Anda di halaman 1dari 16

Pada bab ini mengemukakan hasil dari pelaksanaan asuhan keperawatan yang dimulai dengan

pengkajian, merumuskan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada


klien Tn. J dengan diagnosa Abses Perianal Post Debridement, yang dirawat di ruang
perawatan bedah Flamboyan RSUD Tarakan.
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 25 Juli 2011 dan telah diperoleh data sebagai berikut :
1. Biodata
Klien bernama Tn. J, masuk rumah sakit pada tanggal 23 Agustus 2011, umur klien 37 tahun,
status perkawinan menikah, jenis kelamin laki-laki, agama Islam, pendidikan terakhir SMP,
pekerjaan swasta, diagnosa medis Abses Perianal Post Debridement dengan nomor register
14.34.XX.
2. Riwayat keperawatan
a. Keluhan utama
1) Saat masuk rumah sakit (tanggal 23 Juli 2011) klien mengatakan nyeri/keram pada kedua
tungkai/kaki.
2) Saat dikaji (tanggal 25 Juli 2011) klien mengatakan nyeri pada daerah luka operasi bagian
dekat anus
b. Riwayat penyakit sekarang
Klien mengatakan nyeri pada daerah luka operasi pada bagian dekat anus sebelah kiri, yang
dirasakan panas dengan skala 6 (sedang), nyeri yang 10 menit, klien mengatakan
nyeridirasakan hilang timbul dengan durasi bertambah berat pada saat klien bergerak, dan
klien merasa ringan pada saat klien berbaring, klien tampak lemah.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien mengatakan pernah masuk rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu karena operasi
ambeien, klien juga hanya mengalami batuk pilek dan demam, klien mengatakan tidak
memiliki alergi baik makanan maupun obat-obatan, klien juga mengatakan tidak mempunyai
penyakit tekanan darah tinggi atau penyakit gula darah.
d. Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit yang sama dengan
dirinya dan tidak ada yang mempunyai penyakit gula darh atau tekanan darah tinggi. keluarga
klien hanya saja mengalami batuk pilek dan demam.

e. Genogram keluarga

Bagan 3.1 Genogram keluarga


Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Garis Perkawinan
: Garis keturunan
? : Tidak diketahui

: Tinggal serumah
: Klien
3. Data psiko sosial ekonomi
Klien berharap cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya dan ingin sekali berkumpul
dengan keluarganya. Klien juga mengatakan lega dan bersyukur karena operasinya berjalan
dengan baik. Klien kooperatif dan mampu berinteraksi dengan orang lain, Klien
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa indonesia selama di rumah sakit kien ditemani
oleh keluarganya.
4. Data spiritual
Klien beragama islam, klien mengatakan sebelum sakit klien rajin sholat lima waktu,
sedangkan selama dirumah sakit klien mengatakan tetap berdoa atas kesembuhannya, tetapi
klien tidak pernah melaksanakan sholat lima waktu karena keadaan tidak memungkinkan.
5. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi (makan dan minuman)
1) Di rumah
Klien mengatakan makannya baik, klien makan tiga kali sehari dengan menu makanan adalah
nasi, lauk dan sayuran, klien tidak mengalami kesulitan menelan, cara pemenuhan melalui
oral (mulut) klien tidak 6-8memiliki makanan pantangan, klien biasanya minum air putih
gelas/hari.
2) Di rumah sakit
Klien mengatakan selama di rumah sakit klien juga tidak mengalami kesulitan untuk makan,
klien menghabiskan porsi yang disediakan oleh ahli gizi di rumah sakit, klien tidak memiliki
makanan pantangan dan juga obat-obatan. Selama di rumah sakit klien sering minum air
putih 4-7 gelas, klien juga terpasang infus dengan cairan RL 20 tetes/menit (2000 cc)

b. Eliminasi
1) Di rumah
Klien mengatakan BAB sekali dalam sehari dengan konsistensi lunak, warna kecoklatan,
klien tidak mengalami gangguan BAB, klien juga mengatakan BAK 4-5 kali sehari dengan
konsistensi cair dan warna kekuning-kuningan.
2) Di rumah sakit
Klien mengatakan selama di rumah sakit sudah tiga hari belum pernah BAB, sedangkan BAK
biasanya 3-4 kali sehari.
c. Istirahat dan tidur
1) Di rumah
Klien mengatakan biasanya tidur malam pada pukul 22.00-05.00 pagi WITA. Dan tidur siang
biasanya klien tidak tidur karena pergi bekerja, klien mengatakan tidak memiliki kebiasaan
sebelum tidur.
2) Di rumah sakit
Klien mengatakan selama dirumah sakit klien tidur pada pukul 21.00 dan klien biasanya
bangun pada pukul 05.00, klien mengatakan tidak mengalami gangguan tidur. Klien dapat
beristirahat dengan tenang.

d. Aktivitas dan gerak


1) Di rumah
Klien biasanya melakukan olahraga dan bekerja, klien juga sering menonton TV dan

berkumpul dengan keluarga.


2) Di rumah sakit
Klien mengatakan setelah dioperasi klien hanya berbaring di atas tempat tidur karena masih
mengalami nyeri pada daerah operasi, pada saat dikaji semua aktivitas klien dibantu oleh
keluarga.
e. Personal hygiene
1) Di rumah
Klien selama di rumah membersihkan diri (mandi) dilakukan secara mandiri tanpa bantuan
keluarga/orang lain. Klien mandi 2 kali sehari dengan menggunakan sabun, sampo, dan
menggosok gigi.
2) Di rumah sakit
Klien mengatakan selama dirawat di rumah sakit klien sering mandi dan sebelum dilakukan
tindakan operasi klien sudah mandi dan menggosok gigi. Setelah dilakukan tindakan operasi
klien hanya saja menyeka badannya dan menggosok gigi seperti biasanya (3 kali sehari yaitu
pagi, sore dan sebelum tidur).

