Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUGAS TUTORIAL BLOK 15 UP 3

RUMINANSIA I
INDIGESTI

Disusun oleh :
Nama

: Kelviano Muqit

NIM

: 09/284105/KH/06282

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui jenis-jenis indigesti, serta : etiologi, pathogenesis, gejala klinis, diagnosis dan
penanganan
2. Mengetahui nutrisi yang tepat untuk ternak
3. Bagaimana peran mikroflora dalam rumen, jenis-jenisnya, dan mekanisme pengolahan
nutrisi oleh mikroflora

GANGGUAN INDIGESTI PADA RUMINANSIA


1. Indigesti Akut
Indigesti akut merupakan sindrom yang bersifat kompleks dengan berbagai
manifestasi klinis, tanpa disertai (atau hanya ringan) perubahan anatomis pada lambung
hewan ruminansia. Istilah indigesti digunakan apabila secara organic tidak digunakan
perubahan

patologis

yang

bersifat

seperti

ruminitis,

retikulitis,

dan

lainnya

(Soebronto,2008).
Dikarenakan kompleksnya gangguan pencernaan pada lambung muka maka untuk
kepentingan akademik serta untuk kepentingan penanganan, penderita indegisti akut dibagi
menjadi beberapa bagian, antara lain :
a. Indigesti sederhana atau simpleks
b. Indigesti asam (asidosis rumen)
c. Alkalosis rumen
d. Kembung rumen (bloat, timpani rumen)
e. Indigesti Toksemia
A. Indigesti Sederhana atau Simpleks
Indigesti sederhana merupakan gangguan sindrom pencernaan yang berasal dari rumen
atau reticulum, ditandai oleh hilangnya gerak rumen atau lemahnya tonus rumen hingga
ingesta tertimbun di dalamnya dan serta juga ditandai dengan konstipasi.
Etiologi
Menurut Subronto (2008), kebanyakan kasus terjadi akibat perubahan pakan yang
mendadak, terutama pada hewan muda yang mulai menyesuaikan diri untuk diberikan
2

ransum hewan dara. Pakan yang mengandung serat kesar terlalu tinggi juga dapat
menyebabkan hal ini terjadi.
Dalam beberapa kasus pemberian obat antimicrobial yang berlebihan juga dapat
memicu terjadinya indigesti pada hewan. Hewan yang terlalu letih atau dipaksa bekerja
juga dapat menyebabkan terjadinya indigesti simpleks, hewan yang sedang dalam
transportasi dari satu daerah ke daerah lain juga dapat terjadi indigesti.
Pathogenesis
Pakan yang mengandung protein tinggi atau yang mengalami pembusukan akan
menghaslkan ammonia, dengan akibat derajat keasaman rumen mengalami kenaikan. Hal
inia akan menyebabkan bakteri yang tidak tahan suasana alkalis akan mnegalami kematian,
serta menyebabkan pencernaan secara biokimiawi tidak efisien. Ingesta yang tidak tercerna
dengan baik akan tertimbun di dalam rumen, yang secara reflektoris mendorong rumen
untuk berkontraksi berlebihan. Akibat hal tersebut maka akan terbentuk asam laktat secara
berlebihan

yang

kemudian

menyebabkan

gerakan

rumen

menjadi

melemah

(Subronto,2008).
Dalam keadaan stasis rumen, pembentukan asam lemak volatile menjadi terhalang.
Karena asam lemak tersebut diperlukan sebagai pembentukan air susu, dalam keadaan
stasis rumen maka produksi susu akanmenurun.
Gejala Klinis
Penderita tampak lesu dan malas bergerak, nafsu makan hilang, sedangkan nafsu untuk
minum. Pada awalnya frejuensi gerak rumen meningkat selama beberapa jam dan diikuti
dengan penurunan frekuensi gerak dan tonus rumen. Pada palpasi rumen terasa teraba
ingesta lunakm tetapi tidak mencapai median dari rumen. Pembesaran rumen tidak terlalu
berarti (Subronto, 2008).
Pada umumnya frekuensi pernafasan dan pulsus masih dalam batas normalnya. Tinja
yang dikeluarkan biasanya hanya sedikit berlendir, berwarna gelap dengan konsistensi
lunak.
Diagnosis
Penentuan diagnosis harus didasarkan pada data-data di atas. Dalam diagnosis banding
perlu diperbandingkan dengan ketosis, retikulo peritonitis traumatika, dan dysplasia
3

