Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

DERMATITIS

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK/TK : 5/3
Andrian Kurniawan
Febriani suciningtyas
Lia Gustina
Maria Ulfa Restianti
Robi Darminto
Shinta Susanti I
Verade

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
PRODI D3 KEPERAWATAN BKL
2014/2015

BAB I
KONSEP TEORI
1.Defenisi
Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon
terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel,
skuama ) dan keluhan gatal ( Djuanda, Adhi, 2007 ).
Dermatitis adalah peradangan pada kulit ( imflamasi pada kulit ) yang disertai
dengan pengelupasan kulit ari dan pembentukkan sisik ( Brunner dan Suddart 2000 ).
Jadi dermatitis adalah peradangan kulit yang ditandai oleh rasa gatal.
2.Klasifikasi
a) Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap
paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit.
Dermatitis kontaki terbagi 2 yaitu :
Dermatitis kontak iritan (mekanisme non imunologik)
Dermatitis kontak alergik (mekanisme imunologik spesifik)
Perbedaan Dermatitis kontak iritan dan kontak alergik
No.
1.
2.
3.
4.

Penyebab
Permulaan
Penderita
Lesi

5.

Uji Tempel

Dermatitis kontak iritan


Iritan primer
Pada kontak pertama
Semua orang
Batas lebih jelas
Eritema sangat jelas
Sesudah ditempel 24 jam,

Dermatitis kontak alergik


Alergen kontak S.sensitizer
Pada kontak ulang
Hanya orang yang alergik
Batas tidak begitu jelas
Eritema kurang jelas
Bila sesudah 24 jam bahan allergen di

bila iritan di angkat reaksi angkat, reaksi menetap atau meluas


akan segera

berhenti.

b) Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai
gatal dan umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering
berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi

pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang
kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, tempatnya dilipatan atau
fleksural..
c) Dermatitis numularis
Merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran
sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.
d) Dermatitis seboroik
Merupakan golongan kelainan kulit yang didasari oleh factor konstitusi,
hormon, kebiasaan buruk dan bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit
dibedakan. Pada muka terdapat di sekitar leher, alis mata dan di belakang
telinga.
Manajemem keperawatan pada pasien Dermatitis seboroik
a. Sarankan pada pasien untuk menghindari iritasai dari luar, factor pemicu yang
menyebabkan muncul lagi dermatitis seboroik ulangan, dan menyarankan
untuk tidak sering menggaruk area yang gatal.
b. Diskusikan pada pasien untuk menghindari udara ke kulit dan selalu menjaga
kebersihan pelipatan pada kulit dan usahakan supaya tetap kering.
c. Instruksikan untuk menggunakan shampoo dan menghindari kebiasaan yang
buruk
d. Beritahu pasien bahwa dermatitis seboroik adalah masalah yang sangat kronik
dan tidak tertutup kemungkinan untuk muncul lagi.
e. Ajarkan pada pasien menempelkan cara-cara untuk mengghindari dermatitis.

3.Etiologi
Penyebab dermatitis belum diketahui secara pasti. Sebagian besar merupakan
respon kulit terhadap agen-agen misal nya zat kimia, bakteri dan fungi selain itu
alergi makanan juga bisa menyebabkan dermatitis. Respon tersebut dapat
berhubungan dengan alergi. ( Arief Mansjoer.1998.Kapita selekta )
Penyebab Dermatitis secara umum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu

a) Luar ( eksogen ) misalnya bahan kimia ( deterjen, oli, semen, asam, basa ),
fisik ( sinar matahari, suhu ), mikroorganisme ( mikroorganisme, jamur).
b) Dalam ( endogen ) misalnya dermatitis atopik.
4.Manifestasi Klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut
terutama pruritus ( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada
muka ( terutama palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna.
a) Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi
dan eksudasi sehingga tampak basah.
b) Stadium subakut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mengering menjadi
kusta.
c) Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan
likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis
sejak awal memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis.

