Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FISIKA BANGUNAN – P1

REVERBERATION TIME PADA RUANGAN
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
1.
2.
3.
4.
5.

GILANG EKA SAPUTRA
EVITA WAHYUNDARI
DHIRA GUNAWAN P.
JORDY ANUGRAH W.
RIA MARSELLINA

NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411

100
100
100
100
100

020
031
034
040
070

ASISTEN
MIFTA NUR FARID

NRP 2409 100 012

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK FISIKA
JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2013

i

FINAL REPORT
LABWORK PHYSICS BUILDING – P1

REVERBERATION TIME IN THE ROOM
COMPILED BY :
GROUPS 3
1.
2.
3.
4.
5.

GILANG EKA SAPUTRA
EVITA WAHYUNDARI
DHIRA GUNAWAN P.
JORDY ANUGRAH W.
RIA MARSELLINA

NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411
NRP 2411

100
100
100
100
100

020
031
034
040
070

ASSISTANT
MIFTA NUR FARID

NRP 2409 100 012

STUDY PROGRAM S1 ENGINEERING PHYSICS
DEPARTMENT OF ENGINEERING PHYSICS
FACULTY OF INDUSTRIAL TECHNOLOGY
SEPULUH NOPEMBER INSTITUTE OF TECHNOLOGY
SURABAYA
2013

ii

ABSTRAK
Praktikum reverberation time pada ruangan ini
bertujuan untuk membuat praktikan mampu menghitung
reverberation time pada suatu ruangan secara teori dan
praktek, kemudian membandingkan reverberation time
suatu ruangan dengan standar yang ada atau harus dicapai.
Praktikum ini dimulai dengan mengukur volume ruangan.
Sound Level meter dihubungkan dengan laptop yang sudah
terinstall program Realtime Analyzer dan program Realtime
Analyzer dibuka. Petasan disiapkan untuk diletuskan pada
tempat yang telah ditentukan. Kemudian petasan diletuskan
dan pada saat yang bersamaan suara yang terdengar direkam
oleh Realtime Analyzer, rekaman dihentikan setelah lima
detik petasan tersebut meletus dan percobaan ini dilakukan
sebanyak lima kali. Hasil waktu dengung dari pengukuran
matematis menggunakan teori sabine diperoleh sebesar
2,210191 detik. Berturut-turut hasil rata-rata waktu dengung
dari pengukuran langsung menggunakan Sound Level Meter
dan Software Realtime Analyzer dari lima percobaan adalah
2,133 detik; 2,129 detik; 2,1184 detik; 2,1268 detik; dan
2,326 detik. Perbandingan hasil pengukuran metode analisa
matematis dengan hasil pengukuran langsung ini
menunjukkan hasil yang signifikan dan cukup valid.
Kata kunci : Reverberation Time, Sound Level Meter,
Realtime Analyzer, Teori Sabine

ABSTRACT
iii

Successive average yield of reverberation time measurements directly using Sound Level Meter and Analyzer Realtime Software of five experiments was 2. 2. Firecrackers prepared to fire in the designated place. Realtime Analyzer.210191 seconds. Sound Level Meter is connected to a laptop that already installed programs Realtime Analyzer and Realtime Analyzer program is opened. This experiment begins by measuring the volume of the room. Sound Level Meter. Comparison of measurement results of mathematical analysis methods with the direct measurement result showed a significant and quite valid. and 2. Keywords : Reverberation time. Then firecrackers fired and at the same time sounding recorded by Realtime Analyzer.The reverberation time experiment aims to make the students able to calculate reverberation time in a room in theory and practice. 2. 2.129 seconds.133 seconds.1184 seconds.1268 seconds. then compare the reverberation time of a room with existing standards/should be achieve.326 seconds. The results of the reverberation time measurement using the mathematical theory of sabine obtained by 2. Sabine Theory KATA PENGANTAR iv . recording is stopped after five seconds the firecrackers exploded and the experiment performed five times.

Asisten yang setia membimbing dan mendampingi dari mulai praktikum hingga penyelesaian laporan resmi. Kedua orang tua dan teman-teman yang telah memberikan segala dukungan baik moril maupun materil serta perhatiannya. Dosen pengajar mata kuliah Fisika Bangunan yang telah membimbing dan memberikan ilmunya. DAFTAR ISI v . Penulis.Puji syukur kehadirat Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan kesempatan dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan resmi ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. 2. Laporan resmi ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi setiap praktikan sebelum beranjak ke praktikum berikutnya. 4. Dengan terangkainya beberapa ilmu yang telah didapatkan dan digunakan dalam laporan resmi ini diharapkan untuk mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akhir kata. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan berkah dan rahmatnya sehingga laporan ini dapat diselesaikan tepat waktu. semoga laporan ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan membuka wawasan bagi yang membacanya. semoga laporan resmi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pihak pada umumnya. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. 3. Dalam penyusunan laporan resmi ini tentunya masih jauh dari sempurna baik menyangkut isi maupun bahasa yang digunakan sehingga tidak menutup kemungkinan bagi penulis untuk menerima kritik maupun saran yang membangun demi kesempurnaan.

