Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dermatofitosis merupakan mikosis superfisialis yang disebabkan oleh jamur
golongan dermatofita, antara lain Tricophyton, Epidermophyton, dan
Microsporum. Conant et al., membagi dermatofitosis berdasarkan lokalisasi
kelainan pada badan, yaitu: tinea kapitis, tinea korporis, tinea favosa, tinea
imbrikata, tinea kruris, tinea pedis, tinea unguium, dan tinea barbae. 1 Pada
makalh ini saya akan membahas mengenai tinea kruris baik dari segi
pemeriksaan, diagnosis kerja dan banding, etiologi, epidemiologi, manifestasi
klinik, komplikasi, penatalaksanaan, prognosis, dan preventif.
1.2 Tujuan
1 Memenuhi tugas belajar mandiri pada PBL Blok 15 mengenai Kulit dan
Integumen
2 Mengetahui pemeriksaan anamnesis, fisik, dan penunjang pada pasien tinea
3

kruris
Memahami diagnosis penderita tinea kruris dan mengetahui diagnosis

4
5
6
7

bandingnya
Memahami etiologi, manifestasi klinis, dan komplikasi dari tinea kruris
Mengetahui epidemiologi tinea kruris
Mengetahui penatalaksanaan penderita tinea kruris
Mengetahui prognosis dan tindakan preventif yang harus dilakukan terhadap
penderita tinea kruris

BAB II
PEMBAHASAN
1

2.1 Pemeriksaan
2.1.1 Anamnesis
Pada anamnesis, ditanyakan nama, umur, jenis kelamin, keluhan utama, riwayat
penyakit dahulu, riwayat sosial, riwayat keluarga, dan riwayat obat. 2 Anamnesis
tidak perlu lebih terperinci, akan tetapi dapat dilakukan lebih terarah kepada
diagnosis banding setelah dan sewaktu inspeksi.3
Keluhan utama
Pasien mungkin mengeluhkan adanya ruam, bercak, gatal, ulkus, atau
pertumbuhan. Minta pasien untuk menjelaskan keluhan yang dicemaskan dengan
pasti dan distribusinya. Juga sebaiknya ditanyakan faktor pemicu dan pereda,
seperti panas, dingin, hangat, kering. Walaupun seringkali sulit, lama ruam atau
kelainan kulit harus diketahui, terutama pada tumor kulit. Perubahan yang terjadi
setelah suatu lesi timbul juga harus diketahui. Tanyakan pada pasien apakah lesi
menyebar dari bagian tengah atau tepi, atau apakah lesi tiba-tiba muncul dalam
jumlah banyak dan kadang menghilang.
Riwayat penyakit dahulu
Sebaiknya ditanyakan penyakit kulit yang pernah diderita pasien karena penyakit
kulit mungkin sudah ada sejak lahir.
Riwayat sosial
Riwayat pekerjaan sangat penting pada penyakit kulit karena beberapa bahan
kimia industri dapat mengiritasi atau menimbulkan alergi. Alergi kulit dapat
dipicu oleh hobi dan ruam oleh antigen tumbuhan. Tanyakan juga tentang pajanan
sinar matahari, yang dalam jangka pendek dapat memicu ruam fotosensitif, dan
kadang berkaitan dengan reaksi obat. Selain itu, pajanan berulang selama
bertahun-tahun memudahkan terjadinya ulkus roden, karsinoma sel skuamosa, dan
melanoma maligna.
Riwayat keluarga
2

