Anda di halaman 1dari 16

GAYA KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL

NAMA-NAMA ANGGOTA KELOMPOK :


ELFIRA MAYA ADIBA

091414553001

BASHLUL HAZAMI

091414553017

ALFIN MAULANA

091414553018

SEKOLAH PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER SAINS EKONOMI ISLAM
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................................

DAFTAR ISI.....................................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................

1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................

2.1 Kepemimpinan dan Gaya Kepemimpinan........................................................... 3


2.2 Kepemimpinan Transaksional.............................................................................. 4
2.3 Tipe/Gaya Kepemimpinan Transaksional............................................................ 8
2.4 Karakteristik Kepemimpinan Transaksional........................................................ 9
2.5 Gaya Kepemimpinan Transaksional dalam Pandangan Islam............................

BAB III PENUTUP..........................................................................................................

10

12

3.1 Simpulan ............................................................................................................. 12


DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

14

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia selalu
berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik
dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Oleh sebab itu, diantara para anggota
kelompok tentulah membutuhkan seseorang yang bisa memimpin kelompok itu, sebab jika
tidak ada pemimpin maka akan terpecah belahlah kelompok tersebut sehingga tujuan
organisasi tidak tercapai. Untuk mengelolanya, diperlukan pemimpin yang mempunyai jiwa
kepemimpinan yang baik serta dapat menjadi panutan untuk anggota kelompoknya.
Sebuah hadist menyebutkan: Apabila berangkat dalam perjalanan tiga orang maka
hendaklah mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin. (HR. Abu Dawud).
Demikianlah, Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan betapa pentingnya keberadaan seorang
pemimpin dalam suatu urusan. Bahkan disebutkan tiga orang saja yang akan melaksanakan
suatu tugas bersama dan untuk tujuan yang sama, hendaklah mengangkat salah satu
diantaranya sebagai pemimpin. Dengan adanya seorang pemimpin, bila terjadi suatu
perselisihan pendapat yang tidak bisa dipertemukan lagi, maka keputusannya di tangan
seorang pemimpin.
Era globalisasi saat ini, untuk mengembangkan dan mencapai sasaran-sasaran
organisasi dengan sumber daya manusia, memiliki peranan sangat sentral. Organisasi bukan
lagi dipandang suatu kumpulan orang yang secara statis sebagai suatu sistem yang kompleks,
yang didalamnya terkandung subsistem-subsistem yang kompleks yang saling berinteraksi
dan berhubungan serta secara dinamis bergerak ke arah pencapaian tujuan yang disepakati
bersama, sehingga yang berperan besar dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dalam
organisasi disebut manajemen. Dalam manajemen terdapat seorang pemimpin, masingmasing pemimpin mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda-beda yang dapat
mengkoordinasi dan memotivasi pegawainya.
Kepemimpinan merupakan suatu unsur yang penting dalam menjalanankan suatu
organisasi, mulai dari proses penentuan tujuan sampai pada proses pencapaian tujuan
organisasi tersebut. Kepemimpinan juga memegang peran penting dalam memberikan nyawa
suatu organisasi. Sikap kepemimpinan inilah yang akan mempengaruhi seorang pemimpin
dalam mengambil kebijakan bagi organisasinya serta memiliki peranan penting dalam
pencapaian tujuan organisasinya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan transaksional?
2. Bagaimana tipe dan karakteristik kepemimpinan transaksional?
3. Bagaimana kepemimpinan transaksional dalam pandangan Islam?

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kepemimpinan dan Gaya Kepemimpinan


