Anda di halaman 1dari 14
Survey Untuk Mendeteksi Ketebalan Lapisan Batuan dan Batas Lapisannya Menggunakan Metoda Seismik Refraksi di Kampus LIPI Karangsambung Survey To Determine the Thickness of the Stone and Its Boundary Using Refraction Seismic Method At LIPI Karangsambung M. Gerry Agustin Abstrak Karangsambung merupakan daerah yang kaya akan variasi batuannya. Ini disebabkan karena Karangsambung merupakan daerah pertemuan 3 lempeng yang terangkat ke permukaan. Hal ini mengakibatkan daerah ini memiliki berbagai macam jenis batuan seperti batuan beku, sedimen, dan metamorf. Metode seismik refraksi dapat mendeteksi ketebalan batuan dan letak batas lapisannya. Dengan menggunakan metode seismik refraksi di belakang kampus LIPI Karangsambung, dapat diketahui bahwa di kampus LIPI ini tergdapat 2 lapisan batuan, yaitu lapusan tanah lapuk yang tipis dan batugamping. Kata kunci : Karangsambung, seismic refraksi, ketebalan batuan, batas lapisan Abstract Karangsambung is a place with a lot of stone variance. This is because Karangsambung is the intersection of 3 plates. Because of that, this area has a lot of stone such as igneous rocks, sedimentary rocks, and metamorf rocks. Refraction seismic method can determine the thickness of the stone and find the location of its layer boundary. With using refraction seismic method behind LIPI karangsambung, we can determine that there are 2 rock layer there, which is thin soil and limestone. Key words : Karangsambung, refraction seismic, thickness of the stone, layer boundary I. sebagai Pendahuluan parameter elastisitas batuan. Metoda seismik merupakan salah satu metoda eksplorasi yang didasarkan pada pengukuran respon gelombang seismik (mekanis) yang dimasukkan ke dalam tanah dan kemudian direfleksikan atau direfraksikan di sepanjang perbedaan lapisan tanah atau batas-batas batuan. Gerakan gelombang di dalam tanah/batuan yang memenuhi hukum-hukum elastisitas ke Gambar 1. Geometri penjalaran gelombang refraksi seismik segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat munculnya Metoda seismik refraksi perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu keterbatasan jarak tertentu, gerakan partikel tersebut menghasilkan data yang baik bila harga dapat di rekam sebagai fungsi waktu. cepat rambat gelombang seismik semakin Kemudian berdasarkan data rekaman ini besar kearah lapisan bawah sehingga akan dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur di selalu terdapat gelombang yang terbiaskan dalam tanah. ke permukaan. Prinsip dasar metode ini yaitu pemberian Metode seismic refraksi suatu gangguan berupa gelombang seismik Prinsip pada suatu sistem dan kemudian merekam Hukum Snellius. sinyal waktu rambat tercepat gelombang I. yaitu mempunyai Huygens, hanya Prinsip dapat didasari oleh Fermat, dan Prinsip Huygens, menyatakan bahwa tersebut melalui geofon. Pada survey ini tiap titik pada front gelombang dapat hanya dianggap membentuk sumber baru diamati gelombang waktu (first tempuh tercepat pada gelombang dan gelombang baru tadi geophone. Besaran ini tergantung pada besar akan membentuk front gelombang kecepatan yang dimiliki oleh medium yang baru dilalui terjadi secara berantai. gelombang. arrival time) Kecepatan tersebut lagi, demikian seterusnya dikontrol oleh sekelompok konstanta fisis Prinsip Huygens bisa dipakai untuk yang terdapat di dalam material dan disebut menerangkan terjadinya difraksi cahaya pada celah kecil. Pada saat minimum. Prinsip Fermat ini sangat melewati penting dalam analisa gelombang. celah gelombang akan kecil, muka menimbulkan III. Hukum Snellius, memberikan wavelet baru yang jumlahnya tak hubungan antara sudut datang dan terhingga sehingga gelombang tidak sudut mengalir gelombang lainnya yang melalui lurus saja melainkan menyebar. bias pada cahaya atau batas antara dua medium isotropik berbeda. Hukum ini menyebutkan bahwa nilai sinus sudut datang dan sudut bias adalah konstan, yang tergantung pada medium. Perumusan lain yang ekivalen