Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)
Topik

: Penyakit Jantung

Sub Topik

: Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan DM

Sasaran

: Pasien dan Keluarga penyakit jantung koroner, DM

Tempat

: Ruang 5 Rumah Sakit Saiful Anwar

Hari/Tanggal

: Kamis, 06/11/2014

Waktu

: 10.00-10.30 WIB

A. Latar Belakang
Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terutama
disebabkan karena peyempitan ateri koronaria akibar proses aterosklerosis
atau spasme atau kombinasi keduanya. PJK merupakan sosok penyakit yang
sangat menakutkan dan masih menjadi masalah baik di negara maju dan di
Negara berkembang. Di USA setiap tahunnya 550.000 orang meningggal
karena penyakit ini. Di EROPA di perhitungkan 20-40.000 orang dari 1 juta
pendudul menderita PJK.
Hasil survei yang dilakukan departemen kesehatan RI menyatakan
prevalensi PJK di Indonesia dr tahun ke tahun terus meningkat. Bahkan,
sekarang tahun (2000-an) dapat dipastikan, kecendrungan penyebab kematian
di Indonesia bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit kardiovaskular (antara
lain PJK) dan generative.
Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pectoris. Angina
pectoris adalah suatu sindroma klinis dimana didapatkan sakit dada yang
timbul pada waktu melakukan aktifitas karena adanya iskemik miokard. Hal
ini menunjukan bahwa

telah terjadi >70% penyempitan arteri koronaria.

Angina pectoris dapat muncul akibat angina pectoris stabil (APS, stable
angina) dan keadaaan ini bisa berkembang lebih berat dan menimbulkan
sindroma koroner akut (SKA) atau yang lebih dikenal dengan serangan
jantung mendadak (heart attack) dan bisa menyebabkan kematian.

Jumlah penderita penyakit jantungg koroner di dunia dan Indonesia


diperkirakan akan meningkat, jumlah pasien penyakit jantung koroner di dunia
dari tahun 1994 ada 110,4 juta, 1998 kurang lebih 150 juta, tahun 2000=
175,4 juta (1 kali tahun 1994),tahun 2010=279,3 juta (kurang lebih 2 kali
1994) dan tahun 2020 = 300 juta atau kurang lebih 3 kali tahun 1994. Di
Indonesia atas dasar prevalensi kurang lebih 1,5 % dapatlah diperkirakan
jumlah penderita penyait jantung koroner pada tahun 1994 adalah 2,5 juta,
1998= 3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta dan 2020 = 6,5 juta .
Jumlah penderita Penyakit jantung koroner di Ruang 5 sebanyak 4
orang dan rata-rata mereka kurang tahu tentang penyakit jantung koroner.
Materi penyuluhan ini meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala.
Disamping itu materi penyuluhan difocuskan pada penatalaksanaan dan
pencegahan penyakit jantung koroner.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga
memahami tentang penyakit jantung koroner dengan baik dan benar.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga
dapat mengetahui:

1. Pengertian penyakit jantung koroner dan DM


2. Penyebab penyakit jantung koroner dan DM
3. Tanda dan gejala penyakit jantung koroner
4. Komplikasi jantung koroner dan DM
5. Penanganan DM
6. Cara pencegahan penyakit jantung koroner
C. Materi (Terlampir)
1. Pengertian penyakit jantung koroner
2. Penyebab Jantung dan DM
3. Tanda dan gejala serangan penyakit jantung koroner
4. Komplikasi jantung dan DM
5. Cara pencegahan penyakit jantung koroner
6. Penanganan DM
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Media
Leaflet
Leptop
Ppt
LCD

F. Kegiatan Penyulahan
Tahap/waktu
Pendahuluan :
2 menit

Penyajian
15 menit

Kegiatan penyuluhan
1.
Mengucapkan salam
2.
Memperkenalkan
diri
3.
Menjelaskan tujuan
dari penyuluhan.
4.
Menyebutkan materi
penyuluhan
Menjelaskan materi :
1.
Pengertian
Jantung dan DM
2.
Penyebab
jantung dan DM
3.
Komplikasi
jantung dan DM

Kegiatan peserta
Membalas
salam
2.
Mendengarkan
3.
Memperhatikan
1.

