Anda di halaman 1dari 21

PENDIDIKAN IMTAQ MELALUI PEMBELAJARAN DRAMA DI SEKOLAH

Science without religion is lame,


Religion without science is blind
ALBERT EINSTEIN

1. PENDAHULUAN

Banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari perbuatan-perbuatan yang


dikatagorikan sebagai ‘tingkah menyimpang’. Kalau kita cermati media massa,
beraneka ragam model ‘tingkah menyimpang’ ini bukan saja dilakukan oleh anak-
anak dan remaja, tetapi juga oleh orang tua yang bergelar akademik tertentu. Ada
seorang anak yang ditangkap dan dihajar oleh massa gara-gara ketahuan menarget di
traffic light. Ada segerombolan pelajar yang berpesta sex bebas untuk merayakan
kelulusan/ketamatannya dari suatu sekolah. Juga terlihat banyak pemuda bermabuk-
mabukan berderet-deret di jalanan, pesta pil koplo, sabu-sabu, ganja dll. Bahkan,
konon berdasarkan penelitian terhadap pelajar SLTA di beberapa kota besar di
Indonesia, ditemukan hampir 85 % telah melakukan hubungan sex di luar nikah. Kita
juga tidak dapat menyangkal, bahwa para pemimpin kita banyak yang berbuat tidak
terpuji. Misalnya kasus pembunuhan, pemaksaan, pelecehan hukum, korupsi dll.
Mengapa ini bisa terjadi? Apakah mereka tidak pernah dididik atau diajari nilai-nilai
moral religius? Jawabannya adalah tidak adanya keseimbangan antara kemajuan
IPTEK dengan Imtaq.
Memang, menguasai IPTEK mutlak diperlukan bagi semua orang agar bisa
mengemban kekhalifahannya di bumi ini. Nabi bersabda,” Carilah ilmu, sekalipun di
negeri Cina.” Kemudian ditandaskan lagi,” Sungguh, andaikata engkau berangkat
kemudian mempelajari satu bab dari ilmu pengetahuan, maka hal itu adalah lebih
baik daripada engkau sembahyang seratus rekaat.” (Riwayat Ibnu Abdil-Bar)
Bahkan, betapa perlu dan pentingnya orang menuntut ilmu Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (Q.S Surat Al-Israa’ :36).

1
Persoalannya apa hanya dengan ilmu tugas kekhalifahan dapat diemban? Tentu
saja tidak!
Laju pesatnya kemajuan IPTEK telah membawa kita pada persoalan-persoalan
tata kehidupan yang berubah. Berbagai informasi dengan mudah dapat diperoleh
tanpa harus beranjak dari rumah. Tentu saja informasi bukan hanya yang baik tetapi
juga yang seronoh karena tidak ada lembaga sensor yang bisa menghadang lajunya
pancaran satelit komunikasi. Pertukaran, pergumulan antar umat manusia juga
membawa konskuensi pada perubahan tatanan nilai-nilai kehidupan. Kalau dulu
betapa sulitnya kita melihat dua insan lawan jenis berciuman, sekarang di sembarang
tempat kita bisa melihatnya. Di koran, di spanduk, di layar TV, VCD, atau di alam
terbuka yang berlabel tempat rekreasi pun mesum itu terjadi dengan begitu
leluasanya, bahkan sebagian orang menganggap dan menjadikan ciuman itu sebagai
‘tata krama pergaulan’. Sepertinya nilai-nilai agama tak dihiraukan sama sekali.
Semua itu tentu karena hasil kemajuan IPTEK yang tidak dimbangi Imtaq.
Betapa kemajuan IPTEK yang tidak dibarengi dengan pendidikan Imtaq atau
tepatnya tidak didasari Imtaq yang kuat, dapat terlihat dari sederet peristiwa yang
mengarah kepada kerusakan di bumi ini. Mulai dari vandalisme pada kegiatan demo
dalam negeri, pembakaran, penjarahan, tawuran antarsuku dengan kedok agama,
penghancuran Wall Center di Amerika, pengeboman Afganistan, Bali, perang di
Bosnia, penghancuran di Irak, Palestina, sampai pada pengejaran dan pembunuhan
binatang-binatang hutan tanpa memikirkan kelestariannya, dan masih banyak lagi.
Sederet peristiwa tersebut hanya sebagian kecil dari contoh penerapan hasil IPTEK
yang tidak pada tempatnya. Di sinilah letak penyimpangan tingkah laku dan
pemberontakan terhadap kodrat manusiawi. Iptek yang seharusnya dimanfaatkan
untuk menciptakan ketentraman, kenyamanan, dan kemakmuran di bumi, justru
diselewengkan untuk membuat kerusakan.
Tuhan menciptakan bumi dan manusia dengan segala kesempurnaannya ,bukan
untuk dirusak dan membuat kerusakan, tetapi agar menjadi khalifah dengan
memanfaatkan bumi sebagai sarana mencapai kebahagian, baik di dunia maupun di
akhirat kelak. Hal ini difirmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashas ayat 17 dengan
arti seperti berikut.“Carilah dalam karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu

2
kejayaan akhirat, tetapi jangan pula dilupakan kebahagiaan dari dunia ini.
Berbuatlah baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan jangan membuat
bencana.”
Untuk itu agar manusia bisa menjadi khalifah yang dapat dijadikan imam al-
amin dan uswatun hasanah, terpercaya dan contoh terbaik, tidak bisa ditawar-tawar
lagi IPTEK harus dilandasi Imtaq. Kalau tidak, cepat atau lambat kehancuran akan
datang. Seperti telah dipaparkan di depan, kemajuan Iptek jika dikendalikan oleh
orang yang tidak mempunyai rasa Imtaq akan banyak membawa mala petaka. Ingat
ungkapan Jawa ,”wong pinter bisa keblinger” (artinya orang yang ber-Iptek bisa
terjerumus dengan ilmu yang dimilikinya)
Integrasi IPTEK dan IMTAQ dapat diterapkankan pada semua bidang ilmu. Di
sekolah, integrasi itu bisa dilakukan melalui mata pelajaran yang ada. Pada
kesempatan ini , kita akan mengulas pendidikan imtaq melalui pembelajaran drama.

