Anda di halaman 1dari 132

OPTIMASI TWEEN 80 DAN SPAN 80 SEBAGAI EMULSIFYING AGENT

SERTA CARBOPOL SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN

EMULGEL PHOTOPROTECTOR EKSTRAK TEH HIJAU (Camellia

sinensis L.): APLIKASI DESAIN FAKTORIAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi

Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Manda Ferry Laverius NIM : 078114010 FAKULTAS

Oleh:

Manda Ferry Laverius

NIM : 078114010

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

i

OPTIMASI TWEEN 80 DAN SPAN 80 SEBAGAI EMULSIFYING AGENT

SERTA CARBOPOL SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN

EMULGEL PHOTOPROTECTOR EKSTRAK TEH HIJAU (Camellia

sinensis L.): APLIKASI DESAIN FAKTORIAL

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi

Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Manda Ferry Laverius NIM : 078114010 FAKULTAS

Oleh:

Manda Ferry Laverius

NIM : 078114010

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

ii

"Here's to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square hole. The ones who see things differently. We're not fond of rules. And we have no respect for the status quo. You can quote us, disagree with us, glorify or vilify us. About the only thing you can't do is ignore us. Because we change things. We push the human race forward. And while you see us as the crazy ones, they see genius. BECAUSE THE PEOPLE WHO ARE CRAZY ENOUGH TO THINK THEY CAN CHANGE THE WORLD, ARE THE ONES WHO DO." [Apple Inc.]

"Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar. Kau harus

bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu" [Pramoedya Ananta Toer]

Karya ini saya persembahkan:

untuk Tuhan, atas cinta dari permulaan, sekarang, dan selamanya.

untuk Bapak B. Gurusinga, Ibu S. Sembiring, dan Kartika Sari…

kalian mencintai saya, bocah yang begitu bandel dan sulit diatur, saya juga mencintai kalian… sederhana, namun sangat bermakna. untuk Bapak B.P. Zardani, Bapak L.J. Muljanto, Bruder Agus Sekti FIC… sosok yang saya kagumi, terima kasih telah mengajarkan saya untuk menjadi dewasa. dan untuk kalian semua, umat manusia…mari kita menyembuhkan dunia ini.

and this one is also for you, little baby… What if I give you my smile? Are you gonna stay for a while? What if I put you in my dreams tonight? Are you gonna stay until it's bright? Come on baby light my fire… You know, little baby… gravitation is not responsible for people falling in love.

Like what’s Albert said, I have no special talents. I am only passionately curious…and for me creativity is intelligence having fun.

v

PRAKATA

Syukur dan terima kasih penulis ucapkan kepada Tuhan atas segala cinta-

Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Optimasi

Tween 80 dan Span 80 sebagai Emulsifying Agent serta Carbopol sebagai Gelling

Agent dalam Sediaan Emulgel Photoprotector Ekstrak Teh Hijau (Camellia

sinensis L.): Aplikasi Desain Faktorial” dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai

salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) di Fakultas

Farmasi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam pelaksanaan penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini,

penulis telah mendapat banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orangtua dan adik tercinta atas segala doa, semangat, dan dukungan yang

tidak pernah berhenti diberikan kepada penulis.

2. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta sekaligus dosen pembimbing akademik.

3. Agatha

Budi

Susiana

L, M.Si.,

Apt. selaku dosen pembimbing yang

telah memberikan waktu, motivasi, tantangan, pengarahan, kritik dan saran

baik selama penelitian maupun penyusunan skripsi ini.

4. Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt. dan C.M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt.

selaku dosen penguji yang telah memberikan pengarahan, kritik dan saran

serta kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi penguji.

viii

5. Segenap

dosen

yang

telah

membimbing

penulis

selama

menempuh

perkuliahan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

6. Seluruh

staf

laboratorium

Fakultas

Farmasi

Universitas

Sanata

Dharma

khususnya Pak Musrifin yang telah banyak membantu selama penelitian di

laboratorium.

7. Ayu Asmoro Ningrum dan Yoga Wirantara yang telah berjuang bersama

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih telah menjadi sahabat,

tempat menyimpan rahasia, lawan untuk berdebat, teman bercanda, teman

yang mau memberi nasehat, dan menjadi dua sosok yang bersejarah dalam

hidup penulis.

8. Serevino Leonardo Ambuk dan Dian Prahara Florentino Wara, dua manusia

jenius yang selalu penulis hormati. Terima kasih telah menjadi guru, panutan,

serta teman diskusi bagi penulis. Paragraf pertama pada halaman persembahan

penulis dedikasikan untuk dua orang ini.

9. Teman-teman

angkatan

2007

lainnya

yang

bersama-sama

melakukan

penelitian mengenai formulasi. Terima kasih atas informasi, masukan dan

kesediaan untuk belajar bersama.

10. Teman-teman kelas A 2007 dan FST angkatan 2007 yang telah berjuang

bersama penulis di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

11. Tiatira Metri Setyadhiani Karunawati, Theresia Wijayanti, Sandra Ruby, dan

teman-teman mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma lainnya

atas keceriaan yang telah dilalui bersama.

12. Teman-teman kost atas kebersamaan yang telah terjalin selama ini.

ix

13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

skripsi ini mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis. Oleh

karena penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak. Semoga

skripsi

ini

dapat

berguna

bagi

perkembangan ilmu pengetahuan.

pembaca

x

dan

memberikan

Penulis

manfaat

bagi

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

i

HALAMAN JUDUL

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

iii

HALAMAN PENGESAHAN

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

vii

PRAKATA

viii

DAFTAR ISI

xi

DAFTAR TABEL

xiv

DAFTAR GAMBAR

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

xix

INTISARI

xx

ABSTRACT

xxi

BAB I. PENGANTAR

1

A. Latar Belakang

1

1. Perumusan masalah

4

2. Keaslian penelitian

4

3. Manfaat penelitian

5

B. Tujuan Penelitian

5

xi

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA

7

A. Teh Hijau

7

B. Photoprotector

8

C. Emulgel

10

D. Emulsifying Agent

10

1. Tween 80

11

2. Span 80

12

3. Hidrophile-Lipophile Balances (HLB)

13

E. Gelling Agent

14

F. Analisis Ukuran Droplet

15

G. Desain Faktorial

17

H. Landasan Teori

19

I. Hipotesis

20

BAB III. METODE PENELITIAN

21

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

21

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

21

1. Variabel penelitian

21

2. Definisi operasional

22

C. Bahan dan Alat

25

D. Tata Cara Penelitian

25

1. Formula emulgel photoprotector ekstrak teh hijau

25

2. Pembuatan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau

27

3. Evaluasi sediaan emulgel

28

xii

E.

Analisis Hasil

29

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

31

A. Penetapan Dosis Ekstrak Teh Hijau sebagai Antioksidan

31

B. Formulasi Emulgel Photoprotector Ekstrak Teh Hijau

32

C. Penentuan Tipe Emulsi dari Sediaan Emulgel

34

D. Pengaruh Tween 80, Span 80, dan Carbopol terhadap Respon Sifat

Fisik dan Stabilitas Fisik Emulgel

35

1. Respon viskositas

36

2. Respon daya sebar

44

3. Respon Pergeseran viskositas

51

E. Pergeseran Ukuran Droplet Emulgel

60

F. Optimasi Tween 80, Span 80, dan Carbopol pada Formula Emulgel

Antioksidan Ekstrak Teh Hijau

62

1. Contour plot viskositas

63

2. Contour plot daya sebar

64

3. Contour plot pergeseran viskositas

66

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

69

A. Kesimpulan

69

B. Saran

69

DAFTAR PUSTAKA

71

LAMPIRAN

74

BIOGRAFI PENULIS

110

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel I.

Klasifikasi Emulsifying Agent Berdasarkan Nilai HLB

14

Tabel II.

Rancangan Percobaan Desain Faktorial Tiga Faktor dan Dua

Level

18

Tabel III.

Formula Emulgel Photoprotector Hasil Modifikasi

26

Tabel IV.

Penentuan Level Tinggi dan Level Rendah Faktor Komposisi

Emulsifying Agent dan Gelling Agent

27

Tabel V.

Nilai HLB dari Tiap Formula Emulgel

35

Tabel VI.

Level Tinggi dan Level Rendah Faktor Tween 80, Span 80, dan

Carbopol

36

Tabel VII.

Hasil Uji Respon Viskositas

36

Tabel VIII.

Nilai Efek Tiap Faktor terhadap Respon Viskositas

37

Tabel IX.

Hasil Uji Anova untuk Respon Viskositas

42

Tabel X.

Hasil Uji Respon Daya Sebar

44

Tabel XI.

Nilai Efek Tiap Faktor terhadap Respon Daya Sebar

45

Tabel XII.

Hasil Uji Anova untuk Respon Daya Sebar

50

Tabel XIII.

Hasil Uji Respon Pergeseran Viskositas

52

Tabel XIV.

Nilai Efek Tiap Faktor terhadap Respon Pergeseran Viskositas 52

Tabel XV.

Hasil Uji Anova untuk Respon Pergeseran Viskositas

58

Tabel XVI.

