Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

PERANCANGAN TAPAK

Disusun oleh :
FEBRI SHAUMI
(1204104010022)

Dosen Pembimbing :
Siti Zulfa Yuzni, ST, M.Si
(197002032009122001)

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2013

TOPOGRAFI

Topografi secara ilmiah artinya adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek
lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid.

Dalam
topografi
permukaan

pengertian

tidak

hanya

saja,

tetapi

yang

lebih

mengenai
juga

luas,
bentuk

vegetasi

dan

pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan


bahkan kebudayaan lokal (Ilmu Pengetahuan
Sosial). Topografi umumnya menyuguhkan relief
permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi
jenis lahan. Relief adalah bantuk permukaan
suatu lahan yang dikelompokkan atau ditentukan
berdasarkan perbedaan ketinggian (amplitude) dari permukaan bumi (bidang datar) suatu bentuk
bentang lahan (landform). Sedang topografi secara kualitatif adalah bentang lahan (landform)
dan secara kuantitatif dinyatakan dalam satuan kelas lereng (% atau derajat), arah lereg, panjang
lereng dan bentuk lereng.

Penggunaan kata topografi dimulai sejak zaman Yunani kuno dan berlanjut hingga
Romawi kuno, sebagai detail dari suatu tempat. Kata itu datang dari kata Yunani, topos yang
berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Objek dari topografi adalah mengenai posisi
suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang
dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian.

Pada ilmu Arsitektur, mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi
ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan eksplorasi
geologi, untuk kebutuhkan konstruksi sipil, pekerjaan umum, dan proyek reklamasi
membutuhkan studi topografi yang lebih detail.

Dalam kaitannya dengan topografi dalam pembentukan tanah dapat dipahami sebagai
berikut:
Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar
kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring
mempergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah, sebaliknya
genangan air di dataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak
begitu nampak dalam perkembangan tanah.
Didaerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang
datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng pegunungan akan
terbentuk latosol merah. Didaerah semi aris (agak kering) dengan bahan induk naval pada
topografi datar akan membentuk tanah jenis tanah grumusol kelabu, sedangakan di lereng
pegunungan terbentuk tanah jenis grumusol bewarna kuning coklat. Di lereng pegunungan yang
curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunya garamgaram dikaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi didaerah sub humid terbentuk tanah
berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumusol, baik secara fisik maupun kimianya.
Dilereng cekung seringkali bergabun membentuk cekungan pengendapan yang mampu
menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang.

Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:


a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena
tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

b. Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi
asam.
Topografi mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara :
1.

Jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan oleh massa tanah

2.

Kedalaman air tanah

3.

Besarnya erosi yang terjadi

4.

Arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi

ketempat yang rendahTopografi sangat mempengaruhi kondisi drainase dan permukaan air.
Akumulasi bahan organic biasanya terjadi jika keadaan drainase tanah jelek, sehingga tanah yang
kekurangan oksigen pada kondisi ini akan mengawetkan bahan organic, terutama jika air
tergenang. Pada daerah yang kemiringannya besar sering terjadi erosi tanah secara terus menerus
sehingga subsoil akan muncul ke permukaan tanah. Akibatnya tanah-tanah pada kemiringan
yang besar akan memiliki solum yang tipis, kandungan bahan organic yang rendah bila
dibandingkan dengan tanah-tanah bergelombang dan datar.

Topografi mempengaruhi perkembangan dan pembentukan profil tanah yaitu jumlah


curah hujan terabsorpsi dan penyimpanan dalam tanah, tingkat perpindahan tanah bagian atas
oleh erosi dan juga gerakan bahan-bahan dalam suspense atau larutan dari suatu tempat ketempat
lain. Faktor topografi yang dinilai adalah tingkat kecuraman lereng, karena terdapatnya
perbedaan penting dalam syarat-syarat pengelolaan tanah untuk tanaman tertentu pada tingkatan
kecuraman yang berbeda.

Dalam ilmu arsitektur, survey topografi digunakan untuk mengenali ketinggian lahan dan
struktur-struktur yang ada pada tapak dengan derajat kecermatan yang terlibat tergantung pada
skala tapak dan ruang lingkup proyek.

Data-data yang diperlukan dari survey topografi adalah:


1. Nama peta, lokasi, nama pemilik, sertifikat, ahli, serta tanggal.
2. kala yang benar, serta arah utara magnet bumi.
3. Batas pemilikan dan garis sempadan bangunan.
4. Fasilitas atau kemudahan, daerah jalan atau row baik pada tapak maupun pada tapak
tetangga.
5. Nama pemilik tapak tetangga,
6. Lokasi berbagai struktur pada tapak, basement serta ketinggian lantai pertama
bangunan, di samping itu dinding, batu tepi jalan atau tangga, ramp, bak-bak pohon ,
jalan masuk dan tempat parkir.

7. Letak serta ukuran sisitem pembuangan air hujan, air kotor lalu bak kontrol, bak
penampung dll

Jika dilihat dari topografi, ada dua jenis tapak :


A. Site yang miring
Karakter tapak miring :

Daerah yang datar yang cukup luas dapat diakatakan tidak ada

Permukaan datar harus dibuat. Jika permukaan datar dibuat dari tanah urug maka
harus ada dinding penahan tanah atau dengan sudut kemiringn yang lebih besar.

Bagian atas dari bidang miring dapat dapat dilihat dari semua bagian

Site yang miring mempunyai kualitas lansekap yang dinamis.

Site cocok untuk bentuk-bentuk yang dinamis.

Site yang miring memberikan view yang menarik.

Site yang miring menimbulkan persoalan drainase.

Air tanah yang turun dari atas harus dihindarkan dengan membelokkan,

miring memungkinkan adanya permainan air.