Perlu dipastikan apakah terdapat riwayat atopi dalam keluarga pasien dermatitis,
dan riwayat psoriasis dalam keluarga pasien yang dicurigai mengidap ruam
psoriasis. Keluhan kulit lain yang jarang dijumpai mungkin juga bersifat familial,
misalnya porfiria kutanea tarda.
Riwayat obat
Jenis dan lama obat yang sedang dimium pasien harus diketahui. Obat adalah
kasus penting pada sejumlah besar erupsi. Harus diingat bahwa sebagian ovat
mungkin sudah digunakan selama berbulan-bulan sebelum ruam

muncul,

misalnya garam emas atau penisilamin pada pasien arthritis rematoid.2


Pada skenario diatas, berdasarkan hasil anamnesis didapatkan umur pasien 30
tahun dengan jenis kelamin laki-laki. Keluhan utamanya bercak merah pada kedua
lipatan paha, gatal, berlangung sejak 2 minggu yang lalu. Gatal terutama
dirasakan saat cuaca panas atau pada saat berkeringat banyak. Sebagai informasi
tambahan didapatkan bahwa pasien suka memakai celana jeans, mandi sehari
sekali, kadang-kadang dua hari sekali. Kelainan kulit meluas setelah
menggunakan salep hidrokortison.

2.1.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan kulit terutama berdasarkan inspeksi. Bantuan pemeriksaan dengan
kaca pembesar dapat dilakukan. Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam ruangan
yang terang. Lesi harus diidentifikasi dan dijelaskan. Setiap perubahan sekunder,
misalnya ekskoriasi, harus diketahui dan dicatat. Bentuk, ukuran, warna,
konsistensi dan distribusi setiap lesi harus dicatat dengan jelas.
Setelah inspeksi selesai, dilakukan palpasi. Pada pemeriksaan ini diperhatikan
adanya tanda-tanda radang akut atau tidak, misalnya dolor, kalor, fungsio laesa,
ada tidaknya indurasi, fluktuasi, dan pembesaran kelenjar regional maupun
generalisata. Selain itu, pemeriksaan umum perlu dilakukan karena sering kali
penyakit kulit merupakan komponen dari suatu penyakit multisistem. Bila
3

diperlukan dapat dikonsultasikan ke bagian lain, misalnya untuk pemeriksaan


umum internis. Juga dapat dilakukan pemeriksaan pembantu, seperti pemeriksaan
bakteriologik, mikologik, histopatologik, darah, urin, dan imunologik. 2,3

2.1.3 Pemeriksaan Penunjang


Pada penyakit yang disebabkan oleh jamur, pemeriksaan yang dilakukan yaitu
pemeriksaan langsung kerokan kulit yang bermasalah dengan KOH 10-20% yang
ditambah dengan 5% gliserol kemudian dipanaskan (51-54 oC). KOH akan
melisikan sel kulit sehingga elemen jamur akan terlihat jelas. Penambahan zat
warna seperti chorazole black E atau tinta parker biru-hitam pada KOH semakin
mempermudah terlihatnya elemen jamur. Pada sediaan KOH dari kulit, kuku, dan
rambut, jamur tampak sebagai hifa berseptum dan bercabang. Hifa tersebut dapat
membentuk artrospora yang pada kuku dan rambut terlihat sebagai spora yang
tersusun padat.
Pembiakan dilakukan pada medium agar Saboraud yang dibubuhi antibiotik dan
disimpan pada suhu kamar. Spesies jamur ditentukan oleh sifat koloni, hifa, dan
spora yang dibentuk.1

2.2 Diagnosis Kerja


Diagnosis kerja dari tinea kruris yaitu ditemukannya lesi yang berbatas tegas di
daerah inguinal atau lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Lesi dapat
berupa eritema disertai gatal yang hebat. Sebagai diagnosis pasti dapat dilakukan
pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit yang bermasalah dengan KOH 10%
dan dilihat dengan mikroskop, akan menunjukkan hasil postif terinfeksi tinea
kruris bila ditemukan adanya hifa dan spora. Jamur penyebab dapat diidentifikasi
melalui pemeriksaan ini.1,3

