Anda di halaman 1dari 8

PERCOBAAN V

UJI KETOKSIKAN AKUT


I.

PENDAHULUAN
1.1

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan kali ini adalah untuk memahami tujuan,
sasaran, tata cara pelaksanaan, luaran, dan manfaat uji ketoksikan akut
suatu obat.

1.2

Dasar Teori
Toksikologi adalah pengetahuan tentang efek racun dari obat
terhadap tubuh dan sebenarnya termasuk pula dalam kelompok
farmakodinamika, karena efek terapeutis obat berhubungan erat
dengan efek toksisnya. Pada hakikatnya setiap obat dalam dosis yang
cukup tinggi dapat bekerja sebagai racun dan merusak organisme
(Sola dosis facit venenum: hanya dosis membuat racun, Paracelsus).
Pada umumnya, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung dengan
tingginya dosis: bila dosis diturunkan, efek toksis dapat dikurangi pula
(Tjay & Rahardja, 2002).
Ilmu tentang toksik sangat erat kaitannya dengan bahan kimia.
Penekanan

yang

utama

ilmu

tentang

racun

adalah

untuk

mengidentifikasi penyebab, mengidentifikasi penyakit kronis dan akut


yang menjadi penyebab, mengondisikan kondisi dalam kondisi yang
aman, dan mencegah hal yang bahaya bahan kimia. Hal ini juga
berkaitan erat

untuk menyelesaikan program pengawasan untuk

mengarahkan para pekerja dan lingkungan di mana mereka bekerja.


Ilmu tentang toksik pada lingkungan berkaitan dengan dampak bahan
kimia yang mengganggu, sebagai pengotor lingkungan, pada
organisma. Istilah lingkungan meliputi semua lingkungan dari suatu
organisma individu, terutama pada tanah dan air. Ecotoxicology
mempunyai kaitan dengan efek bahan kimia yang beracun pada
populasi masyarakat tinggal di dalam ekosistem. Hal itu meliputi

interaksi mereka dengan lingkungan. Ilmu tentang racun mempunyai


kaitan dengan efek beracun pada organisma individu itu sendiri, selain
itu ecotoxicology mempunyai kaitan dengan dampak pada populasi
organisma dalam ekosistemnya. (Katzung, 2001).
Analisis Tradisional uji toksisitas menyediakan parameter
toksisitas yang diperkirakan dengan metode murni statistik. Parameter
ini tidak memiliki arti biologis intrinsik dan metode ini tidak
memberikan informasi tentang cara kerja bahan kimia yang diuji. Ini
merupakan suatu kendala bagi metode ini untuk perubahan skala dari
tingkat individu ke tingkat populasi, atau untuk memperhitungkan
heterogenitas temporal dan spasial. Pemodelan adalah alat penting
dalam

ekotoksikologi

dan

akhir-akhir

ini

tampaknya

telah

mendapatkan bunga yang lebih. Perkembangan pemodelan saat ini


berkembang dalam dua arah, model efek pada tingkat individu dan
data toksisitas menerapkan diperoleh pada tingkat individu untuk
respon pada tingkat populasi (Flammarion & Pery, 2004).
Toksisitas jangka panjang (kronis) mempunyai arti yang
terpenting, yaitu efek toksik yang baru dapat dipastikan setelah periode
laten yang cukup panjang, misalnya kerja mutagenik dan kerja
karsinogen. Ada beberapa kemungkinan untuk menggolongkan
toksikologi. Antara lain dapat dibedakan atas
1. efek toksik akut, yang langsung berhubungan dengan pengambilan
zat toksik dan
2. efek toksik kronis, yang pada umumnya zat dalam jumlah sedikit
diterima tubuh dalam jangka waktu yang lama sehingga akan
terakumulasi mencapai konsentrasi toksik dan dengan demikian
menyebabkan terjadinya gejala keracunan.
(Mutschler, 2002).
Prosedur pemeriksaan toksisitas obat dan zat kimia sangat rumit
dan semuanya dilakukan untuk mencegah kejadian yang dapat
merugikan konsumen/pasien. Tetapi perlu disadari bahwa uji
keamanan yang ketat sekalipun tidak dapat menjamin keamanan

