Anda di halaman 1dari 20

1.

1 Latar Belakang

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia
untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk
mengelola lingkungan hidupnya.[1] Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk
dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa
Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat
pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan,
seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau
eksploitasi hutan. Untuk dapat meningkatkan produksi petani, petani membentuk kelompok tani
(GAPOKTAN) yang di dalamnya juga terdapat simantri yang mengintegrasikan kegiatan sektor
pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi
masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada.
Sistem pertanian terintegrasi (SIMANTRI) adalah upaya terobosan dalam mempercepat
adopsi teknologi pertanian karena merupakan pengembangan model percontohan dalam
percepatan alih teknologi kepada masyarakat perdesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan
sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai
potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang
ada. Inovasi teknologi yang diintroduksikan berorientasi untuk menghasilkan produk pertanian
organik dengan pendekatan pertanian tekno ekologis . Kegiatan integrasi yang dilaksanakan
juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food,
feed, fertilizer dan fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan
ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim
kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan
bio pestisida. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya
baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan
mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada.
Sasaran dari Simantri
1. Peningkatan, produksi ternak, perikanan dan kualitas hasil
2. Tersedianya Pakan Ternak Sepanjang Musim yang lebih baik.
3. Tersedianya Pupuk dan pestisida organik serta Biogas

Sasaran kegiatan Simantri adalah Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) pada satu
wilayah Desa, dengan kriteria :
1. Adalah desa yang memiliki potensi pertanian dan terdapat komoditi unggulan sebagai
titik ungkit.
2. Terdapat gapoktan yang mau dan mampu melaksanakan kegiatan terintegrasi.
3. Prioritas pada Desa dengan Rumah Tangga Miskin (RTM) > 35%.
Indikator Keberhasilan Simantri
Beberapa indikator keberhasilan Simantri yang diharapkan dapat terwujud dalam
jangka pendek (3-4 tahun) antara lain :
1. Berkembangnya kelembagaan dan SDM baik petugas pertanian maupun petani.
2. Terciptanya lapangan kerja melalui pengembangan diversifikasi usaha pertanian dan
industri rumah tangga.
3. Berkembangnya intensifikasi dan ekstensifikasi usaha tani.
4. Meningkatnya insentif berusaha tani melalui peningkatan produksi dan efisiensi usaha
tani (pupuk, pakan, biogas, bio urine, bio pestisida diproduksi sendiri.
5. Tercipta dan berkembangnya pertanian organik (green economic).
6. Berkembangnya lembaga usaha ekonomi perdesaan.
7. Peningkatan pendapatan petani (minimal 2 kali lipat).

Dalam hal ini pemerintah telah memberikan teknologi biocas yang digunakan untuk
ternak sapi, guna agar dapat meningkatkan hasil produksi dari ternak sapi tersebut baik dari segi
berat badan sapi dan dari segi ekonomi. Salah satu factor penting yang mesti dapat perhatian
dalam penggemukan sapi adalah masalah pakan. Karena itu jumlah dan mutu pakan serta
efesiensi penggunaan pakan merupakan hal yang perlu di perhatikan dalam usaha penggemukan.
Untuk memacu pertumbuhan ternak dan efisiensi penggunaan pakan, disamping pemberian
pakan bermutu, belakangan bebrapa peternak telah menggunakan prebiotik, yakni mikroba yang
dapat membantu proses pencernaan makanan.
Salah satu prebiotik hasil temuan balai pengkaji teknologi pertanian (BPTP) bali yang
saat ini mulai banyak di gunakan peternak adalah bio-cas.