6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Kesadaran (GCS)
Klien tampak lemah dengan kesadaran Compos Mentis E4 M6 V5.
2) Antropometri
TB : 145 cm
BB : 53 Kg
b. Tanda-tanda vital
TD : 110/80 mmHg CS : 36
N : 96 kali/menit RR : 21 kali/menit
c. Kepala
1) Rambut
Rambut klien merata seluruh kepala dan lebih tebal, lurus dan berwarna 5 cm, tidak ada
massa/benjolan dan tidakhitam, panjang rambut berketombe.
2) Kulit kepala
Tidak ada benjolan/massa pada kepala dan tidak terdapat nyeri tekan.
3) Wajah
Ekspresi wajah klien meringis, wajah klien simetris dan tidak terdapat pembengkakan, klien
dapat mengunyah dengan sama sisi antara kiri dan kanan
4) Mata
Alis mata merata antara kiri dan kanan, kelopak mata tidak ada nyeri tekan, bola mata
simetris antara kiri dan kanan, konjungtiva berwarna merah muda (tidak anemis) dan sklera
tidak ikterik, pupil pada saat diberikan refleks cahaya pupil akan miosis dan isokor.
5) Mulut
Mulut klien bersih, klien merasa ingin muntah pada saat diberikan sentuhan pada palatum
dengan menggunakan tong spatel.
6) Bibir
Bibir klien simetris antara atas dan bawah, mukosa bibir lembab, tidak terdapat labioskizis
dan palatoskizis.
7) Hidung
Lubang hidung simetris antara kiri dan kanan, tidak terdapat sekret pada lubang hidung,
mukosa lubang hidung berwarna merah muda dan terdapat silia.

8) Telinga
Telinga simetris antara kiri dan kanan, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat serumen, klien
dapat mendengarkan detak jarum jam.
d. Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid, tidak terdapat nyeri tekan, nadi karotis teraba dan
tidak terdapat peningkatan vena jugularis.
e. Dada
Bentuk dada normal chest, simetris antara kiri dan kanan, tidak terdapat adanya penggunaan
otot bantu napas, pada saat di palpasi tidak ada massa, getaran dinding dada simetris antara
kiri dan kanan, perkusi dada sonor, suara napas vesikuler di seluruh lapang paru, pada saat
diauskultasi tidak ada bunyi napas tambahan.
f. Abdomen
Pada saat diinspeksi abdomen terlihat kembung, warna kulit kecoklatan, tidak ada
massa/memar, pada saat diauskultasi bising usus 4 kali/menit, pada saat diperkusi terdengar
timpani, pada saat dipalpasi tidak terdapat adanya massa/pembengkakan.
g. Genetalia dan rektum
Pada daerah genetalia tidak dilakukan pengkajian, sedangkan pada daerah dekat anus terdapat
luka operasi luka berwarna merah, dengan panjang 2 cm. 3 cm dan lebar luka luka
h. Tungkai
Pada tungkai tidak terdapat kelainan seperti pembengkakan, deformitas, tidak terdapat nyeri
tekan atau benjolan, kedua tungkai simetris antara kiri dan kanan, pada saat uji reflek patella
terjadi gerakan ekstensi pada tungkai bawah, uji reflek babinski positif.
Skor kekuatan otot pasien :
55
55
i. Punggung
Bentuk tulang belakang tidak ada kelainan, tidak terdapat massa maupun nyeri tekan.
j. Lengan
Inspeksi kedua lengan simetris antara kiri dan kanan, dimana tangan kiri terpasang infus
dengan cairan RL 20 tts/menit, tidak terlihat adanya tanda-tanda infeksi seperti tumor, rubor,
dolor, kalor maupun fungtiolesa, pada tempat pemasangan infus tersebut.
k. Kulit
Warna kulit kecoklatan, tidak terdapat parut, kulit klien teraba hangat, terdapat luka operasi
pada bagian dekat anus dengan panjang luka 2 cm, warna luka kemerahan. 3 cm dan lebar
luka
7. Pemeriksaan penunjang
Sabtu, 23 Juli 2011
Pemeriksaan Laboratorium
WBC 8,4 x 103 /L 4-12 ribu/mm3
RBC 5,88 x 106 /L Lk 4,5-6 Pr 4,0-5,5
HGB 16,7 g/dl Lk 14-18 Pr 12-16
HCT 49,2 % Lk 40-48 % Pr 37-42 %
MCV 83,7 fl 82-92 fl
MCH 28,4 Pg 27-31 Pg
MCHC 33,9 g/dl 32-37 g/dl
PLT 276 x 103 /L 151-450 ribu /mm3
Masa perdarahan (BT) 1 menit < 3menit Masa pembekuan (CT) 3 menit < 15 menit 8.
Penatalaksanaan/therapy/diet RL 20tts/menit Ketorolac 2 x 30 mg Cefotaxime 2 x 1 gram 9.
Data fokus a. Data subjektif 1) Klien mengatakan nyeri pada luka operasi bagian dekat anus.

