Anda di halaman 1dari 27

10

RESEPTOR INDERA

MENGHUBUNGKAN LINGKUNGAN LUAR DENGAN SISTEM SARAF

SEBAGAI TRANDUCER
MENGUBAH ENERGI STIMULUS MENJADI ENERGI LISTRIK

PEKA TERHADAP STIMULUS TERTENTU

DAPAT BEREAKSI, NAMUN SENSASI YANG MUNCUL SUDAH


TERPOLA

WUJUD RESEPTOR :
1.

BERUPA UJUNG-UJUNG SARAF YANG KHUSUS


CONTOH : RESEPTOR PADA KULIT

2.

BERUPA SEL-SEL TERPISAH YANG KHUSUS, BERHUBUNGAN


DENGAN NEURON SENSORIS MELALUI SINAPSIS.
CONTOH : - RESEPTOR PENGLIHATAN
- RESEPTOR PENDENGARAN

3.

NEURON

YANG

TERMODIFIKASI;

BAGIAN

MEMBENTUK VILLI.
CONTOH : - RESEPTOR PENGECAP
- RESEPTOR PENCIUM

MACAM RESEPTOR BERDASARKAN STIMULUS ADEKUAT :


1.

MEKANORESEPTOR

2.

TERMORESEPTOR

3.

FOTORESEPTOR

4.

CHEMORESEPTOR

DENDRIT

11

INDERA PENDENGARAN
DAN
INDERA KESEIMBANGAN

PADA REPTIL MAMMALIA


RESEPTOR PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN
TERDAPAT DALAM :
AURIS INTERNA
EFEKTIVITAS

MEDIUM CAIR

PENERIMAAN
STIMULUS.

MEDIUM PADAT

AURIS MEDIA

MEMUSAT

AURIS EKSTERNA

ENERGI

LINGKUNGAN

GETARAN

LUAR

PROTEKSI
RESEPTOR
TERHADAP
KERUSAKAN

HUBUNGAN TAK LANGSUNG ANTARA LINGKUNGAN LUAR DAN


RESEPTOR
MEMBRAN TYMPANI
Otot

AE

sendi

FENESTRA OVALIS

AI

Cairan limfe
ikut teraduk
pada saat
mis. bergetar

12

Koklea
Vestibulum
ENERGI GETARAN

ENERGI MEKANIS

ENERGI LISTRIK

DALAM AURIS INTERNA TERDAPAT


1.

VESTIBULUM (STATORESEPTOR)

2.

KOKLEA (FONORESEPTOR)

STRUKTUR VESTIBULUM
DAN KOKLEA SECARA UMUM

PERILIMFE
ENDOLIMFE
TULANG CRANIUM
MEMBRAN
BERDINDING
TL. CRANIUM

FONORESEPTOR
BERUPA SEL RAMBUT, ADA 2 MACAM :
1. STEREOSILIA

: BANYAK TEPI PENDEK

2. KINISILIUM

: SATU TAPI PANJANG

SETIAP FONORESEPTOR BERHUBUNGAN DENGAN SARAF MOTORIS DAN


SARAF SENSORIS
STIMULUS MEMPENGARUHI FONORESPTOR DENGAN DEFORMASI SEL
RAMBUT :

13

1.

JIKA DEFORMASI

CONDONG KE ARAH KINISILIUM MAKA

TERJADI DEPOLARISASI.
2.

JIKA DEFORMASI

CONDONG KE ARAH STEREOSILIA MAKA

TERJADI HIPERPOLARISASI.

STRUKTUR KOKLEA
DAN
MEKANISME DEPOLARISASI HIPERPOLARISASI

KETERANGAN :
RUANG :
SV : SKALA VESTIBULI

KANALIS KOKLEARIS

ST

( BERDINDING TULANG)

: SKALA TYMPANI

SM : SKALA MEDIA

BERDINDING MEMBRAN
( DUKTUS KOKLEARIS)

mV : MEMBRANA VESTIBULARIS
mB : MEMBRANA BASILARIS
sV

: STRIA VASKULARIS

14

( MELEKAT PADA TULANG)


FR

: FONORESEPTOR

mT : MEMBRANA TEKTORIA
mR : MEMBRANA RETIKULARIS

SITUASI ELEKTROLIT PADA POTENSIAL


MEMBRAN FONORESEPTOR

K+ <
SV Na+ >

OC

SM
K+ >
Na+ <

K+
Na+ > ST

DALAM ENDOLIMFE :
K+

= + 150
MUATAN LISTRIK + 80 mV

Na+ = 1

DALAM FONORSEPTOR :
K+

= + 15
MUATAN LISTRIK : - 70 mV s/d - 60 mV

Na+ = + 135

15

KERJA ELEKTROLIT
DALAM
DEPOLARISASI HIPERPOLARISASI FONORESEPTOR

16

STATORESEPTOR
STRUKTUR UMUM :

STATOCYST

STATOLIT

STATOKONIA

STATOLIT
1.

