Anda di halaman 1dari 21

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Asuransi Berdasarkan Undang-Undang


Menurut D.S. Hansel, asuransi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan dana dari masyarakat (pemegang
polis) dalam bentuk premi dan sebagai imbalannya setiap peserta berhak memperoleh pembayaran sejumlah
dana apabila terjadi peristiwa atau musibah tertentu.Asuransi merupakan suatu gejala hukum atau fenomena
hukum. Bila ditinjau dari segi hukum, asuransi merupakan suatu persetujuan dan harus tunduk kepada
ketentuan hukum perjanjian.

Mempelajari hukum asuransi, berarti mempelajari ketentuan hukum yang mengatur tentang perjanjian, oleh
karena itu sumber hukum asuransi adalah:
1.

KUHPdt (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) terdiri dari 4 buku, yang masing-masing mengatur hal-hal
sebagai berikut :

1.

Buku ke I mengatur tentang orang (van personen), dibagi dalam 18 bab, yang terdiri dari pasal 1 sampai
dengan pasal 198.

2.

Buku ke II mengatur tentang kebendaan (van zaken), dibagi dalam 21 bab, yang terdiri dari pasal 199 sampai
dengan pasal 1232 (1034 pasal).

3.

Buku ke III mengatur tentang perikatan (van verbintenissen), dibagi dalam 18 bab, yang terdiri dari pasal 1233
sampai dengan pasal 1864 (632 pasal)

4.

Buku ke IV mengatur tentang pembuktian dan daluarsa (van bewjis en verjaring), dibagi dalam 7 bab, yang
terdiri dari pasal 1865 sampai dengan pasal 1993 (129 pasal).

2.

KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang) terdiri atas 2 buku, yang masing-masing mengatur hal-hal
sebagai berikut :

1.

Buku ke I mengatur tentang perdagangan pada umumnya, yang dibagi dalam 10 bab, dan terdiri dari pasal 1
sampai dengan pasal 308. Ketentuan yang mengatur tentang asuransi yaitu pada bab ke 9 (pasal 246- pasal
286) dan pada bab ke 10 tentang pertanggungan terhadap bahaya kebakaran, terhadap bahaya yang
mengancam hasil pertanian di sawah dan tentang pertanggungan jiwa (pasal 287- pasal 308).

2.

Buku ke II mengatur tentang hak dan kewajiban yang timbul dari pelayanan, yang dibagi dalam 13 bab, terdiri
dari pasal 309 sampai dengan pasal 754 (446 pasal). Ketentuan yang mengatur tentang asuransi yaitu pada bab
ke 9 tentang pertanggungan terhadap bahaya-bahaya laut dan bahaya-bahaya perbudakan (pasal 592-pasal
685), bab ke 10 tentang pertanggungan terhadap bahaya-bahaya pengangkutan di darat dan di sungai-sungai
serta perairan pedalaman (pasal 686 pasal 695), bab ke 11 yang mengatur tentang kerusakan (pasal 696pasal 740) dan bab ke 12 tentang ketentuan hapusnya perikatan-perikatan dalam perniagaan laut (pasal 741pasal 747) sedangkan gugurnya tuntutan asuransinya (pasal 746).
Dalam KUHD pasal 246 memberikan pengertian tentang asuransi atau pertanggungan adalah suatu
perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan
menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak
tentu.
2.

Sejarah Asuransi Kesehatan di Indonesia

Perkembangan asuransi kesehatan di Indonesia berjalan sangat lambat dibandingkan dengan perkembangan
asuransi kesehatan di beberapa negara tetangga di ASEAN. Penelitian yang seksama tentang faktor yang
mempengaruhi perkembangan asuransi kesehatan di Indonesia tidak cukup tersedia. Secara teoritis beberapa
faktor penting dapat dikemukakan sebagai penyebab lambatnya pertumbuhan asuransi kesehatan di
Indonesia, diantaranya deman (demand) dan pendapatan penduduk yang rendah, terbatasnya jumlah

perusahaan asuransi, dan buruknya kualitas fasilitas pelayanan kesehatan serta tidak adanya kepastian hukum
Indonesia.

Penduduk Indonesia pada umumnya merupakan risk taker untuk kesehatan dankematian. Sakit dan mati
dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang religiusmerupakan takdir Tuhan dan karenanya banyak anggapan
yang tumbuh di kalanganmasyarakat Indonesia bahwa membeli asuransi berkaitan sama dengan menentang
takdir.Hal ini menyebabkan rendahnya kesadaran penduduk untuk membeli atau mempunyaiasuransi
kesehatan. Selanjutnya, keadaan ekonomi penduduk Indonesia yang sejakmerdeka sampai saat ini masih
mempunyai pendapatan per kapita sekitar $ 1.000 AS pertahun, sehingga tidak memungkinkan penduduk
Indonesia menyisihkan dana untuk membeli asuransi kesehatan maupun jiwa. Rendahnya deman dan daya beli
tersebutmengakibatkan tidak banyak perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi kesehatan.
Selain itu, fasilitas kesehatan sebagai faktor yang sangat penting untuk mendukung terlaksananya asuransi
kesehatan juga tidak berkembang secara baik dan distribusinya merata. Sedangkan dari sisi regulasi,
Pemerintah Indonesia relatif lambat memperkenalkan konsep asuransi kepada masyarakat melalui kemudahan
perijian dan kapastian hukum dalam berbisnis asuransi atau mengembangkan asuransi kesehatan sosial bagi
masyarakat luas.
3.

Definisi Asuransi Kesehatan

Health Insurance is the payment for the excepted costs of a group resulting from medical utilization based on
the excepted expense incurred by the group. The payment can be based on community or experience
7

rating. Dari definisi di atas terdapat beberapa kata kunci yaitu:


1.

Ada pembayaran, yang dalam istilah ekonomi ada suatu transaksi dengan pengeluaran sejumlah uang yang
disebut premi.

2.

Ada biaya, yang diharapkan harus dikeluarkan karena penggunaan pelayanan medik.

3.

Pelayanan medik tersebut didasarkan pada bencana yang mungkin terjadi yaitu sakit.

4.

Keadaan sakit merupakan sesuatu yang tidak pasti (uncertainty), tidak teratur dan mungkin jarang terjadi.
Tetapi bila peristiwa tersebut benar-benar terjadi, implikasi biaya pengobatan dapat demikian besar dan
membebani ekonomi rumah tangga. Kejadian sakit yang mengakibatkan bencana ekonomi bagi pasien atau
keluarganya biasa disebutcatastrophic illness.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa asuransi kesehatan merupakan suatu mekanisme
pengalihan risiko (sakit) dari risiko perorangan menjadi risiko kelompok. Dengan cara mengalihkan risiko
individu menjadi risiko kelompok, beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi
akan lebih ringan, tetapi mangandung kepastian karena memperoleh jaminan.

Anatomi dari asuransi kesehatan terdiri dari rancangan optimal kebijakan asuransi kesehatan dan
perjanjian coinsurance. Kebijakan yang ditetapkan harus memperhatikan dan mempertimbangkan secara
cermat antara risiko berbagi dan masalah perusahaan seperti kerusakan moral (dorongan untuk mencari
pelayanan kesehatan lebih karena mereka diasuransikan) dan kebutuhan yang dipengaruhi
oleh supplier (dorongan dokter untuk menyediakan pelayananan lebih ketika mereka mendapatkan ganti rugi
yang baik). Perjanjian optimal coinsurance dapat membuat pasien mendapatkan pelayanan kesehatan standar
yang tidak berisiko dan terhindar dari perawatan kesehatan yang bernilai rendah. Kedua hal ini memotivasi
perubahan sistemmanaged care di Amerika Serikat, yang menyatukan fungsi asuransi dan ketetapan, dan
memperbolehkan adanya manajemen aktif terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.

Analisis selanjutnya adalah mengenai pasar asuransi kesehatan dari kacamata ekonomi, yang menunjukkan
bahwa pemilihan asuransi kesehatan dipengaruhi permintaan pasar, pilihan membuat orang mengoptimalkan
rencana yang terbaik bagi mereka dan mendorong rencana untuk menyediakan layanan yang efisien. Akan

tetapi, pilihan dalam menentukan asuransi kesehatan dipengaruhi oleh kecenderungan dari si sakit untuk
memilih asuransi yang dermawan dibandingkan dengan si sehat. Hal ini terjadi karena orang dengan risiko
rendah harus membayar jumlah yang sama dengan orang dengan risiko tinggi, hal ini juga berarti orang
dengan risiko rendah harus membayar jumlah yang melebihi apa yang perlu jika mereka menginsuransikan
dirinya sama dengan rata-rata kebanyakan orang. Alternatif yang dapat dilakukan adalah memberlakukan hak
untuk membeli pelayanan kesehatan sesuai dengan prediksi status kesehatan di masa depan.
3.