abomasa. Pada ketosis biasanya terjadi dalam waktu dua bulan pertama setelah kelahiran
dan disertai dengan kenaikan mencolok dari benda-benda keton dalam darah dan kemihnya
Pada retikulo peritonitis traumatika gejala klinis yang ditemukan bersifat menonjol.
Gambaran darahnya menunjukkan adanya perubahan radang akut. Dari dysplasia abomasa
selain gejala-gejala tersifat, prosesnya juga berlangsung lebih lama (Subronto,2008).
Pengobatan
Umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, pemberian makanan penguat atau makanan
kasar hendaknya dihentikan sementara. Air minum yang ditambahi garam harus diberikan
secara ad libitum.
Untuk pengobatan dapat pula obat parasimpatomimetik seperti carbamyl-choline
dengan dosis 2-4 ml, disuntikkan subkutan pada sapid an kerbau dewasa untuk merangsang
gerak rumen. Secara oral, preparat magnesium sulfat atau sodium sulfat, dengan dosis 100400 gram dapat diberikan dengan aman.
B. Indigesti Rumen Sarat ( asidosis rumen)
Etiologi
Gangguan ini disebabkan karena sapi-sapi memakan bahan makanan penguat yang kaya
akan karbohidrat secara berlebihan.. Selain itu juga karena kesalahan pengelolaan pakan,
sapi-sapi yang terdiri dari berbagai umur yang dicampur dan mendapatkan jenis konsentrat
yang sama, sapi yang lebih kuat akan mendapat porsi jauh lebih banyak daripada yang lemah.
Karena terlalu banyak memakan konsentrat yang terlalu tinggi karbohidratnya, seekor sapi
dapat menderita asidosis rumen. Kejadian rumen sarat banyak ditemui di lapangan dan terjadi
karena kondisi hewan yang jelek dengan kualitas pakan yang kurang bermutu, yang
kebanyakan terdiri dari serat kasar ( jerami ).

Patogenesis
Dalam keadaan normal, hasil pencernaan karbohidrat brupa asam lemak berantai pendek.
Asam cuka ( 60-65%) dan asam susu, atau laktat yang jumlahnya kurang dari 20 mg %
.Asam lain yang jumlahnya sedikit adalah asam semut,valerat, kaproat dan suksinat.
Karena pergantian susunan pakan, dari susunan berimbang ke susunan yang kaya akan
karbohidra, bakteri-bakteri gram coccos bovis

berbiak dengan cepat, dan kemudian

digantikan oleh kuman Lactobacillus. Bakteri in akan menghasilkan asam susu yang
4

berlebihan, sampai 20 %, hingga mampu menurunkan derajat keasaman normal ( pH 6-7 )


menjadi asam sekitar pH 4. Pada saat yang sama histamin juga diproduksikan sebagai hasil
dekarboksilasi histidin
Meningkatnya asam susu yang berlebihan mengakibatkan kenaikan kadar asam di dalam
darah, sehingga terjadi asidosis. Produksi histamin juga akan diserap oleh darah hingga
menyebabkan toksemia.
Pada derajat keasaman (pH) 5,5 dinding rumen jadi mudah mengalami lesi, yang
selanjutnya merupakan pintu bagi bakteri patogen masuk ke jaringan lain melalui aliran
darah. Sebagai akibat matinya bakteri-bakteri yang tidak tahan asam, produksi vitamin B1
juga menurun. Rumen yang pada awal kejadian indigesti berisikan cairan yang cukup, karena
menarik cairan dari jaringan lain, dalam waktu beberapa hari juga akan kekurangan cairan.,
dengan akibat lebih lanjut rumen jadi sarat berisikan ingesta yang kering. Selanjutnya karena
penurunan aliran darah pada dinding rumen dan retikulum, oleh karena meregangnya
jaringan,tonusnya pun akan menurun, sel kekurangan nutrisi, hingga selaput lendir akan
mengalami kematian ( nekrobiosis ) (Subronto, 2008).
Gejala Klinis
Gejala indigesti bentuk ini dimulai dengan adanya rasa sakit pada daerah abdomen.
Hewan nampak lesu dan malas bergerak. Nafsu makan dan minum hilang. Rumen mengalami
distensi ke arah lateral maupun medial. Hewan juga selalu mengalami dehidrasi berat, yang
ditandai dengan keringnya cermin hidung, kulit dsan bulu tampak kering serta bola mata yang
tenggelam di dalam rongga mata. Tinja hanya terbentuk sedikit, konsistensinya lunak seperti
pasta, bercampur lendir, dan berwarna gelap dengan bau yang menusuk
Oleh adanya asam yang berlebihan, asidosis, akan menyebabkan kenaikan frekuensi
pernafasan. Kebanyakan kasus diikuti dengan kelemahan jantung kompensatorik, dengan
pulsus piliformis yang frekuensinya sekitar 120-140 kali/.menit.
Karena dehidrasi yang berat, urin yang terbentuk dan dikeluarkan sangat sedikit bahkan
bisa terjadi anuria.

