Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Penulisan Kasus
Skenario 4

Seorang perempuan berusia 37 tahun, sudah 3 hari dirawat. Setelah di


anamnesis pasien mengatakan ada pengeluaran darah setelah coitus, hal ini
terjadi sejak satu bulan lalu, keputihan, cepat lelah, terjadi penurunan BB dari
56 kg menjadi 52 kg, pasien tampak pucat,. Hasil pemeriksaan servik teraba
lunak dan membesar. Suami pasien bertanya tentang penyakit istrinya.

B. Daftar Kata Sulit


1. Coitus
2. Serviks
3. Anamnesis

C. Daftar Pertanyaan
1. Jelaskan penyebab terjadi pengeluaran darah setelah coitus ?
2. Jelaskan penyebab keputihan pada skenario diatas ?
3. Jelaskan penyebab cepat lelah pada skenario diatas ?
4. Jelaskan penyebab terjadinya penurunan BB pada skenario diatas ?
5. Jelaskan kenapa pemeriksaan servik teraba lunak dan membesar ?
6. Tentukanlah diagnosa medik dari skenario diatas ?
7. Jelaskan pengertian dari kanker serviks ?
8. Jelaskan etiologi dari kanker serviks ?
9. Jelaskan manifestasi klinik dari kanker serviks ?
10. Jelaskan patofisiologi dari kanker serviks ?
11. Jelaskan klasifikasi dari kanker serviks ?
12. Jelaskan pemeriksaan penunjang dari kanker serviks ?
13. Jelaskan penatalaksanaan dari kanker serviks ?
14. Jelaskan komplikasi dari kanker serviks ?
1

15. Jelaskan konsep keperawatan dari kanker serviks ?

BAB II
HASIL

A. Jawaban Kata Sulit


1. Coitus

: Bersenggama ( berhubungan badan )

2. Serviks

: Leher rahim

3. Anamnesis

: Pengkajian

B. Jawaban Pertanyaan
1. Jelaskan penyebab terjadi pengeluaran darah setelah coitus ?
Jawab :
Penyebab perdarahan setelah coitus karena perempuan pada
kasus ini telah masuk dalam tahap stadium lanjut gejala kanker serviks
yang di sebut dengan karsinoma serviks invasif dini. dimana karsinoma
serviks invasi dini ini terjadi karena tumor telah menginvasi epitelium
masuk kedalam stroma serviks. Kanker servikal menyebar luas secara
langsung kedalam jaringan paraservikal. Pertumbuhan yang berlangsung
mengakibatkan lesi yang dapat dilihat dan terlibat lebih progresif pada
jaringan servikal.

2. Jelaskan penyebab keputihan pada skenario diatas ?


Jawab :
Akibat dari infeksi HPV yang menyebabkan tumor sehingga
terjadilah infeksi nekrosis jaringan pada daerah serviks, hal itu membuat
getah vagina yang keluar menjadi abnormal.

3. Jelaskan penyebab cepat lelah pada skenario diatas ?


Karena adanya perdarahan maka Haemoglobin dari perempuan
tersebut menurun dan Suplai O2 juga menurun, sehingga terjadilah
metabolism anaerob dimana asam laktat akan terakumulasi sehingga ibu
merasa cepat lelah.

4. Jelaskan penyebab terjadinya penurunan BB pada skenario diatas ?


Jawab :
Akibat infeksi HPV yang menyerang sistem gastrointestinal menyebabkan
peningkatan tekanan gaster sehingga terjadilah mual dan muntah serta
anoreksia.
5. Jelaskan kenapa pemeriksaan servik teraba lunak dan membesar ?
Jawab :
Karena didalam servik terdapat tumor ganas yang sifatnya lunak dan
tumor tersebut membesar.

6. Tentukanlah diagnosa medik dari skenario diatas ?


Jawab :
Diagnosa medik dari skenario diatas adalah Kanker serviks ( Ca Serviks ).