4.

Memperhatikan

1.
2.
3.
4.
5.

Mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan

Media
LCD

LCD

4.
5.
10 menit

6.
1.
2.

3 menit

1.

2.
3.

Tanda dan gejala


Jantung dan DM
Pencegahan
jantung
Penanganan DM
Memberikan
kesempatan pada pasien
untuk bertanya
Melakukan
evaluasi
menyeluruh
terhadap
materi yang telah di
jelaskan
Meminta salah satu
peserta didik untuk
menyimpulkan
hasil
pembelajaran.
Memberikan
reinforcement positif
Mengucapkan salam
penutup

6.

Mendengarkan

7.

Mendengarkan

1. Memberikan
pertanyaan
2. Menyimak
hasil
evaluasi

LCD

1.

LCD

Memberikan
simpulan
2.
Senang
dan
bersemangat
3.
Membalas
salam

G. Kriteria Evaluasi
a. Peserta mampu menjelaskan pengertian jantung koroner, DM
b. Peserta mampu menyebutkan 3 dari 4 penyebab jantung koroner,DM
c. Peserta mampu menyebutkan dari tanda dan gejala
d. Peserta mampu menyebutkan dari komplikasi jantung koroner dan DM
H. Pengorganisasian
Moderator:
Pembicara:
Observer:
Fasilitator:

DAFTAR PUSTAKA

Soeparman, 1987. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Kedua, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta
Smeltzer, Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.vol 2. Jakarta :
EGC
Price, Sylvia. 1995. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Proses Penyakit.
Jakarta : EGC

TERLAMPIR
PENYAKIT JANTUNG KORONER

A. Pengertian Penyakit Jantung dan DM.


Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah keadaaan dimana terjadi
ketidakseimbangan antara kebutuhan otot jantung atas oksigen dengan
penyediaan yang di berikan oleh pembuluh darah koroner. Ketidakmampuan
pembuluh darah koroner untuk menyediakan kebutuhan oksigen biasanya
diakibatkan oleh penyumbatan (plak) pada dinding bagian dalam pembuluh
darah koroner
Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan
herediter, demham tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan
atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari
kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada
metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme
lemak dan protein (Smeltzer & Bare, 2002) .

B. Penyebab Penyakit Jantung Koroner dan Dm


Faktor genetik:
1. Usia
2. Etnis
3. Keturunan
Faktor lingkungan:
1. Makanan dengan kadar garam tinggi
2. Obesitas/kegemukan
3. Merokok
4. Kondisi penyakit lain, seperti diabetes melitus
Sedangkan Faktor resiko Penyakit Jantung Koroner yang utama adalah
Hiperkolesterolemia,

dan

merokok.

Ketiga

faktor

ini

saling

mempengaruhi dan memperkuat resiko PJK akan tetapi dapat


diperbaiki dan bersifat reversibel bila upaya pencegahan betul-betul
dilaksanakan.
Faktor Resiko Lainnya :
1. Umur
Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44
tahun dan meningkat dengan bertambahnya umur. Kadar kolesterol
pada laki-laki dan perempuan mulai meningkat umur 20 tahun. Pada
laki-laki kolesterol meningkat sampai umur 50 tahun. Pada perempuan
sebelum menopause ( 45-0 tahun ) lebih rendah dari pada laki-laki
dengan umur yang sama. Setelah menopause kadar kolesterol
perempuan meningkat menjadi lebih tinggi dari pada laki-laki.
2. Jenis kelamin.

Di Amerika Serikat gejala PJK sebelum umur 60 tahun didapatkan


pada 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 17 perempuan . Ini berarti bahwa lakilaki mempunyai resiko PJK 2-3 X lebih besar dari perempuan.
3. Geografis
Resiko PJK pada orang Jepang masih tetap merupakan salah satu
yang paling rendah di dunia. Akan tetapi ternyata resiko PJK yang
meningkat pada orang jepang yang melakukan imigrasi ke Hawai dan
Califfornia . Hal ini menunjukkan faktor lingkungan lebih besar
pengaruhnya dari pada genetik.
4. Ras
Perbedaan resiko PJK antara ras didapatkan sangat menyolok,
walaupun bercampur baur dengan faktor geografis, sosial dan ekonomi .
Di Amerika serikat perbedaan ras perbedaan antara ras caucasia dengan
non caucasia ( tidak termasuk Negro) didapatkan resiko PJK pada non
5.

caucasia kira-kira separuhnya.