Terapi
5

Pada gangguan yang bersifat awal, dapat diberikan larutan magnesium sulfat atau
sodiumsulfat 1-2 kali. Antihistamin, seperti Delladryl R sebanyak 10-15 ml secara suntikan.
Pemberian antibiotic secara oral, misalnya penisilin untukmengurangi jumlah Lactobacillus
dengan dosis 10 juta unit untuk sapi,kemudian diulang 12 jam kemudian (Subronto, 2008).
Pada penderita yang mengalami dehidrasi dilakukan penggantian cairan yang hilang,
jumlahnya sesuai dengan derajat dehidrasi. Untuk mengurangi asidosis dapat diberikan
larutan sodium bikarbonat 2,5% sebanyak 500ml secara intravena perlahan-lahan untuk
menghindari alkaliemia, atau pemberian soda roti 250 gram peroral 2 kali/hari (Subronto,
2008).
C. Alkalosis Rumen
Etiologi
Karena dikaibatkan oleh penggantian pakan dengan senyawa penghasil nitrogen dari
senyawa non-protein, antara lain urea, biuret, dan garam ammonium. Senyawa tersebut
umumnya digunakan sebagai pengganti protein, yang apabila digunakan secara berlebih
dapat menyebabkan terjadinya alkalosis rumen yang disertai dengan intoksikasi
(Subronto,2008)
Patogenesis
Dalam rumen ruminansia, protein dan senyawa yang mengandung N (Non Protein
Nitrogen) dimetabolisir hingga terbentuk ammonia yang merupakan konstituen utama dari
cairan rumen. Bila karbohidrat cukup tersedia sebagai substratnya, ammonia yang terbentuk
berguna untuk pembentukan protein mikroba.
Hidrolisis ureum oleh urease menjadi NH3 dan CO2, berlangsung cepat, kurang dari 1
jam. peningkatan ammonia berakibat naiknya pH isi rumen manjadi 7,5-8,5 atau lebih.
Kenaikan pH tersebut akan menyebabkan mati dan lisinya protozoa dan mikroorganisme
yang tidak tahan suasana alkalis, dan terjadilah indigesti.
Indigesti terjadi karena protozoa yang merupakan 20-50% dari massa mikroba rumen,
atau 10% dari isi rumen, kematiannya akan memerostkan fermentasi dalam waktu 24-48 jam.
Meningkatnya ion NH4+ diduga akan mengakibatkan terjadinya ikatan ion karbonat dalam
hati, hingga terjadi rangsangan saraf-saraf perifer maupun otonom yang menyebabkan
tremor-tremor otot, hipersalivasi, kejanh tetanik, maupun meningkatnya peristaltic usus,
6

Gejala Klinis
Gejala yang nampak adalah seperti gejala sarafi seperti, tremor pada otot-otot perifer, gigi
gemeretak dan hewan tak mampu berdiri. Kekejangan tetanik biaanya muncul tidak bersifat
terus menerus. Pernafasan dangkal dan cenderung dipaksakan. Feses yang keluar bersifat
seperti lendir dan dalam jumlah yang tidak banyak.
Diagnosa
Kalau pH tinggi protozoa akan mengalami kematian. Derajat keasaman7,5 atau lebih
indikatif adanya keracunan atau rumen alkalosis. Kadar NH3-N sebesar 3-6 mg/dl indikatif
untuk rumen alkalosis, yang mungkin karena keracunan urea.
Terapi
Untuk menetralkann isi rumen maka dapat diberikan larutan cuka (vinegar) 5% sebanyak
2-6 liter. Diberikan langsung intraruminal dengan sonde kerongkongan. Penyuntika MgSO4
untuk mengurangi kejang otot secara intramuscular juga dapat dilakukan.

