Anda di halaman 1dari 7

Definisi

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal.
Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya
menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan
menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan
membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan
membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang
disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga
mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di
setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah
diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang
kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.
( http://sehatherba.com/artikel-kanker/pengertian-kanker-cancer.html6.26)
KANKER NASOFARING Merupakan kanker yang terdapat pada nasopharing, berada di antara belakang
hidung dan esofagus.( http://www.scribd.com/doc/24369010/KANKER-NASOFARING6.23)
Kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang
hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut. Letaknya yang berdekatan, membuat penyebarannya
menjadi mudah terjadi pada bagian mata, telinga, kelenjar leher dan otak.
(http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/perokok210708.htm6.34) Kanker nasofaring merupakan
salah satu tumor ganas pada daerah tenggorok. Kanker nasofaring bisa menyerang anak-anak dan dewasa
muda. Penderitanya kebanyakan berusia 40-60 tahun, dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan
2,5 : 1.
Etiologi
Penyebab kanker nasofaring masih belum dapat diketahui dengan pasti dan merupakan multifaktor, seperti
virus Epstein Barr, genetik, diet, lingkungan, dan merokok. Virus ini juga terdapat pada penyakit lain yang
bukan kanker.
Penyebab kanker nasofaring adalah infeksi dari virus
Epstein-Barr. Virus Epstein-Barr adalah sejenis virus
keluarga herpes (virus herpes simpleks dan
cytomegalovirus) disebut juga human herpes virus 4 (HHV
4), yang merupakan virus virus yang paling umum yang
terdapat dalam tubuh manusia(penyebab mononukleosis
infeksiosa). Penyebab lain kanker nasofaring selain infeksi
virus Epstein-Barr adalah faktor genetik, senyawa kimia
berupa formaldehyde dan nitrosamine. Nitrosamine di temukan pada ikan yang diasap dan diasinkan yang
terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan. Formaldehyde banyak ditemukan pada minuman yang
beralkohol.
Penyebab kanker nasofaring yang lain adalah merokok dan minum alkohol. Berdasarkan hasil penelitian
terdapat 80% penderita kanker kepala dan leher adalah orang yang memiliki kebiasaan merokok dan
minum alkohol. Faktor genetik (keturunan) menjadi salah satu penyebab kanker nasofaring. ventilasi
lingkungan yang kurang baik/ kelembaban lingkungan yang lebih tinggi, kontak dengan zat-zat kar-sinogen
pada pabrik kimia, genetik (ras/ keturunan), dan peradangan yang kronis.
( http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?
fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=17316). Tidak hanya rokok, bahan makanan
yang menggunakan pengawet maupun rumah dan tempat kerja yang dipenuhi asap beresiko
menimbulkan kanker. "Virus Epstein barr, faktor genetik, faktor lingkungan maupun perilaku diet
yang tidak tepat, juga bisa mempengaruhi terjadinya kanker nasofaring, Pada umumnya kanker

disebabkan karena adanya pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Kanker dapat juga timbul karena
adanya faktor keturunan (genetik), lingkungan, dan juga virus. Kanker nasopharing disebabkan karena
adanya perkembangan sel kanker yang tidak terkontrol di bagian nasopharing. Namun pada banyak kasus,
nasopharing carsinoma disebabkan karena adanya faktor keturunan (genetik).
Adapun faktor resiko penyebab adanya kanker nasopharing, antara lain:
1. Makan makanan asin
Pada banyak kasus di Cina, nasopharing carsinoma disebabkan dari makan ikan asin. Juga
dari bumbu masak tertentu dan makan makanan terlalu panas. Makanan panas atau bersifat