5. WOC / Pathway
Alergen
(Luar / eksogen : misalnya bahan kimia : deterjen, oli, semen :, fisik : sinar matahari,
suhu , mikroorganisme : mikroorganisme, jamur,

dalam /endogen : misalnya

dermatitis atopik.)
Ditangkap oleh APC

MHC-II
complex peptide-MHCII

Dipresentasikan pd sel TH2 dilepas sitokin (IL-4 & IL-13) proliferasi sel B
sekresi IgE.

IgE berikatan pd mast cell melalui FcE receptors (FcERI)


Sensitivitas
Vesikel atau bula, erosi , papula

Pruritus
Eritema,ede
ma,

Nyeri

Garukan
lichenifikasi
Kerusakan
integritas
Tindakan terapi kulit

Gg. Pola
tidur
Kurang pengetahuan

hiperpigment
asi, skuama

Gangguan citra
tubuh

BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontak alergik diperlukan
anamnesis yang teliti, riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik dan uji
tempel.

Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari


kausanya. Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya,
yaitu mencegah kekambuhan. Diperlukan kesabaran, ketelitian, pengertian dan
kerjasama yang baik dengan pasien. Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat
atopi, perjalanan penyakit, pekerjaan, hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan
yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri, obyek personal
meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama, kosmetika, kaca mata, dan
jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan mungkin faktor
psikologik.
Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema dan papula disusul
dengan pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang
membasah. Lesi pada umumnya timbul pada tempat kontak, tidak berbatas tegas
dan dapat meluas ke daerah sekitarnya. Karena beberapa bagian tubuh sangat
mudah tersensitisasi dibandingkan bagian tubuh yang lain maka predileksi
regional diagnosis regional akan sangat membantu penegakan diagnosis.
Kriteria diagnosis dermatitis kontak alergik adalah :
-

Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama,
beberapa kali atau satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak
dengan bahan serupa.

Terdapat tanda-tanda dermatitis terutama pada tempat kontak.

Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat


yang serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya
lebih lambat, yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak.

Rasa gatal.

Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif.

Dermatitis atopik : erupsi kulit yang bersifat kronik residif, pada tempattempat tertentu seperti lipat siku, lipat lutut dise rtai riwayat atopi pada

penderita atau keluarganya. Penderita dermatitis atopik mengalami efek pada


sisitem imunitas seluler, dimana sel TH2 akan memsekresi IL-4 yang akan
merangsang sel Buntuk memproduksi IgE, dan IL-5 yang merangsang
pembentukan eosinofil. Sebaliknya jumlah sel T dalam sirkulasi menurun dan
kepekaan terhadap alergen kontak menurun.

Dermatitis numularis : merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif


dengan lesi berukuran sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi
ekstensor ekstremitas.

Dermatitis medikamentosa: adanya riwayat minum obat sebelumnya, setelah


itu timbul reaksi obat mendadak, ruam dapat disertai dengan gejala sistemik
atau menyeluruh.

2. Diagnosa Keperawatan
Kerusakan integritas kulit b/d adanya lesi, perubahan pigmentasi, penebalan
epidermis dan kekakuan kulit.
Nyeri b/d agen cedera fisik: adanya vesikel atau bula, erosi , papula, garukan
berulang
Gangguan pola tidur b/d pruritus, nyeri.
Ganguan citra tubuh b/d penyakit dermatitis.
Kurang pengetahuan b/d program terapi
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarths. 2008. Textbook of Medical-Surgical Nursing.
Penerbit : LWW, Philadelphia.
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.
Penerbit : EGC, Jakarta.
Doenges, Marilynn E, et all. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.
Penerbit: EGC, Jakarta

Djuanda, Adhi. 2005i Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Penerbit : Balai
Penerbit FK UI, Jakarta.
Mansoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Edisi 3.
Penerbit : Media Aesculapius FK UI, Jakarta.