Definisi kepemimpinan menurut Rivai meliputi proses mempengaruhi dalam
menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan,
mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan juga dikatakan
sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya
dengan pekerjaan para anggota kelompok.
Rivai (2003:53) menyebutkan bahwa fungsi kepemimpinan dalam Islam dibagi menjadi
dua dimensi, yakni:
1. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan
pemimpin.
2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang
dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok organisasi.
Secara operasional, fungsi kepemimpinan dibedakan dalam lima fungsi pokok yaitu:
1. Fungsi instruksi : Fungsi kepemimpinan dimana pemimpin bertugas untuk menggerakkan
dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultasi : Fungsi dalam dimensi ini bersifat komunikasi dua arah dimana
pemimpin memerlukan bahan pertimbangan berupa umpan balik (feed back) saat akan
menetapkan keputusan. Kemudian pemimpin juga memerlukan masukan dari
bawahannya setelah keputusan tersebut dieksekusi oleh mereka.
3. Fungsi partisipan : Fungsi ini menekankan pentingnya kemampuan seorang pemimpin
untuk mengajak bawahannya aktif dan ikut serta dalam mengambil keputusan maupun
dalam melaksanakannya.
4. Fungsi delegasi : Fungsi delegasi pada dasarnya berupa kepercayaan pimpinan untuk
mendelegasikan tugas dan tanggungjawab pada bawahannya. Fungsi ini dilaksanakan
dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan.
5. Fungsi pengendalian : Fungsi ini bermaksud bahwa pemimpin yang sukses/efektif mampu
mengatur aktivitas bawahannya secara terarah dan terkoordinasi secara efektif sehingga
mampu mencapai tujuan organisasinya.
Islam memandang penting kepemimpinan, antara lain karena pada hakikatnya
kepemimpinan itu ada pada pribadi setiap Muslim. Seorang Muslim tidak hanya dianjurkan

untuk menjadi pemimpin bagi masyarakat namun juga mampu menjadi pemimpin bagi
dirinya sendiri dalam berjuang di jalan Allah SWT.
Tasmara (dalam Putri, 2013) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk
mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran sehingga kehadirannya memberikan
pengaruh kepada lingkungannya. Seorang pemimpin Muslim haruslah memiliki tiga
komponen kepemimpinan yang diambil dari teladan Rasulullah yakni vision, value, dan
vitality. Vision merupakan kemampuan untuk menjelaskan arah dan tujuan serta alasannya.
Value merupakan kemampuan pemimpin untuk menggerakkan orang lain dengan keteladanan
dan dengan cinta kasih. Sedangkan vitality yaitu kemampuan untuk memiliki daya vitalitas
atau energi yang sangat kuat sehingga mampu menggerakkan orang lain dan memiliki daya
tahan baik secara fisik maupun mental.
Gaya kepemimpinan didefiniskan sebagai pola menyeluruh dari tindakan seorang
pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya
kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat,
dan sikap yang mendasari perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan,
secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan terhadap
kemampuan bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai
hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang
pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya. Sehingga gaya
kepemimpinan yang paling tepat adalah sutau gaya yang dapat memaksimumkan
produktivitas, kepuasan kerja, pertumbuhan, dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.
Noor (dalam Putri, 2013) menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menerapkan tiga pokok aturan
dalam gaya kepemimpinannya yakni syura (permusyawaratan), adl bil qis (keadilan disertai
kesetaraan), dan hurriyah al-kalam (kebebasan berekspresi). Ketiga pokok gaya
kepemimpinan inilah yang menjadi pondasi bagi Rasulullah SAW dalam memimpin umat
serta ketiga pokok inilah yang sampai sekarang menjadi teladan dalam gaya kepemimpinan
Islam.

2.2 Kepemimpinan Transaksional


Gagasan awal mengenai gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional
dikembangkan oleh James MacFregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik.
Burns (dalam Suyuti dkk, 2004) mendefinisikan kepemimpinan transaksional sebagai bentuk
hubungan yang mempertukarkan jabatan atau tugas tersebut. Jadi, kepemimpinan
transaksional menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk

memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka
setujui bersama. Gagasan ini selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan ke dalam kontes
organisasional oleh Bernard Bass.
Burn (dalam Suyuti dkk, 2004) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan
transformasional dan transaksional dapat dipilah secara tegas dan keduanya merupakan gaya
kepemimpinan yang saling bertentangan. Kepemimpinan transformasional dan transaksional
sangat penting dan dibutuhkan setiap organisasi. Selanjutnya Burn mengembangkan konsep
kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan berlandaskan pada pendapat
Maslow mengenai hirarki kebutuhan manusia. Menurut Burn keterkaitan tersebut dapat
dipahami dengan gagasan bahwa kebutuhan karyawan yang lebih rendah, seperti kebutuhan
fisiologis dan rasa aman hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan
transaksional. Sebaliknya, Keller (dalam Suyuti dkk, 2004) mengemukakan bahwa kebutuhan
yang lebih tinggi, seperti harga diri dan aktualisasi diri, hanya dapat dipenuhi melalui praktik
gaya kepemimpinan transformasional.
Menurut Bycio, dkk. (1995), dan Koh, dkk. Pemimpinan trasnsaksional adalah gaya
kepemimpinan, dimana seorang pemimpin memfokuskan perhatian pada transaksi
interpersonal antara pemimpin dengan pegawai melibat kan hubungan pertukaran yang
didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja dan
penghargan klasifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.
Kepemimpinan transaksional merupakan proses mempengaruhi yang menekankan pada
hubungan transaksi, tawar menawar dan pertukaran ekonomi antara pemimpin dengan
bawahan (Yukl, 1994). Pemimpin transaksional lebih menekankan pada pemberian imbalan
untuk memotivasi bawahannya. Gibson et al (1996) mendefinisikan kepemimpinan
transaksional sebagai kemampuan pemimpin mengindentifikasi keinginan bawahan dan
membantunya mencapai tingkat prestasi lebih tinggi dengan memberikan imbalan yang
memuaskan.
Burns mendefinisikan kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang
memotivasi bawahan atau pengikut dengan minat-minat pribadinya. Kepemimpinan
transaksional juga melibatkan nilai-nilai akan tetapi nilai-nilai itu relevan sebatas proses
pertukaran (exchange process), tidak langsung menyentuh substansi perubahan yang
dikehendaki.
Kudisch, mengemukakan kepemimpinan transaksional dapat digambarkan sebagai :
a. Mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan
bawahannya.

b. Intervensi yang dilakukan sebagai proses organisasional untuk mengendalikan dan


memperbaiki kesalahan.
c. Reaksi atas tidak tercapainya standar yang telah ditentukan.
Kepemimpinan transaksional menurut Metcalfe (2000) pemimpin transaksional harus
memiliki informasi yang jelas tentang apa yang dibutuhkan dan diinginkan bawahannya dan
harus memberikan balikan yang konstruktif untuk mempertahankan bawahan pada tugasnya.
Pada hubungan transaksional, pemimpin menjanjikan dan memberikan penghargaan kepada
bawahannya yang berkinerja baik, serta mengancam dan mendisiplinkan bawahannya yang
berkinerja buruk.
Bernard M. Bass mengemukakan kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan di
mana pemimpin menentukan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan agar mereka dapat
mencapai tujuan mereka sendiri atau organisasi dan membantu karyawan agar memperoleh
kepercayaan dalam mengerjakan tugas tersebut. Jadi kepemimpinan transaksional merupakan
sebuah kepemimpinan dimana seorang pemimpin mendorong bawahannya untuk bekerja
dengan menyediakan sumberdaya dan penghargaan sebagai imbalan untuk motivasi,
produktivitas dan pencapaian tugas yang efektif.
Bass (dalam Putri, 2013) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional
dengan karyawan tercermin dari tiga hal, yaitu :
1. Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelaskan apa yang akan
mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan
2. Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan, dan
3. Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut
sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan. Uraian di atas
menjelaskan lebih rinci bagaimana transaksi interpersonal antara pemimpin dan
karyawannya dengan melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran ini berfokus pula pada
seberapa besar kontribusi yang diberikan karyawan kepada organisasinya.
Pawar dan Eastman (1997) dalam Putri (2013) menjelaskan bahwa salah satu bentuk
strategi kepemimpinan transaksional adalah pemimpin mengoperasikan organisasi dengan
berusaha memuaskan kebutuhan-kebutuhan karyawan dan memberikan perhatian besar pada
deviasi, kesalahan dan pengambilan langkah korektif. Prinsip dasar teori kepemimpinan
transaksional yang meliputi: (1) kepemimpinan merupakan pertukaran sosial antara
pemimpin dan para pengikutnya, (2) pertukaran tersebut meliputi pemimpin dan pengikut
serta situasi ketika terjadi pertukaran, (3) kepercayaan dan persepsi keadilan sangat esensial
bagi hubungan pemimpin dan para pengikutnya, (4) pengurangan ketidakpastian merupakan