2.3 Diagnosis Banding


2.3.1 Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang
menempel pada kulit.
Ada 2 macam dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis
kontak alergik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis.
Dermatitis kontak iritan (DKI)
Penyakit ini merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, tanpa didahului
proses sensitisasi. Dapat diderita semua orang dari berbagai golongan umur, ras,
dan jenis kelamin. Penyebabnya bahan yang bersifat iritan misalnya bahan
pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit
yang terjadi sangat beragam bergantung pada sifat iritan. Jenis dermatitis kontak
yang paling sering terjadi adalah DKI kronis. Penyebabnya ialah kontak berulangulang dengan iritan lemah (seperti deterjen, sabun, pelarut, tanah, bahkan juga air)
dan faktor fisik (seperti gesekan, trauma mikro, kelembapan rendah, panas,
dingin). Gejala klasiknya berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit
tebal (hiperkeratosis)dan likenifikasi, difus. Bila kontak terus berlangsung
akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit tumit
tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Keluhan
penderita umumnya rasa gatal atau nyeri karena kulit retak karena fisur. Ada
kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga
diabaikan oleh penderita. Setelah dirasakan mengganggu baru mendapat
perhatian. Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat dan pengamatan
gambaran klinis, kadang diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai.
Dermatitis kontak alergik (DKA)
Bila dibandingkan dengan DKI, jumlah penderita DKA lebih sedikit karena hanya
mengenai orang yang keadaan kulitnya sangat peka (hipersensitif). DKA terjadi
pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu alergen.
5

Penyebab DKA adalah bahan kimia dengan berat molekul <1000 dalton,
merupakan antigen yang belum diproses, yang disebut hapten, bersifat lipofilik,
sangat reaktif, dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel
epidermis di bawahnya. Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya DKA,
misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis per unit area, luas daerah yang terkena,
lama pajanan, oklusi, suhu dan kelembapan lingkungan, vehikulum, dan pH. Juga
faktor individu, misalnya keadaan kulit pada lokasi kontak (keadaan stratum
korneum, ketebalan epidermis), status imunologik (misalnya sedang menderita
sakit, terpajan sinar matahari). Proses perjalanan penyakit melalui 2 tahap, yaitu
sensitisasi dan elisitasi. Penderita umumnya merasa gatal. Kelainan kulit
bergantung pada keparahan dermatitis dan lokalisasinya. Pada yang akut dimulai
dengan bercak eritematosa yang berbatas jelas, diikuti edema, papulovesikel,
vesikel, atau bula. Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul
likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasannya tidak jelas.
Diagnosis didasarkan atas hasil anamnesis yang cermat dan pemeriksaan klinis
yang teliti. Dapat dilakukan uji tempel untuk memastikan.
Pengaobatan untuk dermatitis ini adalah kortikosteroid topikal misalnya
hidrokortison ataupun kortikosteroid oral dalam jangka pendek seperti prednison
30 mg/hari.3

2.3.2 Kandidiasis (kandidosis, moniliasis)


Kandidiasis merupakan suatu penyakit kulit akut atau subakut, disebabkan jamur
Candida albicans yang menyerang kulit, subkutan, kuku, selaput lendir, dan alat
dalam. Penyakit ini dapat menyerang segala umur, baik pria maupun wanita,
banyak terdapat pada daerah tropis dengan kelembapan udara yang tinggi. Lebih
banyak pada musim hujan, sehubungan dengan daerah-daerah yang tergenang air.
Terutama menyerang pekerja kebun, tukang cuci, dan petani. Faktor keturunan
dengan adanya riwayat diabetes mellitus mempermudah berkembangnya Candida
albicans. Faktor predisposisi lain seperti pemakaian antibiotik yang lama,
6

obesitas, alcohol, gangguan vaskularisasi, hiperhidrosis dan lain-lain. Pada kulit,


tempat predileksinya yaitu bokong sekitar anus, lipat ketiak, lipat paha, bawah
payudara, sekitar pusar, garis-garis kaki dan tangan. Gejala yang sering
dikeluhkan adalah gatal hebat disertai rasa panas seperti terbakar, dan terkadang
nyeri bila ada infeksi sekunder.4 Pada pemeriksaan ditemukan daerah yang
eritematosa, basah, erosif, dan bersisik. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa
vesikel-vesikel dan pustule-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan
daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi
primer.3

Pada

hiperpigmentasi,

keadaan

kronik,

hiperkeratosis

terdapat

dan

daerah-daerah

terkadang

berfisura.

