Anda di halaman 1dari 10

Susilowati, Pengukuran Laju Dosis Paparan Radiasi Sekunder Sinar-X

PENGUKURAN LAJU DOSIS PAPARAN RADIASI SEKUNDER SINAR-X


DI RUANGAN DAN LINGKUNGAN SEKITAR INSTALASI RADIOLOGI
(Studi Kasus: Ruang Radiologi Poliklinik Fakultas Kedokteran)
Prasi Susilowati 1), Pratiwi Sri W. 1), Djoko Susilo 2)
1)

Program Studi Fisika FMIPA Universitas Mulawarman


Jl. Barong Tongkok No. 4 Kampus Gunung Kelua Samarinda
Email : prasi_fska07@yahoo.com
2)
Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
apakah laju dosis radiasi sekunder sinar-X di ruang instalasi radiologi
diagnostik poliklinik Fakultas Kedokteran telah berada dibawah nilai
ambang batas (NAB) yang telah ditetapkan oleh IAEA dan BAPETEN
serta untuk mengetahui berapa nilai koefisien absorbsi () bahan dari
perisai yanag ada pada ruang instalasi radiologi poliklinik Fakultas
Kedokteran.
Hasil penelitian ini menunjukan nilai dari dosis radiasi sekunder
pada masing-masing titik pengukuran jika dirata-ratakan adalah 1,152 x
10-3 mSv/h, 0,96 x 10-4 mSv/h dan 2,034 x 10-3 mSv/h dan dalam 1 tahun
didapatkan nilai sebesar 3,17 mSv/tahun yang berarti berada dibawah
nilai ambang batas yang ditetapkan oleh IAEA dan BAPETEN yaitu
sebesar 5 mSv/tahun. Serta nilai koefisien absorbsi bahan dari masingmasing titik pengukuran jika dirata-ratakan sebesar 1,32 x 10-2 mm-1, 3,95
x 10-2 mm-1 dan 1,83 x 10-2 mm-1.
Dari hasi penelitian ini menunjukan bahwa ruang instalasi
radiologi poliklinik aman digunakan untuk proses foto roentgen dan dari
nilai dosis radiasi sekunder, nilai koefisen absorbsi yang didapat serta
tebalnya dinding maka perisai yang digunakan dapat menurunkan
besarnya nilai dosis radiasi sekunder sekecil mungkin sehingga dosis
yang terpapar aman untuk pekerja dan masyarakat sekitar.
Kata kunci : Dosis Radiasi Sekunder, Sinar-X
PENDAHULUAN
Sinar-X adalah gelombang elektromagnetik dengan rentang panjang gelombang
sekitar 10-8 m hingga 10-11 m. Lebih pendek panjang gelombang atau lebih besar frekuensi
sinar-X maka energi yang diberikan lebih banyak (Resnick, 1981). Sinar-X memiliki
beberapa sifat antara lain yaitu sinar-X dapat menembus bahan atau medium yang
dilaluinya. Ketika sinar-x menembus suatu bahan atau medium maka sinar-X akan
mengionisasi bahan atau medium tersebut, sehingga dapat menyebabkan peristiwa
luminisensi atau berpendarnya cahaya yang menyebabkan efek biologis pada bahan atau
medium yang dilaluinya (Akhadi, 2000). Selain itu energi sinar-X memberikan
kemampuan untuk penetrasi khususnya gigi, tulang dan jaringan di sekitar gigi.
Sinar-X sering digunakan dalam diagnosis tanpa mengetahui bahaya dari
penggunaan sinar-X itu sendiri. Secara medis sinar-X diaplikasikan dalam bentuk
pesawat sinar-X di antaranya adalah: CT Scan, Panoramik, Mammografi, Multislice CT