Nilai Percenitle 90 Ukuran Droplet Tiap Formula

61

xiv

Tabel XVII. Hasil Prediksi Respon yang Dikehendaki dari Faktor-Faktor

yang Dioptimasi

xv

67

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Struktur Tween 80

 

12

Gambar 2.

Struktur Span 80

13

Gambar 3.

Struktur Carbopol

15

Gambar 4.

Hasil pengamatan mikroskopik tipe emulgel (perbesaran 40x)

 

34

Gambar 5.

Pengaruh interaksi tween 80 dan span 80 pada level rendah

carbopol terhadap respon viskositas

 

38

Gambar 6.

Pengaruh

interaksi

tween

80

dan

span

80

pada

level

tinggi

carbopol terhadap respon viskositas

 

38

Gambar 7.

Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level rendah span

80

terhadap respon viskositas

 

39

Gambar 8.

Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level tinggi span

80

terhadap respon viskositas

 

39

Gambar 9.

Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level rendah tween

80

terhadap respon viskositas

 

40

Gambar 10. Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level tinggi tween

 

80

terhadap respon viskositas

 

41

Gambar 11. Pengaruh interaksi tween 80 dan span 80 pada level rendah

 

carbopol terhadap respon daya sebar

 

46

Gambar 12. Pengaruh

interaksi

tween

80

dan

span

80

pada

level

tinggi

 

carbopol terhadap respon daya sebar

 

46

xvi

Gambar 13. Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level rendah span

80

terhadap respon daya sebar

 

47

Gambar 14. Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level tinggi span

80

terhadap respon daya sebar

 

47

Gambar 15. Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level rendah tween

80

terhadap respon daya sebar

 

48

Gambar 16. Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level tinggi tween

80

terhadap respon daya sebar

 

49

Gambar 17. Pengaruh interaksi tween 80 dan span 80 pada level rendah

carbopol terhadap respon pergeseran viskositas

 

53

Gambar 18. Pengaruh

interaksi

tween

80

dan

span

80

pada

level

tinggi

carbopol terhadap respon pergeseran viskositas

 

54

Gambar 19. Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level rendah span

80

terhadap respon pergeseran viskositas

 

55

Gambar 20. Pengaruh interaksi tween 80 dan carbopol pada level tinggi span

80

terhadap respon pergeseran viskositas

 

55

Gambar 21. Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level rendah tween

80

terhadap respon pergeseran viskositas

 

56

Gambar 22. Pengaruh interaksi span 80 dan carbopol pada level tinggi tween

80

terhadap respon pergeseran viskositas

 

57

xvii

Gambar 23. Contour plot viskositas yang dihasilkan dari pengaruh tween 80

dan span 80 pada carbopol 136,09 gram

63

Gambar 24. Contour plot daya sebar yang dihasilkan dari pengaruh tween 80

dan span 80 pada level rendah carbopol

65

Gambar 25. Contour plot pergeseran viskositas yang dihasilkan dari pengaruh

tween 80 dan span 80 pada level tinggi carbopol

66

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I.

Certificate of Analysis (CoA) Ekstrak Teh Hijau

74

Lampiran II.

Perhitungan dosis ekstrak teh hijau untuk antioksidan

76

Lampiran III .

Perhitungan rHLB dan HLB

76

Lampiran IV.

Data sifat fisis dan stabilitas emulgel

78

Lampiran V.

Normalitas Data

81

Lampiran VI.

Tabel nilai efek terhadap masing-masing respon hasil analisis

software Design Expert 7.0.0

83

Lampiran VII.

Data hasil uji Anova menggunakan software Design Expert

7.0.0 untuk signifikansi pengaruh faktor terhadap masing-

masing respon

85

Lampiran VIII.

Persamaan desain faktorial untuk masing-masing respon hasil

analisis software Design Expert 7.0.0

88

Lampiran IX.

Analisis Statistik Pergeseran Ukuran Droplet

90

Lampiran X.

Dokumentasi

106

xix

INTISARI

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berpengaruh signifikan di antara emulsifying agent tween 80 dan span 80, gelling agent carbopol, atau interaksinya dalam menentukan respon sifat fisik (daya sebar dan viskositas) dan stabilitas fisik (pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama satu bulan) emulgel photoprotector ekstrak teh hijau dan untuk mendapatkan komposisi optimum emulsifying agent dan gelling agent sehingga diperoleh emulgel yang mempunyai sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki. Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental menggunakan desain faktorial dengan tiga faktor, yakni tween 80, span 80, dan carbopol pada dua level, yaitu level rendah dan level tinggi. Analisis statistik menggunakan uji Anova dengan taraf kepercayaan 95% dilakukan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh signifikan terhadap respon sifat fisik dan stabilitas fisik. Berdasarkan signifikansi pengaruh dari masing-masing faktor terhadap respon sifat fisik dan stabilitas fisik yang diamati, dilakukan prediksi hasil respon menggunakan software Design Expert 7.0.0™ untuk memperoleh komposisi optimum tween 80, span 80, dan carbopol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tween 80 dan carbopol merupakan faktor yang berpengaruh signifikan dalam menentukan respon viskositas. Sementara itu tween 80, span 80, carbopol, interaksi antara tween 80 dan span 80, serta interaksi antara ketiga faktor merupakan faktor yang berpengaruh signifikan dalam menentukan respon daya sebar, sedangkan tween 80, span 80, dan interaksi antara tween 80 dan span 80 merupakan faktor yang berpengaruh signifikan dalam menentukan respon pergeseran viskositas. Komposisi optimum untuk menghasilkan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki adalah 5,63 gram tween 80; 3,75 gram span 80; dan 133,41 gram carbopol, di mana pada komposisi tersebut menghasilkan respon daya sebar 3,30 cm; viskositas 249,93 d.Pa.s; dan pergeseran viskositas 0,70%.

Kata kunci: emulgel, tween 80, span 80, carbopol, desain faktorial

xx

ABSTRACT

The aims of this research were to find out the factors which have significant influence between the emulsifying agent tween 80 and span 80, gelling agent carbopol, or their interaction in terms of determining the physical properties (spreadability and viscosity) and the physical stability (viscosity shift after one month storage) of photoprotector emulgel of green tea extract and to obtain the optimum composition of the emulsifying agents and the gelling agent so that would be produced emulgel which has the desired physical properties and physical stability. This research was the experimental design that used factorial design method with three factors (tween 80, span 80, and carbopol) at two levels (high level and low level). Anova was used as a tool for statistical analysis to determine the factors that significantly influence the response of physical properties and physical stability. According to the significance of the influence from each factor on the response of physical properties and physical stability, then prediction of the responses was performed using software Design Expert 7.0.0™ software to obtain the optimum composition of tween 80, span 80, and carbopol. The result showed that tween 80 and carbopol were the factors which have significant influence to determine the response of viscosity. Meanwhile, tween 80, span 80, carbopol, the interaction between tween 80 and span 80, and the interaction between these three factors were the factors and interactions that significantly influence the response of spreadability, whereas tween 80, span 80, and interaction between tween 80 and span 80 were the factors and interaction which have significant influence to determine the response of viscosity shift. The optimum composition to produced photoprotector emulgel of green tea extract which has the desired physical properties and physical stability was 5,63 gram tween 80; 3,75 gram span 80; and 133,41 gram carbopol, where that composition will produce spreadability 3,30 cm; viscosity 249,93 d.Pa.s; and viscosity shift

0,70%.

Key words: emulgel, tween 80, span 80, carbopol, factorial design

xxi

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Kulit memiliki sejumlah antioksidan endogen yang dapat melindungi

kulit dari kerusakan oksidatif. Kulit secara berkesinambungan terpapar oxidative

stress baik secara endogen maupun dari lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan

terbentuknya ROS (Reactive Oxygen Species) dan pada akhirnya menyebabkan

kerusakan kulit. Antioksidan endogen pada kulit dapat berkurang oleh paparan

oxidative stress yang berkesinambungan tersebut. Sinar UV merupakan salah satu

penyebab kerusakan kulit melalui proses oksidatif. Kondisi ini menyebabkan

dibutuhkannya senyawa yang dapat berfungsi sebagai photoprotector terhadap

sinar UV sehingga potensi kerusakan oksidatif pada kulit oleh sinar UV dapat

dicegah. Sejumlah senyawa antioksidan alami dapat meningkatkan perlindungan

terhadap

sinar

UV

dan

dapat

berfungsi

sebagai

photoprotector.

Senyawa

antioksidan alami telah terbukti meningkatkan proteksi terhadap sinar UV yang

menginduksi ekspresi berlebihan dari matrix metalloproteinase (MMP1). MMP1

adalah enzim utama yang terlibat dalam kerusakan kolagen dan photoaging pada

kulit yang teradiasi sinar UV (Matsui et al., 2009) .

Salah

satu

senyawa

antioksidan

alami

adalah

polifenol.