Jenis Jenis Asuransi Kesehatan

Azwar A (1996) membagi jenis asuransi kesehatan berdasarkan ciri-ciri khusus yang dimiliki, sedangkan
Thabrany H (1998) membagi atas berbagai model berdasarkan hubungan ketiga komponen asuransi kesehatan
yaitu peserta, penyelenggara pelayanan kesehatan serta badan/perusahaan asuransi. Berdasarkan pendapat
tersebut, secara garis besar ada beberapa jenis asuransi kesehatan yang ditinjau dari berbagai aspek.

Ditinjau dari hubungan ketiga komponen asuransi


a. Asuransi tripartied; apabila ketiga komponen asuransi terpisah satu sama lain dan masing-masing berdiri
sendiri.
b. Asuransi bipartied; PPK dapat merupakan milik atau dikontrol oleh perusahaan asuransi
Ditinjau dari jumlah peserta
Ditinjau dari jumlah peserta, asuransi kesehatan dibedakan atas:

1.

Asuransi kesehatan individu (individual health insurance), jika pesertanya perorangan.

2.

Asuransi kesehatan keluarga (family health insurance), jika pesertanya satu keluarga.

3.

Asuransi kesehatan kelompok (group health insurance), jika pesertanya satu kelompok.
Ditinjau dari keikutsertaan anggota
Ditinjau dari keikutsertaan anggota, asuransi kesehatan dibedakan atas:

1.

Asuransi kesehatan wajib (Compulsory Health Insurance). Asuransi kesehatan yang wajib diikuti oleh suatu
kelompok tertentu misalnya dalam suatu perusahaan atau suatu daerah bahkan suatu negara.

2.

Asuransi kesehatan sukarela (Voluntary Health Insurance). Asuransi kesehatan yang keikutsertaannya tidak
wajib tetapi diserahkan kepada kemauan dan kemampuan masing-masing.
Ditinjau dari kepemilikan badan penyelenggara
Ditinjau dari kepemilikan badan penyelenggara, asuransi kesehatan dibagi atas:

1.

Asuransi kesehatan pemerintah (Government Health Insurance).Asuransi kesehatan milik pemerintah atau
pengelolaan dana dilakukan oleh pemerintah. Keuntungan yang diperoleh khususnya bagi masyarakat kurang
mampu karena mendapat subsidi dari pemerintah. Di lain pihak, biasanya mutu pelayanan kurang sempurna
sehingga masyarakat merasa tidak puas.

2.

Asuransi kesehatan swasta (Private Health Insurance). Asuransi kesehatan milik swasta atau pengelolaan dana
dilakukan oleh suatu badan swasta. Keuntungan yang diperoleh biasanya mutu pelayanan relatif lebih baik,
sedangkan kerugiannya sulit dilakukan pengamatan terhadap penyelenggaranya.
Ditinjau dari peranan badan penyelenggara asuransi
Ditinjau dari peranan badan penyelenggara asuransi, asuransi kesehatan dibagi atas:

1.

Hanya bertindak sebagai pengelola dana


Bentuk ini berkaitan dengan model tripartied, merupakan bentuk klasik dari asuransi kesehatan. Bentuk ini
akan merugikan atau menguntungkan tergantung dari kombinasi dengan sistem pembayaran yang dijalankan.
Jika dikombinasikan dengan reimbursment, akan merugikan. Sebaliknya jika dikombinasi
dengan prepayment akan menguntungkan.

2.

Badan penyelenggara asuransi juga bertindak sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Jenis ini

sesuai dengan bentuk bipartied, keuntungan yang diperoleh adalah pengamatan terhadap biaya kesehatan
dapat ditingkatkan sehingga terjadi penghematan. Kerugiannya pelayanan kesehatan yang diberikan
tergantung dari badan penyelenggara bukan kebutuhan masyarakat.
Ditinjau dari jenis pelayanan yang ditanggung
Ditinjau dari jenis pelayanan yang ditanggung, asuransi kesehatan dapat dibedakan atas:
1.

Menanggung seluruh jenis pelayanan kesehatan, baik


pengobatan(kurative), pemulihan (rehabilitative), peningkatan (promotive) maupun
pencegahan (preventive). Dengan demikian pelayanan yang diberikan bersifat
menyeluruh (comprehensive) dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta sehingga peserta
jarang sakit dan secara timbal balik akan menguntungkan badan penyelenggara asuransi.

2.

Menanggung sebagian pelayanan kesehatan, biasanya yang membutuhkan biaya besar misalnya perawatan di
rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang biayanya kecil misalnya pelayanan kesehatan di puskesmas.
Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung
Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung, asuransi kesehatan dibagi atas:

1.

Seluruh biaya kesehatan yang diperlukan ditanggung oleh badan penyelenggara. Keadaan ini dapat
mendorong pemanfaatan yang berlebihan oleh peserta terutama bila keadaan peserta kurang.

2.

Hanya sebagian biaya kesehatan yang ditanggung oleh badan penyelenggara. Dengan cara ini dapat
mengurangi pemanfaatan yang berlebihan atau moral hazard ditinjau dari pihak peserta karena peserta
asuransi harus memberikan kontribusi yang telah ditetapkan bila memakai layanan kesehatan (cost sharing).
Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyelenggara pelayanan kesehatan
Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyelenggara pelayanan kesehatan, asuransi kesehatan terbagi atas:

1.

Pembayaran berdasarkan jumlah kunjungan peserta yang memanfaatkan pelayanan


kesehatan (reimbursment). Dengan demikian jumlah peserta berbanding lurus dengan jumlah uang yang
diterima oleh penyelenggara pelayanan kesehatan.

2.

Pembayaran berdasarkan kapitasi yaitu berdasarkan jumlah anggota/penduduk yang dilayani, berdasarkan
konsep wilayah.
Ditinjau dari waktu pembayaran terhadap PPK
Ditinjau dari waktu pembayaran terhadap PPK, asuransi kesehatan terbagi atas:

1.

Pembayaran setelah pelayanan kesehatan selesai diselenggarakan(Retrospective Payment), biasanya dihitung


berdasarkan service by service atau patient by patient.

2.

Pembayaran di muka (pre payment) yaitu diberikan sebelum pelayanan diselenggarakan, biasanya perhitungan
berdasarkan kapitasi dengan pelayanan komprehensif dengan tujuan penghematan dan mengurangimoral
hazard dari penyelenggara pelayanan kesehatan.
Ditinjau dari jenis jaminan
Ditinjau dari jenis jaminan, asuransi kesehatan dibagi atas:

1.

Jaminan dengan uang, yaitu asuransi yang membayar dengan mengganti biaya pelayanan yang diberikan.

2.

Jaminan yang diberikan tidak berupa uang (Managed Care), contohnya: JPKM, Askes.
Asuransi kesehatan merupakan kelompok produk asuransi yang memberikan perlindungan atau proteksi atas
resiko hilangnya sumber finansial dikarenakan oleh kondisi tertanggung yang mengalami suatu penyakit
(illness), kecelakaan (accidental injury) atau karena ketidakmampuan (disability). Dalam kelompok ini terdapat
2 jenis produk, yaitu :

Medical Expense Coverage, yaitu jenis produk yang memberikan santunan guna membayar biaya perawatan
tertanggung yang mengalami suatu penyakit atau karena kecelakaan.

Disability Income Coverage, merupakan produk yang memberikan santunan sebagai pengganti atas hilangnya
penghasilan bagi tertanggung sebagai dampak dari ketidakmampuannya dalam bekerja.
2.4 Manfaat Asuransi Kesehatan
Ada beberapa manfaat asuransi kesehatan selain mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan antara lain:

1.

Asuransi merubah peristiwa tidak pasti menjadi pasti dan terencana

2.

Asuransi membantu mengurangi risiko perorangan ke risiko sekelompok orang dengan cara perangkuman
risiko (risk pooling).
Dengan demikian terjadi subsidi silang; yang muda membantu yang tua, yang sehat membantu yang sakit,
yang kaya membantu yang miskin.

Apabila asuransi kesehatan dapat dilaksanakan, akan diperoleh beberapa manfaat yang secara sederhana
dapat disimpulkan sebagai berikut:

3,7

1.

Membebaskan peserta dari kesulitan menyediakan dana tunai

2.

Biaya kesehatan dapat diawasi.


Pengawasan yang dimaksud berupa diperlakukannya berbagai peraturan yang membatasi jenis pelayanan
kesehatan yang dapat diberikan oleh penyedia pelayanan dan atau yang dapat dimanfaatkan oleh peserta.
3.

Mutu pelayanan dapat diawasi

Pengawasan yang dimaksud ialah memalui penilaian berkala terhadap terpenuhi atau tidaknya standar
minimal pelayanan.
4.