merangsang selaput lendir, seperti alkohol, asap rokok, asap minyak tanah, asap kayu
bakar, asap obat nyamuk, atau asap candu.
2. Virus
Beberapa virus menimbulkan tanda dan gejala seperti demam. Beberapa virus memiliki kemungkinan akan
timbulnya kanker nasopharing. EBV-Virus biasanya yang menyebabkan kanker.
3. Keturunan
Dalam keluarga dengan riwayat terkena kanker -terutama kanker nasophariing- besar kemungkinan untuk
terkena kanker nasopharing daripada yang tidak memiliki riwayat keluarga terkena kanker.
Ada lagi faktor yang memperbesar timbulnya kanker, seperti merokok dan mengkonsumsi
alkohol. Kedua hal ini memungkinkan resiko terkena kanker.
(http://www.scribd.com/doc/24369010/KANKER-NASOFARING
manifestasi
Gejala kanker nasopharing dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
Gejala nasopharing sendiri, berupa Mimisan ringan (keluar darah lewat hidung) atau
sumbatan hidung. Gejala dini lainnya bisa berupa mimisan pada hidung yang terus berulang, ingus
bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus dan pilek pada satu sisi saja.
Gejala telinga, merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius
(saluran penghubung hidung-telinga). Gejalanya berupa telinga berdenging atau berdengung, rasa tidak
nyaman di telinga, sampai nyeri.
Gejala mata dan saraf, dapat terjadi sebagai gejala lanjut karena nasopharing berhubungan dekat dengan
rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejala dapat berupa nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan
wajah (neuralgia trigeminal), pandangan kabur, penglihatan dua (diplopia).
Gejala metastasis/menyebar atau gejala di leher. Berupa bengkak di leher karena
pembengkakan kelenjar getah bening Untuk gejala lanjut dapat diketahui dari kelenjar getah bening
leher yang membesar, nyeri dan sakit kepala, kemudian pada mata terjadi penglihatan ganda,
juling dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena.
*Pada karsinoma nasofaring, se-ring kali muncul gejala-gejala sekunder yang umum di tempat lain/ di luar
tenggorok, yang menimbulkan keluhan sebelum massa, dari tumornya itu sendiri tampak secara kasat mata
dari luar sebagai benjolan pada leher.
Sehingga sering kali saat pasien mengeluhkan gejala-gejala umum tersebut dokter luput terhadap adanya

kemungkinan kanker nasofaring stadium awal karena belum terlihat adanya benjolan pada leher dari luar.
Gejala awal yang tidak khas tersebut sehingga kanker nasofaring sulit didiagnosis pada stadium awal.
Gejala umum yang sering dikeluhkan pada stadium awal berupa keluhan pada telinga maupun keluhan
pada hidung. Keluhan pada telinga berupa kurang pendengaran, telinga terasa penuh seperti terisi air,
berdengung, gemrebeg dan kadang nyeri pada telinga.
Sedangkan keluhan pada hidung dapat dijumpai pilek yang tidak sembuh-sembuh, banyak dan berbau,
hidung terasa buntu. Gejala awal tersebut mudah dan penting untuk diketahui, bahwa adanya benjolan pada
leher menunjukkan suatu proses yang sudah lanjut. Sudah terjadi penyebaran (metastasis) ke kelenjarkelenjar di daerah leher.
Gejala lain yang sering pula ditemukan bila sudah terjadi penyebaran bisa berupa keluhan di luar
tenggorok, seperti penglihatan terasa dobel hingga buta. Kulit di daerah pipi dan hidung kurang sensitif
terhadap rasa sentuhan, nyeri kepala atau pusing. Keluhan di dalam tenggorok sendiri dapat ditemukan
kesulitan menelan akibat massa tumor yang sudah membesar.