2 MACAM :

BERGERAK BEBAS
PADA :

MENDEKATI DINDING STATOCYST PADA


DAERAH TERENDAH (SESUAI GERAKAN
TUBUH)

2.

- GASTROPODA

DINDING STATOCYST TERDAPAT SEL

- PELECYPODA

RESEPTOR

TIDAK BERGERAK BEBAS


(TERIKAT PADA RAMBUT HALUS SEL RESEPTOR)
PADA :
- DECAPODA

17

- VERTEBRATA

STATOCYST PADA CRUSTACEA :


- MASIH SEDERHANA
- GELEMBUNG

TERBUKA

- STATOLIT BERUPA BUTIR PASIR

(PADA KEADAAN KHUSUS STATOLIT BERUPA BUTIR BESI


TERPENGARUH OLEH MAGNIT).
STATORESEPTOR PADA MAMALIA
TERDAPAT DALAM VESTIBULUM
TERDIRI DARI :
A.

CRISTA AMPULARIS

B.

MACULA UTRICULI

C.

MACULA SACCULI
A. CRISTA AMPULARIS

BERUPA LIPATAN DINDING AMPULA MEMBRANOSA

SEL PENGHUBUNG

SEL INDERA

DIKELILINGI

OLEH

DENDRIT

NERVUS

VESTIBULARIS
DENDRIT DAN SEL INDERA DIHBUNGKAN
MELALUI SINAPSIS.
-

PADA

PERMUKAAN

CRISTA AMPULARIS

TERDAPAT

CUPULA

AMPULARIS YANG BERUPA RAMBUT-RAMBUT.


-

KEDUDUKAN CRISTA AMPULARIS ADA TIGA BIDANG SESUAI


GERAKAN KEPALA :

18

JIKA ADA STIMULUS

REPLEK MEMPERBAIKI KEDUDUKAN/

POSISI TUBUH.

PENGARUH GERAKAN KEPALA


a.

ROTASI KE KANAN
PADA BIDANG KANALIS SEMI SIRKULARIS LATERALIS TERJADI
STIMULASI CRISTA AMPULARIS.
INERSIA ENDOLIMFE
ENDOLIMFE MENGALIR KE ARAH BERLAWANAN ( KE KIRI)
ENDOLIMFE

MENDORONG

CUPULA

DENGAN

MENGAYUN

SEPERTI DAUN PINTU


SEL RAMBUT MEMBENGKOK/ CONDONG
IMPULS
REPLEKS :
- NISTAGMUS
-

STATOKINESIS
REAKSI TERHADAP CONDONGNYA CUPULA

AMPULARIS
1. KE KIRI

GERAKAN MATA
- KE KIRI

: LAMBAT

- KE KANAN : CEPAT DAN BERULANG

NISTAGMUS KANAN

19

JIKA GERAKAN ENDOLIMFE MENGALIR CEPAT


CUPULA AMPULARIS TAK CONDONG
NISTAGMUS HILANG.

PUTARAN DIHENTIKAN
- ENDOLIMFE MASIH MENGALIR KE KANAN
- GERAKAN MATA :

KE KANAN : LAMBAT
KE KIRI

: CEPAT

NISTAGMUS KIRI.

NISTAGMUS :
GERAKAN TERPUTUS-PUTUS YANG KHAS DARI MATA YANG
TERLIHAT DARI PERMULAAN DAN AKHIR SUATU ROTASI
REPLEKS MEMPERLIHATKAN FIKSASI VISULA PADA TITIK
TETAP SEDANGKAN TUBUH BERPUTAR.
DAPAT DIAWALI TANPA IMPULS PENGLIHATAN :

PADA TUNA

NETRA.
JALUR : IMPULS VISUAL

OTAK

OTOT

MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN
b.