................................................. 1................... Abstract . Daftar Gambar ........................4 Kriteria Akustik ......................................... 3................ Halaman Pengesahan ....................................2 Persamaan Sabine ....... 1...................................................................................... 2...................................................2 Saran .............................................................................................................................................................................. DAFTAR GAMBAR vi i ii iii iv v vi vii viii 1 1 1 1 2 3 3 5 6 10 13 13 13 15 15 23 27 27 27 29 ....................... BAB V Kesimpulan dan Saran ....................... Daftar Pustaka .......................2 Prosedur Percobaan ...........Halaman Judul .............................. BAB I Pendahuluan ..............1 Latar Belakang .................... BAB III Metodologi Percobaan .................... 3........................... 2.....................3 Parameter Akustik ..................................... 2........2 Pembahasan ..........................................................................4 Tujuan ........................................... 5......... Daftar Tabel ............................................................................................ 1...........................................1 Waktu Dengung ..... BAB II Tinjauan Pustaka .......1 Alat dan Bahan ...... Abstrak ..............................................................3 Batasan Masalah ................................. 1............................................................................ 2.........1 Analisis Data ............................................................................................................................................................. Kata Pengantar .......... 4....................1 Kesimpulan ................ BAB IV Analisis Data dan Pembahasan .................................... 4....................................... 5..................... Daftar Isi ........2 Rumusan Masalah ......................................................................................

3 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 3 Gambar 4.1 Waktu Dengung Ideal Untuk Beberapa Fungsi Ruangan Gambar 2.Gambar 2.4 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 4 Gambar 4.6 Grafik Data Gabungan Gambar 4.1 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 1 Gambar 4.2 Fenomena Suara Dalam Ruangan Gambar 4.7 Grafik RT Sabine dan RT Percobaan vii 4 7 17 18 19 20 21 22 22 .2 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 2 Gambar 4.5 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 5 Gambar 4.

4 Percobaan Ketiga Tabel 4.6 Percobaan Kelima viii 15 17 18 19 20 21 .5 Percobaan Keempat Tabel 4.3 Percobaan Kedua Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel 4.2 Percobaan Pertama Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Dengan Sabine Tabel 4.

1 Latar Belakang Suatu ruangan memiliki karakter akustik ruang yang berbeda-beda. bagaimana waktu dengung (reverberation time) ruang Teater A ? b. dalam mendesain sutau ruangan diperlukan perencanaan agar ruangan tersebut memenuhi aspek kenyamanan. 1. Dalam hal ini kenyamanan akustik memenuhi kriteriakriteria yang sudah sesuai dengan standar. Apabila hasilnya belum optimal dapat ditambahkan materialmaterial yang memepengaruhi distribusi suara . tergantung pada kegunaan ruangan tersebut. Untuk menyesuaikannya.BAB I PENDAHULUAN 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang ingin dibahas didalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut : a. Aspek kenyamanan ruangan meliputi kenyamanan termal mapupun akustik.3 Batasan Masalah Untuk batasan masalah yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut : a. Untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut dibutuhkan paramter akustik salah satunya yaitu waktu dengung (reverberation time). suatu ruangan dikondisikan dengan mengoptimalkan geometri ruangan tersebut. 1 . bagaimana perbandingan hasil pengukuran waktu dengung (reverberation time) ruang Teater A dengan standar yang ada ? 1. ruangan yang digunakan untuk mengukur waktu dengung adalah ruang Teater A ITS.

1. praktikan mampu mengetahui perbandingan hasil pengukuran waktu dengung (reverberation time). praktikan mampu mengetahui reverberation time ruang Teater A ITS. terdapat bising latar belakang yang ditimbulkan oleh banyaknya orang yang berada di dalam ruang tersebut. b.2 b. .4 Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut : a.