hidrolisis
urea
(larut air)

CO2

+ ammonia

sb. asam amino bakteri

menaikkan pH rumen, amonia terabsorbsi

pH < 9 ion amonium, tidak terabsorbsi


> 9 amonia, terabsorbsi
metabolik alkalosis sistemik

Gambar 1. Proses Skematik Terjadinya Rumen Alkalosis

D. Kembung Rumen (Meteorismus, Timpani Rumen, Bloat)


Etiologi

Faktor pakan yang termasuk dalam tanaman leguminosa antara lain alfafa dan ladino.
Imbangan antara pakan hijau dan konsentrat yang tidak seimbang, serta tanaman yang
dipanen sebelum berbunga(muda) dapat berpotensi terjadinya kembung rumen.keadaan sapi
juga berpengaruh dalam timbulnya kembung antara lain factor keturunan dan susunan serta
pH saliva yang pada normal dapat mencegah pembentukan busa berisikan gas.
Pathogenesis:
Sapi memakan tanaman yang dapat memacu kembung

Gas tertimbun di dalam rumen


Vol. rumen meningkat
rumen berkontraksi kuat untuk membebaskan gas
Penyerapan gas beracun (H2S
dan histamine)
Gejala
RumenKlinis:
terdesak ke thorak
gas tidak keluar
kematian
Tampak pembesaran rumen, menggembung pada daerah fossa paralumbar sebelah kiri.sapi
kontraksi rumen
tampakDispnoe
menjulur-julurkan leher kedepan,
tampakturun
gelisah. Nafsu makan hilang. Pulsus
mengalami peningkatan. Rumen mengalami distensi arah medial yang dapat diketahui dengan
palpasi rectal. Pada perkusi atas daerah rumen akan ditemukan suara timpani. (Subronto, 2008)
Diagnosis
Ditentukan berdasarkan anamnesis, gejala klinis saat pemeriksaan, dan riwayat ganti pakan
secara mendadak. Diagnosis banding yang perlu dipertimbangkan keracunan insektisida fosfor
organik, karbonat, chlorinated hydrocarbon, nitrat, sianida, strichnin, dan grain overload/asidosis
rumen (Soebronto,2008).
Terapi:
Dengan perlakuan trokarisasi atau pemberian obat karminativa. Karminativa merupakan
obat yang dapat meningkatkan pengeluaran gas dari lambung ( via eruktasi ). Umumnya berupa
minyak volatil yang mudah diekskresikan lewat paru-paru, ginjal, dan kulit.
Contoh :
- terpentin
- ginger
- pipermin
- camphor
- serbuk anisi
- menthol
mekanisme kerja : pada iritasi mukosa GI, merelaksasikan spingter kardia sehingga gas
keluar. (Howard, 2006)
E.

Indigesti dengan toksemia.


8

Etiologi:
Karena adanya senyawa-senyawa amine .Senyawa yang berlebihan akan diserap oleh
darah.
Patogenesis:
Toksik dari senyawa yang berlebihan akan menyebar ke organ tubuh melalui darah. Sel hati
mengalami keracunan akibat senyawa amine yang bersifat toksik. Gangguan metabolisme
karbohidrat mengakibatkan penurunan kadar glukosa dalam darah. Peningkatan pemecahan
protein akan terjadi peningkatan senyawa non protein nitrogen dalam darah. Hal ini akan
mempengaruhi kerja setiap organ. Gangguan sirkulasi akan diikuti dengan gangguan pernafasan
yang menagkibatkan lemahnya hewan penderita. (Subronto, 2008)
Gejala Klinis:
Hewan mengalami kelemahan hingga tidak mampu berdiri. Mengalami anuria, nafsu makan
menurun, tidak ada aktifitas memamahbiak. Feses yang dikeluarkan berbentuk pasta dan berbau
menusuk. (Subronto, 2008)
Diagnosis:
Perlu dibedakan dari keracunan bahan-bahan anoganik dalam dosis subletal serta dari
penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Clostridium botulinum dan Cl. Perfringens.
Terapi:
Terapi yang diberikan biasanya bersifat simtomatik. Pemberian cairan elektrolit dan
dextrose fisiologis. Diberikan pula obat yang merangsang ruminatoria dan pemberian
antihistamin (diphenhidramin HCl).
2. Indigesti Kronis ( Indigesti Vagus)
Indigesti ini merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan hilangnya motilitas
rumen, hilangnya proses mastikasi, lambatnya pasasi tinja dan adanya distensi rumen. Penurunan
motilitas rumen diakibatkan karena adanya lesi yang mengenai ramus ventralis dari nervus
vagus. Indigesti ini berlangsung kronik dalam beberapa minggu.
Gejala Klinis:
Terjadi anorexia, penurunan produksi susu, dan penurunan berat badan hewan. Pada sapi
betina dapat memperlambat waktu partus
Pathogenesis
Nervus vagus memiliki 2 cabang yaitu cabang dorsal yang menginervasi bagian kiri rumen
dan reticulum, serta cabang