2. SEKOLAH DAN PENDIDIKAN IMTAQ


Sekolah sebagai mini society memiliki peranan sangat penting dalam
menanamkan nilai-nilai imtaq kepada warganya. Artinya, sasaran program imtaq
bukan hanya untuk siswa, tetapi juga Kepala Sekolah, Komite Sekolah, guru, dan
karyawan lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pengelolaan iklim edukasi yang
mengarah kepada nuansa imtaq. Suatu kebohongan jika imtaq digembar-gemborkan
kepada siswa sementara jajaran pengelola sekolah yang menjadi central force, tidak
memberikan kontribusi keteladanan, tidak bisa dijadikan panutan yang digugu dan
ditiru. Misalnya, di sekolah diterapkan larangan merokok bagi siswa sementara
guru/karyawan merokok. Jelas hal ini suatu tindakan ‘lempar batu sembunyi tangan’,
tidak bertanggung jawab. Artinya, aturan itu diberlakukan secara tidak adil. Dengan
kata lain orang yang seharusnya ‘digugu dan ditiru’ malah menyimpang dari akhlak
karimah. Padahal berlaku adil termasuk bagian dari taqwa.
Dalam wahyu-Nya, Allah berfirman yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi-saksi dengan adil.
Dan jangan sekali-sekali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu

3
untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada
taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan (Q.S Al- Maa-idah:8).
Ayat di atas mengandung arti bahwa kalau kita mengaku beriman, kita harus
menegakkan kebenaran karena Allah, dilarang membenci orang lain, dan berlaku adil
karena berlaku adil berarti memupuk taqwa.
Ada suatu pernyataan yang mengatakan bahwa sikap anak kepada kedua
orang tuanya tergantung sikap mereka kepada anak-anaknya. Bila kepala sekolah,
guru dan karyawan itu kita ibaratkan orang tua, sedangkan siswa itu anak,
ketidakadilan yang diperbuat oleh kepala sekolah, guru/karyawan mendorong siswa
untuk berbuat tidak adil juga (mungkin diawali dari rasa iri, dengki, dan hasut).
Keadaan demikian ini akan berdampak pada suasana ketidakharmonisan, kekacauan
atau kerusakan akhlak karimah. Pada gilirannya nuansa imtaq di sekolah tidak akan
terwujud. Dengan demikian untuk menanamkan imtaq kepada siswa jajaran panutan
(imam) harus berlaku adil dalam memberlakukan aturan atau tata tertip. Artinya, tata
tertib berlaku sebagai undang-undang sekolah yang mengikat seluruh warga sekolah
bukan hanya mengikat sepihak saja.
Dalam hadist nabi dinyatakan bahwa berlaku adil akan mendapat jaminan
dari Allah, sebagaimana diriwiyatkan Muslim berikut ini.
“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah kelak akan menempati
mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam
melaksanakan hukum dan apa yang mereka urus pada keluarga” (Muslim).
Secara skematis pola hubungan sekolah dan pendidikan imtaq dapat
digambar seperti di bawah ini.

4
Tujuan
Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan Nasional

Gb. 1 : Pola Hubungan Sekolah dan Pendidikan Imtaq

Gambar tersebut menunjukkan bahwa imtaq menjadi titik sentral atau inti dari
program sekolah yang akan dicapai oleh semua warga sekolah. Hal ini terjadi karena
warga sekolah terikat oleh program sekolah yang merupakan aplikasi dari tujuan
pendidikan nasional. Gambar segi empat yang berada pada daerah paling luar
menunnjukkan bahwa negara memberi standar arah pendidikan yang berlaku secara
nasional. Tujuan pendidikan nasional aplikasinya terdistribusi dalam kurikulum yang
akan diterapkan di sekolah. Tentu saja agar pencapaian kurikulum bisa terealisasi
dengan tepat maka sekolah menyusun program yang disesuaikan dengan kemampuan
dan sosio kultural yang melingkunginya. Program sekolah itu hanya akan tercapai
bila seluruh SDM sekolah (Kepala Sekolah, guru, karyawan, komite sekolah, dan
siswa) diberdayakan ke arah tujuan inti, yakni nuansa IMTAQ. Untuk itulah program
imtaq diintegrasikan ke seluruh bidang kehidupan sekolah, terutama dalam mata
pelajaan yang diajarkan di sekolah.
3. PERANAN PEMBELAJARAN DRAMA DALAM PENDIDIKAN IMTAQ
Agar terdapat persamaan pandangan, sebelum membahas lebih jauh tentang
peranan drama dalam pendidikan imtaq sebaiknya kita bahas dahulu pengertian kata-
kata: pembelajaran, pengajaran, dan pendidikan yang sering kali digunakan dengan
pengertian yang tidak tepat karena dianggap bermakna sama.