Teh

hijau

mengandung

senyawa

polifenol

berupa

katekin

yang

memberikan

aktivitas

antioksidan sehingga dapat mengurangi kerusakan sel (Syah, 2006). Kandungan

polifenol dalam teh hijau antara lain epikatekin, epikatekin galat, epigalokatekin

1

2

dan epigalokatekin galat. Kandungan polifenol pada teh hijau ini sering digunakan

untuk pencegahan maupun terapi photodamage yang disebabkan oleh sinar UV.

Meskipun memiliki nilai SPF yang tidak terlalu besar, katekin pada teh hijau

dapat bertindak sebagai photoprotector terhadap sinar UV sehingga oxidative

stress yang disebabkan oleh paparan sinar UV dapat dicegah (Matsui et al., 2009) .

Untuk mengaplikasikan ekstrak teh hijau yang mengandung polifenol

pada kulit perlu dibuat suatu sediaan topikal yang didesain untuk penggunaan

lokal pada kulit secara lebih praktis dan lebih efektif. Ada berbagai macam bentuk

sediaan topikal, antara lain lotion, cream, gel dan emulgel. Kelebihan gel yaitu

dapat memberikan rasa dingin di kulit dengan adanya kandungan air yang cukup

tinggi sehingga nyaman digunakan (Mitsui, 1997). Pada emulsi terdapat fase

minyak yang berfungsi sebagai emolien atau occlusive yang akan mencegah

penguapan

sehingga

kandungan

air

di

dalam

kulit

dapat

dipertahankan.

Peningkatan oklusivitas dari fase minyak pada sistem emulsi akan meningkatkan

hidrasi pada stratum corneum dan hal ini berhubungan dengan berkurangnya

hambatan difusi bagi zat terlarut. Oleh karena itu adanya sistem emulsi dalam

bentuk sediaan emulgel akan memberikan penetrasi tinggi di kulit (Block, 1996).

Atas dasar kelebihan dari emulsi dan gel tersebut maka sediaan emulgel akan

memberikan kenyamanan ketika digunakan serta dapat menjadi drug delivery

system yang baik bagi zat aktif yang terkandung di dalamnya ketika emulgel

diaplikasikan di kulit.

Pada sediaan emulgel terdapat sistem gel dan sistem emulsi. Pada sistem

emulsi, emulsifying agent akan berperan dalam

menentukan sifat

fisik dan

3

stabilitas fisik emulsi (Block, 1996). Twen 80 dan span 80 merupakan emulsifying

agent yang sering digunakan secara bersamaan. Tween 80 adalah emulsifying

agent larut air sehingga mampu membentuk emulsi tipe M/A. Span 80 adalah

emulsifying agent nonionik di mana gugus lipofilnya lebih dominan. Dalam

interfacial film theory, adanya stable interfacial complex condensed film yang

terbentuk saat emulsifying agent yang bersifat larut air dicampurkan dengan

emulsifying

agent

yang

bersifat

larut

lemak

mampu

membentuk

dan

mempertahankan

emulsi

dengan

lebih

efektif

dibandingkan

penggunaan

emulsifying agent tunggal (Kim, 2005). Pada sistem gel, gelling agent akan

berperan

dalam

menentukan

sifat

fisik

dan

stabilitas

fisik

gel.

Carbopol

merupakan salah satu eksipien yang sering digunakan sebagai gelling agent dalam

sistem gel. Carbopol sebagai gelling agent akan membentuk jaringan struktural

yang menyebabkan kenaikan viskositas sehingga merupakan faktor yang penting

dalam sistem tersebut (Zats and Kushla, 1996). Oleh karena itu, emulsifying agent

dan gelling agent akan mempengaruhi sifat fisik dan kestabilan sistem emulgel.

Desain faktorial merupakan metode rasional untuk menyimpulkan dan

mengevaluasi secara obyektif pengaruh dari faktor-faktor dan interaksi antar

faktor terhadap kualitas produk sehingga desain faktorial dapat digunakan untuk

mengetahui pengaruh mana yang signifikan antara tween 80, span 80, carbopol,

dan interaksi ketiganya dalam menentukan respon sifat fisik dan stabilitas fisik.

Selain untuk menentukan pengaruh yang signifikan, desain faktorial juga dapat

digunakan untuk memperoleh sediaan dengan formula optimum. Diharapkan

dengan komposisi tween 80, span 80, dan carbopol yang optimum diperoleh

4

sediaan emulgel yang memenuhi kualitas fisik yang baik meliputi daya sebar dan

viskositas,

serta

stabilitas

fisik

yang

baik

sehingga

dapat

diterima

oleh

masyarakat.

1. Perumusan masalah

a. Apakah persamaan desain faktorial dari respon sifat fisik (daya sebar,

viskositas) dan respon stabilitas fisik (pergeseran viskositas) signifikan

dalam memprediksi masing-masing respon?

b. Di antara tween 80, span 80, carbopol, dan interaksinya pada level yang

diteliti, manakah yang berpengaruh signifikan dalam menentukan sifat

fisik (daya sebar, viskositas) dan stabilitas fisik (pergeseran viskositas)

emulgel photoprotector ekstrak teh hijau?

c. Apakah dapat ditemukan komposisi optimum tween 80, span 80, dan

carbopol untuk menghasilkan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau

dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki?

2. Keaslian penelitian

Sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, penelitian tentang

optimasi komposisi tween 80 dan span 80 sebagai emulsifying agent serta

carbopol sebagai gelling agent dalam sediaan emulgel photoprotector ekstrak

teh hijau : aplikasi desain faktorial, belum pernah dilakukan.

5

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis.

Menambah

informasi

dalam

ilmu

pengetahuan,

khususnya

bidang

kefarmasian

mengenai

bentuk

sediaan

emulgel

photoprotector

yang

menggunakan bahan alam sebagai zat aktifnya.

b. Manfaat metodologis.

Menambah pengetahuan dalam bidang kefarmasian mengenai penggunaan

 

metode desain

faktorial

dalam

melakukan

optimasi

formula

emulgel

photoprotector ekstrak teh hijau.

 

c.

Manfaat praktis.

Memperoleh

formula

optimum

yang

dapat

diaplikasikan

sehingga

menghasilkan sediaan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau yang

memiliki sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Membuat sediaan emulgel photoprotector dengan bahan aktif ekstrak

teh hijau.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui apakah persamaan desain faktorial dari respon sifat fisik (daya

sebar,

viskositas)

dan

respon

stabilitas

fisik

(pergeseran

viskositas)

signifikan dalam memprediksi masing-masing respon.

6

b. Menentukan faktor dan/atau interaksi yang berpengaruh signifikan di

antara tween 80, span 80, dan carbopol pada level yang diteliti dalam

menentukan sifat fisik (daya sebar, viskositas) dan stabilitas (pergeseran

viskositas) emulgel photoprotector ekstrak teh hijau.

c. Mengetahui apakah dapat ditemukan komposisi optimum tween 80, span

80, dan carbopol untuk menghasilkan emulgel photoprotector ekstrak teh

hijau dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki.

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Teh Hijau

Teh dapat dikelompokkan dalam tiga jenis berdasarkan pengolahannya,

yaitu teh hijau (tidak difermentasi), teh oolong (semifermentasi), dan teh hitam

(fermentasi penuh) (Syah, 2006). Teh hijau berasal dari pucuk daun tanaman teh

(Camellia

sinensis

L.)

melalui

proses

pengolahan

tertentu.

Secara

umum

berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu

teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Teh hijau dibuat dengan cara pemanasan dan

penguapan untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase/fenolase sehingga

oksidase enzimatik terhadap katekin dapat dicegah (Hartoyo, 2003).

Teh

hitam

dibuat

dengan

cara

memfermentasikan

daun

teh,

yang

sebelumnya sedikit dikeringkan dengan udara hangat, dilayukan dan digiling di

bawah pengaruh panas yaitu melalui oksidase katekin dalam daun segar dengan

katalis polifenol oksidase atau yang disebut dengan fermentasi. Proses fermentasi

ini dihasilkan dalam oksidasi polifenol sederhana, yaitu katekin teh diubah

menjadi molekul yang lebih kompleks dan pekat sehingga member ciri khas teh

hitam, yaitu berwarna kuat dan tajam. Teh oolong diproses melalui pemanasan

daun dalam waktu singkat setelah penggulungan, oksidasi terhenti dalam proses

pemanasan, sehingga teh oolong disebut dengan teh semifermentasi. Karakteristik

teh oolong berada diantara teh hitam dan teh hijau (Syah, 2006).

7

8

Zat

bioaktif

dalam

teh

terutama

merupakan

polifenol

golongan

flavonoid, yaitu flavanol tipe katekin seperti epikatekin (EC), epikatekin-3-galat

(ECG), epigalokatekin (EGC), dan epigalokatekin-3-galat (EGCG); serta flavonol

seperti kuersetin. Keempat tipe katekin tersebut merupakan antioksidan utama

dalam

teh

hijau

(Svobodova,

Psotova,

and

Walterova,

2003).

Katekin

teh

memiliki sifat tidak berwarna, larut air, serta membawa sifat pahit dan sepat pada

seduhan teh. Hampir semua sifat produk teh termasuk di dalamnya rasa, warna,

dan aroma, secara langsung maupun tidak, dihubungkan dengan modifikasi pada

katekin ini (Hartoyo, 2003).