40 |

Fisika Mulawarman, Vol.7 No.2, November 2011

Scan. Dari aplikasi tersebut sinar-X digunakan untuk mengetahui kelainan pada organ
tubuh manusia.
Pemotretan menggunakan sinar-X harus berada pada suatu ruangan yang sudah
dilengkapi dengan perisai radiasi. Selain dilengkapi dengan perisai radiasi ruangan
tersebut ukurannya yaitu panjang, lebar serta tinggi ruangan telah memenuhi standar yang
aman. Standar keamanan dari ruangan tersebut telah disesuaikan dengan standar
internasional yaitu oleh IAEA dan BAPETEN.
Menurut rekomendasi ICRP nomor 60 tahun 1990, pekerja radiasi yang di tempat
kerjanya terkena radiasi tidak boleh menerima dosis radiasi lebih dari 50 mSv pertahun
dan rata-rata pertahun selama 5 tahun tidak boleh lebih dari 20 mSv. Sedangkan untuk
masyarakat umum sekitar radiasi tidak boleh menerima dosis radiasi lebih dari 5 mSv
pertahun dan rata-rata selama 5 tahun tidak boleh menerima dosis radiasi lebih dari 1
mSv pertahun.
Radiologi adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang menggunakan radiasi
pengion dan bentuk-bentuk energi lainnya (non-pengion) dalam bidang diagnostik dan
terapi (Bachtiar, dkk. 2009).Radiasi sinar-X merupakan suatu gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang pendek. Sinar-X mempunyai daya tembus yang cukup tinggi
erhadap bahan yang dilaluinya. Sinar-X ditemukan oleh Wilhelm Conrad Rontge seorang
kebangsaan Jerman pada tahun 1895. Penemuannya diilhami dari hasil percobaanpercobaan sebelumnya antara lain dari J.J. Thomson mengenai tabung katoda dan
Heinrich Hertz tentang foto listrik. Kedua percobaan tersebut mengamati gerak elektron
yang keluar dari katoda menuju anoda yang berada dalam tabung kaca yang hampa udara.
Pembangkit sinar-X berupa tabung hampa udara yang di dalamnya terdapat filamen yang
juga sebagai katoda dan terdapat komponen anoda. Jika filamen dipanaskan maka akan
keluar elektron dan apabila antara katoda dan anoda diberi beda potensial yang tinggi,
elektron akan dipercepat menuju ke anoda. Dengan percepatan elektron tersebut maka
akan terjadi tumbukan tak kenyal sempurna antara elektron dengan anoda, akibatnya
terjadi pancaran radiasi sinar-X (Suyatno, 2008).
Radiasi
Radiasi merupakan perpindahan kalor tanpa zat antaranya. Secara definisi, radiasi
merupakan salah satu cara perambatan energi dari suatu sumber energi ke lingkungannya
tanpa membutuhkan medium atau bahan pengantar tertentu. Salah satu bentuk energi
yang dipancarkan secara radiasi adalah energi nuklir. Radiasi ini memiliki dua sifat yang
khas yaitu tidak dapat dirasakan secara langsung oleh panca indra manusia dan beberapa
jenis radiasi dapat menembus berbagai jenis bahan.
Dalam pengukuran radiasi pada kegiatan proteksi radiasi terdapat dua hal yang
ingin diketahui yaitu radiasi primer dan radiasi sekunder. Radiasi primer yaitu radiasi
yang diukur langsung dari pancaran pesawat sinar-X sedangkan radiasi sekunder yaitu
radiasi yang diukur dari jarak tertentu dan merupakan pancaran yang telah menembus
bahan.
Radiodiagnostik dengan sinar-X pada hakekatnya tergantung pada energi yang
diabsorbsi baik secara efek fotolistrik maupun efek Compton yang menimbulkan ionisasi
pada jaringan. Dan sebagai akibat ionisasi ini terjadi kelainan atau kerusakan pada
jaringan, akibat dari radiasi pengion ini dinamakan efek biologi (Wiryosimin, 1995).
Efek Biologi yang Ditimbulkan Oleh Radiasi
Efek biologi yang ditimbulkan oleh radiasi dibagi atas 2 macam yaitu efek
stokastik dan efek deterministik. Efek stokastik berkaitan dengan paparan radiasi dosis
rendah dapat muncul pada tubuh manusia dalam bentuk kanker (kerusakan somatik) atau
cacat pada keturunan (kerusakan genetik). Dalam efek stokastik tidak dikenal adanya
dosis ambang. Jadi sekecil apapun dosis radiasi yang diterima tubuh ada kemungkinannya
akan menimbulkan kerusakan sel somatik maupun sel genetik. Yang dimaksud dengan
radiasi dosis rendah disini adalah dosis radiasi dari 0,25 sampai dengan 1.000 Sv.
| 41