Gejala kanker nasofaring pada stadium lanjut berupa gangguan saraf otak seperti
kelumpuhan otot otot faring sehingga sering tersedak, kelumpuhan otot mata, muncul
benjolan leher, kelumpuhan otot bahu dan penyebaran ke organ organ lain.
Penatalaksanaan
a. Radioterapi merupakan pengobatan utama
b. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher (benjolan di leher
yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan
tumor induknya sudah hilang yang terlebih dahulu diperiksa dengan radiologik dan
serologik), pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferan, kemoterapi, vaksin dan
antivirus.
Pemberian ajuan kemoterapi yaitu Cis-platinunt, bleotiyeiti dan 5-fluoroumcil.
Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemoradioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluoroumcil oral sebelum diberikan radiasi yang
bersifat RADIOSENSITIZER.
Dilakukan terapi penyinaran. Jika benjolannya besar atau menetap, mungkin perlu
dilakukan pembedahan.
Beberapa macam pengobatan untuk penderita nasopharing carsinoma, antara lain:
1. Terapi Radiasi
Terapi ini dapat merusak dengan cepat sel-sel kanker yang tumbuh. Terapi ini dilakukan selama 5-7
minggu. Terapi ini digunakan untuk kanker pada tingkatan awal. Efek samping dari terapi ini adalah:
mulut terasa kering, kehilangan pendengaran dan terapi ini memperbesar resiko timbulnya kanker
pada lidah dan kanker tulang.
2. Kemoterapi
Merupakan terapi dengan menggunakan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara
mereduksi sel-sel kanker yang ada, namun adakalanya sel-sel yang sehat (tidak terkena kanker) juga
tereduksi.
Efek samping dari terapi ini adalah: rambut rontok, mual, lemas(seperti kehilangan
tenaga). Efek samping yang timbul tergantung pada jenis obat yang diberikan.

3. Pembedahan
Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengambil kelenjar getah bening yang telah
terkena kanker. (scrib)

Pemeriksaan diagnostic
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil biopsi tumor.
Berdasarkan anamnesis mengenai tanda dan gejala yang dialami. Dilanjutkan dengan
pemeriksaan dengan menekan bagian leher dimana terdapat kelenjar getah bening yang
membengkak. Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik.
Pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan.
Jika dicurigai terjadinya kanker, dapat menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing
yang abnormal tersebut. Dalam penggunaannya diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil
biopsy (sampel) yang kemudian diuji apakah merupakan kanker.
Kemudian menentukan stadium kanker itu dengan cara:
-MRI (membantu melihat kanker yang menyebar di sekitar kepala)
-CT scan (melihat kanker yang tersebar pada tulang)
-Pengambilan biopsy: ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah
bening.
-Sinar X(melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru)
-Pemeriksaan serologi IgA abti EA dab IgA anti VCA

Nasoscopy: Suatu prosedur untuk melihat ke dalam hidung untuk daerah abnormal.
nasoscope Sebuah dimasukkan melalui hidung. nasoscope adalah instrumen, tipis seperti
tabung dengan lampu dan lensa untuk melihat. Ini juga mungkin memiliki alat untuk
menghapus contoh jaringan, yang diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda
kanker Hal ini juga mungkin memiliki alat untuk mengangkat jaringan untuk diperiksa
dibawah mikroskop untuk tanda-tanda penyakit. Juga disebut rhinoskopi.

ujian Neurologis: Serangkaian pertanyaan dan tes untuk memeriksa otak, sumsum tulang
belakang, dan fungsi saraf. Ujian memeriksa status mental seseorang, koordinasi, dan
kemampuan untuk berjalan normal, dan seberapa baik otot-otot, indera, dan bekerja
refleks. Ini juga bisa disebut ujian neuro atau ujian neurologis.

Kepala dan dada rontgen: An ray-x tengkorak dan organ dan tulang di dalam dada. Xray adalah jenis balok energi yang dapat pergi melalui tubuh dan ke film, membuat
gambar dari daerah di dalam tubuh.

MRI (magnetic resonance imaging): Sebuah prosedur yang menggunakan magnet,

gelombang radio, dan komputer untuk membuat serangkaian gambar-gambar detil dari
daerah di dalam tubuh. Prosedur ini juga disebut nuklir Magnetic Resonance Imaging
(NMRI).