semakin panjang RT ruangan. dan sebaliknya. didapatkan dengan cara merekam respon ruangan terhadap sinyal impulse yang dibunyikan didalamnya. [1] Dengan cara ini.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.[1] Ruangan yang dominan disusun oleh material permukaan yang bersifat memantulkan energi suara cenderung memiliki RT yang panjang.1 Waktu Dengung Parameter akustik ruangan yang paling banyak dikenal orang adalah waktu dengung (Reverberation Time – RT). Semakin banyak energi pantulan. RT jenis ini dapat dihitung dengan mudah. yang dihitung dengan cara mengukur waktu peluruhan energi suara dalam ruangan. Jumlah energi pantulan dalam ruangan berkaitan dengan karakteristik permukaan yang menyusun ruangan tersebut.[1] RT yang didapatkan berdasarkan konsep energi tunak dapat digunakan untuk memberikan gambaran kasar. RT menunjukkan seberapa lama energi suara dapat bertahan di dalam ruangan. apabila kita memiliki data volume dan luas permukaan serta karakteristik absorpsi setiap permukaan yang ada dalam ruangan. waktu dengung ruangan tersebut secara global. Sedangkan RT yang berbasiskan energi impulse. RT di setiap titik dalam ruangan dapat diketahui dengan lebih detail bersamaan dengan parameterparameter akustik yang lainnya. Waktu peluruhan ini dapat diukur menggunakan konsep energi tunak maupun energi impulse. RT seringkali dijadikan acuan awal dalam mendesain akustik ruangan sesuai dengan fungsi ruangan tersebut. sedangkan ruangan 3 . RT pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah energi pantulan yang terjadi dalam ruangan.

sekaligus kinerja akustik ruangan tersebut. masjid. auditorium. geometri dan komposisi material penyusun dalam ruangan inilah yang akan menentukan RT ruangan. Desain bentuk. Ruangan-ruangan yang kita tempati dan gunakan sehari-hari.1 Waktu Dengung Ideal Untuk Beberapa Fungsi Ruangan[2] . Gambar 2. karena pada umumnya permukaan dalamnya disusun dari gabungan material yang menyerap dan memantulkan energi suara. ruang kelas.4 yang didominasi oleh material permukaan yang bersifat menyerap energi suara akan memiliki RT yang pendek. mulai dari ruang tidur. sedangkan ruangan yang keseluruhan permukaan dalamnya bersifat memantulkan suara (RT sangat panjang) disebut ruang dengung (reverberation chamber). Ruangan yang keseluruhan permukaan dalamnya bersifat menyerap energi suara (RT sangat pendek) disebut ruang anti dengung (anechoic chamber). dan sebagainya akan memiliki RT diantara kedua ruangan tersebut diatas. gereja.[1] Berikut ini grafik RT ideal untuk beberapa fungsi ruangan sesuai dengan volumenya.

Pada saat ruang dalam keadaan kosong. + Snαn : luas permukaan bahan dengan koefisien absorpsi αn (m2) : koefisien absorpsi bahan : konstanta kesebandingan (s/m) Dengan menggunakan rumus waktu dengung sabine. (1) dimana : T : waktu dengung V : volume ruang (m3) A : total penyerapan ruang (sabine) Sn αn K S1α1 + S2α2 + S3α3 + . didapatkan nilai sebesar 0. maka persamaannya adalah sebagai berikut.. waktu dengungnya. Sebaliknya.16 sabine. Dari hasil pengukuran waktu dengung yang dilakukan oleh Sabine terhadap beberapa ruang tertutup yang memiliki karakteristik yang berbeda. Secara matematis diperoleh persamaan sabine.. waktu dengungnya (T) semakin lama. Sabine menemukan bahwa semakin besar volume ruang (V). semakin banyak bahan absorpsi yang berada di dalam ruangan tersebut maka waktu dengungnya semakin singkat.5 2. .2 Persamaan Sabine Pada tahun 1898. Fisikawan Amerika yang bernama Wallace Clement Sabine melakukan penelitian untuk menentukan waktu rata-rata peluruhan bunyi. dengan cara sebagai berikut. dapat dicari nilai koefisien absorpsi dari suatu bahan.[3] Untuk ruangan dengan nilai absorpsi kosong.

6 (2) Selanjutnya. waktu dengung ruang menjadi. Fenomena suara dalam ruangan dapat digambarkan pada sketsa berikut. pengetahuan tentang fenomena suara yang terjadi dalam ruangan akan sangat menentukan pada saat diperlukan pengendalian kondisi mendengar pada ruangan tersebut sesuai dengan fungsinya. jalur perambatan energi akustik adalah ruangan itu sendiri. bila bahan dimasukkan pada ruang. Oleh karena itu. (3) 2.[4] .3 Parameter Akustik Dalam sebuah ruangan tertutup.

lantai.7 Gambar 2.[4] Besarnya energi suara yang sampai ke telinga dari komponen suara ini dipengaruhi oleh jarak pendengar ke sumber suara dan pengaruh penyerapan energi oleh udara. Total energi suara yang sampai ke telinga pendengar dan persepsi pendengar terhadap suara yang didengarnya tentu saja akan dipengaruhi kedua komponen ini. yaitu komponen suara langsung dan komponen suara pantul. dapat dilihat bahwa pada setiap titik pengamatan atau titik dimana orang menikmati suara (pendengar) akan dipengaruhi oleh dua komponen suara. Komponen suara pantul merupakan komponen suara yang sampai ke telinga pendengar setelah suara berinteraksi dengan permukaan ruangan disekitar pendengar (dinding.2 Fenomena Suara Dalam Ruangan[4] Dari sketsa tersebut. Itu sebabnya komponen suara pantul akan sangat berperan dalam pembentukan persepsi mendengar atau bisa juga disebutkan karakteristik akustik permukaan . dan langit-langit). Komponen suara langsung adalah komponen suara yang sampai ke telinga pendengar langsung dari sumber.