2) Klien mengatakan tidak BAB selama 3 hari. 3) Klien mengatakan nyeri yang dirasakan
panas dengan skala 6 (sedang). 4) Klien mengatakan nyeri yang dirasakan hilang timbul
dengan durasi 10 menit. 5) Klien mengatakan nyeri bertambah berat pada saat klien
bergerak. 6) Klien mengatakan terasa ringan pada saat klien berbaring. 7) Klien mengatakan
setelah dilakukan tindakan operasi hanya berbaring diatas tempat tidur karena masih
mengalami nyeri. b. Data objektif 1) Klien tampak lemah 2) Ekspresi wajah meringis 3)
Seluruh kegiatan dibantu oleh keluarga 4) Bising usus 4 x/menit 3 cm dan lebar5) Terdapat
luka operasi dekat anus dengan panjang luka 2 cm.luka 6) Warna luka berwarna merah. 7)
Klien tampak berbaring ditempat tidur. 8) Abdomen terlihat kembung. 10. Analis data a.
Analisa Data I 1) Data subjektif a) Klien mengatakan nyeri pada luka operasi pada bagian
dekat anus. b) Klien mengatakan nyeri yang dirasakan panas dengan skala sedang (6). 10
menit.c) Nyeri yang dirasakan hilang timbul dengan durasi d) Klien mangatakan nyeri
bertambah berat pada saat klien bergerak. e) Klien mengatakan nyeri terasa ringan ketika
klien berbaring. 2) Data objektif a) Ekspresi wajah meringis b) Terdapat luka operasi pada
bagian dekat anus dengan panjang luka 3 cm dan lebar luka 2 cm. Masalah : nyeri akut
Penyebab : proses tindakan pembedahan b. Analisa Data II 1) Data subjektif Klien
mengatakan tidak BAB selama tiga hari. 2) Data objektif a) Bising usus 4 x/menit b)
Abdomen tampak kembung c) Perkusi abdomen timpani Masalah : konstipasi Penyebab :
penurunan motilitas usus c. Analisa Data III 1) Data subjektif : - 2) Data objektif 3a)
Terdapat luka operasi pada bagian dekat anus dengan panjang luka 2 cm.cm dan lebar b)
Warna kulit berwarna merah. Masalah : kerusakan integritas kulit Penyebab : adanya luka
insisi bedah d. Analisa Data IV 1) Data subjektif Klien mengatakan setelah dilakukan
tindakan operasi, klien hanya berbaring diatas tempat tidur. 2) Data objektif a) Klien tampak
lemah b) Klien terlihat hanya berbaring diatas tempat tidur. Masalah : intoleran aktivitas
Penyebab kelemahan fisik B. Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas 1. Nyeri akut
berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan. 2. Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan adanya luka insisi bedah. 3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik. 4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus. C. Rencana
keperawatan Tgl 25 Juli 2011 1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam nyeri dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
a. Skala nyeri sedang (2-3) b. Klien rileks c. Nyeri berkurang atau hilang Intervensi : a. Kaji
karakteristik nyeri, lokasi dan intensitas nyeri b. Berikan posisi yang nyaman yaitu posisi
semi fowler c. Ajarkan dan anjurkan tekhnik relaksasi napas dalam d. Kolaborasi dalam
pemberian analgesik 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi
bedah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam kerusakan integritas kulit
membaik dengan kriteria hasil : a. Luka terlihat kering b. Tidak ada tanda-tanda infeksi
(tumor, rubor, dolor, kolor dan fungtiolasea) Intervensi : a. Observasi luka secara periodik. b.
Berikan perawatan luka secara rutin. c. Menganjurkan klien untuk merubah posisi sesering
mungkin. d. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai indikasi. 3. Intoleran aktivitas
berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : Setelah dilakukan tinadakan keperawatan 1 x
24 jam intoleran aktivitas dapat teratasi dengan kriteria hasil : a. Klien dapat melakukan
aktivitas ringan b. Klien dapat melakukan perawatan diri Intervensi : a. Kaji kemampuan
klien untuk melakukan aktivitas b. Anjurkan klien untuk banyak beristirahat c. Berikan
bantuan aktivitas perawatan diri sesuai indikasi d. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi
dalam pemenuhan kebutuhan klien. 4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas
usus Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam konstipasi dapat
teratasi dengan kriteria hasil: a. Bising usus normal (5-35 x/menit) b. Klien melaporkan sudah
bisa BAB c. Perut klien tidak kembung Intervensi : a. Auskultasi bising usus b. Anjurkan
klien untuk minum banyak air (6-8 gelas/hari) c. Kolaborasi dalam pemberian obat contoh :
untuk lunak feses d. Bantu pasien untuk duduk pada tepi tempat tidur lalu berjalan D.

Implementasi Senin, 25 Juli 2011 1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan
pembedahan Jam 11.35 a. Mengkaji tingkat nyeri, lokasi dan intensitas nyeri S : klien
mengatakan terasa nyeri pada lokasi operasi O : terlihat luka operasi dekat anus Jam 11.40 b.
Mengajarkan dan Menganjurkan tekhnik relaksasi napas dalam S : klien mengatakan nyeri
berkurang O : klien tampak mendemonstrasikan tekhnik yang diajarkan klien tampak rileks
Jam 11.45 c. Memberikan posisi yang nyaman S : klien mengatakan nyeri berkurang setelah
merubah posisi O : klien diberikan posisi semi fowler Jam 17.00 d. Kolaborasi dalam
pemberian analgesik (ketorolac 30 mg) S : - O : klien terlihat tenang setelah diberikan obat
Tidak ada alergi pada saat diberikan obat Jam 18.10 e. Menganjurkan melakukan tekhnik
relaksasi napas dalam S : klien mengatakan nyeri berkurang O : klien tampak rileks 2.
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi bedah Jam 17.05 a.
Kolaborasi dalam pemberian antibiotik (cefotaxime 1 gram) S : - O : klien terlihat tenang
setelah diberikan obat Tidak ada alergi pada saat diberikan obat Jam 18.00 b. Mengobservasi
luka S : - O : warna luka berwarna merah 2 cm 3 cm dan lebar luka Panjang luka Jam
18.05 c. Menganjurkan klien untuk merubah posisi sesering mungkin S : klien mengatakan
akan melakukan anjuran O : klien merubah posisi 3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik Jam 11.40 a. Mengkaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas S : klien
mengatakan setelah dioperasi klien hanya berbaring diatas tempat tidur O : klien berbaring
terlentang Jam 11.55 b. Menganjurkan klien untuk banyak beristirahat S : klien mengatakan
akan melakukan anjuran O : klien beristirahat dengan berbaring Jam 12.00 c. Menganjurkan
keluarga klien untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan klien S : keluarga klien
mengatakan akan melakukan anjuran O : keluarga klien tampak menganggukkan kepala pada
saat diberikan Anjuran 4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus Jam
12.10 a. Mengauskultasi bising usus S : klien mengatakan belum pernah BAB selama 3 hari
O : bising usus 4 x/menit Jam 12.15 b. Menganjurkan klien untuk banyak minum air (6-8
gelas/hari) S : klien mengatakan akan minum air yang banyak O : klien tampak minum air 1
gelas pada saat dikaji Selasa, 26 Juli 2011 1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur
tindakan pembedahan Jam 07.40 a. Mengkaji karakteristik nyeri S : klien mengatakan
nyerinya sudah mulai berkurang O : klien terlihat lebih rileks Jam 08.00 b. Menganjurkan
klien untuk melakukan tehnik relaksasi napas dalam S : klien mengatakan akan melakukan
anjuran O : klien melakukan tehnik relaksasi dengan benar Jam 15.00 c. Berkolaborasi dalam
pemberian analgesik S : - O : klien terlihat tenang Menginjeksikan obat ketorolac 30 mg Jam
15.10 d. Memberikan posisi yang nyaman S : klien mengatakan nyeri berkurang setelah
merubah posisi O : klien diberi posisi semi fowler Jam 22.00 e. Mengkaji karakteristik nyeri
S : klien mengatakan nyeri sudah berkurang O : klien terlihat lebih rileks 2. Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi bedah Jam 10.00 a. Menganjurkan
klien untuk mengubah posisi sesering mungkin S : klien mengatakan akan melakukan anjuran
O : klien mengubah posisi Jam 10.20 b. Mengobservasi luka S : - O : warna luka merah, tidak
ada pus. Jam 10.25 c. Memberikan perawatan luka S : - O : luka terlihat bersih Jam 15.05 d.
Berkolaborasi dalam pemberian antibiotik S : - O : klien terlihat tenang Menginjeksikan
cefotaxime 1 gram Jam 22.10 e. Menganjurkan klien untuk mengubah posisi S : klien
mengatakan akan mengubah posisinya O : klien dalam posisi semi fowler 3. Intoleran
aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik Jam 07.10 a. Mengkaji kemampuan klien
dalam beraktivitas S : klien memgatakan sudah mampu ke kamar mandi O : klien tampak
berjalan sendiri ke kamar mandi Jam 07.20 b. Menganjurkan klien untuk banyak beristirahat
S : klien mengatakan akan banyak beristirahat. O : - Jam 07.25 c. Menganjurkan keluarga
untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan klien S : klien mengatakan sudah bisa
beraktivitas tanpa dibantu keluarga O : - 4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan
motilitas usus Jam 07.30 a. Mengauskultasi bising usus S : - O: bising usus 8 x/menit Jam
07.35 b. Menganjurkan klien untuk minum air yang banyak (6-8 gelas/hari) S : klien