Probiotik Bio-Cas merupakan probiotik untuk ternak ruminansia (sapi, kambing, dll.) yang
mengandung mikroba yang membantu pencernaan makanan serta bahan alami yang dapat
meningkatkan nafsu makanan dan memacu pertumbuhan.
Biocas disamping mengandung beberapa jenis bakteri mikroba juga mengandung
curcumae, alysin dan scordini. Curcumae dan alysin merupakan bahan alami yang dapat
membunuh pathogen seperti ecoli, salmonella dan shigella serta meningkatkan nafsu makan.
Curcumae juga dapat membunuh telur-telur cacing yang sering bersemayan di usus sapi yang
dapat menghambat pertumbuhan sapi.
Di samping itu dalam biocas juga terdapat scordining- senyawa alami yang berfungsi memacu
pertumbuhan serta meningkatkan kesuburan bagi ternak.

Manfaat biocas bagi ternak:


- Mempercepat pertumbuhan ternak

- Meningkatkan nafsu makan


- Meningkatkan bobot lahir anak (untuk flushing)
- Menjaga kesehatan
- Mengurangi bau kotoran
- Untuk mengolah limbah (jerami, sampah)

1.2 Tujuan Penulisan Laporan

Tujuan utama dari penyusunan laporan adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh biocas
terhadap peningkatan produksi ternak serta agar mengetahui bagaimana proses pemberian biocas kepada
ternak sapi.
Tujuan penyusunan laporan ini antara lain yaitu:
1. Untuk mengetahui manfaat biocas terhadap peningkatan produksi ternak.
2. Untuk megetahui keuntungan penggunaan biocas kepada ternak sapi.
3. Mengetahui seberapa jauh petani ternak menggunakan biocas.

1.3 Metode Praktek yang Digunakan

Dalam melaksanakan Magang di Balai Pengkaji Teknologi Pertanian (BPTP) ,


mahasiswa menggunakan beberapa metode guna pengumpulan data. Metode yang digunakan
adalah:
1. Studi Pustaka
Yaitu dalam pelaksanaan Magang mahasiswa menggunakan berbagai bahan-bahan pustaka
guna mendukung pengetahuan praktek di lapangan.
2. Wawancara
Yaitu dalam pelaksanaan Magang mahasiswa melakukan wawancara dengan petugas yang
terkait untuk mendapatkan keakuratan data yang diperoleh.
3. Observasi
Yaitu dalam pelaksanaan Magang mahasiswa mengadakan pengamatan terhadap berbagai
kegiatan yang sedang berlangsung dilapangan.
4. Diskusi
Yaitu dalam pelaksanaan Magang mahasiswa mengadakan berbagai diskusi dengan
pembimbing ataupun petugas yang terkait untuk memahami materi yang telah didapatkan.
5. Studi Lapangan
Yaitu dalam pelaksanaan Magang mahasiswa melakukan pekerjaan di lapangan sesuai dengan
kegiatan yang berkaitan dengan materi Magang yang sedang dilaksanakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengaruh
Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah daya yang ada dan
timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuataan
seseorang. Dari pengertian di atas telah dikemukakan sebelumnya bahwa pengaruh adalah
merupakan sesuatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain. Pengaruh
adalah suatu keadaan ada hubungan timbal balik, atau hubungan sebab akibat antara apa yang
mempengaruhi dengan apa yang di pengaruhi. Dua hal ini adalah yang akan dihubungkan dan
dicari apa ada hal yang menghubungkannya. Di sisi lain pengaruh adalah berupa daya yang bisa
memicu sesuatu, menjadikan sesuatu berubah. Maka jika salah satu yang disebut pengaruh
tersebut berubah, maka akan ada akibat yang ditimbulkan.

2.2 Teknologi Bio-cas


2.2.1 Pengertian Teknologi
Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda
yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai.
Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal,
dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang
rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel. Alat dan mesin tidak mesti berwujud
benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam
definisi teknologi ini.
Tak dapat dipungkiri jika kemajuan teknologi masa kini berkembang sangat pesat. Hal ini
dapat dibuktikan dengan banyaknya inovasi-inovasi yang telah dibuat di dunia ini. Dari hingga
yang sederhana, hingga yang menghebohkan dunia. Sebenarnya Teknologi sudah ada sejak
zaman dahulu, yaitu zaman romawi kuno. Perkembangan teknologi berkembang secara drastis
dan terus berevolusi hingga sekarang. Hingga menciptakan obyek-obyek, teknik yang dapat
membantu manusia dalam pengerjaan sesuatu lebih efisien dan cepat.

