Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH MANAJEMEN PUSKESMAS

HASIL KUNJUNGAN DI PONED PAGELARAN

DISUSUN OLEH :
1. AIN NURIYANA
2. EKA APRILIANA
3. ANIK ERMA SURYANI
4. NURUL FADILA
5. LEDYTIA ANTIKASARI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STiKes )


MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PRODI D.III KEPERAWATAN
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah
Manajemen Puskesmas ini dengan judul Manajemen Puskesmas Pringsewu.
Makalah ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi salah satu syarat penilaian
Mata Ajar Manajemen Puskesmas Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STiKes )
Muhammadiyah Pringsewu - Lampung, penulis berharap semoga Makalah ini
bermanfaat bagi pembaca.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan Makalah ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat :
1. Rekan-rekan satu tim, yang telah bekerja sama guna terwujud dan
terselesaikannya penulisan makalah ini.
2. Seluruh teman-teman yang ikut memberikan saran dan kritikan sehingga
dapat menjadi pertimbangan dan pembahasan.

Penulis masih menyadari bahwa Makalah ini masih banyak kekurangan baik dari
segi I si maupun bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun demi menyempurnakan makalah ini dimasa yang akan
datang. Akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat membawa
manfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca sekalian.

Pringsewu, November 2014

Penyusun

ii

PEMBAHASAN

A. Pengertian
PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) merupakan
pelayanan untuk menggulangi kasus-kasus kegawatdaruratan obstetric
neonatal yang meliputi segi :
o Pelayanan obstetric : pemberian oksitosin parenteral, antibiotika
perenteral dan sedative perenteral, pengeluaran plasenta manual/kuret
serta pertolongan persalinan menggunakan vakum ekstraksi/forcep
ekstraksi.
o Pelayanan neonatal : resusitasi untuk bayi asfiksia, pemberian antibiotika
parenteral, pemberian antikonvulsan parenteral, pemberian bic-nat
intraumbilical/Phenobarbital untuk mengatasi ikterus, pelaksanaan
thermal control untuk mencegah hipotermia dan penganggulangan
gangguan pemberian nutrisi

PONED dilaksanakan di tingkat puskesmas, dan menerima rujukan dari


tenaga atu fasilitas kesehatan di tingkat desa atau masyarakat dan merujuk
ke rumah sakit.

PPGDON (Pertolongan Pertama pada kegawatdaruratan obstetric dan


neonatal).
Kegiatannya adalah menyelamatkan kasus kegawatdaruratan kebidanan dan
neonatal dengan memberikan pertolongan pertama serta mempersiapkan
rujukan. PPGDON dilaksanakan oleh tenaga atau fasilitas kesehatan di
tingkat desa dan sesuia dengan kebutuhan dapat merujuk ke puskesmas
mampu PONED atau rumah sakit.

PONEK (Pelayanan obstetric dan neonatal emergensi komprehensif)


Kegiatannya disamping mampu melaksanakan seluruh pelayanan PONED,
di RS kabupaten/kota untuk aspek obstetric , ditambah dengan melakukan
transfusi dan bedah sesar. Sedangkan untuk aspek neonatus ditambah

dengan kegiatan PONEK (Pelayanan obstetric dan neonatal emergensi


komprehensif)
Kegiatannya disamping mampu melaksanakan seluruh pelayanan PONED,
di RS kabupaten/kota untuk aspek obstetric , ditambah dengan melakukan
transfusi dan bedah sesar. Sedangkan untuk aspek neonatus ditambah
dengan kegiatan (tidak berarti perlu NICU) setiap saat. PONEK
dilaksanakan di RS kabupaten/kota dan menerima rujukan dari oleh tenaga
atau fasilitas kesehatan di tingkat desa dan masyarakat atau rumah sakit.

B. Kebijaksanaan
Ketersediaan pelayanan kegawatdaruratan untuk ibu hamil beserta janinnya
sangat menentukan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir. Misalnya,
perdarahan sebagai sebab kematian langsung terbesar dari ibu bersalin perlu
mendapat tindakan dalam waktu kurang dari 2 jam, dengan demikian
keberadaan puskesmas mampu PONED menjadi sangat strategis.

C. Kriteria
Puskesmas mampu PONED yang merupakan bagian dari jaringan pelayanan
obstetric dan neonatal di Kabupaten/ Kota sangat spesifik daerah, namun
untuk menjamin kualitas, perlu ditetapkan beberapa criteria pengembangan :
1. Puskesmas dengan sarana pertolongan persalinan. Diutamakan puskesmas
dengan tempat perawatan/ puskesmas dengan ruang rawat inap.
2. Puskesmas sudah berfungsi/ menolong persalinan.
3. Mempunyai fungsi sebagai sub senter rujukan

Melayani sekitar 50.000 100.000 penduduk yang tercakup oleh


puskesmas (termasuk penduduk di luar wilayah puskesmas PONED).