7. Jelaskan pengertian dari Kanker serviks ?


Jawab :
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah
mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak
terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP,
1997).
Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang
terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita
yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim
(uterus) dengan liang senggama (vagina). (Riono, 1999).
Kanker serviks ataupun lebih dikenali sebagai kanker leher rahim
adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim /serviks yang
merupakan bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak
vagina. Pada penderita kanker serviks terdapat sekelompok jaringan yang
tumbuh secara terus- menerus yang tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan
tidak berguna bagi tubuh, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat
berfungsi dengan baik (Sarwono, 1996).

8. Jelaskan etiologi dari Kanker serviks ?


Jawab :
4

Penyebab terjadinya kelainan pada sel sel serviks tidak diketahui


secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko dan predisposisi yang
berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks :
a. HPV (human papillomavirus) .

Penyebab terbesar kanker leher rahim atau disebut kanker servik


adalah infeksi HPV yang menular lewat hubungan seksual. Seorang
wanita bisa terinfeksi virus ini pada usia belasan tahun dan baru
diketahui mengidap kanker 20 atau 30 tahun kemudian setelah infeksi
kanker menyebar.
HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata)
yang ditularkan melalui hubungan seksual. Virus ini memiliki lebih dari
100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan
akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan
kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan
18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada
leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran
bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

b. Merokok
Tembakau

merusak

sistem

kekebalan

dan

mempengaruhi

kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.


5

Sel-sel mulut rahim yang teracuni oleh nikotin dalam darah juga
memiliki kecenderungan mempengaruhi selaput lendir pada tubuh,
termasuk selaput lendir mulut rahim yang dapat memicu abnormalitas
sel pada mulut rahim. Resiko kanker mulut rahim lebih tinggi pada
wanita perokok.
Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara
kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit
penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang
dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British
Journal of Cancer pada tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D.,
peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta racun lain
yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan
kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya selsel abnormal pada rahim. Cervical neoplasia adalah kondisi awal
berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang, ujarnya.
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker
servik dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.

c. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini


Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks,
semakin besar risikonya untuk terkena servik.
d. Berganti ganti pasangan seksual ( promiskuitas )
Berdasarkan penelitian, resiko kanker serviks meningkat lebih dari
10 kali sempurna bila berhubungan dengan 6 atau lebih mitra seks,
atau bila berhubungan seks pertama di bawah 15 tahun. Resiko juga
meningkat bila berhubungan seks dengan laki-laki yang beresiko tinggi
(laki-laki yang berhubungan seks dengan banyak wanita), atau laki-laki
dengna kondiloma akuminatum (penyakit jengger ayam) di penisnya.

e. Pemakaian DES ( dietilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk mencegah


keguguran ( banyak digunakan pada tahun 1940 1970).

f. Pemakaian Pil KB.


6

Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari
lima tahun dapat meningkatkan resiko relatif 1,53 kali. WHO
melaporkan resiko relative pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar
1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.

g. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun.


h. Terlalu sering menggunakan pembersih vagina
Tidak semua bakteri merugikan. Ada juga bakteri dalam vagina
yang berfungsi membunuh bakteri yang merugikan tubuh. Jika terlalu
sering menggunakan sabun pembersih vagina, bakteri baik pun akan
mati. Selain itu sabun vagina juga dapat menyebabkan iritasi. Kulit
pada mulut rahim sangat tipis sehingga iritasi yang timbul dapat
memicu abnormalitas sel. Kondisi ini rentan memicu kanker mulut
rahim.

i.

Ganguan sistem kekebalan tubuh


Tubuh kita memiliki serangkaian system kekebalan yang secara
otomatis

berusaha

mengatasi

gangguan-gangguan

infeksi

dan

pertumbuhan sel abnormal. Namun dalam kondisi tertentu, system


kekebalan ini dapat melemah sehingga pengendalian gangguannya
pun melemah. Kondisi semacam ini terdapat pada wanita yang
menjalani operasi gagal ginjal, atau pengidap virus HIV. Dengan
melemahnya sistem kekebalan, maka perkembangan infeksi tidak
terhambat, dan pertumbuhan sel abnormal terus meningkat hingga
mencapai tahap invasif (menyebar kemana-mana).

j.