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi dihasilkan dari pengembangan
cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional seperti
bercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.
Ada tiga klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu :
1.

Kemajuan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress)
Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan
kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.

2.

Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological
progress) Kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak
ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam
memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.

3.

Kemajuan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological


progress) Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir
semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju,
yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.

Kemajuan teknologi memang sangat penting untuk kehidupan manusia zaman sekarang. Karena
teknologi adalah salah satu penunjang kemajuan manusia. Di banyak belahan masyarakat,
teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi, pangan, komputer, dan masih banyak lagi.

2.2.2 Pengertian Bio-cas


Probiotik Bio-Cas merupakan probiotik untuk ternak ruminansia (sapi, kambing, dll.)
yang mengandung mikroba yang membantu pencernaan makanan serta bahan alami yang dapat
meningkatkan nafsu makanan dan memacu pertumbuhan.
Biocas disamping mengandung beberapa jenis bakteri mikroba juga mengandung
curcumae, alysin dan scordini. Curcumae dan alysin merupakan bahan alami yang dapat
membunuh pathogen seperti ecoli, salmonella dan shigella serta meningkatkan nafsu makan.
Curcumae juga dapat membunuh telur-telur cacing yang sering bersemayan di usus sapi yang
dapat menghambat pertumbuhan sapi.
Di samping itu dalam biocas juga terdapat scordining- senyawa alami yang berfungsi
memacu pertumbuhan serta meningkatkan kesuburan bagi ternak.

Manfaat biocas bagi ternak:


1. Mempercepat pertumbuhan ternak
2.Meningkatkan nafsu makan
3.Meningkatkan bobot lahir anak (untuk flushing)
4.Menjaga kesehatan
5.Mengurangi bau kotoran
6.Untuk mengolah limbah (jerami, sampah)

2.3 Pengertian Produksi


Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan (Utility) suatu
barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun
teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang
ada.
A. Tujuan Produksi
Seorang pengusaha yang akan memulai usaha pasti memiliki tujuan tertentu, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang. Tujuan-tujuan tersebut sebagai berikut.
1. Untuk mendapatkan keuntungan usaha.
2. Mempertahankan kelanjutan usaha dengan cara meningkatkan proses produksi secara
terus-menerus.
3. Memenuhi kebutuhan/permintaan konsumen.
4. Meningkatkan modal usaha.
B. Faktor-Faktor Produksi)
1. Faktor Produksi Alam
Faktor produksi alam yaitu unsur-unsur produksi yang sudah disediakan oleh alam seperti
tanah, air, hutan, udara, bahkan juga sinar matahari.

2. Faktor Produksi Tenaga Kerja


1. Tenaga Kerja Terdidik (Skilled Labour)
2. Tenaga Kerja Terlatih (Trained Labour)
3. Tenaga Kerja Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih (Unskilled Labour)
3. Faktor Produksi Modal
1.Modal Berdasarkan Wujudnya

2.Modal Berdasarkan Bentuknya


3.Modal Berdasarkan Sumbernya
4.Modal Berdasarkan Sifatnya

4. Faktor Produksi Kewirausahaan


Faktor produksi kewirausahaan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mengatur faktor-faktor produksi seperti faktor alam, tenaga kerja, dan modal untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mengatur dan mengkombinasikan faktor-faktor
produksi dalam proses produksi, wirausaha harus mampu merencanakan, mengorganisasi,
mengarahkan, dan mengendalikan usahanya.

