Anda di halaman 1dari 11

PENGERTIAN, FALSAFAH, DAN ASAS-ASAS PROTEKSI RADIASI.

Posted in Label: Proteksi Radiasi


Selasa, 12 Februari 2013

2.1.
Pengertian Proteksi Radiasi
Proteksi radiasi atau keselamatan radiasi ini kadang-kadang dikenal juga sebagai
proteksi radiologi ini memiliki beberapa pengertian yaitu :
Proteksi radiasi adalah perlindungan masyarakat dan lingkungan dari efek berbahaya
dari radiasi pengion , yang meliputi radiasi partikel energi tinggi dan radiasi elektromagn
etik.
Proteksi radiasi adalah suatu system untuk mengendalikan bahaya radiasi dengan
menggunakan peralatan proteksi dan kerekayasaan yang canggih serta mengikuti
peraturan proteksi yang sudah dibakukan.
Proteksi radiasi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan atau teknik yang
mempelajari masalah kesehatan manusia maupun lingkungan dan berkaitan dengan
pemberian perlindungan kepada seseorang atau sekelompok orang ataupun kepada
keturunannya terhadap kemungkinan yang merugikan kesehatan akibat paparan
radiasi.
Proteksi Radiasi adalah suatu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan teknik
kesehatan lingkungan yaitu tentang proteksi yang perlu diberikan kepada seseorang
atau sekelompok orang terhadap kemungkinan diperolehnya akibat negatif dari radiasi
pengion.
Menurut BAPETEN, proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi pengaruh radiasi yang merusak akibat paparan radiasi.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa proteksi radiasi adalah ilmu yang
mempelajari tentang teknik yang digunakan oleh manusia untuk melindungi dirinya,
orang disekitarnya maupun keturunannya dari paparan radiasi.
Dari segi ilmiah dan teknik, ruang lingkup proteksi radiasi terutama meliputi :
1. Pengukuran fisika berbagai jenis radiasi dan zat radioaktif
2. Menentukan hubungan antara tingkat kerusakan biologi dengan dosis radiasi yang
diterima organ/ jaringan
3. Penelaahan transportasi radionuklida di lingkungan, dan
4. Melakukan desain terhadap perlengkapan kerja, proses dan sebagainya untuk
mengupayakan keselamatan radiasi baik di tempat kerja maupun lingkungan.
2.2.
Macam-macam Proteksi Radiasi
Proteksi radiasi dapat dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
Proteksi radiasi kerja merupakan perlindungan pekerja.
Proteksi radiasi medis merupakan perlindungan pasien dan radiografer, dan
Proteksi radiasi masyarakat merupakan perlindungan individu, anggota masyarakat,
dan penduduk secara keseluruhan.
Jenis-jenis eksposur, serta peraturan pemerintah dan batas paparan hukum yang
berbeda untuk masing-masing kelompok, sehingga masing-masing harus
dipertimbangkan secara terpisah.

