Anda di halaman 1dari 6

KARSINOMA SEL SKUAMOSA

1. Definisi
Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan epithelium
dengan struktur sel yang berkelompok, mampu berinfiltrasi melalui aliran darah dan
limfatik yang menyebar keseluruh tubuh. Dan merupakan salah satu dari kanker kulit
yang sering dijumpai setelah karsinoma sel basal.3.
2. Sinonim
Epitelioma sel skuamosa (Prickle), karsinoma sel prickle, karsinoma epidermoid,
pavement epithelioma, spinalioma, karsinoma bowen, cornified epithelioma.2
3. Epidemiologi
Karsinoma sel skuamosa lebih sering dijumpai pada orang kulit putih dari pada kulit
berwarna dan lebih banyak dijumpai pada laki-laki dibandingkan wanita, terutama pada
usia 40-50 tahun. Insiden karsinoma sel skuamosa meninggi seiring bertambahnya
usia.3,4,5.
4. Etiologi dan Predisposisi
Karsinoma sel skuamosa penyebabnya masih belum diketahui. Terdapat banyak faktor
yang dapat menyebabkan pertumbuhan karsinoma sel skuamosa pada kulit, yaitu sinar
matahari, ras, faktor genetik, arsen inorganik, radiasi, faktor hidrokarbon (tar dan minyak
mineral), dan sikatriks, ulkus kronik (Marjolins ulcer), keloid dan fistula. Dan dalam
beberapa kasus, HPV (Human Papilloma Virus) sering dihubungkan dengan kejadian
karsinoma sel skuamosa pada genital, anus, mulut, faring dan jari tangan.6
5. Patogenesis
Karsinoma Sel Skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai beberapa tingkatan
kematangan, dapat intraepidermal atau dapat invasif dan bermetastasis.2
6. Gambaran Klinis
Karsinoma Sel Skuamosa umumnya sering terjadi pada usia 40-50 tahun dengan lokasi
tersering adalah daerah yang terbanyak terpapar sinar matahari, seperti wajah, telinga,
bibir bawah, punggung, tangan dan tungkai bawah. Tumor dapat merusak jaringan
setempat dengan kecil kemungkinan bermetastasis, tetap tumor dapat pula bermetastasis
jauh melalui saluran getah bening. Secara histopatologik terdapat 2 bentuk, yaitu :
a. Bentuk Intraepidermal
Karsinoma sel skuamosa ini terbatas pada bagian epidermis saja dan terjadi pada
berbagai lesi kulit yang telah ada sebelumnya, seperti solar keratosis, kornu kutanea,

keratosis arsenical, penyakit Bowen, eritoplasia, dan epitelioma Jadassohn.


Karsinoma sel skuamosa dapat menetap dalam jangka waktu lama atau menembus
lapisan basal sampai ke dermis dan bermetastasis melalui saluran getah bening.2
b. Bentuk Invasif

Karsinoma sel skuamosa bentuk invasive dapat berkembang dari karsinoma sel
skuamosa bentuk intraepidermal dan dapat pula dari kulit normal, walaupun jarang.
Karsinoma sel skuamosa biasanya berupa nodul kecil dengan batas tidak jelas,
berwarna sama dengan warna kulit atau sedikit eritema. Permukannya mula-mula
lembut kemudian menjadi verukosa atau papulomatosa, ulserasi timbul di dekat pusat
dari tumor, pertumbuhan dapat cepat atau lambat, ukuran tumor 1-2 cm. permukaan
dari tumor dapat glanular dan mudah berdarah, sedangkan pinggir ulkus biasanya
meninggi dan mengeras, serta dapat pula di jumpai krusta. 6,7,8.
7. Metastasis
Sebagian besar dari karsinoma sel skuamosa bermetastasis melalui kelenjar limfe
regional. Kemampuan metastasis sel kanker berhubungan dengan ukuran kedalaman
invasi tumor, lokasi tumor dan status imunologi penderita. 2,7. Karsinoma sel skuamosa
adalah tipe kedua terbanyak setelah karsinoma sel basal. Karsinoma sel skuamosa
bermetastasis lebih sering dari karsinoma sel basal, namun angka metastasisnya tidak
terlalu tinggi kecuali pada telinga, bibir, dan pasien imunosupresi.6.
8. Histopatologi
Secara histopatologi karsinoma sel skuamosa terdiri dari massa yang irregular dari sel-sel
epidermis yang berpoliferasi dan menginvasi ke dermis. Karsinoma sel skuamosa yang
berdiferensisi baik menunjukkkan keratinasi yang cepat dari lapisan sel skuamosa. Sel-sel
tumor tersusun secara fokal dan konsentris disertai masa keratin, sehingga terbentuk
mutiara tanduk yang khas pada Karsinoma Sel Skuamosa berdiferensiasi baik. Pada
karsinoma sel skuamosa berdiferensiasi buruk menunjukkan keratinisasi yang terbatas
atau kurang sel-sel atipik dengan gambaran mitosis abnormal dan tidak di jumpai
interseluler bridge.4,9.
9. Diagnosis
Secara umum diagnosis penyakit kanker kulit dapat ditegakkan dari anamnesis,
pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang, serta pemeriksaan histopatologi sebagai
standar baku emas.2,9. Pada karsinoma sel skuamosa diagnosis diperoleh melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik berupa inspeksi untuk melihat eufloresensi kulit yang
biasanya didapatkan kelainan berupa nodul yang keras dengan batas tidak tegas,

