Anda di halaman 1dari 3

Fungsi dan Peranan Tungku Tigo Sajarangan

Penerapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah


Sumatera Barat yang dominan didiami oleh etnis dan budaya Minang kabau,
semakin terbuka ditopang pula oleh budaya merantau yang telah menjadi
bahagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Tercermin dalam ungkapan Karatau madang diulu babuah babungo balun, marantau
bujang dahulu dirumah baguno balun.

Kemajuan Iptek dan proses pembangunan bangsa Indonesia telah pula


menempatkan Indonesia khususnya Sumatera Barat sebagai rumah kaca yang
selalu terbuka dari membuka diri dengan tuntutan reformasi dan pembangunan
masyarakat modern diera globalisasi.

Ditengah dunia yang semakin mengecil arus globalisasi saling nnempengaruhi


semakin dahsyat, kita ingin dan bertekad menciptakan budaya Minangkabau yang
bertumpu kepada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak
Mangato Adat Mamakai sebagai bahagian dari budaya bangsa yang berbhineka
tunggal ika dalam kepribadian bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila.

Proses Lahirnya Tungku Tigo Sajarangan

Adityawarman sebagai raja Pagaruyuang yang pertama menurut garis keturunan


adalah kemanakan orang Minangkabau. Untuk lebih jauh hubungan anak dengan
kemanakan, maka Adityawarman diambil jadi menantu/orang sumando oleh orang
Minangkabau dengan mengawinkan dengan anak Datuk Katumanggungan. Dengan
demikian peran Adityawarman selaku raja dalam Minangkabau di Paga Ruyuang
berfungsi sebagai kemanakan dan urang sumando. Kedudukan kemanakan menurut
adat berada dibawah mamak, sedangkan sebagai orang sumando tinggi dianjung,
gadang diamba, yang berkuasa di rumah gadang adalah mamak.

Kita menyadari bahwa Adityawarman yang diasuh dan dibesarkan di pusat


kerajaan Mojopahit telah menganut paham aritokrasi sesuai dengan sistim
pemerintahan di Mojopalrit. Setelah Adityawarman di rajakan di Minangkabau
berhadapan dengan adat Minangkabau dalam sistim pemerintahan yang egalite
berdasarkan musyawarah dan mufakat; kemanakan barajo kemamak, mamak barajo
kamufakat, mufakat barajo kanan bana, nan bana badiri sendirinya.

Untuk mensetarkan kedua sistim pemerintahan itu agar fungsi sistim


aristokrasi Mojopalrit dengan demokrasi Minangkabau, begitupun status
Adityawarman dengan kedudukan sebagai Rajo Alam, kemanakan dan orang sumando
serta Dt. Katunang-gungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang sebagai mamak. Untuk
itu, ketiga tokoh utama Minangkabau ini harus secara aktif mengendalikan
Alam Minangkabau. Tunggal Tungku Nan Tigo Sajarangan, yaitu Adityawarman
didudukkan menjadi Rajo Alam yang dipersatukan di Murangkabau, sedang Daluk
Patpatih Nan Sabatang mendampingi Rajo Alam dengan kedudukan sebagai Perdana
Menteri dan Datuk Katumanggungan mendampingi Rajo Alam berkedudukan sebagai
Panglima Angkatan Perang kerajaan Minangkabau. Hal ini sesuai dengan
kedudukan Parpatih Nan Sabatang yang demokratis (bodi Caniago) dan
Dt.Katumanggungan yang herarkis (Koto Peliang) dalam memimpin Alam
Minangkabau selama ini. Akhirnya kombinasi Tri Tunggal ini menjadi Tungku
Nan Tigo Sajarangan.

Piagam Bukik Marapalam

Setelah Syekh Burhanuddin menetap di Ulakkan , sekembalinya dari Aceh 1964 M


bcserta 4 grang sahabatnya yaitu, Tuanku Padang Ganting dari Padang Ganting
di Luliak Tanah Datar, Tuanku batu hampar dalam Luhak Lima Puluh Koto, yang
tclah pcrltah menerima ajaran Islam melalui Minangka-bau/miar dari Siak
tnelalui Kampar, Tuanku Bayang Salido yang berada di bawah kawasan rantau
dalam penganut kerajaan Aceh Iskandar Muda, Tuanku Kubung Tigo Baleh yaitu
kawasan yang berada antara Luhak din Rantau.

Menurut Drs H Bagindo M Letter, keempat sahabat Syekh Burhanuddin ini


sama-sama belajar di Aceh kepada Syekh Abdur Rauf. Namun yang dituakan
diantara beliau-beliau yang berlima itu ialah Syekh Burhanuddin sekaligus
ditunjuk juga sebagai guru yang akan melanjutkan Ilmu ke Islaman oleh Syekh
Abdur Rauf. Masing-masing mereka yang berlima membangun lembaga
pendidikan/pondok pesantren. Setiap tahun mereka yang berlima itu Setiap
bulan Syafar mereka bertemu di Ulakan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan
perkembangan agama Islam serta sikap kaum adat atau para penghuu dalam
menerima dan menerapkan ajaran Islam di Minangkabau secara terencana dan
intetisif. Setelah 10 tahun (masing-masing perguruan Islam itu berjalan dari
1649 - 1659 M di adakan pcrtemuan~ di Pusat Pendidikan Surau Syekh
Burhanuddin di Klakan') (di Medan) taliun 1659 M) 1079 H pada bulan Syafar.