benefit penting yang disediakan oleh pemimpin, dan (5) keuntungan dari pertukaran sosial
sangat penting untuk mempertahankan suatu hubungan sosial.
Kondisi yang dianggap ideal dalam penerapan kepemimpinan transaksional, yaitu :
1. Internal
a) Struktur Organisasi (mekanistik, peraturan, prosedur jelas, sentralisasi tinggi)
b) Teknologi Organisasi (teknologi proses, continue, mass-production)
c) Sumber kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumber kekuasaaan di dalam
struktur, hubungan formal)
d) Tipe kelompok kerja (kerja tim, sifat pekerjaan umumnya engineering/teknis)
2. Eksternal
a) Struktur lingkungan luar (baik, norma kuat, status quo)
b) Kondisi perubahan (lambat, tidak stabil, ketidakpastian rendah)
c) Kondisi pasar (stabil)
d) Pola hubungan kepemimpinan (pimpinan berperan sebagai: pengawas, pengontrol,
tidak ada hubungan emosional yang kental)
Faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan transaksional menurut Bass (dalam
Italiani, 2013), antara lain:
1. Imbalan Kontingen (Contingent Reward) adalah bawahan memperoleh pengarahan dari
pemimpin mengenai prosedur pelaksanaan tugas dan target-target yang harus dicapai.
Bawaan akan menerima imbalan dari pemimpin sesuai dengan kemampuannya dalam
mematuhi prosedur tugas dan keberhasilannya mencapai target-target yang telah
ditentukan.
2. Manajemen eksepsi aktif (active management by exception) adalah tingkah laku
pemimpin yang selalu melakukan pengawasan secara direktif terhadap bawahannya.
Pengawasan direktif yang dimaksud adalah mengawasi proses pelaksanaan tugas
bawahan secara langsung. Hal ni bertujuan untuk mengantisipasi dan meminimalkan
tingkat kesalahan yang timbul selama proses kerja berlangsung. Seorang pemimpin
transaksional tidak segan mengoreksi dan mengevaluasi langsung kinerja bawahan
meskipun proses kerja belum selesai. Tindakan tersebut dimaksud agar bawahan mampu
bekeja sesuai dengan standar dan prosedur kerja yang telah ditetapkan.
3. Manajemen eksepsi pasif (passive management by exception) adalah pemimpin
transaksional yang akan memberikan peringatan dan sanksi kepada bawahannya apabila
terjadi kesalahan dalam proses yang dilakukan oleh bawahan yang bersangkutan. Namun
apabila proses kerja yang dilaksanaka masih berjalan sesuai standar dan prosedur, maka

pemimpin transaksional tidak memberikan evaluasi apapun kepada bawahan. Faktorfaktor pembentuk gaya kepemimpinan transaksional tersebut digunakan pemimpin untuk
memotivasi dan mengarahkan bawahan agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan. Bawahan yang berhasil dalam meyelesaikan pekerjaannya dengan baik
akan memperoleh imbalan yang sesuai. Sebaliknya bawahan yang gagal dalam
menyelesaikan tugasnya dengan baik akan memperoleh sanksi agar dapat bekerja lebih
baik dan meningkatkan mutu kerjanya.
Seorang pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan transaksional membantu
karyawannya dalam meningkatkan motivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan
dua cara, yang pertama yaitu seorang pemimpin mengenali apa yang harus dilakukan
bawahan untuk mencapai hasil yang sudah direncanakan setelah itu pemimpin
mengklarifikasikan peran bawahannya kemudian bawahan akan merasa percaya diri dalam
melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan perannya. Yang kedua adalah pemimpin
mengklarifikasi bagaimana pemenuhan kebutuhan dari bawahan akan tertukar dengan
penetapan peran untuk mencapai hasil yang sudah disepakati.
Kelebihan dari kepemimpinan transaksional antara lain dapat memotivasi masingmasing individu dan meningkatkan kinerja pagawai secara individu. Sedangkan
kekurangannya adalah memungkinkan munculnya persaingan kurang sehat antar individu.
Kepemimpinan transaksional merupakan gaya kepemimpinan yang dinilai efektif untuk
menekan perselisihan industrial yang disebabkan karena perbedaan kepentingan antara
pemimpin perusahaan dengan karyawan yang merupakan pihak-pihak yang independen
dengan tujuan, kebutuhan, dan kepentingan yang berbeda-beda. Hal tersebut berhubungan
dengan proses pemenuhan kebutuhan karyawan oleh pemimpin, apabila karyawan merasa
kebutuhannya terpenuhi, maka karyawan akan menunjukkan kinerja terbaiknya. Pemimpin
diharapkan mampu mengetahui kebutuhan karyawan melalui penerapan gaya kepemimpinan
transaksional tersebut.