C .Etika Ekonomi dalam Memanfaatkan Faktor Produksi


Etika ekonomi berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya ekonomi dengan penuh
tanggung jawab dan memperhatikan kelestarian lingkungan. Cara pemanfaatan faktor produksi
yang sesuai dengan etika ekonomi tersebut sebagai berikut :
1) Mencegah Polusi
Kegiatan produksi tidak akan terlepas dari masalah limbah atau zat buangan. Namun,
limbah yang dibuang ke lingkungan tersebut harus melalui pemrosesan atau dinetralisasi
sehingga tidak mengandung zat berbahaya
2) Menjaga Kelestarian Lingkungan
Faktor produksi alam dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor produksi yang
dapat diperbarui dan tidak dapat diperbarui. Oleh karena itu, dalam memanfaatkan factor
produksi harus dijaga kelestariannya. Untuk faktor produksi yang dapat diperbarui harus
dilakukan tindakan konservasi hutan dan lautan serta diperbaiki kerusakannya. Faktor produksi
yang tidak dapat diperbarui harus dimanfaatkan secara hemat.
3) Memanfaatkan Faktor Produksi Alternatif
Pemanfaatan faktor produksi untuk jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya
kelangkaan atau bahkan habis. Cara mengatasinya dapat dilakukan dengan penggunaan faktor
produksi alternatif. Misalnya, menipisnya stok minyak bumi dapat diganti dengan pemanfaatan
energi surya dan biodiesel.

D. Peningkatan Jumlah dan Mutu Hasil Produksi


Peningkatan jumlah dan mutu hasil produksi dapat dilakukan dengan cara seperti berikut.
1. Intensifikasi
Intensifikasi adalah usaha untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil produksi dengan cara
meningkatkan produktivitas faktorfaktor produksi yang sudah ada tanpa menambah jumlah
faktor produksi. Intensifikasi di sebuah pabrik, di bidang industri dengan cara menambah jam
kerja dari karyawan yang sudah ada.
2. Ekstensifikasi
Ekstensifikasi adalah usaha untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil produksi dengan cara
menambah faktor produksi yang digunakan, baik faktor produksi tanah, tenaga kerja, maupun
modal. Misalnya, di bidang pertanian dengan cara menambah lahan pertanian
3. Spesialisasi (Pembagian) Kerja
Spesialisasi kerja adalah usaha untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil produksi dengan
cara melakukan pembagian kerja. Dengan pembagian kerja ini, karyawan akan mengerjakan
pekerjaan yang sesuai dengan tingkat keahlian sehingga kualitas hasil kerjanya akan lebih baik.
4. Diversifikasi
Diversifikasi adalah usaha untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil produksi dengan cara
menambah jenis produksi (keanekaragaman produksi). Misalnya, lahan pertanian selain
digunakan untuk menanam padi, juga dimanfaatkan untuk memelihara ikan (mina padi).
5. Otomatisasi
Otomatisasi adalah usaha untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil produksi dengan cara
menggunakan mesin-mesin atau alat-alat yang lebih modern dan canggih. Hal ini dimaksudkan
untuk menggantikan peran manusia dan mempermudah pekerjaan manusia. Misalnya, pemakaian
komputer dalam industri sepatu.

2.4 Simantri
Sistem pertanian terintegrasi (SIMANTRI) adalah upaya terobosan dalam mempercepat
adopsi teknologi pertanian karena merupakan pengembangan model percontohan dalam
percepatan alih teknologi kepada masyarakat perdesaan. Simantri mengintegrasikan kegiatan
sektor pertanian dengan sektor pendukungnya baik secara vertikal maupun horizontal sesuai
potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang

ada. Inovasi teknologi yang diintroduksikan berorientasi untuk menghasilkan produk pertanian
organik dengan pendekatan pertanian tekno ekologis . Kegiatan integrasi yang dilaksanakan
juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food,
feed, fertilizer dan fuel). Kegiatan utama adalah mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan
ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim
kemarau dan limbah ternak (faeces, urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan
bio pestisida. Simantri mengintegrasikan kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya
baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan
mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada.
Sasaran dari Simantri
1. Peningkatan, produksi ternak, perikanan dan kualitas hasil
2. Tersedianya Pakan Ternak Sepanjang Musim yang lebih baik.
3. Tersedianya Pupuk dan pestisida organik serta Biogas

BAB III
TINJAUAN UMUM LEMBAGA

3.1 Sejarah Berdiri dan Berkembangnya BPTP Bali


Awal mula berdirinya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali berawal dari
Departemen Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian yang melakukan desentralisasi kegiatan
penelitian dan pengkajian (litkaji) yang diawali dengan terbentuknya Balai/Loka Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP/LPTP) dan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian
(IP2TP) di seluruh Indonesia. Dasar hukum pembentukannya adalah

SK. Mentan No.