Tersedianya data kesehatan

Data kesehatn yang lengkap diperlukan untuk merencanakan dan ataupun menilai kegiatan yang dilakukan.
5.

Masalah Asuransi Kesehatan

Dalam pengelolaan asuransi kesehatan seringkali dihadapkan kepada beberapa masalah, yaitu:
1.

Mendorong penggunaan yang berlebihan, karena peserta tidak mengeluarkan uang tunai pada setiap kali
pengobatan, sehingga terdapat kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan secara berlebihan.

2.

Mendorong pelayanaan yang berlebihan, karena penyedia pelayanan memperoleh imbal jasa untuk setiap
pelayanan yang diberikan (reimbursement system), maka untuk meningkatkan pendapatannya, dilakukanlah
penanganan yang berlebihan.
2.6 Pendekatan Baru
Pendekatan baru dan penyempurnaan dilakukan untuk mengatasi masalah klasik asuransi kesehatan.
Penyempurnaan yang dimaksud antara lain:

1.

Mengganti sistem reimbursement menjadi sistem prepayment.


Sistem reimbursement pada saat ini tidak banyak lagi digunakan, karena sistem ini dapat mendorong
pelayanan yang berlebihan yang dapat memberatkan biaya kesehatan. Untuk menyempurnakannya,
sistemreimbursment diganti menjadi sistem prepayment. Di sini biaya dihitung sebelum pelayanan diberikan.
Pada saat ini ada 3 bentuk prepayment yang dikenal, yakni:

1.

Sistem Kapitasi
Sistem kapitasi merupakan sistem pembayaran dimuka yang dilakukan oleh badan asuransi kepada sarana
pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan harga untuk setiap peserta yang dipertanggungkan.dengan
sistem ini, maka besarnya biaya yang dibayar Asuransi Kesehatan kepada saranan pelayanan kesehatan
ditentukan oleh kesepakatan harga dikalikan dengan jumlah peserta yang dipertanggungkan.

2.

Sistem Paket

Sistem paket merupakan sistem pembayaran dimuka ynag dilkaukan oleh badan asuransikesehatan kepada
sarana pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan harga untuk suatu paket pelayanan tertentu. Dengan
demikian, maka besarnya biaya yang dibayar oleh badan asuransi kepada sarana pelayanan kesehatan
ditentukan oleh peket pelayanan kesehatan yang dipertanggungkan. Penyakit apapun yang ditangani, jika
mwmbutuhkan paket pelayanan yang sama, mendapat pembayaran dengan jumlah uang yang sama.
3.

Sistem Anggaran

Sistem anggaran merupakan sistem pembayaran dimuka yang dilakukan oleh badan asuransi kepada sarana
pelayanan kesehatan berdasarkan kesepakatan harga sesuai dengan anggaran yang diajukan oleh saranan
pelayanan kesehatan.
Karena jumlah dana yang diterima oleh sarana pelayanan kesehatan tetap, maka penyelenggara pelayananan
tidaka akan melakukan pelayanan yang tidak perlu. Dengan demikian akan diperoleh beberapa keuntungan,
yakni:
1.

Dapat mencegah kenaikan biaya

2.

Dapat mendorong terselenggaranya pelayanan kedokteran pencegahan, yaitu dengan penggunaan

pelayanan yang seperlunya saja agar penyedia pelayanan tidak sampai rugi, haruslah diupayakan upaya untuk
mencegah peserta sakit.
2.

Menerapkan beberapa ketentuan pembatas

Untuk menghindari makin tingginya biaya kesehatan ialah dengan menggunakan beberapa pembatas dalam
memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pembatas tersebut antara lain:
1.

Hanya menanggung pelayanan kesehatan yang membutuhkan biaya tinggi, misalnya rawat inap dan

pembedahan. Maka, untuk pelayanan kesehatan lain yang dipergunakan, peserta harus membayar sendiri
2.

Hanya menanggung sebagian dari biaya pelayanan kesehatan dan sebagian lainnya menjadi

tanggungan peserta (cost sharing).


3.

Memadukan badan asuransi dengan penyedia pelayanan

Badan asuransi di samping bertanggung jawab mengelola dana juga bertanggung jawab menyediakan
pelayanan, sehingga dapat dilakukan pengelolaan dana sesuai dengan kebutuhan. Di Amerika Serikat, dikenal
dengan nama Health Maintenance Organization (HMO).
2.7 Asuransi Kesehatan Indonesia dan Pengelolaannya

10,11

Asuransi kesehatan di Indonesia, relatif belum begitu berkembang. Pada saat ini asuransi kesehatan bertindak
secara universal, beberapa jenis asuransi kesehatan yang berkembang diIndonesia:
2.7.1 Asuransi Kesehatan Sosial (Social Health Insurance)
Prinsip asuransi kesehatan sosial adalah bahwa kesehatan merupakan pelayanan sosial, pelayanan kesehatan
tidak semata-semata diberikan berdasarkan status sosial masyaakat sehingga semua lapisan berhak untuk
memperoleh jaminan pelayanan kesehatan.
Asuransi kesehatan sosial dilaksanakan dengan menggunakan prinsip sebagai berikut:
1.

Keikutsertaannya bersifat wajib

2.

Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya

3.

Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Untuk Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja)
dipotong 6-8% bagi yang sudah berkeluarga dan 3% untuk yang masih bujangan. Askes menetapkan premi
hanya 2% dari gaji pokok PNS. Idealnya , anggaran kesehatan harus dihitung 5% dari GDP.

4.

Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenga kerja.

5.

Premi tidak ditentukan oleh risiko perorangan, tetapi didasarkan pada risiko kelompok (collective risk sharing).

6.

Tidak diperlukan pemeriksaan kesehatan awal.

7.

Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh (universal coverage)

8.

Peran pemerintah sangat besar untuk medorong berkembangnya asuransi kesehatan sosial di Indonesia.
Semua pegawai negeri diwajibkan mengikuti asuransi kesehatan.
2.

10

Asuransi Kesehatan Komersial Perorangan (Private Voluntary Health Insurance)

Model asuransi kesehatan ini juga berkembangdi Indonesia, dapat dibeli preminya baik oleh individu maupun
segmen masyarakat kelas menengah ke atas.Asuransi kesehatan komersial perorangan mempunyai prinsip
kerja sebagai berikut:

10

1.

Kepesertaannya bersifat perorangan dan sukarela

2.

Iuran/ premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis tanggungan yang dipilih

3.

Premi didasarkan atas risiko perorangan dan ditentukan oleh faktor usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan

4.

Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal

5.

Santunan diberikan sesuai dengan kontrak

6.

Peranan pemerintah rela


2.

Asuransi Kesehatan Komersial Kelompok (Regulated Private Health Insurance).

Jenis asuransi ini merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial dengan prinsip-prinsip dasar
sebagai berikut:
1.

Keikutsertaannya bersifat sukarela tetapi berkelompok

2.

Iuran/ preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut

3.

Perhitungan premi bersifat community rating yang berlaku untuk kelompok masyarakat

4.

Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak

5.

Tidak diperlukan pemeriksaan awal

6.

Peranan pemerintah cukup besar dengan membuat peraturan perundang-undangan

Definisi Asuransi Kesehatan


Health Insurance : The payment for the excepted costs of a group resulting from medical utilization based on
the excepted expense incurred by the group. The payment can be based on community or experience
rating (Jacobs P, 1997).
Manfaat Asuransi Kesehatan
Ada beberapa manfaat asuransi kesehatan selain mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan antara lain :

Asuransi merubah peristiwa tidak pasti menjadi pasti dan terencana

Asuransi membantu mengurangi risiko perorangan ke risiko sekelompok orang dengan cara
perangkuman risiko (risk pooling).

Dengan demikian terjadi subsidi silang; yang muda membantu yang tua, yang sehat membantu yang sakit,
yang kaya membantu yang miskin.
Perangkuman Risiko
Perangkuman risiko merupakan inti dari asuransi dan terjadi ketika sejumlah individu yang berisiko sepakat
menghimpun risiko untuk mengurangi beban yang harus ditanggung masing-masing individu.Perangkuman
risiko meningkatkan kemungkinan memperoleh keluaran yang bersifat "moderat" dan menjauhi keluarankeluaran ekstrem, selain itu mengurangi biaya risiko yaitu kerugian finansial yang terkait dengan risiko

peristiwa tersebut (Murti B, 2000). Hal ini terjadi karena sebagian besar peristiwa sakit merupakan peristiwa
independen, sehingga berlaku hukum penggandaan probabilitas (Multiplication Law of Probability), apabila
sakit merupakan peristiwa dependen, misalnya penyakit menular, maka hukum tersebut tidak berlaku.
Selanjutnya Murti memberikan contoh, seseorang berhubungan dengan peristiwa sakit hanya mempunyai 2
(dua) kemungkinan yaitu sehat atau sakit.
Jika ada 2 orang A dan B, maka mempunyai 4 kemungkinan yaitu :
1.