mengatakan akan minum air yang banyak O : klien tampak minum air putih 1 gelas Rabu, 27
Juli 2011 1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan Jam 07.10 a.
Mengkaji karakteristik nyeri S : klien mengatakan nyeri sudah berkurang O : klien terlihat
rileks Jam 07.15 b. Memberikan posisi yang nyaman S : klien mengatakan nyaman saat beri
posisi setengah berbaring O : klien diberi posisi semi fowler 2. Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan adanya luka insisi bedah Jam 08.30 a. Menganjurkan klien untuk
mengubah posisi S : - O : klien mengubah posisi dari posisi semi fowler manjadi miring
Kanan 3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus Jam 07.00 a.
Mengauskultasi bising usus S : - O : bising usus 15 x/menit E. Evaluasi Selasa, 26 Juli 2011
Diagnosa ke 3 : Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik Jam 13.00 S : klien
mengatakan mampu melakukan aktivitas ringan seperti ke kamar mandi klien mengatakan
dapat melakukan perawatan diri O : klien tampak berjalan secara mandiri kekamar mandi
Klien dapat bangun sendiri dari tempat tidur A : masalah teratasi P : intervensi dihentikan
Rabu, 27 Juli 2011 Diagnosa ke 1 : Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan
pembedahan Jam 10.30 S : klien mengatakan nyeri yang dirasakan sudah berkurang O : skala
nyeri ringan (2) Klien rileks A : masalah teratasi P : intervensi dihentikan Diagnosa ke 2 :
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi bedah Jam 10.35 S : klien
mengatakan sudah dilakukan perawatan luka O : luka terlihat kering Tidak terdapat adanya
infeksi seperti rubor, dolor, kalor, tumor) A : masalah teratasi P : intervensi dihentikan
Diagnosa ke 4 : Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus Jam 10.35 S : klien
mengatakan sudah bisa BAB O : bising usus 15 x/menit Perut klien tidak kembung A :
masalah teratasi P : intervensi dihentikan BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis
akan membahas tentang kesenjangan antara landasan teori asuhan keperawatan yang
ditemukan pada Tn. J dengan diagnosa Abses Perianal Post Debridement di ruang perawatan
bedah Flamboyan RSUD TK. I Tarakan. Pada pembahasan ini dimulai dengan membahas
asuhan keperawatan terhadap klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan
yang meliputi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan asuhan
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. A. Pengkajian Pengkajian merupakan
tahap pertama dari proses keperawatan yang menjadi dasar dalam menentukan tindakan
keperawatan, dengan pengumpulan data yang sistematis dan akurat dapat diketahui masalah
keperawatan yang dihadapi klien. Pada tahap ini, penulis tidak mengalami banyak hambatan
dalam pengumpulan data, hal ini karena klien dan keluarganya sangat kooperatif dalam
memberikan informasi kesehatan yang dibutuhkan penulis. Tetapi terdapat beberapa kesulitan
dalam melakukan pengkajian data secara teori karena kurangnya materi tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan Abses Perianal Post Debridement. Pada saat melakukan
pengkajian data keperawatan klien dengan Abses Perianal Post Debridement, penulis
menemukan beberapa perbedaan dari teori (Doengoes, 2000). Perbedaan tersebut adalah datadata yang dapat timbul pada pasien post operasi tetapi data tersebut tidak muncul pada klien,
yaitu: g. Sirkulasi Menurut Doengoes (2000) pasien dengan pasca operasi dapat mengalami
gangguan sirkulasi, terutama dengan riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal,
penyakit vaskuler perifer, atau statis vaskular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
Gagal jantung kongesti adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat
untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Manifestasi klinis dari gagal
jantung kongesti yaitu dispnea, batuk, mudah lelah, takikardi, kecemasan, edema,
hepatomegali, anoreksia, nokturia dan asites (Smeltzer dan Bare, 2001). Pada saat dilakukan
pengkajian klien tidak ditemukan data-data yang mengganggu sirkulasi klien, karena klien
tidak mempunyai penyakit tekanan darah tinggi atau penyakit gula darah, dan tanda-tanda
vital klien dalam batas normal TD : 110/80 mmHg, nadi 96 kali/menit. h. Cemas Menurut
Nanda (2010) cemas adalah perasaan gelisah yang tidak jelas dari ketidaknyamanan
seseorang/ketakutan yang disertai respon autonom (sumber tidak spesifik/tidak diketahui oleh

