Anda di halaman 1dari 11

Fungsi Pembuluh Darah

Fungsi sirkulasi adalah untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh


1. Untuk mentranspor zat makanan ke jaringan tubuh,
2. Untuk mentranspor produk-produk yang tidak berguna,
3. Untuk menghantarkan hormon dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, dan
4. Secara umum, untuk memelihara lingkungan yang sesuai di dalam seluruh cairan
jaringan tubuh agar sel bisa bertahan hidup dan berfungsi secara optimal.
Peran dari setiap bagian sirkulasi, adalah sebagai berikut :
1. Pembuluh darah Arteri ; berfungsi untuk mentranspor darah ke jaringan di bawah
tekanan yang tinggi. Karena alasan inilah arteri mempunyai dinding pembuluh darah yang
kuat, dan darah mengalir dengan kecepatan yang tinggi di arteri.
2. Arteriol merupakan cabang-cabang kecil yang terakhir dari sistem arteri; dan berfungsi
sebagai saluran kendali untuk menentukan darah yang akan dilepaskan ke kapiler. Arteriol
memiliki dinding otot yang kuat sehingga dapat menutup arteriol secara total, atau dengan
berelaksasi dapat mendilatasi arteriol hingga beberapa kali lipat, sehingga mempunyai
kemampuan untuk sangat mengubah aliran darah di dasar setiap jaringan sebagai respons
terhadap kebutuhan jaringan.

Gambar 1. Distribusi darah (dalam persentase dari darah total) dalam berbagai bagian
sistem sirkulasi.
3. Pembuluh darah Kapiler berfungsi untuk pertukaran cairan, zat makanan, elektrolit,
hormon, dan bahan-bahan lainnya antara darah dan cairan interstisial. Untuk dapat
melakukan peran ini, dinding kapiler bersifat sangat tipis dan memiliki banyak pori-pori
kapiler yang kecil, yang permeabel terhadap air dan zat bermolekul kecil lainnya.

4. Venula ; berfungsi mengumpulkan darah dari kapiler dan secara bertahap bergabung
menjadi vena yang semakin besar.
5. Pembuluh darah Vena berfungsi sebagai saluran untuk mengangkut darah dari venula
kembali ke jantung; yang sama pentingnya juga, vena berperan sebagai penampung utama
darah ekstra. Karena tekanan di sistem vena sangat rendah, dinding vena sangat tipis.
Meskipun demikian, dindingnya mempunyai otot yang cukup untuk dapat berkontraksi atau
melebar, dan dengan demikian dapat berperan sebagai penampung darah ekstra yang dapat
dikendalikan, baik dalam jumlah kecil atau besar, bergantung pada kebutuhan sirkulasi.
Sumber :
Guyton, Arthur C. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11, Jakarta, Penerbit buku kedokteran
EGC. 2007; Hal. 167-168 (alih bahasa : Irawati ; editor edisi bahasa indonesia Luqman Yanuar
Rachman)

Macam Pembuluh Darah


Arteri
Pembuluh nadi atau arteri merupakan pembuluh darah yang mengalirkan darah dari dalam
jantung ke seluruh tubuh. Bisa saja diartikan pembuluh darah yang mengalirkan darah
keluar dari jantung. Diameter pembuluh nadi bervariasi, mulai dari yang paling besar yaitu
aorta (} 20 mm ) sampai ke cabangcabang yang paling kecil yaitu arteriol (} 0,2 mm ).
Kebanyakan pembuluh nadi mengalirkan darah yang mengandung oksigen. Pada pembuluh
nadi terdapat dinding yang bersifat elastis (kenyal) dan mampu berkontraksi. Dinding
pembuluh nadi ini terdiri atas 3 macam jaringan, meliputi jaringan ikat pada lapisan paling
luar, jaringan otot yang tebal, dan jaringan endotelium yang melapisi permukaan dalam
arteri. Penimbunan senyawa-senyawa lemak pada dinding arteri dapat menyebabkan
penyempitan pembuluh dan hilangnya kekenyalan dinding. Kondisi demikian
disebut arteriosklerosis. Arteri yang membawa darah dari ventrikel kiri jantung menuju
seluruh tubuh disebut aorta. Sementara, arteri bercabang-cabang membentuk pipa yang
lebih kecil disebut arteriola. Arteriola ini membentuk cabang-cabang lebih kecil dan ujungujungnya berhubungan langsung dengan sel-sel tubuh. Cabang-cabang
inilah yang dinamakan kapiler. Di dalam sistem peredaran darah, arteri terdiri atas 2
macam, yakni arteri pulmonalis dan arteri hepatica. Arteri pulmonalis (arteri paru-paru)
merupakan pembuluh nadi yang membawadarah kotor atau mengandung CO2 keluar dari
jantung menuju paru-paru (pulmo). Adapun arteri hepatica merupakan pembuluh nadi yang
membawa darah bersih (kaya O2) menuju ke hepar (hati).
Arteri adalah jalur berjari-jari besar dan beresistensi rendah yang berjalan dari jantung ke
jaringan dan juga berfungsi sebagai reservoir tekanan. Karena elastisitas mereka, arteriarteri dapat melebar untuk mengakomodasi tambahan volume darah yang dipompa ke
dalamnya oleh kontraksi jantung dan kemudian menciut kembali untuk terus mendorong