Ruang studio rekaman misalnya lebih mendekati ruang anechoic. sedangkan ruangan yang berdinding keras lebih menuju ke ruang dengung. Ruangan yang kita gunakan pada umumnya berada diantara dua ruangan itu. sesuai dengan fungsinya. maka komponen suara pantul akan jauh lebih dominan dibandingkan komponen langsungnya. Waktu dengung (T atau RT).8 dalam ruangan akan sangat mempengaruhi kondisi dan persepsi mendengar yang dialami oleh pendengar.[4] Yang termasuk dalam parameter tipe temporalmonoaural diantaranya adalah sebagai berikut : a. yaitu waktu yang diperlukan energi suara untuk meluruh (sebesar 60 dB) sejak sumber suara dimatikan.[4] Parameter akustik yang biasanya digunakan dalam ruangan tertutup secara garis besar dapat dibagi menjadi dua.[4] Ada dua karakteristik permukaan dalam ruangan. yaitu parameter yang bersifat temporal monoaural yang bisa dirasakan dengan menggunakan satu telinga saja (atau diukur dengan menggunakan single microphone) dan parameter yang bersifat spatial binaural yang hanya bisa dideteksi dengan dua telinga secara simultan (atau diukur menggunakan dua microphone secara simultan). yaitu apabila seluruh permukaan dalam ruangan bersifat sangat menyerap dan seluruh permukaan dalam ruangan bersifat sangat memantulkan energi suara yang sampai kepadanya. Sedangkan pada ruang yang seluruh permukaannya bersifat sangat memantulkan energi. Bila permukaan dalam ruang seluruhnya sangat menyerap. maka komponen suara yang sampai ke pendengar hanyalah komponen langsung saja dan ruangan yang seperti ini disebut ruang anechoic (anechoic chamber). Parameter ini merupakan . dan biasa disebut sebagai ruang dengung (reverberation chamber).

ruang konser 1. masjid 0. d.7 – 1. Dinyatakan dalam Initial Time Delay Gap (ITDG). Harga yang disarankan secara umum adalah < 35 ms (yang paling disukai 15-20 ms). Harga parameter ini akan dipengaruhi oleh fungsi ruangan. Harga yang disarankan adalah > 55%. c. Intimacy. Diwujudkan dalam parameter C80 untuk musik dan C50 untuk speech.6 – 2. ruang kelas 0. katedral 2 s dan sebagainya. volume dan luas permukaan ruangan serta berbeda-beda untuk setiap posisi pendengar. Intelligibility. Clarity. Misalkan untuk ruangan studio perlu < 0. yang ditunjukkan dengan perbedaan waktu datang suara langsung dengan pantulan awal pada setiap titik pendengar.9 parameter akustik yang paling awal digunakan dan masih merupakan parameter yang paling populer dalam desain ruangan tertutup.2 s. T20. Biasa dinyatakan sebagai D50 dan lebih banyak digunakan untuk menyatakan kejelasan suara pengucapan (speech).7 s. b. Waktu dengung yang digunakan dalam desain misalnya RT60.1 s.3 s. T30 (subscript menunjukkan rentang decay yang digunakan untuk mengestimasi peluruhan energinya) dan EDT (yang berbasis pada peluruhan pada 10 dB awal). Parameter terakhir lebih sering digunakan karena mengandung informasi yang signifikan dari medan suara yang diamati. . yaitu perbandingan logaritmik energi suara pada awal 50 atau 80 ms terhadap energi suara sesudahnya. (standar yang digunakan berharga -2 dB sampai dengan 8 dB) . Parameter ini berkaitan dengan tingkat kejernihan sinyal suara yang dipersepsi oleh pendengar dalam ruangan. yaitu perbandingan energi awal 50 ms terhadap energi totalnya.