2.3.
Falsafah Proteksi Radiasi
Falsafah proteksi radiasi disebut juga dengan tujuan proteksi radiasi. Tujuan dari
proteksi radiasi adalah sebagai berikut :
1. Mencegah terjadinya efek non stokastik yang membahayakan
2. Meminimalkan terjadinya efek stokastik hingga ke tingkat yang cukup rendah yang
masih dapat diterima oleh individu dan lingkungan di sekitarnya.
Pengalaman telah membuktikan bahwa dengan menggunakan system pembatasan
dosis terhadap penyinaran tubuh (baik radiasi eksterna maupun internal) kemungkinan
resiko bahaya radiasi dapat diabaikan petugas proteksi radiasi dengan mengikuti
peraturan proteksi radiasi dan menggunakan peralatan proteksi yang canggih dapat
menyelamatkan pekerja radiasi dan masyarakat pada umumnya.
Prosedur yang biasa dipakai untuk mencegah dan mengendalikan bahaya radiasi
adalah :
a. Meniadakan bahaya radiasi
b. Mengisolasi bahaya radiasi dari manusia
c. Mengisolasi manusia dari bahaya radiasi
Untuk menerapkan tiga prosedur proteksi radiasi di atas dilaksanakan oleh petugas
proteksi radiasi. Prosedur utama cukup jelas dengan mentaati dan melaksanakan
peraturan proteksi radiasi; kedua dengan merancang tempat kerja dan menggunakan
peralatan proteksi radiasi yang baik dan penahan radiasi yang memadai sehingga
kondisi kerja dan lingkungannya aman dan selamat; dan ketiga memerlukan
pemonitoran dan pengawasan secara terus menerus baik pekerja radiasi maupun
lingkungannya dengan menggunakan alat pemonitoran perorangan, pemonitoran
lingkungan dan surveimeter.
Para penguasa instalasi nuklir sesuai dengan segala keturunan yang berlaku wajib
menyusun program proteksi radiasi sejak proses perencanaan, tahap pembangunan
instalasi, dan pada tahap operasi. Program proteksi radiasi ini dimaksudkan untuk
menekan serendah mungkin kemungkinan terjadinya kecelakaan radiasi. Dalam
penyusunan program ini diperlukan adanya prinsip penerapan prinsip keselamatan
radiasi dalam pengoperasian suatu ignstalasi nuklir sesuai dengan rekomendasikan
oleh Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi (ICRP).
Dalam pemanfaatan teknologi nuklir, faktor keselamatan manusia harus mendapatkan
prioritas utama. Program proteksi radiasi bertujuan melindungi para pekerja radiasi
serta masyarakat umum dari bahaya radiasi yang ditimbulkan akibat penggunaan zat
radioaktif atau sumber radiasi lainnya. Ada tiga hal penting yang perlu mendapatkan
perhatian untuk mencegah terjadinya kecelakaan radiasi sehubungan dengan
pengoperasian instalasi nuklir, yaitu :
1.
Adanya peraturan perundangan dan standar keselamatan dalam bidang
keselamatan nuklir;
2. Pembangunan instalasi nuklir dilengkapi dengam sarana peralatan keselamatan
kerja dan sarana pendukung lainnya yang sempurna sesuai dengan perencanaan yang
telah ditetapkan sebelumnya, dengan memperhatikan laporan analisis keselamatan
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan ketentuan lain yang ditetapkan
oleh instansi yang berwenang;
3.
Tersedianya personil dengan bekal pengetahuan memadai dan memahami
sepenuhnya tentang keselamatan kerja terhadap radiasi.

