Bahan
berwarna cokelat kekuningan, tebal atau kental ini diproduksi oleh kelenjar khusus yang
dapat ditemui pada sebagian luar lapisan kulit kanal telinga. Gen menentukan warna kotoran
telinga. Tugas utama dari kotoran telinga ini adalah memperangkap debu dan partikel kotoran
lainnya dan mencegahnya mencapai gendang telinga. Lambat-laun, kotoran telinga sarat debu
dan kotoran akan diangkut secara perlahan dengan migrasi lapisan atas kulit telinga menuju
ke lubang luar kanal. Tatkala kotoran yang lebih lama mencapai lubang kanal, kotoran ini
mengering dan jatuh keluar.
Apa Fungsi Serumin (Kotoran Telinga)?
Di samping memperangkap debu dan kotoran, kotoran telinga juga melindungi telinga dengan
mencegah infeksi dan peradangan. Karena sifat asam kotoran dan enzim (lisozim) yang
ampuh yang dikandungnya, kotoran telinga menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur di
dalam telinga. Berkat sifatnya yang berminyak, kotoran telinga juga memberikan lapisan
tahan air untuk kulit kanal, mencegah penumpukan air, penetrasi dan maserasi kulit.
Apakah Kotoran Telinga Menyebabkan Masalah?
Dalam kondisi normal, kotoran telinga seharusnya tidak menyebabkan masalah telinga apa
pun. Namun demikian, ada beberapa kejadian di mana kotoran telinga menjadi bermasalah.
Kondisi paling umum disebut impaksi kotoran telinga. Ini biasanya terjadi akibat upaya
mengeluarkan kotoran telinga dengan menggunakan kapas pembersih telinga atau alat lain.
Benda-benda ini menyebabkan kotoran telinga di dorong ke bagian telinga yang lebih dalam,
atau menyebabkan kotoran telinga menjadi padat, sehingga mencegah migrasi normal ke
bagian luar telinga.
Kondisi lain yang dapat menyebabkan anak mudah terkena masalah terkait kotoran telinga
adalah:
Mengenakan alat bantu dengar
Bentuk kanal telinga yang abnormal (mis., kanal telinga yang sempit)
Gejala
Gejala paling umum terkait dengan kotoran telinga impaksi adalah gangguan pendengaran
yang ringan, atau telinga terasa penuh. Hal ini biasanya terjadi jika kanal sepenuhnya
terblokir oleh kotoran telinga.
Kotoran telinga impaksi biasanya tidak menyakitkan, kecuali jika menyentuh gendang
telinga. Upaya untuk mengeluarkan kotoran telinga yang keras dapat menyebabkan abrasi
dan nyeri pada kulit kanal telinga yang peka. Air yang terperangkap di dalam telinga sewaktu
mandi atau setelah berenang akan menyebabkan kotoran telinga mengembang dan dapat
menyebabkan nyeri telinga dan gangguan pendengaran secara tiba-tiba.
Gejala lainnya yang terkait dengan kotoran telinga impaksi di dalam telinga termasuk: telinga
gatal, telinga berdering, dan pada kejadian yang langka, pusing.
Pengobatan
Kotoran telinga impaksi harus dikeluarkan jika menyebabkan masalah, seperti nyeri telinga
dan gangguan pendengaran. Pengeluaran kotoran telinga juga penting jika ini mencegah
evaluasi yang layak pada gendang telinga dan ruang telinga bagian tengah. Terdapat beberapa
cara mengeluarkan kotoran telinga. Obat paling umum yang sering dipakai di rumah adalah
zat pelunak kotoran, yang dioleskan setiap hari sampai kotoran telinga melunak dan keluar.
Sebagian obat jadi komersial dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit kanal telinga, dan
harus digunakan dengan hatihati pada anak-anak yang diketahui memiliki alergi. Alternatif
lain yang lebih aman untuk tetes telinga komersial, adalah minyak mineral dan gliserin. Jika
zat pelunak kotoran gagal, pilihan selanjutnya adalah meminta bantuan profesional.
Pengeluaran kotoran telinga baik dengan cara mencuci dengan air (irigasi) atau penyedotan
biasanya dilakukan di klinik. Kotoran telinga dapat juga dikeluarkan secara manual dengan
menggunakan alat khusus jika anak dapat memahami instruksi dan kooperatif. Pengeluaran
kotoran telinga secara manual jangan dicoba di rumah jika kotoran berada jauh di dalam
kanal telinga.
Untuk anak-anak yang kurang kooperatif dengan cara di atas, pengeluaran kotoran telinga
dan pemeriksaan telinga dapat dicapai dengan memberikan obat penenang atau pembiusan
total.
Mencegah Penumpukan Kotoran Telinga
Kotoran telinga adalah sekresi tubuh yang alami, dan tidak ada cara menghentikan tubuh kita
untuk mengeluarkan bahan ini. Salah satu cara untuk mencegah kotoran telinga impaksi
adalah menghindari penggunaan kapas pembersih telinga di dalam kanal telinga. Cara terbaik
untuk membersihkan telinga bagian luar adalah menyeka lubang telinga bagian luar dengan
lap basah yang dililitkan pada jari telunjuk, tanpa memasuki ke dalam kanal telinga.
Karena kelajuan produksi kotoran telinga bervariasi pada setiap orang, dianjurkan untuk
memeriksakan telinga anak Anda, sekurangnya sekali sebulan. Jika kotoran telinga mulai
menumpuk, Anda dapat mulai menggunakan solusi yang tersedia di rumah untuk melunakkan
kotoran.