CT scan (CAT scan): Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detil dari
daerah di dalam tubuh, yang diambil dari sudut yang berbeda. Gambar-gambar yang
dibuat oleh komputer yang terhubung ke mesin x-ray. pewarna mungkin disuntikkan ke
pembuluh darah atau ditelan untuk membantu organ-organ atau jaringan muncul lebih
jelas. Prosedur ini juga disebut tomografi komputer, computerized tomography, atau
aksial tomografi terkomputerisasi.

PET scan (positron emisi tomography scan): Suatu prosedur untuk menemukan sel
tumor ganas dalam tubuh. Sejumlah kecil glukosa radioaktif (gula) disuntikkan ke
pembuluh darah. Pemindai PET berputar ke seluruh tubuh dan membuat gambar di mana
glukosa sedang digunakan dalam tubuh. sel tumor ganas muncul terang dalam gambar
karena mereka lebih aktif dan mengambil glukosa lebih dari sel normal. PET scan dapat
digunakan untuk menemukan kanker nasofaring yang telah menyebar ke tulang.

Uji laboratorium: Medis prosedur yang menguji sampel jaringan, darah, urine, atau
bahan lainnya dalam tubuh. Tes ini membantu mendiagnosa penyakit, rencana dan
pengobatan cek, atau memantau penyakit dari waktu ke waktu.

Biopsi: Pengangkatan sel atau jaringan sehingga mereka dapat dilihat di bawah
mikroskop oleh ahli patologi untuk memeriksa tanda-tanda kanker.Beberapa faktor
mempengaruhi prognosis (kemungkinan pemulihan) dan pilihan pengobatan
patofisiology
PATO F IS IO L O G I

K A R S IN O M A

N A S O FAR IN G

Virus Epstein Barr (EBV) merupakan virus DNA yang memiliki kapsid icosahedral dantermasuk dalam famili
Herpesviridae. Infeksi EBV dapat berasosiasi dengan beberapa penyakitseperti limfoma Burkitt, limfoma sel T,
mononukleosis dan karsinoma nasofaring (KNF). KNFm e r u p a k a n t u m o r g a n a s y a n g t e r j a d i p a d a s e l
e p i t e l d i d a e r a h n a s o f a r i n g y a i t u p a d a d a e r a h cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuara
saluran eustachii. Banyak faktor yang diduga berhubungan dengan KNF, yaitu(1)Aadanya infeksi EBV,(2)
Faktor lingkungan(3) Genetik 1 ) V i r u s E p s t e i n - B a r r Virus Epstein-Barr bereplikasi dalam sel-sel epitel dan
menjadi laten dalam limfositB. Infeksi virus epstein-barr terjadi pada dua tempat utama yaitu sel epitel
kelenjar saliva d a n s e l l i m f o s i t . E B V m e m u l a i i n f e k s i p a d a l i m f o s i t B d e n g a n c a r a
berikatan denganr e s e p t o r v i r u s , y a i t u k o m p o n e n k o m p l e m e n C 3 d ( C D 2 1 a t a u
C R 2 ) . G l i k o p r o t e i n (gp350/220) pada kapsul EBV berikatan dengan protein CD21
dipermukaan limfosit B3.Aktivitas ini merupakan rangkaian yang berantai dimulai dari masuknya
EBV ke dalamDNA limfosit B dan selanjutnya menyebabkan limfosit B menjadi immortal. Sementara itu,sampai
saat ini mekanisme masuknya EBV ke dalam sel epitel nasofaring belum dapatdijelaskan dengan

pasti. Namun demikian, ada dua reseptor yang diduga berperan dalam m a s u k n y a
d a l a m s e l e p i t e l n a s o fa r i n g ya i t u C R 2 d a n P IG R (