2.4.
Acuan Dasar Proteksi Radiasi
Untuk mencapai tujuan program proteksi radiasi , baik untuk pekerja radiasi maupun
anggota masyarakat, diperlukan adanya acuan dasar sehingga setiap kegiatan proteksi
harus selalu sesuai dengan acuan dasar tadi. Sesuai dengan rekomendasi ICRP,
dalam setiap kegiatan proteksi dikenal adanya standar dalam nilai batas dan tingkat
acuan. Nilai batas terdiri atas nilai batas dasar, nilai batas turunan dan nilai batas
ditetapkan. Sedang tingkat acuan terdiri atas tingkat pencatatan, tingkat penyelidikan
dan tingkat intervensi.
Nilai batas dasar untuk tujuan proteksi radiasi tidak dapat diukur secara langsung.
Sedang dalam pelaksanaan program proteksi, rancangan program pemantauan radiasi
memerlukan metode interpretasi untuk secara langsung dapat menunjukan bahwa hasil
pemantauan itu sesuai dengan nilai batas dosis. Untuk mencapai efisiensi dalam
proteksi radiasi, dipandang perlu untuk memperkenalkan nilai batas turunan yang
menunjukan hubungan langsung antara nilai batas dasar dan hasil pengukuran.
Nilai batas turunan adalah besaran terukur yang dapat dihubungkan dengan nilai batas
dasar dengan menggunakan suatu model. Dengan demikian hasil pengukuran yang
sesuai dengan nilai batas turunan secara otomatis akan sesuai dengan nilai batas
dasar. Sedang nilai batas ditetapkan adalah besaran terukur yang ditetapkan oleh
pemerintah maupun peraturan lokal pada suatu instalasi. Nilai batas ditetapkan
umumnya lebih rendah dari nilai batas turunan, namun ada kemungkinan nilai
keduanya adalah sama.
Tingkat acuan bukan merupakan nilai batas, tetapi dapat digunakan untuk menentukan
suatu tindakan dalam suatu nilai besaran melampaui atau diramalkan dapat melampaui
tingkat acuan. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan program pemantauan radiasi perlu
menggunakan tingkat acuan. Pelaksanaan program proteksi radiasi memerlukan
perencanaan yang hati-hati dalam menentukan tingkat acuan dan tindakan nyata yang
perlu diambil jika nilai suatu besaran mencapai nilai acuan. Tingkat acuan ini secara
operasional akan sangat membantu penguasa instalasi atom dalam upaya mencapai
tujuan proteksi radiasi. Ada tiga tingkat acuan, yaitu :
1. Tingkat Pencatatan, yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka suatu hasil
pengukuran harus dicatat. Nilai dari tingkat pencatatan harus kurang dari 1/10 dari nilai
batas dosis ekuivalen tahunan. Hasil pengukuran yang berada di bawah nilai tingkat
pencatatan tidak perlu proses lebih lanjut.
2. Tingkat Penyelidikan,yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka penyebab atau
implikasi suatu hasil pengukuran harus diselidiki. Tingkat penyelidikan harus kurang
dari 3/10 dari nilai batas dosis ekuivalen tahunan.
3. Tingkat Intervensi,yaitu suatu tingkat yang jika dilampaui maka beberapa tindakan
penanggulangan harus diambil. Tingkat intervensi harus ditentukan sehingga tindakan
penanggulangan tidak mempengaruhi kondisi operasi normal.
2.5.
Asas-asas Proteksi Radiasi
Asas-asas dalam proteksi radiasi atau disebut juga prinsip-prinsip proteksi radiasi ini
terdiri atas beberapa macam yaitu asas legislasi yang sering disebut asas justifikasi
yang artinya pembenaran, asas optimalisasi dan asas limitasi. Penjelasannya adalah
sebagai berikut :

