Anda di halaman 1dari 17

PARADIGMA PERENCANAAN DUA

Paradigma Rasionalisme
Paradigma Fenomenologi
Perkembangan Perencanaan di Indonesia dan Dunia

Disusun Oleh:
Aprilia Dwi A

(125060600111006)

Denny Dwi Cahyono (125060601111009)


Eftyca Fragmawanty (125060600111050)
Maghfiroh Nur S

(125060601111007)

Rizki Pratomo

(125060600111016)

PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perencanaan pada dasarnya merupakan aktivitas yang didasarkan pada tujuan, persiapan

bagi masa depan, baik menyusun tindakan untuk mengantisipasi tujuan yang telah diputuskan,
sedangkan perencanaan secara institusional adalah mempersiapankan keputusan politik ,
mengendalikan

proses

perkembangan

wilayah

dan

kota

(Taylor,

1998).

Didalam

perkembangannya paradigm perencanaan terus mengalami pergeseran dan menyesuaikan dengan


kondisi yang dihadapi oleh massyarakat dunia di setiap zamannya. Pergeseran dan
perkembangan paradigm tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi pola ruang maupun
kehidupan social masyarakat yang ada di dalamnya.
Paradigma merupakan teori informal yang menggambarkan bagaimana dunia bekerja,
dan menyediakan kerangka acuan bagi manusia untuk memandang kehidupan dunia di
sekelilingnya. Sebagai acuan kehidupan manusia, paradigma menjadi salah satu unsur penting
yang dapat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Adapun paradigma kelanjutan dari
positivisme antara lain paradigma rasionalisme dan paradigma fenomenologi. Konsep
perencanaan akan berkembang terus seiring dengan perkembangan kebutuhan dan prioritas
manusia. Oleh karena itu, paradigma dapat dijadikan sebuah pandangan untuk menyelesaikan
masalah atau fenomena yang terjadi di masyarakat.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari paradigma perencanaan Rasionalisme dan paradigma
Fenomenologi?
2. Bagaimanakah perkembangan perencanaan di Indonesia dan di Dunia?
1.3
Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari paradigma perencanaan Rasionalisme dan paradigma
Fenomenologi
2. Mengetahui perkembangan perencanaan di Indonesia dan di Dunia

BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1 Definisi Paradigma Perencanaan

Menurut George R. Terry: Perencanaan adalah pemulihan fakta-fakta dan usaha


menghubung-hubungkan antara fakta yang satu dengan yang lain, kemudian membuat perkiraan
dan peramalan tentang keadaan dan perumusan tindakan untuk masa yang akan datang yang
sekiranya diperlukan untuk menghendaki hasil yang dikehendaki.
Widjojo dalam Lembaga Administrasi Negara (1985: 31), menjelaskan sebagai berikut :
Perencanaan pada asasnya berkisar pada dua hal :
a. Penentuan pilihan secara sadar mengenai tujuan-tujuan konkret yang hendak dicapai
dalam jangka waktu tertentu atas dasar nilai-nilai yang dimiliki masyarakat yang
bersangkutan.
b. Pilihan di antara cara-cara alternatif yang efesien serta rasional guna mencapai tujuantujuan tersebut, baik untuk penentuan tujuan yang meliputi jangka waktu tertentu maupun
bagi pemilihan cara-cara tersebut diperlukan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria tertentu
yang terlebih dahulu harus dipilih pula.
Dapat disimpulkan bahwa perencanaan merupakan kegiatan menetapkan, merumuskan
tujuan dan mengatur pendaya-gunaan manusia, material, metode dan waktu secara efektif dalam
rangkan pencapaian tujuan.
Sementara itu, paradigma dapat berarti cara kita untuk melihat, memahami dan menafsirkan
sesuatu. Paradigma tentang sesuatu (misalnya : perencanaan) dapat mewarnai dan bahkan
mengaburkan pandangan manusia tentang sesuatu itu. Paradigma yang tidak tepat dapat
membahayakan kehidupan manusia itu sendiri atau lingkungan sekitarnya
2.2 Fungsi perencanaan
Perencanaan menetapkan tujuan-tujuan dan standar-standar yang akan digunakan untuk
memudahkan pengawasan. Berikut ini fungsi dari perencanaan, antara lain:
a. Sebagai alat koordinasi seluruh stakeholders
b. Sebagai penuntun arah
c. Minimalisasi ketidakpastian
d. Minimalisasi inefisiensi sumberdaya
e. Penetapan standar dan pengawasan kualitas
2.3 Unsur Perencanaan
Kata perencanaan (planning) merupakan istilah umum yang sangat luas cakupan
kegiatannya. Para ahli telah mendefinisikan kata perencanaan dengan kalimat-kalimat berbeda-

