Anda di halaman 1dari 9

RANGKUMAN KEGIATAN

PRAKTIKUM EKOTOKSIKOLOGI PERAIRAN

diajukan unutuk memenuhi tugas mata kuliah Ekotoksikologi

Disusun oleh :

Kelompok 9

Winnie Hertikawati (230210070009)

Willy Lazio (230210070019)

Joy Talita (230210070029)

Aldy Bismar (230210070039)

M.Vikky Arindi (230210070049)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2009
PRAKTIKUM I : UJI TOKSISITAS AKUT

Pendahuluan
Uji Toksisitas Akut merupakan bagian darin Uji Toksistas Kuantitatif. Uji
Toksisitas Kuantitatif digunakan untuk mengetahui dosis atau konsentrasi aman
bagi manusia dan atau mencari kriteria untuk standarisasi kualitas lingkungan.
Uji Toksisitas Akut ini dilakukan dengan pemaparan atau pendedahan
jangka pendek terhadap suatu bahan toksik. Efek akut akan terjadi dalam waktu
24 s/d 96 jam dengan konsentrasi atau dosis yang tinggi.
Parameter yang diamati adalah kematian (mortality). Setelah kita
mengetahui jumlah kematiannya, kita dapat mengetahui Lc50. Lc50 dikatakan
terjadi apabila konsentrasi bahan toksik yang mematikan 50% atau lebih pada
hewan uji dalam selang waktu yang singkat, misalnya 24 jam, 48 jam s/d 14 hari.

Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui tingkat mortalitas atau kematian hewan uji terhadap
suatu bahan toksik dengan menggunakan Uji Toksisitas Akut dengan selang
waktu 15 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam, 16 jam, dan 24 jam.

Analisis Data
1. Data Kelompok
Jenis Bahan Toksik : Ekstrak Nimba
Konsentrasi Bahan Toksik : 0,1 µg/ml
Artemia
Waktu Dedah
(1) (2) (3)
15 menit - 1 -
30 menit 1 - -
1 jam - 2 1
2 jam - - 2
4 jam 2 4 -
6 jam - - 3
8 jam 3 - 4
16 jam 4 5 6
24 jam 6 5 8
Jumlah 6 5 8
2. Data Kelas
a. Data Persentase Mortalitas Hewan Uji setelah Pemaparan 24 jam
Jenis Hewan Uji : Artemia
Jenis Bahan Toksik: Ekstrak Nimba

Konsentrasi
Ulangan
10 µg/ml 1 µg/ml 0.1 µg/ml
1 90 20 60
2 30 30 30
3 60 30 80
Rerata 60 26.67 63.33

Jenis Hewan Uji : Daphnia


Jenis Bahan Toksik: Ekstrak Nimba

Konsentrasi
Ulangan
10 µg/ml 1 µg/ml 0.1 µg/ml
1 80 60 30
2 90 40 40
3 90 40 30
Rerata 86,67 46,67 33,33

b. Data Analisis Probit LC50 – 24 jam


Jenis Hewan Uji : Artemia
Jenis Bahan Toksik: Ekstrak Nimba
d n r p x x2 y Xy

10 30 18 60 1 1 5,25 5,25

1 30 8 26,67 0 0 4,36 0

0,1 30 19 63,33 -1 1 5,33 -5,33

Ʃ 0 2 14,94 -0,08
LC50 = - anti log m = 0,56

Jenis Hewan Uji : Daphnia


Jenis Bahan Toksik : Ekstrak Nimba
d n r p x x2 y Xy

10 30 26 16,67 1 1 6,08 6,08

1 30 14 46,67 0 0 4,90 0

0,1 30 10 33,33 -1 1 4,56 -4,56

Ʃ 0 2 15,54 1,52

LC50 = - anti log m = - 0,57

Kesimpulan
Jenis hewan uji yang digunakan adalah artemia. Kemudian bahan toksik
yang digunakan adalah ekstrak nimba dengan konsentrasi 0,1 µg/ml. Ekstrak
nimba diperoleh dari ekstraksi nimba yang berpotensi sebagai pemberantas hama
penyakit tanaman holtikultura. Dari data yang didapat, tingkat mortalitasnya
tinggi. Tetapi seharusnya dengan kadar konsentrasi yang lebih rendah dari
konsentrasi kelompok lain, tingkat mortalitasnya rendah. Hal ini tejadi karena
artemia di dalam botol vial kekurangan oksigen dan juga dikarenakan terlalu
banyak mendapat guncangan pada saat dibawa.
PRAKTIKUM II : UJI TOKSISITAS SUBLETAL

Pendahuluan
Uji Toksisitas Subletal merupakan bagian dari ujui toksisitas kuantitatif
yang dilakukan dengan pemaparan atau pendedahan dalam jangka waktu medium
sebagai bentuk skrining kedua atas indikasi dampak toksisitas. Biasanya efek
subletal dapat terjadi dalam beberapa hari, minggu sampai beberapa bulan.
Subletal ini menggunakan konsentrasi atau dosis menengah.
Parameter yang diamati dari uji toksinitas subletel pada ikan umumnya
gejala fisiologis seperti aktifitas gerak (gerak aktif / pasif, gerak renang, gerak
operculum / mulut ikan dalam aktifitas respirasi), gejala klinis (produksi lender
pada sisik, keadaan insang).Pada akhir pengamatan ikan masih tetap hidup,
sehingga bisa diamati kondisi hematologinya seperti kadar Hb dan nilai
hematokrit serta bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan organ dalam saluran
pencernaan seperti intestine, hati dan ginjal.