A dan B sakit

2.

A dan B sehat

3.

A sakit B sehat

4.

A sehat B sakit.

Jadi jika ada n orang, dengan rumus turunan maka akan menjadi 2 kemungkinan.
Hukum Jumlah Besar
Asuransi membutuhkan peserta dalam jumlah yang besar, agar risiko dapat didistribusikan secara merata dan
luas serta dikurangi secara efektif.
Prinsip ini merupakan konsekuensi hukum jumlah besar, makin banyak peserta, makin besar risiko yang dapat
dikurangi.Menurut para analis di Amerika Serikat, jumlah anggota 50.000 per Health Maintenance
Organization (HMO), dipandang menguntungkan.
Peristiwa Independen
Seperti telah dijelaskan, persitiwa-peristiwa perangkuman risiko diasumsikan bersifat independen. Pada
keadaan peristiwa dependen hukum penggandaan probabilitas tidak berlaku karena probabilitas orang-orang
akan sakit pada waktu yang bersamaan pada peristiwa dependen lebih besar daripada peristiwa independen.
Contohnya: TBC (dependen) lebih besar kemungkinannya daripada penyakit jantung (independen).
Perilaku Penghindar Risiko
Orang-orang berperilaku penghindar risiko, sangat diperlukan dalam keberhasilan transaksi asuransi, termasuk
asuransi kesehatan. Hal ini terjadi karena dengan membeli asuransi, seorang penghindar risiko tidak hanya
memperoleh kepastian berkenaan dengan sakit, tetapi juga memperoleh kepuasan (utilitas) yang relatif lebih
tinggi karena merasa terlindungi.
Pemeliharaan dan Pelayanan Kesehatan
Dalam membicarakan asuransi, tidak terlepas dari pemeliharaan dan pelayanan kesehatan yang termasuk ke
dalam kelompok pelayanan jasa karena sebagian besar produknya berupa jasa pelayanan. Ada beberapa ciri
khusus yang perlu dipertimbangkan dalam pemeliharaan dan pelayanan kesehatan antara lain :
1.

Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak


Seperti kebutuhan dasar lainnya, maka hidup sehat merupakan elemen kebutuhan dasar yang selalu
harus diupayakan untuk dipenuhi terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya.

2.

Uncertainty (ketidakpastian)
Adanya ketidakpastian tentang kebutuhan pemeliharaan dan pealyanan kesehatan, mengenai waktu,
tempat, besarnya biaya, urgensi pelayanan dan sebagainya.

3.

Asymetric Information
Asymetric Information yaitu keadaan tidak seimbang antara pengetahuan pemberi pelayanan
(provider) dengan pengguna jasa pelayanan (klien/pasien) karena pasien ignorance, provider-lah yang
menentukan jenis dan volumepelayanan yang perlu dikonsumsi oleh pasien. Keadaan ini akan

memicu terjadinya supply induced demand yaitu pemberian pelayanan melebihi kebutuhan pasien
sehingga terjadi peningkatan biaya kesehatan.
4.

Externality
Externality yaitu pengguna maupun bukan pengguna jasa pemeliharaan dan pelayanan kesehatan
langsung dapat menikmati hasilnya, pelayanan yang sifatnya pencegahan umumnya mempunyai
eksternalitas yang besar sehingga digolongkan pada komoditi masyarakat atau public goods,
contohnya: imunisasi.

5.

Padat Karya
Banyak sekali jenis tenaga yang memberikan kontribusi dalam pelayanan kesehatan dan bekerja
secara tim, contohnya : tenaga di rumah sakit (lebih dari 60 jenis).

6.

Mix-outputs
Mix-outputs yaitu keluaran yang dihasilkan merupakan suatu paket pelayanan sebagai kerjasama tim
yang sifatnya bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada jenis penyakit.

7.

Retriksi berkompetisi
Retriksi berkompetisi yaitu adanya pembatasan praktek berkompetisi sehingga mekanisme pasar
tidak sempurna, misalnya : tidak ada pemberian barang atau banting harga dalam pelayanan
kesehatan.

Sepuluh Skema Fraud dalam Asuransi Kesehatan


Charles Piper, CFE, CRT, seorang konsultan sekaligus investigator swasta di West Tennessee, menulis bahwa
meskipun pemberi pelayanan kesehatan umumnya memiliki sifat jujur dan pekerja keras untuk memberi
layanan terbaik kepada pasien, namun adakalanya, beberapa tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan
melakukan kecurangan untuk mendapat untung dari perusahaan asuransi. Umumnya, kecurangan dalam dunia
kesehatan sama saja dengan kejahatan pada industri lain. Pelakunya memiliki kesempatan dan maksud
tertentu untuk mendapat keuntungan secara tidak adil.
Paling tidak terdapat sepuluh skema fraud dalam asuransi kesehatan. Sepuluh item tersebut antara lain:
mengklaim pelayanan yang tidak pernah diberikan; mengklaim layanan yang tidak dapat ditanggung asuransi,
sebagai layanan yang ditanggung asuransi; memalsukan waktu layanan; memalsukan lokasi layanan;
memalsukan pemberi layanan; mengklaim tagihan yang seharusnya dibayar pasien; pelaporan diagnosis dan
prosedur yang salah; pelayanan yang berlebihan; korupsi (sogokan); dan peresepan obat yang tidak perlu.
Pertama, mengklaim pelayanan yang tidak pernah diberikan. Dalam investigasi yang dilakukan oleh Piper,
skema fraud seperti ini adalah yang paling sering dilakukan di daerah Tennessee. Skema fraud seperti ini
berarti pelaku mengajukan klaim kepada lembaga jaminan kesehatan swasta maupun pemerintah atas
tindakan yang tidak pernah dilakukan. Bahkan dalam rekam medis pasien juga tidak ada dokumentasi yang
mendukung. Kedua, mengklaim layanan yang tidak dapat ditanggung asuransi, sebagai layanan yang
ditanggung asuransi. Dalam investigasinya, Piper menemukan sebuah klinik alergi yang memberikan
perawatan uji coba yang tidak termasuk dalam perawatan yang ditanggung asuransi. Namun, klinik tersebut
kemudian mengisi form dengan detail perawatan lain yang ditanggung asuransi kesehatan. Selain itu, dalam
rekan medis pasien-pasien yang dirawat di klinik tersebut, ditemukan bahwa umumnya pasien-pasien
mendapat perawatan selama lima hari dalam seminggu (Senin sampai Jumat). Namun, ketika Piper melakukan
wawancara pada pasien-pasien tersebut di rumah mereka masing-masing, pasien-pasien tersebut mengaku

bahwa mereka hanya diberi injeksi sebanyak dua kali dalam seminggu. Ketiga, memalsukan waktu layanan.
Pemberi layanan kesehatan mungkin akan mendapatkan lebih banyak pemasukan dengan melaporkan layanan
untuk pasien yang sama yang diberikan dalam dua hari layanan. Masing-masing hari kunjungan pasien,
dilaporkan dalam tagihan klaim yang berbeda. Seringkali pelaku mengisi form tagihan klaim dengan pelayanan
yang benar-benar diberikan namun dengan tanggal pelaksanaan yang berbeda (tidak sesuai kenyataan).
Keempat, memalsukan lokasi layanan. Beberapa perusahan asuransi umumnya tidak akan mengganti klaim
untuk perawatan yang dilakukan sendiri oleh pasien. Contohnya adalah perawatan self-injection pada pasien
alergi. Kembali ke kasus di klinik alergi, Piper menemukan bahwa pasien-pasien alergi tersebut mengunjungi
klinik hanya satu kali sebulan. Sisanya, petugas klinik akan membawakan mereka banyak syringe berisi alergen
dan meminta pasien untuk menyuntikkan sendiri alergen tersebut. Dalam investigasinya, Piper menemukan
bahwa klaim yang diajukan oleh klinik alergi tersebut menyebutkan bahwa injeksi alergen dilakukan di klinik
alergi, agar perawatan dapat dibayar oleh perusahaan asuransi. Selain itu, Piper juga menemukan seorang
dokter yang berpraktek di Amerika yang mengajukan klaim untuk perawatan pasien yang dilakukan di
kliniknya, padahal saat itu ia sedang berlibur di luar negeri. Kelima, memalsukan pemberi layanan kesehatan.
Dalam investigasinya, Piper menemukan beberapa dokter mengklaim berbagai perawatan yang telah
dilakukan olehnya. Kenyataannya, seorang terapis lah yang melakukan perawatan tersebut. Bukan dia,
sebenarnya perusahaan asuransi akan tetap membayar perawatan yang dilakukan oleh terapis ini namun
memang dengan bayaran yang lebih kecil. Kadang-kadang terapis ini memiliki kemampuan yang kurang
memadai namun direkrut karena merupakan kolega dari pemilik klinik. Keenam, mengklaim tagihan yang
seharusnya dibayar pasien. Beberapa dokter ditemukan mengajukan tagihan untuk layanan yang seharusnya
dibayar sendiri oleh pasien (out of pocket). Kadang terjadi juga dalam klaim yang diajukan mereka
mencantumkan layanan palsu tambahan untuk menambah keuntungan. Mereka beralasan bahwa mereka
tidak mengambil untung dari perbuatan ini. Hanya berniat untuk membantu pasien yang tidak mampu
membayar perawatan. Perbuatan semacam ini dapat merugikan perusahaan asuransi, karena mengeluarkan
uang untuk sesuatu yang tidak seharusnya.
Ketujuh, pelaporan diagnosis dan prosedur yang salah. Diagnosis yang kurang tepat berhubungan dengan
prosedur yang tidak tepat pula. Sebagai contoh, bila ada pasien usia lanjut yang dilaporkan jatuh dari tempat
tidur, provider yang tidak jujur akan dengan sengaja akan memberikan diagnosis yang salah bahwa pasien
tersebut mengalami trauma kepala. Dengan diagnosis itu, pasien tersebut akan disarankan untuk menjalani
pemeriksaan CT scan atau pemeriksaan darah. Beberapa diagnosis juga akan membutuhkan masa rawat inap
yang panjang dan berdampak pada bengkaknya biaya perawatan. Kedelapan, pelayanan yang berlebihan.
Skema fraud semacam