beda, tergantung aspek apa yang ditekankan. Akan tetapi, dapat disimpulkan bahwa di dalam
perencanaan mencakup pengertian sebagai berikut. Suatu perencanaan yang baik, harus
memenuhi unsur-unsur yang ada. Berikut merupakan unsur-unsur perencanaan :
A. Tujuan dan Cita-cita
Dalam suatu proses perencanaan kita membutuhkan orientasi tujuan yang jelas, apa yang
ingin dicapai pada suatu perencanaan tersebut. Arah perencanaan secara spesifik (khusus dan
rinci) yang akan dilakukan harus jelas, hasil perencenaan yang seperti apa perencanaan yang
dikehendaki tidak terkesan mengambang. Penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan.
B. Sumber Daya
Unsur perencanaan berupa sumber daya dapat dibagi menjadi tiga, meliputi Sumber Daya
Manusia (dalam hal ini meliputi : modal dasar pembangunan, migrasi, indeks pembangunan
manusia, angkatan kerja); Sumber Daya Alam (dalam hal ini meliputi : Kelangkaan, kerawanan
(disaster), dan keberlanjutan (sustainability) dan Sumber Daya Ekonomi (dalam hal ini meliputi:
ekonomi rakyat, sektor basis, dan industrialisasi)
C. Efektif dan Efisien
Suatu perencanaan dapat dikatakan baik jika dapat lebih efisien ekonomi (anggaran dana,
pengeluaran pendanaan), efisien waktu (waktu pengerjaannya dapat selesai sesuai dengan waktu
yang ditentukan) tepat sasaran, serta memiliki dampak sesuai dengan yang telah direncanakan
(dampak terhadap perekonomian terhadap suatu wilayah karena adanya pembangunan pusat
perbelanjaan misalnya).
D. Ruang dan Lingkungan
Adanya ruang dan lingkungan yang sesuai dapat mendukung perencanaan agar dapat
dilaksanakan. Penentuan alokasi sumber daya yang merupakan instrument bagi pembangunan
daerah sehingga setiap daerah memiliki perencanaan secara mandiri, pembangunan yang
dilakukan di daerah merupakan salah satu bentuk pembangunan nasional. Perencanaan yang
didasarkan pada aspek sosial ekonomi dan lingkungan.
E. Stakeholders
Kelembagaan (institusional) terdiri dari dua jenis, yaitu kelembagaan formal dan
informal. Kelembagaan dalam suatu perencanaan berperan penting dalam mengatur
penggunaan/alokasi sumberdaya secara efien, merata dan berkelanjutan. Pada era sekarang ini,
partisipasi masyarakat lebih diutamakan dalam suatu perencanaan secara bottom-up dengan
harapan perencanaan yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
F. Analisis

Pendekatan, metode, prosedur atau teknik untuk menelusuri kondisi historis dan kondisi
sekarang dari suatu wilayah perencanaan dan menentukan hal-hal yang dapat dilakukan pada
masa yang akan datang (misalnya: analisis spasial, analisis sektoral, analisis temporal)
G. Waktu dan Proses
Perencanaan sebagai proyeksi masa depan dengan mempertimbangkan pengalaman masa
lalu (kecenderungan trend), keadaan masa kini (jalur rencana, cita-cita), dan keadaan masa
mendatang.Proses Mempertimbangkan proses perencanaan dengan menggali segala informasi,
pengetahuan, dan proses kerja yang berkaitan dengan yang akan direncanakan.
2.4 Review Paradigma Perencanaan Satu
Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas terkait perkembangan paradigma perencanaan
di dunia, terdapat tiga paradigma yang dikemukaan di paradigm perencanaan satu tersebut,
antara lain :
A. Paradigma Theosentrisme
Merupakan faham yang melahirkan pemerintahan theokrasi, yang menggabungkan
dogma agama dengan kekuasaan, dan yang menggeser faham politeisme menjadi monoteisme.
Paradigma theosentrisme juga bisa diartikan menjadi bentuk masyarakat yang berkembang
kearah kehidupan yang diatur dan diperintah oleh raja melalui sistem yang bersifat militer
didampingi ahli agama, pendeta atau rohaniawan. Paradigma theosentrisme juga mempengaruhi
terhadap perencanaan yaitu dengan munculnya Authoritarian Planning. Authoritarian Planning
merupakan perencanaan kota yang mendukung atau menerjemahkan bentuk kekuasaan
Authoritarian dan mengesampingkan kepentingan pasar, masyarakat .
Paradigma theosentrisme muncul di Indonesia pada abad VII atau VIII, berkembang
hingga jaman hindu dan islam, dalam paradigma ini beranggapan bahwa raja dianggap sebagai
perantara antara rakyat dan tuhan.
B. Paradigma Utopianisme
Dalam lingkup perencanaan dapat diartikan no where land atau khayalan atau impian..
Akar filosofi utopia yakni Humanisme (melahirkan sicial utopia) dan naturalisme (melahirkan
physical Utopia).Kritik terhadap utopianisme:
1. Hanya merinci keadaan dimasa depan, tapi tidak merinci bagaimana cara menciptakan
keadaan tersebut.
2. Kritik ini melahirkan konsep perencanaan lingkungan kota.
Pengaruh terhadap perencanaan:

1. Mengembangkan nilai-nilai esensi kemanusiaan yang telah terabaikan oleh sistem


industri dan birokrasi.
2. Nilai-nilai kemanusiaan ini dikembalikan atau dikaitkan kembali dengan lingkungan
perdesaan,

dimana

udara

bersih,

open

space

dengan

pohon-pohon

menjadi

perhatian/penekanan perencanaan lingkungan binaan. Penerapan konsep garden city


berada pada kota Jogjakarta yaitu kawasan kota baru, kawasan jalan gunung-gung kota
malang.
C. Paradigma Positivisme
Pada abad 19 diyakini sebagai abad pembangunan modern, yang juga dikenal sebagai
abad positivisme. Pembangunan dan kemajuan ditandai oleh dominasi ilmu pengetahuan modern
dan ilmu positif. Makna positivisme menurut Auguste Comte adalah nyata, tidak khayal,
menolak metafisika dan teologik, bermanfaat dan diarahkan pada pencapaian kemajuan, pasti,
jelas dan tepat serta menuju kearah penataan dan penertiban.
2.5 Paradigma Rasionalisme
Pola pergeseran paradigm perencanaan kota dan daerah yang diterangkan melalui
perkembangan dunia filsafat. Setelah pergeseran paradigm Theosentrisme pada abad 12-18,
positivisme pada tahun 1917-1980, paradigma yang masih digunakan sampai sekarang yaitu
paradigma Rasionalisme. Paradigma Rasionalisme mulai muncul pada tahun 1980 dan masih
digunakan sampai saat ini. Paradigma rasionalisme muncul sebagai kritik terhadap model
perencanaan positivisme yang dinilai terlalu teknis dan hanya mementingkan pembangunan
secara fisik. Rasionalisme menganut nilai rasio atau akal, menurut ajaran ini rasio berarti sumber
pengetahuan yang dapat dipercaya.
Planning dianggap suatu pola umum dalam berpikir dan bertindak, merupakan suatu
aktivitas dimana masyarakat dapat memutuskan dan mengontrol pembangunannya sendiri.
Planning adalah rasionalisme atau penerapan akal sehat untuk kepentingan-kepentingan manusia.
Dengan demikian planning harus mencerminkan dan mengarahkan cara kerja yang ilmiah,
memiliki citra pasti dan menyeluruh (holistic) atas kemungkinan-kemungkinan yang ada,
program-program yang disusun untuk dievaluasi dan memberikan peluang untuk tindakantindakan pemecahan masalah (problem solving).
Perencanaan atau planning pada konteks rasionalisme bersumber pada planning sebagai
suatu kegiatan analisis kebijakan (planning as policy analysis) yang berlandaskan pada
permasalahan dan tujuan yang berkaitan. Dalam tradisi perencanaan planning as a policy analyst