B. Photoprotector

Photoprotection adalah mekanisme perlindungan kulit dari kerusakan

yang disebabkan oleh sinar ultraviolet (UV) dan sinar tampak (visible light).

Kerusakan yang mungkin muncul adalah kulit terbakar (sunburn), photoaging,

dan karsinogenesis. Melanin merupakan pigmen yang dapat berfungsi sebagai

photoprotector alami dan diproduksi langsung oleh kulit. Melanin akan menyerap

radiasi sinar UV dan secara aman mengubah energi dari foton UV menjadi panas.

Energi dari foton UV yang tidak diubah menjadi panas akan menyebabkan

terbentuknya radikal bebas atau spesies kimia reaktif yang berbahaya (Anonim,

2011).

Selain melanin, sejumlah senyawa antioksidan alami dapat berfungsi

sebagai photoprotector. Senyawa antioksidan alami telah terbukti meningkatkan

proteksi terhadap sinar UV yang menginduksi ekspresi berlebihan dari matrix

9

metalloproteinase (MMP1). MMP1 adalah enzim utama yang terlibat dalam

kerusakan kolagen dan photoaging pada kulit yang teradiasi sinar UV (Matsui et

al., 2009).

Sebagai

senyawa

antioksidan,

pemberian

EGCG

secara

topikal

menghasilkan

pencegahan

terhadap

sinar

UVB

dalam

menginduksi

respon

inflamasi, imunosupresi dan oxidative stress. Penelitian secara in vitro dan in vivo

pada hewan dan manusia membuktikan bahwa polifenol dari teh hijau merupakan

agen photoprotective alami dan dapat digunakan sebagai agen farmakologi untuk

mencegah

sinar

UVB

dalam

menginduksi

penyakit

kulit

yang

mencakup

photoaging dan kanker kulit dengan diikuti penelitian lanjut secara klinis (Katiyar,

2003). Polifenol dari teh hijau mampu mencegah peningkatan peroksidasi lipid

yang disebabkan oleh cahaya. Pemberian EGCG secara topikal pada kulit yang

terpapar

sinar

UV

secara

signifikan mengurangi

produksi

nitric

oxide

dan

hydrogen peroxide, maupun infiltrasi leukosit yang diinduksi oleh sinar UVB.

Dengan demikian, pemberian EGCG terbukti mampu mencegah radiasi sinar

UVB dalam menginduksi pembentukan ROS (reactive oxygen species) (Nichols

and Katiyar, 2009). Meskipun memiliki nilai SPF yang tidak terlalu besar, ekstrak

teh hijau yang mengandung EGCG telah terbukti melindungi kulit terhadap sinar

UV yang menginduksi kerusakan DNA, supresi imun, dan oxidative stress

(Matsui et al., 2009).

10

C. Emulgel

Emulgel dibuat dengan mencampurkan emulsi dan gelling agent dengan

perbandingan tertentu. Bahan tambahan yang biasa digunakan dalam pembuatan

emulgel adalah gelling agent yang dapat meningkatkan viskositas, emulsifying

agent untuk menghasilkan emulsi yang stabil, humektan dan pengawet. Syarat

sediaan emulgel sama seperti syarat untuk sediaan gel, yaitu untuk penggunaan

dermatologi harus mempunyai syarat sebagai berikut; tiksotropik, mempunyai

daya sebar yang mudah melembutkan, dapat bercampur dengan beberapa zat

tambahan (Magdy, 2004).

D. Emulsifying Agent

Emulsifying agent adalah surfaktan yang mengurangi tegangan antar

muka antara minyak dan air, meminimalkan energi permukaan dari droplet yang

terbentuk (Allen,

2002). Emulsifying

agent

merupakan

suatu molekul

yang

mempunyai

rantai

hidrokarbon

nonpolar

dan

polar

pada

tiap

ujung

rantai

molekulnya. Emulsifying agent akan dapat menarik fase minyak dan fase air

sekaligus dan emulsifying agent akan menempatkan diri berada di antara kedua

fase

tersebut.

Keberadaan

emulsifying

agent

akan

menurunkan

tegangan

permukaan fase minyak dan fase air (Friberg, Quencer, and Hilton, 1996).

Emulsifying agent nonionik biasa digunakan dalam seluruh tipe produk

kosmetik dan farmasetik (Rieger, 1996). Emulsifying agent nonionik sangat

resisten terhadap elektrolit, perubahan pH dan kation polivalen (Aulton and

11

Diana, 1991). Emulsifying agent ini memiliki rentang dari komponen larut minyak

untuk menstabilkan emulsi A/M hingga material larut air yang memberikan

produk M/A. Emulsifying agent ini biasa digunakan untuk kombinasi emulsifying

agent larut air dan larut minyak untuk membentuk lapisan antarmuka yang

penting untuk

stabilitas

emulsi

yang

optimum.

Emulsifying

agent

nonionik

memiliki toksisitas dan iritasi yang rendah (Billany, 2002). Emulsifying agent

nonionik memiliki bermacam-macam nilai hydrophile-lipophile balances (HLB)

yang dapat menstabilkan emulsi M/A atau A/M. Penggunaan emulsifying agent

nonionik yang baik bila menghasilkan nilai HLB yang seimbang antara dua

emulsifying agent nonionik, dimana salah satu bersifat hidrofilik dan yang lain

bersifat

hidrofobik. Emulsifying

agent nonionik

bekerja

dengan

membentuk

lapisan antarmuka dari droplet-droplet, namun tidak memiliki muatan untuk

menstabilkan emulsi. Cara menstabilkan emulsi adalah dengan adanya gugus

polar dari emulsifying agent yang terhidrasi dan bulky, yang menyebabkan

halangan sterik antar droplet dan mencegah koalesen (Kim, 2005).

1. Tween 80

Tween 80 atau Polysorbate 80 merupakan ester oleat dari sorbitol di

mana tiap molekul anhidrida sorbitolnya berkopolimerisasi dengan 20 molekul

etilenoksida. Tween 80 berupa cairan kental berwarna kuning dan agak pahit

(Rowe, Sheskey, and Quinn, 2009).

Polysorbate

digunakan

sebagai

emulsifying

agent

pada

emulsi

topikal tipe minyak dalam air, dikombinasikan dengan emulsifier hidrofilik

pada emulsi minyak dalam air, dan untuk menaikkan kemampuan menahan air

12

pada

salep,

dengan

konsentrasi

1-15%

sebagai

solubilizer.

Tween

80

digunakan secara luas pada kosmetik sebagai emulsifying agent (Smolinske,

1992). Tween 80 larut dalam air dan etanol (95%), namun tidak larut dalam

mineral oil dan vegetable oil. Aktivitas antimikroba dari pengawet golongan

paraben dapat mengurangi jumlah polysorbate (Rowe et al., 2009).

dapat mengurangi jumlah polysorbate (Rowe et al ., 2009). Gambar 1. Struktur Tween 80 (Anonim, 2010a)

Gambar 1. Struktur Tween 80 (Anonim, 2010a)

2. Span 80

Span 80 mempunyai nama lain sorbitan monooleat. Pemeriannya

berupa warna kuning gading, cairan seperti minyak kental, bau khas tajam,

terasa lunak. Kelarutannya tidak larut tetapi terdispersi dalam air, bercampur

dengan alkohol, tidak larut dalam propilen glikol, larut dalam hampir semua

minyak mineral dan nabati, sedikit larut dalam eter. Berat jenis pada 20 o C

adalah 1 gram. Nilai HLB 4,3. Viskositas pada 25 o C adalah 1000 cps

(Smolinske, 1992). Span 80 dapat dimasukkan dalam basis tipe parafin untuk

membentuk basis tipe anhidrat yang mampu menyerap sejumlah besar air

(Anonim, 1988).

Ester

sorbitan

secara

luas

digunakan

dalam

kosmetik,

produk

makanan, dan formulasi sebagai surfaktan nonionik lipofilik. Ester sorbitan

secara umum dalam formulasi berfungsi sebagai emulsifying agent

dalam

pembuatan

krim,

emulsi,

dan

salep

untuk

penggunaan

topikal.

Ketika

13

digunakan sebagai emulsifying agent tunggal, ester sorbitan menghasilkan

emulsi air dalam minyak yang stabil dan mikroemulsi, namun ester sorbitan

lebih sering digunakan dalam kombinasi bersama bermacam-macam proporsi

polysorbate untuk menghasilkan emulsi atau krim, baik tipe M/A atau A/M

(Rowe et al., 2009).

atau krim, baik tipe M/A atau A/M (Rowe et al ., 2009). Gambar 2. Struktur Span

Gambar 2. Struktur Span 80 (Anonim, 2010b)

3. Hidrophile-Lipophile Balances (HLB)

Nilai HLB merupakan keseimbangan antara sifat lipofil dan hidrofil

dari suatu surfaktan. Nilai HLB biasa digunakan untuk surfaktan nonionik

(Rieger, 1996), dimana rentang nilai antara 0-20 (Florence and Atwood,

2006). Semakin lipofil suatu surfaktan, semakin rendah nilai HLB (Voigt,

1994).

