Anda di halaman 1dari 19

Rhinosinositis (Sinusitis) Akut pada Dewasa

Kelompok D2
Gabriel Enrico
Elsa Gabriella.L
Riana Liza Songupnuan
Septian Dwi Chandra
Femmy Yolanda M. Dwaa
Valentine Seftiana Soesanto
Arif Nurkalim
Nindya Dewati Wijaya
Assyifa Azizah Fernendes

(102010208)
(102008149)
(102011010)
(102011096)
(102011102)
(102011212)
(102010313)
(102011343)
(102012523)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jalan Terusan Arjuna no. 6
Jakarta Barat
11510

KATA PENGANTAR

1

.............................2 Daftar Isi ....... Pada kesempatan ini.......................... Jakarta... Erna M................... kami juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr..........Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat anugerahNya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. 29 Maret 2014 Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................. Makalah kami kali ini berjudul “Rhinosinositis (Sinusitis) Akut pada Dewasa”.......................... dengan segala kerendahan hati kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca guna pembuatan makalah kami yang berikutnya............. Marbun.............. Akhir kata.......Nico yang telah memberi kami kesempatan untuk membuat makalah ini sehingga kami dapat menambah wawasan dan pengetahuan kami khususnya dalam mata kuliah special sense... Oleh karena itu.. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca....4 2 ............ Kami sadar kami dapat melakukan kesalahan..................................................................... Di dalam kamus Indonesia telah dikatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak”.................... yang telah membimbing kami dalam proses pembuatan makalah ini.................. Serta kepada dr....................3 Pendahuluan......... kami mengucapkan terima kasih.......

.............................................................................Pemeriksaan Penunjang...............................20 BAB I PENDAHULUAN 1............. Identifikasi istilah yang tidak di mengerti 3.............................14 K......................18 M...........................................................................................................................................13 J...............17 L...................................................................19 Daftar Pustaka...... Terdapat nyeri di sekitar pipi bila ditekan........................................Gejala Klinis................9 E..........................Patogenesis .......Etiologi dan Predisposisi.........................................................................Different Diagnosis.....Anamnesis..............11 G....Isi A.............7 D..................................................................Epidemiologi ........................................ Skenario Seorang perempuan usia 28 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan pilek tidak sembuh – sembuh sejak 2 minggu yang lalu.............................................................6 C..............................................................................................Prognosis...................19 Kesimpulan............................................Pemeriksaan Fisik............12 H.......................................................................Komplikasi.................5 B..........Working Diagnosis.............................................10 F............................................................................................................................................................................................... Rumusan masalah 3 ..12 I........................Penatalaksanaan............................................................................................................ 2........Pencegahan...... Pasien juga mengeluh sering sakit kepala..

baik secara langsung pada pasien yang bersangkutan (auto-anamnesis) atau melalui keluarga maupun relasi terdekatnya (allo-anamnesis). riwayat penyakit sekarang (RPS). umur. Data anamnesis meliputi identitas dasar pasien meliputi nama lengkap. Yang didapatkan adalah data subyektif pasien. riwayat kesehatan keluarga.Seorang perempuan usia 28 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan pilek tidak sembuh – sembuh sejak 2 minggu yang lalu 4. social ekonomi dan budayanya. serta riwayat pribadi. Tujuan anamnesis adalah untuk memperoleh informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. 4 . Selanjutnya keluhan utama pasien.2 Anamnesis atau wawancara medis merupakan tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pasien. alamat. riwayat penyakit terdahulu (RPD). Mind Mapping BAB II PEMBAHASAN Anamnesis1. dan pekerjaannya.

infeksi saluran napas bagian atas. posterior atau keduanya?  Apakah hanya terjadi pada musim dingin?  Adakah riwayat trauma?  Apakah pasien mempunyai kecendrungan berdarah?  Apakah pasien menggunakan suatu pengobatan?  Apakah ada hipertensi? 4. Kehilangan atau perubahan dalam menghidu (Anosmia)  Apakah berkaitan dengan trauma.Yang perlu ditanyakan saat anamnesis adalah : 1. Hidung tersumbat  Apakah satu sisi atau keduanya?  Lamanya? Terus menerus atau intermiten. atau pen yakit    sistemik? Apakah kehilangan atau perubahan penghiduan sebagian atau sama sekali? Adakah riwayat penyakit hidung atau sinus? Apakah ada gejala sistemik lainnya? Anamnesis pada skenario Nama : Perempuan (Tata) Umur : 28 tahun 5 . dan bagaimana terjadinya? Usia saat    awitan? Adakah riwayat trauma? Adakah riwayat operasi hidung atau eprasi THT lainnya? Adakah gangguan alergi terutama yang berkaitan dengan perubahan musim? Bila  ya. Secret  Apakah dari satu sisi atau keduanya?  Lamanya? Terus menerus atau intermiten. Perdarahan  Berapa lama? Frekuensi? Kapan serangan yang terakhir?  Apakah perdarahan unilateral atau bilateral?  Apakah perdarahan dari nares anterior. maka diperlukan riwayat alergi yang lengkap Apakah pasien menggunakan semprot hidung atau obat – obatan? 3. dan bagaimana terjadinya? Usia saat   awitan? Apakah encer atau kental? Purulent atau berdarah? Apakah ada hubungan dengan perubahan lingkungan atau musim? 2.