Sebelum menggunakan tetes telinga apa pun, pastikan telinga anak Anda tidak mengalami
infeksi atau perforasi gendang telinga. Jika anak Anda mengalami nyeri telinga, atau
mengeluarkan cairan dari telinga setelah menggunakan tetes telinga, segera berhenti
menggunakan tetes telinga dan minta saran dari ahli profesional.
Anak-anak yang mengenakan alat bantu dengar harus juga memeriksakan telinga mereka
secara rutin, untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda impaksi kotoran telinga.
Hati-hati menyumbat telinga. Kotoron telinga (serumen atau ear wax) adalah produk normal
yang hanya diproduksi kulit liang telinga. Sebenarnya, cairan lendir lengket yang dikeluarkan
oleh kelenjar serumen ini merupakan substansi penting untuk menangkap benda-benda asing dari
luar (seperti kotoran, debu, dan serangga); sehingga tidak dapat mencapai bagian liang telinga
yang lebih dalam atau gendang telinga. Singkat cerita, serumen berfungsi sebagai pelindung
telinga.
Dalam keadaan normal, secara berkala telinga mendorong kelebihan serumen keluar. Sayangnya,
pada anak-anak, mekanisme ini belum bekerja dengan sempurna. Akibatnya, serumen malah
menumpuk di dalam liang telinga, bahkan bisa jadi keras.
Bila jumlahnya melebihi normal, tentu saja kotoran ini dapat menyumbat telinga. Akibatnya,
pendengaran anak jadi berkurang. Kalau serumen jadi padat dan keras, bisa timbul rasa sakit
akibat penekanan pada kulit liang telinga. Nah, pada orang tertentu, sejumlah cabang saraf
berada sangat dekat dengan liang telinga, sehingga setiap penekanan mengakibatkan rangsangan
pada tenggorokan dan menimbulkan batuk.
Bersihkan dengan benar. Ada banyak pendapat tentang boleh tidaknya membersihkan kotoran
telinga anak secara mandiri di rumah. Sebetulnya, secara umum kita dapat melakukannya dengan
memperhatikan hal-hal berikut.
Bersihkan kotoran yang hanya di bagian paling luar liang telinga .
Cotton buds hanya digunakan untuk membersihkan kotoran di daerah daun telinga .
Selain itu, kotoran telinganya lunak, dan dilakukan dengan cara yang benar dan hati-hati.
Jangan gunakan benda tajam , seperti jepit rambut atau tangkai bulu ayam.
Teteskan baby oil ke dalam liang telinga secara rutin 2 kali seminggu, untuk mencegah
penumpukan kotoran telinga.
Bila Anda tidak yakin dapat membersihkan dengan benar, datanglah ke dokter anak Anda.
Karena, tindakan membersihkan liang telinga yang tidak benar, justru mengakibatkan kotoran
terdorong lebih dalam. Kalau ini yang terjadi, akibatnya:
Terjadi penyumbatan yang lebih berat, karena bagian tengah liang telinga menyempit.
Perlukaan pada liang telinga, sehingga timbul rasa nyeri dan infeksi. Hal ini dapat terjadi
sekalipun hanya karena gesekan cotton bud. Hal terburuk adalah bila benda yang
digunakan masuk terlalu dalam, sehingga menembus atau menyobek gendang telinga
yang berfungsi menerima getaran gelombang suara .
Luka pada kulit liang telinga yang terjadi pada saat kotoran tersebut bergerak.
Untuk mengeluarkan kotoran telinga, dokter biasanya mengunakan pengait atau sendok serumen
(cerumen spoon) yang terbuat dari logam. Bila kotoran telinga lunak, akan diisap dengan pompa
vakum, atau dengan menyemprotkan air hangat ke dalam liang telinga anak. Bila tidak berhasil
karena kotoran keras, dokter akan meminta pasien meneteskan obat tetes selama beberapa hari
untuk memudahkan pengambilan kotoran tersebut.
Banyak yang menganggap bahwa kotoran telinga yang berwarna kuning atau coklat merupakan
hasil aktifitas bakteri. Itu merupakan pemahaman yang salah. Kotoran telinga yang dalam bahasa
ilmiah disebut cerumen, sebenarnya diproduksi oleh telinga itu sendiri, tepatnya pada kelenjar
kulit pada lubang telinga bagian luar.
Cerumen yang bersifat lengket mempunyai fungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh, yaitu
melindungi kulit sensitif di dalam lubang telinga dari masuknya kotoran, kulit mati, dan bendabenda lain yang bisa menimbulkan masalah. Cerumen juga bersifat asam sehingga juga berfungsi
sebagai anti bakteri yang kuat. Lapisan cerumen yang licin berfungsi mencegah bintik-bintik
kering dan mengurangi rasa gatal.
Di dalam lubang telinga sendiri, mekanisme tubuh mampu membersihkan sendiri lubang telinga
yang kotor jika berfungsi dengan baik. Kotoran telinga akan keluar dari lubang telinga dengan
sendirinya, prosesnya dibantu setiap kali rahang bergerak untuk berbicara atau mengunyah. Di
saat kotoran telinga keluar pada bagian telinga yang terlihat, disitulah bagian yang aman untuk
membersihkan kotoran telinga. Pada dasarnya, kehadiran cerumen memberikan banyak
keuntungan bagi tubuh, dan upaya untuk membersihkan cerumen dari lubang telinga akan
menimbulkan banyak masalah dan kerusakan pada pendengaran.
