Anda di halaman 1dari 7

Temuan menarik k3

Pada proyek ini juga tidak ada peralatan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
yang dapat memberikan pertolongan pertama bagi pekerja di lapangan ketika terjadi
kecelakaan sebelum dibawa ke rumah sakit. Koordinasi antar pekerja sangat kurang
pula, misalnya pada saat mobil pick-up membawa timbunan mundur dengan cepat tapi
tidak melihat adanya pekerja yang sedang meratakan tanah timbunan yang telah ada.
Pekerja itu hampir saja ditabrak oleh mobil tersebut karena tidak adanya peringatan dari
temannya. Rambu-rambu mengenai kesehatan dan keselamatan kerja juga tidak ada
dipasang pada proyek pembangunan Gedung Kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera V
ini, padahal rambu-rambu tersebut sangat penting dalam acuan kepada pekerja agar
berhati-hati dalam bekerja dan memakai alat pelindung diri. Alasan kontraktor tidak
memasang rambu-rambu dan tidak memberikan alat perlindungan diri tersebut adalah
hanya akan menambah biaya, padahal biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan
nyawa yang melayang.
Pada proyek pembangunan Gedung Kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera V ini
seharusnya tidak dibiarkan begitu saja pekerja dalam menghadapi resiko kecelakaan
kerja mengingat kerugian yang akan ditimbulkan tidak hanya korban jiwa, materi yang
tidak sedikit baik bagi pekerja dan pengusaha, tertundanya proses produksi, hingga
kerusakan lingkungan yang akhirnya berdampak bagi masyarakat luas. Safety talk
merupakan salah satu sarana penunjang dalam upaya mencegah terjadinya bahaya di
tempat kerja, serta berbagai masalah pekerjaan dapat didiskusikan, untuk kemudian
dapat diterapkan dan dipraktekkan di lapangan. Tujuannya adalah agar dalam setiap
tahapan pelaksanaan pekerjaan konsruksi di lapangan, setiap elemen yang terlibat di

dalamnya selalu memperhatikan aspek K3 tersebut. Aspek K3 harus selalu melekat


dalam perencanaan maupun pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Perhatian terhadap aspek
K3 ini tidak hanya terhadap aspek kehati-hatian dalam bekerja, misalnya tentang
penggunaan alat pelindung diri (APD). Melalui safety talk dapat pula meningkatkan
pengetahuan kita terhadap berbagai hal berikut:

a. Pekerjaan yang kita hadapi dan bahayanya, serta upaya penanggulangannya.


Semakin banyak kita melakukan pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan,
maka akan membuat kita semakin berpengalaman, sehingga kita semakin familiar
dengan tugas dan tanggung jawab tersebut, yang kemudian kita akan semakin mengerti
dengan keadaan lingkungan tempat bekerja, dan akan semakin cepat pula kita
melakukan upaya penanggulangan jika terjadi masalah atau keadaan darurat.
b. Prosedur kerja yang benar
Melalui pengalaman kerja selama ini, semakin sering kita melakukan pekerjaan
yang sama, kita menjadi terbiasa dan semakin menguasai pekerjaan tersebut. Tapi di
satu sisi, dapat pula menjadikan kita terlena dengan kemampuan tersebut. Karena sudah
terbiasa melakukan pekerjaan secara berulang terkadang menjadikan kita lalai, gegabah
dan menganggap remeh prosedur kerja yang harus dilalui, yang akibatnya bisa berakibat
fatal terhadap peralatan maupun manusia. Apabila kita bekerja dengan mengikuti
prosedur yang telah ditentukan, maka kita sudah terlindungi bila terjadi hal-hal yang
tidak kita inginkan, karena persiapan, pemeriksaan dan pengesahan terhadap prosedur

kerja selalu dalam kontrol sistem sehingga mampu meminimalkan dan mencegah
terjadinya kecelakaan kerja.

c. Peralatan safety atau alat pelindung diri (APD)


Setiap pekerja mempunyai tanggung jawab yang sama untuk bekerja dengan
aman dan memperhatikan keselamatan. Pada dasarnya kita semua mengerti bahayabahaya yang mungkin timbul di tempat area kerja kita masing-masing dan alat-alat
pelindung diri apa saja yang harus kita gunakan. Perusahaan berkewajiban menyediakan
dan mencukupi perlengkapan dan kelengkapan alat pelindung diri. Dengan demikian
diwajibkan pula bagi para staf dan pekerja di lingkungan proyek untuk mengenakannya
dengan baik dan benar.
d. Komunikasi
Dalam safety talk ini tanpa sadar kita juga belajar berkomunikasi, kapan kita
harus mendengarkan dan kapan kita berbicara atau mengutarakan pendapat. Komunikasi
yang baik merupakan suatu cerminan dari keakraban dan kebersamaan kita sehingga
akan menciptakan suasana yang akrab, hangat dan harmonis, yang pada akhirnya akan
menciptakan kebersamaan, sehingga dalam bekerja sehari-hari akan terasa ringan dan
nyaman.