2.3 Tipe/Gaya Kepemimpinan Transaksional


Tipe atau gaya kepemimpinan transaksional meliputi dimensi/perilaku :
a. Contigent Reward (Penghargaan rombongan)
Untuk mempengaruhi pemimpin memperjelas pekerjaan yang harus dilakukan,
menggunakan insentif sebagai alat mendorong pencapaiaan hasil pelaksanaan tugas
sesuai harapan.

b. Management By Exception (Manajemen Dengan Pengecualiaan)


Secara pasif, untuk mempengaruhi perilaku, pemimpin menggunakan upaya
koreksi/hukuman sebagai respons terhadap kinerja buruk/penyimpangan terhadap
standard. Secara aktif untuk mempengaruhi perilaku, pemimpin secara aktif melakukan
pemantauan terhadap perkerjaan yang dilakukan pegawai dan menggunakan upaya
korektif dalam rangka memastikan bahwa pekerjaan dilakukan dan diselesaikan sesuai
standar.
c. Laissez Faire Leadership (Kepemimpinan Laissez-Faire)
Pemimpin ini menghindari upaya memengaruhi bawahan, melalaikan tugas pembinaan
sebagai pimpinan, menenggelamkan diri pada perkerjaan rutin dan menghindari
konfrontasi. Mereka banyak memberi tanggung jawab kepada bawahan, tidak
menetapkan tujuan jelas, tidak membantu pengambilan keputusan kelompok,
membiarkan semua mengalir selama semua terlihat aman.

2.4 Karakteristik Kepemimpinan Transaksional


Kepemimpinan transaksional sangat memperhatikan nilai moral seperti kejujuran,
keadilan, kesetiaan dan dan tanggung. Kepemimpinan ini membantu orang ke dalam
kesepakatan yang jelas, tulus hati, dan memperhitungkan hak-hak serta kebutuhan orang lain.
Inilah kepemimpinan kepala sekolah dengan mendengarkan keluhan dan perhatian berbagai
partisipan, memutuskan perdebatan dengan adil, membuat orang bertanggungjawab atas
target kerja mereka, menyediakan sumberdaya yang diperlukan demi pencapaian tujuan.
Kepemimpinan transaksional kepala sekolah mengandaikan adanya tawar menawar
antara berbagai kepentingan individual dari guru dan staf sebagai imbalan atas kerjasama
mereka dalam agenda kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pimpinan akan terus
mengupayakan perbaikan-perbaikan evaluasi program, jalinan komunikasi, koordinasi,
strategi mengatur target khusus dan kegiatan tugas-tugas untuk pemecahan masalah.
Kepala sekolah transaksional belajar tentang cara belajar (learning how to learn).
Kepala sekolah belajar dari aneka pengalaman dan mempertahankan keyakinan atas nilainilai mereka. Kepala sekolah transaksional juga memiliki kemampuan motivasi dan
memberdayakan guru dan stafnya. Dampaknya adalah terwujudnya perilaku organisasi
sekolah (school organization behavior).

Kepemimpinan transaksional menurut Bass memiliki karakteristik sebagai berikut :


a. Contingent reward
Kontrak pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk
kinerja yang baik, mengakui pencapaian.
b. Active management by exception
Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan
perbaikan.
c. Pasive management by exception
Intervensi hanya jika standar tidak tercapai.
d. Laissez-faire
Melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.