yang dianut oleh rasionalisme, kedudukan perencana adalah sebagai policy analyst yang
menerima dan menyampaikan saran atau laporan dari masyarakat kepada pemerintah pihak
pembuat kebijakan agar kebutuhan masyarakat dapat terfasilitasi terkait dengan permasalahan
yang dihadapi dan anggaran yang tersedia.
2.6 Paradigma Fenomenologi
Paradigma perencanaan di dunia telah bergeser dari awal mula paradigma yang
digunakan yaitu theosentris. Paradigma tersebut bergeser dikarenakan perubahan permasalahan
serta serta tantangan yang terus berkembang di dunia. Paradigma theosentrisme pada abad 12-18
digantikan oleh paradigma posivistik pada tahun 1917-1980. Selanjutnya paham posivistik
digantikan oleh paradigma rasionalistik pada tahun 1980 sampai sekarang. Pada paradigma
rasionalistik, menggunakan perencanaan top down namun perencanaan tersebut banyak
mendapat kritik pada paaradigma fenomenologi, kritik tersebut dikarenakan paradigma
rasionalistik dinilai kurang efektif dan tepat guna. Model perencanaan top down dinilai hanya
mementingkan kebutuhan sebagian kalangan tanpa melibatkan partisipasi dan menampung
aspirasi masyarakat. Perencanaan yang tidak menampung aspirasi serta kebutuhan masyarakat
membuat diperlukan paham yang dapat mengakomodir permasalahan yang ada yaitu
merencanakan berdasarkan kondisi masyarakat serta menampung aspirasi masyarakat. konsep
yang dimaksud ialah paham fenomenologi yang menitik beratkan pada perencanaan yang
merespon fenomena yang terjadi ditengah masyarakat. Bersamaan dengan itu berkembang pula
model atau pendekatan perencanaan yang berlandaskan pluralism seperti community based
planning, parcitipatory planning, gender planning, CSR corporate service, dan community action
planning.
Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan logos. Fenomena
berasal dari kata kerja Yunani phainesthai yang berarti menampak, dan terbentuk dari akar kata
fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya sinar atau cahaya. Dari kata itu terbentuk kata kerja,
tampak, terlihat karena bercahaya. Dalam bahasa kita berarti cahaya. Secara harfiah fenomena
diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang menampakkan. Fenomena dapat dipandang dari dua
sudut. Fenomenologi juga merupakan sebuah pendekatan perencanaan untuk menyelidiki
kebutuhan perencanaan dalam masyarakat. Fenomenologi bermakna metode pemikiran untuk
mengetahui kebutuhan perencanaan dari sebuah kelompok masyarakat yang berdasarkan pada
fenomena yang terjadi di tengah masyarakat ataupun permasalahan yang ada di masyarakat

dengan langkah-langkah logis, sistematis kritis, tidak berdasarkan apriori/prasangka, dan tidak
dogmatis. Fenomenologi sebagai metode tidak hanya digunakan dalam ilmu perencanaan
maupun filsafat tetapi juga dalam ilmu-ilmu sosial dan pendidikan.
Dalam fenomenologi hendaknya dilihat fenomena yang dialami oleh manusia dari sudut
pandang orang pertama, yakni dari orang yang mengalaminya. Fokus fenomenologi bukan
pengalaman partikular, melainkan struktur dari pengalaman kesadaran, yakni realitas obyektif
yang mewujud di dalam pengalaman subyektif orang per orang. Fenomenologi berfokus pada
makna subyektif dari realitas obyektif di dalam kesadaran orang yang menjalani aktivitas
kehidupannya sehari-hari.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Paradigma Rasionalisme dan Fenomenologi dalam Perencanaan
Perencanaan membutuhkan sudut pandang dan dasar pemikiran dalam pelaksanaannya.
Paradigma rasionalisme dan fenomenologi memiliki peran penting tersendiri sebagai dasar
perencanaan.
A. Paradigma Rasionalisme dalam Perencanaan
Model perencanaan rasionalistik menghasilkan konsep pendekatan top-down dalam
pembangunan. Pada masa ini science atau ilmu pengetahuan berkembang pesat. Konsep
pembangunan juga turut bergeser dari sebelumnya City planning (Eropa) menjadi urban
planning, regional planning, rural planning dan society-based-planning (USA). Kritik konsep
rasionalisme terhadap positivisme mencakup paham bahwa perencanaan bukan hanya dalam
bidang fisik tetapi juga mencakup perencanaan sosial, ekonomi dan sektoral. Indonesia melalui
Kemendagri turut mengadopsi konsep ini melalui perencanaan top-down yang diterapkan pada
jaman orde baru hingga sekarang. Implementasi dari pergeseran paradigma rasionalisme meliputi
produk perencanaan berupa masterplan, unit perencanaan daerah karena pada kedua produk
tersebut lebih melihat dari sudut pandang masyarakat, kepentingan dan kebutuhan masyarakat.
Tindakan atau produk tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah yang ada
dalam masyarakat. Masyarakat sebagai participant dapat memberikan saran dan menyampaikan
permasalahan yang ada di daerahnya, sedangkan perencana hanya memfasilitasi untuk
menyampaikan hal tersebut kepada pembuat kebijakan agar kebutuhan masyarakat dapat
terfasilitasi.