ini

berupa

tagihan

klaim

untuk

layanan

yang

sebenarnya

tidak

perlu

dilakukan.Kesembilan, korupsi (sogokan). Provider sebenarnya tahu bahwa mereka tidak diperkenankan
membayar atau menerima bayaran dari rujukan. Provider dapat terjerumus dalam tindakan korupsi bila
membayar atau menerima bayaran dari rujukan untuk layanan yang sebenarnya tidak diperlukan seperti
ronsen, MRI, atau obat-obatan. Bentuk sogokan ini kadang-kadang tersamar seperti liburan mewah, diskon
untuk fasilitas tertentu, hadiah-hadiah, atau berupa cek yang diselipkan di bawah meja. Kesepuluh, peresepan
obat yang tidak perlu. Penyalahgunaan peresepan obat kadang kala didefinisikan sebagai peresepan obat yang
disengaja oleh dokter walaupun sebenarnya tidak perlu. Penghilang nyeri adalah obat yang paling sering
diresepkan padahal tidak dibutuhkan.
Profesi kesehatan adalah profesi yang dipenuhi oleh kejujuran, etika, dedikasi dan komitmen individu. Namun
kadang kala ada juga oknum yang mengkhianati profesi ini. Dengan mengetahui skema fraud ini praktisi
kesehatan diharapkan dapat belajar untuk memerangi momok ini, serta berupaya menurunkan pembengkakan
biaya perawatan.

2.3 Praktek Dokter Gigi dan Kode Etik Praktek Dokter Gigi

1.

Berdasarkan Permenkes No. 1419/Menkes/Per/X/2005 tentang penyelenggaraan praktik dokter dan


dokter gigi, pada pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. Di Indonesia
praktik dokter gigi tersebar di berbagai jenis tempat praktik.
Dokter Gigi Puskesmas
Secara kasar ada 3 kegiatan yang harus dikerjakan oleh dokter gigi puskesmas yaitu pelayanan medik gigi
dasar, UKGS dan UKGMD. Pelayanan medik gigi dasar dilakukan pada masyarakat yang datan atau dirujuk ke
puskesmas karena menderita sakit atau ada kelainan pada gigi dan mulutnya. Tercakup di dalam pelayanan
medik gigi dasar ini adalah memberikan penyuluhan secara individu terhadap pasien yang datang. UKGS
adalah kegiatan lain dokter gigi puskesmas. UKGS merupakan bentuk pelayanan kesehatan gigi melalui jalur
sekolah yang menitikberatkan pada upaya penyuluhan dan pencegahan serta memberikan pelayanan
paripurna pada kelas selektif. Kegiatan terakhir yang menjadi tugas dokter gigi puskesmas adalah UKGMD yang
merupakan bentuk pelayanan kesehatan gigi melalui jalur keluarga. Untuk mempermudah pelaksanaan
UKGMD dapat dilakukan terpadu dengan posyandu. Serupa dengan UKGS, UKGMD juga menitikberatkan pada
upaya penyuluhan dan pembinaan sedangkan untuk tindakan perawatan dilakukan dengan cara dirujuk ke
puskesmas. (Usri, 2001)

2.

Dokter Gigi Rumah Sakit Negeri/ Swasta


Rumah sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan
oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Seorang dokter gigi umum dapat melakukan
beberapa tindakan perawatan gigi umum, antara lain penambalan gigi berlubang, pembersihan karang gigi,
pencabutan gigi, dan juga pembuatan gigi tiruan. Selain dokter gigi umum, terdapat dokter gigi spesialis
diantaranya bedah mulut, konservasi gigi, penyakit mulut, peralatan gigi, gigi tiruan, juga radiologi kedokteran
gigi. (Anonim, 2012)

3.

Dokter gigi praktek pribadi/bersama


Kemajuan pesat dalam bidang kedokteran gigi dengan peralatn yang semakin canggih pada decade terakhir
ini, menjadikan para dokter gigi baik yang praktik secara perseorangan maupun praktik bersama disuatu klinik
bersaing lebih ketat. Mempunyai praktik pribadi bagi seorang dokter gigi tentu tidaklah mudah. Banyak factor
yang harus dipertimbangkan antara lain modal awal atau dana yang tersedia, kelengkapan alat dan bahan yang
menunjang selama dilakukan perawatan, pemilihan lokasi tempat praktik, bagaimana tata ruangan agar pasien
merasa nyaman, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana manajemen dan kinerja seorang dokter gigi
agar tidak menecewakan pasien yang datang. (Robbiana, 2009)

4.

Tempat-Tempat
dll)

Lain yang

Mengadakan

Pelayanan Kesehatan
(Anonim, 2011)

(Pabrik,

Kantor,

BUMN,

BUMD,

Seiring dengan perkembangan zaman, proses pemasaran jual beli suatu barang dan jasa un berkembang,
baik dalam hal media maupun cara penjualan. Beberapa cara pemasaran seperti pada dunia maya dengan
melalui email dan sosial media, dalam dunia nyata seperti iklan pada media surat kabar maupun elektronik.
Saat ini, konsep pemasaran dokter gigi melalui internet sedang berkembang dengan pesat. Selain dengan
membangun sebuah website, konsep membangun sebuah keakraban interpersonal melalui sosial media juga
sedang gencar dilakukan. Selama hal-hal tersebut tidak merugikan pasien maupun dokter gigi maupun
pelanggaran Kode Etik Kedokteran Gigi, maka konsep pemasaran tersebut sah-sah saja dilakukan.
Namun, pada Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia sesuai dengan Pasal 3 Ayat 1 bahwa Dokter Gigi di
Indonesia dilarang melakukan promosi dalam bentuk apapun seperti memuji diri, mengiklankan alat dan
bahan apapun, memberi iming-iming baik langsung maupun tidak langsung dan lain lain, dengan tujuan agar
pasien datang berobat kepadanya. Selain itu, pada Pasal 5 Dokter Gigi di Indonesia tidak diperkenankan
menjaring pasien secara pribadi , melalui pasien atau agen. Oleh karena itu, konsep pemasaran praktik dokter
gigi baik perorangan maupun berkelompok harus memperhatikan batasan-batasan seperti yang telah
tercantum pada Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia tersebut.

Konsep Pemasaran Dokter Gigi


Sebuah kesuksesan praktik dokter gigi adalah sebuah bisnis yang memerlukan beberapa elemen dan
salah satu elemen tersebut adalah marketing (pemasaran). Faktor entrepreneurship yang akan ditonjolkan disini
adalah ide dental marketing yang tepat dan ideal agar dapat meningkatkan keberhasilan seorang dokter gigi
terutama yang praktik secara perorangan.
Ada banyak ide tentang dental marketing. Sebagian besar ide tersebut berasal dari para dokter gigi
yang sudah lama berkecimpung dalam bisnis dental marketing dan mempunyai strategi dan teknik yang baik
sehingga menjadikan para dokter gigi tersebut sangat sukses di bidangnya. Secara garis besar ada 3 ide tentang
dental marketing yang dapat dipilih dan diterapkan dalam upaya meningkatkan kinerja dan keberhasilan
praktik pribadi seorang dokter gigi. Tiga ide tersebut adalah:
1.
2.
3.
1.