Tabel I. Klasifikasi Emulsifying Agent Berdasarkan Nilai HLB

HLB

Pengunaan

Dispersibilitas di air

1-3

Antifoaming agent

Tidak

3-6

W/O emulsifying agent

Jelek

7-9

Wetting agent

Seperti susu yang bersifat tidak stabil

8-16

O/W emulsifying agent

Dispersi seperti susu bersifat stabil

13-15

Detergents

Dispersi transluent

15-18

Solubilizing agent

Larutan jernih

(Kim, 2005)

14

E. Gelling Agent

Gel merupakan suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu

dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul

organik yang besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1999). Gel pada umumnya

memiliki sifat rheologi pseudoplastik (Nairn, 1997).

Gelling agent yang digunakan dalam bidang farmasi dan kosmetik harus

inert, aman, dan non reaktif terhadap komponen formulasi lainnya. Gelling agent

yang digunakan dalam formulasi cair harus dapat memberikan atau menyediakan

bentuk martiks selama penyimpanan sediaan, dan matriks tersebut harus dapat

pecah dengan mudah ketika diberikan shear forces pada saat penggojogan atau

ketika diaplikasikan secara topikal (Zatz and Kushla, 1996).

Carbopol merupakan polimer sintesis dari kelompok acrylic polymers

yang membentuk rantai silang dengan polyalkenyl eter (Zatz and Kushla, 1996).

Carbopol

dapat

menstabilkan

emulsi

dengan

mengentalkan

fase

kontinyu

sehingga mengurangi creaming dan coalescence atau dengan berfungsi sebagai

emulsifier pada konsentrasi kurang dari 1% (Zatz and Kushla, 1996). Carbopol

sensitif terhadap garam sehingga emulsi polimer yang terbentuk akan pecah ketika

diaplikasikan pada kulit dan memberikan lapisan minyak pada permukaan kulit.

Lapisan minyak ini tidak akan diemulsikan kembali ketika bersentuhan dengan air

sehingga akan melekat pada kulit (Zatz and Kushla, 1996).

Pada kondisi asam, sebagian gugus karboksil pada rantai polimer akan

membentuk gulungan. Penambahan basa akan memutuskan gugus karboksil dan

15

akan

meningkatkan

muatan

negatif

sehingga

timbul

gaya

tolak-menolak

elektrostatis

yang

akan

membuatnya

menjadi

gel

yang

rigid

(kaku)

dan

mengembang. Penambahan basa yang berlebihan membuat gel menjadi encer

karena kation-kation melindungi gugus-gugus karboksil dan juga mengurangi

gaya tolak-menolak elektrostatis. Jika ditambahkan amina yang berlebih pada

sistem dispersi carbopol, konsistensinya tidak berkurang, kemungkinan karena

efek sterik mencegah pelindung karboksil yang diserang (Barry, 1983).

mencegah pelindung karboksil yang diserang (Barry, 1983). Gambar 3. Struktur Carbopol (Rowe et al ., 2009)

Gambar 3. Struktur Carbopol (Rowe et al., 2009)

F. Analisis Ukuran Droplet

Mikromeritik adalah ilmu dan teknologi tentang partikel kecil, salah

satunya adalah droplet. Dalam bidang kefarmasian terdapat beberapa informasi

yang perlu diperoleh dari droplet, yaitu bentuk dan luas permukaan droplet serta

ukuran

droplet

dan

distribusi

ukuran

droplet.

Data

tentang

ukuran

droplet

diperoleh dalam diameter doplet dan distribusi diameter droplet, sedangkan

bentuk droplet memberi gambaran tentang luas permukaan spesifik droplet dan

teksturnya (Martin, Swarbrick, and Cammarata, 1993).

16

Metode

mikroskopik

merupakan

metode

sederhana

yang

hanya

menggunakan satu alat yaitu mikroskop yang bukan merupakan alat yang rumit

dan memerlukan penanganan khusus. Kerugian dari metode mikroskopik adalah

bahwa garis tengah yang diperoleh hanya dua dimensi dari droplet tersebut, yaitu

diameter. Selain itu jumlah droplet yang harus dihitung sekitar 300-500 droplet

agar mendapatkan suatu perkiraan yang baik dari distribusi, sehingga metode ini

membutuhkan waktu dan ketelitian (Martin et al.,1993).

Distribusi ukuran droplet dilihat dengan cara memplotkan jumlah droplet

yang terletak dalam suatu kisaran ukuran tertentu terhadap kisaran ukuran atau

ukuran droplet rata-rata, maka akan diperoleh kurva distribusi frekuensi. Plot

distribusi

frekuensi

yang didapat

tidak selalu

normal.

Hal

ini memberikan

gambaran yang jelas bahwa garis tengah rata-rata tidak dapat dicapai. Hal ini

perlu diperhatikan karena mungkin saja terdapat dua sampel yang garis tengah

atau diameter rata-ratanya sama tetapi distribusi berbeda. Dari kurva distribusi

frekuensi dapat juga terlihat ukuran partikel berapa yang sering muncul atau

terjadi pada sampel, disebut sebagai modus (Martin et al., 1993). Penelitian

parameter ukuran droplet dengan hanya melihat modus kurang sensitif dalam

menilai karakter droplet emulsi. Salah satu parameter ukuran droplet yang lebih

representatif dalam menilai karakter droplet adalah percentile 90. Percentile 90

merupakan suatu parameter nilai yang menunjukkan sejumlah 90% dari populasi

droplet

yang

diamati

mempunyai

(Setyaningsih, 2009).

ukuran

kurang

dari

nilai

yang

tertera

17

G. Desain Faktorial

Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik

untuk memberikan model hubungan antara variabel-respon dengan satu atau lebih

variabel bebas. Model yang diperoleh dari analisa tersebut berupa persamaan

matematika (Bolton, 1997). Desain faktorial merupakan desain yang digunakan

untuk mengevaluasi efek dari faktor yang dipelajari secara simultan dan efek yang

relatif penting dapat

dinilai

(Armstrong and James 1996). Desain faktorial

digunakan dalam penelitian dimana efek dari faktor atau kondisi yang berbeda

dalam penelitian ingin diketahui (Bolton, 1997).

Desain faktorial mengandung beberapa pengertian, yaitu faktor, level,

efek, respon. Faktor merupakan setiap besaran yang mempengaruhi respon (Voigt,

1994). Level merupakan nilai atau tetapan untuk faktor. Efek adalah perubahan

respon yang disebabkan variasi tingkat dari faktor. Efek faktor atau interaksi

merupakan rata-rata respon pada level tinggi dikurangi rata-rata respon pada level

rendah. Respon merupakan sifat atau hasil percobaan yang diamati. Respon yang

diamati harus dikuantitatifkan (Bolton, 1997).

Jumlah

percobaan

dalam

desain

faktorial

adalah

2 n ,

di

mana

2

menunjukkan level dan n menunjukkan jumlah faktor. Langkah untuk percobaan

faktorial terdiri dari kombinasi semua level dari faktor. Pada desain faktorial dua

level dan tiga faktor diperlukan delapan formulasi (2 n =8, dengan 2 menunjukkan

level dan n menunjukkan jumlah faktor). Rancangan penelitian desain faktorial

dengan tiga faktor dan dua level ditunjukkan pada Tabel II berikut:

18

Tabel II. Rancangan Percobaan Desain Faktorial Tiga Faktor dan Dua Level

Eksperimen

Faktor

 

Interaksi

 

B

A C

AB

AC

BC

ABC

(1)

-

- -

+ +

 

+

-

a

-

+ -

- -

 

+

+

b

+

- -

 

- +

-

+

ab

+

+ -

+ -

 

-

-

c

-

- +

+ -

 

-

+

ac

-

+ +

 

- +

-

-

bc

+

- +

- -

 

+

-

abc

+

+ +

+ +

 

+

+

Keterangan :

- = level rendah

+ = level tinggi

Rumusan yang berlaku :

Y = B 0 + B 1 (X 1 ) + B 2 (X 2 ) + B 3 (X 3 ) +

+

+

B 123 X 1 X 2 X 3

(1)

+

B 12 X 1 X 2 +

B 13 X 1 X 3 + B 23 X 2 X 3

Dengan :

Y

= respon hasil atau sifat yang diamati

(X 1 )(X 2 )(X 3 ) = level pada faktor A, faktor B, dan faktor C

B

0 , B 1, B 2, B 3

= koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

Dari rumus (1) dan data yang diperoleh dapat dibuat contour plot suatu

respon tertentu yang sangat berguna dalam memilih komposisi campuran yang

optimum. Besarnya efek dapat dicari dengan menghitung selisih antara rata-rata

respon pada level tinggi dan rata-rata respon pada level rendah (Bolton, 1997).