798/KPTS/OT.210/12/94 tanggal 1 April 1995. Tujuan pembentukan institusi ini adalah untuk
mempercepat mekanisme penyaluran dan adopsi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang
Pertanian kepada pengguna yang dalam ini adalah para petani sebagai perekat kegiatan antar
dinas terkait di wilayah yang diharapkan mampu untuk menjembatani kebutuhan-kebutuhan
teknologi para petani.
Pada awal pembentukan institusi Badan Litbang Pertanian tersebut, di Bali dibentuk
IP2TP Denpasar yang berada dibawah BPTP Karangploso Jatim. Sementara sebelumnya IP2TP
Denpasar adalah institusi Balai Informasi Pertanian (BIP) Bali yang berada dibawah Badan
Diklat Pertanian. Oleh karena itu, pada awal berdirinya IP2TP Denpasar dominan tenaganya
berasal dari Penyuluh BIP, sementara tenaga peneliti baru ada setelah adanya mutasi dari Balai
Penelitian (Balit) dan Pusat Penelitian (Puslit) lingkup Badan Litbang Pertanian.
Seiring dengan makin meningkatnya kebutuhan akan inovasi-inovasi untuk teknologi
pertanian yang diperlukan petani, maka melalui SK. Mentan No. 350/KPTS/ OT.210/6/2001
pada bulan Juni 2001, IP2TP Denpasar statusnya ditingkatkan menjadi BPTP Bali yang setara
dengan BPTP lain yang ada di setiap provinsi seluruh Indonesia. Keberadaan BPTP berada
dibawah koordinasi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Melalui
dana APBN (Proyek Badan Litbang Pertanian) sejak tahun 1997 sampai 2002 BPTP Bali selalu
mendapat anggaran renovasi dan perbaikan gedung kantor, sehingga pada tahun 2001 sarana
gedung kantor BPTP Bali telah dianggap cukup lengkap maka pada tanggal 5 September 2001

dilakukan peresmian dan penandatanganan prasasti Gedung Kantor BPTP Bali oleh Gubernur
Bali pada saat itu.
Dengan bergantinya status IP2TP Denpasar menjadi BPTP Bali maka diharapkan BPTP
Bali dapat melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi-teknologi di bidang
pertanian secara tepat guna sehingga kedepannya dapat membantu memecahkan masalahmasalah yang ada di lapangan sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas produk pertanian
di Indonesia.
Oleh sebab itu, BPTP Bali mempunyai visi dan misi untuk mewujudkan tujuan tersebut
diantaranya adalah :

Visi :
Sebagai Institusi Litbang Pertanian di Daerah Penghasil Paket Teknologi

Pertanian

kreatif untuk mendukung pembangunan pertanian dan pedesaan.

Misi :
1. Sebagai mitra Pemda dalam memajukan pembangunan pertanian dan pedesaan.
2. Menyediakan paket teknologi untuk pengembangan sistem usaha pertanian
berwawasan agribisnis.
3. menyediakan alternatif teknologi untuk pemanfaatan dan pelestarian sumber daya
alam guna mendukung pertanian berkelanjutan.
4. Memberi saran/masukan dalam menyusun kebijakan pembangunan pertanian di
daerah Bali.
5. Membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui upaya alih
teknologi.
6. Melakukan diseminasi paket-paket teknologi hasil pengkajian dan perakitan sebagai
bahan materi penyuluhan pertanian.