adalah sudut datang dan sudut bias sama dengan Gambar 2. Difraksi gelombang dengan Prinsip Huygens II. kecepatan cahaya medium, yang kebalikan indeks Snellius dapat pada kedua sama dengan bias. Hukum digunakan untuk menghitung sudut datang atau sudut Prinsip Fermat atau principle of least time, merupakan sebuah prinsip yang bias, dan dalam eksperimen untuk menghitung indeks bias suatu bahan. mendefinisikan jarak tempuh yang terpendek dan tercepat yang dilalui oleh cahaya. Prinsip ini terkadang digunakan sebagai definisi sinar, sebagai cahaya yang merambat sesuai prinsip Fermat. Jika berkas cahaya tersebut menembus suatu medium yang berbeda sifat fisisnya maka berkas tersebut tidak menjalar Gambar 3. Ilustrasi Hukum Snellius mengikuti garis lurus melainkan II. Lokasi penelitian mengikuti 1. Geologi regional Karangsambung alur dengan waktu Geologi Karangsambung mempunyai Lempeng Hindia Australia yang datang dari formasi yang khas jika dibandingkan dengan selatan kemungkinan merupakan bagian dari daerah lain. Hal ini terlihat dari bentuk benua purba Gondwana sehingga membawa morfologi yang berbentuk lonjong-lonjong jenis batuan yang berusia tua. Proses dan berbukit dengan batuan yang berbeda- subduksinya berlangsung dalam waktu yang beda, stratigrafi daerah ini sangat khas dan cukup lama sehingga tidak hanya mélange membentuk formasi yang beragam, struktur yang terdapat di Karangsambung, tetapi juga geologi pada daerah ini terdiri dari lipatan, batuan dasar samudra dan sekitar mid sesar dan kekar. Pada daerah ini terdapat oceanic ridge terbawa sampai mendekati batuan yang sangat jarang ditemui di daerah kontak kedua lempeng, bahkan komplek lain, seperti batuan rijang, lava bantal, ofiolit telah terangkat ke permukaan dan basalt, gabro, batuan ultra basa, seperti menjadi bagian dari kerumitan distribusi dunite, dan amphibolit yang merupakan batuan di daerah ini. kompleks batuan dari laut dalam, khususnya pada batuan ultra basa yang merupakan batuan yang berada pada mantel bagian atas yang posisinya sangat jauh dari permukaan bumi. Batuan – batuan ini tercampur menjadi suatu satuan yang disebut dengan melange kompleks. Tersingkapnya batuan mélange di daerah Karangsambung disebabkan adanya tektonik kompresional yang menyebabkan daerah tersebut dipotong oleh sejumlah sesar disamping adanya pengangkatan dan erosi yang intens. Lempeng – lempeng yang terlibat pada pembentukan daerah Karangsambung ini diantaranya lempeng Asia dan lempeng Hindia Australia yang bertumbukan pada 60 - 120 juta tahun yang lalu. 2. Geologi lokal Pada sekitar daerah pengukuran terdapat singkapan batugamping numulites dan batu konglomerat. Singkapan batugamping ini terletak tepat di depan kampus LIPI Karangsambung. Sedangkan singkapan batu konglomerat terletak di seberang jalan raya kampus, berjarak lebih kurang 30 meter dari lokasi penelitian. 3. Deskripsi Lokasi penelitian Akuisisi data seismic refraksi berlokasi di Kampus LIPI Karangsambung, Desa Karangsambung, Jawa Tengah. Akuisisi data seismic refraksi dilakukan dengan 1 lintasan sepanjang 100 meter.Akuisisi data berada di daerah sepi yang banyak pohonnya. Sekitar 65 meter dari lokasi near seismik shot, daerah akuisisi mulai menurun dan penembakan sumber gelombang (source) memasuki daerah sawah. sebanyak lima kali yang terdiri dari dua dilakukan satu tembakan di tengah diantara geophone Survey topografi dilakukan agar dapat medan atau survey topografi akan diikutsertakan dalam data hasil ke-12 dan geophone ke-13. perbedaan ketinggian di tiap titik pengukuran. Hasil pengolahan ini tembakan di dekat geophone terakhir, dan Survey topografi mengetahui kali tembakan di dekat geophone pertama, dua III. Survey 1. refraksi survey seismic refraksi sehingga model yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Sumber gelombang yang digunakan pada akuisisi data seismik pada kuliah lapangan ini adalah palu godam (sledgehammer) dan peledak dinamit. Gelombang yang dihasilkan dari setiap tembakan