Menyusun rencana dental marketing yang baik


Selalu mengutamakan pasien sebagai salah satu prioritas keberhasilan
Penggunaan internet sebagai salah satu strategi dental marketing.
Menyusun rencana dental marketing yang baik
Bagi seorang dokter gigi baik pemula maupun tidak, merencanakan strategi yang baik dan efisien
adalah salah satu prioritas utama yang harus dijaga. Hal ini akan menjadikan seorang dokter gigi mempunyai
tujuan yang terarah seperti: 1). Berapa banyak pasien baru yang diinginkan, 2). Tipe pasien bagaimana yang
diinginkan, 3). Berapa banyak pasien yang datang dan menghargai perawatan yang telah diberikan.
Mempunyai ide yang jelas mengenai apa yang ingin dilakukan di tahap awal adalah salah satu kunci
keberhasilan dental marketing yang baik bagi seorang dokter gigi.

2.

Selalu mengutamakan pasien sebagai salah satu prioritas keberhasilan


Pasien memainkan peranan yang besar dalam bisnis dental marketing seorang dokter gigi. perlu diingat
bahwa tanpa pasien tidak aka nada bisnis bagi para dokter gigi. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa
pasien merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan, seperti pengalaman rasa sakit selama perawatan
akan mempengaruhi pelaksanaan perawatan. Untuk dapat mengerti perilaku pasien maka perlu
mempertimbangkan perasaan, kebutuhan, dan harapan pasien terhadap perawatan karena dapat
mempengaruhi kerja sama dan hubungan interpersonal antara pasien dan operator.
Mengidentifikasi apa yang pasien perlukan, inginkan, dan harapkan. Salah satu faktor motivasi
terpenting adalah sikap dokter gigi yang bersangkutan. Hubungan yang baik antara pasien dengan dokter gigi
yang merawat diperlukan untuk suksesnya perawatan yang tidak terlepas dari kerja sama pasien dan bagaimana
menghadapi keluhan pasien selama perawatan.
Tetap menjaga komunikasi dengan pasien karena dengan komunikasi akan membuat mereka merasa
diperhatikan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah: 1). Menghubungi pasien yang sudah cukup lama
tidak control, 2). Menawarkan general check-up untuk menunjang keberhasilan perawatan (scalling, perawatan
restorasi gigi, pencabutan gigi dan lain lain), 3). Menghubungi pasien sebelum jadwal control berikutnya, untuk
mengingatkan para pasien akan jadwal mereka dengan dokter gigi yang bersangkutan.

3.

Penggunaan internet sebagai salah satu strategi dental marketing


Ide yang ketiga adalah memanfaatkan penggunaan internet untuk menarik minat pasien dengan cara
membuat website pribadi tentang praktik dokter gigi. perkembangan internet yang semakin pesat menjadikan
internet sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan maupun promosi. Salah satu alasan karena saat
ini banyak pasien yang mencari informasi tentang kedokteran gigi melalui internet. Para pengguna internet ini
dapat menjadi pasien yang potensial bagi para dokter gigi.
Menurut McLeod tahun 2012, terdapat beberapa sistem online yang diperlukan dalam praktik dokter
gigi untuk menarik pasien baru dan menyediakan informasi bagi pasien yang telah ada dengan efektif, yaitu:
Website
Setiap dokter gigi diuntungkan dari adanya web yang dapat membuat calon pasien untuk mencari informasi
tentang praktik dokter gigi. Pencarian biasanya dilakukan individu yang memerlukan perawatan gigi tetapi tidak
memiliki nama atau nomor telepon dokter gigi. Mereka memasukkan kata kunci pada mesin pencari kemudian

menemukan website yang paling relevan dari kata pencari. Profesional yang kurang memperbarui website-nya
tidak akan berperingkat tinggi pada daftar hasil pencarian. Website harus dinamis untuk dapat muncul pada
halaman pertama hasil pencarian. Internet global dinilai setiap beberapa minggu atau oleh komputerisasi yang
dapat menganalisa seluruh konten online dan link-nya yang terkait. Website yang secara konsisten menawarkan
konten baru atau update dinilai lebih tinggi daripada situs statis. Penambahan foto atau merubah konten
tertulis akan diinterpretasi sebagai update yang memberikan situs lebih berbobot.
-

Search-Engine Optimization (SEO)


Kata SEO merujuk pada proses menyaring konten, baik yang telah dilihat maupun yang tidak dari website untuk
membuat situs berperingkat tinggi pada hasil pencarian. Proses ini sering meliputi penambahan kode HTML
yang tersembunyi dan mengedit konten yang termasuk kata kunci dan frase yang berhubungan yang menjadi
target pencari yang disukai untuk digunakan saat mencari keterangan pada mesin pencari. Pemahaman dokter
gigi mengenai bagaimana melihat kode HTML dan kata alternatif pada banyak website dapat membuat dokter
gigi untuk mengembangkan peringkat website-nya pada hasil pencarian spesifik untuk melawan kompetitornya.

Link
Link adalah alamat yang diaktifkan saat seseorang mengklik link tersebut. Sangat penting untuk memilih opsi
yang selalu ditawarkan dari membuka situs link dalam jendela atau tab baru. Pengunjung yang mengklik pada
link mungkin akan pergi dari halaman awal, berpindah situs dan mungkin tak kembali. Terdapat strategi yang
menguntungkan mendukung profesional yang menginginkan menambahkan link, yaitu membaginya ke dalam 3
kelompok, yang ada pada kelompok A mengarah kepada kelompok B, yang ada pada kelompok B mengarah
kepada kelompok C, dan yang ada pada kelompok C mengarah kembali pada kelompok A. Teknik ini dikenal
sebagai triangulasi, yang dapat berjalan baik. Tetapi, link seperti itu harus ditambahkan secara perlahan
daripada seluruhnya dalam satu waktu, bertujuan untuk membuat website dinamis yang dapat diupdate
dengan mudah dan sering. Strategi juga harus dikembangkan secara rutin untuk mengevaluasi keefektifan
seluruh link. Link yang menjadi tidak aktif dan mentransfer pengguna kepada situs error harus dihapuskan.

Social Networking atau Cyber Weight


Dapat berupa media sosial seperti blog, akun Facebook dan Twitter. Media sosial dapat menarik perhatian
banyak orang, salah satunya dengan menyediakan perbincangan dengan yang lain mengenai ketertarikan dan
aktivitas. Dengan menarik perhatian orang, upaya marketing dapat diterapkan langsung kepada mereka.

Pay-Per-Click atau Paid Listings


Pay-Per-Click membuat promoter website membayar biaya untuk maju dari competitor yang juga membayar
untuk dapat di peringkat tinggi di antara hasil pencarian online. Sistem ini contohnya terdapat di Los Angeles.
Pemasang iklan pay-per-click hanya dikenai biaya jika seseorang mengklik link mereka. Harga yang mereka bayar
dihasilkan dari perang penawaran antara dokter gigi yang mencari perhatian orang yang mencari kata-kata
tertentu. Dokter gigi yang berada di peringkat atas perang penawaran tersebut memutuskan banyaknya yang
mereka inginkan untuk dihabiskan setiap bulan pada iklan, dan URL mereka muncul pada bagian atas daftar
sampai cukup orang yang telah mengklik pada situs mereka memakai budget yang teralokasi. Kemudian yang
lain akan memposting. Setiap dari kata kunci dapat dipilih oleh dokter gigi; keputusan harus dapat dibuat
mengenai kata-kata terbaik yang berhubungan dengan focus yang disukai. Dengan menjawab email dari
responden, staf pemasang iklan dari pay-per-click harus mengubah pertanyaan tersebut menjadi janji
perawatan. Jika staf dan fasilitas kantor tidak siap untuk melakukan itu dengan efektif, tipe program marketing
ini hanya akan menghabiskan uang. Selain itu, terdapat kritik mengenai pendekatan pay-per-click. Pengiklanan
dokter gigi secara tradisional dianggap tidak profesional bahkan tidak etis.
Keuntungan dental marketing; pendekatan secara interpersonal
Tujuh puluh sembilan persen dokter gigi yang praktik umum merasa frustasi mengenai jumlah uang
yang diperoleh dari praktik mereka. Padahal profesi dokter gigi merupakan salah satu profesi yang paling
menguntungkan dan paling menyenangkan, juga profesi yang dianggap mapan secara finansial di beberapa
Negara. Dengan dental marketing yang baik, seorang dokter gigi yang praktik secara perseorangan tentu akan
lebih siap menghadapi segala tantangan apalagi di tengah era globalisasi yang semakin marak dan persaingan
dengan beberapa dental aesthetic clinic yang sudah ada dan tentu saja dengan manajemen yang lebih
kompleks.