ventral yang menginervasi bagian lain rumen dan reticulum,

keseluruhan omasum dan sebagian abomasum. Cabang ventral nevus vagus berpangkal di daerah
distal kerongkongan, pada bagian ventralnya dan melekat di daerah kraniolateral pada reticulum
sebelah kanan. Jika terjadi radang pada reticulum, ramus ventralis nervus vagus akan mengalami
gencetan dan menimbulkan lesi yang berakibat kematian sel saraf. Karena terjadinya gangguan
fungsi penghantaran reflex pada lambung maka akan terjadi kelambatan proses pencernaan.
Diagnosis: Perlu dibandingkan dengan dysplasia abomasum dan hasil pemeriksaan
laboratories.
9

Tipe dalam indigesti vagus :


1. Tipe I : Terjadi gas bebas karena kegagalan eruktasi
2. Tipe II : Kegagalan transport pada omasum
3. Tipe III : Impaksi aomasum atau stenosis pylorus
4. Tipe IV : Indigesti akibat kenaikan usia bunting atau obstruksi sebagian
Prognosis: Kebanyakan kasus berakhir dengan kematian.
Terapi: Pada proses yang masih awal, pengobatan intensif terhadap retikulo-peritonitis
dapat menyembuhkan indigesti vagus secara tidak langsung. (Howard, 2006)
B. MANAJEMEN NUTRISI BAGI TERNAK
Kebutuhan ternak akan zat gizi terdiri atas kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Zatzat pakan dalam ransum hendaknya tersedia dalam jumlah yang cukup dan seimbang sebab
keseimbangan zat-zat pakan dalam ransum sangat berpengaruh terhadap daya cerna (Tillman et
al., 1991). Kemampuan ternak ruminansia dalam mengkonsumsi ransum dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu : 1) faktor ternak itu sendiri yang meliputi besar tubuh atau bobot badan,
potensi genetik, status fisiologi, tingkat produksi dan kesehatan ternak; 2) faktor ransum yang
diberikan, meliputi bentuk dan sifat, komposisi zat-zat gizi, frekwensi pemberian, keseimbangan
zat-zat gizi serta kandungan bahan toksik dan anti nutrisi; dan 3) faktor lain yang meliputi suhu
dan kelembaban udara, curah hujan, lama siang atau malam hari serta keadaan ruangan kandang
dan tempat ransum. Konversi pakan dipengaruhi oleh ketersediaan zat-zat gizi dalam ransum
dan kesehatan ternak, semakin tinggi nilai konversi pakan berarti pakan yang digunakan untuk
menaikkan bobot badan persatuan berat semakin banyak atau efisiensi pakan rendah (Siregar,
1994).
B.1 Kebutuhan Pakan
B. 1.1 Kebutuhan Air
Air merupakan bahan pakan utama yang tidak bisa diabaikan, tubuh hewan terdiri dari
70% air, sehingga air benar-benar termasuk kebutuhan utama yang tidak dapat diabaikan.
Kebutuhan air bagi ternak tergantung pada berbagai faktor yaitu kondisi iklim, bangsa sapi, umur
dan jenis pakan yang diberikan (Sugeng, 1998). Air dalam tubuh ternak berfungsi sebagai
transportasi zat pakan melalui dinding-dinding usus ke dalam peredaran darah, mengangkut zatzat sisa, sebagai pelarut beberapa zat dan mengatur suhu tubuh (Siregar, 1994). Air minum sangat
dibutuhkan bagi kesehatan sapi. Kebutuhan air minum sapi kurang lebih 20-40 liter/ekor/hari
yang harus disediakan dalam kandang (Setiadi, 2001).