Intimacy. Dari kedua parameter ini dapat diturunkan parameter envelopment dan lebar staging atau sumber (apparent source width). 2. kriteria ini berkaitan dengan waktu tunda (beda waktu) datangnya suara .7 – 1 detik. Ruang untuk konser symphony misalnya. Ruangan yang live. Secara objektif. LEF didapatkan dengan membantingkan pengukuran Impulse Response ruangan menggunakan dua buah microphone yang diletakkan secara berdekatan. Kriteria ini menunjukkan persepsi seberapa intim kita mendengar suara yang dibunyikan dalam ruangan tersebut. Kriteria akustik tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut : a.4 Kriteria Akustik Untuk mendapatkan sebuah ruangan yang berkinerja baik secara akustik. satu microphone dengan patern omnidirectional dan yang lainnya berpola Figure of Eigth. memerlukan waktu dengung 1.10 Yang termasuk dalam parameter tipe spatial-binaural adalah LEF dan IACC. Sedangkan IACC didapatkan dengan pengukuran impulse response menggunakan dua microphone yang ditanamkan dalam dua telinga manusia (atau kedua telinga tiruan kepala manusia. biasanya berkaitan dengan waktu dengung yang panjang. tentu saja akan bergantung pada fungsi ruangan tersebut. ada beberapa kriteria akustik yang pada umumnya harus diperhatikan.7 – 2. Liveness. dummy head). dan ruangan yang death berkaitan dengan waktu dengung yang pendek. sedangkan untuk ruang percakapan antara 0. Panjang pendeknya waktu dengung yang diperlukan untuk sebuah ruangan. kriteria ini berkaitan dengan persepsi subjektif pengguna ruangan terhadap waktu dengung (reverberation time) yang dimiliki oleh ruangan.2 detik. b.

Bila ada paling tidak 5 pantulan terkandung dalam impulse . Kedua kriteria ini ditunjukkan oleh spektrum waktu dengung ruangan. makin intim medan suara didengar oleh pendengar. Fullness vs Clarity. Kedua kriteria berkaitan satu sama lain. maka ruangan akan lebih terasa hangat (warmth). d. Makin pendek waktu tunda ini. Akan tetapi. Warmth vs Brilliance. Beberapa penelitian menunjukkan harga waktu tunda yang disarankan adalah antara 15 – 35 ms. (D50 untuk speech). lebih disarankan waktu dengung yang flat untuk frekuensi rendah-mid-tinggi. e. Dalam kasus ruangan digunakan untuk kegiatan bermusik. Bila perbandingan energi pantulan terhadap energi suara langsung besar. maka kejernihan informasi yang dibawa suara tersebut akan terganggu. kriteria C80 menunjukkan hal ini. kriteria ini menunjukkan seberapa banyak pantulan yang diterima oleh pendengar dalam waktuwaktu awal (< 60 ms) menerima sinyal suara. Waktu dengung yang lebih tinggi di daerah frekuensi rendah biasanya lebih disarankan untuk ruangan yang digunakan untuk kegiatan bermusik. c. Kriteria ini menunjukkan jumlah refleksi suara (energi pantulan) dibandingkan dengan energi suara langsung yang dikandung dalam energi suara yang didengar oleh pendengar yang berada dalam ruangan tersebut. maka medan suara akan terdengar penuh (full). Texture.11 langsung dengan suara pantulan awal yang datang ke suatu posisi pendengar dalam ruangan. bila melewati rasio tertentu. Apabila waktu dengung ruangan pada frekuensi-frekuensi rendah lebih besar daripada frekuensi mid-high. Untuk ruangan yang digunakan untuk aktifitas speech.

f. Contoh. .12 response di awal 60 ms. maka pemain di panggung harus bisa mendengar (ensemble) dan pendengar di area pendengar juga harus bisa mendengar (blend) keseluruhan (instruments) symphony yang dimainkan. apabila ruangan digunakan untuk konser musik symphony. Kriteria Blend menunjukkan bagaimana kondisi mendengar yang dirasakan di area pendengar. Bila seluruh sumber suara yang dibunyikan di ruangan tersebut tercampur dengan baik (dan dapat dinikmati tentunya). Blend dan Ensemble. maka ruangan tersebut dikategorikan memiliki texture yang baik. maka kondisi mendengar di ruangan tersebut dikatakan baik. Hal ini berkaitan dengan kriteria bagaimana suara di area panggung diramu (ensemble).

petasan diletuskan. 5. 2. sound level meter. 3. rekaman dihentikan setelah 5 detik petasan tersebut meletus. dan pada saat yang sama suara yang terdengar direkam oleh program Realtime Analyzer. program Realtime Analyzer dibuka.BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3. laptop yang sudah terinstall Software Realtime Analyzer. dan 4.1 Alat dan Bahan Peralatan dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. dan 6 dilakukan kembali sebanyak 5 kali. 3. 5. yaitu sebagai berikut : 1.2 Prosedur Percobaan Percobaan yang akan dilakukan pada praktikum ini ada beberapa tahap. volume ruangan diukur terlebih dahulu 2. 13 . 3. meteran. 6. petasan. 4. sound level meter dihubungkan dengan laptop yang sudah terinstall program Realtime Analyzer. petasan disiapkan untuk diletuskan pada tempat yang telah ditentukan. 7. langkah 4.