Jarak tempuh dari lokasi pemukiman sasaran, pelayanan dasar dan


puskesmas biasa ke puskesmas mampu PONED paling lama 1 jam
dengan transportasi umum setempat, mengingat waktu pertolongan
hanya 2 jam untuk kasus perdarahan.

4. Jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang perlu tersedia, sekurangkurangnya seorang dokter dan seorang bidan terlatih GDON dan seorang

perawat terlatih PPGDON. Tenaga tersebut bertempat tinggal di sekitar


lokasi puskesmas mampu PONED.
5. Jumlah dan jenis sarana kesehatan yang perlu tersedia sekurangkurangnya:
a.

Alat dan obat

b. Ruangan tempat menolong persalinan


Ruangan ini dapat memanfaatkan ruangan yang sehari-hari digunakan oleh
pengelola program KIA.
Luas minimal 3 x 3 m
Ventilasi dan penerangan memenuhi syarat
Suasana aseptik bisa dilaksanakan
Tempat tidur minimal dua buah dan dapat dipergunakan untuk
melaksanakan tindakan.
c.

Air bersih tersedia

d. Kamar mandi/ WC tersedia


6. Jenis pelayanan yang diberikan dikaitkan dengan sebab kematian ibu yang
utama yaitu : perdarahan, eklampsi, infeksi, partus lama, abortus, dan sebab
kematian neonatal yang utama yaitu : asfiksia, tetanus neonatorum dan
hipotermia.
4.

Penanggung jawab
Penanggung jawab puskesmas mampu PONED adalah dokter.

5.

Dukungan Pihak Terkait


Dalam pengembangan PONED harus melibatkan secara aktif pihak-pihak
terkait, seperti :
Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
Rumah Sakit Kabupaten/ Kota
Organisasi Profesi : IBI. IDAI, POGI, IDI
Lembaga swadaya masyarakat (LSM)

6.

Distribusi PONED
Untuk satu wilayah kabupaten/ kota minimal ada 4 puskesmas mampu
PONED, dengan sebaran yang merata. Jangkauan pelayanan kesehatan
diutamakan gawat darurat obstetric neonatal (GDON) di seluruh kabupaten/
kota.

7.

Kebijaksanaan PONED
Pada lokasi yang berbatasan dengan kabupaten/ kota lain, perlu dilakukan
kerjasama kedua kabupaten/ kota terebut.

8.

Pelaksanaan PONED
Persiapan pelaksanaan
Dalam tahap ini ditentukan :
Biaya operasional PONED
Lokasi pelayanan emergensi di puskesmas
Pengaturan petugas dalam memberikan pelayanan gawat darurat
obstetric neonatal.
Format-format
-

Rujukan

Pencatatan dan pelaporan (Kartu Ibu, Partograf, dll)

Sosialisasi
Dalam pemasaran social ini yang perlu diketahui oleh masyarakat antara lain
adalah jenis pelayanan yang diberikan dan tariff pelayanan. Pemasaran
social dapat dlaksanakan antara lain oleh petugas kesehatan dan sector
terkait, dari tingkat kecamatan sampai ke desa, a.l dukun/ kader dan satgas
GSI melalui berbagai forum yang ada seperti rapat koordinasi tingkat
kecamatan/ desa, lokakarya mini dan kelompok pengajian dan lain-lainnya.
Alur pelayanan di puskesmas mampu PONED
Setiap kasus emergensi yang datang ke puskesmas mampu PONED harus
langsung ditangani, setelah itu baru pengurusan administrasi (pendaftaran,
pembayaran alur pasien.

Pelayanan gawat darurat obstetric dan neonatal yang diberikan harus


mengikuti prosedur tetap (protap).

9.

PENCATATAN
Dalam pelaksanaan PONED ini, diperlukan pencatatan yang akurat baik
ditingkat Kabupaten/ Kota (RS PONED) maupun di tingkat puskesmas.
Format-format yang digunakan adalah yang sudah baku seperti :
a) Pencatatan System Informasi manajemen Puskesmas (SP2PT)
b) KMS ibu hamil/ buku KIA
c) Register Kohort Ibu dan Bayi
d) Partograf
e) Format-format AMP
1) Tingkat Puskesmas

Formulir Rujukan maternal dan Neonatal (Form R)


Formulir ini dipakai oleh puskesmas, bidan di desa maupun
bidan swasta, untuk merujuk kasus ibu maupun neonatus.

Formulir Otopsi Verbal Maternal dan Neonatal (Form OM dan


OP).
Form OM digunakan untuk otopsi verbal ibu hamil/
bersalin/nifas yang meninggal. Sedangkan Form OP digunakan
untuk otopsi verbal bayi baru lahir yang meninggal. Untuk
mengisi formulir tersebut dilakukan wawancara terhadap
keluarga yang meninggal oleh petugas puskesmas.