individu). Pada kasus klien tidak ada data-data tersebut dan klien mengatakan lega dan
bersyukur karena operasinya berjalan dengan baik. klien mengatakan tidak mengalami
gangguan tidur. i. Nutrisi Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami
gangguan dalam penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas.
Malnutrisi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan
terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh (Tunjungputri, 2009).
Tanda-tanda penderita gizi buruk (malnutrisi) secara umum orang dewasa adalah berat badan
kurang dari indeks masa tubuh normal yakni di bawah 18,5 kg/m2, kulit menjadi tipis dan
kusam, daya tahan tubuh menjadi menurun dan mudah terkena infeksi, pada penderita gizi
buruk kasus berat dapat menimbulkan bengkak di seluruh tubuh (Chandrawinata, 2010). Pada
saat pengkajian mukosa bibir klien lembab, klien tidak mengalami kesulitan untuk makan,
klien menghabiskan porsi yang disediakan oleh ahli gizi di rumah sakit, klien tidak memiliki
makanan pantangan dan juga obat-obatan. j. Pernapasan Dispnea atau sesak napas adalah
perasaan sulit bernapas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonar.
Seseorang yang mengalami dispnea sering mengeluh napasnya menjadi pendek atau merasa
tercekik. Gejala objektif sesak napas termasuk juga penggunaan otot-otot pernapasan
tambahan, pernapasan cuping hidung, takipnea, dan hiperventilasi (Price dan Wilson, 2005).
Pada saat pengkajian tidak terdapat adanya penggunaan otot bantu napas, pada saat
diauskultasi tidak ada bunyi napas tambahan, frekuensi pernapasan 21 kali /menit, klien tidak
merokok. k. Keamanan Menurut Carpenito (2000) resiko infeksi merupakan suatu kondisi di
mana individu beresiko terkena agen oportunitis atau patogenis (virus, jamur, bakteri,
protozoa atai parasit lain) dari berbagai sumber dari dalam ataupun dari luar tubuh. Adapun
menurut Doengoes (2000) gejala dan tanda resiko infeksi yang timbul yaitu : alergi atau
sensitif terhadap obat, makanan, plester, dan larutan, defisiensi imum (peningkatan risiko
infeksi sistemik dan penundaan penyembuhan), munculnya kanker/terapi kanker terbaru,
riwayat penyakit hepatik (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi),
riwayat transfusi darah/reaksi transfusi, munculnya proses infeksi yang melelahkan; demam.
C, tidak adaPada saat pengkajian kulit klien teraba hangat, S : 36 tanda-tanda infeksi, WBC
8,4 x 103 /L, HGB 16,7 g/dl. B. Diagnosa keperawatan Dalam merumuskan diagnosa
keperawatan penulis menemukan beberapa perbedaan antara teori dan kasus. Menurut
Dongoes (2000) ada tujuh diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada pasien dengan
abses perianal post debridemant, yaitu: h. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
neuromuskular, ketidakseimbangan perseptual/kognitif; peningkatan ekspansi paru, energi;
obstruksi trakeobronkial. i. Perubahan persepsi/sensori; perubahan proses pikir berhubungan
dengan perubahan kimia: penggunaan obat-obatan farmasi, hipoksia; lingkungan terapeutik
yang terbatas: stimulus sensori yang berlebihan; stres fisiologis. j. Resiko tinggi terhadap
kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral
(proses penyakit/prosedur medis/adanya rasa mual); hilangnya cairan tubuh secara tidak
normal seperti melalui kateter, selang, jalur normal seperti muntah; pengeluaran integritas
pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah; usia dan berat badan yang
berlebihan. k. Nyeri (akut) berhubungan dengan gangguan pada kulit, jaringan, dan integritas
otot, trauma muskuloskeletal/tulang; munculnya saluran dan selang. l. Kerusakan integritas
kulit/jaringan berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit/jaringan; perubahan
sirkulasi, efek-efek yang ditimbulkan oleh medikasi; akumulasi drein; perubahan status
metabolis. m. Resiko tinggi terhadap/perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan
gangguan aliran vena, arteri; hipervolemik. n. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi,
prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat,
kesalahan interpretasi informasi; tidak mengenal sumber informasi; keterbatasan kognitif.
Sedangkan pada pengkajian pada Tn. J diagnosa-diagnosa yang dapat ditegakkan adalah: 5.
Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan. 6. Kerusakan integritas kulit

berhubungan dengan adanya luka insisi bedah. 7. Intoleran aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik. 8. Konstipasi berhubungan dengan penurunan mobilitas fisik. Dari kedua hal
tersebut diatas dapat dilihat dimana terjadi perbedaan/kesenjangan antara diagnosa
berdasarkan kepustakaan pada pasien abses perianal post debridement dengan diagnosa yang
ditemukan pada Tn. J, yaitu : 1. Diagnosa kepustakaan yang tidak ditemukan pada pasien,
adalah : a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan neuromuskular, ketidakseimbangan
perseptual/kognitif; peningkatan ekspansi paru, energi; obstruksi trakeobronkial. Menurut
Carpenito (2000) Pola nafas tidak efektif dapat diangkat ketika suatu kondisi dimana individu
mengalami aktual atau potensial tidak adekuatnya ventilasi berhubungan dengan perubahan
pola napas. Batasan karakteristik mayor : perubahan frekuensi atau pola pernapasan (dari
biasanya), perubahan nadi (frekuensi, irama, dan kualitas). Batasan karakteristik minor :
ortopnea, takipnea, hiperpnea, hiperventilasi, irama pernapasan tidak teratur, pernapasan yang
berat. Pada saat penulis melakukan pengkajian tidak ditemukan data-data yang mendukung
untuk merumuskan diagnosa tersebut. Adapun data-data yang ditemukan pada Tn. J pola
napas klien efektif dengan frekuensi pernapasan 21 kali/menit dan nadi 96 kali/menit, tidak
ada menggunakan otot bantu pernapasan. b. Perubahan persepsi/sensori; perubahan proses
pikir berhubungan dengan perubahan kimia: penggunaan obat-obatan farmasi, hipoksia;
lingkungan terapeutik yang terbatas: stimulus sensori yang berlebihan; stres fisiologis.
Menurut Carpenito (2000) perubahan proses pikir dapat diangkat ketika suatu keadaan
dimana individu mengalami gangguan pada aktivitas mental seperti berpikir sadar, orientasi
realitas, penyelesaian masalah, keputusan, dan pemahaman yang berhubungan dengan
gangguan koping, kepribadian, dan/atau mental. Batasan karakteristik : defek kognitif,
meliputi penyelesaian masalah, abstraksi, defisit memori; curiga, delusi, halusinasi, fobia,
obsesi, distraktibilitas, kurangnya validasi konsensual, bingung/disorientasi, perilaku
ritualistis, impulsif, perilaku sosial tidak tepat. Dari hasil pengkajian yang penulis lakukan
tidak ditemukan data yang menunjang untuk pengangkatan diagnosa tersebut, Sedangkan
pada pengkajian klien mampu berkomunikasi, dan mampu mengenal orang, tempat dan
waktu, sehingga diagnosa tersebut tidak dapat ditegakkan. c. Resiko tinggi terhadap
kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral
(proses penyakit/prosedur medis/adanya rasa mual); hilangnya cairan tubuh secara tidak
normal seperti melalui kateter, selang, jalur normal seperti muntah; pengeluaran integritas
pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah; usia dan berat badan yang
berlebihan. Menurut Carpenito (2000) kekurangan volume cairan dapat diangkat ketika
keadaan dimana seseorang yang tidak makan dan minum peroral mempunyai resiko
terjadinya dehidrasi vaskuler, interstisial atau intraseluler. Batasan karakteristik mayor :
ketidakcukupan masukan cairan peroral, tidak adanya keseimbangan antara asupan dan
haluran, membran mukosa/kulit kering, berat badan kurang. Batasan karakteristik minor :
meningkatnya natrium darah, menurunnya haluaran urin atau haluaran urin berlebihan, sering
berkemih, turgor kulit menurun, haus/mual/anoreksia. Pada saat melakukan pengkajian,
penulis tidak menemukan data-data yang menunjang untuk mengangkat diagnosa tersebut,
sehingga penulis tidak mencantumkan diagnosa Resiko tinggi terhadap kekurangan volume
cairan pada kasus Tn. J. Adapun data-data yang ditemukan pada Tn. J mukosa 4-7 gelas/hari,
klien juga terpasangbibir lembab, klien minum air infus dengan cairan RL 20 tetes/menit
(2000 cc), klien BAK biasanya 3-4 kali sehari. d. Resiko tinggi terhadap/perubahan perfusi
jaringan berhubungan dengan gangguan aliran vena, arteri; hipervolemik. Menurut Carpenito
(2000) perubahan perfusi jaringan dapat ditegakkan ketika keadaan dimana individu
mengalami atau beresiko tinggi mengalami penurunan nutrisi dan pernapasan pada tingkat
seluler karena penurunan suplai darah kapiler. Batasan karakterstik mayor : klaudikasi, nyeri
istirahat, nyeri sakit, penurunan atau tak adanya nadi arteri, perubahan warna kulit (pucat,
sianosis, hiperemia reaktif), perubahan suhu kulit, penurunan tekanan darah, pengisian