1. Asas legislasi atau justifikasi yang artinya pembenaran


Penerapan asas justifikasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar sebelum
tenaga nuklir dimanfaatkan, terlebih dahulu harus dilakukan analisis resiko manfaat.
Apabila pemanfaatan tenaga nuklir menghasilkan manfaat yang lebih besar
dibandingkan dengan resiko akibat kerugian radiasi yang mungkin ditimbulkannya,
maka kegiatan tersebut boleh dilaksanakan. Sebaliknya, apabila manfaatnya lebih kecil
dari resiko yang ditimbulkan, maka kegiatan tersebut tidak boleh dilaksanakan. Berikut
adalah contoh penerapan asas legislasi atau justifikasi dalam kehidupan sehari-hari
yaitu :
Seorang ibu menderita kelainan jantung tetapi ibu tersebut tidak dapat di roentgen
karena ibu tersebut sedang hamil. Karena ditakutkan radiasi tersebut akan tersalurkan
ke janinnya. Maka pemotretan akan dilakukan setelah ibu tersebut melahirkan.
Jika seseorang pasien datang ke ruang pemeriksaan tanpa membawa rekomendasi
dari dokter maka sebagai radiografer tidak diharuskan untuk melakukan pemeriksaan
terhadap pasien tersebut.
Seorang radiografer tidak boleh seenaknya menggunakan pesawat roentgen di
dalam Rumah Sakit tempat ia bekerja, misalnya dengan mengekspose binatang
peliharaannya untuk kepentingan pribadinya.
2. Asas Optimalisasi
Penerapan asas ini dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar paparan radiasi
yang berasal dari suatu kegiatan harus ditekan serendah mungkin dengan
mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Asas ini dikenal dengan sebutan ALARA
(As Low As Reasonably Achievable). Dalam kaitannya dengan penyusunan program
proteksi radiasi, asas optimalisasi mengandung pengertian bahwa setiap komponen
dalam program telah dipertimbangkan secara saksama, termasuk besarnya biaya yang
dapat dijangkau. Suatu program proteksi dikatakan memenuhi asas optimalisasi apabila
semua komponen dalam program tersebut disusun dan direncanakan sebaik mungkin
dengan memperhitungkan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi.
Tujuan dari asas optimalisasi dalam proteksi radiasi adalah untuk mendapatkan hasil
optimum yang meliputi kombinasi penerimaan dosis yang rendah, baik individu maupun
kolektif, minimnya resiko dari pemaparan yang tidak dikehendaki, dan biaya yang
murah. Asas optimalisasi sangat ditekankan oleh ICRP. Setiap kegiatan yang
memerlukan tindakan proteksi, terlebih dahulu harus dilakukan analisis optimalisasi
proteksi. Penekanan ini dimaksudkan untuk meluruskan kesalahpahaman tentang
sistem pembatasan dosis yang sebelumnya dikenal dengan konsep ALARA (As Low As
Reasonably Achievable). Baik asas optimalisasi maupun ALARA keduanya sangat
menekankan pada pertimbangan faktor-faktor ekonomi dan sosial, dan tidak sematamata menekankan pada rendahnya penerimaan dosis oleh pekerja maupun
masyarakat. Berikut adalah contoh penerapan asas optimalisasi dalam kehidupan
sehari-hari yaitu :
Pada saat mengisi kaset radiografer harus memperhatikan kaset yang akan
digunakan, ukuran film yang sesuai dan jumlah film yang dimasukkan ke dalam kaset.
Pada pemeriksaan Thorax untuk bayi sebaiknya menggunakan film 18x24 cm atau
24x30 cm. Hal ini dimaksudkan agar dosis yang diterima pasien dapat diminimalkan
dan tidak merugikan pasien dalam hal ekonomi.