3.1.1 Lokasi BPTP Bali


BPTP Bali bertempat di jalan By Pass Ngurah Rai, Desa Pesanggaran, Kecamatan
Denpasar Selatan, Kota Madya Denpasar.
3.1.2 Struktur Organisasi BPTP Bali
Susunan organisasi dan Tata Kerja BPTP Bali diatur dan mengacu pada Peraturan
Menteri Pertanian (Permentan) No.16/Permentan/OT.140/3/2006 tentang Organisasi dan Tata
Kerja BPTP, atas dasar tugas dan fungsi tersebut, Organisasi BPTP Bali terdiri dari: (a) Kepala
BPTP, (b) Sub Bagian Tata Usaha dan (c) Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (Gambar
1). Disamping organisasi structural, dalam rangka pelaksanaan tugas pokok BPTP Bali
mempunyai koordinator-koordinator penelitian dan peengkajian yang berada langsung dibawah
Kepala BPTP. Secara operasional, koordinator penelitian dan pengkajian berfungsi
melaksanakan kegiatan penelitian spesifik lokasi dan memadukan program kegiatan
penelitian/pengkajian antar subsector dan mempersiapkan proposal penelitian/pengkajian.
Kepala Balai
(Ir.A.A. Ngurah Kamandalu, M.Si)

Kepala Seksi Kerjasama dan


Pelayanan Pengkajian

Kepala Sub Bagian Tata Usaha


(I Ketut Mahaputra, SP.MP)

(Ir. Ketut Kariada, M.Sc)

Kelompok Jabatan Fungsional

Gambar. 1 Struktur Organisasi BPTP Bali

Selain jabatan structural tersebut diatas, BPTP Bali juga didukung oleh Kelompok
Pengkaji (KELJI) yaitu Kelji Budidaya Pertanian, Sumber Daya, Sosial Ekonomi Pertanian dan
Pasca Panen serta dukungan dari Staf Teknis. Sesuai dengan SK Kepala Badan Litbang No.
117/SK/OT.210/X/2001 tanggal 10 Oktober 2001 maka seluruh BPTP di wilayah diarahkan
untuk membentuk Koordinator Program dengan tugas membantu Kepala Balai dalam
mempersiapkan, menyusun dan mengkoordinasikan program pengembangan
penelitian/pengkajian di wilayah. Berdasarkan SK tersebut maka Koordinator Program BPTP
Bali adalah I Nyoman Adijaya, SP.
Sesuai dengan sistem penganggaran keuangan berdasarkan kinerja pada SATKER BPTP
Bali, maka dalam melakukan manajemen keuangan Balai dilakukan oleh petugas-petugas berikut
: (a) Kepala Balai selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) bertanggung jawab atas timbilnya
pengeluaran keuangan dalam memfasilitasi operasional teknis kegiatan, merumuskan
kebijaksanaan, pengendalian dan pelaporan pelaksanaan DIPA, (b) Bendahara DIPA
bertanggung jawab dalam melakukan manajemen arus keluar masuknya anggaran, pencatatan,
penerimaan dan pengurusan SPJ keuangan dalam DIPA berdasarkan undang-undang peraturan
yang berlaku, serta (c) Kepala Sub Bagian Tata Usaha bertugas sebagai P4 bertanggung jawab
dalam pengujian, pengendalian dan penerbitan surat perintah membayar (SPM). Dalam
pelaksanaannya seluruh pejabat diatas dibantu oleh petugas pembantu yang dituangkan dalam
SK. Kepala Balai.
a. Struktur Organisasi

Susunan Pejabat Struktural :


I.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (Eselon III)

II.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Eselon IV)


1. Koordinator Kepegawaian (Non Eselon)
2. Koordinator Perlengkapan dan Rumah Tangga (Non Eselon)
3. Koordinator Keuangan (Non Eselon)

III.

Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (Eselon IV)

1. Koordinator Sarana Teknis/Humas (Non Eselon)


2. Koordinator Informasi dan Perpustakaan (Non Eselon)
b. Uraian Tugas
I. Kepala Balai
a. Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan penelitian, pengujian dan
perakitan teknologi pertanian tepat guna spesifik wilayah;
b. Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan penyempuranaan program
penelitian pertanian di wilayah kerjanya;
c. Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan penyampaian paket teknologi
sebagai bahan materi penyuluhan penelitian.
d. Mengkoordinasikan dan mengarahkan kegiatan pelayanan sarana teknik dan
administrasi tata usaha Balai;
e. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Balai;
f. Bertanggung jawab kepada Kepala Balai Besar P2TP.
II. Kepala Sub Bagian Tata Usaha
a.

Menyelenggarakan urusan kepegawaian, surat-menyurat dan kearsipan;

b.

Menyelenggarakan urusan rumah tangga dan perlengkapan;

c.

Menyelenggarakan urusan keuangan;

d. Bersama Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian membuat laporan


kegiatan Balai;
e. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan administrasi tata usaha;
f. Bertanggung jawab kepala Kepala Balai.
III. Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian

a.

Menyiapkan bahan kerjasama pengkajian teknologi pertanian;

b.

Menyiapkan, mendayagunakan serta memelihara sarana teknis;

c. Bersama dengan koordinator penelitian dan penyuluhan penyelenggarakan


penyebaran informasi teknologi pertanian;
d. Bersama Kepala Sub Bagian Tata Usaha, membuat laporan pelaksanaan kegiatan
Balai;
e. Melakukan monitoring dan evaluasi pelksanaan kegiatan pelayanan sarana teknis
dan informasi;
f. Bersama Koordinator Program, menyiapkan bahan rekomendasi teknologi melalui
Komisi Teknologi;
g. Bertanggung jawab kepada kepala Balai.
IV. KELJI/Kelompok Fungsional
a. Menyelenggrakan penelitian, pengkajian dan perakitan teknologi pertanian tepat
guna spesifik wilayah;
b. Mengumpulkan

dan

mengidentifikasi

hasil-hasil

penelitian

yang

layak

dikembangkan sebagai bahan perumusan kebijakan dan perencanaan Balai;


c. Melakukan inventarisasi data-data potensi teknologi yang siap dikembangkan;
d. Berkoordinasi dengan Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian dalam
mempercepat arus distribusi teknologi ke tingkat petani;
e. Membantu informasi yang dibutuhkan oleh pihak luar dalam paket teknologi;
f. Berkoordinasi dengan Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian dan
Tim Monev dalam memantau pelaksanaan penelitian sesuai ROPP;

g. Berkoordinasi dengan Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian dalam


menggali berbagai potensi kerjasama dengan wilayah dalam mengembangkan
paket-paket teknologi;
h. Menyelenggarakan dan mengikuti kegiatan ilmiah di dalam maupun di luar
kantor;
i. Bertanggung jawab kepada Kepala Balai.

Pemberian probiotik Bio-cas


Pemberian bio cas pada ternak sapi menunjukan perbedaan penampilan sekitar 2 minggu setelah
pemberian biocas, nafsu makan ternak akan meningkat, dan ternak akan tampil lebih lincah.
Kulit dan bulu ternak akan lebih halus dan meningkat. Di samping itu bau kotoran ternak
menjadi sangat berkurang. Setelah sekitar 4 minggu, biyasanya respon pertumbuhan sapi yang di
berikan bio cas akan tampak secara nyata. Menurut rai yasa, et al., (2000) bahwa sapi-sapi yang
di berikan pakan tambahan berupa probiotik bioplus memberikan tambahan bobot badan harian
rata-rata lebih tinggi 160 gram di bandingkan yang tanpa bioplus dengan pakan dasar berupa
hijauan segar dengan komposisi 70% rumput-rumputan dan 30% tanaman leguminosa.

Flusihing
Flushing merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas anak yang di hasilkan, dalam demplot
di lakukan pada induk sapi(20) ekor. Pada flushing induk sapi di berikan pakan konsentrasi
(dedak) 2kg/ekor/hari dan probiotik biocas 5cc/ekor/hari sejak 2 bulan sebelum induk sapi
melahirkan sampai 2 bulan pasca melahirkan.