akan dicatat oleh geophone. Data yang diperoleh berupa waktu travel time gelombang dari tiap-tiap Pada daerah yang akan diukur, pada geofon lapangan ke 14 sampai dengan 24 terdapat penurunan topografi karena daerah yang diukur berupa sawah. Data yang didapat adalah data output alat perekam getaran di geofon (Seismograf Oyo McSeis-170 v1.54). Datanya berupa soft 2. Survey Seismik Refraksi Penulis melakukan survey seismic refraksi data digital dengan format .org dan hard data analog dalam kertas seismograf. menggunakan alat Daq Link III dengan 24 Soft data yang diperoleh kemudian diproses channel geofon. Panjang lintasan survey 100 lebih lanjut dengan menggunakan Software meter dengan jarak antar geofon adalah 5 Seisrefa. Dengan bantuan software seisrefa, meter. Geofon ditancapkan ke tanah dan dapat dilakukan picking first arrival time harus stabil agar data yang didapat lebih gelombang refraksi. Kemudian hasil picking baik. Survey diawali dengan melakukan di save dalam format .tim dan dilakukan check shot dengan menggunakan palu yang analisis oleh seisrefra untuk menghitung bertujuan untuk melihat pengaturan letak delay-time-nya serta kecepatan dari masing- geofon dan memastikan bahwa geofon telah masing lapisan. Setelah dilakukan proses- terpasang dengan benar. Dalam akusisi data proses tadi, maka akan diperoleh model bawah permukaan berdasarkan kecepatan dengan menggunakan software Seisrefa tiap lapisan. Data seismoraf dan hasil memberikan interpretasi model geologi dua picking terlampir di lampiran. lapis batuan pada line tersebut. Langkah pemrosesan data seismik refraksi  adalah : Lapisan 1 memiliki kecepatan rambat gelombang seismik 0.43 km/s, dengan ketebalan bervariasi dari 10 meter dan makin menipis kearah geofon 24 sekitar 5 meter.  Lapisan 2 memiliki kecepatan rambat gelombang seismik 2.7 km/s. Berdasarkan nilai dua kecepatan tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa pada daerah yang diukur terdapat dua lapisan berbeda. Kedua nilai kecepatan ini menggambarkan adanya perbedaan litologi dibawah permukaan. Nilai kecepatan gelombang pertama diinterpretasikan sebagai lapisan tanah lapuk (soil) sedangkan nilai kecepatan kedua diinterpretasikan sebagai lapisan batugamping. Dengan demikian berdasarkan hasil dari pengolahan data yang didapat pada akuisisi IV. Hasil dan interpretasi Setelah menyelesaikan pengolahan permukaan (a) data, dapat data di Kampus LIPI Karangsambung dapat disimpulkan terdapat semua tahap pemodelan bawah diperoleh. Analisis batas lapisan antara tanah lapuk (soil) dengan batugamping. (b) (c) (d) Gambar 4. (a) Hasil pengolahan data menggunakan seisREFA. (b) Hasil pengolahan data menggunakan metode Hagiwara berupa kurva X-T. (c) Sketsa elevasi daerah pengukuran terhadap posisi geofon. (d) Sketsa penampang lapisan di lokasi penelitian. V. Diskusi dan Kesimpulan Metode seismik refraksi sangat efektif dalam menginterpretasi lapisan dangkal. Data dari seismic refraksi adalah data first break dari gelombang yang terekam pada geofon. Setelah dilakukan pengolahan data VI. dari metode seismic refraksi, hasil dari data yang didapat pada akuisisi data di Kampus LIPI Karangsambung adalah terdapatnya batas lapisan antara tanah lapuk (soil) dengan batugamping dengan ketebalan lapisan tanah lapuk sekitar 5-10 meter. Referensi Asikin, Sukendar, Ringkasan Tatanan Geologi Karangsambung Daerah Karangsambung Loh Ulo Jawa Tengah, Bandung : ITB. Masuda, Hideo, 1981, Seismic Refraction Analysis for Engineering Study, Japan : OYO Technical Note. Tim Program Studi Teknik Geofisika, 2013, Panduan Kuliah Lapangan Karangsambung 2013, Bandung : Teknik Geofisika ITB. Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff,R.E. , 2001, Applied Geophysics, 2nd ed. : Cambridge University Press. Lampiran Gambar a. Analisis gelombang middle shot Gambar b. Analisis gelombang near shot Gambar c. Analisis gelombang phantom near shot Gambar d. Analisis gelombang far shot Gambar e. Analisis gelombang phantom far shot