan seksualnya, dengan mengingat bahwa terapi radiasi dapat

menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti perubahan fungsi seksual yang


terjadi karena pemendekan vagina, dyspareunia, stenosis vagina dan juga komplikasi
lain seperti fistula, enteritis, proktitis dan obstruksi usus. Pada pasien dengan kanker
serviks stadium ini dapat dilakukan radiasi dengan total radiaso 75-80 Gy.15
c. Stadium IB dan IIA
Kanker pada stadium ini dapat ditangani dengan pembedahan atau terapi radiasi. Pada
sebuah studi yang dilakukan oleh Landoni tahun 1997, sebanyak 393 perempuan
dipilih secara acak untuk menjalani histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis
atau menjalani terapi radiasi primer. Kedua kelompok pasien memiliki angka fiveyear survival yang seimbang secara statistik, namun pasien yang menjalani operasi
memiliki angka morbiditas yang lebih tinggi.
Pemilihan antara radioterapi atau pembedahan harus mempertimbangkan faktor
pasien, seperti status menoopausal, umur, keadaan medis lainnya, histologi dari
tumor, dan diameter serviks. Secara umum, histerektomi radikal biasanya dilakukan
pada wanita dengan IMT yang rendah, yang ingin mempertahankan fungsi
ovariumnya dan tidak ingin mengalami perubahan secara seksual yang dapat terjadi
setelah radioterapi. Pada pasien seperti ini, ooforektomi bisa tidak dilakukan. Hal ini
didukung oleh hasil studi Gynecologic Oncology Group yang menunjukkan bahwa
metastasis ke ovarium hanya terjadi pada 0.5% dari pasien dengan kanker sel
skuamous dan hanya 2% pada pasien dengan adenokarsinoma. Pada pasien yang
ditemukan mengalami metastasis sel ke limfonodus maka histerektomi tidak
direkomendasikan dan pasien harus ditangani dengan kemoradiasi. Pasien juga dapat
menjalani radioterapi pelvis dan brakiterapi dengan atau tanpa kemoterapi.
Kemoterapi yang digunakan pada pasien adalah sebagai berikut.Error: Reference source not found
-

Cisplatin

40mg/m2 intravena

sekali

seminguu,

namun

tidak

melebihi

70mg/minggu ditambah dengan radioterapi 1.8-2 Gy per fraksi, minimal 4 siklus


dan maksimal 6 siklus.

Cisplatin 50-75 mg/m2 pada hari pertama, ditambah dengan 5-fluorouracil (5-FU)
1000mg/m2 pada hari kedua hingga hari ke-5 dan hari ke-30 hingga hari ke-33
dengan total dosis 4000mg/m2 tiap pemberiannya.

Cisplatin 50-75 mg/m2 IV pada hari pertama ditambah dengan infus intravena 5FU 1000mg/m2 dalam 24 jam pada hari pertama hingga hari keempat setiap 3
minggu dengan total 3-4 siklus.

d. Stadium IIB-IVA
Kebanyakan kanker stadium lanjut memiliki prognosis yang buruk, dimana five-year
survival rate pasien-pasien ini kurang dari 50%. Kanker pada stadium ini dapat
memburuk dengan cepat jika tidak ditangani.
Terapi radiasi merupakan terapi utama dalam penanganan kanker serviks stadium
lanjut. Radiasi pelvis eksternal dikombinasikan dengan brakiterapi, dan dilakukan
dalam 25 fraksi dalam 5 minggu. Jika ditemukan metastasis kelenjar limfe paraaortal,
dapat dilakukan radiasi dengan lapangan yang diperluas untuk menangani metastasis
tersebut.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa radiasi dipadukan dengan kemoterapi dapat
meningkatkan keadaan umum dan angka keselamatan pasien dengan kanker serviks.
Oleh karena itu, pasien dengan kanker serviks stadium IIB sampai IVA lebih baik
ditangani dengan menggunakan kemoradiasi. Regimen yang menggunakan cisplatin
dihubungkan dengan angka keselamatan yang tingi. Alternatif regimen yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut.Error: Reference source not found
-

Cisplatin 40 mg/m2 IV sekali seminggu (tidak melebihi 70mg/minggu)


ditambah radioterapi 1.8-2 Gy per fraksi (minimum 4 siklus; maksimum 6
siklus)