Kecelakaan dapat terjadi karena kondisi alat atau material yang digunakan dalam
bekerja. Alat dan material ada kemungkinan besar memiliki kondisi yang berbahaya.
Selain itu kecelakan juga dapat disebabkan oleh lingkungan tempat bekerja. Hal ini

dapat terjadi karena lingkungan tempat bekerja yang tidak aman seperti, kebisingan,
pencahayaan yang kurang,banyaknya asap atau debu, dan bahan-bahan kimia yang
bersifat toksik. Kemudian faktor terakhir yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan adalah orang/pekerja itu sendiri. Adanya human error pada perkerja yang
mengakibatkan kecelakaan semakin sering terjadi.
Kontrol manajemen konstruksi dapat mengurangi ataupun mengeliminasi kondisi
rawan kecelakaan. Walaupun teknik manajemen dapat menjamin keselamatan, tetapi
akan lebih aman jika digunakan Alat Perlindungan Diri (APD). Jika kecelakaan tetap
terjadi setelah kontrol manajemen konstruksi diterapkan, yang harus diperhatikan adalah
mengkaji kelengkapan keamanan dan keselamatan.
Pemerintah mewajibkan setiap perusahaan yang memiliki lebih dari 100 pekerja,
atau kurang dari 100 pekerja tetapi dengan tempat kerja yang berisiko tinggi (termasuk
proyek konstruksi), untuk mengembangkan SMK3 (Sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja) dan menerapkannya di tempat kerja. SMK3 perlu dikembangkan
sebagai bagian dari sistem manajemen suatu perusahaan secara keseluruhan. SMK3
mencakup hal-hal berikut: struktur organisasi, perencanaan,pelaksanaan, tanggung
jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan
penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan
kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja
guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Perlunya penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja oleh suatu organisasi telah
ditetapkan pada peraturan sebagai berikut :
a. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja

Undang-Undang ini mengatur mengenai kewajiban pimpinan dan pekerja


dalam melaksanakan keselamatan kerja.
b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor PER.01/MEN/1980
tentang keselamatan kerja pada konstruksi bangunan
Peraturan ini mengatur dengan jelas tentang keselamatan kerja pada
konstruksi bangunan untuk menghindarkan terjadinya kecelakaan tenaga kerja
dalam melakukan pekerjaan persiapan dan pembangunan konstruksi.
c. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan
Undang-Undang ini menegaskan bahwa betapa perlunya kesehatan kerja
agar setiap tenaga kerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan
masyarakat sekelilingnya hingga diperoleh produktivitas kerja yang optimal. Oleh
karena itu, kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan
penyakit akibat kerja.
d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor
Per.08/MEN/VII/2010 tentang alat pelindung diri
Peraturan ini mengatur tentang penggunaan Alat Pelindung Diri. Ada
beberapa macam Alat Pelindung Diri yang digunakan oleh tenaga kerja, antara
lain :
1) Alat pelindung kepala dan muka, berfungsi untuk melindungi kepala dari
benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang
melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan
bahan-bahan kimia. Jenis alatnya seperti, safety helm, tutup kepala, topi yang
terbuat kain tahan api dan tahan air.

2) Alat pelindung mata, digunakan untuk melindungi mata dari percikan bahan
kimia korosif, debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara,gas atau
uap yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elegtromagnetik,
panas radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda keras. Jenis alatnya
seperti, kaca mata biasa (spectacle goggles) dan Googgles
3) Alat pelindung pernapasan (Respiratory Protection), digunakan untuk
melindungi pernapasan dari resiko paparan gas, uap, debu, atau udara
terkontaminasi atau beracun. Jenis alatnya seperti, masker dan respirator.
4) Alat pelindung tangan, berguna untuk melindungi tangan dan bagian lainnya
dari benda tajam atau goresan, bahan kimia, benda panas dan dingin, kontak
dengan arus listrik. Jenis alatnya seperti, sarung tangan yang terbuat dari bahan
katun untuk melindungi tangan dari panas dan dingin, sarung tangan yang
terbuat dari bahan kulit untuk melindungi tangan dari listrik, sarung tangan
yang terbuat dari bahan karet alami (sintetik) untuk melindungi tangan dari
kelembaban air dan zat kimia.
5) Baju pelindung, berguna untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuh dari
percikan api, suhu panas atau dingin, cairan bahan kimia. Jenis alatnya seperti,
pakaian kerja yang terbuat dari bahan-bahan yang bersifat isolasi, celemek dan
apron.
6) Alat pelindung kaki, berguna untuk melindungi kaki dari tertimpa atau
berbenturan dengan benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan
panas atau dingin, uap panas, terkena bahan kimia berbahaya. Jenis alatnya
seperti sepatu kulit dan sepatu boot.

7) Alat pelindung telinga, berguna untuk mengurangi intensitas suara yang masuk
ke dalam telinga. Jenis alatnya seperti, sumbat telinga (ear plug) dan tutup
telinga (ear muff).