2.5 Gaya Kepemimpinan Transaksional dalam Pandangan Islam


Tasmara (2002:102) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk
mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran sehingga kehadirannya memberikan
pengaruh kepada lingkungannya. Seorang pemimpin Muslim haruslah memiliki tiga
komponen kepemimpinan yang diambil dari teladan Rasulullah yakni vision, value, dan
vitality. Vision merupakan kemampuan untuk menjelaskan arah dan tujuan serta alasannya.
Value merupakan kemampuan pemimpin untuk menggerakkan orang lain dengan keteladanan
dan dengan cinta kasih. Sedangkan vitality yaitu kemampuan untuk memiliki daya vitalitas
atau energi yang sangat kuat sehingga mampu menggerakkan orang lain dan memiliki daya
tahan baik secara fisik maupun mental.
Noor (dalam Putri, 2013) menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menerapkan tiga pokok
aturan dalam gaya kepemimpinannya yakni syura (permusyawaratan), adl bil qis (keadilan
disertai kesetaraan), dan hurriyah al-kalam (kebebasan berekspresi). Ketiga pokok gaya
kepemimpinan inilah yang menjadi pondasi bagi Rasulullah SAW dalam memimpin umat
serta ketiga pokok inilah yang sampai sekarang menjadi teladan dalam gaya kepemimpinan
Islam.
Unsur manusia, menurut Rivai (2003:131), merupakan unsur yang menentukan berhasil
tidaknya pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, perlu dibina hubungan antar manusia
yang sebaik-baiknya sehingga merupakan tim yang dapat bekerja sama dengan penuh
kesadaran diantara mereka tanpa adanya paksaan. Dengan demikian, pemimpin harus
memberikan perhatian kepada bawahan di dalam melaksanakan pekerjaan, agar bawahan

merasa diperlukan kehadirannya dan bukan dianggap sebagai alat atau mesin dalam
organisasi.
Pemimpin harus bisa membantu bawahan apabila mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya, memberikan rangsangan yang berupa pujian apabila bawahan
bekerja dengan berhasil, dan juga memberikan rangsangan yang berupa insentif bila bawahan
mempunyai prestasi atau hasil kerja yang baik. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus
berusaha memberikan fasilitas bagi pencapaian tujuan para bawahannya.
Berdasarkan ciri-ciri kepemimpinan dalam Islam tersebut, terdapat dalam ciri-ciri
kepemimpinan transaksional yaitu dimana selain dituntut mampu menjelaskan arah dan
tujuan perusahaan, pemimpin haruslah tetap memperhatikan karyawan agar bawahan merasa
diperlukan kehadirannya dan bukan dianggap sebagai alat atau mesin dalam organisasi.
Selain menuntut kinerja yang bagus, pemimpin juga harus memberikan rangsangan misalnya
berupa insentif bila bawahan mempunyai prestasi atau hasil kerja yang baik. Hal ini sesuai
dengan salah satu pokok gaya kepemimpinan yaitu adl bil qis (keadilan disertai kesetaraan)
yang merupakan ajaran Rasulullah SAW

BAB 3
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam
organisasi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin
perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan
organisasi.
Di samping itu, pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada
penyelesaian tugas-tugas organisasi. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan
tanggungjawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem
pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya.
Kepemimpinan

transaksional

adalah

perilaku

pemimpin

yang

memfokuskan

perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan anggota yang melibatkan
hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klarifikasi
sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.
Pemimpin transaksional harus mampu mengenali apa yang diinginkan anggota dari
pekerjaannya dan memastikan apakah telah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sebaliknya, apa yang diinginkan pemimpin adalah kinerja sesuai standar yang telah
ditentukan.
Hubungan pemimpin transaksional dengan anggota tercermin dari tiga hal, yakni: (1)
pemimpin mengetahui apa yang diinginkan anggota dan menjelaskan apa yang akan mereka
dapatkan apabila untuk kerjanya sesuai dengan harapan, (2) pemimpin menukar usaha-usaha
yang dilakukan oleh anggota dengan imbalan, dan (3) pemimpin responsif terhadap
kepentingan-kepentingan pribadi anggota selama kepentingan tersebut sebanding dengan
nilai pekerjaan yang telah dilakukan anggota.
Berdasarkan