Cisplatin 50-75 mg/m2 IV pada hari pertama, ditambahkan 5-FU 1000


mg/m2 dalam infuss intravena berkelanjutan selama 24 jam pada hari ke-2 hingga
hari ke-5 dan hari ke-30 hingga hari ke-33

Cisplatin 50-75 mg/m2 IV pada hari pertama ditambah dengan infus 5-FU 1000
mg/m2 dalam 24 jam pada hari pertama hingga hari ke-4 dengan (total dosis 4000
mg/m2 tiap siklus) setiap 3 minggu dengan total 3 hingga 4 siklus.

e. Stadium IVB
Pasien dengan kanker serviks stadium IVB memiliki prognosis yang buruk. Prinsip
penanganan pada stadium ini adalah penanganan paliatif, dimana dilakukan radiasi
pelvis untuk mengendalikan perdarahan pervaginam dan nyeri yang dialami pasien.
Kemoterapi sistemik diberikan untuk mengurangi keluhan. Kemoterapi yang
diberikan pada pasien seperti ini mirp regimennya dengan pasien denan kanker yang
mengalami rekurensi. Terapi lini pertama pada pasien kanker serviks stadium IVB
adalah sebagai berikut.
-

Bevacizumab 15mg/kgBB IB dalam 30-90 menit ditambah cisplatin 50 mg/m 2 IV


dalam 30-90 menit pada hari pertama atau kedua, ditambah dengan paclitaxel
135/175 mg/m2 IV dalam 3 jam atau 24 jam pada hari pertama setiap 3 minggu

Bevacizumab 15mg/kg IV dalam 30-90 menit ditambah dengan paclitaxel 175


mg/m2 dalam 3 jam pada hari pertama, ditambah topotecan 0.75 mg/m 2 IV dalam
30 menit pada hari 1-3 setiap minggunya

Paclitaxel 135 mg/m2 IV dalam 24 jam diikuti dengan cisplatin 50 mg/m2 pada
hari pertama tiap tiga minggu

Topotecan 0,75 mg/m2 IB pada hari pertama hingga hari ketiga diikuti dengan
cisplatin 50 mg/m2 pada hari pertama tiap 3 minggu.

Terapi lini kedua untuk kanker serviks stadium IVB adalah docetaxel, gemcitabine,
ifosfamide, 5-FU, mitomycin, irinotecan dan topotecan yang dikategorikan dalam
kategori rekomendasi 2B.Error: Reference source not found
2.7

Pencegahan

a.

Pencegahan PrimerError: Reference source not found


-

Menunda Onset Aktivitas Seksual

Penelitian menunjukkan bahwa resiko kanker serviks dapat diturunkan secara


signifikan dengan menunda onset aktivitas seksual hingga usia 20 tahun.
-

Penggunaan Kontrasepsi Barier

Penggunaan kontrasepsi barrier seperti kondom dan diafragma dapat mencegah


masuknya HPV ke serviks, sehingga dapat mencegah terjadinya kanker serviks.
-

Vaksinasi HPV

Vaksinasi HPV memiliki kekuatan proteksi terhadap kanker serviks lebih dari 90%.
Vaksin ini bertujuan untuk mencegah perkembangan HPV dan rangkaian perubahan
yang dapat berakhir dengan kanker serviks.
b.

Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder pada kanker serviks ialah dengan deteksi dini kanker serviks,
yaitu dengan IVA atau dengan pemeriksaan Pap smear.
-

IVA

IVA adau Inspeksi Serviks dengan Asam Asetat adalah prosedur yang dilakukan untuk
melihat lesi prakanker pada serviks. Prinsip pemeriksaan ini ialah adanya peningkatan
protein dan sitokeratin yang meningkat pada sel serviks yang mengalami neoplasia,
yang akan bereaksi dengan asam asetat, dan berubah warna menjadi putih
(acetowhitening).
Pemeriksaan IVA memiliki sensitivitas sebesar 80%, dan spesifitas sebesar 92%
dalam mendeteksi lesi prakanker (neoplasia intraepitel serviks). Pemeriksaan ini
merupakan pemeriksaan yang sederhana, murah dan efisien untuk dilakukan pada
daerah dengan keterbatasan sarana.16