B. Paradigma Fenomenologi dalam Perencanaan


Pendekatan fenomenologi merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi
dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Pendekatan
fenomenologi hampir serupa dengan pendekatan hermeneutics yang menggunakan pengalaman
hidup sebagai alat untuk memahami secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks
sejarah dimana pengalaman itu terjadi. Penelitian ini akan berdiskusi tentang suatu objek kajian
dangan memahami inti pengalaman dari suatu fenomena.
Salah satu gagasan terpenting dari paradigma fenomenologi yang menjadi landasan
pemikiran dalam penelitian kualitatiif adalah gagasan tentang bagaimana seharusnya peneliti
didalam memandang realitas sosial, fakta sosial atau fenomena sosial yang menjadi masalah
didalam penelitian. Menurut paradigma fenomenologi bahwa realitas itu tidak semata-mata
bersifat tunggal, objektif, terukur (measurable), dan dapat ditangkap oleh panca indera
sebagaimana pandangan dari paradigma positivisme. Namun berdasarkan paradigma
fenomenologi, realitas itu bersifat ganda atau dualisme dan subyektif interpretatif atau hasil
penafsiran subyektif.
Pada paradigma fenomenologi, pemikirannya didasarkan pada permasalahan atau
fenomena yang terjadi di tengah masyarakat yang didasarkan pada sudut pandang masyarakat
sebagai pihak yang merasakan permasalahan dan dampak yang ditimbulkan. Namun dalam
paradigma ini tidak hanya menggunakan prasangka untuk mendiagnosa permasalahan dan
perencanaan yang dibutuhkan, namun juga didasarkan pada logika dan realistik.
3.2 Perkembangan Paradigma Perencanaan di Indonesia
Perkembangan konsep perencanaan pembangunan yang diterapkan Indonesia merupakan
kelanjutan dari konsep perencanaan awal bangsa ini berdiri yakni paradigma positivisme yang
dicirikan dengan adanya beberapa megaproyek bangunnan pencakar langit khusunya di Ibukota.
Berikut ini perkembangan dan pergeseran konsep perencanaan pembangunan bangsa
Indonesia:
A. Masa Kepemimpinan Soekarno (1949-1960)
Masa Soekarno dikenal sebagai periode lahir dan bertumbuhnya Indonesia sebagai
sebuah Negara. Pada masa ini kondisi bangsa Indonesia cukup kacau dan diwarnai dengan
banyak gejolak yang dipicu oleh persoalan ekonomi, sosial, dan politik. Negara yang baru saja
merdeka dilanda sering dilanda pemberontakan. Oleh karena itu Presiden Soekarno mencetuskan

sebuah konsep perencanaan sebagai jawaban terhadap situasi sosial masa tersebut. Presiden
Soekarno menerapkan model perencanaan berupa Nation Character Building.
Character Building dalam persepsi beliau bermakna upaya untuk membangkitkan
kebanggaan dan kecintaan terhadap bangsa sendiri dengan cara menggenjot pembangunan secara
fisik. Tiga prioritas utama dalam kerangka Character building ialah pembangunan manusia,
ekonomi dan fisik. Beberapa contoh dari Nation Character Building tersebut berupa beberapa
megaproyek seperti: Gelora senayan, monument semanggi, Hotel Indonesia, Sarinah, Hotel
ambarukmo, nusa dua dan lain-lain
B. Masa Kepemimpinan Soeharto (1960-1990)
Pada awal Masa Presiden Soeharto bangsa Indonesia mencapai perkembangan yang
cukup signifikan. Soeharto yang diperkuat oleh tim ekonomi lulusan Amerika Serikat merancang
sebuah perencanaan pembangunan yang berbasis pertumbuhan (growth). Konsep growth yang
diterapkan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan, pengembangan kawasan industry,
dan praktek sentralisasi ekonomi dan politik. Soeharto juga memproduksi rancangan
perancanaan dalam periode tahunan, lima tahunan, dan sepuluh tahunan yang dikenal dengan
sebutan rencana pembangunan. Jaman soeharto dikenal juga dengan kebijaka eksploitasi
kekayaan alam secara besar-besaran dengan melibatkan pihak asing dalam pengelolaanya.
C. Tahun 1990-an
Tahun 1990 negara-negara dunia mulai menyadari bahaya kerusakan alam dan
peningkatan krisis lingkungan yang semakin parah. Polusi dan kebakaran hutan, pengerukan
sumber daya alam secara besar-besaran memicu krisis lingkungan. Berdasarkan kesadaran
tersebut maka Negara-negara dunia salah satunya Indonesia mulai mempertimbangkan aspek
keberlanjutan dalam perencanaan pembangunan. Dalam hal ini kelestarian alam dan
pemanfaatan sumber alam secara berkelanjutan mulai disadari dan diterapkan dalam kebijakan
pembangunan
D. Tahun 1993-1998
Tahun 1993 Indonesia mengalami banyak persoalan dan gejolak yang berkaitan dengan
sosial budaya. Hal ini disadari sebagai bahaya laten yang dapat menghancurkan integritas bangsa
di masa depan. Oleh karena itu pemerintah pada masa ini mulai mengikutsertakan pertimbangan
human development atau pengembangan manusia sebagai modal dasar perkembangan bangsa.
E. Tahun 1998 (reformasi)

