Anda di halaman 1dari 5

KARAKTERISTIK LIMBAH SAPI PERAH

Usaha peternakan sapi perah selain memberikan dampak positif sebagai sumber
penghasilan, peternakan juga berpeluang untuk mencemari lingkungan sebagai dampak
negatif. Penanganan limbah yang kurang baik dapat menimbulkan masalah lingkungan.
Pemilihan sistem penanganan limbah ternak tergantung kepada beberapa faktor seperti
biaya, potensinya untuk mencemari air dan udara, keperluan tenaga kerja,
pertimbangan lokasi, pertimbangan area pembuangan dan selera operator. Penanganan
limbah ternak yang baik akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Limbah peternakan adalah semua buangan dari usaha peternakan yang bersifat
padat, cair dan gas. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan
atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan
ternak), limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase
cair (air seni atau urine, air pencucian alat-alat) dan limbah gas adalah semua limbah
yang berbentuk gas atau berada dalam fase gas. Limbah sapi perah merupakan sumber
bahan pencemar utama di sektor pertanian.
Karakteristik limbah sapi perah digunakan dalam merancang sistem pengolahan
limbah yang meliputi sifat fisik, kimia dan biologi. Secara fisik karakteristik limbah
peternakan dapat diketahui berdasarkan bentuk (padat, semi padat dan cair), tekstur
(kekompakan) dan jumlah (kg per unit ternak) yang dihasilkan. Secara kimiawi sifat
limbah ditentukan oleh komposisi zat kimia yang terkandung dan tingkat keasaman
(pH). Secara biologis sifat limbah ditentukan oleh jenis dan populasi mikroflora-fauna
yang terkandung di dalamnya, yang biasanya dicerminkan oleh jenis dan populasi yang
terdapat di dalam sistem pencernaan hewan ternak yang menghasilkan limbah tersebut.
Karakteristik limbah sapi perah dipengaruhi oleh unit produksi, kandang, umur
dan spesies, ukuran ternak, dan bedding material. Pengaruh kandang yang berlantai
keras akan membuat limbah terakumulasi di atas lantai dan kemudian menjadi lembab,
dan bila kandang beratap, kelembaban limbah akan dipengaruhi oleh kemiringan lantai
ventilasi, temperatur dan kelembaban udara. Limbah ternak non ruminansia tidak sama
dengan limbah ternak ruminansia, limbah ternak sapi perah pun biasanya lebih banyak

dibandingkan limbah ternak sapi potong. Produksi limbah ternak kurang lebih 7 8 %
dari bobot badan. Satu ekor sapi dengan bobot badan 400500 kg dapat menghasilkan
limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari.
Limbah peternakan sapi perah berupa urine dan feses dari proses pencernaan
akan menghasilkan gas methan (CH4) yang cukup tinggi. Gas methan ini adalah salah
satu gas yang berperan dalam kerusakan lapisan ozon. Limbah sapi perah juga
mengandung nitrogen yang merupakan zat hara utama untuk merangsang pertumbuhan
alga di perairan, sehingga menyebabkan eutrofikasi yang pada akhirnya semua makhluk
hidup di perairan tersebut mati. Berikut adalah tabel kandungan-kandungan yang
terdapat di dalam limbah sapi perah :
Variabel

Jumlah

Satuan

Produksi

36 45

Kg/hari

RH

85

BOD

0,6 0,78

Mg/l

Zat padat total

3,0 4,7

Kg/hari

Volatile

2,6

Kg/hari

Nitrogen total

0,17

Mg/l

Amonia

0,10

Mg/l

Fosfor total

0,05

Mg/l

pH

7-8

Sumber : power point bahan ajar pengolahan limbah


Keberhasilan pengelolaan limbah peternakan sangat dipengaruhi oleh teknik
penanganan yang dilakukan, yang meliputi teknik pengumpulan (collections),
pengangkutan (transport), pemisahan (separation) dan penyimpanan (storage) atau
pembuangan (disposal).

Pengumpulan (collections)
Ada tiga cara mendasar dalam teknik pengumpulan :
a. Scraping, yaitu membersihkan dan mengumpulkan limbah dengan cara
menyapu atau mendorong/menarik (dengan sekop atau alat lain) limbah.
b. Free-fall, yaitu pengumpulan limbah dengan cara membiarkan limbah
tersebut jatuh bebas melewati penyaring atau penyekat lantai ke dalam
lubang pengumpul di bawah lantai kandang.
c. Flushing, yaitu pengumpulan limbah menggunakan air untuk mengangkut
limbah tersebut dalam bentuk cair.

Pengangkutan (transport)
Setelah limbah peternakan dikumpulkan di lahan penyimpanan sementara,
biasanya diangkut untuk diolah dan atau dibuang ke ladang rumput. Cara
pengangkutan limbah dari tempat pengumpulan bergantung pada karakteristik
aliran limbah. Pengangkutan dapat dilakukan dengan alat konveyor dan pompa
penyedot.
Pengolahan limbah sapi perah dapat menghasilkan suatu energi yang dapat

digunakan sebagai sumber energi alternatif yang bersifat renewable. Contohnya adalah
biogas. Biogas adalah salah satu sumber energi terbarukan yang bisa menjawab
kebutuhan akan energi sekaligus dapat menyediakan kebutuhan hara tanah dalam suatu
sistem pertanian yang berkelanjutan. Biogas yang dihasilkan, dimanfaatkan sebagai
sumber energi kompor gas dan lampu penerangan. Analisa dampak lingkungan dari
lumpur keluaran dari digester menunjukkan penurunan COD sebesar 90% dari kondisi
bahan awal dan pebandingan BOD/COD sebesar 0,37 lebih kecil dari kondisi normal
limbah cair BOD/COD=0,6. Analisa unsur utama N, P dan K menunjukkan tidak ada
perbedaan nyata bila dibandingkan dengan pupuk kompos. Hasil ini belum termasuk
hasil samping berupa pupuk cair/padat. Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi
pada

industri

kecil

berbasis

pengolahan

hasil

pertanian

diharapkan

dapat

memberikan multiple effect dan dapat menjadi penggerak dinamika pembangunan


pedesaan. Selain itu, dapat juga dipergunakan untuk meningkatkan nilai tambah dengan
cara pemberian green labelling pada produk-produk olahan yang di proses dengan

menggunakan green energy. Sistem Integrasi Tanaman-Ternak pada dasarnya juga dapat
disinergikan dengan pengembangan biogas ini.
Limbah-limbah yang dihasilkan, baik limbah padat maupun cair dapat
dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang. Limbah padat diproses menjadi pupuk
organik (Fine Compost) yang dimanfaatkan untuk tanaman di persawahan ataupun di
lahan kering, sehingga lahan, di samping hasil utama berupa padi dan palawija, juga
menghasilkan jerami yang dimanfaatkan sebagai pakan sapi. Kolam ikan, di samping
menghasilkan ikan, juga menghasilkan lumpur kolam untuk bahan pembuatan kompos.
Dengan demikian tidak ada limbah yang terbuang langsung ke lingkungan.

MAKALAH
PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN
Karakteristik Limbah Sapi Perah

Disusun oleh :
Kelompok 6
Kelas : B
Ajeng D. Hermayasari

200110110082

Setiawan Nugraha

200110110083

Ervan Rivana

200110110084

Gerry Ermansyah

200110110085

Luo Niasto M.

200110110086

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2013