Sebelum dilakukan pemeriksaan radiografer terlebih dahulu harus memberikan


instruksi yang jelas kepada pasien agar pengulangan foto dapat dihindari sehingga
pasien tidak mendapat dosis radiasi yang sia-sia.
3. Asas Limitasi
Penerapan asas ini dalam pemanfaatan tenaga nuklir menuntut agar dosis radiasi yang
diterima oleh seseorang dalam menjalankan suatu kegiatan tidak boleh melebihi nilai
batas yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Yang dimaksud Nilai Batas
Dosis (NBD) ini adalah dosis radiasi yang diterima dari penyinaran eksterna dan interna
selama 1 (satu) tahun dan tidak tergantung pada laju dosis. Penetapan NBD ini tidak
memperhitungkan penerimaan dosis untuk tujuan medik dan yang berasal dari radiasi
alam. NBD yang berlaku saat ini adalah 50 mSv (5000 mrem) pertahun untuk pekerja
radiasi dan 5 mSv (500 mrem) per tahun untuk anggota masyarakat. Sehubungan
dengan rekomendasi IAEA agar NBD untuk pekerja radiasi diturunkan menjadi 20 mSv
(2000 mrem) per tahun untuk jangka waktu 5 tahun (dengan catatan per tahun tidak
boleh melebihi 50 mSv) dan untuk anggota masyarakat diturunkan menjadi 1 mSv (100
mrem) per tahun, maka tentunya kita harus berhati-hati dalam mengadopsinya. Dengan
menggunakan program proteksi radiasi yang disusun secara baik, maka semua
kegiatan yang mengandung resiko paparan radiasi cukup tinggi dapat ditangani
sedemikian rupa sehingga nilai batas dosis yang ditetapkan tidak akan terlampaui.
Berikut adalah contoh penerapan asas limitasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu :
Pada saat ingin mengekspose pasien yang perlu diperhatikan adalah jumlah radiasi
yang akan digunakan. Misalnya seorang pasien dewasa ingin memeriksakan
ekstremitas atas (antebrachi), kV yang digunakan sebesar 45. Apabila ada seorang
pasien anak-anak juga ingin memeriksakan antebrachinya maka kita sebagai
radiografer harus menurunkan kondisi yang tadi digunakan menjadi kV 40 karena
dengan kondisi tersebut sudah dapat dihasilkan gambar radiografi yang bagus karena
tebal objek sudah dapat ditembus dengan kondisi tersebut.
Pada pemeriksaan Thorax untuk bayi sebaiknya menggunakan film 18x24 cm atau
24x30 cm. Hal ini dimaksudkan agar dosis yang diterima pasien dapat diminimalkan.
Jika radiografer melakukan foto x-ray, untuk mengurangi dosis radiasi yang diterima
oleh pasien, kita sebisa mungkin mengatur luas kolimasi sesuai dengan kebutuhan.
Sebab semakin besar kolimasi maka semakin besar pula radiasi yang diterima oleh
pasien begitupun sebaliknya.
http://ainunsofhaina.blogspot.com/2013/02/pengertian-falsafah-dan-asas-asas.html

PRINSIP DASAR PROTEKSI RADIASI DALAM


RADIODIAGNOSTIK
Ditulis oleh Drh. M. Fakhrul Ulum
Rabu, 17 Desember 2008 09:48
Dalam penggunaan radiasi untuk radiografi dalam radiodiagnostik akan memberikan kontribusi
radiasi kepada banyak pihak. Radiasi akan diterima oleh operator, hewan dan lingkungan. Ada 3
prinsip yang telah direkomendasikan oleh International Commission Radiological Protection
(ICRP) untuk dipatuhi, yaitu :

1. Justifikasi
Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya harus didasarkan pada azaz manfaat. Suatu
kegiatan yang mencakup paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika kegiatan itu akan
menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi individu atau masyarakat dibandingkan dengan
kerugian atau bahaya yang timbul terhadap kesehatan. Hewan yang memang benar-benar
memerlukan uji lanjut dengan radiografi dengan pertimbangan asas manfaat lebih banyak dapat
dilakukan radiografi.

2. Limitasi
Dosisi ekivalen yang diterima pekerja radiasi atau masyarakat tidak boleh melalmpaui Nilai
Batas Dosis (NBD) yang telah ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi dimaksudkan untuk
mencegah munculnya efek deterministik (non stokastik) dan mengurangi peluang terjadinya efek
stokastik.
3. Optimasi
Semua penyinaran ahrus diusahakan serendah-rendahnya (as low as reasonably achieveable ALARA), dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Kegiatan pemanfaatan tenaga
nuklir harus direncanakan dan sumber radiasi harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin
agar paparan radiasi yang terjadi dapat ditekan serendah-rendahnya.

Nilai Batas Dosis


Pembatasan dosis radiasi baru dikenal pada tahun 1928 yaitu sejak dibentuknya organisasi
internasional untuk proteksi radiasi (International Commission on Radiological
Protection/ICRP). Pelopor proteksi radiasi yang terkenal adalah seorang ilmuwan dari Swedia
bernama Rolf Sievert. Ia lahir pada tahun 1896 ketika Henri Becquerel menemukan zat radioaktif
alam. Sievert kemudian diabadikan sebagai satuan dosis paparan radiasi dalam sistem Satuan
Internasional (SI). 1 Sievert (Sv) menunjukkan berapa besar dosis paparan radiasi dari sumber
radioaktif yang diserap oleh tubuh per satuan massa (berat), yang mengakibatkan kerusakan
secara biologis pada sel/jaringan.
Menurut rekomendasi ICRP, pekerja radiasi yang di tempat kerjanya terkena radiasi tidak boleh