14 (Halaman ini sengaja dikosongkan) .

6588 Tangga 13. a.1785 1 0.7952 Audience Langit Bangunan 3.36 4.7 0.02 1. Berdasarkan Teori (Perhitungan Sabine) Berdasarkan rumus perhitungan sabine yang telah tertera pada tinjauan pustaka maka didapatkan waktu data perhitungan waktu dengung dari koefisien absorpsi objek yang berada di dalam Teater A seperti berikut ini.0714 .02 2.36 1 2.7472 1 0.36 1 2. 1 2.14 0.36 Samping Kiri Tembok 143.747 1 2.02 2.876 Belakang Tembok Depan 82. Tabel 4.05 0.94 0.8 0.01 2.01 0.0714 Belakang 15 Jumlah S.02 2.876 1 1.BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.36 Samping Kanan Tembok 118 0.1 Analisis Data Berikut ini merupakan data pengukuran surface area dan perhitungan Sabine pada ruangan Teater A.1785 Belakang Lantai Bangunan 7.747 Tembok 118 0. Luas Permukaan Lantai 274.32 0.57 0.6588 11 52.1 Data Hasil Pengukuran Dengan Sabine Jenis S.

1 1.156 1 1.1 0.194 1 1 0.16 Dinding Samping KiriKanan Bangunan Belakang Dinding Bidang Depan Bangunan Belakang Ceiling Stage Ceiling Audience Papan Tulis Meja Pembicara Screen Projector Kursi Pembicara Gagang Pintu Pintu Jumlah 12.3762 0.05 5. .3762 0.06 5.5525 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa koefisien ratarata absorpsinya adalah sebesar 0.24 811.0036 1.06 0.6 0.05 8.21 1 5.56 0.5 0.72 0.252 2 0.2688 0.94 0.2 0.875 1 8.918 1 0.875 6.156 0.504 5.06 0.524 1 1 2 0.21 177.918 104.0036 0.48 0.1 0.2688 0.02 0. b. Berdasarkan Pengukuran Langsung Berdasarkan pengukuran langsung dengan menggunakan Sound Level Meter dan Software Realtime Analyzer maka diperoleh data yang telah di-plot ke dalam grafik seperti berikut ini.102933 dan perhitungan waktu dengungnya diperoleh sebesar 2.194 11.210191.048 83.1 0.56 0.27 1.18 0.

Gambar 4. Frekuensi 1 20 2 40 3 80 4 160 5 315 6 630 7 1250 8 2500 9 5000 10 10000 11 20000 RT 1.856 2.035 1.133.464 2.893 2.2 Percobaan Pertama No.228 1.715 2.1 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 1 .447 1.611 2.818 1.429 2.965 Rata-rata waktu dengungnya adalah sebesar 2. dan berikut ini adalah tampilan grafiknya.17  Percobaan Pertama Tabel 4.

3 Percobaan Kedua No.18  Percobaan Kedua Tabel 4.494 1.660 1.391 Rata-rata waktu dengungnya adalah sebesar 2. Frekuensi 1 20 2 40 3 80 4 160 5 315 6 630 7 1250 8 2500 9 5000 10 10000 11 20000 RT 1.910 2.530 2. dan berikut ini adalah tampilan grafiknya. Gambar 4.673 2.129.271 2.827 2.641 2.366 1.660 1.2 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 2 .

3 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 3 .074 2.381 2. Frekuensi 1 20 2 40 3 80 4 160 5 315 6 630 7 1250 8 2500 9 5000 10 10000 11 20000 RT 1.19  Percobaan Ketiga Tabel 4.282 2.443 1.003 2. Gambar 4.661 3.283 2.11845455. dan berikut ini adalah tampilan grafiknya.643 2.892 Rata-rata waktu dengungnya adalah sebesar 2.177 1.4 Percobaan Ketiga No.464 1.

232 2.85 3.5 Percobaan Keempat No.712 2.45 2.849 2.552 1.12681818.032 2.20  Percobaan Keempat Tabel 4.003 Rata-rata waktu dengungnya adalah sebesar 2.24 2.292 1. dan berikut ini adalah tampilan grafiknya. Gambar 4.4 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 4  Percobaan Kelima .183 1. Frekuensi 1 20 2 40 3 80 4 160 5 315 6 630 7 1250 8 2500 9 5000 10 10000 11 20000 RT 1.

638 2.899 3.536 Rata-rata waktu dengungnya adalah sebesar 2.507 2. dan berikut ini adalah tampilan grafiknya.456 2.390 2.5 Grafik Waktu Dengung Pada Percobaan 5 .21 Tabel 4. Gambar 4.017 2.326.507 2.462 1.856 1.6 Percobaan Kelima No. Frekuensi 1 20 2 40 3 80 4 160 5 315 6 630 7 1250 8 2500 9 5000 10 10000 11 20000 RT 1.314 2.