Paritas
Paritas adalah kemampuan wanita untuk melahirkan secara
normal. Pada proses persalinan normal, bayi bergerak melalui mulut
rahim dan ada kemungkinan sedikit merusak jaringan epitel di tempat
tersebut. Pada kasus wanita yang melahirkan lebih dari dua kali dan
dengan jarak yang terlalu dekat. Kerusakan jaringan epitel ini
berkembang kea rah pertumbuhan sel abnormal yang berpotensi
ganas.
7

k. Hyginie dan sirkumsisi


Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada
wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria
non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulankumpulan smegma.

l.

Golongan ekonomi lemah


Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi
rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi,
imunitas

dan

kebersihan

perseorangan. Pada

golongan

sosial

ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang, hal


ini mempengaruhi imunitas tubuh.

9. Jelaskan manifestasi klinik dari kanker serviks ?


Jawab :
a. Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis
jaringan.
b. Perdarahan yang dialami segera setelah senggama ( 75% - 80% ).
c. Perdarahan yang terjadi diluar senggama ( tingkat II dan III )
d. Perdarahan spontan saat defekasi.
e. Perdarahan spontan pervaginam.
f. Rasa berat dibawah dan rasa kering divagina.
g. Anemia akibat pendarahan berulang.
h. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut syaraf.

10. Jelaskan patofisiologi dari kanker serviks ?


Jawab :
Tidak ada penyebab yang pasti untuk terjadinya Ca serviks, yang
ada hanyalah faktor-faktor resiko seperti : usia dini saat melakukan
hubungan seksual, melahirkan pada usia sangat muda, berganti-ganti
pasangan, pemajanan terhadap kuman Papillo Virus (HPV), dan merokok.
Pada perempuan yang melakukan hubungan seksual pada usia dini
(ditandai dengan mulai haid 1 kali) maka sel-sel epitel serviks belum siap/
8

matang dengan sempurna, maka jika ada benda asing yang masuk ke
dalam serviks akan menimbulkan lesi, begitu juga pada perempuan yang
mengalami persalinan pervagina pada usia dini. Adapun penularan
penyakit kelamin atau melakukan hubungan seksual dengan banyak
pasangan akan beresiko terjadi penularan virus onkogenik dan HPV. HPV
menyebabkan induksi sel kanker oleh virus ini. Sedangkan HIV
menyebabkan defisiensi imun sehingga terjadi keganasan oportunitis yang
beresiko terjadi infeksi sel epitel kelamin wanita terutama pada bagian
serviks. Higiene yang jelek, melakukan hubungan seksual dengan
pasangan yang tidak pernah disunat memungkinkan kuman yang ada di
gland penis ikut masuk kedalam sistem reproduksi wanita. Kuman yang
tertinggal ini menimbulkan reaksi imun yang jika hidup dan terus
berkembang maka tidak akan menimbulkan gangguan, tetapi jika hidup
dan terus berkembang maka menginfeksi sel epitel serviks kelamin
wanita. (Meyer, 1997).

11. Jelaskan klasifikasi dari kanker serviks ?


Jawab :
Perkembangan menjadi kanker melalui tahapan-tahapan tertentu yaitu:
1. Tahap I disebut juga tahap inisiasi dan bahan atau agent yang dapat
menimbulkan proses inisiasi ini disebut insiator. Pada tahap ini terjadi
perubahan genetic yang menetap, dan perubahan yang terjadi adalah
irreversible.
2. Tahap II, disebut juga promosi dan bahan yang dapat mempengaruhi
promosi disebut dpromoter. Dalam tahap ini terjaid perubahan
sehingga timbul permulaan kanker. Untuk terjadinya perubahan ini
diperlukan pengaruh promoter yang berulang-ulang dan jangka waktu
yang lama, dan biasanya bekerja pada jaringan tertentu. Tahap ini
reversible artinya kalau promoter dihilangkan maka risiko terjadinya
kanker dapat hilang.
3. Tahap III, disebut juga tahap progresif, dan terjadi pertumbuhan tumor,
dapat meluas dan beranak sebar.