likenifikasi,
Pemeriksaan

laboratorium dapat dilakukan dengan cara :


1. kerokan kulit dengan KOH 10%, 40%, akan ditemukan sel-sel ragi
2. biakan pada media Saboroud, terdapat koloni coklat mengkilat dan
permukaan basah (koloni ragi)
3. fermentasi gula, fruktosa dan glukosa positif 4

2.3.3 Psoriasis Intertriginosa (soriasis inversa, psoriasis fleksural)


Psoriasis adalah penyakit kulit autoimun, kronik dan residif, ditandai dengan
adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, tebal
berlapis-lapis dan transparan seperti mika. Penyakit ini disertai dengan fenomena
tetesan lilin, Auspitz, dan Kbner. Tempat predileksi psoriasis adalah pada scalp,
perbatasan daerah scalp dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor, terutama siku
dan lutut, dan daerah lumbosakral. Pada psoriasis intertriginosa, tempat
predileksinya adalah pada daerah fleksor dan lipatan, seperti mamae, perut, aksila,
genitokrural, dan bokong. Lesinya berupa plak eritematosa dan maserasi kulit di
lipatan, dapat disertai dengan lesi satelit. Pemeriksaan pembantu yang dilakukan
bertujuan menganalisis penyebab psoriasis seperti pemeriksaan darah rutin, kimia
darah, gula darah kolesterol dan asam urat.
7

Pengobatan yang diberikan simtomatis, seperti kortikosteroid, metotreksat, DDS,


preparat ter, antralin, dan PUVA. 3-4

2.3.4 Eritrasma
Eritrasma ialah penyakit yang menyerang stratum korneum kulit yang disebabkan
oleh bakteri Corynebacterium minitussismum. Penyakit ini ditandai dengan
adanya lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat
paha. Lesi kulit dapat berukuran sebesar miliar sampai plakat. Lesi dapat terlihat
merah kecoklatan tergantung area lesi dan warna kulit penderita. Beberapa penulis
beranggapan ada hubungan erat antra eritrasma dan diabetes mellitus. Penyakit ini
terutama menyerang orang dewasa dan dianggap tidak begitu menular.
Pemeriksaan pembantu terdiri atas:
1. pemeriksaan dengan lampu wood, lesi terlihat berfluoresensi merah
membara (coral red)
2. kerokan kulit dengan KOH, terlihat batang pendek halus, bercabang,
berdiameter 1 u atau kurang, mudah putus sebagai bentuk basil kecil atau
difteroid.3

2.4 Etiologi
Sinonim dari tinea cruris yaitu eczema marginatum, gym itch, hobie itch, jock
itch, ringworm of the groin, tinea inguinalis. 1,3-5
Tinea kruris adalah dermatofitosis yang mengenai paha atas bagian tengah, daerah
inguinal, pubis, perineum, dan daerah perianal.
Dermatofitosis ialah mikosis superfisialis yang disebabkan oleh jamur golongan
dermatofita. Jamur ini mengeluarkan enzim keratinase sehingga mampu mencerna
8

keratin pada kuku, rambut, dan stratum korneum kulit. Berdasarkan sifat
morfologi, jmaur golongan dermatofita dikelompokkan dalam 3 genus:
Tricophyton, Epidermophyton, dan Microsporum.1
Pada tinea cruris, penyebabnya ialah Tricophyton rubrum, Tricophyton
mentagrophytes, atau Epidermophyton floccosum. Penyakit ini lebih banyak
diderita oleh laki-laki daripada perempuan. Faktor predisposisinya antara lain
keadaan yang hangat, lembap, pakaian ketat yang dikenakan oleh laki-laki,
obesitas, dan pemakaian kronis glukokortikoid topikal.5

2.5 Epidemiologi
Tinea kruris tersebar luas terutama di daerah beriklim tropis, banyak terdapat di
Indonesia. Infeksi umumnya terjadi pada laki-laki postpubertal, namun perempuan
juga dapat terkena. Penularan lebih mudah terjadi dalam lingkungan yang padat
atau pada tempat dengan pemakaian fasilitas bersama seperti asrama dan di rumah
tahanan. Pemakaian baju ketat, keringat, dan baju mandi yang lembap dalam
waktu yang lama merupakan faktor predisposisi tinea kruris. Faktor risiko yang
lain adalah obesitas dan diabetes mellitus.1