Cerumen diproduksi pada sepertiga bagian luar lubang telinga, dan secara normal tidak mungkin
bergerak masuk ke dalam daerah gendang telinga yang sangat sensitif, kecuali adanya tekanan
dari luar. Membersihkan lubang telinga dengan kapas pembersih (cotton bud) justru akan
mendorong cerumen masuk ke dalam daerah yang sangat sensitif. Bahaya yang ditimbulkan
adalah infeksi dan kemungkinan gangguan pendengaran. Jika cerumen terakumulasi di daerah
gendang telinga, cerumen bisa menyebabkan tinnitus (radang gendang telinga). Membersihkan
cerumen juga menyebabkan kulit pada lubang telinga rawan terkena infeksi dan akan
meningkatkan pertumbuhan bakteri karena hilangnya sifat asam pada lubang telinga.
Bahaya terbesar dari membersihkan cerumen dari lubang telinga adalah pecahnya gendang
telinga, kemudian munculnya infeksi bakteri yang mematikan pada gendang telinga yang pecah.
Dimana pada tahun 2008, seorang pria berasal dari Montreal, Canada meninggal dunia karena
infeksi yang berasal dari gendang telinga yang pecah akibat dari membersihkan telinga dengan
cotton bud. Seperti yang dijelaskan di atas, cerumen tidak diproduksi di daerah dekat gendang
telinga. Namun karena banyak orang tidak tahu, mereka berusaha membersihkan telinga sedalam
mungkin mendekati gendang telinga.
Cara yang baik untuk membersihkan telinga adalah menggunakan handuk yang direndam dalam
air hangat, jangan air dingin ataupun terlalu panas. Bersihkan bagian luar dari lubang telinga,
tempat keluarnya kotoran telinga dan jangan memasukkan benda yang berbentuk stick (tongkat)
seperti cotton bud, jari, pensil, dll. Jika anda merasa ada gangguan seperti infeksi pada telinga
anda, segera konsultasikan dengan dokter anda
SainsMe - Hai Ramdan, pertanyaan kamu keren sekali. Banyak orang yang tidak mengerti
mengenai seluk beluk telinga dan sering kali salah dalam melakukan tindakan pembersihan
lubang telinga. Hal tersebut terjadi karena rasa risih terhadap kotoran di telinga yang terasa
mengganggu. Well, sebenarnya kotoran telinga itu ada manfaatnya ngga sih?
Apa manfaat cairan telinga?
cairan telinga atau lebih dikenal dengan nama cerumen diproduksi oleh daerah di sepertiga
bagian terluar lubang telinga. Dan jangan salah, cairan telinga ini besar sekali manfaatnya.
Cairan lengket dan berbau tidak sedap ini ternyata mengandung bahan pelindung dan anti bakteri
yang sangat berguna. Jadi sebenarnya cairan ini bertanggung jawab untuk proses pembersihan
telinga kamu secara alamiah. Yap, tubuh memang punya mekanisme alami untuk membersihkan
lubang telinga dan membuatnya tetap bisa mendengar, salah satunya ya dengan cairan telinga ini.
kotoran tersebut ke arah gendang telinga. Celakanya, kotoran yang masuk terlalu jauh akan sulit
keluar dan semakin menumpuk. Akibatnya? Kotoran tersebut akan menghalangi gelombang
suara dan membuat kamu kesulitan mendengar. Bahaya bukan? Selain itu, seperti yang terlihat
pada gambar, ada banyak sekali bagian yang lunak, rumit dan sangat sensitif di dalam lubang
telinga, jadi kita harus benar-benar berhati-hati dalam merawatnya.
Kapan harus pergi ke dokter?
Namun tetap saja ada kalanya kotoran diproduksi terlalu banyak atau mengalami kesulitan untuk
keluar secara alamiah. Dalam hal ini lebih baik jika kamu menghubungi dokter untuk bantuan
mengeluarkan kotoran telinga. Lalu kapan waktu yang tepat untuk pergi ke dokter? Nah kamu
bisa pergi ke dokter apabila muncul keluhan berikut:
1. Timbul rasa sakit di telinga atau telinga terasa penuh oleh kotoran.
2. Kehilangan pendengaran sebagian, yang semakin lama terasa makin parah.
3. Telinga terasa berdengung untuk waktu yang lama.
4. Gatal, dan keluar bau yang sangat menyengat
Tak selamanya membersihkan telinga itu baik. Salah penggunaan, justru bisa terjadi iritasi pada
telinga, atau bahkan komplikasi pada alat dengar.
Pada dasarnya, seperti disampaikan dr. Kartika Dwiyani, SpTHT, yang perlu diketahui bahwa
liang telinga itu terdiri atas lapisan kulit yang mengandung kelenjar. Lapisan terluarnya akan
selalu mengalami pengelupasan secara alami.
Sementara kotoran telinga atau yang biasa disebut serumen, merupakan campuran dari hasil
produksi kelenjar di liang telinga dengan pengelupasan tadi. Semua ini berfungsi untuk
pembersihan, perlindungan telinga, serta pelumasan liang telinga.
Jadi secara normal ada mekanisme pembersihan telinga secara otomatis (self cleansing).
Kotoran telinga akan bergerak ke luar dari liang telinga dengan bantuan gerakan rahang saat
mengunyah atau berbicara, ujarnya.