darah sewaktu jantung berelaksasi.


Tekanan sistolik adalah tekanan puncak yang ditimbulkan oleh darah yang disemprotkan
pada dinding pembuluh selama sistol jantung. Tekanan diastolik adalah tekanan minimum di
arteri sewaktu darah mengalir ke luar untuk memasuki pembuluh-pembuluh di sebelah hilir
selama diastol jantung.
Tekanan rata-rata yang mendorong darah selama seluruh siklus jantung adalah tekanan
arteri rata-rata, yang dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus berikut: tekanan
arteri rata-rata = tekanan diastolik + (1/3 x tekanan nadi). Terdapat 3 lapisan pada dinding
pembuluh arteri yaitu
o

Tunika adventisia: lapisan terluar dari jaringan fibrosa

o Tunika media: lapisan tengah dari otot polos dan jaringan elastic
o Tunika intima: garis dalamdari epithelia skuamosa yang disebut endothelium.

Arteri dapat digolongkan menjadi arteri tipe elastis (arteri besar), arteri muskular
(arteri sedang), dan arteriola.

Arteri Elastis Besar

Adalah pangkal arteri pada ventrikel dan beberapa arteri besar yang
dekat jantung. Arteri besar disebut juga arteri konduksi karena fungsi
utamanya ialah mengangkut darah keluar dari jantung. Arteri ini juga
berfungsi untuk meredakan fluktuasi besar dalam tekanan yang
ditimbulkan oleh denyut jantung. Selama kontraksi ventrikel (sistole),
lamina elastis arteri konduksi diregangkan dan mengurangi perubahan
tekanan. Selama relaksasi ventrikel (diastole), tekanan ventrikel turun
cukup besar, namun tekanan balik elastis pada arteri konduksi membantu
mempertahankan tekanan arteri. Akibatnya tekanan arteri dan aliran
darah menurun dan menjadi kurang bervariasi karena makin menjauhi
jantung.
Arteri elastis besar ini memiliki diameter sekitar 2,5 cm pada orang
dewasa dan tebal dindingnya sekitar 1,5 mm. Contoh khasnya adalah
aorta, trunkus pulmonalis, arteria pulmonalis, arteria karotis komunis dan
arteria subklavia. Aorta merupakan arteri elastis yang utama.
Tunica intima lapisan terdalam dibina atas selapis sel endotel, dan di
bawahnya ada lapisan subendotel yang mengandung serat jaringan ikat
yang terdiri dari serat elastis dan sedikit serat otot polos. Ke bawah dari
jaringan ikat ini ada membrana elastica interna, yang mengandung serat
elastis yang bersusun rapat membentuk berkas.
Tunica media dibina terutama atas otot polos dan serat elastis. Ada
pula sedikit serat kolagen dan urat saraf. Lapisan ini sangat tebal dan
inilah yang membuat pembuluh elastis ini jadi sangat bingkas. Pada
lapisan ini, di daerah pangkal lebih banyak serat elastis daripada serat
otot polos dan makin jauh dari jantung jumlah serat elastis menyusut dan
serat otot bertambah.
Dalam lapisan ini ada vasa vasorum, yakni pembuluh darah di dalam
pembuluh darah. Diameter > 1 mm. Berasal dari arteri yang berdekatan
dan bercabang masuk ke ketiga lapisan, terutama tunica media.
Berbatasan dengan tunica adventitia, serat elastis membentuk berkas
disebut membrana elastica externa.
Tunica adventitia dibina terutama atas jaringan ikat, berupa serat
kolagen dan sedikit serat elastis. Disini terdapat pula vasa vasorum dan
urat saraf, yang bercabang dan masuk ke tunica media.