Pada induk sapi yang di lakukan flushing dengan jumlah sampel dalam demplot di lakukan pada
induk sapi(20) ekor. induk sapi di berikan pakan konsentrasi (dedak) 2kg/ekor/hari dan probiotik
biocas 5cc/ekor/hari sejak 2 bulan sebelum induk sapi melahirkan sampai 2 bulan pasca
melahirkan. Sedangkan pada anak sapi pasca sapih menggunakan sapi sebanyak 20 ekor akan di
lakukan penggemukan dengan pemberian pakan yang seimbang (leguminosa dan rumput) dan
dedak sebanyak 1kg di tambah bio-cas 3cc/ekor/hari. Perbaikan pakan baik hijauan maupun
konsentrat, serta perbaikan konstruksi kandang dan manajemen.

Flushing pada sapi


Kegiatan flushing pada induk sapi bunting di lakukan dengan pemberian pakan tambahan 2
bulan sebelum melahirkan sampai 2 bulan setelah melahirkan untuk meningkatkan bobot anak
lahir dan berat sapih pedet. Demplot dilakukan dengan menggunakan campuran dedak dengan
sekam fermentasi dengan komposisi sebagai berikut: P1=pemberian dedak 2kg + bio-cas
5cc/ekor/hari. P2= pemberian (campuran dedak 75% dan sekam 25%) 2kg + bio-cas

5cc/ekor/hari. P3= pemberian (campuran dedak 50% dan sekam 50%) 2kg + bio-cas
5cc/ekor/hari. Perkawinan pada induk sebagaian besar menggunakan Ib dengan perbandingan
70% perkawinan menggunakan IB dan 30% di lakukan kawin alami.

Teknologi IB
Teknologi Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknologi yang sudah lama dikenal, namun masih relevan
untuk digunakan sekarang ini. Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik
untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu
yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan
alat khusus yang disebut 'insemination gun'.
Menurut Hafez (1993) Inseminasi Buatan (IB) adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran
reproduksi betina dengan tujuan untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan
alami. Konsep dasar dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi
puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur
(oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoa. Potensi yang dimiliki seekor pejantan
sebagai sumber informasi genetik, terutama yang unggul, dapat dimanfaatkan secara efisien untuk
membuahi banyak betina.

Tujuan
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik
untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses
terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan
menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun.
Tujuan Inseminasi Buatan
a) Memperbaiki mutu genetika ternak;
b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga
mengurangi biaya ;
c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu
yang lebih lama;
d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Menurut Ihsan (1993), keuntungan IB sangat dikenal dan jauh melampaui


kerugian-kerugiannya jika tidak demikian tentu perkembangan IB sudah lama terhenti dan
keuntungan yang diperoleh dari IB yaitu :
1. Daya guna seekor pejantan yang genetik unggul dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
2. Terutama bagi peternak-peternak kecil seperti umumnya ditemukan di Indonesia program IB
sangat menghemat biaya di samping dapat menghindari bahaya dan juga menghemat tenaga
pemeliharaan pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan.
3. Pejantan-pejatan yang dipakai dalam IB telah diseleksi secara teliti dan ilmiah dari hasil
perkawinan betina-betina unggul dengan pejantan unggul pula.
4. Dapat mencegah penyakit menular
5. Calving Interval dapat diperpendek dan terjadi penurunan jumlah betina yang kawin berulang.

Penggemukan sapi
Pemberian dedak 1kg + bio-cas 3cc/ekor/hari member pertambhan berat badan rata-rata 0,49
kg/ekor/harisedangkan pemberian (campuran dedak 85% dan sekam 15%) 1kg + bio-cas
3cc/ekor/hari dan pemberian (campuran dedak 70% dan sekam 30%) 1kg +bio-cas 5cc/ekor/hari
member pertambahan berat badan sama yaitu 0,56 kg/ekor/hari. Proses fermentasi dapat
meningkatkan tingkat kecernaan dari sekam.