Anda di halaman 1dari 3

Perjuangan pendirian Organisasi Mahasiswa Kedokteran Gigi di Universitas Sriwijaya

PSKG Unsri, berdiri pada tahun 2004 dengan jumlah mahasiswa angkatan pertamanya
sebanyak 30 orang, menyusul kemudian angkatan keduanya sebanyak 50 orang. Masa dua tahun
awal inilah masa pencarian jati diri sebagai mahasiswa kedokteran gigi, terutama di bidang
keorganisasian. Mulai dari masa orientasi, hingga ke masalah-masalah kemahasiswaan lainnya,
kawan-kawan KG bergabung dengan kawan-kawan KU dengan BEM FK nya. Banyak kawankawan KG yang akhirnya bergabung dengan BEM FK karena tidak memiliki pilihan lain,
walaupun antara kampus KG dan KU terpisah jarak yang lumayan jauh, sekitar 400 meter.
Masalah mulai timbul ketika kawan-kawan KG yang menjadi anggota BEM FK merasa dianak
tirikan. Misalnya dalam hal penetapan waktu rapat yang bila terjadi tabrakan jadwal, selalu
mendahulukan kawan-kawan KU, sehingga seringkali anggota BEM FK dari KG tidak memiliki
informasi dalam agenda-agenda kerja BEM FK. Lama-lama kami rasakan bahwa kehadiran
kawan-kawan KG dianggap tidak terlalu penting. Kawan-kawan KG hanya digerakkan untuk
masalah-masalah teknis di lapangan, tidak ikut sebagai konseptor kegiatan. Berbagai suara yang
menunjukkan rasa ketidak puasan mulai terdengar. Jika kawan-kawan KG hanya digerakkan
hanya sebagai pelaksana teknis, maka apa bedanya dengan tukang? Sedangkan salah satu tujuan
dari organisasi mahasiswa adalah membangun soft skill mahasiswa, baik di bidang manajemen,
dan kepemimpinan organisasi. Selain itu, menuruk kawan-kawan KG, BEM FK tidak cukup
mewadahi aspirasi mahasiswa KG. Kerja-kerja yang dilakukan adalah kerja-kerja yang
berorientasi pada dunia Kedokteran Umum. Baksos dan seminar misalnya, selalu berorientasi
pada kepentingan kawan-kawan KU. Beranjak dari hal ini, kawan-kawan KG mulai berkumpul
membicarakan kemungkinan dibentuknya satu wadah mandiri kedokteran gigi.
Menjelang masuknya angkatan baru 2006, desakan untuk membangun satu wadah sendiri
semakin menguat. Beberapa alasan yang masuk adalah sebagai berikut:
1. Kekecewaan kawan-kawan atas sikap BEM FK yang menganak tirikan anggota BEM
yang berasal dari KG.
2. Jumlah mahasiswa KG yang satu angkatan hanya 50 orang bila dibandingkan dengan
jumlah mahasiswa KU yang seangkatan 100 orang menyebabkan sangat sedikit sekali
kemungkinan mahasiswa KG yang dapat memenangkan pemilihan menjadi ketua BEM
FK walaupun calon dari KG memiliki potensi dan bakat kepemimpinan yang sangat besar
sekalipun. Apalagi bila ditambah dengan tidak dilibatkannya kawan-kawan KG dalam
pengkonsepan kegiatan, sehingga seakan-akan dikerdilkan perannya dan diblok
potensinya. Hal ini bertentangan dengan fungsi mahasiswa itu sendiri yaitu sebagai iron
stock, persiapan pemimpin masa depan.
3. Apabila suatu saat ternyata ada mahasiswa KG yang berhasil menjadi ketua BEM FK,
maka bisa dipastikan akan terjadi kekacauan organisasi. Bayangkan bila seminar-seminar
yang selama ini hanya difokuskan ke kesehatan umum, lantas kemudian diubah arah