2)

Tingkat Rumah Sakit

Formulir Maternal dan Neonatal (Form MP)


Formulir ini mencatat data dasar semua ibu bersalin/ nifas dan
bayi baru lahir yang masuk ke RS. Pengisiannya dapat
dilakukan oleh bidan atau perawat.

Formulir Medical Audit (Form MA)


Form ini dipakai untuk menulis hasil/ kesimpulan data dari
audit maternal dan audit neonatal. Yang mengisi formulir ini

adalah dokter yang bertugas di bagian kebidanan dan


kandungan (untuk kasus ibu) atau bagian anak (untuk kasus
anak neonatal).

10.

PELAPORAN
Pelaporan

hasil

kegiatan

dilakukan

secara

berjenjang

dengan

menggunakan format yang terdapat pada buku pedoman AMP, yaitu :


a) Laporan dari RS Kabupaten/ Kota ke Dinkes Kabupaten/ kota (Form
RS)
Laporan bulanan ini berisi informasi mengenai kesakitan dan kematian
(serta sebab kematian) ibu dan bayi baru lahir.

Laporan dari puskesmas ke Dinkes Kabupaten/ Kota (Form


Puskesmas).

Laporan bulanan ini berisi informasi yang sama seperti diatas dan
jumlah kasus yang dirujuk ke RS Kabupaten/ Kota.

b) Laporan dari Dinkes kabupaten/ Kota ke tingkat propinsi/ Dinkes


Propinsi. Laporan triwulan ini berisi informasi mengenai kasus ibu dan
neonatal yang ditangani oleh RS kabupaten/ Kota dan puskesmas, serta
tingkat kematian dari tiap jenis komplikasi/ gangguan.

11.

PEMANTAUAN

Pemantauan dilakukan oleh institusi yang berada secara fungsional


satu tingkat diatasnya secara berjenjang dalam satu kesatuan system.
Hasil pemantauan harus dimanfaatkan oleh unit kesehatan masing-masing
dan menjadi dasar untuk melakukan perbaikan serta perencanaan ulang
manajemen pelayanan melalui :

Pemanfaatan laporan
Laporan yang diterima bermanfaat untuk melakukan penilaian kinerja dan
pembinaan

Umpan Balik

Hasil analisa laporan dikirimkan sebagai umpan balik dalam jangka waktu 3
(tiga) bulan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota ke RS PONEK dan
Puskesmas PONED atau disampaikan melalui pertemuan Review Program
Kesehatan Ibu dan Anak secara berkala di Kabupaten/ Kota dengan
melibatkan ketiga unsur pelayanan kesehatan tersebut diatas. Umpan balik
dikirimkan kembali dengan tujuan untuk melakukan tindak lanjut terhadap
berbagai masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan PONED/ PONEK.

12.

EVALUASI
Evaluasi pelaksanaan pelayanan PONEK/ PONED dilakukan secara
berjenjang dan dilaksanakan pada setiap semester dalam bentuk evaluasi
tengah tahun dan akhir tahun. Kegiatan evaluasi dilakuan melalui pertemuan
evaluasi Kesehatan Ibu dan Anak.Hasil evaluasi disampaikan melalui
Pertemuan Pemantapan Sistem Rujukan kepada pihak yang terkait baik
lintas program maupun lintas sektoral dalam untuk dapat dilakukan
penyelesaian masalah dan rencana tindak lanjut.
Beberapa aspek yang dievaluasi antara lain :
Masukan (input)

o Tenaga
o Dana
o Sarana
o Obat dan alat
o Format pencatatan dan pelaporan
o Prosedur Tetap PONED/ PONEK
o Jumlah dan kualitas pengelolaan yang telah dilakukan termasuk Case Fatality
Rate

Proses
o Kualitas pelayanan yang diberikan
o Kemampuan, ketrampilan dan kepatuhan tenaga pelaksana pelayanan
terhadap Prosedur Tetap PONED/ PONEK
o Frekuensi pertemuan Audit maternal Perinatal di Kabupaten/ Kota dalam satu
tahun
7

Keluaran (output)

o Kuantitas
- Jumlah dan jenis kasus PONED/ PONEK yang dilayani
- Proporsi kasus terdaftar dan rujukan baru kasus PONED/ PONEK di tingkat
RS Kabupaten/ Kota
o Kualitas
- Case Fatality Rate
- Proporsi jenis morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi
- Response time

Kepala Puskesmas

Koordinator KIA & KB

Petugas KB 1

Petugas KB 2
Bidan Praktik
Swasta

DAFTAR PUSTAKA

1. Arjoso, S. 2005. Rencana Strategis BKKBN.


2. Untoro, Dr. Rachmi. Dr. Djajadilaga.dkk. 1999. PANDUAN BAKU
KLINIS PROGRAM PELAYANAN KELUARGA BERENCANA. Jakarta
:Departemen Kesehatan.
3. Syofyan,Mustika,et all.2004. 50 Tahun IBI Bidan Menyongsong Masa
Depan Cetakan ke-III. Jakarta: PP IBI.