Susilowati, Pengukuran Laju Dosis Paparan Radiasi Sekunder Sinar-X

Pemunculan efek stokastik berlangsung lama setelah terjadinya penyinaran dan hanya
dialami oleh beberapa orang diantara anggota kelompok yang menerima penyinaran
(Wiryosimin, 1995).
Efek deterministik berkaitan dengan paparan radiasi dosis tinggi yang
kemunculannya dapat langsung dilihat atau dirasakan oleh individu yang terkena radiasi.
Efek tersebut dapat muncul seketika hingga beberapa minggu setelah penyinaran. Efek ini
mengenal adanya dosis ambang. Keluhan umum pada kemunculan efek deterministik bisa
berupa nafsu makan berkurang, mual, lesu, lemah, demam, keringat berlebihan hingga
menyebabkan terjadinya shock, nyeri perut, rambut rontok bahkan kematian (Gabriel,
1988).
Proteksi Radiasi
Proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi pengaruh
radiasi yang merusak akibat paparan radiasi. Dalam penggunaan radiasi untuk radiografi
dalam radiodiagnostik akan memberikan kontribusi radiasi pada banyak pihak. Radiasi
akan diterima oleh operator, hewan dan lingkungan, ada tiga prinsip yang telah
direkomendasikan oleh International Commission Radiological Protection (ICRP) untuk
dipatuhi (Ulum, 2008) , yaitu:
a. Justifikasi
Tidak ada kegiatan praktis atau sumber yang digunakan dalam kegiatan praktis
yang akan diizinkan kecuali menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dari pada
biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi kemungkinan efek yang
ditimbulkan terhadap individu atau masyarakat, dengan kata lain kegiatan praktis
diizinkan dengan memperhatikan faktor sosial, ekonomi dan faktor yang relevan.
b. Pembatasan Dosis
Paparan normal terhadap setiap individu harus dibatasi sehingga dosis efektif
total maupun dosis ekivalen total pada organ atau jaringan tertentu yang
disebabkan oleh berbagai kemungkinan paparan dalam kegiatan praktis yang telah
diizinkan tidak boleh melampaui batas dosis.
c. Optimasi tindakan proteksi dan keselamatan
Sehubungan dengan paparan dari sumber tertentu dalam kegiatan praktis,
kecuali untuk paparan terapi pada kegiatan medis, tindakan proteksi dan
keselamatan harus dioptimalkan agar tingkatan dosis individu, jumlah orang yang
terpapar dan kemungkinan terkena paparan harus ditekan serendah mungkin yang
masih dapat dicapai dengan memperhatikan faktor ekonomi dan sosial, dengan
pembatasan tersebut dosis yang diterima setiap individu dianggap sebagai dosis
pembatas (dose constraint) (Anonim, 2005).
Pada kedokteran nuklir, petugas dapat memperoleh penyinaran luar selama
preparasi radiofarmaka, penyuntikan radiofarmaka dan pembuatan citra. Di samping itu
petugas dapat memperoleh kontaminasi internal melalui inhalasi atau penelanan yang
tidak sengaja ataupun tertusuk jarum suntik yang telah berisi zat radioaktif. Bahaya
radiasi ekstenal dapat diperkecil dengan menerapkan prinsip waktu, jarak dan pelindung
radiasi. Bekerja pada jarak sejauh mungkin dalam waktu yang sependek mungkin.
Pelindung radiasi yang dapat digunakan berupa kontainer dari timah hitam untuk
menyimpan radioisotop, perisai tabung suntik dari timah hitam dan apron. Sedangkan
kontaminasi internal dapat dikendalikan dengan memperkecil kontaminasi pada
permukaan tempat kerja dan ruangan kerja, sedangkan potensi kontaminasi ke pekerja
radiasi dapat dipantau dengan melakukan tes usap (smear test) pada permukaan tempat
kerja dan pengukuran radioaktivitas contoh udara ruang kerja. Pekerja sendiri harus
mengenakan pakaian kerja yang sesuai untuk bekerja dengan zat radioaktif sumber
terbuka yaitu sarung tangan karet, jas laboratorium sewaktu melakukan preparasi dan
penyuntikan zat radioaktif (Wiharto, 1996).