Masa ini ditandai dengan gejolak sosial, ekonomi yang pada akhirnya berimbas pada
pencopotan Soeharto sebagai presiden Indonesia. Sejalan dengan itu konsep perencanaan juga
mengalami pembaharuan terutama dalam penerapan pemahaman demokrasi pluralisme. Konsep
perencanaan yang demikian menitik beratkan pada pemerataan pembangunan berdasarkan
karakteristik wilayah dan sumber daya yang terkandung di dalamnya.
Konsep perencanaan akan berkembang terus seiring dengan perkembangan kebutuhan
dan prioritas manusia seperti halnya di Indonesia. Untuk penjelasan lebih rincinya, praktek
perencanaan di Indonesia dapat juga dilihat dalam tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 3. 2 Praktek Perencanaan di Indonesia
Periode Latar Belakang
Paradigma dan konsep
Produk, Lingkup dan Substansi
Masyarakat
perencanaan
- 1945

Kerajaan dan
Teosentris, autoritarian,
Kolonialisme (VOC) kosmologi
Kolonialisme
(triaspolitika)

Perencanaan fisik, struktur, lokal

Positivisme, utopian, Garden Perencanaan fisik, struktur, lokal


City

1945
1955

Perang Kemerdekaan Positivisme, Rasionalis,


(Liberalisme)
Utopian, Pragmatisme

Rencana Ekonomi, Rencana Kota,


SVV, SVO

1955
1960

Multi partai

Lembaga Perencana, Penelitian


Perumahan, Pencarian Standar

1960
1965

Demokrasi terpimpin Utopian, Positivisme,


Rasionalis

Rencana NasSemesta, UU Pk
Agraria, Masterplan

1965
1970

Orde Baru - Transisi Positivisme Rasionalis


(Sentralistik)

Bappenas, PJP, Unit Perencanaan


Daerah

1970
1980

Orba- Stabil
(SentralistikInkrimental)

Positivisme Rasionalis,
komprehensif, Dialektik,
inkrimental, fenomenologi

GBHN, Repelita,
KonsepPengembangan Wilayah,
Rencana Sektoral, Bottom Up
(KIP)

1980
1990

Orba- Stabil
(SentralistikInkrimental)

Positivisme, Rasionalis,
komprehensif, Dialektik,
inkrimental, fenomenologi

Permendagri, P2BPK

1990
1997

Orba- Stabil
(Birokratkuat)