Tahapan stadium klinik Ca cerviks menurut The Federation of Gynecologic


and Obstetri ( FIGO , 1978 ),
1. Stadium 0
Karsinoma in situ ( KIS ), Karsinoma infra epitel, membrana basalis
masih. utuh.\
2. Stadium I
Karsinoma terbatas pada servik
Stadium Ia

: Karsinoma mikro invasive, bila membrana


basalis sudah rusak dan sel tumor sudah
memasuki stoma > 3 mm dan sel tumor tidak
terdapat dalam pembuluh limfa pembuluh darah.

Stadium Ib occ

: Secara klinis tumor belum tampak sebagai


karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologik
sel tumor telah mengadakan invasi stroma
melebihi Ia.

Stadium Ib

: Secara klinis sudah di duga adanya tumor yang


menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks
uteri.

3. Stadium II
Karsinoma sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas
vagina, tetapi tidak melibatkan dinding panggul.
Stadium IIa

: Penyebaran hanya ke vagina, perineum masih


10

terbebas dari infiltrat tumor.


Stadium IIb

: Penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi


belum sampai ke dinding panggul.

4. Stadium III
Penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina atau
parametrium sampai dinding panggul.
Stadium IIIa

: Penyebaran sampai 1/3 bagian distal vagina, ke


parametrium tidak dipersoalkan dan tidak
sampai dinding panggul.

Stadium IIIb

: Penyebaran sudah sampai ke dinding panggul,


sudah ada gangguan faal ginjal.

5. Stadium IV
Meluas keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum
dan atau kandung kemih.
Stadium IVa

: Kanker sudah keluar dari panggul kecil, atau,


sudah menginfiltrasi mukosa rektum dan atau
kandung kemih.

Stadium IVb

: Kanker menyebar ke organ lain yang lebih jauh.

Histopatologik

11

Kasus dapat diklasifikasi dalam karsinoma serviks bila pertumbuhan


primernya dari serviks. 85% jenis histopatologik adalah karsinoma sel
skuamosa, 10% adenokarsinoma, dan 5% adenoskuamosa, sel jernih,
sel kecil, sel jernih, sel kecil, sle verukosa dan lain-lain. Derajat
diferensiasi dengan berbagai metode dapat menunjang diagnosis, tetapi
tidak dapat menunjang modifikasi stadium klinis. Secara histopatologik
kanker serviks dibagi menjadi: Neoplasia intraepitel serviks, derajat III,
Karsinoma skuamosa insitu, Karsinoma skuamosa (berkeratinisasi, tidak
berkeratinisasi, verukosa). Adenokarsinoma insitu, Adenokarsinoma
insitu tipe endoservikal, Adenokarsinoma endometrioid, adenokarsinoma
sel jernih, Karsinoma adenoskiamosa, Karsinoma kistik adenoid dan
Karsinoma undifferentiated. Derajat histopatologik: Diferensiasi baik,
Diferensiasi Sedang dan Diferensiasi buruk
12. Jelaskan pemeriksaan penunjang dari kanker serviks ?
Jawab :
a. Sitologi
Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes papanicolaous ( tes PAP )
sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat
ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah
cara Skrining sel - sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala
untuk kemudian diseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara
histologik.
b. Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkopi,
suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop
bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya ( pembesaran
6 - 40 kali ). Kalau pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi
sel - sel yang mengalami eksfoliasi, maka kolposkopi menilai
perubahan pola epitel dan vascular serviks yang mencerminkan
perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan
serviks.
c.