konsumen seratus persen. Penggunaan obat, terutama yang baru selalu


akan disertai resiko, walaupun resiko ini telah diusahakan sekecil
mungkin. Hal ini terjadi karena beberapa reaksi toksik atau efek
samping timbul dengan frekuensi kejadian yang amat kecil. Food and
Drug Administration di Amerika Serikat misalnya, menyarankan
penggunaan pada sedikitnya 15.000 orang untuk melihat manifestasi
reaksi yang tidak dikehendaki. Variabilitas masyarakat dalam faktor
umur, seks, ras, kehamilan atau kelainan gen mempengaruhi juga
frekuensi kejadian. Parasetamol misalnya telah digunakan berpuluhpuluh tahun, tanpa diketahui bahwa pada keracunan dapat terjadi
kerusakan sel hati yang berakhir fatal. Evaluasi tidak hanya mengenai
LD50, tetapi juga terhadap kelainan tingkah laku, stimulasi atau depresi
SSP, aktivitas motorik dan pernafasan tikus untuk mendapat gambaran
tentang sebab kematian. Hal ini harus dilengkapi dengan pemeriksaan
laboratorium klinik dan pembuatan sediaan histologik dari organ
(Ganiswarna, 2005).
Pengujian toksisitas akut dilaksanakan di banyak sektor dalam
bahan-kimia buatan yang dihasilkan atau digunakan dari semua ilmu
tentang pengujian racun pada (atas) kedua-duanya ilmiah dan alasanalasan etis. Suatu tinjauan ulang (menyangkut) pengarah untuk toxicas
akut pengujian di dalam industri yang berkenaan dengan farmasi
menuju/mendorong suatu pergeseran paradigma dengan mana di
(dalam) vivo toxicas data akut adalah tidak lagi secara rutin yang
diperlukan mendahului manusia percobaan/pengadilan klinis (Seidle,
2010).

II.

CARA PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Gelas beker
2. Keranjang
3. Neraca analitik
4. Jarum suntik (1-2 mL)
5. Spuit oral dan sonde
6. Stopwatch
7. Tissue.
2.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Propanolol HCl 60 mg/kg BB
2. Propanolol HCl 120 mg/kg BB
3. Propanolol HCl 240 mg/kg BB
2.1.3 Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan pada percobaan ini adalah mencit
jantan atau betina.

2.2 Cara Kerja


20 ekor mencit
dibagi masing-masing 2 mencit
Kel. 1&2

Kel. 3&4

Kel. 5&6

Propranolol HCl
60 mg/kg BB

Propranolol HCl
120 mg/kg BB

Propranolol HCl
240 mg/kg BB

- diamati perilaku mencit


- dicatat perubahan yg terjadi selama
pengamatan selama 24 jam, meliputi:
- pengamatan fisik thd gejala klinis
- perubahan BB
- jumlah hewan yang mati
- Hispatologi seluruh organ
- dihitung jumlah mencit yang mati pada tiap
dosis pemberian senyawa uji selama proses
pengamatan
- dihitung LD50 sesuai metode yang
digunakan.
Hasil

DAFTAR PUSTAKA
Flammarion P. & Pery A. 2004. Apports de la modlisation des effets des toxiques
sur lindividu et la population en cotoxicologie aquatique
http://www.erudit.org/revue/rseau/2004/v17/n4/705545ar.html
Diakses tanggal 20 November 2011.
Ganiswarna, S.G. 2005. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Penerjemah : Bagian
Farmakologi dan Terapi. FKUI. Jakarta.
Katzung, G. B. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerjemah Nugroho, A.W.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Mutschler, E. 2002. Dinamika Obat Edisi Kelima. Penerjemah Widianto, M.B
Penerbit ITB. Bandung.
Seidle, T. 2010. Cross-Sector Review of Drivers and Available 3Rs Approaches
for Acute Systemic Toxicity Testing
http://toxsci.oxfordjournals.org/content/116/2/382.full.pdf+html
Diakses tanggal 20 November 2011
Tjay, T. H. & K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Edisi Kelima. PT. Elex
Media Komputindo. Jakarta.