42 |

Fisika Mulawarman, Vol.7 No.2, November 2011

Seorang pekerja radiasi yang berada didalam medan radiasi akan menerima dosis
radiasi yang besarnya sebanding dengan lamanya pekerja tersebut berada di dalam medan
radiasi. Semakin lama seseorang berada di medan radiasi tersebut, akan semakin besar
dosis radiasi yang diterimanya, demikian pula sebaliknya. Dosis radiasi yang diterima
oleh pekerja selama di dalam medan radiasi dapat dirumuskan sebagai berikut:

dimana :

(1)

D = dosis akumulasi yang diterima pekerja (Gy)


= laju dosis serap dalam medan radiasi (Gy/detik)
t = lamanya seseorang berada di dalam medan radiasi (detik)

Pengaturan Jarak
Radiasi dipancarkan dari sumber radiasi ke segala arah. Semakin dekat tubuh
dengan sumber radiasi maka paparan radiasi yang diterima akan semakin besar. Paparan
radiasi sebagian akan menjadi pancaran hamburan saat mengenai materi. Radisi
hamburan ini akan menambah jumlah dosis radiasi yang diterima. Untuk mencegah
paparan radisi tersebut dapat dilakukan dengan menjaga jarak pada tingkat yang aman
dari sumber radiasi (Ulum, 2008).
Faktor jarak berkaitan erat dengan Intensitas (I) radiasi. Intensitas radiasi pada
suatu titik akan berkurang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara titik tersebut
dengan sumber radiasi. Intensitas radiasi didefinisikan sebagai jumlah radiasi yang
menembus luas permukaan (dalam cm2) per satuan waktu (s). Seperti yang terlihat pada
gambar 1.

Gambar 1. Hubungan antara Intensitas Radiasi dengan Jarak Pengukuran


Intensitas radiasi pada permukaan bola dengan jari-jari R1 dan R2 masing-masing adalah:

= (

(2)

= (

(3)

Dari persamaan 2 dan 3 dapat diperoleh hubungan sebagai berikut:

: =

()

()

(4)

dari persamaan 4 terlihat bahwa intensitas radiasi pada suatu titik berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak titik tersebut terhadap sumber radiasi.
Laju dosis radiasi identik dengan intensitas radiasi, sehingga laju dosis pada suatu
titik juga berbanding terbalik dengan kuadrat jarak titik tersebut dengan sumber. Namun
ketentuan ini hanya berlaku apabila sumber radiasinya berbentuk titik dan tidak ada
absorpsi radiasi oleh medium. Dari persamaan 4 laju dosis pada suatu titik dapat
dirumuskan dengan:

| 43

Susilowati, Pengukuran Laju Dosis Paparan Radiasi Sekunder Sinar-X

atau :
dengan :

()

()

() = ()

(5)
(6)

= laju dosis serap pada suatu titik (Gy/detik)


R = jarak antara titik dengan sumber radiasi (meter)

Pelindung/Perisai (Shielding)
Untuk penanganan sumber-sumber radiasi dengan aktivitas sangat tinggi (ber orde
MBq atau Ci), seringkali pengaturan waktu dan jarak kerja tidak mampu menekan
penerimaan dosis oleh pekerja di bawah nilai batas dosis yang telah ditetapkan. Oleh
sebab itu, dalam penanganan sumber-sumber beraktivitas tinggi ini juga diperlukan
perisai radiasi. Sifat dari bahan perisai radiasi ini harus mampu menyerap energi radiasi
atau melemahkan intensitas radiasi (Akhadi, 2000).
Penggunaan perisai/pelindung berupa apron berlapis Pb, glove Pb, kaca mata Pb
yang merupakan sarana proteksi radiasi individu. Proteksi terhadap lingkungan terhadap
radiasi dapat dilakukan dengan melapisi ruang radiografi menggunakan Pb untuk
menyerap radiasi yang terjadi saat proses radiografi (Ulum, 2008).
Perisai untuk radiasi elektromagnetik terdiri atas sinar-X dan sinar-. Intensitas
antara radiasi elektromagnetik dengan materi menyebabkan pengurangan intensitas
radiasi eletromagnetik. Dosis radiasi elektromagnetik berbanding lurus terhadap
intensitas radiasinya, sehingga perisai radiasi elektromagnetik berlaku persamaan yaitu:

(7)

dengan :
= laju dosis radiasi sinar-X setelah melalui bahan perisai
= laju dosis radiasi sinar-X sebelum melalui bahan perisai
= koefisien absorbsi bahan pelindung terhadap radiasi sinar-X
x = tebal perisai
Nilai Batas Dosis
Menurut rekomendasi ICRP dan BAPETEN nilai batas dosis untuk:
a. Pekerja Radiasi yang di tempat kerjanya terkena radiasi yaitu:
1. Dosis efektif 20 mSv pertahun rata-rata dalam 5 tahun berturut-turut.
2. Dosis efektif 50 mSv dalam 1 tahun tertentu.
3. Dosis ekivalen untuk lensa mata 150 mSv dalam 1 tahun.
4. Dosis ekivalen untuk tangan, kaki, dan kulit 500 mSv dalam 1 tahun.
b. Untuk pekerja magang (16-18 tahun)
1. Dosis efektif 6 mSv dalam 1 tahun.
2. Dosis ekivalen untuk lensa mata 50 mSv dalam 1 tahun.
3. Dosis ekivalen untuk tangan, kaki, dan kulit 150 mSv dalam 1 tahun.
c. Untuk masyarakat umum
1. Dosis efektif sebesar 1 mSv dalam 1 tahun.
2. Dosis ekivalen untuk lensa mata sebesar 15 mSv dalam 1 tahun.
3. Dosis ekivalen untuk tangan, kaki dan kulit 50 mSv dalam 1 tahun.
Jika wanita hamil yang di tempat kerjanya terkena radiasi, diterapkan batas radiasi
yang lebih ketat. Dosis radiasi paling tinggi yang diizinkan selama kehamilan adalah 2
mSv.

44 |

Fisika Mulawarman, Vol.7 No.2, November 2011

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
1. Phantom Thorax
2. Peralatan sinar-X yang digunakan sebagai sumber paparan radiasi.
3. Surveimeter digunakan untuk menentukan nilai paparan radiasi dari mobile X-ray.
4. Jangka Sorong digunakan untuk mengukur ketebalan dinding ruang radiologi.
5. Rolling Tape digunakan untuk mengukur panjang, lebar dan tinggi ruang radiologi.
6. Kamera.
7. Apron digunakan sebagai pelindung dari paparan radiasi.
8. Batere 9 volt digunakan sebagai sumber catu daya pada surveimeter.
Teknik Pengambilan Data
1. Menyiapkan peralatan yaitu berupa mobile X-ray dan apron.
2. Menyiapkan surveimeter dan mengatur skala kalibrasi dari surveimeter tersebut.
3. Pengambilan data laju dosis paparan.

Gambar 2. Skema pengambilan data radiasi sekunder


Pada bagian ini proses pengambilan data dilakukan pada titik 1, 2, dan 3
dimana diasumsikan bahwa :
a. Jika laju dosis radiasi sekunder pada titik 1 didapatkan dibawah nilai
ambang batas maka pengukuran dihentikan. Tetapi jika laju dosis radiasi
sekunder pada titik 1 didapatkan melebihi nilai ambang batas maka
pengukuran dilanjutkan ke titik yang lebih jauh dari titik 1 sehingga
didapatkan batas aman dari radiasi sekunder yang telah ditetapkan.
b. Untuk titik 2, dan 3 pengukuran sama seperti pada titik 1.

| 45

Susilowati, Pengukuran Laju Dosis Paparan Radiasi Sekunder Sinar-X

Gambar 3. Posisi pengambilan laju data dosis radiasi sekunder sinar-X


dimana :
S : Sumber (pesawat sinar-X)
r : jarak 1 meter dari phantom
x : jarak ke atau ( R r )

P : phantom
R : jarak phantom ke dinding
d : tebal dinding

: dosis radiasi seku nder sinar-X setelah melalui dinding


: dosis radiasi sekunder sebelum sinar-X melalui dinding yang didapat dari
jarak 1 meter

: dosis radiasi sekunder sinar-X sebelum melalui dinding yang didapat


melalui perhitungan
4. Menghitung nilai energi yang dihasilkan oleh alat dengan menggunakan persamaan
Planck yaitu:

=
(8)