19

H. Landasan Teori

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah radikal bebas

yang masuk dalam tubuh adalah dengan menggunakan sediaan atau produk yang

mengandung antioksidan. Sejumlah penelitian secara farmakologis menyebutkan

bahwa ekstrak teh hijau memiliki pengaruh antioksidan yang kuat. Beberapa

penelitian menyebutkan bahwa keempat komponen polifenol teh: epigalokatekin

galat, epikatekin galat, epigalokatekin, dan epikatekin merupakan antioksidan

penting yang terdapat dalam teh hijau. Dengan kandungan antioksidan itu, teh

hijau berpotensi sebagai photoprotector untuk mencegah radikal bebas pada kulit

yang disebabkan oleh paparan sinar UV.

Bentuk sediaan emulgel memiliki kelebihan tersendiri dilihat dari sisi gel

maupun emulsi. Gel mempunyai kelebihan berupa kandungan air yang cukup

tinggi

sehingga

memberikan

kelembaban

yang

bersifat

mendinginkan

dan

memberikan rasa nyaman pada kulit dan emulsi mempunyai kelebihan berupa

kemampuan penetrasi yang tinggi pada kulit. Sistem emulsi dalam emulgel ini

menggunakan komposisi emulsifying agent Tween 80 - Span 80. Emulsifying

agent

akan

menurunkan

tegangan

antar

muka

minyak

dan

air

sehingga

memberikan sistem emulsi yang memenuhi kriteria. Tween 80 dan Span 80 dapat

membentuk

stable

interfacial

complex

condensed

film.

Lapisan

ini

bersifat

fleksibel, viscous, koheren, dan tidak mudah pecah selama molekul–molekulnya

tertata dengan efisien satu dengan yang lainnya. Carbopol sebagai gelling agent

dalam emulgel akan membentuk jaringan struktural yang merupakan faktor yang

20

penting

dalam

sediaan

tersebut.

memperkuat

jaringan

struktural

Penambahan

jumlah

gelling

agent

akan

emulgel

sehingga

menyebabkan

kenaikan

viskositas

emulgel.

Komposisi

emulsifying

agent

dan

gelling

agent

akan

menentukan sifat fisik dan stabilitas dari emulgel.

Metode desain faktorial dapat digunakan untuk mendapatkan persamaan

desain faktorial dan mengetahui apakah persamaan tersebut signifikan dalam

memprediksi respon sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel. Dengan metode ini

efek tiap-tiap faktor maupun interaksi ketiganya dapat teridentifikasi dan dapat

diketahui faktor dan/atau interaksi mana yang signifikan mempengaruhi respon

sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel. Selain itu dengan desain faktorial juga dapat

diketahui area komposisi optimum terbatas pada level faktor yang diteliti untuk

menghasilkan respon sifat fisik dan stabilitas fisik yang dikehendaki berdasarkan

contour plot dari masing-masing respon sifat fisik dan stabilitas fisik.

I.

Hipotesis

Persamaan desain faktorial dari respon sifat fisik (daya sebar, viskositas) dan

respon stabilitas fisik (pergeseran viskositas) signifikan dalam memprediksi

masing-masing respon.

Terdapat faktor dan/atau interaksi yang berpengaruh signifikan antara tween

80, span 80, dan carbopol dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas fisik

emulgel.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian

ini

bersifat

eksperimental

menggunakan

desain

faktorial

dengan tiga faktor dua level untuk melihat signifikansi model persamaan dalam

memprediksi respon sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel serta untuk mengetahui

faktor dan interaksi yang signifikan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas

fisik emulgel.

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel penelitian

a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah komposisi emulsifiying agent

Tween 80 dan Span 80, serta komposisi gelling agent Carbopol® Ultrez

3% b/v yang dibedakan dalam dua level, yakni level rendah dan level

tinggi. Level rendah komposisi Span 80 adalah 1,875 gram dan level tinggi

adalah 3,75 gram, sedangkan level rendah komposisi Tween 80 adalah

3,75 gram dan level tinggi adalah 5,625 gram. Sementara itu level rendah

komposisi Carbopol® Ultrez 3% b/v adalah 115 gram dan level tinggi

adalah 145 gram.

b. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah sifat fisik emulgel meliputi

viskositas, daya sebar, dan stabilitas fisik emulgel meliputi pergeseran

viskositas dari emulgel.

21

22

c. Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah waktu yang

dibutuhkan

selama

proses

pencampuran

yakni

15

menit

untuk

pencampuran emulsi dan 20 menit untuk pencampuran emulgel, suhu pada

saat proses pencampuran yakni 70 o C, kecepatan mixer yang digunakan

pada saat proses pencampuran yakni 300 rpm untuk pencampuran emulsi

dan 400 rpm untuk pencampuran emulgel, dan lama penyimpanan emulgel

yakni satu bulan.

d. Variabel pengacau tidak terkendali dalam penelitian ini adalah suhu,

cahaya, dan kelembaban lingkungan.

2. Definisi operasional

a. Emulgel adalah sediaan yang dibuat dengan mencampurkan emulsi tipe

minyak dalam air dan gelling agent sebagai pembentuk gel dengan

konsentrasi tertentu.

b. Emulsifying agent merupakan suatu senyawa yang dapat menurunkan

tegangan permukaan yang berada di antara dua cairan yang tidak saling

campur sehingga salah satu cairan dapat terdispersi di dalam cairan yang

lainnya. Pada penelitian ini digunakan Span 80 dan Tween 80.

c. Gelling agent adalah bahan pembentuk gel yang akan membentuk matriks

tiga

dimensi.

Pada penelitian ini digunakan

Carbopol®

Ultrez

yang

didispersikan dalam aquadest dengan konsentrasi 3% b/v.

23

d. Faktor adalah besaran yang mempengaruhi respon, dalam penelitian ini

yaitu emulsifying agent (Span 80 dan Tween 80) dan gelling agent

(Carbopol).

e. Level adalah tingkatan jumlah atau besarnya faktor, dalam penelitian ini

terdapat dua level, yaitu level rendah dan level tinggi. Level rendah

komposisi Span 80 adalah 1,875 gram dan level tinggi adalah 3,75 gram,

sedangkan level rendah komposisi Tween 80 adalah 3,75 gram dan level

tinggi adalah 5,625 gram. Sementara itu level rendah komposisi Carbopol

adalah 115 gram dan level tinggi adalah 145 gram.

f. Respon adalah hasil percobaan yang akan diamati perubahannya secara

kuantitatif. Pada penelitian ini respon yang diamati adalah respon sifat

fisik, meliputi daya sebar dan viskositas emulgel, serta respon stabilitas

fisik, yakni pergeseran viskositas emulgel.

g. Efek adalah perubahan respon yang disebabkan variasi level dan faktor.

h. Daya sebar adalah kemampuan emulgel untuk menyebar, diukur dengan

kondisi percobaan massa krim 1 gram, massa beban 125 gram selama satu

menit.

i. adalah

Viskositas

tahanan

emulgel

untuk

mengalir,

diukur

dengan

Viscotester Rion™ seri VT-04.

j. Pergeseran viskositas adalah selisih viskositas emulgel setelah disimpan

selama satu bulan (η2) pada suhu kamar dengan viskositas emulgel 48 jam

setelah

pembuatan

yang

telah

dirata-rata

(η1),

dibandingkan

dengan

24

viskositas emulgel 48 jam setelah pembuatan yang telah dirata-rata (η1).

Pergeseran viskositas dihitung menurut rumus:

Pergeseran viskositas =

viskositas dihitung menurut rumus: Pergeseran viskositas = k. Ukuran droplet adalah nilai percentile 90 dari diameter

k. Ukuran droplet adalah nilai percentile 90 dari diameter droplet-droplet

fase minyak emulgel pada tiap formula yang diamati dengan mikroskop.

l. Pergeseran

ukuran

droplet

adalah

perubahan

atau

perbedaan

ukuran

droplet pada pengamatan emulgel 48 jam setelah pembuatan dengan

penyimpanan

satu

bulan

secara

statistik

berdasarkan

normalitas

data

percentile 90 pada masing-masing formula.

m. Desain faktorial adalah metode optimasi untuk mengetahui efek yang

dominan dalam menentukan sifat fisik emulgel.

n. Contour plot adalah profil respon daya sebar, viskositas, dan pergeseran

viskositas emulgel.

o. Komposisi optimum adalah komposisi emulsifying agent dan gelling agent

yang menghasilkan emulgel dengan daya sebar berada pada range 3 cm –

5 cm, viskositas 190 dPa.s – 250 dPa.s, dan pergeseran viskositas ≤ 10 %.

25

C. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak kering teh

hijau (Camellia sinensis L.) (PhytoLab), Carbopol (Ultrez), TEA (Bratachem),

propilen glikol (Bratachem), Tween 80 (Bratachem), Span 80 (Bratachem),

parafin cair (Bratachem), metil paraben (Bratachem), propil paraben (Bratachem),

aquadest.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: gelas ukur (Iwaki

TE-32 Pirex® Japan), bekker glass (Iwaki TE-32 Pirex® Japan), cawan porselen,

mangkok stainless steel, mixer (Modifikasi USD), timbangan analitik (Mettler

Toledo GB 3002), pipet tetes, penangas air, stopwatch, mikroskop (Olympus

CH2-Japan) dan kamera moticam 1000 pixel 1,3M, alat uji daya sebar (modifikasi

USD), Viscotester seri VT 04 (Rion™-Japan), dan software Design Expert

7.0.0™.