5
Apakah pembelajaran itu? Dan apa pengajaran?
Kata ‘pembelajaran’ terbentuk dari kata ‘ajar’ kemudian mendapat imbuhan ‘ber-‘
(dalam proses pembentukan kata, imbuhan ‘ber’ mengalami proses adaptasi).
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘ajar’ memiliki arti ‘petunjuk yang
diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti)’. Sedang kata ‘belajar’ memiliki
arti : (1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, (2) berlatih, (3) berubah tingkah
laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Kemudian dari kata ‘belajar’
inilah kata ‘pembelajaran’ dibentuk. Imbuhan ‘pem – an’ mengandung makna
‘proses’. Jadi, kata ‘pembelajaran’ bisa dimaknai ‘suatu proses belajar, proses
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu’. Dari pengertian ini terlihat peletakan
posisi kemitraan antara guru dan siswa dalam bersama-sama mengarungi sebuah
proses. Guru dan siswa secara bersama-sama dalam kedudukan sejajar saling mencari
dan memberikan pengalaman untuk memecahkan persoalan ilmu. Dengan demikian
‘pembelajaran’ berhubungan dengan kegiatan mengisi ‘otak’.
Berbeda dengan ‘pembelajaran’ , kata ‘pengajaran’ terbentuk dari kata ‘ajar’ dan
imbuhan ‘peng – an’ yang dapat diartikan sebagai proses mengajar. Artinya, di satu
sisi ada yang mengajar yakni guru, di sisi lain ada yang diajar yakni siswa. Dalam hal
ini kedudukan siswa jadi ‘obyek, sasaran atau penderita’. Dan, karena ia sebagai obyek
tentu saja pasif. Kalau demikian kejadiannya, siswa akan menempati posisi ‘yang
dikuasai’ dan ‘terkuasai’. Ini beararti konsep pendidikan sebagai ‘pembebas’ dan
pemerdekaan’ manusia tidak berjalan. Pada gilirannya pola budaya ‘penguasa’ sebagai
penindas akan tetap terlestarikan. Guru berada pada posisi ‘paling’ dan segalanya bagi
siswa sehingga secara hirarki guru bertindak sebagai ‘penguasa ilmu’. Atau dengan
kata lain, terjadilah penguasaan manusia oleh manusia, penindasan manusia oleh
manusia. Padahal siswa kan juga manusia yang perlu dimanusiakan, bukan hanya
dijadikan obyek semata. Itulah alasannya mengapa pada tulisan ini digunakan istilah
‘pembelajaran’ bukan ‘pengajaran’
Lalu apa pendidikan itu?
Banyak orang yang memberikan batasan pengertian pendidikan. Di bawah ini
akan dipaparkan beberapa pandangan tentang batasan-batasan tersebut.

6
1. “Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah
kedewasaan" (Ngalim Purwanto, 1997).
2. “… pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan
mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani
sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan”
(Djumberansyah Indar, 1994).
3. M. Masir Ali (1979) mengatakan pendidikan dapat dimaknai secara luas
dan secara sempit. Secara luas pendidikan berarti segala sesuatu yang
menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia. Sedangkan
secara sempit, pendidikan berarti segala usaha mengembangkan nilai-nilai,
menyampaikan nilai-nilai untuk dipakai si anak, sehingga ia jadi orang pintar,
baik, mampu hidup, berguna bagi masyarakat, yaitu nilai-nilai yang akan
diambil oleh yang dididik, sehingga ia dapat memiliki nilai itu. Baik pribadi
itu berusaha sendiri mengejar nilai itu, ataupun ia minta bantuan orang lain.
4. Pendidikan Menurut Paulo Freire (Terj.2002)
Bagi Freire sistem pendidikan sebaiknya menjadi kekuatan penyadar dan
pembebas umat manusia. Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan,
bukan penjinak sosial-budaya. Anak didik menjadi subyek belajar, subyek
bertindak dan berpikir, dan pada saat bersmaan berbicara menyatakan hasil
tindakan dan buah pikirannya. Pendek kata proses penyadaran merupakan
proses inti atau hakikat dari proses pendidikan itu sendiri.
Dari empat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses
interaksi antar manusia dalam hal menerima dan memberi nilai-nilai untuk mencapai
tujuan penyadaran hakikat manusia dan kemanusiaannya .
Berdasarkan penjelasanan di atas dapat disimpulkan bahwa ‘pembelajaran’
berhubungan dengan kegiatan mengisi ‘otak’ sedangkan ‘pendidikan’ lebih total
menyentuh potensi siswa sebagai manusia, yakni menyentuh potensi 3H (hand, head,
heart). Konsep inilah sebenarnya yang sering kali terlupakan ketika kita dituntut oleh
pencapaian prestasi hasil belajar.