GERAKAN LINIER
- HORISONTAL

ALIRAN ENDOLIMFE DALAM DUKTUS SEMI SIRKULARIS


LATERAL
- VERTIKAL

ALIRAN ENDOLIMFE DALAM DUKTUS SEMI SIRKULARIS


POSTERIOR
- KE MUKA DAN KE BELAKANG

20

ALIRAN ENDOLIMFE DALAM DUKTUS SEMI SIRKULARIS


ANTERIOR.
B.

MACULA UTRICULI

TERDAPAT DI DALAM UTRICULUS


TERDIRI DARI SEL RAMBUT YANG
DITUTUPI

OLEH ZAT YANG HOMOGEN

DI ATAS RAMBUT TERDAPAT CRISTAL


CaCO3 (OTOCONIA)
PADA SAAT BERDIRI
MENGHADAP KE MUKA (SEIMBANG)
POSISI MACULA UTRICULI HORISONTAL.
PADA SAAT TIDAK SEIMBANG MACULA UTRICULI MIRING;

SUPAYA KEMBALI SEIMBANG


RAMBUT

IMPULS

HORISONTAL
C.

OTOCONIA DITARIK PADA


REPLEKS STATOTONU

MACULA UTRICULI MENGHADAP KE ATAS.

MACULA SACULI PADA MANUSIA

FUNGSI : SERUPA DENGAN MACULA UTRICULI

TERLETAK VERTIKAL

JIKA POSISI MIRING


a.

SACULUS MAKIN KE BAWAH


IMPULS BERTAMBAH

b.

SACULUS MAKIN KE ATAS


IMPULS BERKURANG

KEPALA

JIKA KEPALA MIRING KE KANAN


IMPULS KANAN > IMPULS KIRI
REPLEK STATOTONUS

21

FOTORESEPTOR
2

JENIS :

1. SEL BATANG (BACILLUS)

UNTUK PENGLIHATAN SKOTOP


(REMANG)

2. SEL KERUCUT (CONUS)

CAHAYA BIRU

UNTUK PENGLIHATAN FOTOP


(INTENSITAS CAHAYA TINGGI)
CAHAYA MERAH

22

ADA 2 SEGMEN PADA FOTORESEPTOR


1.

SEGMEN DALAM

SEPERTI SEL PADA UMUMNYA

2.

SEGMEN LUAR : MEMBRAN MENGALAMI INVAGINASI

SEPERTI

TUMPUKAN DISCUS.

GB. SEL FUNGSIONAL PADA FOTORESEPTOR

SEL-SEL FUNGSIONAL
+

RETINA
MAKIN KE TEPI JUMLAH SEL BATANG
MAKIN BERKURANG

EPITHEL
(NEUROEPITHEL)
PIGMEN
MELANIN
+
SEL PENOPANG

PADA RETINA TERDAPAT DUA BAGIAN PENTING :


1.

FOVEA SENTRALIS

BAYANGAN PALING TAJAM

CEKUNGAN BERWARNA KUNING (BINTIK KUNING) = MACULA


LUTEA

23

TIDAK ADA SEL BATANG


2.

BINTIK BUTA
TAK ADA SEL BATANG MAUPUN SEL KERUCUT
JALAN MASUK :
- BERKAS SARAF
- PEMBULUH DARAH
- PEMBULUH LIMFE

SEL BATANG

ADA PIGMEN PENGLIHATAN (RHODOPSIN)


MERUPAKAN DERIVAT VITAMIN A
DIIKAT OLEH PROTEIN YANG TERDAPAT PADA MEMBRAN YANG
MEMBENTUK DISCUS

PROTEIN G

DEPOLARISASI HYPERPOLARISASI
PADA SEL BATANG

GELAP

TERANG

24

(CAHAYA 1 FOTON)

HIPERPOLARISASI SEL BATANG


+
SEL BIPOLAR

DEPOLARISASI SEL GANGLION

KONFIGURASI
TRANS
Rh

1 FOTON
RH
1

KONFIGURASI
CIS

T-GDP

2
Rh *-T-GDP

GTP

GDP
Rh*-T-GTP
4
PDEt
7 Rh*
GELAP
(DAUR ULANG) PDE AKTIF

CGMP

25

(PDE*-T-GTP)
Rh

KONFIGURASI CIS
5 GMP
MENUTUP KANAL
Na+

MEKANISME PENUTUPAN KANAL Na+


PADA HYPERPOLARISASI
SEL BATANG
Ket :
Rh (Cis)
T

1 FOTON
TEREKSITAS I

Rh (Trans)

= Transdusin = Protein G

PDEt = FOSFODIESTERASE TAK AKTIF

SEL KERUCUT
KEPEKAAN RENDAH
PADA PRIMATA

ADA 3 MACAM DENGAN ABSORBSI

SPEKTRUM MAKSIMUM YANG BERBEDA :


1. ABSORBSI SPEKTRUM PADA PANJANG GELOMBANG PENDEK,
PUNCAKNYA PADA = 440 nm (CAHAYA BIRU)
2.

PADA PANJANG GELOMBANG MENENGAH PUNCAKNYA PADA


= 535 nm (CAHAYA HIJAU)

3.