menjadi seminar kedokteran gigi, akan menjadi chaos dan benturan yang sangat besar
antara kawan-kawan KU dan KG. Belum lagi bila memperhatikan organisasi nasional
kawan-kawan KU, yaitu ISMKI. Apakah mungkin delegasi yang menghadiri pertemuan
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia adalah dari KG sedangkan pembahasan
ISMKI adalah spesifik ke profesi dokter umum? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu tidak
dapat dijawab oleh para petinggi BEM dan DPM FK.
4. Kebutuhan akan soft skill dan hard skill yang semakin menuntut, mengharuskan kawankawan KG harus berkembang. Komunikasi dengan PDGI harus dijalin, dan pelaksanaan
seminar kedokteran gigi serta bakti sosial kedokteran gigi sebagai tuntutan tri dharma
perguruan tinggi harus dilaksanakan, dan BEM FK tidak dapat memenuhi hal ini, karena
BEM FK fokus ke perkembangan dunia kesehatan secara umum.
5. Sebagai mahasiswa yang nantinya akan memiliki profesi tersendiri sebagai dokter gigi,
mutlak memerlukan suatu organisasi yang berbeda karakternya dengan profesi lain. Hal
ini untuk menjaga kaderisasi kepemimpinan dalam profesi, serta meneguhkan
kebanggaan profesi.
Atas pertimbangan-pertimbangan itulah kawan-kawan KG akhirnya mengajukan
proposal pembentukan keluarga mahasiswa kedokteran gigi universitas sriwijaya (KMKG)
beserta perangkatnya (BEM dan DPM) kepada keluarga mahasiswa kedokteran universitas
sriwijaya (KMKS) melalui BEM FK dan DPM FK setelah selesai rangkaian orientasi angkatan
2006.
Proposal kami diangkat dalam sidang musyawarah besar KMKS. Waktu itu ada
pertanyaan, kenapa harus bem? Kenapa tidak Hima saja? Karena pada waktu itu kawan-kawan
KG telah menguasai UU dan AD/ART KMKS, maka dengan mudah kami jawab, bahwa kami
tidak keberatan berbentuk hima yang berarti dibawah komando BEM FK, tetapi kami meminta
keadilan. Jika prodi KG berbentuk hima, maka prodi KU juga harus berbentuk hima, dan BEM
FK menjadi milik bersama antar KU, KG, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat. Jika KU
tidak memiliki hima, berarti BEM FK adalah milik KU, kami tidak mungkin berada di bawah
komando kawan-kawan KU. Diskusi ini terjadi dengan cukup panas. Kami bahkan dibela oleh
kawan-kawan keperawatan dan kesehatan masyarakat.
Akhirnya dengan diskusi yang cukup panjang, kawan-kawan yang tadinya kontra tidak
lagi memiliki argument untuk menolak terbentuknya BEM KG. sehingga keputusan SU KMKS
akhirnya mengijinkan terbentuknya KMKG dengan segala perangkatnya dengan hubungan
koordinasi dengan BEM FK. Hal ini menjadi sebuah kemenangan besar untuk kawan-kawan KG,
karena akhirnya KG setara dengan KU, bukan berada di bawah garis komando, tetapi hanya garis
koordinasi.
Sesegera mungkin kawan-kawan KG melaksanakan Sidang Umum KMKG pertama
setelah sebelumnya melaksanakan pemilihan umum. Terpilihlah saudari Elfana Desmayanti KG
04 sebagai ketua BEM pertama.
Di pertengahan periode kepengurusan, BEM KG mendapat undangan dari PSMKGI.
Terus terang saat itu kawan-kawan tidak paham urgensi PSMKGI. Atas dasar pertimbangan

Ketua BEM untuk mempelajari urgensi PSMKGI, BEM KG mulai mengirim delegasi ke agendaagenda PSMKGI. Dari hasil evaluasi, kami dapatkan:
1. PSMKGI membuka wawasan dan mengupdate mengenai permasalahan kedokteran
gigi di tingkat nasional yang nantinya secara riil dihadapi oleh mahasiswa KG dan
dokter gigi.
2. Kegiatan-kegiatan PSMKGI dapat menjadi acuan dan contoh baik bagi kegiatan yang
dilaksanakan oleh BEM KG UNSRI, terutama dalam konsep dan rencana teknis.
3. Pertemuan-pertemuan dalam rangkaian program kerja PSMKGI memberi kesempatan
delegasi BEM KG untuk studi banding ke seluruh institusi kedokteran gigi tanpa
harus mengunjungi institusi-institusi tersebut satu per satu. BEM KG mendapat
banyak sekali konsep-konsep organisasi yang luar biasa yang sebelumnya terpikirpun
tidak. Konsep-konsep tersebut kami ambil, dan kami aplikasikan sesuai dengan
kondisi di Unsri, misalnya dalam hal kaderisasi, pengabdian masyarakat, dan
keilmuan.
4. PSMKGI dapat menjadi ajang kaderisasi dan pematangan konsep kepemimpinan dari
kader-kader terbaik BEM KG Unsri yang ke depannya diharapkan dapat
berkontribusi nyata bagi negeri sehingga menganggat nama almamater.
Dari PSMKGI lah BEM KG Unsri memiliki konsep sekolah binaan dan desa binaan. Dari
PSMKGI lah BEM KG Unsri memiliki konsep kaderisasi yang cukup menjamin
keberlangsungan organisasi ke depannya. Terlalu banyak bila harus disebut satu persatu manfaat
PSMKGI bagi BEM KG Unsri. Mungkin yang dapat menyingkatkannya adalah bukti bahwa
perkembangan BEM KG Unsri sedemikian pesat, sehingga dapat mengantarkan salah satu
kadernya menjadi Sekjen di usia prodi yang baru 6 tahun. Besar harapan agar nantinya kawankawan Unjani juga berhasil mengantarkan kadernya menjadi Sekjen PSMKGI. Hidup
Mahasiswa!