7
1). Pembelajaran Drama di Sekolah
Pembelajaran drama adalah proses interaksi pelaku-pelaku belajar mengenai
drama, agar mempunyai pengetahuan dan kepintaran berdrama.
Drama menunjuk pada dua pengertian, yaitu drama sebagai sastra dan drama
sebagai seni pertunjukan.
a. Drama sebagai Sastra
Yang dimaksud drama sebagai sastra adalah drama dalam bentuk naskah
tulis. Sebagai sastra, drama bukan sekedar hasil imajinasi yang tiada arti. Ia
merupakan reduksi dari pengalaman hubungan interaktif dan kritis apresiatif
pengarang dengan lingkungan. Boleh dikatakan drama merupakan gambaran
hidup dan kehidupan. Taufik Ismail (2001) mengatakan bahwa karya sastra
merupakan sari dari pengalaman batin bangsa, suka dukanya, pencapaian dan
kegagalannya, keberanian dan ketakutannya, kegagahan dan kebopengannya,
kejujuran dan kekhianatannya, serta catatan setia perjalanan sejarahnya yang
dibuat dalam bentuk yang estetik, indah, menyentuh perasaan dan memberikan
kearifan hidup bagi pembacanya. Dan apabila dihayati dan didalami, maka
berlangsunglah penghalusan budi, pengayaan pengalaman dan perluasan wawasan
terhadap kehidupan. Selanjutnya pembaca sastra ini menjadi toleran terhadap
masyarakatnya, bersimpati pada manusia dan makhluk serta alam sekitarnya. Dia
menjadi arif dan cinta pada kehidupan, berempati pada penderitaan manusia dan
sangat sensitif serta mudah diajak untuk beramal saleh pada masyarakat. Dia akan
benci pada setiap bentuk kekerasan, tindak akan sudi ikut serta dalam tindakan
aniaya, bahkan menentangnya.
Senada dengan Taufik, Jonothan Neelands (terjemahan,1993) menyatakan:
“Drama merupakan cara (interaktif) yang bersifat sosial untuk menciptakan
dan menjelaskan makna hidup manusia melalui tindakan imajinatif dan bahasa
yang berhubungan dan tanggap terhadap kegiatan kehidupan nyata.”
Berpedoman dari dua pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa
membaca sastra (drama) memberi berbagai kemungkinan kepada kita untuk
medapatkan pelajaran hidup dan kehidupan. Kita dapat memetik hikmah dari
sifat, perbuatan, pandangan hidup, dan pengalaman hidup orang lain yang

8
ditawarkan pengarang melalui kata-kata sastranya. Dan pada gilirannya nilai-nilai
yang ditawarkan itu (nilai budi pekerti, nilai sosial budaya, nilai imtaq dll) dapat
kita gunakan dalam hidup bermasyarakat (hablum minnannas), hidup
berketuhanan (hablum minallah), dan ber-hablum min makhluk lain. Boleh jadi,
membaca sastra (drama) termasuk ibadah wajib yang harus dilakukan oleh setiap
orang, seperti apa yang diperintah Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat 3-4 berikut ini.
“Bacalah, dan Tuhanmu yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam.”
Untuk kepentingan pendidikan imtaq, drama yang dipilih harus yang mengandung
nilai-nilai bernuansa imtaq. Dalam hal ini Pusat Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia, Jakarta telah menawarkan berbagai judul. Misalnya Tjitra (dalam Lakon
Sedih dan Gembira) karya Taufik Ismail, Malam Jahanam (Motinggo Boesye),
Mahkamah (Asrul Sani), Domba-domba Revolusi (B.Soelarto) dll. Atau dapat juga
menulis drama sendiri berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Baik oleh guru
maupun oleh siswa. Baik secara individu maupun secara kelompok. Tentu saja tetap
memperhatikan rambu-rambu nuansa imtaq.
b. Drama sebagai Seni Pertunjukan (Teater).
Yang dimaksud drama sebagai seni pertunjukan (Seni Teater) adalah drama
yang dipanggungkan/dipentaskan di hadapan penonton dengan berbagai
perlengkapan pendudukungnya. Dalam pengertian ini drama sama dengan
sandiwara. Agar lebih jelas sebaiknya dibahas pula kedua pengertian tersebut.
Istilah drama merupakan hasil terjemahan dari kata Yunani yang berarti
‘gerak’ atau dalam bahasa Inggris ‘action’ atau ‘a thing done’ (Mbijo Saleh, 1967).
Kemudian lebih lanjut ditegaskan bahwa ‘a thing done’ adalah suatu yang
dilakukan, yakni ‘life presented in action’ atau hidup yang dihidangkan dengan
gerak laku (Simanjuntak dalam Mbijo Saleh, 1967). Sedangkan istilah ‘sandiwara’
dipopulerkan oleh P.K.G. Mangkunegara VII. Istilah ini terbentuk dari kata ‘sandi’
yang berarti ‘rahasia’ dan kata ‘warah’ yang berarti ‘pelajaran’. Kemudian oleh Ki
Hajar Dewantara diterjemahkan menjadi ‘pengajaran yang dilakukan dengan
perlambanng’.