Pada sinusitis frontal terdapat nyeri tekan pada dasar sinus frontal. mungkin berarti antrum terisi oleh pus atau mukosa antrum menebal atau terdapat neoplasma di dalam antrum. transiluminasi. bila pemeriksaan radiologik tidak tersedia. 6 . Posisi rutin yang dipakai ialah posisi Waters. sedangkan pada foto Rontgen tampak adanya perselubungan berbatas tegas di dalam sinus. yaitu pada bagian medial atap orbita. Pembengkakan pada kelopak mata atas mungkin menunjukkan sinusitis frontal akut. hanya dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksila dan sinus frontal. PA dan lateral. maka dilakukan pemeriksaan radiologik. Sinusitis etmoid menyebabkan rasa nyeri tekan di daerah kantus medius. rinoskopi anterior. rinoskopi posterior. kecuali bila telah terbentuk abses.Keluhan utama : pilek tidak sembuh – sembuh sejak 2 minggu yang lalu Riwayat penyakit sekarang : o Sering sakit kepala o Terdapat nyeri disekitar pipi bila ditekan Pemeriksaan Fisik Untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus paransal dilakukan inspeksi. Bila ada pemeriksaan transiluminasi tampak gelap di daerah infraorbita. Inspeksi Yang diperhatikan ialah adanya pembengkakan pada muka. Pemeriksaan Penunjang2 Transiluminasi Transiluminasi mempunyai manfaat yang terbatas. Pembengkakan di pipi sampai kelopak mata bawah yang berwarna kemerah – merahan mungkin menunjukkan sinusitis maksila akut. Palpasi Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi menunjukkan adanya sinusitis maksila. pemeriksaan radiologic. Pemeriksaan Radiologik Bila dicurigai adanya kelainan di sinus paranasal. palpasi. Bila terdapat kista yang besar di dalam sinus maksila. akan tampak terang pada pemeriksaan transiluminasi. Sinusitis etmoid menyebabkan pembengkakan di luar. dan sinoskopi.

Sinuskopi Pemeriksaan ke dalam sinus maksila menggunakan endoskop. sphenoid. frontal. Indikasi utama CT Scan hidung dan sinus paranasal adalah sinusitis kronik. CT Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus. dan etmoid. apakah ada sekret. selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior. \Gambar : foto kepala posisi Waters 7 .Posisi Waters terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila. dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya. Endoskop dimasukan melalui lubang yang dibuat di meatus inferior atau di fosa kanina. batas udara-cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. trauma (fraktur frontobasal). jaringan granulasi. Dengan sinuskopi dapat dilihat keadaan di dalam sinus. dan tumor. adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. Metode mutakhir yang lebih akurat untuk melihat kelainan sinus paranasal adalah pemeriksaan CT Scan. Lebih baik lagi diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. untuk mendapat antibiotik yang tepat guna. Pemeriksaan Mikrobiologik Pemeriksaan mikrobiolgik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius/superior. bagaimana keadaan mukosa dan apakah ostiumnya terbuka. Kelainan akan terlihat perselubungan. dan etmoid. massa tumor atau kista. Potongan CT Scan yang rutin dipakai adalah koronal dan aksial. Posisi PA untuk menilai sinus frontal dan posisi lateral untuk menilai sinus frontal. polip.