Tujuan Praktikum
Untuk mengamati gejala fisiologis, gejala klinis dan mortalitas dengan
waktu 1 jam hingga 1 minggu.

Analisis Data
1. Data Kelompok
Bahan Uji : PbO
Konsentrasi : 0.048 mg/L
Waktu Gejala Fisiologis Gejala Mortalitas Nilai
He (%)
Dedah Gerak operculum Aktifitas gerak Klinis
1 jam 79 + + 0
1 hari
2 hari 94 - + 0
3 hari 100 - ++ 1
4 hari 106 - ++ 0
5 hari 86 - ++ 0
6 hari 92 - ++ 0
7 hari 80 - ++ 0
2. Data Kelas
Jenis Polutan Gejala Fisiologis Gejala Survival Nilai He
Rate (%) (%)
Jenis Konsentrasi GO rata-rata AG rata- Klinis
rata
PbO 0,072 68,3 + ++ 50%
0,048 79,6 - ++ 90%
0,024 83,5 + ++ 50%
CuSO4 0,30 91,6 + + 100%
0,20 81,9 - + 40%
0,10 104 + + 50%
FeCl2 0,585 123 ++ ++ 50%
0,39 93,25 - ++ 90%
0,195 127,8 ++ + 60%
Kontrol - 112,5 + + 40%

Kesimpulan
Ikan yang diuji sebanyak 10 ekor dengan bahan polutan yang terdiri dari
PbO, CuSO4,dan FeCl2 dengan konsentrasi yang berbeda-beda yang berguna
untuk perbandingan jenis polutan mana yang paling berbahaya bagi kelangsungan
hidup ikan. Dari Bahasan meliputi jenis polutan, konsentrasi polutan, waktu
dedah, keadaan ikan uji, gejala fisiologis, gejala klinis, survival rate dan nilai He
(terutama untuk ikan uji ukuran 50gr keatas) menurut masing – masing kolom.
Dari hasil diatas, didapatkan hasil mortalitas tertinggi pada konsentrasi 0,20
dengan bahan polutan CuSO4, dan yang survival rate tertinggi pada konsentrasi
0,30 dengan polutan CuSO4. Sedangkan pada kelompok kontrol mortalitas yang
terjadi 60%, menurut kelompok kami faktor yang terjadi pada kontrol karena
kondisi hewan uji yang digunakan kurang sehat atau adanya sisa hasil
metabolisme yang ada berlebihan.
PRAKTIKUM III : ANALISIS HISTOPATOLOGI
Pendahuluan
Histopatologi adalah cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi
jaringan dalam hubungannya dengan penyakit. Histopatologi sangat penting
dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan dalam
penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang
diduga terganggu.
Histopatologi dapat dilakukan dengan mengambil sampel jaringan
(misalnya seperti dalam penentuan kanker payudara) atau dengan mengamati
jaringan setelah kematian terjadi. Dengan membandingkan kondisi jaringan sehat
terhadap jaringan sampel dapat diketahui apakah suatu penyakit yang diduga
benar-benar menyerang atau tidak.

Tujuan Praktikum
• Mengetahui prosedur /metode dalam pembuatan preparat histologi.
• Mengetahui kelebihan dan kekurangan prosedur pembuatan preparat
histologi.
• Mengetahui 2 perbandingan jaringan jantung normal dan abnormal
dari sudut histologi.

Analisis Data
1. Insang

KONTROL PATOLOGIS

Ukuran Besar (normal) kecil (menyusut),


aplasia
Warna Merah marun Merah marun(makin
pekat, makin hitam)

Tanda Iritasi - ada


(necrosis)
Karakter Khusus normal stuktur jaringan rusak

2. Intestinum
KONTROL PATOLOGIS
Ukuran Bulat besar (normal) Hiperplasia, lonjong
besar
Warna Merah marun Merah marun(makin
pekat) (makin hitam)

Tanda Iritasi - -
(necrosis)

Karakter khusus bulat Bentuknya berubah


lonjong

3. Ren

KONTROL PATOLOGIS
Ukuran normal hiperplasia, besar
Warna Merah terang Merah lebih pekat

Tanda Iritasi - ada


(necrosis)
Karakter khusus normal -

4. Hepar
KONTROL PATOLOGIS

Ukuran normal hiperplasia,


besar

Warna Merah marun hitam Merah marun

Tanda Iritasi - ada


(necrosis)

Karakter khusus - -

Kesimpulan
Pada data hispatologi terdapat perbedaan control dan patologis. Hal ini
disebabkan preparat control tidak tercemar polutan. Prearat ikan yang digunakan
seperti insang, intetinium, ren dan hepar. Pada insang ikan perbedaan control
dengan patologis terdapatnya necrocyst, struktur jaringn yang rusak, lamella
tertutup, hyperplasia dan warna maki gelap. Pada intestinum warna makin gelap,
hipoplasia terdapatnya noktah hitam dan berbentuk lonjong. Pada preparat
patologis ren warna lebih gelap dibandingkan control, hyperplasia terdapatnya
noktah, jaringan rusak dan ukuran membengkak. Pada preparat hepar patologis
warna berubah menjadi merah keunguan, hyperplasia terdapatnya necrocyst dan
jaringan rusak.