Anda di halaman 1dari 10

INOKULASI VIRUS TANAMAN

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok

: Meyla Khasanah
: B1J012110
:I
:4

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gagalnya sel atau jaringan melaksanakan fungsi fisiologisnya akibat gangguan
terus-menerus oleh agen primer dan menimbulkan gejala merupakan definisi dari penyakit
tumbuhan. Patogen merupakan penyebab penyakit pada tumbuhan. Tumbuhan yang
terserang penyakit akan terdapat gejala dan tanda yang ditimbulkan, dalam satu lahan jika
kita ingin mengetahui penyakit yang menyerang pada lahan tersebut maka perlu dilakukan
yaitu mengidentifikasi penyakit yang menyerang. Salah satu cara untuk mengidentifikasi
penyakit dengan menggunakan metode Postulat Koch, metode ini menentukan kriteria
yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab
penyakit tertentu (Semangun, 1996).
Tanaman yang terserang virus biasanya menyebabkan berbagai macam gejala pada
sebagian atau seluruh bagian dari tumbuhan. Gejala ini biasanya penurunan laju
pertumbuhan dari tanaman itu sendiri yang mengakibatkan tanaman kerdil dan tanaman
menjadi berumur lebih pendek. Gejala lain yang di akibatkan virus yaitu terdapat garis
sepanjang tulang daun lateral, ada bercak yang terlihat jelas jika dilihat dari bawah
permukaan daun (Pracaya, 2007).
Virus tumbuhan dalam beberapa hal berbeda dengan virus yang menyerang hewan
dan bakteri. Salah satu perbedaan tersebut adalah mekanisme penetrasi virus ke dalam sel
inang. Virus tumbuhan hanya dapat masuk ke dalam sel tumbuhan melalui luka yang terjadi
secara mekanis atau yang disebabkan oleh serangga vektor. Hal ini disebabkan virus
tumbuhan tidak mempunyai alat penetrasi untuk menembus dinding sel tumbuhan. Asam
nukleat yang menjadi genom virus tumbuhan sebagian besar merupakan molekul ssRNA.
Ada beberapa virus tumbuhan yang mempunyai genom dsDNA, ssDNA, dan dsRNA (Akin,
2006).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memberikan pemahaman praktek Postulat Koch
dalam penularan penyakit tanaman yang disebabkan oleh virus tanaman. Khususnya
mengetahui bagaimana cara penularan virus dari tanaman yang satu ke tanaman yang lain
menggunakan metode sap, karena sangat penting untuk penelitian virus dalam
laboratorium.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah, tanah untuk media penanaman,
polybag, serbuk arang, mortar and pastle, plastik transparan, akuades steril, kertas label,
milli pore, benang, membrab filter dan cutton bud.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah dua tanaman kacang panjang
berumur 2 minggu, beberapa lembar daun kacang kacangan yang terinfeksi penyakit karat
daun.

B. Metode

Pembuatan ekstrak atau sap dari daun yang berpenyakit


1. Beberapa helai daun kacang panjang yang terkena penyakit disiapkan.
2. Daun yang sakit (usahakan dari daun yang ke 3 atau ke 4) dan akuades dimasukkan
dalam mortar dan kemudian dilumatkan dengan pastle.
3. Daun yang telah dilumatkan kemudian disaring dengan kertas saring ukuran 0,22

m
4. Daun yang telah dilumatkan disaring dengan milli pore sampai didapatkan sap.

Pengujian
1. Pengujian dilakukan pada tanaman kacang panjang yang berumur 2 minggu
2. Tahapan inokulasi patogen dilakukan dengan melukai daun yang sehat pada kacang
panjang dengan menggunakan cutton bud yang telah ditempelkan pada serbuk
arang.
3. Cutton bud steril dicelupkan dalam sap tanaman yang memiliki tanda-tanda
penyakit virus yang telah disaring, kemudian inokulasikan pada daun yang telah
dilukai.
4. Daun yang telah diberi sap diletakkan di green house.
5. Perubahan yang terjadi pada daun yang diinokulasi maupun daun kontrol diamati
setelah 10 hari.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Inokulasi Virus Tanaman