Sinusitis maksilaris adalah peradangan pada mukosa sinus maksilaris. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Sinusitis maksilaris diklasifikasikan menjadi akut.Gambar 1: Sinus paranasal normal pada foto Waters Source: James A Hadley. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. MD. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansinusitis. sub akut dan kronik. Sinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan. Sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut. Gambar 2: Cornal CT scan of patient with significant right maxiallry and ethmoid sinus onstruction and air-fluid level of left maxillary sinus Working Diagnosis3 Sinusitis adalah kondisi klinis yang karakteristiknya berupa radang pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis akut bila gejalanya berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu. sinusitis subakut bila tanda-tanda radang akut sudah reda dan sinusitis kronik bila 8 .

Ancaman terjadinya komplikasi atau perbaikan yang tidak memadai merupakan indikasi untuk etmoidektomi. 9 . Pada dewasa. dekongestan hidung. Sinusitis frontalis Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama – ama dengan infeksi sinusitis etmoidalis anterior. dan selain gejala infeksi yang umum. Penyakit ini terutama ditemukan pada dewasa. 2. Gambar 3: Perbandingan sinus maxillaris normal dengan sinusitis maxillaris Differential Diagnosis2 1. seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. sehingga untuk menentukan sinusitis tersebut akut. Gejala berupa nyeri dan nyeri tekan di antara kedua mata dan di atas jembatan hidung. dan sumbatan hidung. drainase.terjadi perubahan histologis mukosa sinus yang irreversible.subakut atau kronik diperlukan pemeriksaan histopatologis. Sinusitis etmoidalis Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. Pengobatan sinusitis etmoidalis berupa pemberian antibiotic sistemik. seringkali bersama – sama dengan sinusitis maksilaris. serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tak dapat dielakkan. dan obat semprot atau tetes vasokonstriktor topical.

Pasien mengeluh nyeri kepala di puncak kepala (vertex) dan kadang-kadang di belakang kepala. Nyeri berlokasi di atas alis mata. infeksi saluran pernafasan dihubungkan dengan sinusitis akut. 3. Sinusitis sfenoidalis Sinusitis sfenoid adalah gambaran penyakit yang sulit ditegakkan diagnosisnya tanpa pemeriksaan radiologi. Posisi ostium. yaitu dengan CT-scan. kondisi ini sangat jarang ditemukan. biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari. kemudian perlahan – lahan mereda hingga menjelang malam. Letak ostium pada sinus maksilaris berada pada meatus nasi medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat 10 . Tanda patognomonik adalah nyeri yang hebat pada palpasi atau perkusi di atas daerah sinus yang terinfeksi. Prevalensi sinusitis tertinggi pada usia dewasa adalah 18 – 75 tahun dam kemudian anak – anak berusia 15 tahun.pada sinusitis frontalis terdapat nyeri kepala yang khas. posisi ostium sinus maksila lebih tinggi dari dasarnya sehingga aliran secret/drainase hanya tergantung gerakan silia 3. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh. Sinusitis maksila paling sering terjadi daripada sinusitis paranasal lainnya karena : 1. dan tetes hidung vasokonstriktor. Pengobatan berupa pemberian antibiotic yang tepat. Letak ostium. dan mungkin terdapat pembengkakan supraorbital. Sinusitis menyeran 1 dari 7 orang dewasa di United States. melainkan seringkali terlewatkan tanpa diketahui. dekongestan. Pada anak usia 5 – 10 tahun. merupakan sinus paranasal yang terbesar 2. Kegagalan penyembuhan segera atau timbulnya komplikasi memerlukan drainase sinus frontalis dengan teknik trepanasi. bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. dengan lebih dari 30 juta individu yang didiagnosis tiap tahunnya. Komplikasi yang khas adalah pengurangan visus karena tekanan ciasma optikum Epidemiologi4 Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktik sehari – hari. Individu dengan riwayat alergi atau asma berisiko tinggi terjadinya rhinosinusitis. Sinusitis jarang pada anak – anak berusia kurang dari 1 tahun karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut. Ukuran. Sebagai suatu gambaran penyakit tersendiri.

catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Haemophylus influenza (20 – 40%). serta kebiasaan merokok.infeksi nasofaring. Letak dasar Letak dasar sinus maksila berbatasan langsung dengan dasar akar gigi (prosesus alveolaris) sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksilaris Prevalensi sinusitis di bagian THT Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta. Patofisiologi5. Etiologi dan Predisposisi5 Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus. kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka. sumpatan kompleks ostio-meatal (KOM). infeksi gigi ( penyebab tersering adalah ekstraksi gigi molar dan sinus maksilaris ikut terangkat). bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi. Mukosa yang saling berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. udara dingin dan kering. Mucus juga mengandung substansi antimikroba dan zat – zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah Streptococcus pneumonia (30 – 50%). Sedang pada Departemen Telinga Hidung dan Tenggorok subbagian Rinologi didapatkan data dari sekitar 496 penderita rawat jalan. Keadaan ini lama – lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Pada anak. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi di dalam sinus. Pada saat terjadi infeksi baik infeksi virus dan bakteri.4. M. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi. Menurut berbagai penelitian. dan Moraxella catarrhalis (4%). Lendir yang kental tersebut menjadi 11 . Edema tersebut terjadi di daerah kompleks ostiomeatal yang sempit. pada tahun 1999 didapatkan sekitar 25% anak – anak dengan ISPA menderita sinusitis maksila akut. rhinitis hormonal pada wanita hamil. polip hidung.6 Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium – ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM.kelainan imunologik. lendir yang diproduksi oleh muksa sinus akan menjadi kental. infeksi tonsil.akan terjadi reaksi radang yang salah satunya berupa edema. 149 orang terkena sinusitis (50%).

Pada infeksi virus. oksipital. serta sakit pada palpasi dan perkusi. Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.  Wajah terasa bengkak dan penuh. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas sinusitis akut. Penatalakasanaan3.  Penurunan atau gangguan penciuman. Sakit dirasa mulai dari pipi ( di bawah kelopak mata ) dan menjalar ke dahi atau gigi. dan nasofaring. dan pada sinusitis sfenoid nyeri dirasakan di vertex. Serta gejala lain seperti sakit kepala dan anosmia. Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila. yang berasal dari metus media.media yang baik bagi pertumbuhan bakteri patogen.  Adanya pus atau sekret mukopurulen di dalam hidung. nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata menandakan sinusitis etmoid. Bila sumbatan berlangsung terus menerus maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob.  Nyeri pipi yang khas : tumpul dan menusuk. Pada sinusitis maksila kadang – kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga.  Kadang ada batuk iritatif non-produktif. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental. nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontalis. Sakit bertambah saat menunduk.  Sekret mukopurulen yang dapat keluar dari hidung dan kadang berbau busuk. Gejala Klinis5 Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai rasa nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulent. malaise.5 12 . belakang bola mata. dan mastoid.  Nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian aspirin. yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri pathogen. Dapat disertai gejala :  Demam. yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). virus juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia.

Digunakan pada sinusitis subakut sebanyak 5-6   kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus.Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan. Jangan digunakan lebih dari 5 hari Sistemik:  Fenil Propanolamine  Pseudoefedrine 3x60mg o Mukolitik: N-acetytilcystein. o Irigasi sinus maxilla  Dilakukan bila resorpsi sekret sinus maxilla tidak adekuat  Bila keadaan akut telah reda dan demam berkurang baru dapat dilakukan irigasi melalui ostium.  Erythromycine 4x500mg. 0. 2) mencegah komplikasi. Bila sekresi berlebih atau tidak dapat dilakukan melalul ostium. 13 .  Lini kedua:  Bila ditemukan kuman menghasilkan enzim beta-laktamase diberikan kombinasi Amoxycilline+Clavulanic acid.025% tetes hidung untuk anak. cefaclor atau cephalosporine generasi II atau III oral o Dekogestan  Topikal:   Solusio Efedrin 1% tetes hidung Oxymethazoline 0. bromhexine o Analgesik/antipiretik (bila perlu):  Parasetamol 3x500mg  Metampiron 3x500mg o Antihistamin (diberikan pada penderita dengan latar belakang alergi)  CTM  Loratadine Tindakan non invasif o Diatermi dengan gelombang pendek. dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. maka dinding antral dibawah concha inferior dibuan suatu iubang dengan antral trokar.  Cotrimoxazole 2x1tablet.  Terapi Medikamentosa o Antibiotik (diberikan minimal 2minggu):  Lini pertama:  Amoxycilline 3x500mg. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus – sinus pulih secara alami.05% semprot hidung.

 Gambar 5: Gambar Irigasi Sinus Tidakan pembedahan o Dilakukan bila pengobatan konservatif gagal yaitu dengan mengangkat mukosa yang patologis dan membuat drainase sinus yang terkena. Tipe pembedahan yang dilakukan adalah antrostomi intra nasal dan operasi Caldwell-Luc. Gambar 6: Operasi Caldwell-Luc  Teknik Operasi Caldwell-Luc: 14 .