E B V

ke

Polimeric Immunogloblin Receptor


). Sel yang terinfeksi oleh virus epstein-barr dapat menimbulkan beberapa kemungkinan yaitu : sel
menjadi mati bila terinfeksi dengan virus epstein-barr danv i r u s m e n g a d a k a n r e p l i k a s i , a t a u
v i r u s e p s t e i n - b a r r y a n g m e n i n f e k s i s e l d a p a t mengakibatkan kematian virus
sehingga sel kembali menjadi normal atau dapat terjaditransformasi sel yaitu interaksi antara sel
dan virus sehingga mengakibatkan terjadinyaperubahan sifat sel sehingga terjadi transformsi sel
menjadi ganas sehingga terbentuk sel kanker.Gen EBV yang diekspresikan pada penderita KNF
adalah gen laten, yaitu EBERs,EBNA1, LMP1, LMP2A dan LMP2B. Protein EBNA1 berperan
dalam mempertahankanvirus pada infeksi laten. Protein transmembran LMP2A dan LMP2B
menghambat sinyal t y r o s i n e k i n a s e y a n g d i p e r c a y a d a p a t m e n g h a m b a t s i k l u s l i t i k v i r u s .
D i a n t a r a g e n - g e n tersebut, gen yang paling berperan dalam transformasi sel adalah gen LMP1.
Struktur protein LMP1 terdiri atas 368 asam amino yang terbagi menjadi 20 asam amino pada ujung N , 6
segmen protein transmembran (166 asam amino) dan 200 asam amino pada
u j u n g karboksi (C). Protein transmembran LMP1 menjadi perantara untuk sinyal TNF (
tumor necrosis factor
) dan meningkatkan regulasi sitokin IL- 10 yang memproliferasi sel B dan menghambat respon imun
lokal.
2)
Genetik Walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetic, tetapi kerentananterhadap
karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relative menonjol danmemiliki agregasi
familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyteantigen) dan gen pengode
enzim sitokrom p450 2E1 (CYP2E1) kemungkinan adalah genkerentanan terhadap karsinoma
nasofaring. Sitokrom p450 2E1 bertanggung jawab atas aktivasi metabolik yang terkait nitrosamine dan
karsinogen
3 ) F a k t o r l i n g k u n g a n Sejumlah besar studi kasus yang dilakukan pada populasi yang berada di
berbagaidaerah di asia dan america utara, telah dikonfirmasikan bahwa ikan asin dan makanan
lainy a n g a w e t k a n m e n g a n d u n g s e j u m l a h b e s a r n i t r o s o d i m e t h y a m i n e
( N D M A ) , N - nitrospurrolidene (NPYR) dan nitrospiperidine (NPIP ) yang mungkin merupakan
faktor k a r s i n o g e n i k k a r s i n o m a n a s o f a r i n g . S e l a i n i t u m e r o k o k d a n p e r o k o k p a s i f y g
t e r k e n a paparan asap rokok yang mengandung formaldehide dan yang tepapar debu kayu
diakuifaktor risiko karsinoma nasofaring dengan cara mengaktifkan kembali infeksi dari EBV

Menurut Formula Digby, setiap simptom mempunyai nilai diagnostik dan


berdasarkan jumlah nilai dapat ditentukan ada tidaknya karsinoma nasofaring
Tabel 1 Formula Digsby17

Gejala
Nilai

Massa terlihat pada Nasofaring25


Gejala khas di hidung15
Gejala khas pendengaran15

Sakit kepala unilateral atau bilateral5


Gangguan neurologik saraf kranial5
Eksoftalmus5
Limfadenopati leher25
Bila jumlah nilai mencapai 50, diagnosa klinik karsinoma nasofaring dapat
dipertangungjawabkan. Sekalipun secara klinik jelas karsinoma nasofaring,
namun biopsi tumor primer mutlak dilakukan, selain untuk konfirmasi diagnosis
histopatologi, juga menentukan subtipe histopatologi yang erat kaitannya dengan
pengobatan dan prognosis.17