Mengapa bisa terjadi penumpukan serumen? Itu karena proses self cleansing tidak berfungsi
dengan baik, tambahnya.
Penyebab lainnya, yaitu kecepatan produksi serumen yang berbeda-beda pada setiap individu,
atau penggunaan alat bantu dengar. Bisa juga karena ada kelainan kulit liang telinga dan ukuran
liangnya yang sempit, ungkapnya.
Namun Kartika menegaskan, penumpukan kotoran telinga ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak,
1 dari 20 orang dewasa, dan sepertiga dari populasi lanjut usia. Dampak penumpukan bisa
berupa gangguan pendengaran, rasa berdengung di liang telinga, atau rasa nyeri pada liang
telinga. Pada tahap ini, dia menyarankan perlunya tindakan medis berupa pembersihan liang
telinga oleh dokter yang kompeten.
Walaupun ada potensi penumpukan kotoran pada liang telinga, dia menyarankan agar tidak asal
saat membersihkannya. Misalnya saat menggunakan cotton bud atau pembersih dari kapas. Yang
lebih bahaya lagi adalah ketika kotoran telinga berjenis semi padat atau padat. Yang terjadi
justru kotoran terdorong ke dalam, menekati gendang telinga, ujarnya.
Dampak lain adalah iritasi pada kulit liang telinga akibat gesekan yang dapat menyebabkan
infeksi. Lebih parah lagi, lanjut dokter THT yang praktek di RS Jakarta itu, penggunaan cotton
bud yang terlalu dalam pada liang telinga juga dapat menyebabkan tertusuknya gendang telinga
hingga berakibat kebocoran gendang telinga.
Sementara terkait dengan penggunaan ear candle atau lilin terapi telinga, Kartika memastikan
belum adanya bukti medis mengenai manfaat penggunaannya. Mengutip sebuah penelitian pada
1996 di Amerika, dia menuturkan, ternyata tidak ada pembersihan serumen pada pasien yang
telah proses ear candling.
Pada proses penelitan selanjutnya, dia mengungkapkan, survei dilakukan terhadap 122 dokter
spesialis THT di Amerika.
Hasilnya menakjubkan. Dari pengakuan para dokter yang jadi responden itu, ditemukan 21 kasus
komplikasi langsung setelah menjalani ear candling. Sebanyak 13 pasien mengalami luka bakar
di daun telinga, 7 pasien mengalami penyumbatan di liang telinga dan 1 pasien mengalami
kebocoran gendang telinga.
Pada komplikasi tidak langsung, ditemukan: 3 pasien mengalami infeksi pada liang telinga luar
dan 6 pasien lainnya mengalami penurunan pendengaran sementara.
Selanjutnya, agar pembersihan liang telinga tetap aman, dokter spesialis dari Universitas
Indonesia ini memberikan beberapa saran:
1. Mengingat adanya mekanisme self cleansing, tidak perlu terlalu sering membersihkan bagian
dalamnya. Variasi waktunya memang berbeda bagi setiap individu, karena perbedaan kondisi
anatomi dan kecepatan produksi serumen di liang telinga, katanya.
2. Untuk menjaga kebersihan, cukup bersihkan liang telinga bagian luar saja.
3. Penggunaan cotton bud, tissue lembut, atau kapas hanya untuk membersihkan daun telinga
dan bagian luar dari liang telinga. Tidak untuk dimasukkan ke dalam liang telinga.
4. Kalaupun menggunakan cotton bud, pilihlah yang berkualitas baik, sehingga terhindar dari
risiko terlepasnya kapas dari tangkainya atau pun patahnya tangkai cotton bud.
5. Hindari penggunaan cotton bud yang menimbulkan gesekan terlalu kuat pada kullit dinding
liang telinga.
6. Untuk pembersihan liang telinga bagian lebih dalam, dapat dilakukan dengan kontrol teratur
ke dokter spesialis THT, misalnya enam bulan sekali. Bisa juga tergantung dari kondisi dan
keluhan yang dialami masing-masing pasien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Anatomi Telinga
Secara umum telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
Telinga luar sendiri terbagi atas daun telinga, liang telinga dan bagian lateral dari
membran
timpani (Lee K.J,1995; Mills JH et al, 1997).
Daun telinga di bentuk oleh tulang rawan dan otot serta ditutupi oleh kulit. Ke arah
liang telinga lapisan tulang rawan berbentuk corong menutupi hampir sepertiga lateral, dua
pertiga lainnya liang tel
inga dibentuk oleh tulang yang ditutupi kulit yang melekat erat dan
berhubungan dengan membran timpani. Bentuk daun telinga dengan berbagai tonjolan dan
cekungan serta bentuk liang telinga yang lurus dengan panjang sekitar 2,5 cm, akan
menyebabkan terjadinya resonansi bunyi sebesar 3500 Hz
(Mills JH et al, 1997).
Telinga tengah berbentuk seperti kubah dengan enam sisi. Telinga tengah terbagi
atas tiga bagian dari atas ke bawah, yaitu epitimpanum terletak di atas dari batas atas
energi suara yang masuk dibatasi (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991; Mills JH et al,
1997).
Fungsi dari telinga tengah akan meneruskan energi akustik yang berasal dari telinga
luar kedalam koklea yang berisi cairan. Sebelum memasuki koklea
bunyi akan
diamplifikasi melalui perbedaan ukuran membran timpani dan tingkap lonjong, daya ungkit
tulang pendengaran dan bentuk spesifik dari membran timpani. Meskipun bunyi yang
diteruskan ke dalam koklea mengalami amplifikasi yang cukup besar, namun ef
isiensi
energi dan kemurnian bunyi tidak mengalami distorsi walaupun intensitas bunyi yang
diterima sampai 130 dB
(Mills JH et al, 1997).