Diet.
Didapatkan hubungan antara kolesterol darah dengan jumlah lemak
di dalam susunan makanan sehari-hari ( diet ). Makanan yang
mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi menyebabkan kadar

6.

kolesterol cendrung tinggi.


Obesitas.
Obesitas adalah kelebihan jumlah lemak tubuh > 19 % pada
lakilaki dan > 21 % pada perempuan . Obesitas sering didapatkan
bersama-sama dengan hipertensi, DM, dan hipertrigliseridemi.. Resiko
PJK akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20 % dari BB ideal.
penderita yang gemuk dengan kadar kolesterol yang tinggi dapat
menurunkan kolesterolnya dengan mengurangi berat badan melalui diet

7.

ataupun menambah exercise.


Diabetes.
Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai
predisposisi penyakit pembuluh darah. Penelitian menunjukkan lakilaki yang menderita DM resiko PJK 50 % lebih tinggi daripada orang

8.

normal, sedangkan pada perempuaan resikonya menjadi 2x lipat.


Exercise.

Exercise
9.

dapat

meningkatkan

kadar

HDL kolesterol

dan

memperbaiki kolaterol koroner sehingga resiko PJK dapat dikurangi.


Perilaku dan Kebiasaan lainnya.
Dua macam perilaku seseorang telah dijelaskan sejak tahun 1950

yaitu : Tipe A dan Tipe B.


Tipe A umumnya berupaya kuat untuk berhasil, gemar berkompetisi,
agresif, ambisi, ingin cepat dapat menyelesaikan pekerjaan dan tidak sabar.
Tipe B lebih santai dan tidak terikat waktu . Resiko PJK pada tipe A lebih
besar daripada tipe B.
10.
Perubahan Keadaan Sosial Dan stress.
Korban serangan jantung terutama terjadi pada pusat kesibukan
yang banyak mendapat stress. Penelitian Supargo dkk ( 1981-1985 ) di
FKUI menunjukkan orang yang stress 1 1/2 X lebih besar mendapatkan
resiko PJK stress disamping dapat menaikkan tekanan darah juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol darah.
Penyebab DM yaitu :
a.

Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta


sampai kegagalan sel beta melepas insulin.

b.

Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta,


antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan
karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan
kehamilan.

c.

Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh


autoimunitas yang disertai pembentukan sel sel antibodi antipankreatik
dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian
peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.

d.

Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan


kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang
terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.

C. Tanda dan Gejala Penyakit Jantung Koroner dan DM


1. Dada terasa sakit dan menekan
2. Pusing kepala yang berkepanjangan
3. Merasa sekujur tubuhnya terbakar tanpa sebab yang jelas
4. Terjadi keluhan di sekitar tulang dada dan leher
Tapi kebanyakan orang yang menderita penyakit jantung koroner tidak
mengalami beberapa gejala di atas. Tiba-tiba saja jantung si penderita
bermasalah dan dalam kondisi yang kronis
Tanda tanda dari DM adalah :
Tipe I :
a. Usia muda < 30 tahun
b. Tubuh kurus dengan penurunan berat badan
c. Etiologi : faktor genetik, imunologi lingkungan (virus)
d. Memerlikan insulin untuk kelangsungan hidup
Tipe II :
a. Gejala usia > 30 tahun
a. Tubuh gemuk (obesitas)
b. Etiologi faktor obesitas, herediter dan lingkungan
c. Perlu insulin dalam waktu pendek
Gejala dari DM adalah :
Gejala yang sering muncul pada DM, yaitu :
a. Poliuria (banyak dan sering kencing)
b. Polipagia (banyak makan)
c. Polidipsi (banyak minum)

Kemudian diringi dengan keluhan-keluhan :


a.

Kelemahan tubuh, lesu, tidak bertenaga.

b.

Berat badan menurun

c.

Rasa kesemutan, karena iritasi (perangsangan) pada


serabut-serabut saraf

d.

Kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul dan Infeksi saluran


kencing

D. Komplikasi Jantung Koroner


jantung yang paling sering adalah Kegagalan Ventrikel Kiri, PJK seperti
angina Pektoris dan Miokard Infark. Perubahan hipertensi khususnya pada
jantung disebabkan karena :
a. Meningkatnya tekanan darah.
Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung,
sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri
(faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya hipertensi.
b. Mempercepat timbulnya arterosklerosis.
Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung
terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan
terjadinya arterosklerosis koroner (faktor koroner) Hal ini menyebabkan
angina pektoris, Insufisiensi koroner dan miokard infark lebih sering
didapatkan pada penderita hipertensi dibanding orang normal.
Kejadian PJK pada hipertensi sering dan secara langsung berhubungan dengan
tingginya tekanan darah sistolik. Penelitian Framingham selama 18 tahun
terhadap penderita berusia 45-75 tahun mendapatkan hipertensi sistolik
merupakan faktor pencetus terjadinya angina pectoris dan miokard infark.
Juga pada penelitian tersebut didapatkan penderita hipertensi yang mengalami

miokard infark mortalitasnya 3x lebih besar dari pada penderita yang


normotensi dengan miokard infark.
Hasil penelitian Framingham juga mendapatkan hubungan antara PJK dan
Tekanan darah diastolik. Kejadian miokard infark 2x lebih besar pada
kelompok tekanan darah diastolik 90-104 mmHg dibandingkan Tekanan darah
diastolik 85 mmHg, sedangkan pada tekanan darah diastolik 105 mmHg 4x
lebih besar. Penelitian stewart 1979 & 1982 juga memperkuat hubungan
antara kenaikan takanan darah diastolik dengan resiko mendapat miokard
infark. Apabila Hipertensi sistolik dari Diastolik terjadi bersamaan maka akan
menunjukkan resiko yang paling besar dibandingkan penderita yang tekanan
darahnya normal atau Hipertensi Sistolik saja. Lichenster juga melaporkan
bahwa kematian PJK lebih berkolerasi dengan Tekanan darah sistolik diastolik
dibandingkan Tekanan darah Diastolik saja.
Pemberian obat yang tepat pada Hipertensi dapat mencegah terjadinya
miokard infark dan kegagalan ventrikel kiri tetapi perlu juga diperhatikan efek
samping dari obat- obatan dalam jangka panjang. oleh sebab itu pencegahan
terhadap hipertensi merupakan usaha yang jauh lebih baik untuk menurunkan
resiko PJK. Tekanan darah yang normal merupakan penunjang kesehatan yang
utama dalam kehidupan, kebiasaan merokok dan alkoholisme. Diet serta
pemasukan Na dan K yang seluruhnya adalah faktor-faktor yang berkaitan
dengan pola kehidupan seseorang. Kesegaran jasmani juga berhubungan
dengan Tekanan darah sistolik, seperti yang didapatkan pada penelitian Fraser
dkk. Orang-orang dengan kesegaran jasmani yang optimal tekanan darahnya
cenderung rendah.

Komplikasi DM
a.

Akut : hipoglikemia & ketoasidosis

b.

Kronik
mikroangiophati

(retinophati,

makroangiophati
nephrophati),

(atherosklerosis),
neurophati,

mudah

terinfeksi.
E. Pencegahan Penyakit Jantung Koroner
1. Gaya hidup seimbang dan menghindari risiko stres sangat dibutuhkan agar
seseorang tidak terkena penyakit jantung koroner.
2. Mengonsumsi makanan sehat dan berserat tinggi. Kurangi makanan yang
berlemak dan berkolesterol tinggi agar tidak terjadi kegemukan.
3. Segera berhenti merokok. Merokok menyebabkan elastisitas pembuluh
darah berkurang sehingga meningkatkan pengerasan pembuluh darah
arterin yang memicu stroke.
4. Mengurangi atau menghindari minuman beralkohol
5. Olahraga yang teratur
6. Hindari penggunaan obat-obatan terlarang
Penanganan DM
a.

Pengaturan makan

b.

Latihan

c.

Oral anti hiperglikemia insulin Pendidikan kesehatan