9
Dengan demikian, nyata benar istilah ‘drama’ dan ‘sandiwara’ bisa saling
menggantikan karena keduanya memiliki hakikat yang sama. Drama bersumber dari
kehidupan, sandiwara demikian juga. Keduanya mengajarkan tentang kehidupan
manusia melalui panggung, yang dipadukan dengan unsur seni lain sehingga enak
ditonton. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa drama sebagai seni
panggung atau seni teater berfungsi sebagai media pengajaran dan pendidikan.
Unsur pengajaran berhubungan dengan penyampaian materi yang akan menjadi
konsumsi kognisi (otak), sedangkan pendidikan berhubungan dengan penyampaian
materi berkenaan dengan rasa, karsa dan karya siswa (perbuatan tingkah laku).
Boleh dikatakan drama merupakan ‘guru’ yang bertugas mengajar , mendidik, dan
melatih siswa. Hal ini pernah dinyatakan oleh Ratna Indraswari Ibrahim (2001)
sebagai berikut:
“… di Filipina… kelompok-kelompok teater menggunakan sebuah konsep yang
mereka sebut ATOR (Artist, Teacher, Organiser, Risetser). Seorang pelaku
tetater, di samping dia sebagai seorang srtis yang akan tampil di panggung…, ia
juga seorang guru yang bisa menerjemahkan nilai-nilai untuk ditransformasikan
kepada koleganya (pelaku teater lain dan penonton). Ia juga seorang organiser
yang dapat mengelola sebuah kelompok atau komunitas, di samping itu ia juga
seorang pengamat kehidupan yang kompleks.”
Dari paparan di atas jelaslah bahwa drama sebagai seni panggung bukan
sekedar alat penghibur belaka, tetapi lebih dari itu ia merupakan sebuah kekuatan
penyadaran dan pembebas umat manusia (pembaca-penonton) dari ‘tingkah
menyimpang’ yang dianggap pemicu kerusakan di muka bumi ini. Dengan menengok
kembali sejarah munculnya tetater kita bisa membuktikan hal itu.
“… tahun 490 S.M saat mulainya pendidikan dan pengajaran terhadap rakyat,
melalui medium sandiwara di Athena. Pendidikan ketuhanan dan pengajaran
agama atau ibadat telah jadi nada dasar dari pada sandiwara yang
dipertontonkan dewasa itu.” (Mbijo Saleh, 1967).
Pendapat yang mendukung pernyataan itu disampaikan oleh Pribadi Agus S
(2001) di bawah ini.

10
“Pengalaman menghayati masalah-masalah secara demikian melalui berbagai
pementasan niscaya akan membawa perubahan pada diri awak pentas maupun
penonton. Perubahan ini meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sikap
akan menjadi lebih terbuka, lebih lapang dada terhadap berbagai sikap,
pendapat, dan gagasan orang lain karena bagaimanapun kegiatan pementasan
dan menonton merupakan kegiatan membuka diri terhadap sikap, pendapat, dan
gagasan orang lain, dalam hal ini terbuka pada kehidupan. Sikap ini akan
memberi kesempatan kepada siapan pun untuk memperluas dan memperdalam
kesadaran tentang hidup ini.”
Kalau sudah demikian kenyataannya, persoalannya tinggal bagaimana warga
sekolah mendukung kegiatan pementasan. Guru dan siswa secara demokratis bisa
memilih naskah yang bernuansa imtaq dan berlatih dengan serius. Kepala sekolah
beserta karyawan berpartisipasi dengan membantu mengupayakan tersedianya
fasilitasnya sesuai dengan tanggung jawab dan funfsinya masing-masing.
2). Pendidikan Imtaq
a. Pendidikan
Di depan telah dipaparkan bahwa pendidikan adalah proses interaksi antar
manusia dalam hal menerima dan memberi nilai-nilai untuk mencapai tujuan
penyadaran hakikat manusia dan kemanusiaannya. Kesimpulan ini mengadung
pengertian bahwa proses pendidikan mengandung 4 unsur pokok, yaitu seperti
terlihat pada bagan berikut.

Gb.2 : 4 unsur pokok pendidikan

11
Bagan di atas menggambarkan bahwa pendidikan merupakan suatu proses
interaksi. Karena proses maka keberlangsungannya secara terus-menerus, dan
memakai sistem tertentu serta aturan main tertentu pula. Interaksi tersebut
dilakukan antara subyek dengan subyek. Satu subyek yang diberi nama pendidik
dan satu lagi subyek yang bernama terdidik. Subyek-subyek ini dalam proses
interaksinya bisa saling berganti nama. Pada suatu saat pendidik bisa menjadi
terdidik. Begitu sebaliknya. Dengan demikian penamaan pendidik dan terdidik itu
hanya untuk mempermudak pemahaman, karena dalam kenyataannya guru dan
siswa, yang dianggap pendidik dan terdidik, keduanya sama-sama berproses ‘take
and give’. Pada saat menerima (pasif) ia berada pada posisi terdidik, akan tetapi
pada saat memberi (aktif), ia berada pada posisi pendidik. Begitu seterusnya terjadi
arus pergantian.
Arus pergantian posisi antara pendidik dan terdidik bisa cepat bisa lambat. Ia
bergantung pada volume dan penting tidaknya nilai yang akan diterima atau
diberikan kepada masing-masing pihak. Kalau volume nilai yang akan disampaikan
banyak dan itu penting maka bisa memakan waktu lebih lama. Begitu sebaliknya.
Di samping itu, lama tidaknya proses arus itu juga ditentukan oleh cepat-lambatnya
daya serap masing-masing pihak. Dan yang perlu diingat lagi bahwa pada saat
terjadi ‘lempar-tangkap’ nilai-nilai tadi, bisa saja memunculkan nilai baru. Namun
demikian, apapun nilai yang ‘dilempar-tangkapkan’ semua mengarah kepada satu
titik yang disebut dengan tujuan. Agar lebih jelas bagaimana arus itu bekerja, lihat
gambar di bawah ini.