2.6 Manifestasi Klinik


Kelainan pada tinea kruris mengenai kulit di daerah inguinal atau lipat paha,
daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun,
bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit
dapat terbatas pada daerah genitor-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus,
daerah anus, dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain. Kelainan kulit
yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi
lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam
bentuk yang primer dan yang sekunder (polimorf). Bila penyakit ini menjadi

menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya
cairan biasanya akibat garukan.3
Tinea kruris yang disebabkan

Tricophyton rubrum atau Epidermophyton

floccosum bersifat kronik dan relatif tanpa peradangan. Lesi hanya tampak sebagai
eritema ringan dengan daerah tepi yang tampak tidak begitu aktif. Tinea kruris
yang disebabkan oleh Tricophyton mentagrophytes terlihat akut dengan
peradangan, bagian tepi lesi tampak aktif disertai vesikel dan seringkali disertai
rasa gatal yang hebat.1

2.7 Komplikasi

Tinea cruris dapat mengalami infeksi sekunder oleh candida atau bakteri
lain. Area tersebut dapat menjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi pada
infeksi jamur yang kronis.

Kesalahan pengobatan tinea kruris dengan steroid topikal dapat


menyebabkan perburukan penyakit. Walaupun pasien dapat menyadari
gejala yang mereda, tapi infeksi dapat berlanjut dan menyebar.5

2.8 Penatalaksanaan
2.8.1 Terapi medikamentosa
1. Preparat antijamur topikal
Preparat dibawah ini diaplikasikan dua kali sehari pada daerah yang terkena. Hasil
optimal akan terlihat setelah 4 minggu, termasuk 1 minggu setelah lesi hilang.
Diaplikasikan kurang lebih 3 cm di luar tepi lesi. Agen topikal ini sebanding,
hanya dibedakan dari segi biaya, dasar, pembawa, dan aktivitas antijamur.
Imidazol

10

Antijamur golongan imidazol memiliki spectrum yang luas. Terdiri dari beberapa
preparat, antara lain mikonazol, klotrimazol, dan ketokonazol.
a. Mikonazol
Mikonazol menghambat aktivitas jamur Tricophyton, Epidermohyton, dan
Microsporum, Candida dan Malassezia furfur. Mekanisme kerja obat ini belum
diketahui sepenuhnya. Mikonazol masuk ke dalam sel jamur dan menyebabkan
kerusakan dinding sel sehingga permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel
meningkat. Mungkin pula terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akan menyebabkan kerusakan. Obat
yang sudah menembus lapisan tanduk kulit dan akan menetap sampai 4 hari. Obat
ini diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis
mukokutan.
Obat ini tersedia dalam bentuk krim 2% dan bedak tabur yang dipakai 2 kali
sehari selama 2-4 minggu. Krim 2% untuk penggunaan intravaginal diberikan
sekali sehari pada malam hari selama 7 hari. Gel 2% tersedia untuk kandidiasis
oral. Mikonazol tidak boleh dibubuhkan pada mata.
Efek samping dari obat ini berupa iritasi, rasa terbakar, dan maserasi. Penggunaan
pada kehamilan trimester pertama sebaiknya dihindari.
b. Klotrimazol
Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan mekanisme kerja
mirip mikonazol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis,
kruris, dan korporis yang disebabkan oleh Tricophyton rubrum, Tricophyton
mentagrophytes, Epidermohyton floccosum, dan Microsporum canis, dan untuk
tinea versikolor. Juga untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis yang disebabkan oleh
Candida albicans. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar
1% untuk dioleskan dua kali sehari. Pada pemakaian topikal dapat terjadi rasa
terbakar, eritema, edema, gatal, dan urtikaria.
Tolnaftat
11