Hasil pertemuan itu menyimpulkan dua keputusan, pertama, ternyata


perkembangan dan perpaduan serta persenyawaan antara Adat dan Syarak (Islam)
di rantau lebilt cepat dan intensif disebabkan: adanya bantuan dari kerajaan
Islam Aceh yang telah berpengalaman mensenyawakan adat: agama Islam "Adat
bak Pentu Me-nrultum Sultan Iskandar, Syarak Bak sejiah di Kuala ( Adat
dibawali kekuasan Almarlwm Sultan Iskandar Muda, Syarak dibawah Kekuasaan
Syiah di Kuala ).

Syekh Burhanuddin beserta sahabat-sahabatnya yang dirantau dan di Luhak


mengembangkan Islam sudah terencana dan sistematis melalui Kultur/adat
Minangkabau. Perkembangan Islam di Luhak terutatna dipusat sangat lamban dan
masih banyak kendala-kendala yang menimbulkan konflik terutama dari pihak
yang menimbulkan konflik terutama dari pihak penghulu/ninik mamak pemangku
adat Bertolak dari evaluasi pertemuan tahun 1659 M/ 10 Syalar 1()79 1-1 di
Ulakan telah diambil kesimpulan dan kesepakatan sebagai berikut, pertama,
kekuatan Syarak yang telah dipegang oleh para Ulama dirantau yang berpusat
di Ulakan harus di padukan dengan kekuatan adat di Luhak di Pagar Ruyung.
Sebab kedatangan agam Islam hakekatnya tidak bertentangan dengan adat bahkan
adat ditempatkan oleh ajaran Islam.

Kedua, agar para Ulama pemegang syarak dan para penghulu pemangku adat
bersama-sama membangun dan memelihara adat dan agama sama membangun dan
memelihara adat dan agama (Islam) sehingga anak kemenakan aman sentosa,
tenang dan damai untuk itu perlu adanya statemen (perjanjian dan
kesepakatan) dalam Minangkabau antara kaum adat dan kaum agama dibawah restu
yang dipertuankan di Pagar Ruyung dengan ketentuan saltabatt) seluruh rakyat
(anak kemenakan atau anak nagari dalam Minangkabau resmi menganut dan
mengamalkan agama Islam menurut mashab Syafei seperti Aceli, mensenyawakan
adat dan syarak (Islam) bahwa adat basandi kasyarak, kata syarak dipakai
oleh adat, struktur pemerintahan menurut sepanjang adat dilengkapi dengan
fungsionaris-fungsionaris syarak (Islam), walaupun kekuasaan Raja di
Pagaruyuang dengan BAB hanya sebagai lambang kesatuan alam minangkabau
rantau dan nagari dibawa raja-raja kecil dan para penghulu namun kesatuan
adat dan agama (syarak) perlu diwujudkan dan dipertaltankan.

Bertolak dari hasil kesimpulan dan tekad diatas, diambillah keputusan bahwa
lima serangkai yang didampingi oleh 11 orang raja-raja dirantau (ulakan)
dibawa pimpinan Syekh Burhanuddin memegang kendali pemerintalian untuk
memperkasakan adat dan syarak pada 10 bulan Syafar tahun 1079 I-1 bertepatan
Tahun 1659 M Syek Burhanuddin bersama temannya yang berempat Tuanku Bayang
dari Bayang, Tuanku Kubung Tigo Bateh dari Solok, Tuanku Batu Hampar dari 50
Koto, Tuanku Padang Ganting di Padang Ganting, didampingi oleh raja-raja
rantau 11 orang yaitu, Amai Said, Rajo Dihulu, Rajo Mangkuto, Rajo Sulituan,
Panduko Magek, Tambaro, Majo Bara, Malako, Malakewi, Rangkayo Batuah, Rajo
Sampono.
Syekh Burhanuddin beserta rombongan berangkat menemui Balai Ampek Balai.
Atas nasehat Tuan Qodi dan inisaitif Tuanku Padang Ganting diadakan
pertemuan di atas Bukit Marapalam yang terletak antara sungai dengan batu
yang bulek yang disebut puncak Pato yang sudah dibuat kesepakatan atau ikrar
yang kemudian terkenal dengan Piagam Bukik Marapalam atau Sumpah Sati Bukik
Marapalam.

Yang berbunyi: atas qudrat dan iradah Allah SWT, alah betamu di tempat
nangko hambo-hambo Allah, untuk mempakatokan adat dan syarak untuk
mailangkan sikap sangketo dan paitikaian antara kaum adat dan kaum ulama,
sehigga adat tak tagisie, syarat tak talendo, pandang jauah dilayangkan
pandang ampie ditukiakan, sapakaik lahie jo batin, sakato niaik jo mukasauik
nak selamaik dunia akhirat yang akan mejadi pegangan anak kemenakan hiduik
nan dikadipakai, mati dan dikaditompang, bahwa adat dan syarak akan
dikukuhkan menjadi pegangan di dalam Minangkabau dengan niat dan tekad iko
sambie menyarah pado Allah, sambia mengikuik kato Nabi, Pangulu Kaganti
Nabi, Rajo Kaganti Allah untuk mengikrarkan dan menyepakati bahwa, pertama,
Adaik Basandi Kepada Syarak, Syarak Basandi kepada Kitabullah, Syarak
Mangato Adaik Mamakaikan. Kedua, segalo undang dalam Luhak dan Nagari di
alam Minangkabau disamakan dengan tuntutan adat dan syarak.

Ketiga, ikrar dan kesepakatan iko disampaikan oleh segala Pangulu dan Alim
Ulama kepada anak kemanakan Minangkabau. Musyawarah Tigo Tungku Sajarangan
juga melahirkan ikrar yang harus diterapkan. Kita tunggu kiprahnya. HENDRI
SULAIMAN