12
Pendidik Tujuan
Subyek Terdidik
Pendidikan Subyek
Terdidik
Pendidik

Gb.3 : Alur proses pendidikan

b. Imtaq
Iman merupakan keadaan dan sikap yang seharusnya ada di dalam diri
manusia. Ia hanya akan kuat berada di dalam diri manusia karena bukan sekedar
mempercayai (eksistensi Allah, malaikat, Nabi dan Rosul, hari akhir, kitab, dan
taqdir), tetapi juga mengandung unsur ketaatan dan ketundukan tanpa membantah
(Hasan Basri, 1995). Sedangkan perkataan ‘taqwa’ berasal dari bahasa Arab
‘waqiyah’ yang berarti memelihara. Maksudnya, memelihara diri dari perbuatan
yang tidak dibenarkan oleh Allah yang menyebabkan ia masuk neraka dan bila
menjauhi larangannya berarti pula ia mengerjakan perintah Allah dengan baik
(Yusran Asmuni,1988).
Dalam surat Al–Baqarah ayat 21 ‘taqwa’ disamakan dengan kata ‘taat’, seperti
nampak pada terjemahan berikut.
“Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan
kamu dan orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi taqwa atau taat
kepada Allah ‘ (Q.S. Al-Baqarah: 21)
Kemudian dengan mengutip beberapa ayat Al Qur’an yang memuat ciri-ciri
orang taqwa, yakni surat Al-Baqarah ayat 3-5, Al-Baqarah ayat 21 dan ayat 27, Ali
Imran 133-136, Nasruddin Razak (1984) menyimpulkan makna taqwa sebagai
berikut.

13
“Takwa ialah sikap mental orang-orang mukmin dan kepatuhannya dalam
melaksanakan prinah-perintah Allah swt serta menjauhi larangan-Nya atas
dasar kecintaan”
Kesimpulan ini menunjukkan bahwa taqwa merupaan ciri dari orang yang
beriman. Dengan demikian antara iman dan taqwa ibarat lampu dengan sinarnya.
Lampu tanpa sinar kehilangan fungsinya. Sementara itu sinar tanpa sumber tak
mungkin terjadi. Iman merupakan sumber ketaqwaan sedangkan taqwa adalah sifat
dari keimanan. Artinya, orang yang beriman dituntut taat dan patuh dengan penuh
kesadaran dan keikhlasan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan
Allah.
Dengan singkat dapat dikatakan imtaq berarti sikap percaya terhadap Allah,
malaikat, nabi-rosul, kitab, taqdir, dan hari akhir, sepenuh jiwa raga, pasrah
sumarah narima ing pandum secara total terhadap perintah dan larangan Allah
dengan diwujudkan dalam perbuatan dan tingkah laku secara ikhlas.

3). Pembelajaran Drama Bernuansa Imtaq


a. Tujuan Pembelajaran
Pembelajaran drama sebagai sastra menjadi bagian dari pengajaran apresiasi
sastra, maka tujuan pembelajarannya sama dengan tujuan pembelajaran sastra.
Sesuai dengan kurikulum 1994, pembelajaran sastra adalah sebagai berikut.
“Siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya
sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan,
serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa “ (GBPP Bahasa
dan Sastra Indonesia Kurikulum 1994).
Sementara itu, untuk drama sebagai teater aplikasi pembelajarannya secara
intensif bisa dilakukan melalui ekegiatan ekstrakurikuler karena memerlukan
banyak waktu untuk berproses. Kalau toh disediakan waktu khusus dalam intra
sebaiknya digunakan untuk analisis naskah dari sisi literernya.
Adapun konsep dasar pembelajarannya meliputi :

14
(1) pembelajaran tidak diarahkan ke pengetahuan sastra (teori sastra) tetapi
langsung ke nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam karya sastra.

(2) Pengetahuan kesastraan diletakkan pada posisi penunjang saja.


(3) Lebih banyak mengarah kepada pembacaan secara langsung karya sastra
bukan sinopsis atau pencatatan teori-teori yang harus dihafal.
(4) Hendaknya diciptakan situasi mendapatkan kenikmatan dan kemanfaatan
membaca karya sastra.
(5) Diupayakan berani mengungkapkan hasil pergaulan dengan karya sastra
secara tulis/lisan
(6) Diarahkan ke arah gemar mencipta secara kreatif karya sastra
Dari tujuan dan konsep dasar pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat
pembelajaran sastra adalah belajar tentang nilai-nilai hidup dan kehidupan.

b. Langkah-langkah Pembelajaran
Sudah dijelaskan di depan bahwa pembelajaran drama merupakan suatu
proses interaksi yang meliputi ranah kognisi (berhubungan dengan pengajaran
ilmunya) dan ranah afeksi dan psikomotor (berhubungan dengan pementasannya).
Agar mencapai ketiga ranah tersebut, pembelajaran drama perlu disusun dengan
langkah-langkah sebagai berikut.

1. Kegiatan yang Berhubungan dengan Kesastraan


(1). Menentukan naskah drama bernuansa imtaq secara musyawarah.
Untuk memilih naskah drama yang akan dipentaskan hendaknya dilakukan
secara musyawarah. Ini dilakukan dengan tujuan membiasakan pembelajar
selalu mengutamakan musyawarah dalam setiap mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama. Di samping itu, untuk menumbuhkan rasa ikut
handarbeni bahwa pentas itu memang milik bersama, tidak mungkin
terlaksana tanpa kerja sama karena pementasan pada hakikatnya merupakan
kerja kolektef. Bila musyawarah ini dapat dibiasakan dengan baik, insya
Allah secara psikologis peserta pembelajar (crew pementasan, para pemain,