D. Tata Cara Penelitian

1. Formula emulgel photoprotector ekstrak teh hijau

berikut :

Formula

chlorphenesin emulgel menurut

Formula (%b/b) :

Chlorphenesin

0,5

HPMC

2,5

Magdy (2004) sebagai

26

Tween 20

0,6

Span 20

0,9

Propylene glycol

5

Etanol

2,5

Methyl paraben

0,03

Propyl paraben

0,01

Purified water to

100

Dilakukan modifikasi dengan mengganti zat aktif dan beberapa

eksipiennya. Formula hasil modifikasi (untuk 500 gram) adalah sebagai

berikut:

Tabel III. Formula Emulgel Photoprotector Hasil Modifikasi

Bahan

 

Jumlah (g)

 

F1

Fa

Fb

Fab

Fc

Fac

Fbc

Fabc

Parafin cair

25

25

25

25

25

25

25

25

Tween 80

3,75

5,625

3,75

5,625

3,75

5,625

3,75

5,625

Span 80

1,875

1,875

3, 75

3, 75

1,875

1,875

3, 75

3, 75

Carbopol 3% b/v

115

115

115

115

145

145

145

145

TEA

2, 85

2, 85

2, 85

2, 85

2, 85

2, 85

2, 85

2, 85

Ekstrak teh hijau

0,031

0,031

0,031

0,031

0,031

0,031

0,031

0,031

Propylene glycol

50

50

50

50

50

50

50

50

Metyl paraben

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

Propyl paraben

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

0,75

Aqudest ad

500

500

500

500

500

500

500

500

Menurut Saito et al. (2007) nilai IC 50 untuk senyawa EGCG yang

terkandung di dalam ekstrak teh hijau hasil uji DPPH adalah 4,19 µg/mL dan

pelarut yang digunakan dalam uji DPPH tersebut adalah metanol (berat jenis =

0.7918 g/mL). Berdasarkan Certificate of Analysis ekstrak teh hijau yang

digunakan dalam penelitian ini memiliki kandungan EGCG sebesar 8,40%

b/b. Dari hasil perhitungan konversi berdasarkan nilai IC 50 untuk senyawa

27

EGCG dan jumlah EGCG yang terkandung di dalam ekstrak teh hijau tersebut

didapatkan dosis ektrak teh hijau yang digunakan sebagai antioksidan, yakni

0,031 gram.

2. Pembuatan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau

Faktor yang akan diteliti adalah komposisi Carbopol 3% b/v, Tween

80, dan Span 80. Level tinggi dan level rendah dalam percobaan ini adalah

sebagai berikut:

Tabel IV. Penentuan Level Tinggi dan Level Rendah Faktor Komposisi Emulsifying Agent dan Gelling Agent

Faktor

Carbopol 3% (g)

Tween 80 (g)

Span 80 (g)

Level rendah

115

3,75

1,875

Level tinggi

145

5,625

3, 75

a. Pembuatan emulsi .

Fase minyak dibuat dengan mencampur parafin cair dengan Span 80 pada

suhu 70 o C, diaduk sampai homogen. Fase air dibuat dengan mencampur

Tween 80 dan sebagian aqudest pada suhu 70 o C, diaduk sampai homogen.

Fase

minyak

ditambahkan

ke

fase

air,

kemudian

ditambahkan

sisa

aquadest sambil diaduk menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm

selama 15 menit.

b. Pembuatan emulgel .

Carbopol yang telah didispersikan di dalam aquadest sehari sebelumnya

dengan konsentrasi 3% b/v ditambahkan TEA sedikit demi sedikit hingga

gel mengental sambil diaduk menggunakan mixer dengan kecepatan 400

rpm hingga homogen dan pH dicek hingga mencapai pH 6-8. Emulsi

28

dicampurkan dengan gel tersebut sampai terbentuk emulgel, kemudian

ditambahkan ekstrak teh hijau yang telah dilarutkan dalam aquadest, metil

paraben dan propil paraben yang telah dilarutkan dalam propilen glikol.

Dihomogenkan

menggunakan

mikser

dengan

sebesar 400 rpm dengan waktu 20 menit.

3. Evaluasi sediaan emulgel

kecepatan

pengadukan

a. Penentuan tipe emulsi dengan metode pewarnaan.

Sejumlah emulgel dioleskan pada gelas objek dan ditambahkan satu tetes

methylene blue. Selanjutnya dilakukan pengamatan secara mikroskopik

untuk menentukan apakah emulsi dari sediaan emulgel tersebut bertipe

M/A atau A/M.

b. Pengujian daya sebar .

Uji daya sebar dilakukan 48 jam setelah pembuatan dengan cara emulgel

ditimbang seberat satu gram dan diletakkan ditengah kaca bulat berskala.

Di atas emulgel diletakkan kaca bulat lain dan pemberat dengan berat total

125 gram, didiamkan selama satu menit, dicatat diameter penyebarannya

(Garg, Aggrawal, Garg, and Singla, 2002).

c. Pemeriksaan viskositas .

Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscotester Rion seri VT 04

dengan

cara

emulgel

dimasukkan

dalam

wadah

dan

dipasang

pada

portable viscotester. Viskositas emulgel diketahui dengan mengamati

gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan dua kali, yaitu

29

setelah 48 jam emulgel selesai dibuat dan setelah penyimpanan selama

satu bulan (Instruction Manual Viscotester VT-03E/VT-04).

d. Uji mikromeritik .

Sejumlah emulgel dioleskan pada gelas objek kemudian letakkan pada

mikroskop. Amati ukuran droplet yang terdispersi pada emulgel. Gunakan

perbesaran lemah untuk menentukan objek yang akan diamati kemudian

ganti dengan perbesaran kuat. Sebelum dilakukan pengukuran, terlebih

dahulu mengkalibrasi lensa mikroskop. Catat diameter terjauh dari tiap

droplet sejumlah 500 droplet (Martin et al., 1993).

E. Analisis Hasil

Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji

Anova. Uji ini digunakan untuk mengetahui signifikansi dari setiap faktor dan

interaksinya dalam mempengaruhi respon. Berdasarkan analisis statistik ini, maka

dapat

ditentukan

ada

tidaknya

pengaruh

signifikan

dari

setiap

faktor

dan

interaksinya terhadap respon. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai p-value.

Hipotesis alternatif (H 1 ) menyatakan bahwa komposisi Tween 80, Span

80, Carbopol, atau interaksinya berpengaruh signifikan dalam menentukan sifat

fisik dan stabilitas fisik emulgel photoprotector, sedangkan H 0 merupakan negasi

dari H 1 yang menyatakan bahwa komposisi tween 80, span 80, carbopol, atau

interaksinya tidak berpengaruh signifikan dalam menentukan sifat fisik dan

stabilitas fisik emulgel photoprotector. H 1 diterima dan H 0 ditolak bila p-value

30

lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa faktor berpengaruh signifikan terhadap

respon. Taraf kepercayaan yang digunakan untuk uji statistik adalah 95% (Bolton,

1997; Muth, 1999).

Optimasi dalam penelitian ini dilakukan dengan metode desain faktorial.

Metode tersebut digunakan untuk menghasilkan persamaan desain faktorial untuk

masing-masing respon sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel. Masing-masing

persamaan desain faktorial tesebut dianalisis signifikansinya dengan uji Anova

untuk mengetahui apakah persamaan tersebut dapat digunakan untuk memprediksi

sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel. Berdasarkan pertimbangan signifikansi

pengaruh dari masing-masing faktor terhadap respon sifat fisik dan stabilitas fisik

yang diamati, dilakukan prediksi hasil respon menggunakan software Design

Expert 7.0.0™ untuk memperoleh komposisi optimum tween 80, Span 80, dan

carbopol.

Nilai

ukuran

droplet

percentile

90

didapat

dari

analisis

frekuensi

deskriptif dengan menggunakan program SPSS 13.0®. Pergeseran ukuran droplet

dianalisis secara statistik dengan mempertimbangkan normalitas data percentile

90. Jika data percentile 90 dari masing-masing formula terdistribusi normal, maka

digunakan uji T sampel berpasangan untuk menganalisis pergeseran ukuran

droplet, namun apabila data tersebut tidak terdistribusi normal maka untuk

mengetahui ada tidaknya pergeseran ukuran droplet setelah penyimpanan selama

satu bulan digunakan uji Wilcoxon.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Penetapan Dosis Ekstrak Teh Hijau sebagai Photoprotector

Dosis

ekstrak

teh

hijau

yang

digunakan

sebagai

photoprotector

ditentukan berdasarkan kandungan EGCG (Epigallocatechin-3-gallate) dari ekstrak

teh hijau tersebut. Konstituen dengan aktivitas kemopreventif paling tinggi dalam

teh hijau yang bertanggung jawab pada efek farmakologi dan biokimia adalah

EGCG. Pemberian EGCG secara topikal menghasilkan pencegahan terhadap sinar

UVB dalam menginduksi respon inflamasi, imunosupresi dan oxidative stress

(Katiyar, 2003).