Aktifitas dari otot stapedius disebut juga reflek stapedius pada manusia akan
muncul pada intensitas bunyi diatas 80 d
B
(SPL)
dalam bentuk reflek bilateral dengan sisi
homolateral lebih kuat. Reflek otot ini berfungsi melindungi koklea, efektif pada frekuensi
kurang dari 2 khz dengan masa latensi 10 mdet dengan daya redam 5
10 dB. Dengan
demikian dapat dikatakan telinga
mempunyai filter terhadap bunyi tertentu, baik terhadap
intensitas maupun frekuensi (Liston SL et al,1989; Pickles JO,1991; Mills JH et al, 1997;
Wright A, 1997).
Universitas
Sumatera
Utara
dari dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang merupakan
susunan ruangan yang terdapat dalam pars petrosa os temporalis ( ruang perilimfatik) dan
merupakan salah satu tulang terkeras. Labirin tulang terdiri dari vestibulum, kanalis
semisirkularis dan kohlea (Santi PA, 1993; Lee KJ, 1995; Wright A, 1997; Mills JH et al,
1998).
Vestibulum merupakan bagian yang membesar dari labirin tulang dengan ukuran
panjang 5 mm, tinggi 5 mm dan dalam 3 mm. Dinding medial menghadap ke meatus
akustikus internus dan ditembus oleh saraf. Pada dinding medial terdapat dua cekungan
yaitu
spherical recess
untuk sakulus dan
eliptical recess
untuk utrikulus. Di bawah eliptical
recess terdapat lubang kecil akuaduktus vestib
ularis yang menyalurkan duktus
endolimfatikus ke fossa kranii posterior diluar duramater (Santi PA, 1993; Lee KJ, 1995;
Wright A, 1997; Mills JH et al, 1998).
Di belakang spherical recess terdapat alur yang disebut vestibular crest. Pada ujung
bawah alur i
ni terpisah untuk mencakup recessus kohlearis yang membawa serabut saraf
kohlea kebasis kohlea. Serabut saraf untuk utrikulus, kanalis semisirkularis superior dan
lateral menembus dinding tulang pada daerah yang berhubungan dengan N. Vestibularis
pada fundus meatus akustikus internus. Di dinding posterior vestibulum mengandung 5
Universitas
Sumatera
Utara
lubang ke kanalis semisirkularis dan dinding anterior ada lubang berbentuk elips ke skala
vestibuli kohlea (Mills JH et al, 1998; Santi PA, 1993).
Gambar 2
.2 Anatomi Telinga Dala
m
(Dhingra PL., 2007)
Ada tiga buah semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis superior, posterior dan
lateral yang terletak di atas dan di belakang vestibulum. Bentuknya seperti dua pertiga
lingkaran dengan panjang yang tidak sama tetapi dengan diameter
yang hampir sama
sekitar 0,8 mm. Pada salah satu ujungnya masing
masing kanalis ini melebar disebut
ampulla yang berisi epitel sensoris vestibular dan terbuka ke vestibulum
(Wright A., 1997).
Ampulla kanalis superior dan lateral letaknya bersebelahan pada
masing
masing
ujung anterolateralnya, sedangkan ampulla kanalis posterior terletak dibawah dekat lantai
vestibulum. Ujung kanalis superior dan inferior yang tidak mempunyai ampulla bertemu
orang berdiri. Kanalis lainnya letaknya tegak lurus terhadap kanal ini sehingga kanalis
superior sisi telinga kiri letaknya hampir sejajar dengan posterior telinga kanan demikian
pula dengan kana
lis posterior telinga kiri sejajar dengan kanalis superior teling kanan
(Mills JH, 1998).
Koklea membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang sekitar
35 mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani. Skala timpani d
an
skala vestibuli berisi cairan perilimfa dengan konsentrasi K
+
4 mEq/l dan Na
+
139 mEq/l.
Skala media berada dibagian tengah, dibatasi oleh membran reissner, membran basilaris,
lamina spiralis dan dinding lateral, berisi cairan endolimfa dengan konsentra
si K
+
144
mEq/l dan Na
+
Hensens, Claudius, membran tektoria dan lamina retikularis (Santi PA, 1993; Wright A,
1997; Mills JH et al, 1998).
Sel
sel rambut tersusun dalam 4 baris, yang terdiri dari 3 baris sel rambut luar yang
terletak lateral terhadap terowongan yang terbentuk oleh pilar
pilar Corti, dan sebaris
sel
rambut dalam yang terletak di medial terhadap terowongan. Sel rambut dalam yang
berjumlah sekitar 3500 dan sel rambut luar dengan jumlah 12000 berperan dalam merubah
hantaran bunyi dalam bentuk energi mekanik menjadi energi listrik
(Ballenger JJ, 1996
).
Gambar 2
.4 Organ Corti (Dhingra PL., 2007)
2.1.1
Vaskularisasi telinga dalam
Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirintin cabang A. Cerebelaris
anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A. Verteberalis. Arteri ini masuk ke
meatus
akustikus internus dan terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis
communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A. Vestibulokohlearis. A.