kapiler lebih lama dari 3 detik. Karakteristik minor : edema, perubahan fungsi sensorik,
motorik dan perubahan jaringan tropik (kuku keras, kehilangan rambut, luka tidak sembuh).
Pada saat melakukan pengkajian, penulis tidak menemukan data-data yang menunjang untuk
menegakkan diagnosa tersebut. Adapun data yang ditemukan C, N : 96pada Tn. J kulit
teraba hangat, TD : 110/80 mmHg, S : 36 kali/menit, RR : 21 kali/menit, konjungtiva
berwarna merah muda (tidak anemis), HGB 16,7 g/dl. e. Kurang pengetahuan tentang
kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi; tidak mengenal sumber informasi;
keterbatasan kognitif. Menurut Carpenito (2000) Kurang pengetahuan dapat ditegakkan
ketika suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kekurangan kognitif atau
keterampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan. Batasan
karakteristik mayor : menyatakan kurangnya pengetahuan atau keterampilan/meminta
informasi, mengekspresikan persepsi yang tidak akurat terhadap kondisi kesehatannya,
menampilkan secara tidak tepat perilaku sehat yang diinginkan atau sudah ditentukan.
Karakteristik minor : kurang integrasi rencana tindakan ke dalam kegiatan sehari-hari,
menunjukkan atau mengekspresikan gangguan psikologis misalnya cemas, depresi yang
diakibatkan salahnya informasi atau kurangnya informasi. Pada saat melakukan pengkajian,
penulis tidak menemukan data-data yang menunjang untuk mengangkat diagnosa tersebut,
sehingga penulis tidak mencantumkan diagnosa kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi,
prognosis, kebutuhan pengobatan pada kasus Tn. J. Adapun data-data yang ditemukan pada
saat pengkajian Tn. J dan keluarga sudah mengetahui penyakit yang dideritanya dan sudah
mengetahui perawatan pada saat pulang di rumah. 2. Diagnosa keperawatan yang ditemukan
pada Tn. J tetapi tidak sesuai dengan teori, adalah : a. Intoleran aktivitas berhubungan dengan
kelemahan fisik. Penulis mengangkat diagnosa ini karena menurut Carpenito (2000) intoleran
aktivitas dapat diangkat ketika penurunan kapasitas fisiologis seseorang untuk
mempertahankan aktivitas sampai ketingkat yang diinginkan atau diperlukan. Batasan
karakteristik mayor : perubahan respon fisiologi misalnya pernapasan (dispnea, napas
pendek, frekuensi napas meningkat berlebihan, penurunan frekuensi), nadi (lemah, menurun,
peningkatan yang berlebihan perubahan irama, gagal untuk kembali ketingkat sebelum
aktivitas setelah 3 menit), tekanan darah (gagal meningkat dengan aktivitas, diastolik
meningkat > 15mmHg ). Karakteristik minor : kelemahan, kelelahan, pucat atau sianosis,
kacau mental, vertigo. Pada Tn. J mengalami kelemahan, semua aktivitas klien dibantu oleh
keluarga, Klien tampak berbaring ditempat tidur.
b. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus.
Penulis mengangkat diagnosa ini karena menurut Carpenito (2000) konstipasi dapat diangkat
ketika suatu keadaan dimana individu mengalami atau beresiko mengalami perlambatan
pasase residu makanan yang mengakibatkan feses keras dan kering. Batasan karakteristik
mayor : penurunan frekuensi, feses keras, mengejan saat defekasi, nyeri defekasi, distensi
abdomen. Batasan karakteristik minor : tekanan pada rektal, sakit kepala, gangguan nafsu
makan, nyeri abdomen. Pada Tn. J mengeluh tidak BAB selama 3 hari, Bising usus 4 x/menit,
Abdomen terlihat kembung.
C. Rencana keperawatan
Dalam perencanaan, beberapa intervensi dalam penanganan masalah keperawatan yang
ditegakkan pada Tn. J dan sesuai dengan kepustakaan tidak dicantumkan atau dijadikan
pilihan oleh penulis, hal ini dikarenakan kemungkinan adanya kendala untuk pelaksanaan
intervensi-intervensi tersebut.
1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan.
Berdasarkan Doengoes (2000) adapun intervensi untuk penangan nyeri pada pasien dengan
pascaoperasi adalah :
a. Evaluasi rasa sakit secara reguler (misalnya 2 jam x 12) catat karakteristik, lokasi dan

intensitas (skala 0-10).


b. Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardi, hipertensi dan peningkatan pernapasan, bahkan
jika pasien menyangkal adanya rasa sakit
c. Berikan informasi mengenai sifat ketidaknyamanan, sesuai indikasi
d. Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi fowler; miring.
e. Berikan obat sesuai petunjuk; Analgesik IV
Dari kelima intervensi keperawatan di atas, penulis hanya mencantumkan tiga dalam
perencanaan keperawatan pada Tn. J dengan diagnosa abses perianal post debridement. Hal
ini disebabkan karena sebelum dioperasi klien sudah mendapatkan informasi dari dokter dan
perawat mengenai ketidaknyamanan yang akan dirasakan setelah dilakukan tindakan
pembedahan.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi bedah.
Berdasarkan Doengoes (2000) adapun intervensi untuk kerusakan integritas kulit pada pasien
dengan pascaoperasi adalah :
7) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.
8) Tinggikan daerah yang dioperasi sesuai kebutuhan.
9) Tekan areal atau insisi abdominal dan dada dengan menggunakan bantal selama batuk atau
bergerak.
10) Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka
11) Bersihkan permukaan kulit dengan menggunakan hidrogen peroksida atau dengan air
yang mengalir dan sabun lunak setelah daerah insisi ditutup.
Dari kelima intervensi keperawatan di atas, penulis tidak mencantumkan satu pun intervensi
tersebut dalam perencanaan keperawatan Tn. J pada diagnosa kerusakan integritas kulit
karena klien tidak terpasang drain sehingga tidak memungkinkan untuk mengkaji jumlah dan
karakteristik cairan luka, luka operasi klien terletak di dekat anus sehingga tidak
memungkinkan untuk meninggikan daerah yang dioperasi dan tidak perlu menekan areal atau
insisi abdominal dan dada, karena luka operasi adalah luka steril sehingga tidak
memggunakan hidrogen peroksida atau dengan air yang mengalir dan sabun lunak dalam
perawatan luka, selain itu klien juga telah dianjurkan oleh dokter dan perawat untuk tidak
menyentuh daerah luka.
Adapun intervensi yang penulis rencanakan diambil dengan cara memilih dari semua
intervensi pada diagnosa kerusakan integritas kulit. Intervensi yang penulis angkat, yaitu :
a. Observasi luka secara periodik.
b. Berikan perawatan luka secara rutin.
c. Menganjurkan klien untuk merubah posisi sesering mungkin.
d. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai indikasi.
e. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Berdasarkan Doengoes (2000) intervensi keperawatan untuk intoleran aktivitas, penulis
memilih intervensi yang ada pada setiap diagnosa intoleran aktivitas. Hal ini disebabkan
karena penulis menyesuaikan dengan kondisi pasien yang lemah setelah dilakukan operasi
dan Klien terlihat hanya berbaring di atas tempat tidur. Adapun intervensi yang penulis
tegakkan, yaitu :
a. Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas
b. Anjurkan klien untuk banyak beristirahat
c. Berikan bantuan aktivitas perawatan diri sesuai indikasi
d. Anjurkan keluarga untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan klien.
e. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas usus.
Berdasarkan Doengoes (2000) intervensi keperawatan untuk penanganan konstipasi adalah :
a. Auskultasi bising usus
b. Anjurkan klien untuk minum banyak air (6-8 gelas/hari)

c. Kolaborasi dalam pemberian obat contoh : untuk lunak feses


d. Bantu pasien untuk duduk pada tepi tempat tidur lalu berjalan
Dari keempat perencanaan di atas, semua perencanaan dicantumkan penulis ke dalam rencana
perawatan konstipasi pada klien dengan abses perianal post debridement.
D. Implementasi
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan,
dalam hal ini penulis menggunakan fasilitas yang tersedia di rumah sakit maupun yang
dibawa dari institusi, serta bekerja sama dengan perawat di ruang flamboyan untuk
menghindari tindakan yang berulang pada asuhan keperawatan Tn. J.
Adapun intervensi yang tidak dilaksanakan sesuai rencana keperawatan yang telah ditetapkan
pada Tn. J dengana abses perianal post debridement adalah : Kolaborasi dalam pemberian
obat untuk lunak feses; Bantu pasien untuk duduk pada tepi tempat tidur lalu berjalan;
Berikan bantuan aktivitas perawatan diri sesuai indikasi.
Tidak dilaksanakannya intervensi tersebut dikarenakan penulis tidak melakukan kolaborasi
dalam pemberian obat pelunak feses, klien sudah mampu duduk dan berjalan ke kamar mandi
dengan mandiri serta keluarga klien senantiasa ada di samping klien untuk membantu dalam
beraktivitas. Adapun intevensi yang penulis delegasikan ke perawat ruangan adalah
pemberian obat pada jam 03.00, hal ini karena pada jam 22.00 sampai 06.30 penulis
melakukan penyusunan intervensi tindakan untuk keesokan harinya.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan dengan cara melakukan
identifikasi sejauh mana tujuan dari setiap rencana keperawatan tercapai atau tidak.
Pada proses keperawatan yang dilakukan pada Tn. J dengan abses perianal post debridement,
dari empat diagnosa yang ditegakkan yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan prosedur
tindakan pembedahan; Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi
bedah; Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik; Konstipasi berhubungan
dengan penurunan motilitas usus dapat teratasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Post Operasi
1. Diagnosa keperawatan: Nyeri pada area operasi berhubungan dengan adanya eksisi
luka operasi.
HYD: nyeri berkurang atau terkontrol, ditandai dengan ekspresi wajah klien rileks, cukup
istirahat, mengungkapkan nyeri berkurang /dapat ditahan.
Rencana tindakan:

Kaji lokasi, intensitas nyeri dengan skala 0 10, faktor yang mempengaruhi.
Perhatikan tanda-tanda nonverbal.

Rasional: membantu menentukan intervensi selanjutnya.

Monitor tanda-tanda vital

Rasional: perubahan tanda-tanda vital, peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan bisa
diakibatkan karena nyeri.

Kaji area luka operasi, adanya edema, hematoma atau inflamasi.

Rasional: pembengkakan, inflamasi dapat menyebabkan meningkatnya nyeri.

Berikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang tenang.


Ajarkan tehnik relaksasi,pengalihan perhatian.

Rasional: membantu mengurangi dan mengontrol rasa nyeri.

Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgesik.

Rasional: analgesik membantu mengurangi nyeri.