LAMPIRAN
1.

Jelaskan perbedaan tata cara perhitungan LD50 antara metode Miller &
Tainter, Thomson-Weil, dan Litchfiel-Wilcoxon?

2.

Jelaskan tujuan, sasaran, luaran dan manfaat uji ketoksikan akut suatu obat?
Jawab:

1.

Cara perhitungan LD50 dengan metode Miller & Tainter adalah metode
perhitungan dengan menggunakan persamaan linier (log dosis VS probit),
persamaannya y= bx + a, dimana a adalah probit, dimana 50% hewan uji
mati, dan x adalah log dosis, setelah didapat x maka dicari harga log x nya,
harga inilah yang merupakan LD50. Sedangkan dengan metode ThomsonWeil adalah suatu metode dengan menggunakan rumus: Log LD 50= log Do +
d (f+1), dimana d= log faktor geometrik atau kelipatan dosis, f = bilangan
dari tabel Weil. Sedangkan metode Litchfiel-Wilcoxon adalah metode yang
didasarkan pada kekerabatan antara peringkat dosis dan % hewan yang
menunjukkan respons.

Menurut Farmakope Indonesia III penelitian toksisitas akut harus memenuhi syarat
sebagai berikut: 1) Menggunakan seri dosis dengan pengenceran berkelipatan tetap.
2) Jumlah hewan percobaan atau jumlah biakan jaringan tiap kelompok harus sama.
3) Dosis diatur sedemikikan rupa, sehingga memberikan efek dari 0% sampai 100%.
Nilai LD 50 dapat dihitung dengan rumus: m = a b (pi 0,5 )
m = log LD50
a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan kematian 100% tiap
kelompok.
b = beda logaritma dosis yang berurutan.
pi = jumlah hewan yang mati yang menerima dosis
i dibagi dengan jumlah hewan seluruhnya yang menerima dosis i

2.

Tujuan utama ketoksikan akut adalah untuk menetapkan potensi ketoksikan


akut, yakni kisaran dosis letal atau dosis toksis obat terkait, pada satu jenis
hewan atau lebih. Selain itu, uji ini juga ditujukan unutk menilai berbagai
gejala klinis yang timbul, adanya efek toksis yang khas, dan mekanisme
yang memeratai terjadinya kematian hewan uji. Sasaran dari uji ini adalah
hewan uji yaitu mencit. Tata cara pelaksanaan ini adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan hewan uji, hewan uji yang digunakan sekurangnya dua jenis
hewan, lebih disarankan empat jenis, terdiri dari roden dan nirroden,
baik jantan maupun betina, satu galur, dewasa sehat, dan beratnya
seragam (variasi yang diperbolehkan lebih kurang 10%).
b. Pengelompokkan hewan uji, hewan uji diadaptasikan di laboratorium
selama 1 minggu. Penimbangan berat badan dilakukan satu hari sebelum
perlakuan. Hewan uji dibagi menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan
peringkat dosis senyawa uji yang akan diberikan, ditambah satu

kelompok kontrol negatif. Masing-masing terdiri dari 5 ekor hewan uji.


Kemudian diberikan sediaan obat dan mencit diamati.
Lethal Dose 50 (LD50) adalah dosis yang menyebabkan kematian pada 50%
binatang
percobaan.
Lethal Concentration 50 (LC50) adalah konsentrasi yang menyebabkan
kematian
50% binatang percobaan.

pada