Vestibularis anterior memperdarahi N. Vestibularis, urtikulus dan sebagian duktus
semisirkula
ris. A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal kohlea
terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang kohlear. Cabang vestibular
Universitas
Sumatera
Utara
memperdarahi sakulus, sebagian besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea.
Cabang kohlear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea, limbus dan ligamen
spiralis. A. Kohlearis berjalan mengitari N. Akustikus di kanalis akustikus internus dan
didalam kohlea mengitari modiolus (Santi PA, 1993; Lee K.J, 1995).
Vena dialirkan ke V.Labir
intin yang diteruskan ke sinus petrosus inferior atau sinus
sigmoideus. Vena
vena kecil melewati akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke sinus
petrosus superior dan inferior (Santi PA, 1993 ; Lee K.J, 1995).
2.1.2
Persarafan telinga dalam
N.Vestibulokohl
earis (N.akustikus) yang dibentuk oleh bagian kohlear dan
vestibular, didalam meatus akustikus internus bersatu pada sisi lateral akar N.Fasialis dan
masuk batang otak antara pons dan medula. Sel
sel sensoris vestibularis dipersarafi oleh
N.Kohlearis denga
n ganglion vestibularis (scarpa) terletak didasar dari meatus akustikus
internus.
Sel
sel sensoris pendengaran dipersarafi N.Kohlearis dengan ganglion spiralis corti
terletak di modiolus (Santi PA,1993; Wright A, 1997; Mills JH et al,1998).
2.2
Fisiolog
i Pendengaran
Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah membran
tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting tersebut sangat
berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut sangat k
aku dan terdapat
penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya, sehingga bila mendapat
stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan. Pada bagian puncak
stereosillia terdapat rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan
Universitas
Sumatera
Utara
stereosilia yang lebih rendah, sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan
mendorong gabungan
gabungan yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada
rantai yang menghubungkan stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan me
ngakibatkan
terbukanya kanal ion pada membran sel, maka terjadilah depolarisasi. Gerakan yang
berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai tersebut berkurang dan kanal
ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara intra sel, perilimfa dan endolimfa
yang menunjang terjadinya proses tersebut. Potensial listrik koklea disebut koklea
mikrofonik, berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai
pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel
rambut luar (May, Budelis, & Niparko, 2004).
Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan
amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang diterima.
Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz)
mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea, sedangkan stimulus
berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks.
Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak da
pat mencapai bagian
apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui bagian basal maupun
bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat meningkatkan atau mempertajam
puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan gerakan membran basilaris pada
frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai
cochlear amplifier
.
Universitas
Sumatera
Utara
enal sebagai serumen merupakan produk yang dihasilkan oleh kelenjar di liang telinga yang akan
melapisi kulit liang telinga serta melindungi telinga dari kerusakan dan infeksi. Karena sifatnya
yang kental dan lengket, maka serumen mampu menangkap debu dan bakteri serta mencegahnya
masuk ke bagian telinga yang lebih dalam. Serumen terdiri dari asam lemak tersaturasi dan
keasamannya mampu melawan bakteri yang masuk. Disamping itu, lapisan yang menyerupai
lilin ini juga akan menjaga kulit liang telinga agar tetap terlumasi dengan baik sehingga
mencegah kulit liang telinga menjadi kering dan mengurangi rasa gatal.
Pada keadaan normal, liang telinga memiliki mekanisme untuk membersihkan dirinya sendiri.
Secara alami serumen yang terdapat di dalam liang telinga akan berjalan menuju ke bagian luar
dari telinga, proses ini dibantu oleh gerakan rahang saat kita mengunyah dan berbicara. Saat
serumen telah mencapai area yang dapat dilihat, bersihkanlah dengan menggunakan handuk
hangat. Hindarilah penggunaan kapas pembersih telinga (cutton bud), terutama yang bersifat
kasar, karena dapat menyebabkan kulit liang telinga terluka dan menimbulkan infeksi bahkan
ketulian.
Apa yang akan terjadi jika telinga dibersihkan terlalu sering?
Kulit liang telinga bersifat lembut dan sensitif. Gesekan yang terjadi akibat penggunaan cutton
bud dapat menimbulkan luka kecil dan menyebabkan kulit mudah diserang oleh partikel debu
dan bakteri sehingga mengalami infeksi. Selain itu, kebiasaan membersihkan telinga akan
menghilangkan serumen yang melapisi kulit liang telinga. Tidak adanya serumen di liang telinga
akan menyebabkan berkurangnya keasaman di liang telinga, sehingga bakteri dapat tumbuh
dengan subur.
Serumen hanya diproduksi di 1/3 bagian luar liang
telinga, karena itu serumen tidak akan ditemukan pada
bagian telinga yang lebih dalam dekat gendang telinga,
kecuali akibat penggunaan cutton bud yang mendorong
serumen ke tempat yang lebih dalam. Serumen yang
sudah mencapai bagian telinga yang lebih dalam tidak
dapat dikeluarkan secara alami oleh liang telinga,
sehingga serumen ini akan menumpuk di dalam telinga.
Penumpukan serumen di dalam telinga dapat memicu
terjadinya infeksi dan gangguan pendengaran.
Penggunaan cutton bud yang salah juga dapat menyebabkan trauma pada gendang telinga dan
menyebabkan pecahnya gendang telinga sehingga timbul gangguan pendengaran. Gendang
telinga yang pecah memang tidak akan menyebabkan kematian, namun jika tidak diobati dengan
tepat dapat menyebabkan terjadinya infeksi bakteri yang mematikan.
Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan telinga?
Yang terbaik yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan telinga adalah dengan mengusap
lembut bagian luar telinga dengan menggunakan handuk yang direndam air hangat. Bagian luar
telinga merupakan tempat dimana terdapat sel-sel kulit yang mati, kotor dan tempat berakhirnya
serumen yang dikeluarkan dari liang telinga, sehingga penggunaan handung hangat merupakan
cara yang mudah dan aman untuk membersihkan telinga. Hindari untuk menggunakan benda
apapun yang dimasukkan ke dalam telinga, seperti kapas pembersih telinga (cutton bud), jari,
penjepit, pinsil atapun benda-benda lain.
Jika serumen dirasakan telah menumpuk di dalam telinga, yang ditandai oleh keluhan sakit
telinga, gangguan pendengaran, gatal, tercium bau yang tidak enak, atau merasa ada benda asing
dalam telinga, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan mengeluarkan serumen
yang menumpuk di dalam telinga dengan menggunakan alat-alat khusus untuk tanpa
membahayakan telinga. [](DP)
9
Baca Sebelumnya
BAB
2
TINJAUAN PUS
TAKA
2.1.
Anatomi telinga
Gambar
1 anatomi telinga
(Sumber: Kaneshiro N K,2011)
2.1.1.
Anatomi telinga luar
Anatomi luar terdiri dari, h
eliks
,
lipatan heliks
,
kanal heliks
,
kanalis
auditorius eksterna
,
lobulus
, tragus,
antitragus
.
2.1.2.
Anatomi telinga tengah
Telinga tengah terdiri dari :
Membran timpani.
Kavum timpani.
Prosesus mastoideus.
Tuba Eustachius
2.1.2.1.
Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang vertical
Universitas
Sumatera
Utara
rata
rata 9
10 mm dan diameter antero
posterior kira
kira 8
9 mm,
ketebalannya
rata
rata 0,1 mm.
2.1.2.2.
Kavum Timpani
Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal,
bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau
vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2
6 mm.
Kavum timpani terdiri dari :
1. Tulang
tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes).
2. Dua otot.
3. Saraf korda timpani.
4. Saraf pleksus timpanikus
2.1.2.3.
Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah
ke kauda
l. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada
daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.
Aditus antrum mastoid adalah suatu pin
tu yang besar iregular berasal dari
epitisssmpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara, sering disebut
sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis
semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke medial dari promon
torium terdapat
kanalis bagian tulang dari n. fasialis. Prosesus brevis inkus sangat berdekatan
dengan kedua struktur ini dan jarak rata
rata diantara organ : n. VII ke kanalis
semisirkularis 1,77 mm; n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm : dan prosesus
b
revis inkus ke kanalis semisirkularis 1,25 mm.
Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa
tulang temporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan
mempunyai sel
sel udara mastoid yang berasal dari dinding
dindingnya. An
trum
sudah berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml,
panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm, daria atas kebawah 9mm dan dari
Universitas
Sumatera
Utara
sisi lateral ke medial 7 mm. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan
kanalis semisirkularis
posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus
endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior. Atapnya membentuk bagian
dati lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak lobus
temporalis. Dinding posterior terutama dibentuk
oleh tulang yang menutupi sinus.
Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan
meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga
1215 mm pada dewasa. Dinding lateral pada orang dewasa berhubungan dengan
trigonum suprameatal ( Macewens) pada permukaan luar tengkorak. Lantai
antrum mastoid berhubungan dengan otot digastrik dilateral dan sinus sigmoid di
medial, meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek, struktur ini bisa berjarak
1 cm dari dinding ant
rum inferior. Dinding anterior antrum memiliki aditus pada
bagian atas, sedangkan bagian bawah dilalui n.fasialis dalam perjalanan menuju
ke foramen stilomastoid. (Siti Nursiah
, 2003)
2.1.2.4.
Tuba Eustachius
Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga
tengah dengan nasofaring. Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drenase secret
dan menghalangi masuknya secret dari nasofaring ke telingah tengah. Ventilasi
berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu sama
den
gan tekanan udara luar.
Tuba Eustachius t
erdiri atas tulang rawan pada dua
pertiga kearah
nasofaring dan sepertiga nya terdiri atas tulang. Pada anak, tuba lebih pendek,
lebih lebar dan kedudukan nya lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang
tuba or
ang dewasa 37.5 mm dan pada anak anak dibawah 9 bulan adalah 17.5.mm
(Djaafar ZA
, 2007)
2.1.3.
Anatomi telinga dalam
Bentuk telinga dalam sedemikian kompleknya sehingga disebut sebagai
labirin. Labirin itu sendiri terisi oleh endolimfe, satu satunya
cairan ekstraseluler
dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membrane
Universitas
Sumatera
Utara
dikelilingi oleh cairan perilimfe ( tinggi natrium rendah kalium) yang terdapat
dalam kapsula otika bertulang. Labirin tulang dan membrane memiliki vestibular
dan bagi
an koklear. Bagian vestibular (pars superior berhubungan dengan
keseimbangan sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan bagian
pendengaran.
(L
Stephen
, 1997).
2.2.
Fisiologi pendengaran
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan
keliang telinga
dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini
diteruskan ke tulang
tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga
menggerakkan pe
rilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui
membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah,
perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum)
terdorong ke arah luar.