22 Grafik di bawah ini merupakan grafik gabungan dari percobaan pertama hingga percobaan kelima. dan hasilnya tampak pada gambar berikut ini. Gambar 4.6 Grafik Data Gabungan Grafik data gabungan dari percobaan pertama hingga percobaan kelima diatas dibandingkan dengan grafik dengan menggunakan perhitungan sabine.7 Grafik RT Sabine dan RT Percobaan . Gambar 4.

1. maka hal ini dapat disimpulkan bahwa pada frekuensi 2500 Hz. Dan dari analisa menggunakan Realtime Analyzer hasilnya adalah 2. 80Hz. 10kHz. dengan menggunakan persamaan sabine dan hasil pengamatan kami berdasarkan software. 2. hal ini menunjukkan bahwa persamaan Sabine dapat mempresentasikan waktu dengung yang real pada suatu ruangan. Dari data yang diperoleh terdapat selisih antara perhitungan dengan menggunakan software adalah ± 0. 630Hz.2.2.133 . 2. 4. 2. pada frekuensi 2500 Hz mempunyai waktu dengung yang paling panjang diantara frekuensifrekuensi lainnya.126 .2 Pembahasan 4. kami mencoba untuk menentukan waktu dengung pada teater A Teknik Fisika ITS.118 .326 yang merupakan rata-rata dari frekuensi 20Hz. 2500Hz. Dari tiap-tiap grafik yang didaptakan.2 Evita Wahyundari Dari praktikum P1 tentang Reverberation Time (RT) didapatkan bahwa Reverberation Time (RT) ruang Teater A ITS adalah sebesar 2.23 4.1 Gilang Eka Saputra Pada praktikum kali ini.129 . 2. 315Hz. 40Hz. 160Hz. 1250Hz. Terlihat juga bahwa perbandingan hasil hitungan dengan kondisi hasil pengamatan. Jika dilihat dari persamaan sabine. barang-barang yang berada pada Teater A agak sulit menyerap bunyi pada frekuensi ini. waktu dengung tidak berbeda jauh. 5000Hz.210 pada perhitungan sabine. dan 20kHz. Reverberation Time merupakan waktu yang mempresentasikan berapa lama waktu yang diperlukan agar tingkat tekanan bunyi (TTB) meluruh sebanyak 60 dB. Selisih ini disebabkan karena faktor teknis saat pengambilan seperti adanya bising yang dihasilkan .

2. Sehingga dibutuhkan data yang cukup panjang. apabila ada bising latar belakang maka suara tersebut akan mempengaruhi pengukuran waktu dengung yang sedang diukur. Angka tersebut dapat dijadikan acuan bahwa analisa waktu dengung menggunakan metode pengukuran langsung dapat diandalkan dengan hasil yang cukup valid.3 Dhira Gunawan P. praktikan menentukan waktu dengung pada teater A Teknik Fisika ITS. Hal ini dilakukan karena kita harus membandingkan dengan standar yang ada dan juga membandingkannya dengan waktu dengung yang didapat menggunakan teori sabine. Dalam perbandingan antara pengukuran matematis menggunakan teori sabine dengan pengukuran langsung menggunakan Sound Level Meter dan Software Realtime . Percobaan ini dilakukan sebanyak 5 kali. Untuk mendapatkan waktu dengung secara praktek diperlukan bising suara yang diperlukan saja (dalam hal ini bising dari petasan). 4.24 oleh orang yang terdapat dalam ruangan saat pengambilan data berlangsung.2. dengan menggunakan persamaan sabine dan hasil pengamatan kami berdasarkan software. Percobaan reverberation time ini dilakukan di ruang Teater A. Dalam perbandingan antara pengukuran matematis menggunakan teori sabine dengan pengukuran langsung menggunakan Sound Level Meter dan Software Realtime Analyzer menunjukkan selisih yang sangat kecil (angka selisih tidak melebihi 5%). Pada percobaan waktu dengung ini. Data yang didapat berjumlah 11 setiap percobaan sesuai dengan frekuensi yang didapat dan dimulai dari sebelum petasan meletus sampai 5 detik setelah letusan. 4.4 Jordy Anugrah W.

