Anda di halaman 1dari 3

SINDROM KLINEFELTER

ETIOLOGI
Sekitar 1 dari 1000 laki-laki baru lahir memiliki komplemen kromosom 47,XXY.
Insidennya mendekati 1% pada penderita retardasi mental, bekelompok pada penderita IQ
diatas 50 dan pada anak yang dimasukkan di rumah sakit psikiatrik atau dirujuk ke klinik
psikiatrik. Penyimpangan kromosom paling sering akibat dari meiosis nondisjunksi
kromosom X selama gametogenesis parental; kromosom X ekstra adalah berasal dari ibu
pada 54% dan berasal dari ayah pada 46% penderita. Peningkatan usia ibu memberi
keenderungan pada meiosis nondisjunksi dan pada sindrom ini, tetapi pada kebanyakan
keadaan, usia ibu tidak lanjut.
Komplemen 47,XXY merupakan pola kromosom yang paling lazim pada orang-orang
dengan

sindrom

klinefelter;

beberapa

memiliki

pola

mosaik:

46,XY/47,XXY;

46,XY/48,XXYY; 45,X/46,XY/46,XXY; atau 46,XX/47,XXY. Kadang-kadang, kejadian


lebih dari 2 kromosom X dapat mengakibatkan varian Klinefelter: kariotip 48,XXXY;
49,XXXYY; 49,XXXXY; 50XXXXYY; 47,XXY/48,XXXY; 47,XXY/49,XXXXY; atau
48,XXYY kariotip. Bahkan dengan sebanyak 4 kromosom X, kromosom Y menentukan
fenotip laki-laki. Pada kebanyakan penderita dengan 4 atau 5 kromosom X, semua kromosom
tambahan berasal dari orang tua yang sama dan tidak terkait dengan usia orang tua yang
bertambah.

MANIFESTASI KLINIS
Diagnosis jarang dibuat sebelum pubertas karena sedikitnya atau tidak jelasnya
menifestasi klinis pada masa anak. Karena kelainan perilaku atau psikiatrik mungkin serinag
nampak jauh sebelum defek pada perkembangan seksual, keadaan ini harus dipikirkan pada
semua anak laki-laki dengan retardasi mental, dan pada anak dengan masalah penyesuaian
psikososial, belajar atau sekolah. Anak yang terkena dapat cemas, imatur, sangat malu, atau
agresif; mereka mungkin terlibat tindakan anti sosial. Perilaku pemarah telah diamati dari
beberapa dari anak ini. Mula-mula masalahnya sring tampak setelah anak mulai bersekolah.
Penderita cenderung tinggi, ramping, dan berat badan kurang dan memiliki kaki yang relatif
panjang, tetapi habitus tubuh sangat dapat bervariasi. Testis cenderung kecil untuk usianya,
tatapi tanda ini dapat menjadi sangat nyata hanya setelah pubertas, ketika pertumbuhan testis
normal gagal berlangsung. Penis cenderung lebih kecil daripada rata-rata, dan
kriptorkhidisme atau hipospadia dapat terjadi pada beberapa penderita.

Perkembangan pubertas mungkin terlambat. Beberapa tingkat defisiensi androgen


biasanya terdeteksi, meskipun beberapa penderita dapat mengalami maskulinisasi yang
hampir normal. Sekitar 80% orang dewasa menderita ginekomastia; mereka memiliki rambut
wajah yang lebih jarang, kebanyakan bercukur kurang dari setiap hari. Azoospermia dan
infertilitas biasa terjadi, meskipun jarang keadaan fertilitas diketahui. Ketinggian cenderung
meningkat. Ada juga peningkatan insiden penyakit paru, varises vena, dan kanker payudara.
Tumor sel benih mediastinum telah dilaporkan pada sekitar 40 penderita dengan sindrom
klinefelter; beberapa dari tumor ini menghasilkan HCG dan menyebabkan pubertas prekoks
pada anak laki-laki muda. Sindrom ini dapat juga disertai dengan leukemia dan neoplasia
hemetologis lain.
Pada penelitian prospektif, sekelompok anak dengan kariotip 47,XXY yang dikenali
pada saat lahir menunjukkan deviasi dari normal yang relatif ringan selama umur 5 tahun
pertama. Tidak ada yang menderita kecacatan fisik, intelektual, atau emosional yang berat;
beberapa adalah inaktif, dengan fungsi motorik kurang terorganisasi dan sedikit terlambat
dalam pencapaian kemampuan berbicara.
Pada orang dewasa dengan mosaikisme XY/XXY, tanda-tanda sindrom Klinefelter,
keparahan dan frekuensinya mengurang. Sedikit diketahui tentang anak mosaikisme, tetapi
mereka memiliki prognosis virilisasi, fertilitas, dan penyesuaian psikososial yang lebih baik.
Fenotip laki-laki XXYY tidak sangat berbeda dengan fenotip penderita XXY, kecuali bahwa
orang dewasa XXYY cenderung lebih tinggi daripada rata-rata penderita XXY.