menerima dosis radiasi lebih dari 50 mSv per tahun dan rata-rata pertahun selama 5 tahun tidak
boleh lebih dari 20 mSv. Nilai maksimum ini disebut Nilai Batas Dosis (NBD). Jika wanita
hamil yang di tempat kerjanya terkena radiasi, diterapkan batas radiasi yang lebih ketat. Dosis
radiasi paling tinggi yang diizinkan selama kehamilan adalah 2 mSv.
Prinsip Proteksi Radiasi:
1. Menggunakan Pelindung (Shielding)
Penggunaan perisai/pelindung berupa apron berlapis Pb, glove Pb, kaca mata Pb dsb yang
merupakan sarana proteksi radiasi individu. Tidak menghandle hewan secara langsung, hewan
dapat disedasi atau bila perlu dianestesi.
Proteksi terhadap lingkungan terhadap radiasi dapat dilakukan dengan melapisi ruang radiografi
menggunakan Pb untuk menyerap radiasi yang terjadi saat proses radiografi.

2. Menjaga Jarak
Radiasi dipancarkan dari sumber radiasi ke segala arah. Semakin dekat tubuh kita dengan sumer
radiasi maka paparan radiasi yang kita terima akan semakin besar. Pancaran radiasi sebagian
akan menjadi pancaran hamburan saat mengenahi materi. Radiasi hamburan ini akan menambah
jumlah dosis radiasi yang diterima. Untuk mencegah paparan radiasi tersebut kita dapat menjaga
jarak pada tingkat yang aman dari sumber radiasi.

3. Mempersingkat Waktu Paparan


Sedapat mungkin diupayakan untuk tidak terlalu lama berada di dekat sumber radiasi saat proses
radiografi. Hal ini untuk mencegah terjadinya paparan radiasi yang besar.
Pengaturan mAs yang tepat, dengan waktu paparan 0,0.. detik lebih baik dari pada 1 detik.
Nilai kVp yang digunakan cukup tinggi sehingga daya tembus dalam radiografi cukup baik.
dengan demikian maka pengulangan radiografi dapat dicegah.

Referensi
Ulum MF dan Noviana D. 2008. Pemanfaatan Radiografi sebagai Sarana Diagnostik Penunjang dalam Dunia
Kedokteran Hewan yang Aman bagi Hewan,manusia dan Lingkungan. Proceedings Joint Meeting of The 3rd
International Meeting on AZWMC 2008 and KIVNAS X PDHI, ISBN 978-979-18479-0-2. pp 397-398. Bogor.

Yudi. 2008. Apakah ada prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam penggunaan radiasi untuk
berbagai keperluan?. Artikel.Sumber:
http://www.infonuklir.com/modules/news/article.php?storyid=21