ruang Teater A tersebut tidak memenuhi standar sebagai ruang multifungsi yang ideal. Jadi. dengan menggunakan persamaan sabine dan hasil pengamatan menggunakan Sound Level Meter dan software Realtime Analyzer.85 hingga 1. Untuk menurunkan waktu dengung pada ruangan tersebut dapat direkomendasikan penambahan absorber dan reflektor pada elemen interior.210191. 4. Angka tersebut dapat dijadikan acuan bahwa analisa waktu dengung menggunakan metode pengukuran langsung dapat diandalkan dengan hasil yang cukup valid. Parameter ini menunjukkan bahwa ruang Teater A tidak layak pada kondisi akustiknya. Reverberation Time merupakan waktu yang menunjukkan waktu yang diperlukan agar tingkat tekanan bunyi (TTB) meluruh sebanyak 60 dB sesaat setelah sumber bunyi dimatikan.1.2. praktikan mencoba untuk menentukan waktu dengung pada teater A.25 Analyzer menunjukkan selisih yang sangat kecil (angka selisih tidak melebihi 5%) ± 0. Sedangkan menurut standar untuk ruang teater sebagai ruang multifungsi seharusnya memiliki waktu dengung sekitar 0. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di ruang Teater A dengan metode impuls dengan meledakkan petasan didapatkan hasil waktu dengung untuk hasil pengamatan langsung sebesar 2. Parameter ini menunjukkan bahwa ruang tersebut tidak layak pada kondisi akustiknya menurut standar untuk ruang teater sebagai ruang multifungsi.5 Ria Marsellina Pada percobaan waktu dengung kali ini.3 detik. .166654546 sedangkan untuk perhitungan teori dengan menggunakan persamaan sabine adalah sebesar 2.

waktu dengung tidak berbeda jauh.26 Terlihat juga bahwa perbandingan hasil hitungan dengan kondisi hasil pengamatan. . hal ini menunjukkan bahwa persamaan sabine dapat mempresentasikan waktu dengung yang real pada suatu ruangan.

Hal ini dapat dijadikan acuan bahwa menggunakan pengukuran langsung adalah pilihan yang tepat dalam menentukan waktu dengung suatu ruangan. Waktu dengung sangat menentukan dalam mengukur tingkat kejelasan suara (speech) dan seringkali dijadikan acuan awal dalam mendesain akustik ruangan sesuai dengan fungsi ruangan tersebut.faktor yang dapat mempengaruhi pengambilan data seperti bising latar belakang yang dapat menggangu.1 Kesimpulan Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari percobaan reverberation time ini antara lain adalah sebagai berikut : 1. 3. 2. perbandingan hasil pengukuran metode analisa matematis dengan hasil pengukuran langsung menggunakan Sound Level Meter (SLM) dan software Realtime Analyzer menunjukkan hasil yang signifikan dan cukup valid. waktu dengung (reverberation time) menunjukkan seberapa lama energi suara dapat bertahan di dalam ruangan. 5. Namun perlu diperhatikan faktor .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. dalam pengukuran reverberation time atau waktu dengung dapat menggunakan Sound Level Meter (SLM) yang dihubungkan dengan software realtime analyzer.2 Saran Pada praktikum berikutnya disarankan agar sebaiknya suara-suara yang tidak termasuk dalam pengukuran sebisa mungkin diminimalisir agar data yang diperoleh benar-benar 27 .

. Walaupun pengukuran langsung waktu dengung menggunakan sound level meter dan software Realtime Analyzer sudah menunjukkan angka yang signifikan dan cukup valid. akan tetapi diperlukan juga pengukuran menggunakan metode matematis. Hal ini dikarenakan pengukuran langsung juga masih memiliki kelemahan seperti adanya bising latar belakang yang tidak terduga datangnya yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran.28 valid hanya berasal dari noise yang diperlukan (suara petasan).

56 29 . 2013. Retrieved From http:// http://blogs. Retrieved From http://jokosarwono.itb. diakses pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 22.wordpress. 2009.wordpress. “Waktu Dengung (Reverberation Time) – Dunia Akustik”.edu/. 2008.files.uksw.id/jsarwono/2009/04/10/waktudengung-reverberation-time/ diakses pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 22.23 [4]Sarwono./PROS_Aska.com/2010/03/13307099chairinnas.com/2009/04/06/karakte ristik-akustik-dalam-desain-akustika-ruangan/ diakses pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 20..54 [5]Sarwono.ac. Retrieved From http://jokosarwono. %20Andreas%20S.. Retrieved from http:// repository. Joko. Retrieved From http:// jokosarwono.%20Adita%. Joko. “UTS TF-3204 Akustik Ruangan 9231 GKU Timur ITB”..pdf diakses pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 22.DAFTAR PUSTAKA [1]Chairinnas. “Fenomena Akustik Dalam Ruang Tertutup”. dkk.05 [2]Sarwono..17 [3]Aska. Joko.library. 2009. “Pengukuran Absorpsi Bahan Anyaman Enceng Gondok Dan Tempat Telur Dengan Metode Ruang Akustik Kecil”.wordpress. 2010. “Kriteria Akustik Dalam Desain Akustika Ruangan”.com/2008/04/12/fenom ena-akustik-dalam-ruang-tertutup/ diakses pada tanggal 1 Desember 2013 pukul 22.