5. Menghitung nilai koefisien absorbsi dari dinding dengan menggunakan persamaan


berikut:
= ( )
(9)
Dimana
= koefisien absorbsi udara terhadap radiasi sinar-X
= koefisien absorbsi dinding terhadap radiasi sinar-X

6. Membandingkan besarnya dosis paparan radiasi sekunder yang didapatkan dengan


Nilai Ambang Batas (NAB) bagi petugas dan masyarakat sekitar ruang radiologi
tersebut.
HASIL PENELITIAN
Hasil pengambilan data laju dosis radiasi sekunder disajikan pada tabel 1, 2, dan 3.
Tabel 1. Data laju dosis radiasi sekunder pada posisi 1 (ruang operator)

Tabel 2. Data laju dosis radiasi sekunder pada posisi 2 (ruang tunggu pasien)

46 |

Fisika Mulawarman, Vol.7 No.2, November 2011

Tabel 3. Data laju dosis radiasi sekunder pada posisi 3 (daerah parit)

Sedangkan hasil pengolahan dan perhitungan data, diperlihatkan pada tabel 4, tabel
5, dan tabel 6.
Tabel 4. Laju dosis radiasi sekunder sinar-X dan koefisien absorbsi dinding pada posisi 1.

Tabel 5. Laju dosis radiasi sekunder sinar-X dan koefisien absorbsi dinding pada posisi 2.

| 47

Susilowati, Pengukuran Laju Dosis Paparan Radiasi Sekunder Sinar-X

Tabel 6. Laju dosis radiasi sekunder sinar-X dan koefisien absorbsi dinding pada posisi 3.

PEMBAHASAN
Setalah dilakukan pengukuran laju dosis radiasi sekunder ketika terjadi paparan di
ruang dan lingkungan instalasi radiologi poliklinik fakultas kedokteran didapatkan
informasi nilai laju dosis radiasi sekunder sinar-X yaitu pada titik 1 adalah 1,152 x 10-3
mSv/h, pada titik 2 adalah 0,96 x 10-4 mSv/h dan pada titik 3 adalah 2,034 x 10-3 mSv/h,
dan melalui perhitungan diperoleh koefisien absorbsi dari masing-masing dinding pada
titik 1, 2 dan 3 adalah 1,32 x 10-2 mm-1, 3,95 x 10-2 mm-1 dan 1,83 x 10-2 mm-1.
Dari masing-masing koefisien absorbsi yang di dapat dari masing-masing titik
pengukuran dan dengan tebal dinding pada masing-masing titik pengukuran 1, 2 dan 3
yaitu 245 mm, 140 mm dan 140 mm serta sumber yang memancarkan radiasi
elektromagnetik sebesar 0,07 MeV dapat menurukan nilai laju dosis radiasi sekunder
pada masing-masing titik pengukuran 1, 2 dan 3 berturut-turut sebesar 2,73 x 10-2 mSv/h
(95%); 2,461 x 10-2 mSv/h (99%); dan 2,458 x 10-2 mSv/h (92%), sehingga perisai yang
digunakan layak sebagai pelindung untuk menurunkan dosis radiasi sekunder.
Sesuai keputusan BAPETEN, batas dosis radiasi untuk pekerja jika dikalikan
dengan waktu dan masa kerja dalam 1 tahun sebesar 50 mSv pertahun dan untuk
masyarakat sekitar sebesar 5 mSv/tahun. Dalam penelitian ini dengan menggunakan
tegangan 70 kV dan arus-waktu 6,4 mAs, dan diasumsikan pesawat sinar-X memiliki
maksimal kuat arus sebesar 100 mA, maka pekerja medis yang kurang lebih memiliki
masa kerja sebanyak 26 hari dalam 1 bulan dan penembakan sinar-X dalam sehari kurang
lebih 10 kali, didapatkan laju dosis radiasi sekunder dalam 1 tahun adalah :
Jika kuat arus = 100 mA, maka
,
Waktu
=
= 6,4 x 10-2 sekon

Sehingga laju dosis dalam 1 tahun adalah:
D =

x 10 x 260 x 12.
D

Untuk pengukuran pada posisis 1:


,
=
x (1,152 x 10) x 10 x 260 x 12

= 6,398 x 10 mSv/tahun

Dengan menggunakan rumus yang sama laju dosis sekunder dalam 1 tahun pada posisis 2
dan 3 berturut-turut adalah : 5,31 x 10-6 mSv/tahun dan 1,129 x 10-4 mSv/tahun.
Oleh karena itu dari data yang didapatkan melalui pengukuran yang dilakukan
dan setelah dikalikan dengan masa kerja dalam 1 tahun dosis paparan radiasi sekunder
sinar-X di ruangan dan lingkungan untuk pekerja dan masyarakat sekitar berada di bawah
nilai ambang batas dengan nilai tertinggi yang didapat yaitu sekitar 1,129 x 10-4
mSv/tahun. Sesuai dengan data yang diperoleh dari pengukuran dan perhitungan yang
telah dilakukan maka ruangan dan lingkungan sekitar instalasi radiologi poliklinik
fakultas kedokteran aman untuk dilakukan foto roentgen.

48 |

Fisika Mulawarman, Vol.7 No.2, November 2011

KESIMPULAN
1. Laju dosis paparan radiasi sekunder di lingkungan sekitar instalasi radiologi
diagnostik poliklinik Fakultas Kedokteran selama satu tahun pada masing-masing
posisi 6,398 x 10-5, 3mSv/tahun, 5,31 x 10-6 mSv/tahun dan 1,129 x 10-4
mSv/tahun. Dari nilai-nilai tersebut setelah dibandingkan dengan nilai ambang
batas (NAB) yang telah di tetapkan oleh IAEA dan BAPETEN yaitu 50
mSv/tahun untuk pekerja dan 5 mSv/tahun untuk masyarakat sekitar, masih
dibawah nilai ambang batas tersebut oleh karena itu ruang instalasi radiologi
diagnostik Poliklinik Fakultas Kedokteran aman digunakan untuk proses foto
roentgen.
2. Nilai koefisien absorsi dari dinding pada ruang instalasi radiologi diagnostik
poliklinik Fakultas Kedokteran pada pengukuran di titik 1, 2 dan 3 adalah : 1,32 x
10-2 mm-1, 3,95 x 10-2 mm-1 dan 1,83 x 10-2 mm-1.
3. Nilai persentase penurunan dosis radiasi sekunder dengan masing-masing tebal
dinding pada titik pengukuran 1, 2 dan 3 yaitu 245 mm, 140 mm dan 140 mm
adalah 95 %, 99 % dan 92 %.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadi, Mukhlis. 2000. Dasar-dasar Proteksi Radiasi. Rhineka Cipta : Jakarta.
Bachtiar, Hanna H, Priaminiarti, Menik, Baskara, Evy.S. 2009. Pengantar Dasar Fisika
dan Radiologi Kedokteran Gigi Bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi. Hbi : Jakarta.
Budhi Wijatna, Agus. 1989. Metode Pemantauan Takaran Radiasi di Luar Pipa Uap
PLTN-BWR. Universitas Gajah Mada : Yogyakarta.
Gabriel, J.F. 1988. Fisika Kedokteran. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor 1014/MENKES/SK/XI/2008 :
Jakarta
Resnick, Haliday. 1981. Fisika Modern. Edisi ketiga. John Wiley and Sons Inc New
York.
Suyanto, Ferry. 2008. Rekayasa Sistem Pengaturan Parameter Pesawat Sinar X
Diagnostik Berbasis Mikrokontroler Keluarga MCS 51. Pusat Rekayasa Perangkat
Nuklir (PRPN) BATAN : Tanggerang.
Tata Cara Perencanaan dan Perancangan Bangunan Radiologi di Rumah Sakit. SNI 032395-1991. Tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di sarana Pelayanan
kesehatan : Jakarta.
Ulum, M. Fakhrul. 2008. Prinsip Dasar Proteksi Radiasi dalam Diagnostik. Proceedings
Join Meeting of the 3rd International Meeting on AZWMC 2008 and KIVNAS X
PDHI, ISBN : Bogor.
White.G. 1952. X-ray Attenuation Coefficients. Washington, DC.
Wiryosimin, Suwarno. 1995. Mengenal Asas Proteksi Radiasi. ITB : Bandung.
Wiharto, Kunto, 1996. Kedokteran Nuklir dan Aplikasi Teknik Nuklir dalam Kedokteran.
BATAN : Jakarta.
| 49