Servikografi

12

Servikografi adalah pemeriksaan dengan melakukan pembesaran foto


serviks dengan alat khusus ( serviskop ) setelah dipulas dengan asam
asetat 3 %.
d. Gineskopi
Alat ini dikenalkan Abrams, 1987. Gineskopi menggunakan teleskop
monokuler, ringan dengan pembesaran 2,5 x dapat digunakan untuk
meningkatkan skrining dengan sitology. Biopsy atau pemeriksaan
kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak daerah berwarna
putih dengan pulasan asam asetat.
Sensitivitas dan spesifisitas masing masing 84% dan 87% dan
negative palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%.
e. Pap net ( pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive )
Pada dasarnya pemeriksaan Pap Net berdasarkan pemeriksaan slide
Tes Pap. Bedanya untuk mengidentifikasi sel abnormal dilakukan
secara komputerisasi. Slide hasil Tes Pap yang mengandung sel
abnormal dievaluasi ulang oleh ahli patologi/sitology. Pap Net
bertujuan meningkatkan akurasi pemeriksaan tes Pap, karena dapat
mendeteksi sel sel abnormal lebih teliti meski masih perlu dibaca
lagi oleh tenaga ahli sitologi
f.

Pemeriksaan visual langsung.

13. Jelaskan penatalaksanaan dari kanker serviks ?


Jawab :
Tingkat

Penatalaksanaan

Biopsi kerucut
Histerektomi transvaginal

Ia

Biopsi kerucut
Histerektomi transvaginal

Ib, Ha

Histerektomi radikal dengan limfadenektomi


panggul

dan

paraaorta

evaluasi

(bila

kelenjar

terdapat

limfe

metastatis

dilakukan radioterapi pasca pembedahan)


IIb, III, dan IV

Histerektomi transvaginal

Iva dan IVb

Radioterapi
13

Radiasi paliatif
Kemoterapi
a. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan pada stadium awal, dapat dilakukan operasi
sedangkan stadium lanjut hanya dengan pengobatan dan penyinaran.
Tolak ukur keberhasilan pengobatan yang biasa digunakan adalah
angka harapan hidup 5 tahun. Harapan hidup 5 tahun sangat
tergantung

dari

stadium atau

derajatnya

beberapa

peneliti

menyebutkan bahwa angka harapan hidup untuk kanker leher rahim


akan menurun dengan stadium yang lebih lanjut. Pada penderita
kanker leher rahim ini juga mendapatkan sitostatika dalam ginekologi.
Penggolongan obat sitostatika antara lain :

Golongan yang terdiri atas obat - obatan yang mematikan


semua sel pada siklus termasuk obat - obatan non spesifik.

Golongan obat - obatan yang memastikan pada fase tertentu


darimana proliferasi termasuk obat fase spesifik.

Golongan obat yang merusak sel akan tetapi pengaruh


proliferasi sel lebih besar, termasuk obat - obatan siklus
spesifik.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam

lingkar

perawatan

meliputi

sebelum

pengobatan

terapi radiasi eksternal antara lain kuatkan penjelasan tentang


perawatan yang digunakan untuk prosedur. Selama terapi yaitu
memilih kulit yang baik dengan menganjurkan menghindari sabun,
kosmetik, dan deodorant.
Pertahankan kedekuatan kulit dalam perawatan post pengobatan
antara lain hindari infeksi, laporkan tanda - tanda infeksi, monitor
intake cairan, beri tahu efek radiasi persisten 10 - 14 hari sesudah
pengobatan, dan melakukan perawatan kulit dan mulut.
Dalam terapi radiasi internal yang perlu dipertimbangkan
dalam perawatan umum adalah teknik isolasi dan membatasi
aktivitas, sedangkan dalam perawatan pre insersi antara lain

14

menurunkan kebutuhan untuk enema atau buang air besar selama


beberapa hari, memasang kateter sesuai indikasi, latihan nafas
panjang dan latihan rom dan jelaskan pada keluarga tentang
pembatasan pengunjung. Selama terapi radiasi perawatannya yaitu
monitor tanda - tanda vital tiap 4 jam. Memberikan posisi semi fowler,
berikan makanan berserat dan cairan parenteral sampai 300ml dan
memberikan support mental. Perawatan post pengobatan antara lain
menghindari komplikasi post pengobatan ( tromboplebitis, emboli
pulmonal dan pneumonia ), monitor intake dan output cairan.
(Bambang sarwiji, 2011)