Kelompok
Sampel
Kontrol

Perlakuan

Daun 2

+, gejala sistemik, daun bercak putih

Daun 1

+, gejala lokal, daun bercak kuning

Daun 2

+, gejala sistemik, daun bercak kuning

Daun 1

+, gejala sistemik, daun bercak kuning

Daun 2

+, gejala lokal, daun berwarna kuning bercak hitam

Daun 1

+, gejala sistemik, daun menguning bercak coklat

Keterangan :
(+)

: Tanaman terinfeksi virus

(-)

: Tanaman tidak terinfeksi virus

Gambar 1. Daun Kacang Panjang Sakit

Gambar 2. Daun Kacang Panjang Kontrol

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamtan bahwa tanaman kontrol pada kelompok 1, 2, 3, 4 dan
5 menunjukkan hasil positif, ini berarti tanaman mengalami gejala seperti pada tanaman
yang diambil sapnya, sedangkan tanaman kelompok 6 hasilnya negatif, hal ini berarti
tanaman kontrol tidak menunjukkan gejala terserang virus seperti pada tanaman yang
diambil sapnya. Tanaman dengan perlakuan pemberian sap menunjukkan hasil yang positif,
hal ini berarti tanaman dengan perlakuan menunjukkan gejala yang sama dengan tanaman
terkena virus yang diambil sapnya. Gejala yang diperlihatkan oleh tanaman dengan
perlakuan ini adalah daunnya menguning, pada daun terdapat bercak coklat dan terlihat
layu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bos (1983) bahwa tanaman dengan perlakuan
menunjukkan gejala sama seperti pada tanaman terserang virus yang diambil sapnya,
berarti memenuhi keempat kriteria pada Postulat Koch. Hal ini sesuai dengan pernyaataan
Matthews (1970) bahwa keempat kriteria Postulat Koch harus dipenuhi untuk menentukan
hubungan sebab akibat antara virus dan penyakit yang ditimbulkan.
Postulat Koch adalah metode yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya virus
yang menginfeksi suatu tumbuhan. Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai
panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik
tertentu. Walaupun dalam masa Koch, dikenal beberapa penyebab infektif yang memang
bertanggung jawab pada suatu penyakit dan tidak memenuhi semua postulatnya. Usaha
untuk menjalankan Postulat Koch semakin kuat saat mendiagnosis penyakit yang
disebabkan virus pada akhir abad ke-19. Masa itu virus belum dapat dilihat atau diisolasi
dalam kultur. Hal ini merintangi perkembangan awal dari virologi (Matthews, 1970).
Tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metode laboratorium dan menentukan
kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab
penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan Postulat Koch yaitu:
1. Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang
ditimbulkan.
2. Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di
laboratorium.
3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada tanaman yang sesuai dapat
menimbulkan penyakit.
4. Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari tanaman yang telah terinfeksi
tersebut (Bos, 1983).