Filosofi Proteksi Radiasi


Mengingat radiasi dapat membahayakan kesehatan, maka pemakaian radiasi perlu diawasi, baik
melalui peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pemanfaatan radiasi dan bahan-bahan
radioaktif, maupun adanya badan pengawas yang bertanggungjawab agar peraturan-peraturan
tersebut diikuti. Di Indonesia, badan pengawas tersebut adalah Bapeten (Badan Pengawas
Tenaga Nuklir).
Filosofi proteksi radiasi yang dipakai sekarang ditetapkan oleh Komisi Internasional untuk
Proteksi Radiasi (International Commission on Radiological Protection, ICRP) dalam suatu
pernyataan yang mengatur pembatasan dosis radiasi, yang intinya sebagai berikut:
a. Suatu kegiatan tidak akan dilakukan kecuali mempunyai keuntungan yang positif
dibandingkan dengan risiko, yang dikenal sebagai azas justifikasi,
b. Paparan radiasi diusahakan pada tingkat serendah mungkin yang bisa dicapai (as low as
reasonably achievable, ALARA) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial,
yang dikenal sebagai azas optimasi,
c. Dosis perorangan tidak boleh melampaui batas yang direkomendasikan oleh ICRP untuk
suatu lingkungan tertentu, yang dikenal sebagai azas limitasi.
Konsep untuk mencapai suatu tingkat serendah mungkin merupakan hal mendasar yang perlu
dikendalikan, tidak hanya untuk radiasi tetapi juga untuk semua hal yang membahayakan
lingkungan. Mengingat bahwa tidak mungkin menghilangkan paparan radiasi secara
keseluruhan, maka paparan radiasi diusahakan pada tingkat yang optimal sesuai dengan
kebutuhan dan manfaat dari sisi kemanusiaan.
Menurut Bapeten, nilai batas dosis dalam satu tahun untuk pekerja radiasi adalah 50 mSv (5
rem), sedang untuk masyarakat umum adalah 5 mSv (500 mrem). Menurut laporan penelitian
UNSCEAR, secara rata-rata setiap orang menerima dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun, berarti
seseorang hanya akan menerima sekitar setengah dari nilai batas dosis untuk masyarakat umum.
Ada dua catatan yang berkaitan dengan nilai batas dosis ini. Pertama, adanya anggapan bahwa
nilai batas ini menyatakan garis yang tegas antara aman dan tidak aman. Hal ini tidak seluruhnya
benar. Nilai batas ini hanya menyatakan batas dosis radiasi yang dapat diterima oleh pekerja atau
masyarakat, sejauh pengetahuan yang ada hingga saat ini. Yang lebih penting dari pemakaian
nilai batas ini adalah diterapkannya prinsip ALARA pada setiap pemanfaatan radiasi. Kedua,
adanya perbedaan nilai batas dosis untuk pekerja radiasi dan masyarakat umum. Nilai batas ini
berbeda karena pekerja radiasi dianggap dapat menerima risiko yang lebih besar (dengan kata
lain, menerima keuntungan yang lebih besar) daripada masyarakat umum, antara lain karena
pekerja radiasi mendapat pengawasan dosis radiasi dan kesehatan secara berkala.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/proteksiradiasi/pengenalan_radiasi/2-4.htm

PROTEKSI RADIASI PADA RADIOLOGI, KEDOKTERAN NUKLIR, DAN RADIOTERAPI


ANAK

JAKARTA Patient Safety saat ini telah menjadi perhatian utama pelayanan kesehatan dan
menjadi komponen penting dalam penilaian kinerja rumah sakit. Sedangkan populasi pasien
yang membutuhkan proteksi radiasi secara khusus adalah anak-anak dan perempuan hamil.
Optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar besarnya dosis yang diterima
serendah mungkin yang dapat dicapai dengan mempertimbangkan faktor sosial.
Proteksi radiasi adalah hal mutlak yang harus diketahui oleh radiolog dan staf lainnya yang
bekerja dalam bidang kedokteran yang menggunakan radiasi pengion. Penggunaan radiasi
pengion dalam pemeriksaan dan tindakan medik saat ini makin berkembang pesat baik untuk
kepentingan diagnostik guna meningkatkan ketepatan diagnosis maupun untuk kepentingan
tindakan medik (terapeutik) guna meningkatkan kualitas hidup pasien.
Seminar sehari yang diadakan oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik Dan Sarana
Kesehatan pada tanggal 30 November 2011 bertempat di Hotel Bidakara Jakarta bertujuan untuk
memberikan informasi bagi tenaga di fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat menjamin
pelayanan radiologi, kedokteran nuklir, dan radioterapi pada anak yang bermutu dan aman.
Acara dibuka oleh dr. Zamrud Ewita Aldy, Sp.PK, MM selaku Direktur Bina Pelayanan
Penunjang Medik Dan Sarana Kesehatan dengan jumlah peserta sekitar 300 orang yang terdiri
dari BAPETEN, BATAN, BPFK Jakarta, Dinas Kesehatan di wilayah Jabodetabek, PB Ikatan
Dokter Indonesia, Organisasi profesi (PDSRI, PORI, PKNI, IKAFMI, PARI), Rumah Sakit,
Puskesmas, Pejabat beserta staf di jajaran Kementerian Kesehatan.
Adapun materi yang disampaikan adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Keselamatan Radiasi Pengion pada Pelayanan Kesehatan