10

B.1.2 Kebutuhan Hijauan


Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa
daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga (Sugeng, 1998). Menurut Lubis (1992)
pemberian pakan pada ternak sebaiknya diberikan dalam keadaan segar. Pemberian pakan yang baik
diberikan dengan perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum), apabila hijauan yang diberikan
berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55 : 45 dan hijauan yang diberikan berkualitas
sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi 64 : 36 (Siregar 2008).
Jerami adalah sisa-sisa hijau-hijauan dari tanam-tanaman sebangsa padi dan leguminosa, setelah
biji-bijinya dipetik untuk dimanfaatkan oleh manusia. Jerami mengandung protein, pati dan lemak
jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hijauan, sedangkan kadar serat kasarnya jauh lebih tinggi.
Jerami yang biasa digunakan untuk bahan pakan adalah jerami padi, jerami jagung, gandum (Lubis,
1992). Menurut Siregar (1994), jerami padi mengandung 21% bahan kering (BK), 9,2% protein kasar
(PK) , 27,4% serat kasar (SK) dan 41% total digestible nutrients (TDN).

B. 1.3 Kebutuhan Konsentrat


Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif rendah dan
mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian
seperti jagung giling, menir, dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan
penguat adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai
gizinya rendah. (Sugeng, 1998). Menurut Darmono (1999) konsentrat adalah bahan pakan yang
mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian
atau dari pabrik dan umbi- umbian.
Bekatul dalam susunannya mendekati analisis dedak halus, akan tetapi lebih sedikit
mengandung selaput putih dan bahan kulit, di dalam bekatul juga tercampur pecahan halus dari
menir. Kandungan nutrien dari bekatul adalah 15% air, 14,5% PK, 48,7% bahan ekstrak tanpa
nitrogen (BETN), 7,4% SK, 7,4% LK dan 7,0 % abu, kadar protein dapat dicerna 10,8% dan
Martabat pati (MP) = 70 (Lubis, 1992). Menurut Santosa (1995) bekatul mengandung 85% BK,
14% PK, 87,6% TDN, 0,1% kalsium (Ca) dan 0,8% phospor (P).
Ampas tahu adalah ampas yang diperoleh dari pembuatan tahu yang diberikan kepada ternak
besar dan kecil. Ampas tahu dalam keadaan segar mengandung lebih dari 80% air. Kandungan
nutrien dari ampas tahu adalah 84% air, 5% PK, 5,8% (bahan ekstrak tanpa nitrogen) BETN, 3,2
% SK, 1,2% LK, dan 0,8% abu. Ampas tahu yang sudah dikeringkan masih mengandung kirakira 16% air, dengan kadar protein dapat dicerna (Prdd) 22,3% dan nilai MP=62 (Lubis, 1992).
Menurut Siregar (1994) ampas tahu mengandung 23% BK, 23,7% PK, 23,6% SK dan 79% TDN.
11

Ketela pohon (Manihot utilissima) mempunyai umbi dengan kadar tepung yang sangat tinggi.
Umbi ketela pohon yang masih segar tidak dianjurkan diberikan pada ternak secara rutin, karena
mengandung racun sianida yang sangat berbahaya (Lubis, 1992). Menurut Siregar (2008),
kandungan nutrisi ketela pohon adalah 32,3% BK, 3,3% PK, 4,2% SK, 81,8% TDN.

MIKROFLORA
Kecernaan pada ruminansia sangat tergantung pada populasi dan jenis mikroba yang
terdapat pada rumen . kehidupan mikroba rumen sangat tergantung pada jumlah nutrisi yang
berasal dari pakan. Untuk perkembangbiakan, mikroba rumen membutuhakn minimal 8% protein
pakan atau rata-rata membutuhkan minimal 50 mg/L cairan rumen. Defisiensi protein akan
menurunkan aktivitas mikroflora rumen dan laju digesti selulosa. Konsentrasi NH3 yang optimal
diperlukan untuk memaksimalkan laju fermentasi dan juga memaksimalkan laju sintesis protein
mikroba (Sumardi, 2008).
Bakteri selulolitik membutuhkan NH3 sebagai sumber nitrogen (N). Chikunya dkk,
(1996) menyatakan bahwa ammonia merupakan precursor utama protein mikroba dan esensial
untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri rumen.
Bakteria Rumen
Bakteria rumen berbentuk bulat atau seperti cocci dengan ukuran 1-250

. Rumen

dihuni bakteria yang bersifat anaerob obligat, beberapa bersifat anaerob fakulatif. Bakteria kecil
merupakan jumlah dari setengah seluruh biomas rumen tetapi berperanan besar dalam pekeerjaan
metabolik.Pekerjaan metabolik bakteria relatif besar ukurannya meskipun pekerjaan mikrobia
besar ini tak dapat dikesampingkan, mikrobia besar ini misalnya : selenomonas, oscillospira,
flagellata, protozoa dan phycomycetes (Soemardi, 2008).