Virus tumbuhan adalah virus yang menginfeksi tumbuhan. Umumnya memiliki


asam nukleat berupa ssRNA. Beberapa virus tumbuhan yang memiliki genom dsDNA,
ssDNA, dan dsRNA. Sifat khas infeksi virus tumbuhan adalah tidak adanya alat penetrasi
sehingga apabila virus tumbuhan akan menginfeksi inangnya harus melalui mekanis atau
dengan perlukaan (Akin, 2006).
Virus mosaik merupakan virus yang umum menyerang tanaman kacang-kacangan
dan penyebarannya sangat luas. Virus ini dapat terbawa benih, ditularkan melalui serangga
vektor (kutudaun) ataupun dengan sap tanaman (CABI, 2005). Virus mosaik kacang panjang
(VMKP) termasuk ke dalam genus Potyvirus. Genus Potyvirus termasuk ke dalam kelompok
virus terbesar. Partikel virus berbentuk batang lentur dengan panjang 720770 nm dan
lebar 1112 nm. Tipe asam nukleatnya utas tunggal (single strand) RNA (ss-RNA).
Kandungan asam nukleat dalam partikel virus sebesar 5%, sedangkan kandungan protein
dalam coat protein sebesar 95% (Shukla et al, 1994).
Virus mosaik merupakan virus yang sulit untuk dikendalikan. Upaya pengendalian
virus tanaman yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan varietas yang tahan.
Namun tidak banyak tersedia kultivar komersial tahan virus. Salah satu cara meningkatkan
ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen dapat dilakukan dengan menginduksi
ketahanan sistemik yang terdapat pada tanaman tersebut. Menurut Kuc (1987), ketahanan
sistemik dari suatu tanaman dapat diaktifkan dengan menginduksi gen-gen ketahanan yang
terdapat di dalam tanaman dengan agen penginduksi. Salah satu agen yang dapat
menginduksi ketahanan sistemik suatu tanaman adal ah ekstrak tumbuhan (Hersanti,
2003).
Patogen yang menyerang kacang panjang berasal dari berbagai virus, cendawan,
dan bakteri. Penyakit mosaik kacang panjang disebabkan oleh VMKP dari genus Potyvirus .
Virus ini dapat terbawa benih, ditularkan oleh vektor, dan secara mekanis. Gejala yang
muncul warna daun berubah menjadi belang hijau muda dan tua secara tidak merata pada
seluruh permukaan daun. Daun yang terinfeksi seringkali tidak rata dan berlekuk-lekuk
hijau tua, serangan berat menyebabkan tanaman kacang panjang tidak berbuah, nekrotik,
dan malformasi (Kurnianingsih, 2010).
Virus tanaman ditularkan dari host ke host melalui biji atau umbi-umbian, atau oleh
arthropoda, nematoda, jamur, atau vektor plasmodiophorid. Transmisi merupakan langkah
penting dalam siklus biologis virus karena memastikan pemeliharaan dan kelangsungan
hidup mereka. Kebanyakan virus tanaman ditularkan oleh vektor dari satu host ke yang lain,
meskipun mereka secara efisien disebarluaskan oleh aktivitas manusia seperti perbanyakan
vegetatif tanaman, okulasi, pertukaran global bahan yang terinfeksi, perubahan sistem

tanam, dan pengenalan tanaman baru dalam ada atau baru daerah pertanian. Transmisi
vektor virus terdiri dari beberapa langkah yang berurutan: akuisi virion dari sumber yang
terinfeksi, retensi stabil virion diperoleh pada situs tertentu melalui mengikat virion ligan,
virion releaseof dari situs retensi pada air liur atau regurgitasi, dan pengiriman virion ke
situs infeksi sel tanaman. Setiap langkah dari urutan ini diperlukan untuk transmisi untuk
menjadi sukses (Link, 2009).
Gejala penyakit virus pada tanaman dibagi menjadi dua yaitu gejala eksternal dan
gejala internal (Akin, 2006). Gejala eksternal berupa gejala lokal dan gejala sistemik. Gejala
lokal merupakan gejala yang hanya terbatas pada situs infeksi primer dan dalam virologi
dikenal dengan istilah bercak lokal. Bercak lokal dapat berupa klorosis karena hilang atau
berkurangnya klorofil atau nekrosis karena terjadi kematian sel tanaman inang. Contohnya
pada daun Chenopodium amaranticolor yang terinfeksi PStV. Gejala sistemik terjadi apabila
virus yang diinokulasi pada tanaman inang tidak hanya terbatas pada situs infeksi primer,
tetapi menyebar ke bagian lain dan menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. Gejala
infeksi ini secara umum disebut gejala sistemik. Tanaman dikatakan bantut apabila ukuran
tanaman yang terinfeksi lebih kecil bila dibandingkan dengan tanaman normal. Contohnya
pada tanaman kedelai yang terserang CPMMV (cowpea mild mottle virus). Mosaik
menunjukkan adanya warna yang berbeda secara tidak teratur, seperti warna hijau tua
yang diselingi dengan hijau muda. Gejala mosaik biasanya didahului oleh pemucatan
sepanjang tulang daun (vein clearing) atau akumulasi warna hijau sepanjang tulang daun
(vein banding). Contoh pada tanaman tembakau yang terkena TMV. Bercak cincin pada
bagian tanaman yang terinfeksi dilingkari garis berbentuk cincin. Selain berupa klorosis atau
nekrosis, kadang-kadang gejala tersebut dapat berupa lingkaran terpusat. Contoh pada
tanaman paprika yang terkena CMV. Layu (Wilting) akibat nekrosis pada pembuluh
tanaman. Contoh tomat yang terinfeksi TSWV. Perubahan bentuk daun akan menimbulkan
perubahan sitologi sel tanaman, seperti bentuk dan ukuran kloroplas, penggumpalan
kloroplas, berkurangnya jumlah klorofil total daun, serta terjadinya penumpukan
karbohidrat pada daun. Contoh pada kedelai yang terinfeksi SMV (Akin, 2006).
Mekanisme penyebaran virus tanaman adalah :
- Transmisi horizontal
Jenis transmisi ini virus tanaman ditularkan sebagai hasil dari sumber eksternal.
Tanaman yang telah rusak oleh cuaca, pemangkasan, atau vektor seperti bakteri, jamur dan
serangga biasanya lebih rentan terhadap virus. Transmisi horizontal juga terjadi dengan
metode buatan tertentu reproduksi vegetatif biasanya dipekerjakan oleh hortikulturis dan