Tolnaftat adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk sebagian besar


dermatofitosis tapi tidak untuk candida. Tersedia dalam bentuk krim, gel, bubuk,
cairan aerosol, atau larutan topikal dengan kadar 1%. Digunakan 2-3 kali sehari.
Rasa gatal akan hilang dalam waktu 24-72 jam.
Asam benzoat dan asam salisilat
Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingan 2:1 (biasanya 6%
dan 3%) ini dikenal sebagai salep Whitfield. Di Indonesia terkenal dengan salep
kulit 88. Asam benzoat memberikan efek fungistatik sedangkan asam salisilat
memberikan efek keratolitik. Karena asam benzoat hanya bersifat fungistatik
maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita
terkelupas seluruhnya, sehingga pemakaian obat ini membutuhkan waktu
beberapa minggu sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan pengobatan tinea
pedis, dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. Dapat terjadi iritasi ringan
pada tempat pemakaian, juga ada keluhan kurang menyenangkan dari pemakainya
karena salep ini berlemak.
Asam undesilenat
Asam undesilenat merupakan cairan kuning dengan bau khas yang tajam. Dosis
biasa dari asam ini hanya menimbulkan efek fungistatik tetapi dalam dosis tinggi
dan pemakaian yang lama dapat memberikan efek fungisidal. Obat ini aktif
terhadap Tricophyton, Epidermohyton, dan Microsporum. Obat ini tersedia dalam
bentuk salep campuran mengandung 5% undesilenat dan 20% seng undesilenat.
Dalam hal ini seng berperan untuk menekan luasnya peradangan.

Haloprogin
Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik, berbentuk kristal putih
kekuningan, sukar larut dalam air tetapi larut dalam alcohol. Obat ini bersifat
fungisidal terhadap Tricophyton, Epidermohyton, dan Microsporum, dan

12

Malassezia furfur. Haloprogin tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan
kadar 1%.
Siklopiroks olamin
Obat ini merupakan antijamur topikal berspektrum luas. Penggunaan kliniknya
ialah untuk dermatofitosis, kandidiasis, dan tinea versikolor. Siklopiroks olamin
tersedia dalam bentuk krim 1% yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari. Reaksi
iritatif dapat terjadi walaupun jarang.
Terbinafin
Terbinafin merupakan suatu derivate alilamin sintetik dengan struktur mirip
naftitin. Obat ini digunakan secara topikal untuk dermatofitosis. Terbinafin topikal
tersedia dalam bentuk krim 1% dan gel 1%. Terbinafin topikal digunakan untuk
pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2
minggu.

2. Preparat antijamur sistemik


Digunakan untuk infeksi dari kulit yang mengalami keratinisasi: hanya digunakan
jika lesi semakin meluas dan gagal merespon terhadap pengobatan topikal.
Biasanya dibutuhkan untuk pengobatan tinea capitis dan tinea unguium, tinea
yang mengalami inflamasi dan tinea pedis yang tipe hiperkeratosis-moccasin.
Griseofulvin
Griseofulvin diisolasi dari Penicillium griseofulvum dierckx. Griseofulvin efektif
terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti Tricophyton, Epidermohyton, dan
Microsporum. Preparat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah
6-metilgriseofulvin. Waktu paruhnya kira-kira 24 jam. Obat ini akan dikumpulkan
dalam sel pembentuk keratin, lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi,
terikat kuat dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan

13

jamur. Keratin yang telah mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel
yang normal.
Efek samping yang berat jarang timbul akibat pemakaian griseofulvin. Namun
dapat juga timbul leukopenia, granulositopenia, sakit kepala, atralgia, neuritis
perifer, demam, pandangan kabur, insomnia, berkurangnya fungis motorik,
pusing, sinkop, rasa kering pada mulut, mual, muntah, diare, flatulensi,
albuminuria, silinderuria. Pada kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas,
eritema multiforme, vesikula dan erupsi menyerupai morbili.
Di Indonesia, griseofulvin mikrokristal tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan
500 mg dan tablet yang mengandung partikel ultramikrokristal tersedia dalam
takaran 330 mg.Untuk anak, griseofulvin diberikan 5-15 mg/kgBB/hari sedangkan
untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal. Griseofulvin diberikan
selama 2-3 minggu. Bila dosis tunggal tidak dapat ditoleransi, maka dibagi dalam
beberapa dosis.
Ketokonazol
Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik dengan struktur mirip
mikonazol dan klotrimazol. Obat ini meurpakan antijamur sistemik per oral yang
penyerapannya bervariasi antar individu. Obat ini menghasilkan kadar plasma
yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui
saluran cerna akan berkurang pada pasien dengan pH lambung yang tinggi, pada
pemberian bersama antagonis H2 atau bersama antasida. Pengaruh makanan tidak
begitu nyata terhadap penyerapan ketokonazol.
Setelah pemberian per oral, obat ini ditemukan dalam urin, kelenjar lemak, liur,
juga pada kulit yang mengalami infeksi, tendo, cairan sinovial, dan cairan vaginal.
Sebagian besar obat ini mengalami metabolisme lintas pertama. Sebagian besar
ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen usus dan hanya
sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya dalam bentuk
metabolit yang tidak aktif. Efek sampingnya antara lain mual, muntah, sakit
kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestesia, gusi berdarah,
14

erupsi kulit, dan trombositopenia. Dosis yang dianjurkan pada dewasa adalah satu
kali 200-400 mg sehari selama 1 bulan.6

2.8.3 Terapi non-medikamentosa


Untuk mengurangi reinfeksi, dapat digunakan bedak antijamur dan sabun benzoil
peroksida. Usahkan selalu menjaga kebersihan dan kelembapan kulit.5

2.9 Prognosis
Baik, asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.4

2.10 Preventif
Tinea kruris dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan.
Daapat juga menggunakan bedak yang mengandung mikonazol atau tolnaftat pada
daerah yang rentan terhadap infeksi jamur setelah mandi.5

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tinea kruris merupakan penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita,
yaitu Tricophyton rubrum, Tricophyton mentagrophytes, atau Epidermophyton
floccosum. Penyakit ini mengenai paha atas bagian tengah, daerah inguinal, pubis,
perineum, dan daerah perianal. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh laki-laki
daripada perempuan. Faktor predisposisinya antara lain keadaan yang hangat,
lembap, pakaian ketat yang dikenakan oleh laki-laki, obesitas, dan pemakaian
kronis glukokortikoid topikal. Penatalaksanaan terhadap tinea kruris adalah
15

dengan pemberian obat topikal seperti mikonazol atau klotrimazol selama kurang
lebih 4 minggu. Prognosis penyakit ini baik asalkan kebersihan dan kelembapan
kulit selalu dijaga.

Daftar Pustaka
1. Mulyati, K. Pudji, Susilo, J. Dermatofitosis. Dalam: Sutanto, I., Ismid, I.
S., Sjarifuddin, P.K., Sungkar, S., editor. Buku ajar parasitologi
kedokteran. Edisi keempat. Jakarta: FK UI; 2008.h.319-25.
2. Dacre, Jane dan Kopelman, Peter. Buku saku keterampilan klinis. Cetakan
pertama. Jakarta: EGC; 2005.h.258-59.
3. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S., editor. Ilmu penyakit kulit dan
kelamin. Edisi kelima. Cetakan ketiga. Jakarta: FK UI; 2008.h.34, 92-4,
129-47, 189-91, 334-5.
4. Siregar, R.S. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. Edisi kedua. Cetakan
pertama. Jakarta: EGC; 2005.h.29-34.
5. Wolff, K., Johnson, R.A., Suurmond, D. Fitzpatricks color atlas &
synopsis of clinical dermatology. Edisi kelima. USA: The McGraw-Hill
Companies; 2005.h.699-700.
6. Setiabudy, R. Bahry, B. Obat jamur. Dalam: Gunawan, S.G., Setiabudy, R.,
Nafrialdi, Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi kelima. Jakarta: FK UI
; 2009.h.574-5, 579-82.

16