PADA PANJANG GELOMBANG PALING TINGGI PUNCAKNYA


PADA = 565 nm (CAHAYA KUNING)
CAHAYA MERAH.

MELUAS PADA

26

ABSORBSI SPEKTRUM YANG DIKOMBINASIKAN SESUAI KOMPOSISI


JENIS CONUS YANG MENDAPAT PENYINARAN
TRIKROMAT
(PADA PENDERITA BUTA WARNA

MONOKROMAT)

PADA MAMALIA LAIN (SELAIN PRIMATA) HANYA 2 MACAM CONUS


POINT 1 DAN 3 (DI ATAS).

VISUS
(KETAJAMAN PENGLIHATAN)
DITENTUKAN OLEH :
1. CAHAYA HARUS JATUH PADA FOVEA SENTRALIS
2. INTENSITAS PENYINARAN
3. KONTRAS

ANTARA

BERBANDING LURUS

PENYINARAN

DAN

LATAR

BERBANDING LURUS
4. DIAMETER SEL KERUCUT
VISUS DITENTUKAN OLEH

BERBANDING TERBALIK

BELAKANG

27

DAYA PISAH MINIMUM:


KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT DUA TITIK YANG BERDEKATAN
SEBAGAI DUA TITIK / DUA GARIS PADA JARAK MINIMUM TERLIHAT
SEBAGAI DUA GARIS
PADA MANUSIA DI UKUR DGN PETA SNELLISUS
BARIS HURUF TERKECIL TERLIHAT JELAS PADA JARAK 6 M
( NORMAL)
HURUF TSB DENGAN SATUAN :

DERAJAT, MENIT, DETIK

CONT:
HURUF E, TINGGINYA 5

1.

6m
6m

Normal

2.

6m
5m

Normal

3.

6m
7m

Normal

kenyataan
kenyataan
kenyataan

= 1
>1
<1

NORMAL
RABUN JAUH
RABUN DEKAT

28

VISUS PADA HEWAN


DITENTUKAN OLEH JARAK ( CONUS) YANG MEMISAHKAN
DUA CONUS YANG MENDAPAT PENYINARAN

MAKIN BANYAK / JAUH JARAK CONUS YANG TAK DISINARI


MAKIN BESAR KETAJAMAN PENGLIHATAN

JIKA DUA CONUS KENA PENYINARAN TANPA CONUS


PEMISAH YANG TAK DISINARI

DUA TITIK HANYA

TERLIHAT SEBAGAI SATU TITIK

BERKAS CAHAYA

BERKAS CAHAYA

JARAK TERDEKAT
YANG DAPAT TERLIHAT
BAHWA DUA TITIK
BENAR-BENAR
TERLIHAT SEBAGAI
DUA TITIK

DUA TITIK TERLIHAT


SEBAGAI SATU TITIK

PEMISAH
SATU KONUS

DITENTUKAN PULA OLEH STATUS HUBUNGAN CONUS

SEL

POLAR.
CONUS

CONUS

1 SEL BIPOLAR

TAJAM

LEBIH SATU SEL BIPOLAR

KURANG TAJAM

29

DAYA PISAH MINIMUM


PADA BERBAGAI HEWAN
NO. HEWAN / MANUSIA

DAYA PISAH MINIMUM

1.

MANUSIA

(
25"

2.

SIMPASE

28"

3.

KERA RHESUS

34"

4.

KUCING

5.

KELEDAI

8 38"

6.

GAJAH INDIA

10

7.

TIKUS

20

8.

TIKUS PUTIH

40

9.