Pap Smear dan Pemeriksaan HPV DNA

Pemeriksaan Pap smear adalah pemeriksaan sitologi apusan serviks. Pemeriksaan ini
telah terbukti menurunkan kejadian kanker serviks, dimana di Amerika Serikat,
kanker serviks yang awalnya merupakan salah satu penyebab kematian karena kanker
terbesar kini menurun ke peringkat 14. Pemeriksaan Pap smear dapat mendeteksi
adanya kelainan mulai dari cervical intraepithelial neoplasia (CIN). CIN adalah
kelainan intraepitelial sel skuamous yang memiliki atipia nuklear dan dapat berubah
menjadi karsinoma jika tidak ditangani. Awalnya CIN dibagi menjadi beberapa
kategori berdasarkan resiko berubahnya neoplasia menjadi karsinoma, dengan CIN III
merupakan yang memiliki asosiasi paling kuat, namun pemisahan ini telah diabaikan
secara klinis karena dibuktikan bahwa CIN I dan II berhubungan dengan CIN III dan
kelainan yang kecil dapat berubah menjadi karsinoma.17

Gambar 5. Cervical Intraepithelial Neoplasia

American Cancer Society, American Society for Colposcopy and Cervical Pathology,
dan American Society for Clinical Pathology merekomendasikan penggunaan
pemeriksaan sitologi serviks dengan pemeriksaan HPV DNA untuk deteksi dini yang
lebih baik. Pemeriksaan untuk deteksi dini disarankan dilakukan setelah usia 21
tahun. Pemeriksan tidak disarankan untuk dilakukan sebelum usia 21 tahun meskipun
telah terjadi onset aktivitas seksual sebelumnya, karena pada usia ini, lesi prekanker
sangat mungkin untuk sembuh dengan sendirinya, dan deteksi pada usia ini dapat
menyebabkan penenganan yang berlebihan (overtreatment) yang justru berbahaya
bagi pasien.
Pemeriksaan sitologi disarankan untuk dilakukan setiap tiga tahun sekali pada wanita
dengan usia 21-29 tahun. Pemeriksaan HPV DNA tidak disarankan pada kelompok
umur ini, karena prevalensi infeksi HPV pada wanita di kelompok usia ini sangat
tinggi, sehingga pemeriksaan tidak perlu dilakukan untuk mencegah penatalaksanaan
yang berlebihan.
Pada wanita berusia 30-65 tahun, disarankan pemeriksaan sitologi dan HPV DNA
sekali tiap 5 tahun, atau hanya sitologi tiap 3 tahun. Pemeriksaan HPV DNA juga
dilakukan, untuk meningkatkan sensivitas pemeriksaan, terutama terhadap deteksi
adenokarsinoma.18
2.8

Prognosis

Terdapat berbagai faktor yang menentukan prognosis dari kanker serviks, seperti
ukuran dan staging. Salah satu penentu yang paling signifikan adalah staging, terutama
yang dikemukakan dari International Federation of Gynecology and Obstetrics
(FIGO), yang sebelumnya telah dibahas. Selain itu, penyebaran kanker ke nodus
limfatik juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan prognosis.Error: Reference
source not found

Stadium

5-Year Survival

93%

IA

93%

IB

80%

IIA

63%

IIB

58%

IIIA

35%

IIIB

32%

IVA

16%

IVB

15%

Tabel 4. Prognosis kanker serviks berdasarkan stadium19

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Kanker serviks ialah penyakit yang hamper seluruhnya disebabkan karena infeksi Human
Papilloma Virus (HPV) Infeksi menetap HPV tipe tertentu pada serviks dapat berubah
menjadi lesi prakanker dan berakhir dengan kanker serviks. Kanker serviks merupakan
keganasan tersering ketiga di dunia dan penyebab kematian tertinggi kedua di negaranegara berkembang. Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa kanker serviks
memiliki indsidens yang tertinggi, dibandingkan dengan kejafdian kanker lainnya.
Beberapa faktor resiko, seperti onset hubungan seksual, jumlah pasangan seks dan
riwayat ginekologis tertentu dapat menyebabkan kanker serviks. Kanker ini sendiri
biasanya asimptomatik pada stadium awal, namun kemudian bermanifestasi sebagai
adanya perdarahan setelah hubungan seksual atau post-coital bleeding, adanya nyeri dan
keluarnya cairan berbau dari vagina. Pada kanker yang telah mengalami metastasis, dapat
timbul gejala yang sesuai dengan organ yang telah mendapat penyebaran kanker.
Diagnosis pada kanker serviks ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang seperti pemeriksaan sitologi, kolposkopi dan biopsi untuk menegakkan
diagnosis kanker, dan juga pemeriksaan fisik digital vagina dan pemeriksaan
laboratorium lainnya untuk menentukan stadium dari kanker serviks. Penatalaksanaan
pada kanker serviks dilakukan berdasarkan stadiumnya, mulai dari penanganan
konservatif, pembedahan, kemoradiasi hingga penanganan paliatif. Pencegahan dilakukan
dengan cara menunda onset hubungan seksual, penggunaan vaksinasi HPV, penggunaan
kontrasepsi barrier, dan deteksi dini menggunakan pemeriksaan sitologi Paps Smear,
IVA dan pemeriksaan HPV DNA.