15
dan sutradaranya) akan memiliki persamaan tekad. Dalam bermusyawarah
hendaknya guru bertindak sebagai pengarah saja. Hal ini dimaksudkan agar
proses ‘penyadaran’ bekerja sama dapat terhayati secara inten.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan naskah adalah:
(a). Tema/isi cerita mengandung nilai-nilai imtaq.
(b). Sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis pembelajar, terutama
siswa.
(c). Menarik untuk dipertontonkan berkaitan dengan sosio-budaya dan kodisi
setempat.
(d). Memungkinkan dipentaskan berkaitan dengan unsur teknis (tempat,
biaya, perlengkapan, kemampuan dll).
(2). Membaca dalam hati naskah terpilih secara individual.
Membaca tahap pertama harus dilakukan secara individu untuk mengetahui
cerita secara utuh, tokoh-tokoh cerita, setting, dan unsur pembangun drama
yang lain.
(3). Menganalisis unsur literer (intrinsik) (tema, tokoh, konflik, setting dll) secara
individual.
Langkah ini ditempuh agar secara individu dapat mengetahui dengan detil
seluruh komponen yang membangun drama itu. Dan pada gilirannya
membantu pemahaman, penghayatan, dan pengekspresian (akting) masing-
masing tokoh yang diperankan.
(4). Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam naskah.
Langkah ini dilakukan dengan diskusi maksudnya untuk menyamakan
pandangan terhadap nilai-nilai yang ditemukan. Hal ini agar kesalahpahaman
tidak terjadi karena nilai-nilai itu kadang sangat bersifat subjektif, antar
individu bisa berbeda, bahkan bertolak belakang. Kalau ini yang terjadi
keharmonisan dalam kerja kolektif akan terganggu sehingga pementasan di
atas panggung tidak harmonis dan nilai estetik yang diharapkan tidak akan
terwujud.

2. Kegiatan yang Berhubungan dengan Pertunjukan

16
(5). Setelah langkah 1 s.d 4 maka diadakan musyawarah tentang pementasannya.
Musyawarah ini diarahkan kepada bagaimana bentuk permainan
panggung, bagaimana setting yang akan dibangun, kostum pemain,
propertynya bagaimana, dan hal lain yang berhubungan dengan pentas.
(6). Pembentukan panitia pementasan.
Panitia perlu dibentuk agar tanggung jawab kegiatan bisa terdistribusi dengan
jelas kepada seluruh personil yang terlibat dalam pembelajaran pentas drama.
Bila masing-masing seksi yang dibentuk dapat bekerja dengan baik maka
proses ‘kolaborasi’ kerja akan harmonis. Dan ini akan dapat membentuk
mental bertanggung jawaqb terhadap tugas, suka bekerja sama/mengutamakan
kebersamaan, saling asih, saling asuh, dan saling asah dalam proses
pembelajaran.
(7). Pemilihan calon artis/aktor dan penentuan sutradaranya (Sutradara bisa dari
guru atau dari sisiwa).
Pemain hendaknya dipilih dengan pertimbangan jenis kelamin, postur
tubuhnya (bentuk fisiknya), karakter, tingkat kecakapan, kondisi kesehatan,
dan detil-detil lain yang dianggap cocok untuk memerankan totoh tertentu.
Dalam hal ini guru/sutradara bisa menggunakan teknik test akting (casting),
kemudian baru ditentukan siapa-siapa pemeranannya.
(8). Panitia segera menyelesaikan tugasnya, mulai dari pembuatan proposal,
undangan, tempat yang digunakan, penggalian dana, sampai persiapan segala
perlengkapan pentas yang dibutuhkan.
(9). Pemain yang sudah ditentukan dan dengan pengarahan sutradara segera
berlatih.
Proses latihan harus dilaksanakan dengan disiplin tinggi, menghargai
waktu dan terprogram dengan jelas. Beberapa catatan tentang latihan antara
lain:
(a). Sebelum, selama, dan setelah latihan hendaknya diciptakan nuansa
imtaq. Misalnya mengucap salam jika datang/pergi, berjabat tangan
dengan sesama kawan sejenis, berdoa sebelum mulai latihan,
menciptakan suasana konsentrasi dll.

17
(b). Latihan dimulai dari posisi duduk melingkar. Posisi ini melambangkan
sebuah dunia yang bulat, kebersamaan yang menghidupi, satu tujuan,
satu tekad dan keutuhan.
(c). Dalam posisi bulat itu baru dimuali berdoa. Berdoa bisa dilakukan dalam
bentuk pembacaan puisi untuk mengarahkan ke situasi seni berakting.
Kemudian baru disusul dengan ‘meditasi’. Meditasi ini merupakan
kegiatan menyatukan secara total semua potensi-potensi diri dan
lingkungannya dengan nafas. Pada saat ini guru bisa memasukkan
pengertian-pengertian ketahuidan yang menyentuh hati pembelajar.
Misalnya mengulas apa itu nafas, siapa yang menciptakan nafas,
mengapa orang itu harus bernafas, bagaimana kalau nafas itu tiba-tiba
berhenti dan seterusnya.
(d). Setelah meditasi dilanjutkan dengan latihan teknik gerak, vokal,
ekspresi, imajinasi dll untuk membentuk kelentukan jiwa dan tubuh,
yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan akting. Agar cepat
mengarah kepada akting tokoh yang diperankan latihan ini bisa dimulai
dari membayangkan pengalamannya yang sesuai dengan karakter tokoh
yang akan dimainkan.
(e). Latihan akting.
Latihan ini diarahkan pada gaya panggung yang diharapkan oleh
sutradara. Dalam berakting seseorang boleh menemukan pola-polanya
sendiri tetapi tetap mengikuti arahan sutradara. Hal ini untuk
menanamkan rasa hormat kepada pemimpin. Sebaliknya, sutradara
hendaknya selalu mengakomodasi masukan-masukan dari para pekerja
tetater yang lain.
(f). Mengakiri latihan dalam posisi bulat seperti di awal latihan dan berdoa.
Ini dimaksudkan membiasakan bersyukur kepada Allah atas segala
nikmat-Nya. Dan sebelum pulang dibiasakan mengucap salam dan
berjabat tangan, terutama kepada guru pembimbingnya.
(10). Pementasan.