Antrum dibuka dengan menggunakan pahat atau bor kemudian selaput mukosa sinus diinsisi. Optikus akan menyebabkan kebutaan. sehingga tampak rongga sinus maksilaris. Sinus maksilaris terbuka dan dibuat hubungan antara rongga hldung dan sinus maksilaris melalui dinding antro nasal dibawah turbinate nasalis inferior. gerakan bola mata terbatas. Insisi dibuat pada batas gusi dibawah gingivo labial folg sisi posterior gigi C sampai M1 dan M2. 3 Abses otak 15 . o Selain itu ada pembedahan non radikal yaitu dengan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF). Mukosa periosteum diangkat dari fosa kanina dan dikaitkan dengan 2 retraktor.Operasi ini dilakukan dibawah anastesi umum endotracheal atau dengan blok syaraf maksila. 2 Meningitis Biasanya disebabkan karena perluasan langsung dari sinusitis maksilaris atau tromboflebitis yang menyebar. Apabila tidak dilakukan perawatan. selulitis orbita ini akan menjadi abses. Pasien mengeluh rasa sakit yang hebat dan bila mengenai N. Tingkat keberhasilannya mencapai 90% dengan tanpa meninggalkan jaringan parut Komplikasi7 1 Selulitis orbita dan abses Komplikasi ini terjadi secara langsung melalui atap rongga sinus maksilaris atau karena penjalaran infeksi melalui sinus etmoid dan sinus frontalis. Prinsipnya adalah membuka dan membersihkan daerah ostio-meatal yang menyadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drainase menjadi lancar kembali melalui ostium alami. teknik ini sudah tidak digunakan lagi. untuk menjamin drainage yang tetap kedalam hidung. Jika menggunakan anastes endotracheal maka dapat diberikan injeksi lokal vaso konstriktor yang efeknya untuk mengurangi perdarahan di daerah operasi. Rasa nyeri disekitar mata diikuti pembengkakan kelopak mata dan konjunctiva. Insisi sub labial dijahit dengan jahitan interupted . sehingga terbentuk suatu lubang. yang telah menjadi tindakan pembedahan utama untuk menangani sinus. Dinding atronasal pada meatus nasi inferior diangkat dan selaput mukosa pada sisi hidung dari dinding antro nasal dibuka.

Prognosis8 Individu dengan sinusitis akut tanpa komplikasi dapat mengharapkan pemulihan penuh dan kembali bekerja . 16 . orbita dan dinding lateral rongga hidung.Merupakan kelanjutan peradangan otak. 7 Osteomyelitis Terjadi karena perluasan proses nekrosis. adanya sinusitas serta bila perawatan yang dilakukan tidak memadai. memiliki tanda yang mirip dengan abses orbita. 5 Trombosis sinus cavemosus Keadaan ini terjadi akibat adanya infeksi melalui vena. 6 Fistula oro antral Fistula ori antral didefinisikan sebagai lubang sinus yang bertahan selama lebih dari 48 jam. Tidak semua lubang kearah antrum akan menyebabkan fistula. Jika terdapat pus didalam sinus dikenal sebagai mukokel atau piokel. menghasilkan nanah yang dikeluarkan melalui hidung dan mulut. lubang ini terbentuk setelah pembedahan (sengaja atau tidak sengaja) dan akibat trauma pada sinus dan jarang sekali disebabkan cacat perkembangan atau infeksi. Keluhan pasien biasanya adalah masuknya isi rongga mulut kedalam hidung. Penyebaran infeksi ini berlangsung cepat dan pasien dapat meninggal. Bila keadaan ini tidak dirawat akan menyebar keseluruh maksila. keluarnya udara kedalam mulut dan rasa tidak enak. Sekitar 70 % dari sinusitis bakteri akut sembuh spontan tanpa antibiotik . Fistula lebih mungkin terjadi bila lubang yang terbentuk lebih dari 3 mm dan melibatkan dasar. biasanya meliputi kedua sisi. sikap dan tingkah laku serta sakit kepala yang hebat. Hal ini dapat juga terjadi akibat kesalahan perawatan pada sinusitis maksilaris akut. Rasa sakit jarang dikeluhkan kecuali bila ada infeksi. biasanya ditandai dengan adanya gangguan ingatan. 4 Mukokel Terjadi akibat adanya penimbunan dan retensi sekresi mukus dan mukoid sehingga terjadi penyumbatan osteum sinus. pada dinding sinus maksilaris.