Arteri Muskuler
Merupakan bagian arteria yang terbanyak terdapat dalam tubuh. Nama
lainnya adalah arteria distribusi,
karena arteria tipe muskular
mengontrol distribusi darah arteri ke berbagai bagian tubuh. Arteria tipe muskular
ukurannya lebih bervariasi daripada arteria tipe elastis, diameter potongan melintang
berkisar antara 10 mm sampai 0,1 mm. Dindingnya relatif tebal dibanding diameter
pembuluh, terutama banyak sekali otot polos di tunika media.
Tunica intima di arteria tipe muscular yang terdiri hanya sel-sel endotel yang
gepeng yang berhubungan langsung dengan lamina elastika interna. Sel-sel
endotel ini mempunyai tonjolan-tonjolan di bagian basal yang menembus lamina
elastika interna dan berhubungan dengan sel-sel otot polos di bawahnya. Endotel
sama dengan yang terdapat di arteria tipe elastis, sel-selnya dihubungkan oleh taut
kedap dan neksus dengan struktur yang sama. Pada arteria tipe muskular yang
ukurannya lebih besar, terdapat jaringan ikat subendotel, terletak diantara lamina
basalis yang tipis dan lamina elastika interna. Jaringan ikat subendotel pada
berbagai arteria misalnya arteria koronaria, mungkin berisi sel-sel otot polos yang
berjalan longitudinal.

Lamina elastika interna berkembang baik pada arteria tipe muskular dan
dalam sajian yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin tampak sebagai garisgaris refraktil bergelombang berwarna merah pada potongan melintang arteria
tipe muskular. Susunan bergelombang ini karena dinding pembuluh mempunyai
otot polos dalam jumlah yang banyak, berkontraksi setelah mati (kontraksi
agonal) sehingga menyebabkan lipatan longitudinal di lamina elastika interna.
Tunica media pada arteria tipe muskular yang lebih besar berisi 10-40 lapisan
sel-sel otot polos yang tersusun konsentris, sedangkan pada arteri kecil ada sekitar
4-10 lapisan. Tunika media relatif tipis di arteria meningea dan arteria serebralis.
Sel-sel otot polos adalah satu-satunya sel di tunika media dan terbenam dalam
matriks glikoprotein yang berwarna gelap dengan reaksi PAS. Selain itu juga
terdapat serat kolagen dan serat elastis.
Pada tempat peralihan ke tunika adventisia, lamina elastika eksterna merupakan batas peralihan
pada arteri tipe muskular yang besar, meskipun ini kurang berkembang bila dibandingkan dengan
lamina elastika interna. Pada arteria kecil, lamina elastika eksterna ini putus-putus
atau tidak ada sama sekali.
Tunica adventisia tebal pada arteri tipe muskular, bahkan kadang-kadang
lebih tebal dari tunika media. Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang
agak longgar, dimana serat-serat kolagen dan elastis tersusun longitudinal. Tunika
adventisia berisi vasa vasorum dan sejumlah serat saraf, dimana serat saraf ini
mencapai bagian luar tunika media.

Arteriol
Peralihan dari suatu arteri kecil ke arteriol adalah secara bertahap, tetapi
arteriol disebut sebagai pembuluh darah arterial dengan diameter kurang dari 100
m. Dindingnya hanya terdiri atas 1-3 lapis otot polos yang tersusun sirkular.
Tunika intima terdiri atas sel endotel yang gepeng yang tersusun memanjang
dalam arah longitudinal. Sel-sel ini dihubungkan melalui taut kedap dan neksus
serupa dengan arteri yang dijelaskan sebelumnya. Dari bagian basal sel-sel
endotel ada tonjolan-tonjolan menembus lamina basalis yang tipis dan lamina
elastika interna untuk membentuk hubungan otot endotel dengan sel-sel otot
polos tunika media.