B. Site yang Datar

Site yang datar lebih bebas terhadap batasan-batasan perencanaan yang mengikat.

ite yang datar relatf hanya memiliki daya tarik lansekap yang tidak begitu
istimewa.

Site yang datar tidak memiliki focal point.

Elemen yang paling menarik yang ditempatkan di site ini akan menguasai
landscape.

Garis approach tidak dipengaruhi topografi

Matahari adalah faktor perencanaan yang kuat.

Site yang datarmemiliki kualitas landcape yang netral.

Karakter site dibentuk oleh element-elemen yang ditempatkan ke dalam site.

Site kurang memiliki privasi.

Topografi hubungannya dengan Temperatur Udara dan Pergerakan Udara


Topografi atau bentuk permukaan lahan mempunyai pengaruh terhadap desain yang akan
kita kerjakan. bentuk permukaan lahandapat berupa lahan datar atau lahan miring (slope) dan
juga bergelombang. Kondisi lahan seperti itu akan memicu perbedaan dalam respon klimatiknya.
Kondisi lahan yang berkontur (slope) akan memberikan pengaruh iklim mikro yang berbeda
terhadap lahan lokasi tersebut. Udara yang lebih dingin cenderung berada pada permukaan yang
turun atau kontur bagian yang cekung. hal tersebut akan memberikan akibat temperatur di bagian
yang lebih cekung.

Hal tersebut dapat dijelaskan secara teori udara dingin mempunyai kepadatan tinggi
volumenya. sehingga udara dingin mempunyai berat yang lebih besar dan akibatnya menempati
bagian bawah dan mendorong keatas udara udara panas ke atas. hal ini juga menjelaskan proses
konveksi. Dalam proses ini berarti juga terjadi efek pergerakan udara sehingga terjadi perbedaan
tekanan.

Dalam hal perancangan bangunan, bagian belakang dari sebuah kondisi (leeward) sebuah
bukit merupakan posisi yang bagus ketika persyaratan lainnya memungkinkan. Tanaman akan
dapat membantu dalam pengaturan tekanan angin yang terlalu besar sehingga dapat terasa
nyaman dikulit dan dapat membuat pembayangan sehingga terhindar dari terik sinar matahari
secara langsung yang panas. Untuk iklim dengan kelembaban tinggi sangat dibutuhkan aliran
udara sehingga dapat menghapus kadar kelembaban dipermukaan kulit kita. Dengan
menempatkan pada posisi bangunan yang penuh dengan tekanan udara maka akan terjadi aliran
udara yang membantu kondisi tersebut.

Ciri khas bangunan tropis agar nyaman adalah adanya pembayangan dan penciptaan
aliran udara. Namun begitu juga harus di sinkronkan dengan kebutuhan lainnya yang juga sangat
penting seperti kebutuhan cahaya.

Kawalan Pemeliharaan Topografi

1. Kawalan Kerja Tanah

Kerja tanah perlu seimbang antara kerja pemotongan dan penimbusan bagi
mengelakkan hakisan dan mendapan.

Perangkap lumpur perlu dibina dengan tapisan lubang berbentuk lidah (toungeshape) dengan kemudahan pelantar untuk penjagaan yang mudah.

Parit-parit tepi jalan dan parit kekal dibina semasa peringkat kerja-kerja tanah.

Lereng-lereng bukit disembur dengan jenis rumput hydroseeding / fibromat bagi


mengelakkan hakisan tanah dan pembentukan alur.

2. Kawasan Bercerun

Kawasan bercerun di antara 5 darjah hingga 15 darjah adalah dianggap sebagai


cerun sederhana dan ia boleh dimajukan dengan melaksanakan langkah-langkah
pengawalan kestabilan cerun.

Kawasan bercerun 15 darjah hingga 25 darjah boleh dimajukan dengan langkahlangkah pengawalan runtuhan dilaksanakan.

Kawasan dengan kecerunan melebihi 25 darjah tidak dibenarkan sebarang


pembangunan kerana dianggap kritikal untuk keselamatan bangunan dan tapak.

3. Kawalan Aliran Sungai

Aliran sungai dan anak sungai semulajadi hendaklah dikekalkan dan dipelihara.

Sungai hendaklah dijadikan sebagai tumpuan utama dalam perancangan


pembangunan baru.

Rizab sungai hendaklah dijadikan sebagai jaluran hijau (penampan) untuk


mengawal pencemaran hakisan permukaan, pencerobohan setinggan dan
sebagainya.

4. Kawalan Takungan Air Seperti Tasik Dan Kolam

Selebar 20 meter zon penampan hijau diwujudkan antara kawasan takungan /


tasik dengan kawasan pembangunan.

Menentukan kegunaan dan tujuan utama takungan air tersebut misalnya untuk
bekalan air, saliran, janakuasa, penebat banjir dan rekreasi.

5. Susunan Bangunan dan Jalan Raya

Teknik Satu (Extra masonry Bagi tanah kecerunan kurang dari 5 darjah,
kawasan binaan bangunan boleh dibina sama rata dengan kedudukan tanah).

Teknik Dua (Split Level hendaklah digunakan dengan melaksanakan


perubahan setengah tingkat ke atas binaan asal).

Teknik Tiga (Cut and fill Cerun dipotong dan ditimbus bagi membentuk aras
tapak bagi mengekalkan tingkat bawah bangunan selari dengan ketinggian cerun
semulajadi).

Teknik Empat (Cascade Pengekalan cerun yang agak curam, memerlukan


adaptasi bangunan bagi mengelakkan cerun berkenaan terlibat dengan kerja
pemotongan.)

Teknik Lima (Amended Section Aras tapak bangunan berada di bawah paras
jalan.)

Teknik Enam (House on posts Bangunan hendaklah dibina di atas platform.)