12

Tabel 1. Bakteri Mikroflora Rumen dan Fungsi serta produknya

B. Protozoa
Sebagian besar protozoa yang terdapat didalam rumen adalah cilliata meskipun flagellata
juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non pathogen dan anaerobic michroorganism. Pada
kondisi rumen yang normal dapat dijumpai ciliata sebanyak 10 5 - 106 perml isi rumen
(Soetanto,2000)
Para ahli makanan ternak ruminansia maupun ahli fisiologi lebih suka mengklasifikasikan
protozoa/ciliata rumen kedalam dua kelompok besar yaitu: Oligotricha dan Holotricha.
Oligotrichia yang mempunyai ukuran sel lebih kecil dan hanya memiliki cilia di sekitar prostoma
(mulut) Holotricha yang mempunyai ukuran sel lebih besar dengan cilia menutup seluruh tubuh
(Soetanto,2000)
Oligotricha

13

Pencernaan selulosa dapat dilakukan karena protozoa memangsa bakteri dan bakteri inilah
yang akan menghasilkan enzim selulase didalam tubuh protozoa sehingga selulosa yang
dimangsa dapat dicerna. Bakteri selulolitik juga diketahui hidup secara simbiosis dengan
Oligotricha didalam selnya. Contoh ; Diplodinium dentatum, Eudiplodinium bursa, Polypastron
multivesiculatum, Entodinium caudatum
Holotricha
Jenis ciliate rumen ini mempunyai peranan penting dalam metabolisme karbohidrat dengan
jalan menelan gula segera setelah masuk ke rumen dan menyimpannya dalam bentuk
amilopektin, yang selanjutnya akan melepaskan kembali senyawa ini kedalam cairan rumen pada
saat populasi Holotricha mengalami lisis atau pada fase pertumbuhannya. Mekanisme ini
mempunyai pengaruh positif terhadap tersedianya karbohidrat dapat terfermentasi (fermentable
carbohydrate) bagi bakteri rumen, terutama apabila tidak terdapat lagi karbohidrat dalam
makanan misalnya pada saat ternak beristirahat. Contoh ; Isotricha intestinalis, Isotricha
prostoma, Dasytricha rumiantium
C. Jamur
Salah satu ciri khas jamur rumen ini bila dibandingkan dengan jenis jamur lainnya adalah
kebutuhannya akan kondisi absolut anaerobik (strictly anaerobic) untuk pertumbuhan dan
terbentuknya senyawa hidrogen (H) dalam proses fermentasi selulosa. Siklus kehidupan
mikroorganisme ini dilaporkan berlangsung antara 24 30 jam, menandakan bahwa jamur rumen
sangat erat kaitannya dengan material yang sukar dicerna. Sampai dengan saat ini telah dikenal
lebih dari 20 spesies yang berbeda, meskipun sebagian belum mempunyai nama (Soetanto,2000)
DAFTAR PUSTAKA
.

Darmono. 1999. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.


Howard, Jimmy L. 2006. Current Veterinary Therapy 4: Food Animal Practice. W.B
Saunders Company: Philadelphia
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.
Setiadi, B. 2001. Beternak Sapi Daging dan Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang
Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soebronto. 2003.ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Universitas Gadjah Mada Press :
Yogyakarta
14

Soetanto Hendrawan. 2000. Bahan Kuliah Nutrisi Ruminansia.

Jurusan Nutrisi &

Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya-Malang


Sugeng, Y.B. 1998. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumardi. 2008. Jumlah Mikroba dan pH Rumen Serta Efisiensi Produksi Susu Sapi
Friesan Holstein Akibat Penambahan Tepung Daun Katu (Sauropus androgynous,
L.Merr) Dalam Ransum. Dikutip dari Agromedia Vol 26, No.1 Februari 2008
Tillman, A. D.,S, Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo.
1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

15