Pada arteriol, biasanya terdapat lamina elastika interna yang berkembang


relatif baik. Namun lamina ini tidak ditemukan dibagian akhir arteriol dan disebut
metarteriol.
Tunica media terdiri atas 1-3 lapis otot polos yang tersusun sirkular.
Tunica adventisia terdiri atas jaringan ikat jarang yang berisi sedikit fibroblas
dan serat-serat kolagen dan elastis yang tersusun longitudinal. Lamina elastika
eksterna tidak terdapat pada arteriol.
Bagian
akhir
arteriol
disebut metarteriol atau daerah
sfingter
prekapiler.Pembuluh ini mengatur aliran darah ke jala-jala kapilar dengan
mengatur diameter lumen. Metarteriol di daerah sfingter prekapilar panjangnya
bervariasi dari 50-100 m. Diameter lumen secara bertahap berkurang dari 30
sampai 8 m. Sel-sel endotel terletak di atas lamina basalis yang tipis, dikelilingi
oleh sedikit otot polos yang tersebar. Otot polos ini mungkin tampak hubungan
otot endotel dengan sel-sel endotel. Hanya sedikit sekali terdapat jaringan ikat
perivaskular mengelilingi metarteriol.
Jaringan ikat ini berhubungan dengan jaringan ikat sekitarnya. Serat saraf tidak
bermielin tampak mengelilingi otot polos. Ini menunjukkan bahwa persarafan
simpatis yang menyebabkan metarteriol berkontraksi dan berelaksasi secara
bergantian. (Krauses Essential Human Histology for Medical Student, 2005)

Kapiler
Pembuluh kapiler merupakan pembuluh darah berbentuk kecil/halus yang berasal dari
percabangan pembuluh arteriol dan venula. Pada percabangan pembuluh arteriol,
pembuluh kapiler memiliki diameter } 0,10 mm. Sedangkan pada percabangan venula,
pembuluh kapiler memiliki diameter + 0,2 mm. Pada pembuluh kapiler terdapat sebuah
dinding yang bersifat per meabel. Sehingga, cairan tubuh dan zat-zat terlarut yang
melewatinya dapat keluar masuk melalui dinding sel tersebut. Selain itu, pada pembuluh
kapiler juga terjadi pertukaran oksigen, karbondioksida, dan zat-zat makanan, serta hasilhasil ekskresi dengan jaringan yang ada di sekeliling kapiler darah. Oleh karena kondisi suhu
lingkungan dan bahan kimiawi seperti histamin, diameter pembuluh kapiler ini dapat
berubahubah. Pengaruh pengaruh temperatur/suhu lingkungan yang rendah, pembuluh
kapiler dapat mengalami penyempitan.
Sebaliknya, apabila suhu lingkungan tinggi (naik) pembuluh kapiler dapat membesar
kembali. dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa antara arteri, vena dan kapiler saling
bekerja sama dalam mengedarkan darah. Ketiganya akan membentuk sistem organ dalam
tubuh yang dinamakan sistem peredaran darah.
Kapiler, yang berdinding tipis, berjari-jari kecil, dan bercabang-cabang secara ekstensif ini,
ideal untuk berfungsi sebagai tempat pertukaran antara darah dan jaringan di sekitarnya.
Secara anatomis, di kapiler luas permukaan untuk pertukaran dimaksimalkan dan jarak

difusi diminimalkan. Selain itu, karena total luas potongan melintang kapiler yang besar,
kecepatan darah mengalir melalui pembuluh tersebut relatif lambat, sehingga tersedia
waktu
yang
cukup
untuk
terjadinya
pertukaran.
Terdapat dua jenis pertukaran pasif-difus dan bulk flow-menembus dinding kapiler. Tiaptiap zat terlarut terutama dipertukarkan melalui proses difusi mengikuti penurunan gradien
konsentrasi. Zat-zat larut lemak langsung menembus sel-sel endotel. Protein plasma
umumnya
tidak
dapat
keluar
kapiler.
Ketidakseimbangan gaya-gaya fisik yang bekerja pada dinding kapiler menimbulkan bulk
flow cairan melalui pori-pori keluar masuk antara plasma dan cairan interstisium. Cairan
terdorong ke luar di bagian pertama kapiler (ultra-filtrasi) tempat tekanan ke arah luar
(terutama tekanan osmotik koloid plasma). Cairan dikembalikan ke kapiler di sepanjang
separuh terakhir sewaktu tekanan je arah luar turun di bawah tekanan ke arah dalam.
Penyebab pergeseran keseimbangan di sepanjang kapiler ini adalah penurunan kontinu
tekanan darah kapiler sementara tekanan osmotik koloid plasma tidak berubah. Bulk flow
berperan dalam distribusi cairan ekstrasel antara plasma dan cairan interstisium.
Dalam keadaan normal, cairan yang difiltrasi sedikit lebih banyak daripada yang
direabsorpsi. Kelebihan cairan ini, setiap protein yang bocor, dan kontaminan jaringan,
misalnya bakteri diserap oleh sistem limfe. Bakteri dihancurkan sewaktu limfe melewati
kelenjar limfe dalam perjalanan kembali ke sistem vena.