18
Pementasan merupakan kegiatan puncak dan klimaks dari serangkaian
proses latihan. Pementasan ibarat ‘lempar tangkap’ nilai antara personil
pementasan dengan penonton/penikmat, antara pemain dengan pemain lain,
pemain dengan sutradara, pemain dengan pendukung, bahkan antarindividu
yang berada dalam ruang permainan.
3.Kegiatan yang Berhubungan dengan Evaluasi
Kegiatan evaluasi dalam pementasan dapat dilaksanakan dengan sistem
dialog langsung antara penonton dengan pemenampil. Dalam hal ini bisa
dilakukan langkah berikut.
(11). Sarasehan
Setelah pementasan hendaknya diadakan sarasehan antara penonton
dengan yang ditoton. Kegiatan itu untuk mengulas seluruh komponen
pementasan, baik berkaitan isi, tema, dan nilai yang terkandung dalam cerita
maupun hal-hal yang berkaitan dengan unsur pendukung yang lain.
Sarasehan ini penting utuk mengukur tingkat kejujuran pekerja teater,
terutama pada pemain dan sutradaranya. Seberapa jauh tingkat keikhlasan
pekerja tetater menerima kritik, saran dan gagasan baru dari penonton, dan
seberapa tinggi mereka menghargai pembicaraan orang lain. Begitu juga
sebaliknya bagi penonton. Di sini juga akan terjadi tukar pendapat bahkan
melempar nilai-nilai baru yang berhubungan dengan pementasan. Dan yang
lebih penting lagi penyadaran terhadap nilai-nilai kehidupan, terutama imtaq
akan tertaman lebih mendalam.
(12). Kegiatan evaluasi apresiatif ini agar lebih efektif dan terarah, guru
(sutradara) dapat menyebarkan angket Evaluasi dan harus diisi oleh
penonton. Keuntungan yang didapat dari pola ini adalah : (1) penonton akan
serius dan cermat mengikuti jalannya pementasan untuk bisa mengisi angket
yang ditugaskan kepadanya. Dengan demikian suasana pementasan dapat
terjaga dengan baik, tidak ada pembicaraan penonton yang mengganggu
permainan. (2) Pihak penampil dapat mengharapkan hal-hal yang benar-
benar diinginkan dari penonton untuk intropeksi diri. (3) Hasil isian angket

19
dapat dijadikan bahan tulisan kritik drama , resensi, atau materi yang relevan
lainnya.

4 4. PENUTUP.
5 1). Kesimpulan.
6 Bedasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran drama
merupakan salah satu media yang sangat potensial untuk menanamkam nilai-
nilai imtaq kepada siswa. Hal ini dikarenakan drama tidak saja menyentuh
‘otak’, tetapi juga menyentuh secara langsung ‘hati’ yang terimplementasi ke
dalam sikap, pandangan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.Di
samping itu drama sendiri merupakan wadah dari nilai-nilai kehidupan yang
ditawarkan oleh pengarangnya. Jadi belajar drama berarti belajar hidup dan
mengahayati kehidupan.
7 Kemudian agar pembelajar lebih inten dalam mencerap nilai-nilai imtaq
dalam drama yang dijadikan materi pembelajaran sebaiknya siswa dilibatkan
secara penuh mulai dari perencanaan pembelajaran sampai akhir pementasan.
Pelibatan siswa ini terutama dalam hal berkreasi, berinovasi, dan berdedikasi
menerapkan nuansa imtaqnya.
8
2). Saran.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar penanaman nilai-nilai imtaq melalaui
pembelajaran drama dapat efektif adalah:
a). Guru hendaknya menempatkan diri sebagai ‘mitra tua’ siswa dalam
pembelajaran bukan sebagai orang yang selalu mendekte.
b). Proses pembelajaran sebaiknya memberdayakan potensi siswa seoptimal
mungkin.
c). Dalam setiap kesempatan sebaiknya diwarnai dengan nuansa imtaq.
d). Naskah drama yang dipilih sebagai materi pembelajaran hendaknya benar-
benar mencerminkan nilai-nilai imtaq.
e). Sistem diskusi/musyawarah sebaiknya selalu mewarnai setiap pengambilan
keputusan.

20
f). Keputusan yang menyangkut permasalahan teknis hendaknya disesuiakan
dengan lingkungan sekitar dan cultur sekolah yang sudah ada.

Pagak,21 Agustus 2003


Ditulis untuk mengabdi kepada bangsa, negara dan agama
Lebih khusus melalui pembelajatan Sastra Indonesia
Mudah-mudahan segera tercipta cultur Iptek-Imtaq bagai lampu dengan
cahayanya. Sebab:
Science with religion is affluence
Religion with science is supreme

21