Skala media yang menja
di cembung mendesak endolimf dan mendorong
membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf
pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok
kelok, dan
dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi luru
s. Rangsangan
fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi
aliran listrik yang diteruskan ke cabang
cabang n.VII, yang kemudian meneruskan
rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39
40) melalui saraf
pusa
t yang ada dilobus temporalis.(Siti Nursiah
, 2003)
2.3.
Definisi Otitis media supuratif kronik
Otitis media supuratif kronik adalah
Suatu radang kronis telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga
(otorea) le
bih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
encer atau kental, bening atau berupa nanah (Soepardi, 2007).
Universitas
Sumatera
Utara
2.4.
Etiologi Otitis Media Supuratif Kronis
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak,
jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
b. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai
faktor genetik. Sistem sel
sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis
media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.
c. Otitis media sebelumnya
Secara umum dikatakan
otitis media kronis merupakan kelanjutan dari
otitis media akut atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa
yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi
keadaan kronis.
d. Infeksi
Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah baik
aerob ataupun anaerob menunjukkan organisme yang multipel. Organisme yang
terutama dijumpai adalah gram negatif, bowel
type flora dan beberapa organisme
lainnya.
e. Infeksi saluran napas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran
nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah dan
menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara
normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
f. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar
terhadap otitis media kronis.
g. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi
diban
ding yang bukan alergi.
h. Gangguan fungsi tuba eustachius.
Pada otitis media supuratif kronis aktif, tuba eustachius sering tersumbat
oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder
masih belum diketahui.
(Ballenger, 1997
)
Universitas
Sumatera
Utara
2.7
.
KLASIFIKASI
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
2.7.1. Tipe tubotimpanal
= tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen.
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars
tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa
faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius,
infeksi saluran nafas atas,
pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada
pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran bakteri
aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder
dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubung
an dengan hiperplasia
goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tiperespirasi dan
mukosiliar yang jelek.
(Nursiah,
2003).
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi berdasarkan aktivitas sekret
yang dikeluar:
Penyakit aktif
OMSK dengan sekre
t yang keluar dari kavum timpani secara aktif
inferior, postero
inferior dan postero
superior, kadang
kadang sub total.
Universitas
Sumatera
Utara
e-NEWSLETTE
C. Anatomi Fisiologi
Telinga luar terdiri dari aurikula atau pinna dan kanalis auditoris eksternus, dipisahkan
oleh telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membran timpani. ( gendang
telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat
kesisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago terutama kecuali lemak dan jaringan
bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan suara dan perjalanannya
sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat didepan meatus auditorius eksternus adalah sendi
temporomandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus
auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus
panjangnya sekitar 2,5 cm. 1/3 lateral mempunyai rangka kartilago dan fibrosa padat dimana
kulit melekat. 2/3 medial terdiri Dario tulang yang dilapisi kulit tipis . kanalis auditorius
eksternus berakhir pada membrane timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus,
glandula seminurosa, yang mensekresi substansi seperti lilin disebut serumen. Mekanisme
pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar telinga. Saerumen
nampaknya mempunyai sifat anti bakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.
D. Patofisiologi
Kadang-kadang pada kanalis dapat terjadi impaksi, yang dapat menyebabkan otalgia, rasa
penuh dalam telinga dan atau kehilangan pendengaran. Penumpukan serumen terutama
bermakna pada populasi geriatrik sebagai penyebab defisit pendengaran. usaha membersihkan
kanalis auditorius dengan batang korek api, jepit rambut, atau alat lain bisa berbahaya karena
trauma terhadap kulit bisa menyebabkan infeksi.
Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya, terutama
manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan.
E.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang umumnya dirasakan oleh penderita penyakit impaksi serumen, antara lain :
Pendengaran berkurang.
Nyeri di telinga karena serumen yang keras membatu menekan dinding liang telinga.
Telinga berdengung (tinitus).
Pusing dimana pasien merasakan lingkungan di sekitarnya berputar (vertigo)
F.
1.
2.
3.
Pemeriksaan Penunjang
CT-Scan tulang tengkorak, mastoid terlihat kabur, ada kerusakan tulang
Scan Galium-67, terlihat focus inf akut yg akan kembali normal dgn resolusi inf.
Scan Tekhnetium-99, terlihat aktifitas osteoblastik yg akan kembali normal beberapa bulan
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal,
nyeri serta tuli yang bersifat sementara dan dokter akan membuang serumen tersebut dengan cara
menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). Tetapi jika dari telinga
keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka
irigasi tidak dapat dilakukan karena air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan
memperburuk infeksi. Pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang
tumpul atau dengan alat penghisap. Biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa
menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga dan tidak mampu melarutkan
serumen secara adekuat.
Adapun cara-cara untuk mengeluarkan serumen yang menumpuk di liang telinga, antara
lain:
1. Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator (pelilit).
2. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.
3. Serumen yang sangat keras (membatu), dilembekkan terlebih dahulu dengan karbogliserin 10%,
3 x 5 tetes sehari, selama 3 5 hari, setelah itu dikeluarkan dengan pengait atau kuret dan bila
perlu dilakukan irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh.
4. Serumen yang terlalu dalam dan mendekati membran timpani dikeluarkan dengan
cara mengirigasi liang telinga dengan menggunakan air hangat bersuhu 37 oC agar tidak
menimbulkan vertigo karena terangsangnya vestibuler.
H.
Terdorongnyaserumen kelubang
lebih dalam
Phatway