KELELAWAR

3 - 6

")

20"

10. BURUNG MERPATI

2 42"

11. BURUNG ALAP-ALAP

25"

12. AYAM

4 14"

13. ALLIGATOR

11

14. RANA

6 53"

15. DROSOPHILA

9 17

16. LEBAH MADU

30

CHEMORESEPTOR

DI LUAR TUBUH
(INDERA VISCERAL)
FUSI

DI DALAM TUBUH

GASTROINTESTINAL

(PENCERNAAN MAKANAN)

T.D :
1. ORGANON GUSTUS
(
PENGECAP)
2. ORGANON OLFAKTUS
(
PENCIUM/
PENGHIDU )

PADA DINDING ANTAR


PANGKAL
AORTA
KADAR CO2
DALAM
DARAH

CARA PENGINDERAAN :
BERDASARKAN PELARUT MOLEKUL/ZAT :
1. ORGANON GUSTUS
2. ORGANON OLFAKTUS

LARUT DALAM LENDIR


LARUT DALAM AIR

PERBEDAAN ORGANON GUSTUS DAN ORGANON OLFAKTUS


ORGANON
NO.
GUSTUS
OLFAKTUS
1. SEBELUM IMPULS MENCAPAI
TIDAK
PUSAT PENGECAP PADA KORTEKS
MELEWATI
CEREBRI,
TALAMUS
TERLEBIH DAHULU MEMBENTUK
SINAPSIS
PADA BAGIAN TALAMUS
2.

BERHUBUNGAN DENGAN INDERA


PERABA

TIDAK

3.

CHEMORESEPTOR BERUPA
KELOMPOK KECIL

CHEMORESEPTOR
BERADA DALAMSATU
BIDANG

31

CHEMORESEPTOR BERUPA NEURON YANG MENGALAMI MODIFIKASI


PADA BAGIAN DENDRIT :
MENJADI LEBIH TEBAL
MEMPUNYAI VILLI / CILIA
+
SEL PENYOKONG
(DI KAKAN & KIRI)

ORGANON OLFACTUS

32

MEKANISME PENCETUSAN DEPOLARISASI


PADA ORGANON OLFAKTUS

SUBSTANSI
RESEPTOR OLFACTUS
G GDP
GTP
GDP
G GTP
GTP

ADENIL SIKLASE
TAK AKTIF
(Ast)

G ADENIL SIKLASI
(AS *)
(AKTIF)

ATP

c AMP
KANAL Na+ TERBUKA

DEPOLARISASI

KET:
G = PROTEIN G
AS* = ADENIL SIKLASE AKTIF
AS t = ADENIL SIKLASE TAK AKTIF

33

ORGANON GUSTUS
CHEMORESEPTOR BERUPA KELOMPOK-KELOMPOK KECIL DGN DUA
BENTUK :
1. PERMUKAAN LEBAR

BERUPA NEURON

2. PERMUKAAN SEMPIT DGN

YANG

SATU LUBANG / PORUS

TERMODIFIKASI

CHEMORESEPTOR PADA ORGANON GUSTUS


BERUPA CIRCUM VALATUM (BERKELOMPOK) ATAU BERUPA FUNGIFORM
(SEPERTI JAMUR)
SENSASI YANG TIMBUL :
1. ASAM
2. ASIN

TEMPAT PENGELOMPOKAN RESEPTOR &

3. MANIS

DEPOLARISASI BERBEDA

4. PAHIT

34

GB. TEMPAT
PENGELOMPOKKAN
RESEPTOR PADA
ORGANON GUSTUS

DEPOLARISASI

GB. TEMPAT
PENGELOMPOKKAN RESEPTOR
PADA
ORGANON GUSTUS
SENSASI
MANIS

SUBSTANSI MANIS
RESEPTOR MANIS
G11 GDP
GTP
GDP
G11 GTP
ADENIL SIKLASE
TAK AKTIF
GTP
ADENIL SIKLASE AKTIF
ATP

c AMP
PROTEIN KINASE MENGINGKAT
MENGHAMBAT LINTASAN K+
ION K+ BERKURANG

35

DEPOLARISASI

MEKANISME DEPOLARISASI
SENSASI ASAM
SUBSTANSI ASAM
H+

KANAL ION K+
TERTUTUP

DEPOLARISASI

MAKANISME DEPOLARISASI
SENSASI ASIN
SUBSTANSI ASIN

Na+

MASUK SEL RESEPTOR


SECARA PASIF

DEPOLARISASI

36

DEPOLARISASI

SENSASI

PAHIT

SUBSTANSI PAHIT
RESEPTOR PAHIT
Go GDP
GTP
GDP
Go GTP
ADENIL SIKLASE
TAK AKTIF
GTP
Go ADENIL SIKLASE
( ADENIL SIKLASE AKTIF )
ATP

c AMP

FOSFOLIFASE C AKTIF

RE

Ca++

DEPOLARISASI