VARIAN KLINEFELTER
Bila jumlah kromosom X melebihi dua, menifestasi klinis, yang meliputi retardasi
mental dan gangguan virilisasi, lebih berat. Varian 49,XXXXY pernah dilaporkan pada lebih
dari 100 penderita dan cukup berbeda untuk dideteksi pada masa anak. Kelainannya ini
berasal dari nondisjunksi meiosis berikutnya. Penderita yang terkena mederita retardasi berat,
dan banyak yang memiliki telinga besar malformasi, leher pendek, dan muka khas dengan
jarak mata lebar yang memiliki mulut besar membuka juga ada. Testis kecil dan mungkin
tidak turun, skrotum hipoplastik, dan penis sangat kecil. Defek yang mengesankan sindrom
Down (misalnya ujung falangs ke-5 melengkung pendek, garis telapak tangan tunggal, dan
hipotonia) dan kelainan skeleton lain (termasuk defek pada sudut fleksi siku dan supinasi
yang terbatas) lazim ada. Kelainan radiografi yang paling sering adalah sinostosis atau
dislokasi radioulna, pemanjangan radius, psuedoepifisis, skoliosis atau kifosis, koksa valga,
dan retardasi usia tulang. Kebanyakan penderita dengan perubahan yang luas tersebut

memiliki kariotip kromosom 49,XXXY; beberapa pola mosaik juga telah diamati;
48,XXXY/49,XXXXY;

48,XXXY/49,XXXXY/50,XXXXXY;

dan

48,XXXY/49XXXXY/50,XXXXYY.

DATA LABORATORIUM
Kromosom harus diperiksa pada semua penderita yang dicurigai sindrom klinefelter,
terutama mereka yang mendatangi klinis penyuluhan anak, psikiatri, dan retardasi mental.
Sebelum usia 10 tahun, anak laki-laki dengan sindrom Klinefelter 47,XXY memiliki kadar
FSH dan LH plasma basal normal. Respon terhadap hormon peransang-gonadotropin dan
hCG juga normal. Testis menunjukkan pertumbuhan normal pada awal pubertas, tetapi pada
pertengahan-pubertas pertumbuhan testis terhenti, gonadotropin menjadi meningkat, dan
kadar testoteron sedikit menurun. Peningkatan kadar estradiol mengakibatkan rasio estradiol
terhadap testoteron tinggi menyebabkan perkembangan ginekomastia selama pubertas.
Biopsi testis sebelum pubertas dapat hanya menunjukkan defiiensi atau tidak adanya
sel-sel benih. Setelah pubertas, membrana tubulus seminiferus terhialinisasi, dan ada
gumpalan adenomatosa sel-sel Leydig. Azoospermia adalah khas, dan infertilitas adalah
biasa.

PENGOBATAN
Terapi penggantian dengan sediaan testoteron berdaya-lama harus dimulai pada usia 11-12
tahun. Ester enantate dapat digunakan pada permulaan dosis injeksi 50mg secara
intramuskular setiap tiga minggu, dengan penambahan 50 mg setiap 6-9 bulan sampai dosis
rumatan untuk dewasa (200-250 mg setiap 3-4 minggu) dicapai. Pada anak laki-laki yang
lebih tua, dosis awal yang lebih besar dan penambahan dapat mencapai virilisasi yang lebih
cepat.