Perlindungan Pasien dan Dosis Efektif pada Pemanfaatan Radiasi Pengion
Proteksi Radiasi pada Radiologi Anak
Proteksi Radiasi pada Radiologi Intervensional Anak
Proteksi Radiasi pada Radioterapi Anak
Proteksi Radiasi pada Kedokteran Nuklir Anak

Pemanfaatan radiasi pengion untuk radiologi, kedokteran nuklir dan radioterapi terutama pada
anak mendapat perhatian khusus dan dapat dikelola dengan baik oleh rumah sakit dan puskesmas
dengan melakukan upaya-upaya sesuai standar-standar pelayanan, menekan semaksimal
mungkin angka kesakitan dan angka kematian, serta mengelola sebaik mungkin pengaduan
mengenai pelayanan. Proteksi radiasi pada anak terutama ditujukan untuk mencegah efek
deterministik akibat radiasi dan untuk membatasi efek stokastik. Radiasi yang berlebih dapat
menyebabkan reaksi dan penyakit pada kulit, gangguan fungsi normal (seperti pneumonitis
radiasi), efek karsinogenesis dan efek genetik. Umumnya efek karsinogenesis, reaksi dan
penyakit pada kulit tidak disebabkan oleh pemeriksaan radiologis untuk diagnostik.
Anak sebagai aset pembangunan masa depan mempunyai karakteristik biologis-psikologis
khusus dan anak bukan miniature manusia dewasa dan secara biologis sel-sel tubuh anak sangat
aktif membelah sebagai manifestasi pertumbuhan dan sel-sel ini relatif sangat sensitif terhadap
radiasi. Pemeriksaan kesehatan dapat menyebabkan anak-anak menjadi mudah gelisah pada saat
pemeriksaan atau dilakukan tindakan medik karena anak-anak relatif sangat reaktif terhadap
lingkungan baru. Kegelisahan ini dapat menyebabkan terjadinya pengulangan pemeriksaan
sehingga anak mendapatkan tambahan dosis radiasi. Tambahan dosis radiasi sekecil apapun
dapat meningkatkan peluang terjadinya pemendekan umur, mutasi genetik, dan timbulnya
penyakit keganasan.
Upaya-upaya untuk menurunkan paparan radiasi yang harus dipertimbangkan antara lain
Pemeriksaan Radiologis, Petugas yang terlatih, Proteksi pada pasien, dan Peralatan radiografik.
Dengan dilaksanakannya seminar ini dapat menghasilkan suatu rekomendasi untuk menyusun
kebijakan proteksi radiasi pada anak dan semakin meningkatkan kerja sama lintas program di
jajaran Kementerian Kesehatan dan lintas sektor dengan dinas kesehatan, organisasi profesi,
BAPETEN, BATAN, dan stake holder terkait untuk mewujudkan pelayanan medik prima yang
berorientasi pada Patient Safety, peka akan kebutuhan pelayanan, fokus menyediakan kebutuhan,
kompetitif, menyediakan layanan baru sesuai perkembangan IPTEK, lebih efektif dan layak
(appropiate), berkualitas, serta menciptakan kepuasan bagi masyarakat. Humas
http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=227%3Aprotek
siradiasipadaradiologikedokterannuklirdanradioterapianak&Itemid=140