pengertian

mengenai

kepemimpinan

transaksional

yang

telah

dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan transaksional


merupakan persepsi para anggota terhadap perilaku pemimpin dalam mengarahkan
anggotanya untuk bekerja sesuai standar yang telah ditetapkan.
Karakteristik kepemimpinan transaksional terdiri atas: imbalan kontigen dan
manajemen melalui eksepsi. Kedua karakteristik kepemimpinan transaksional, selengkapnya
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Imbalan kontigen. Imbalan kontigen adalah kontrak pertukaran imbalan untuk upaya
yang dilakukan, menjanjikan imbalan bagi kinerja yang baik, dan menghargai
prestasi kerja yang dilakukan anggota.
2. Manajemen melalui eksepsi. Manajemen melalui eksepsi merupakan pengawasan
yang dilakukan oleh pemimpin agar kinerja anggota sesuai standar yang telah
ditentukan. Penerapan manajemen melalui eksepsi dapat dilakukan secara aktif
maupun pasif. Pada pelaksanaan manajemen melalui eksepsi secara aktif, pemimpin
mengawasi dan mencari deviasi atau penyimpangan atas berbagai aturan dan
standar, serta mengambil tindakan korektif. Sebaliknya, dalam pelaksanaan
manajemen melalui eksepsi secara pasif, pemimpin melakukan intervensi hanya bila
standar tidak tercapai.
Penelitian mengenai kepemimpinan transaksional mengemukakan ada dua karakteristik
utama tipe kepemimpinan transaksional, yaitu: (1) pemimpin menggunakan serangkaian
imbalan untuk memotivasi para anggota, dan (2) pemimpin hanya melakukan tindakan
koreksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang ditetapkan. Kepemimpinan
transaksional dengan demikian mengarah pada upaya mempertahankan keadaan yang telah
dicapai.
Berdasarkan ciri-ciri kepemimpinan dalam Islam, terdapat ciri-ciri kepemimpinan
transaksional yaitu dimana selain dituntut mampu menjelaskan arah dan tujuan perusahaan,
pemimpin haruslah tetap memperhatikan karyawan agar bawahan merasa diperlukan
kehadirannya dan bukan dianggap sebagai alat atau mesin dalam organisasi. Selain menuntut
kinerja yang bagus, pemimpin juga harus memberikan rangsangan misalnya berupa insentif
bila bawahan mempunyai prestasi atau hasil kerja yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan Pendidikan (Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika,


Perilaku Motivational dan Mitos). Bandung: Alfabeta.
Danim, Sudarwan. 2003. Menjadi Komunitas Pembelajar (Kepemimpinan Transformasional
dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran). Jakarta: Bumi Aksara.
Italiani, Fanni A. 2013. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional
terhadap Kinerja Pegawai Departemen SDM PT. Semen Gresik (Persero), Tbk. Jurnal
Ilmu Manajemen. Vol. 1 No. 2 Maret 2013.
Kartono, Kartini. 1983. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta : Rajawali.
Mulyono. 2009. Educational Leadership (Mewujudkan
Pendidikan). Malang: UIN Malang Press.

Efektivitas

Kepemimpinan

Manik, W. 2012. repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 9


November 2014
OLeary, Elizabeth. 2001. Kepemimpinan. Edisi Pertama. Yogyakarta : Andi.
Putri, Juwita L. 2013. Pengaruh Karakter Shiddiq dalam Gaya Kepemipinan Transaksional
terhadap Kinerja Islam Karyawan BRISyariah KCI Surabaya Gubeng. Skripsi tidak
diterbitkan. Surabaya : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Rivai, Veithzal. 2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta : Rajawali Press
Suyuthi, N. F., Hamzah D., & Payangan O. R. 2004. Pengaruh Gaya Kepemimpinan
Transformasional dan Transaksional terhadap Kinerja melalui Kepuasan Kerja
Karyawan PT. Telkom Divre VII Makassar. Universitas Hasanuddin : Makassar.
Swandari, Fifi 2003. Menjadi Perusahaan yang Survive Dengan Transformasional
Leadership. Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi vol.1 No.2 Mei 2003 :93-102
Wahyusumidsjo. 1999. Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Graha Indonesia.
http://innurma.blogspot.com/2013/01/kepemimpinan-transaksional-dan.html diakses tanggal
22 Oktober 2014
http://ramlibisomu.blogspot.com/2013/10/kepemimpinan-transaksional-dan.html
tanggal 22 Oktober 2014

diakses