14. Jelaskan komplikasi dari kanker serviks ?


Jawab :
Penanganan untuk kanker serviks invasive biasanya membuat
seseorang tidak bisa hamil. Pada beberapa wanita terutama wanita
yang lebih muda dan yang belum memulai keluarga, infertilitas
merupakan efek samping yang paling tidak disukai dari penatalaksanaan.
Jika pasien mengkhawatirkan tentang kemampuannya untuk dapat hamil,
maka dokter perlu memberikan penjelasan tentang untung rugi dari
penatalaksanaan tersebut dengan jelas.
Untuk beberapa kelompok wanita dengan kanker serviks dini,
operasi aman dari fertilitas merupakan pilihan yang tepat. Prosedur
operasi ini yaitu hanya dengan memindahkan serviks dan jaringan limfatik
(radikal

trachelectomy)

dapat

mempertahankan

uterus.

Penelitian

mengenai radical trachlectomy mengatakan bahwa kanker serviks dapat


ditangani dengan teknik ini, walaupun tidak semua wanita cocok dan
beberapa resiko tambahan pada operasi ini. Kehamilan mungkin dapat
terjadi namun terjadi peningkatan resiko yang bermakna terhadap insiden
kelahiran premature dan keguguran.
Berkaitan dengan intervensi pembedahan
a. Vistula Uretra
b. Disfungsi bladder
c. Emboli pulmonal
15

d. Infeksi pelvis
e. Obstruksi usus
Berkaitan dengan kemoterapi
a. Sistitis radiasi
b. Enteritis
Berkaitan dengan kemoterapi
a. Supresi sumsum tulang
b. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung
sisplatin
c. Kerusakan membrane mukosa GI
d. Mielosupresi

15. Jelaskan konsep keperawatan dari kanker serviks ?


Jawab :
a. Pengkajian
Identitas Pasien
Nama

:-

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 37 tahun

Riwayat Kesehatan Sekarang


Pasien mengatakan ada pengeluaran darah setelah coitus, terjadi
sejak satu bulan yang lalu, keputihan cepat lelah, terjadi penurunan
BB, dan pasien tampak pucat.
Pemeriksaan Servik
Teraba lunak dan membesar

b. Diagnosa Keperawatan
Resiko infeksi b.d imunitas tidak adekuat, pemajanan terhadap
pathogen

16

Resiko kekurangan volume cairan


Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

c. Intervensi
N

Diagnosa

NOC

NIC

o
1

Resiko Infeksi

Setelah

dilakukan

Bersihkan

Definisi : Mengalami tindakan

lingkungan

peningkatan

setelah

terserang

resiko keperawatan selama


organisme 3x24jam,

patogenik

infeksi

Faktor-faktor resiko :

terkontrol

Pengetahuan

klien
dengan

pasien lain

Pertahankan
teknik isolasi

Klien bebas dari

tanda

pemajanan

gejala infeksi

gejala infeksi

Mendeskripsika

sistemik dan

Pertahanan tubuh

lokal

primer yang tidak

penularan

adekuat

penyakit, factor

kerentanan

yang

terhadap

Ketidak adekuatan

mempengaruhi

infeksi

pertahanan

penularan serta

sekunder

penatalaksanaa

terapi

nnya

antibiotic bila

Menunjukkan

perlu

kemampuan

infection

untuk

protection

merokok

Penurunan
hemoglobin

Imunosupresi

dan

Monitor

menghindari

pathogen

dipakai

yg kriteria hasil :

tidak cukup untuk

resiko

tanda

proses

dan

Monitor

Berikan

mencegah
timbulnya
infeksi

17

Resiko

kekurangan Setelah

Volume Cairan
Definisi

mengalami

dilakukan

tindakan

intake

dehidrasi x24jam,

output yang

intraselular

pasien

DS :

Dengan kriteria hasil

Pasien

ada

mengatakan

membaik.