1. Diagnosa keperawatan: Perubahan pola eliminasi konstipasi/diare berhubungan
dengan efek anestesi, pemasukan cairan yang tidak adekuat.
HYD: pola eliminasi kembali berfungsi normal.
Rencana tindakan:

Auskultasi bising usus.

Rasional: adanya suara bising usus yang abnormal, merupakan tanda adanya komplikasi.

Anjurkan makanan/minuman yang tidak mengiritasi.

Rasional: menurunkan resiko iritasi mukosa.

Kolaborasi medik untuk pemberian glyserin suppositoria.

Rasional: membantu melunakkan feses.

1. Diagnosa keperawatan: Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya prosedur


invasive, luka yang mungkin terkontaminasi.
HYD: tidak terjadi infeksi, luka sembuh tanpa komplikasi.
Rencana tindakan:

Kaji area luka operasi, observasi luka, karakteristik drainage, adanya inflamasi.

Rasional: penanbahan infeksi dapat mengambat proses penyembuhan.

Monitor tanda-tanda vital, temperatur, respirasi, nadi.

Rasional: peningkatan temperatur, pernapasan, nadi merupakan indikasi adanya proses


infeksi.

Rawat area luka dengan prinsip aseptik. Jaga balutan kering.

Rasional: menjaga pasien dari infeksi silang selama penggantian balutan.

Kolaborasi untuk pemeriksaan cultur dari sekret/drainage, kedua dari tengah dan
pinggir luka.

Rasional: dengan mengetahui adanya organisme akan menentukan pemberian antibiotik.

Berikan antibiotik sesuai pesan medik.

Rasional: antibiotik mencegah dan melawan infeksi.

Bila perlu lakukan irigasi luka.

Rasional dengan irigasi luka dengan antiseptik baik untuk melawan infeksi

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah menguraikan penerapan asuhan keperawatan pada Tn. J dengan abses perianal post
debridement yang dirawat di Ruang Perawatan Bedah Flamboyan Rumah Sakit Umum Daerah
Tarakan, dan kemudian dilakukan pembahasan mengenai masalah kesehatan yang dialami oleh klien
tersebut, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Pelaksanaan proses asuhan keperawatan pada Tn. J dengan Abses Perianal Post Debridement
dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2011 sampai dengan 27 Juli 2011 bertempat di Ruang Perawatan
Bedah Flamboyan Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan. Dalam pelaksanaan proses keperawatan
penulis berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teori
yang telah didapatkan pada saat perkuliahan. Proses keperawatan yang dilakukan oleh penulis pada
Tn. J pada dasarnya dengan menggunakan metode ilmiah untuk pemecahan masalah, selain itu
dapat juga dilihat dari segi kebutuhan dasar klien untuk memperoleh perawatan kesehatan serta
asuhan keperawatan yang berkualitas. Dari proses keperawatan ini, sehingga penulis dapat
menemukan data-data yang digunakan sebagai dasar penegakan diagnosa keperawatan dari
permasalahan kesehatan yang klien alami, kemudian ditetapkan perencanaan tindakan keperawatan
yang akan dilakukan serta dievaluasi untuk mengetahui tercapainya tingkat kompetensi baik dari
pihak klien maupun dari keluarga klien, beserta perawat ataupun tim kesehatan lainnya.
2. Selama proses asuhan keperawatan berlangsung ditemukan beberapa kesenjangan yang
menunjukkan adanya perbandingan antara landasan teori dan praktek asuhan keperawatan yang
dilaksanakan pada Tn. J dengan abses perianal post debridement. Adapun kesenjangan tersebut
terdapat pada pengkajian Sirkulasi, integritas ego, makanan/cairan, pernapasan dan keamanan.
Diagnosa keperawatan pada pasien abses perianal post debridement yang seharusnya ada tujuh
pada teori namun pada kasus hanya terdapat dua diagnosa yang sama, sedangkan pada kasus
terdapat dua diagnosa yang tidak terdapat pada teori.
3. Dalam proses asuhan keperawatan secara efektif dan efisien terhadap beberapa faktor
pendukung diantaranya kreativitas dan kemampuan beradaptasi penulis dalam menangani
perubahan dan beberapa kejadian yang tidak diharapkan, sikap klien dan keluarga yang kooperatif
dan terbuka serta kerjasama dalam setiap tindakan asuhan keperawatan yang diberikan, dan juga
adanya dukungan dari semua pihak diantaranya para perawat dan dokter ruangan, termasuk rekanrekan yang telah berperan aktif dalam memotivasi dan memberikan ide pada penulis. Adapun faktor

penghambat yang ditemukan oleh penulis adalah kurangnya sumber-sumber informasi tentang
abses perianal, adanya keterbatasan waktu dan juga sarana serta prasarana yang kurang memadai.
4. Pemecahan masalah yang dihadapi Tn. J dengan abses perianal post debridement dilakukan
berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah ditetapkan sesuai dengan landasan teori dan
beberapa modifikasi oleh penulis karena adanya penyesuaian terhadap situasi dan kondisi yang
berbeda. Dalam hal ini penulis berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang telah
ditetapkan dan disusun dengan urutan yang diberikan oleh kampus.
B. Saran
Saran bagi pihak-pihak yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan asuhan keperawatan
pada Tn. J dengan Abses Perianal Post Debridement di Ruang Perawatan Bedah Flamboyan RSUD
Tarakan.
1. Dalam melakukan proses keperawatan yang dilakukan sebaiknya perawatan mampu
meningkatkan kemampuan interpersonal, serta menguasai tehnik dan teori pengkajian sehingga
dapat diperoleh data valid. Pada pasien dengan abses perianal penanganan untuk mengatasi
masalah harus dilakukan secepatnya mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin
akan timbul.
2. Untuk menjadi seorang perawat yang profesional hendakanya harus banyak membaca buku dan
berwawasan luas dikarenakan banyak sekali perbedaan yang terjadi pada teori namun pada
kenyataannya berbeda dengan kasus yang ada dilapangan.
3. Seorang perawat yang profesional dituntut untuk meningkatkan kreativitasnya agar mampu
mengubah citra perawat menjadi lebih dijunjung lagi. Faktor penghambat yang ada dilapangan dapat
diminimalkan jika perawatnya mampu membuat suatu inovasi/perencanaan masalah yang konkrit
dan cepat mengambil keputusan dalam suatu masalah.
4. Untuk memecahkan masalah keperawatan tentunya diperlukan adanya pendekatan proses
keperawatan dengan melakukan asuhan keperawatan yang meliputi tahap pengkajian, perumusan
doagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi tindakan.