Positivisme, Rasionalis,
komprehensif, Dialektik,
inkrimental, SWOT

UU, Kepes, PP tentan penataan


ruang, PJM, P3KT, Desentralisasi

1997
1999

Krisis Moneter

Positivisme Rasionalis,
Pragmatisme, Dialektik,
fenomenologi

UU Pemda, Perimbangan
Keuangan, Perumusan Format
Proses Rencana

Positivisme, Rasionalis

1999 -

Reformasi

Positivisme Rasionalis,
inkrimental, SWOT

Desentralisasi

3.3 Perkembangan Perencanaan di Dunia


Perencanaan merupakan salah satu bentuk karya manusia yang berbudaya, sehingga
produk perencanaan juga berkembang seiring dengan perkembangan daya pikir dan kreasi
manusia. Proses dan produk perencanaan wilayah dan kota dimanifestasikan dalam bentuk
struktur, bentuk dan penampilan fisik yang berbeda, yang disebabkan oleh pendekatan,
teknologi, peradaban dan kompleksitas yang berbeda. Secara umum, jaman atau sejarah
perencanaan wilayah dan kota di dunia dibagi dalam 6 jaman, yaitu purba, yunani, abad
pertengahan, peralihan, revolusi industri, dan pasca industri. Berikut merupakan perkembangan
perencanaan di dunia.
1. Zaman Purba
Pada zaman purba, kehidupan masih sangat sederhana dan permasalahan yang dihadapi
masih sangat sederhana. Masyarakat hidup dengan berpindah-pindah dan berburu untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Teknologi masih sangat sederhana dan terbuat dari alam
seperti membuat alat berburu dari batu. Berikut merupakan tabel penjelasan berdasarkan
peradaban teknologi, kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada zaman purba.
Peradaban dan Teknologi
Kompleksitas Masalah
Pendekatan Perencanaan

Masih Rendah
Sangat Sederhana
Didominasi Oleh Alam
Pemenuhan Kebutuhan Minimal
( Fisik )

2. Zaman Yunani
Pada zaman yunani, peradaban sudah lebih maju dibandingkan dengan zaman purba.
Teknologi yang ada juga sudah lebih maju namun masih sederhana. Kompleksitas permasalahan
masih sederhanadan dikuasai oleh sistem penguasa seperti raja. Masyarakat pada zaman ini
sudah mulai merubah alam untuk memenuhi kebutuhannya. Berikut merupakan tabel penjelasan
berdasarkan peradaban teknologi, kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada
zaman yunani.

Peradaban
dan
Teknologi
Kompleksitas
Masalah
Pendekatan
Perencanaan

Peningkatan Peradaban
Teknologi agak maju, tetapi masih sederhana
Sederhana
Sistem Penguasa dan yang dikuasai
Sudah dapat mengubah alam secara terbatas sesuai dengan
kebutuhan
Pendekatan Fisik Estetis

3. Zaman Abad Pertengahan


Pada zaman abad pertengahan, peradaban dan teknologi sudah semakin maju. Masyarakat
sudah melakukan barter dan sudah terdapat persaingan antar kelompok. Pada masa ini terbentuk
kelompok penguasa dan rakyat yang dikuasai sehingga menimbulkan kesenjangan sosial.
Masyarakat sudah mengenal agama. Berikut merupakan tabel penjelasan berdasarkan peradaban
teknologi, kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada zaman abad pertengahan.
Peradaban dan Teknologi
Kompleksitas Masalah

Pendekatan Perencanaan

Peradaban dan teknologi lebih maju


Peningkatan persaingan antar kelompok
peningkatan budaya tukar-menukar
perebutan hegemoni
Terbentuknya kelompok penguasa dan rakyat yang
dikuasai
dominasi agama dan kekuatan
produksi dan pertukaran
pertahanan
pendekatan fisik estetis

4. Zaman Peralihan (Reinasence)


Pada zaman peralihan, peradaban yang terbentuk sudah semakin tinggi dan mulai
ditemukannya teknologi untuk memudahkan hidup serta sudah terdapat imu pengetahuan dalam
bidang seni. Permasalahan yang dihadapi pun semakin luas dan masyarakat tidak lagi melakukan
barter dengan keompok namun dengan keompok yang ebih luas dan besar yaitu mulai
melakukan perukaran antar negara. Berikut merupakan tabel penjelasan berdasarkan peradaban
teknologi, kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada zaman peralihan.
Peradaban dan Teknologi
Kompleksitas Masalah

Peradaban semakin tinggi merupakan awal


penemuan teknologi dan perkembangan
ilmu pengetahuan seni
kompleksitas permasalahan semakin luas

Pendekatan Perencanaan

pertukaran barang dan produksi antar


bangsa
sistem hubungan terbuka
Prestise bangsa menjadi dasar pembangunan
Penonjolan diri/ bangsa
Skala pemanfaatan ruang serba kolosal
Pendekatan fisik estetis