dan

akurat

Monitor vital
sign

Monitor

Mempertahankan

masukan

pengeluaran darah

urine

makanan

setelah coitus

sesuai

dengan

cairan

Pasien

usia dan BB, BJ

hitung

mengatakan cepat

urine normal, HT

intake kalori

lelah

normal

harian

DO :

catatan

Beresiko keperawatan selama

vascular, selular, atau keseimbangan cairan

Pertahanka

Pasien

tampak

pucat

output

Tekanan

darah,

status

dalam

nutrisi

batas

dan

Monitor

nadi, suhu tubuh

normal

Kolaborasi

Tidak ada tanda

pemberian

tanda

IV

dehidrasi,

elastisitas

turgor

kulit

baik,

membrane
mukosa
tidak

lembab,

ada

haus

rasa
yang

berlebihan
3

Ketidakseimbangan

Setelah

Nutrisi

tindakan

Definisi
nutrisi
untuk

dilakukan

pasien untuk

Asupan keperawatan selama

tidak

cukup x24jam,

memenuhi nutrisi

kebutuhan metabolic

terkendali.

Anjurkan

meningkatka

status
pasien
Dengan

n intake Fe

Anjurkan
pasien untuk
18

DS :

kriteria hasil :

Pasien

mengatakan

meningkatka

Adanya

terjadi penurunan BB

peningkatan

dan vitamin

dari 56kg menjadi 52kg

berat

DO :

sesuai

Pasien tampak pucat

tujuan

badan
dengan

Berat

badan

nutrisi

ideal

sesuai

kebutuhan

Berikan

Mampu

informasi

mengidentifikasi

tentang

kebutuhan

kebutuhan

nutrisi

nutrisi

Tidak ada tanda

dan

kalori

tinggi

badan

Monitor
jumlah

dengan

protein

tanda

Kolaborasi
dengan ahli

malnutrisi

gizi

Menunjukkan

menentukka

peningkatan

fungsi

kalori

pengecapan

nutrisi yang

dari menelan

dibutuhkan

Tidak

pasien

terjadi

untuk

jumlah
dan

penurunan berat
badan

yang

berart

d. Implementasi
No
1

Diagnosa

Implementasi

Resiko Infeksi
Definisi : Mengalami
peningkatan
terserang

Membersihkan lingkungan setelah


dipakai pasien lain

resiko

Mempertahankan teknik isolasi

organisme

Memonitor tanda dan gejala infeksi


19

patogenik

sistemik dan lokal

Faktor-faktor resiko :

Pengetahuan

Memonitor

yg

tidak cukup untuk

kerentanan

terhadap

infeksi

Berikan terapi antibiotic bila perlu

menghindari

infection

protection

pemajanan
pathogen

Pertahanan tubuh
primer yang tidak
adekuat
-

merokok

Ketidak adekuatan
pertahanan
sekunder
-

Penurunan
hemoglobin

Imunosupresi

Resiko

kekurangan

Volume Cairan

Mempertahankan

catatan

intake

dan output yang akurat

Beresiko

Memonitor vital sign

mengalami

dehidrasi

Memonitor masukan makanan /

Definisi

vascular, selular, atau

cairan dan hitung intake kalori

intraselular

harian

DS :

Pasien
mengatakan

Memonitor status nutrisi


Mengkolaborasi pemberian IV

ada

pengeluaran darah
setelah coitus

Pasien
mengatakan cepat
lelah

DO :
20

Pasien

tampak

pucat

Ketidakseimbangan

Nutrisi
Definisi
nutrisi

Asupan

tidak

cukup

untuk

memenuhi

mengatakan

terjadi penurunan BB
56kg

menjadi

52kg

pasien

untuk

Memonitor

jumlah

nutrisi

dan

kebutuhan kalori

DS :

Menganjurkan

meningkatkan protein dan vitamin C

kebutuhan metabolic

dari

pasien

meningkatkan intake Fe

untuk

Pasien

Menganjurkan

Memberikan

informasi

tentang

kebutuhan nutrisi

Mengkolaborasi dengan ahli gizi


untuk menentukkan jumlah kalori
dan nutrisi yang dibutuhkan pasien

DO :
Pasien tampak pucat

21

22