Vena
Pada dasarnya, fungsi pembuluh balik berkebalikan dengan pembuluh nadi. Pembuluh balik
(vena) berfungsi mengalirkan darah dari seluruh tubuh menuju jantung. Bisa juga disebut,
pembuluh balik adalah pembuluh darah yang berasal dari tubuh menuju jantung. Diameter
pembuluh balik lebih besar daripada pembuluh arteri, yakni berkisar 25 mm. Pada tubuh
manusia, kebanyakan pembuluh nadi terletak pada permukaan tubuh. Sehingga, pembuluh
ini terlihat kebiru-biruan pada permukaan kulit. Pembuluh nadi memiliki dinding arteri,
sementara pembuluh balik terdapat dinding vena. Dinding vena juga tersusun atas 3
jaringan, meliputi jaringan ikat pada lapisan paling luar, jaringan otot yang sangat tipis dan
kurang elastis/kurang kenyal di
tengahnya, dan jaringan endotelium yang melapisi permukaan dalam vena.
Pada vena terdapat cabang yang dinamakan venula. Venula bercabang menjadi pembuluh
yang lebih kecil lagi, yang disebut kapiler. Selain itu, terdapat vena yang berhubungan secara
langsung dengan jantung dan paru-paru. Pembuluh balik demikian dinamakan vena cava.
Pada umumnya, darah yang mengalir pada vena mengandung banyak darah kotor kaya CO2.
Kecuali vena pulmonalis, vena yang keluar membawa oksigen dari paru-paru. Oksigen yang
dibawa vena pulmonalis ini akan dibawa kembali menuju jantung.
Selain berbagai pembuluh vena tersebut, menurut letaknya, terdapat pula jenis pembuluh
balik yang lain. Khususnya vena cava yang memiliki dua jenis pembuluh, yakni vena cava
superior dan vena cava inferior. Vena cava superior adalah pembuluh vena yang berasal
dari organ-organ tubuh bagian atas, seperti kepala, leher, dan rambut-rambut.
Sedangkan vena cava inferior adalah pembuluh vena yang berasal dari organ-organ tubuh
bagian

bawah, seperti lambung, usus, hati, pankreas, paru-paru, ginjal, kaki, dan lain sebagainya
Vena adalah saluran berjari-jari besar dan beresistensi rendah yang mengembalikan
darah dari jaringan ke jantung. Selain itu, sistem pembuluh ini dapat mengakomodasi
berbagai volume darah, sehingga berfungsi sebagai reservoir darah. Kapasitas sistem vena
menampung darah dapat berubah-ubah secara mencolok hanya dengan sedikit perubahan
tekanan vena. Vena adalah pembuluh berdinding tipis yang mudah diregangkan secara pasif
untuk
menampung
darah
dalam
jumlah
besar.
Gaya primer yang berperan mendorong aliran vena adalah gradien tekanan antara vena dan
atrium (yaitu, sisa tekanan yang ditimbulkan oleh kontraksi jantung pada darah). Aliran vena
ditingkatkan oleh vasokontriksi vena yang diinduksi oleh saraf simpatis dan oleh kompresi
eksternal akibat kontraksi otot-otot rangka disekitarnya, keduanya mendorong darah ke luar
vena menuju jantung. Katup-katup vena satu-arah memastikan bahwa darah dialirkan ke
arah jantung dan tidak mengalir balik ke jaringan. Aliran vena juga ditingkatkan oleh pompa
pernapasan dan efek penghisapan jantung. Aktivitas pernapasan menimbulkan tekanan di
rongga dada yang lebih rendah daripada tekanan atmosfer, sehingga terbentuk suatu
gradien tekanan eksternal yang meningkatkan aliran darah dari vena-vena di bagian bawah
yang terpajan ke tekanan atmosfer ke vena-vena dada yang mengalirkan darah ke jantung.
Selain itu, tekanan yang sedikit negatif di dalam atrium pada saat sistol ventrikel juga
menghasilkan efek menghisap yang semakin meningkatkan aliran balik vena dan
mempermudah pengisian jantung.

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta.
Junqueira, L.C and Carneiro, Jose. 2007. Histologi Dasar Teks & Atlas ed.10.
EGC : Jakarta.
Krause, William J. 2005. Krauses Essential Human Histology For Medical
Students 3rd edition. Universal Publisher : USA.
P. Eroschenko, Victor. 2003. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional
ed.9. EGC : Jakarta.