yang dapat mendorong bakteri ke dalam sinus. atau diabetes yang tidak terkontrol atau pasien dialisis ) . Dengan mengidentifikasi alergen (zat yang menyebabkan reaksi alergi) dan menghindari hal itu. Pengobatan gagal pada sekitar 10 % sampai 25 % dari pasien Pencegahan9 Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena sinusitis. Sinusitis kronis bervariasi dalam ketajaman antara individu tetapi membutuhkan pengobatan jangka panjang yang berkelanjutan untuk peradangan dan pengobatan berkala akut flare . Sinusitis jamur jarang terjadi tetapi dapat menyebar dengan cepat dan mengakibatkan kematian pada individu immunocompromised ( misalnya . Tarik napas panjang sambil berdiri di mandi air panas. Jika memiliki kemacetan dari pilek atau alergi.up .  Hindari membuang ingus dengan kekuatan besar. pasien kanker . sistem kekebalan tubuh . Alergi hidung bisa memicu infeksi sinus.penggunaan antibiotik meningkatkan persentase ini pemulihan sampai 85 % ( Orlandi ) . atau menghirup uap dari baskom berisi air panas sambil memegang handuk di atas kepala. atau kondisi alergi tunduk pada episode sinusitis bakteri akut .  Menggunakan uap untuk menenangkan bagian hidung. Individu dengan tidak ada penyakit yang mendasari signifikan dapat pulih sepenuhnya . Jarang . Individu yang membutuhkan pembedahan sinus dapat berharap untuk kembali ke aktivitas normal dalam waktu 5 sampai 7 hari pasca operasi dan untuk mencapai pemulihan penuh di sekitar 4 sampai 6 minggu . Individu dengan penyakit inflamasi . Bagi perokok lebih baik menurangi rokok karena asap dapat mengiritasi saluran hidung dan meningkatkan kemungkinan infeksi. pasien HIV / AIDS . sinusitis rumit oleh penyebaran infeksi ke tulang wajah atau otak akan memperpanjang waktu pengobatan dan memerlukan pemulihan yang lebih panjang . 17 . juga. berikut ini dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan sinusitis:  Minum banyak air. Hal ini menipis sekresi hidung dan membuat membran mukosa lembab.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 2013 3. George L.dkk. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). dan juga mengobati. Sinusitis maksilaris dapat terjadi akut. trauma. Jakarta : Badan Penerbit FKUI 2011 6. Soetjipto Damayanti. Pada pemeriksaan tampak pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah. Ganong William F. dkk. in: McPhee Stephen J. Pengobatan lokal dengan inhalasi. Abdurrahman N. Beberapa dokter menyarankan periodik pencucian rumah hidung untuk membersihkan sekresi. infeksi faring. Kesimpulan Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Lingappa Vishwanath R. Adams. Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Sinusitis dan Demo Timpanoplasti 22-23 Maret 2003. Kishiyama Jeffrey L. Daftar Pustaka 1.Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid. Boies. Pada hidung dijumpai ingus kental. pungsi percobaan dan pencucian. Terapi medikamentosa berupa antibiotik selam 10-14 hari. infeksi gigi rahang atas (dentogen). Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepada & Leher Edisi Keenam. Disorders of the Immune System. Sinusitis akut dapat disebabkan oleh rinitis akut. Bali 4. Shames Richard S. Hal ini dapat membantu mencegah. Gejala klinis dapat berupa demam dan rasa lesu. disampaikan dalam: Simposium Penatalaksanaan Otitis Media Supuratifa Kronik. Lawrence R.scribd. Diunduh dari : http://www. Dirasakan nyeri didaerah infraorbita dan kadang-kadang menyebar ke alveolus. Patogenesis. editors. Peter H. Diagnosis dan Penatalaksanaan Medik Sinusitis. Penciuman terganggu dan ada perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan.com/sinusitis/epidemiologi. Higler. Efiaty Arsyad. Jakarta : Interna Publishing FKUI 2007 2. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. infeksi sinus. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis. Pathophysiology of 18 . 15 Maret 2014 5. berulang atau kronis. Soepardi. Denpasar.

2003 7. Soetomo. Diunduh dari : http://www. Philadelphia. Soerarso Bakti.asp? AZ=11&Page=5.com/resource/health_az_detail. Hidung. 15 Maret 2014 9. Diunduh dari : http://www. Siswantoro.mdguidelines. Edisi 3. 2005 8.Pawarti D.com/sinusitis/prognosis. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Penyakit Telinga.sparkpeople. Mc Graw Hill. dan Tenggorok RSUD Dr. 15 Maret 2014 19 .Disease: An Introduction to Clinical Medicine 4th editions. Surabaya.