Tiga pilihan ide tentang dental marketing bila dapat diterapkan dengan baik tentu akan member
keuntungan yang nyata bagi seorang dokter gigi, walaupun tidak terlihat seperti halnya sebuah praktik pribadi
maupun klinik bersama yang aman dan eksklusif. Dalam pemasaran di bidang pelayanan kedokteran gigi, empati
terhadap pasien merupakan keahlian yang paling penting yang diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan
penuh dari pasien terhadap dokter gigi yang merawat. Kepuasan pasien adalah salah satu cara untuk
mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang dokter gigi yang telah merawat. Pasien yang merasa puas lebih
loyal dan akan memberitahukan secara lisan kepuasan yang telah diperoleh kepada teman-teman, rekan kerja,
dan juga relasinya. Mendapatkan kepercayaan dari setiap pasien merupakan cara yabg terbaik untuk
meningkatkan status dental marketing dan tentu saja meningkatkan kinerja dan keberhasilan seorang dokter
gigi terutama bagi yang praktik secara perseorangan.
(Robbiana, 2009)
Iklan adalah pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu
media (Kasali, 1995:9). Namun demikian untuk membedakannya dengan pengumuman biasa, fungsi iklan lebih
diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. Sedang iklan jika di lihat dari fungsi dan tujuannya
merupakan salah satu bentuk komunikasi. Seperti dikemukakan Arens,Iklan adalah struktur informasi dan
susunan komunikasi non personal yang biasanya dibiayai dan bersifat persuasif, tentang produk produk
(barang, jasa dan gagasan) oleh sponsor teridentifikasi, melalui berbagai macam media (Arens dalam Noviani,
2002:23)
Iklan mempunyai empat fungsi utama, yaitu menginformasikan khalayak mengenai produk(Informatife),
mempengaruhi khalayak untuk membeli (Persuanding), dan menyegarkan informasi yang telah diterima
khalayak (Reminding), serta menciptakan suasana yang menyenangkan sewaktu khalayak menerima dan
mencerna informasi (Entertainment). Melalui iklan, perusahaan tidak hanya ingin meningkatkan penjualan
tetapi juga ingin menciptakan image atau citra yang baik bagi suatu produk yang dihasilkan (Shimp, 2000:357).
Contoh salah satu Praktek Dokter Gigi yang menerapkan hal tersebut yaitu OSmile Praktek Dokter Gigi
Bersama yang berpusat di kota yogyakarta. Dalam pemasarannya OSmile menawarkan brosur, iklan (media
cetak, elektronik)

HUKUM ASURANSI MENURUT ISLAM


Definisi asuransi adalah sebuah akad yang mengharuskan perusahaan asuransi (muammin) untuk
memberikan kepada nasabah/klien-nya (muamman) sejumlah harta sebagai konsekuensi dari pada akad itu,
baik itu berbentuk imbalan, Gaji atau ganti rugi barang dalam bentuk apapun ketika terjadibencana maupun
kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana tertera dalam akad (transaksi), sebagai imbalan
uang (premi) yang dibayarkan secara rutin dan berkala atau secara kontan dari klien/nasabah tersebut
(muamman) kepada perusahaan asuransi (muammin) di saat hidupnya.
Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi
kepada pihak yang mengalami musibah, yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi.
Beberapa istilah asuransi yang digunakan antara lain:
A. Tertanggung, yaitu anda atau badan hukum yang memiliki atau berkepentingan atas harta benda
B. Penanggung, dalam hal ini Perusahaan Asuransi, merupakan pihak yang menerima premi asuransi dari
Tertanggung dan menanggung risiko atas kerugian/musibah yang menimpa harta benda yang diasuransikan
ASURANSI KONVENSIONAL
A. Ciri-ciri Asuransi konvensional Ada beberapa ciri yang dimiliki asuransi konvensional, diantaranya adalah:

Akad asurab si konvensianal adalah akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua balah pihak,
pihak penanggung dan pihak tertanggung. Kedua kewajiban ini adalah keawajiban tertanggung menbayar
primi-premi asuransi dan kewajiban penanggung membayar uang asuransi jika terjadi perietiwa yang
diasuransikan.

Akad asuransi ini adalah akad muawadhah, yaitu akad yang didalamnya kedua orang yang berakad dapat
mengambil pengganti dari apa yang telah diberikannya.

Akad asuransi ini adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung dan
tertanggung pada eaktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan dan jumlah yang dia
ambil.

Akad asuransi ini adalah akad idzan (penundukan) pihak yang kuat adalah perusahan asuransi karena dialah
yang menentukan syarat-syarat yang tidak dimiliki tertanggung,
B. Asuransi dalam Sudut Pandang Hukum Islam Mengingat masalah asuransi ini sudah memasyarakat di
Indonesia dan diperkirakan ummat Islam banyak terlibat di dalamnya, maka permasalahan tersebut perlu juga
ditinjau dari sudut pandang agama Islam.
Di kalangan ummat Islam ada anggapan bahwa asuransi itu tidak Islami. Orang yang melakukan asuransi sama
halnya dengan orang yang mengingkari rahmat Allah. Allah-lah yang menentukan segala-segalanya dan
memberikan rezeki kepada makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya:
Dan tidak ada suatu binatang melata pun dibumi mealinkan Allah-lah yang memberi rezekinya. (Q. S. Hud:
6)
dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada
Tuhan (yang lain)? (Q. S. An-Naml: 64)
Dan kami telah menjadikan untukmu dibumi keperluan-keprluan hidup, dan (kami menciptakan pula)
makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. (Q. S. Al-Hijr: 20)
Dari ketiga ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah sebenarnya telah menyiapkan segala-galanya untuk
keperluan semua makhluk-Nya, termasuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah telah menyiapkan
bahan mentah, bukan bahan matang. Manusia masih perlu mengolahnya, mencarinya dan mengikhtiarkannya.
Melibatkan diri ke dalam asuransi ini, adalah merupakan salah satu ikhtiar untuk mengahadapi masa depan
dan masa tua. Namun karena masalah asuransi ini tidak dijelaskan secara tegas dalam nash, maka masalahnya
dipandang sebagai masalah ijtihadi, yaitu masalah yang mungkin masih diperdebatkan dan tentunya
perbedaan pendapat sukar dihindari.
Ada beberapa pandangan atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. Yang paling mengemuka
perbedaan tersebut terbagi tiga, yaitu:
I. Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya, temasuk asuransi jiwa

Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania), Yusuf Qardhawi dan
Muhammad Bakhil al-Muthi (mufti Mesir). Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:

Asuransi sama dengan judi

Asuransi mengandung ungur-unsur tidak pasti.

Asuransi mengandung unsur riba/renten.

Asurnsi mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis, apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran
preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi.

Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.

Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai.

Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului takdir Allah.
II. Asuransi konvensional diperbolehkan
Pendapat kedau ini dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf, Mustafa Akhmad Zarqa (guru besar Hukum Islam
pada fakultas Syariah Universitas Syria), Muhammad Yusuf Musa (guru besar Hukum Isalm pada Universitas
Cairo Mesir), dan Abd. Rakhman Isa (pengarang kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). Mereka
beralasan:

Tidak ada nash (al-Quran dan Sunnah) yang melarang asuransi.

Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.

Saling menguntungkan kedua belah pihak.

Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan
untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil)

Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Taawuniyah).

Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen.


III. Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan
Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar Hukum Islam pada
Universitas Cairo).
Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram)
dan sama pula dengan alasan kelompok kedua, dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh).
Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas haram atau tidak
haramnya asuransi itu.

Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa masalah asuransi yang berkembang dalam masyarakat pada saat
ini, masih ada yang mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan, sehingga sukar untuk menentukan,
yang mana yang paling dekat kepada ketentuan hukum yang benar.
Sekiranya ada jalan lain yang dapat ditempuh, tentu jalan itulah yang pantas dilalui. Jalan alternatif baru yang
ditawarkan, adalah asuransi menurut ketentuan agama Islam.
Dalam keadaan begini, sebaiknya berpegang kepada sabda Nabi Muhammad SAW:
Tinggalkan hal-hal yang meragukan kamu (berpeganglah) kepada hal-hal yagn tidak meragukan
kamu. (HR. Ahmad)
Asuransi syariah
A. Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah
Suatu asuransi diperbolehkan secara syari, jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan
syariat Islam. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun (kerja sama ), tolong menolong, saling menjamin, tidak
berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman, Dan saling tolong menolonglah
dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.

Asuransi syariat tidak bersifat muawadhoh, tetapi tabarru atau mudhorobah.

Sumbangan (tabarru) sama dengan hibah (pemberian), oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali.
Kalau terjadi peristiwa, maka diselesaikan menurut syariat.

Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus disertai dengan niat
membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah
uang guna membantu orang yang sangat memerlukan.

Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan
yang berlipat bila terkena suatu musibah. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu
menurut izin yang diberikan oleh jamaah.

Apabila uang itu akan dikembangkan, maka harus dijalankan menurut aturan syari.
B. Ciri-ciri asuransi syariah Asuransi syariah memiliki beberapa ciri, diantaranya adalah Sbb:

Akad asuransi syariah adalah bersifat tabarru, sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau
jika tidak tabarru, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi
peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak
lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan riba.

Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena
pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada

imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jamaah (seluruh peserta
asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).

Dalam asuransi syariah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan dan aturan-aturan diambil
menurut izin jamaah seperti dalam asuransi takaful.

Akad asuransi syariah bersih dari gharar dan riba.

Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.


C. Manfaat asuransi syariah. Berikut ini beberapa manfaat yang dapat dipetik dalam menggunakan asuransi
syariah, yaitu:

Tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan di antara anggota.

Implementasi dari anjuran Rasulullah SAW agar umat Islam salimg tolong menolong.

Jauh dari bentuk-bentuk muamalat yang dilarang syariat.

Secara umum dapat memberikan perlindungan-perlindungan dari resiko kerugian yang diderita satu pihak.

Juga meningkatkan efesiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan pengamanan dan pengawasan
untuk memberikan perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu, dan biaya.

Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang jumlahnya tertentu, dan tidak perlu
mengganti/ membayar sendiri kerugian yang timbul yang jumlahnya tidak tertentu dan tidak pasti.

Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar pada pihak asuransi akan dikembalikan saat terjadi peristiwa
atau berhentinya akad.

Menutup Loss of corning power seseorang atau badan usaha pada saat ia tidak dapat berfungsi(bekerja).
Perbandingan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional.
A. Persamaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. Jika diamati dengan seksama, ditemukan
titik-titik kesamaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah, diantaranya sbb:

Akad kedua asuransi ini berdasarkan keridloan dari masing- masing pihak.

Kedua-duanya memberikan jaminan keamanan bagi para anggota

Kedua asuransi ini memiliki akad yang bersifad mustamir (terus)

Kedua-duanya berjalan sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak.


B. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah. Dibandingkan asuransi konvensional, asuransi
syariah memiliki perbedaan mendasar dalam beberapa hal.

Keberadaan Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan.
Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa
sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Yaitu nasabah yang satu menolong nasabah
yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli
antara nasabah dengan perusahaan).

Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah
dengan sistem bagi hasil (mudharobah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan
pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang
amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan
perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

Untuk kepentingan pembayaran klaim nasabah, dana diambil dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh
peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong bila ada peserta yang terkena musibah.
Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola,
dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik
perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.
Dari perbandingan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi konvensional tidak memenuhi standar
syari yang bisa dijadikan objek muamalah yang syah bagi kaum muslimin. Hal itu dikarenakan banyaknya
penyimpangan-penyimpangan syariat yang ada dalam asuransi tersebut.
Oleh karena itu hendaklah kaum muslimin menjauhi dari bermuamalah yang menggunakan model-model
asuransi yang menyimpang tersebut, serta menggantinya dengan asuransi yang senafas dengan prinsip-prinsip
muamalah yang telah dijelaskan oleh syariat Islam seperti bentuk-bentuk asuransi syariah yang telah kami
paparkan di muka.
Selanjutnya, Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah Wal Ifta [Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa
Saudi Arabia] mengeluarkan fatwa sebagai berikut :
Asuransi ada dua macam. Majlis Haiah Kibaril Ulama telah mengkajinya sejak beberapa tahun yang lalu dan
telah mengeluarkan keputusan. Tapi sebagian orang hanya melirik bagian yang dibolehkannya saja tanpa
memperhatikan yang haramnya, atau menggunakan lisensi boleh untuk praktek yang haram sehingga
masalahnya menjadi tidak jelas bagi sebagian orang.
Asuransi kerjasama (jaminan sosial) yang dibolehkan, seperti ; sekelompok orang membayarkan uang
sejumlah tertentu untuk shadaqah atau membangun masjid atau membantu kaum fakir. Banyak orang yang
mengambil istilah ini dan menjadikannya alasan untuk asuransi komersil. Ini kesalahan mereka dan
pengelabuan terhadap manusia.
Contoh asuransi komersil : Seseorang mengasuransikan mobilnya atau barang lainnya yang merupakan
barang import dengan biaya sekian dan sekian. Kadang tidak terjadi apa-apa sehingga uang yang telah

dibayarkan itu diambil perusahaan asuransi begitu saja. Ini termasuk judi yang tercakup dalam firman Allah
Taala Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan *Al-Maidah : 90]
Kesimpulannya, bahwa asuransi kerjasama (jaminan bersama/jaminan social) adalah sejumlah uang tertentu
yang dikumpulkan dan disumbangkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan syari, seperti ; membantu
kaum fakir, anak-anak yatim, pembangunan masjid dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Berikut ini kami cantumkan untuk para pembaca naskah fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhut Al-Ilmiyah wal
Ifta (Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa) tentang asuransi kerjasama (jaminan bersama).
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi
kita Muhammad, para keluarga dan sahabatnya, amma badu.
Telah dikeluarkan keputusan dari Haiah Kibaril Ulama tentang haramnya asuransi komersil dengan semua
jenisnya karena mengandung madharat dan bahaya yang besar serta merupakan tindak memakan harta
orang lain dengan cara perolehan yang batil, yang mana hal tersebut telah diharamkan oleh syariat yang suci
dan dilarang keras.
Lain dari itu, Haiah Kibaril Ulama juga telah mengeluarkan keputusan tentang bolehnya jaminan kerjasama
(asuransi kerjasama) yaitu terdiri dari sumbangan-sumbangan donatur dengan maksud membantu orangorang yang membutuhkan dan tidak kembali kepada anggota (para donatur tersebut), tidak modal pokok dan
tidak pula labanya, karena yang diharapkan anggota adalah pahala Allah Subhanahu wa Taala dengan
membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan tidak mengharapkan timbal balik duniawi. Hal ini
termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Taala Dan tolong menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran *AlMa'idah : 2]
Dan sabda nabi Shallallahu alaihi wa sallam Dan Allah akan menolong hamba selama hamba itu menolong
saudaranya *Hadits Riwayat Muslim, kitab Adz-Dzikr wad Du'at wat Taubah 2699]
Ini sudah cukup jelas dan tidak ada yang samar.
Tapi akhir-akhir ini sebagian perusahaan menyamarkan kepada orang-orang dan memutar balikkan hakekat,
yang mana mereka menamakan asuransi komersil yang haram dengan sebutan jaminan sosial yang
dinisbatkan kepada fatwa yang membolehkannya dari Haiah Kibaril Ulama. Hal ini untuk memperdayai orang
lain dan memajukan perusahaan mereka. Padahal Haiah Kibaril Ulama sama sekali terlepas dari praktek
tersebut, karena keputusannya jelas-jelas membedakan antara asuransi komersil dan asuransi sosial
(bantuan). Pengubahan nama itu sendiri tidak merubah hakekatnya.
Keterangan ini dikeluarkan dalam rangka memberikan penjelasan bagi orang-orang dan membongkar
penyamaran serta mengungkap kebohongan dan kepura-puraan. Shalawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada seluruh keluarga dan para sahabat.
[Bayan Min Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta Haula At-Ta'min At-Tijari wat Ta'min AtTa'awuni+.

Kemudian, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin berpendapat sebagai berikut :


Asuransi konvensional tidak boleh hukumnya berdasarkan syariat, dalilnya adalah firmanNya Dan janganlah
sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan bathil *Al-Baqarah : 188]
Dalam hal ini, perusahaan tersebut telah memakan harta-harta para pengasuransi (polis) tanpa cara yang
haq, sebab (biasanya) salah seorang dari mereka membayar sejumlah uang per bulan dengan total yang bisa
jadi mencapai puluhan ribu padahal selama sepanjang tahun, dia tidak begitu memerlukan servis namun
meskipun begitu, hartanya tersebut tidak dikembalikan kepadanya.
Sebaliknya pula, sebagian mereka bisa jadi membayar dengan sedikit uang, lalu terjadi kecelakaan terhadap
dirinya sehingga membebani perusahaan secara berkali-kali lipat dari jumlah uang yang telah dibayarnya
tersebut. Dengan begitu, dia telah membebankan harta perusahaan tanpa cara yang haq.
Hal lainnya, mayoritas mereka yang telah membayar asuransi (fee) kepada perusahaan suka bertindak
ceroboh (tidak berhati-hati terhadap keselamatan diri), mengendarai kendaraan secara penuh resiko dan bisa
saja mengalami kecelakaan namun mereka cepat-cepat mengatakan, Sesungguhnya perusahaan itu kuat
(finansialnya), dan barangkali bisa membayar ganti rugi atas kecelakaan yang terjadi. Tentunya hal ini
berbahaya terhadap (kehidupan) para penduduk karena akan semakin banyaknya kecelakaan dan angka
kematian.
[Al-Lu'lu'ul Makin Min Fatawa Ibn Jibrin, hal 190-191+