Berdasarkan Certificate of Analysis ekstrak teh hijau yang digunakan

dalam penelitian ini memiliki kandungan EGCG sebesar 8,40% b/b. Menurut

Saito et al. (2007) nilai IC 50 untuk senyawa EGCG yang terkandung di dalam

ekstrak teh hijau hasil uji DPPH adalah 4,19 µg/mL dan pelarut yang digunakan

dalam uji DPPH tersebut adalah metanol (berat jenis = 0,7918 g/mL). Untuk

mengetahui jumlah ekstrak kering teh hijau sebagai photoprotector yang dapat

digunakan

untuk

formula

emulgel

maka

dilakukan

perhitungan

konversi

berdasarkan nilai IC 50 untuk senyawa EGCG dan jumlah EGCG yang terkandung

di dalam ekstrak teh hijau tersebut. Dari hasil perhitungan konversi tersebut

didapatkan dosis ekstrak teh hijau yang digunakan sebagai photoprotector, yakni

0,031 gram.

31

32

B. Formulasi Emulgel Photoprotector Ekstrak Teh Hijau

Pembuatan emulgel photoprotector

ini diawali dengan pendispersian

carbopol di dalam aquadest dengan konsentrasi 3% b/v. Pada penelitian ini

Carbopol

didispersikan

selama

24

jam

untuk

memaksimalkan

hidrasi

dan

mencapai viskositas serta kejernihan yang maksimum.

Sementara itu untuk pembuatan emulsi diawali dengan membuat fase air

dan fase minyak. Fase air dibuat dengan mencampurkan aquadest dan Tween 80

pada suhu 70 o C hingga homogen. Sementara itu fase minyak dibuat dengan

mencampurkan parafin cair dan Span 80 pada suhu 70 o C hingga homogen. Parafin

cair dalam sediaan ini berfungsi sebagai emolien. Tween 80 dan Span 80

merupakan emulsifying agent nonionik yang akan membuat fase minyak dan fase

air dapat saling campur sehingga dapat membentuk sistem emulsi. Emulsi dibuat

dengan menambahkan fase minyak ke dalam fase air pada suhu 70 o C sambil

dilakukan pengadukan menggunakan mikser dengan kecepatan 300 rpm hingga

terbentuk emulsi yang homogen. Pemanasan pada tahap ini bertujuan untuk

memudahkan pencampuran dan mendukung terjadinya proses emulsifikasi.

Ketika fase minyak ditambahkan ke dalam fase air, tween 80 dan span

80 akan membentuk lapisan monomolekuler pada lapisan batas antarmuka droplet

parafin cair dengan air. Bagian hidrofobik dari tween 80 dan span 80, yakni rantai

hidrokarbon akan mengarah ke dalam droplet parafin cair, sementara itu rantai

polioksietilen dari tween 80 dan cincin span 80 yang merupakan bagian hidrofilik

akan mengarah ke medium dispers, yaitu air. Di dalam droplet parafin cair akan

terjadi interaksi van der waals antara rantai hidrokarbon dari tween 80 dan rantai

33

hidrokarbon dari span 80, di mana rantai hidrokarbon tween 80 berada di antara

rantai span 80. Sementara itu pada medium dispers akan terjadi ikatan hidrogen

antara

bagian

hidrofilik

dari

tween

80

dan

span

80

dengan

air.

Rantai

polioksietilen

dari

tween

80

dan

cincin

span

80

akan

menjadikan

kedua

emulsifying agent ini sebagai halangan sterik bagi droplet-droplet parafin cair

sehingga kemungkinan untuk bergabungnya droplet-droplet parafin cair dapat

diminimalkan (Kim, 2005).

TEA ditambahkan ke dalam carbopol yang telah didispersikan di dalam

air dengan tujuan untuk menetralisasi pH carbopol. Sebelum ditambahkan TEA,

carbopol yang telah didispersikan di dalam air berada dalam

bentuk tidak

terionkan dengan pH 3. Ketika dinetralisasi, pH carbopol mengalami peningkatan

menjadi pH 6, dan pada kondisi tersebut carbopol menjadi lebih kental. Hal ini

disebabkan pada saat penambahan TEA, gugus karboksil dari carbopol akan

berubah menjadi COO - . Adanya gaya tolak menolak elektrostatis antara gugus

karboksil

yang

telah

berubah

menjadi

COO -

mengakibatkan

carbopol

mengembang dan menjadi lebih rigid (Barry, 1983).

Emulgel terbentuk dengan dicampurnya emulsi dan gel pada kecepatan

putar mikser 400 rpm. Pada emulgel tersebut ditambahkan ekstrak teh hijau yang

telah dilarutkan dalam aquadest. Metil paraben dan propil paraben yang dilarutkan

di dalam propilen glikol juga ditambahkan ke dalam emulgel tersebut. Metil

paraben dan propil paraben berfungsi sebagai pengawet, sedangkan propilen

glikol selain sebagai pelarut metil paraben dan propil paraben juga berfungsi

sebagai humektan (Rowe et al., 2009).

34

C. Penentuan Tipe Emulsi dari Sediaan Emulgel

Penentuan

tipe

emulsi

dilakukan

dengan

metode

pewarnaan

menggunakan methylene blue.

Dari hasil pengamatan secara mikroskopis, dapat

disimpulkan bahwa tipe emulsi dari sediaan emulgel photoprotector adalah M/A

(minyak dalam air). Hal ini dibuktikan dengan medium dispers yang berwarna

biru, sedangkan fase dispers yang berupa droplet parafin cair tidak berwarna biru.

Methylene blue merupakan pewarna yang larut air, hal inilah yang menyebabkan

medium dispers dari sistem emulsi dan gel yang mengandung air akhirnya

berwarna biru, sedangkan droplet fase dispers tidak. Hasil penentuan tipe emulsi

dari sediaan emulgel photoprotector adalah sebagai berikut:

F1
F1
Fb
Fb
Fc
Fc
Fbc
Fbc
Fa
Fa
Fab
Fab
Fac
Fac
Fabc
Fabc

35

Penentuan tipe emulsi dari masing-masing formula diperkuat dengan

adanya perhitungan nilai HLB. Dengan dasar perhitungan nilai HLB ini, dapat

diprediksi tipe emulsi yang terbentuk dalam sediaan emulgel photoprotector.

Berikut adalah nilai HLB dari masing-masing formula.

Tabel V. Nilai HLB dari Tiap Formula Emulgel

Formula

Nilai HLB

F1

11,43

Fa

12,33

Fb

9,65

Fab

10,72

Fc

11,43

Fac

12,33

Fbc

9,65

Fabc

10,72

Berdasarkan tabel V, maka nilai HLB pada seluruh formula berada pada

rentang 8-13. Menurut Kim (2005) pada nilai HLB 8-18 akan terbentuk emulsi

tipe M/A, dan pada nilai HLB 13-18 terjadi efek deterjensi dan solubilisasi.

Dengan demikian, pada rentang nilai HLB 8-13 akan membentuk emulsi M/A

tanpa efek deterjensi dan solubilisasi. Jadi berdasarkan nilai HLB maka tipe

emulsi yang terbentuk pada sediaan emulgel photoprotector adalah M/A.

D. Pengaruh Tween 80, Span 80, dan Carbopol terhadap Respon Sifat Fisik

dan Stabilitas Fisik Emulgel

Tween 80 dan span 80 merupakan emulsifying agent yang berperan

dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas fisik suatu emulsi. Sementara itu

carbopol adalah gelling agent yang berperan dalam menentukan sifat fisik dan

36

stabilitas

fisik

gel.

Pertimbangan

tersebut

digunakan

dalam

memilih ketiga

eksipien ini untuk menjadi faktor yang diamati pengaruhnya terhadap respon sifat

fisik dan stabilitas fisik dari sediaan emulgel photoprotector ini. Respon sifat fisik

yang diamati

adalah

daya

sebar

dan viskositas

emulgel,

sedangkan

respon

stabilitas fisik yang diamati adalah pergeseran viskositas emulgel.

Tabel VI. Level Tinggi dan Level Rendah Faktor Tween 80, Span 80, dan Carbopol

Faktor

Tween 80 (g)

Span 80 (g)

Carbopol (g)

Level rendah

3,75

1,875

115

Level tinggi

5,625

3, 75

145

1. Respon viskositas

Viskositas adalah suatu tahanan untuk mengalir (Martin et al., 1993).

Viskositas yang tinggi akan memberikan stabilitas sistem emulsi di dalam

sediaan emulgel karena akan meminimalkan pergerakan droplet fase dispers

sehingga perubahan ukuran droplet ke ukuran yang lebih besar dapat dihindari

dan kemungkinan terjadinya koalesens dapat dicegah. Pengukuran viskositas

dilakukan pada hari kedua setelah pembuatan emulgel. Hasil uji respon

viskositas ditunjukkan pada tabel VII berikut:

Tabel VII. Hasil Uji Respon Viskositas

Formula

Rata-rata respon viskositas (d.Pa.s)

1