DAFTAR PUSTAKA

Jemal A, Bray F, Center MM, Ferlay J, Ward E, Forman D. Global cancer statistics. CA Cancer J
Clin. Mar-Apr 2011;61(2):69-90.
2
Globocan.iarc.fr. Fact Sheets by Cancer [Internet]. 2014 [cited 30 October 2014]. Available from:
http://globocan.iarc.fr/Pages/fact_sheets_cancer.aspx
3
Rasjidi, I. Epidemiologi Kanker Serviks. IJoC. Juli-September 2009;3:103-8
4
Inasgo.org. ..:: Indonesian Society of Gynecologic Oncology (INASGO) ::.. [Internet]. 2014 [cited
3 November 2014]. Available from: http://inasgo.org/
5
Fleurence R, Dixon J, Milanova T, Beusterien K. Review of the economic and quality-of-life
burden of cervical human papillomavirus disease. American Journal of Obstetrics and Gynecology
[Internet]. 2007 [cited 31 October 2014];196(3):206-212. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.ajog.2007.01.028
6
Uterus. Dalam Moore clinically oriented anatomy. [S.l.]: Lippincott Williams & Wil; 2013:385
7
Sokol E. Clinical Anatomy of the Uterus, Fallopian Tubes, & Ovaries. GLOWM [Internet]. 2009
[cited 26 October 2014];. Available from: http://dx.doi.org/10.3843/glowm.10001
8
Bosch F, Qiao Y, Castellsagu\'e X. The epidemiology of human papillomavirus infection and its
association with cervical cancer. International Journal of Gynecology \& Obstetrics. 2006;94:8--21.
9
Gomez D, Santos J. Human papillomavirus infection and cervical cancer: pathogenesis and
epidemiology. Communicating Current Research and Educational Topics and Trends in Applied
Microbiology. 2007;:680--688.
10
Boardman C. Cervical Cancer Staging [Internet]. emedicine.medscape.com. 2014 [cited 19
October 2014]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2006486-overview
11
Burd E. Human papillomavirus and cervical cancer. Clinical microbiology reviews.
2003;16(1):1--17.
12
Globocan.iarc.fr. Fact Sheets by Cancer [Internet]. 2014 [cited 30 October 2014]. Available from:
http://globocan.iarc.fr/Pages/fact_sheets_cancer.aspx
13
Rumah Sakit Umum Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Data Kejadian Kanker Serviks di RSUD
Prof. Dr. W. Z. Johannes tahun 2013. Kupang; 2014.
14
Schorge J, Williams J. Cervical Cancer: Introduction. Dalam Williams Gynecology. New York:
McGraw-Hill Medical; 2008.
15
Emedicine.medscape.com. Cervical Cancer Treatment Protocols [Internet]. 2014 [cited 2
November 2014]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/2005259-overview
16
Sauvaget C, Fayette J, Muwonge R, Wesley R, Sankaranarayanan R. Accuracy of visual
inspection with acetic acid for cervical cancer screening. International Journal of Gynecology &
Obstetrics [Internet]. 2011 [cited 22 October 2014];113(1):14-24. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.ijgo.2010.10.012
17
Crum C, McLachlin C. Cervical intraepithelial neoplasia. J Cell Biochem. 1995;59(S23):71-79.
18
Saslow D, Solomon D, Lawson H, Killackey M, Kulasingam S, Cain J et al. American Cancer
Society, American Society for Colposcopy and Cervical Pathology, and American Society for
Clinical Pathology Screening Guidelines for the Prevention and Early Detection of Cervical Cancer.
American Journal of Clinical Pathology [Internet]. 2012 [cited 26 October 2014];137(4):516-542.
Available from: http://dx.doi.org/10.1309/ajcptgd94evrsjcg
19
Cancer.org. Survival rates for cervical cancer, by stage [Internet]. 2014 [cited 31 October 2014].
Available from: http://www.cancer.org/cancer/cervicalcancer/detailedguide/cervical-cancer-survival
1