5. Masa Revolusi Industri


Pada masa revolusi industri, teknologi sudah berkembang dan dimanfaatkan pada dunia
industri. Pada masa ini masyarakat banyak bekerja dibidang industri dikarenakan industri
memerlukan pekerja yang banyak. Perkembangan ekonomi semakin meningkat dikarenakan
industri yang menjamur dimanan-mana yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan kualitas
hidup yang menurun. Berikut merupakan tabel penjelasan berdasarkan peradaban teknologi,
kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada zaman revolusi industri.
Peradaban dan
Teknologi

Kompleksitas
Masalah

Pendekatan
Perencanaan

Peradaban semakin berkembang dan mengawali


perkembangan teknologi
Perkembangan Industrialisasi
Kompleksitas semakin dan cenderung tinggi
Urbanisasi desa ke kota
Hubungan antar negara
Peningkatan kegiatan perdagangan intern-ekstern
Perkembangan teknologi mobilitas
Efisiensi ekonomi
Kapitalistik
Kompetensi
Produktivitas tinggi
Pendekatan ekonomis

6. Masa Pasca Revolusi Industri


Pada masa pasca revolusi industri, masyarakat sudah jenuh akibat revolusi industri yang
menyebabkan kerusakan lingkungan dan kualitas hidup yang menurun, akibatnya banyak
masyarakat yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dan berangan-angan mengenai

kehidupan yang baik dan lingkungan yang baik. Berikut merupakan tabel penjelasan berdasarkan
peradaban teknologi, kompleksitas masalah, dan pendekatan perencanaan pada masa pasca
revolusi industri.
Peradaban
dan
Teknologi

Peradaban eko teknologi


kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan
Perkembangan sistem informasi dan komunikasi
Super kompleks

Urbanisasi tinggi
Kompleksitas
Negara maju vs negara berkembang
Masalah
Pergerakan cepat
Kapitalistik vs sosialistik
Eksploitasi SDA sangat besar
Efisiensi ekonomi
Pendekatan
Perencanaan

Politik antar bangsa


Perencanaan pembangunan yang menyeluruh dan sistem
perwilayahan
Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

4
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Paradigma Fenomenologi dan Rasionalisme masing masing memiliki kekurangan dan
kelebihan. Kelebihan paradigma fenomenologi adalah dapat dirasakan atau ditangkap oleh panca
indera manusia (sensual), sehingga objek dapat dihayati oleh subyek peneliti dalam konteks
naturalnya. Paradigma fenomenologi memiliki kekurangan yakni bersifat subjektif dan tidak
adanya kerangka penelitian sehingga tidak ada tujuan penelitian dan hanya menjadi
ilmu/kearifan lokal.
Paradigma Rasionalisme memiliki kelebihan adanya kerangka penelitian yang
berdasarkan teori-teori yang sebelumnya pernah ada dan objek yang dilihat secara spesifik dan
kontekstual serta penyelesaian masalah yang dilakukan melibatkan berbagai partisipan/pihak.
4.2 Saran

Paradigma fenomenologi sebaiknya tidak dijadikan pandangan yang mendominasi karena


tidak ada landasan teori dan rasionalitas, serta bersifat subjektif, begitu pula dengan paradigma
rasionalisme yang tidak memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam
menjalankan perencanaan sebaiknya menggunakan paradigma fenomenologi dan rasionalistik.
Dengan menggunakan dua paradigma tersebut, akan dapat melengkapi kekurangan pada setiap
paradigma. Paradigma fenomenologi yang berdasarkan permasalahan yang ada di masyarakat
sehingga perencanaan yang ada akan didasarkan pada kebutuhan masyarakat, serta pada
paradigma rasionalistik dimana menggunakan top down, yang kedua nya jika dipergunakan
dengan baik dan saling menutupi kekurangan akan menjadikan perencanaan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Husaini Usman. 2008. Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara,
T. Hani Handoko. 1984. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Zelthauzallam,

Dedet.

2013.

Jurnal

Pengertian,

tujuan

dan

fungsi

http://dedetzelth.com/2013/02/pengertian-tujuan-dan-fungsi-perencanaan.html

perencanaan.
(diakses

27

September 2014)
Masik A. 2005,Hubungan Modal Sosial dan Perencanaan Jurnal Perencanaan Wilayah dan
Kota,
Institut Teknologi Bandung Vol.16/No. 3, Desember 2005, hlm. 1-23
PARADIGMA,PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN FENOMENOLOGI Oleh:Mami
Hajaroh , dosen program budi kebijakan pendidikan FIP UNY bidang keahlian penelitian dan
evluasi pendidikan.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dra.%20Mami%20Hajaroh,
%20M.Pd./fenomenologi.pdf