petani.Pemotongan dan penyambungan tanaman adalah mode umum yang digunakan


virus tanaman dapat ditularkan (Yayan, 2012).
- Transmisi vertikal
Transmisi vertikal, virus ini diwariskan dari tetua.Jenis penularan terjadi dalam
reproduksi aseksual dan seksual baik. Metode reproduksi aseksual seperti perbanyakan
vegetatif. Ketika tanaman baru berkembang dari batang, akar, umbi dari tanaman induk
maka virus ini diteruskan kepada tanaman yang akan tumbuh. Pada reproduksi seksual,
penularan virus terjadi sebagai akibat dari infeksi benih (Yayan, 2012).
Penggunaan kacang panjang karena kacang panjang merupakan tanaman
leguminosae yaitu tanaman yang dapat berasosiasi dengan bakteri pada bagian akarnya.
Kehadiran bakteri pada tanaman kacang panjang juga menyebabkan tanaman kacang
panjang akan sehat dan tidak terserang penyakit. Kacang panjang merupakan tanaman
yang mudah ditumbuhkan dan dapat tumbuh dalam waktu singkat. Kacang panjang juga
mudah didapatkan dan tidak perlu perawatan khusus, sehingga mudah dirawat (Akin,
2006).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Posotulat Koch merupakan rumusan berupa sejumlah kondisi yang harus
dipenuhi sebelum salah satu faktor biotik (organisme) dianggap sebagai
penyebab penyakit.
2. Kriteria Koch harus dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab akibat antara
virus dan penyakit yang ditimbulkan.
3. Mekanisme penyebaran virus pada tanaman dapat melalui transmisi horizontal
dan transmisi vertical.

B. Saran
Sebaiknya tidak hanya satu daun yang diinokulasi virus, agar ketika daun tanaman
yang terinfeksi virus mati, masih ada daun yang lain.

DAFTAR REFERENSI
Akin, Hasriadi Mat. 2006. Virologi Tumbuhan. Kanisius.Yogyakarta.
Bos, L. 1983. Pengenalan virologi tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
[CABI] Central for Agricu ltural and Bioscience International. 2005.
Compendium [CD-ROM]. Wa llingford : CAB International.

Crop Protection

Hersanti. 2003. Pengujian Potensi Ekstrak 37 Spesies Tumbuhan sebagai Agen Penginduksi
Ketahanan Sistemik Tanaman Cabai Merah terhadap Cucumber Mosaic Virus. J.
Fitopat. Ind. 7 (2): 54-58.
Kuc J. 1987. Plant Imunization and Its Applicability for Disease Control. Pp. 225-272 in
Inovative Approaches to Plant Disease Control (I Chet, ed). New York: Jhon Wiley
and Sons.
Kurnianingsih, L. 2010. Potensi Lima Ekstrak Tumbuhan Dalam Menekan Infeksi Virus
Mosaik Pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna unguiculata subsp. Sesquipedalis)
[skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Link, P. A. And M. Fuchs. 2009. Transmission Specificity Of Plant Viruses By Vectors.
Journalof Plant Pathology 87 (3) : 153-165
Matthews, R. E. F. 1970. Plant Virology. Academic Press, New York.
Pracaya. 2007. Hama & Penyakit Tumbuhan Edisi Revisi. Salatiga: Agriwawasan.
Semangun, Haryono. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Shukla, D.D., Ward, C.W. and Brunt, A.A. 1994. The Potyviridae. Wallingford : CABI.
Yayan. 2012. Virus Tanaman. Erlangga, Jakarta.