permukaannya mula-mula licin seperti kulit normal kemudian berkembang menjadi


papiloma. Ulserasi umumnya mulai timbul ketika tumor berukuran 1-2cm, diikuti
pembentukan krusta dengan pinggir yang keras serta mudah berdarah.1. Pada pemeriksaan
penunjang dilakukan pemeriksaan histopatologi dengan melakukan biopsi jaringan kulit
yang dicurigai mengandung sel-sel kanker tersebut (skin biopsy).10,11,12,13.
10. Diagnosis Banding 2,3,7,9.
a. Karsinoma sel basal
b. Keratoakantoma
c. Keratosis aktinik
d. Kutaneus granuloma
e. Pseudo epitheiomatous hyperplasia
11. Tatalaksana
Terapi pada kanker kulit terdiri dari terapi pembedahan dan non pembedahan. Terapi
pembedahan terdiri dari pembedahan dengan eksisi, pembedahan dengan menggunakan
teknik Mohs Micrographic Surgery (MMS), curretage and cautery, dan cryosurgery.14.
a. Pembedahan dengan eksisi
Tumor di eksisi beserta dengan jaringan normal disekitarnya dengan batas yang telah
ditentukan sebelumnya untuk memastikan seluruh sel kanker sudah terbuang.14.
b. Pembedahan dengan teknik Mohs Micrographic Surgery (MMS)
Pada teknik ini , tumor di eksisi beserta dengan jaringan normal disekitarnya dengan
batas yang telah ditentukan sebelumnya. Indikasi penggunaan teknik Mohs
Micrographic Surgery (MMS) antara lain: lokasi tumor di bagian tengah wajah,
sekitar mata, hidung,dan telinga. Ukuran tumor >2cm. Subtipe histologi morfoik,
infiltratif, mikronodular, dan subtipe basoskuamosa. Definisi batas tumor yang kurang
baik melalui klinis. Lesi yang berulang (rekuren). Ada keterlibatan perivaskular dan
perineural.14.
c. Cryosurgery
Cryosurgery menggunakan cairan nitrogen dalam temperature -50 hingga -60 C
untuk menghancurkan sel kanker. Teknik double freeze direkomendasikan untuk lesi
yang terdapat di wajah. Fractional cryosurgery direkomendasikan untuk lesi yang
berukuran besar dan lokasinya tersebar. Keberhasilan dari teknik ini tergantung dari
seleksi jaringan dan kemampuan operator.14.
d. Photodynamic therapy
Photodynamic therapy melibatkan penggunaan reaksi fotokimia dimediasi melalui
interaksi agen photosensitizing, cahaya, dan oksigen. Karena fotosensitizer diarahkan
secara langsung ditargetkan pada jaringan lesi, photodynamic therapy dapat

meminimalkan kerusakan pada struktur sehat berdekatan. Metode ini efektif untuk
lesi pada wajah dan kulit kepala yang bersifat primer dan superfisial.14.
e. Radiasi
Radiasi menggunakan sinar x-ray dengan energi tinggi untuk membunuh sel kanker.
Radiasi bukanlah untuk menyembuhkan kanker, melainkan sebagai terapi adjuvan
setelah pembedahan untuk mencegah rekurensi dari sel kanker atau untuk mencegah
metastasis.14.
f. Kemoterapi
Kemoterapi adalah metode dengan menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel
kanker. Beberapa jenis obat kemoterapi yang digunakan adalah Dacarbazine (DTIC),
Cisplatin yang dikombinasikan dengan Vinblastine, Temozolomide (Temodar), dan
Paclitaxel.15.

12. Prognosis
Prognosis karsinoma sel skuamosa bergantung pada :
a. Diagnosis dini
b. Cara pengobatan dan keterampilan dokter
c. Kerjasama antara pasien dan dokter
Prognosis buruk jika tumor tumbuh di atas kulit yang normal atau di ekstremitas bawah,
sedangkan tumor yang ditemukan di kepala, leher serta ekstremitas atas prognosisnya
lebih baik.2.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budimulja Unandar. Morfologi dan Cara Membuat Diagnosis; Rata IGA. Tumor
Kulit. Dalam: Djuanda Adhi, Hamzah Mochtar, Aisah Siti, penyunting. Buku Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keempat. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2005.
2. Rata IGAK. Tumor Kulit. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi kelima.
Jakarta : FKUI. 2007.
3. Schawarth RA, Stoll HL. Squamous Cell Carcinoma. Dalam : Fitzpatrick TB, Eizen
AZ, Wolff K, Freedberg IM, Auten KF, penyunting. Dermatology in General
Medicine, 4th ed. New York : McGraw Hill. 1993.
4. Koh HK, Bhawan J. Tumours of The Skin. Dalam : Moschella, Hurley, penyunting.
Dermatology, 3rd ed. Philadephia : WB Saunders Co. 1992.
5. Mackie RM. Epidermal Skin Tumoura. Dalam : Rook, Wilkinson, Ebling, penyunting.
Texbook of Dermatology, 5th ed. London : Blackwell Scientific Pub. 1993.
6. Buljan Marija, Bulana Vedrana, dan Sandra Stanic. Variation in Clinical Presentation
of Basal Cell Carcinoma. University Department of Dermatology and Venereology
Zagreb Croatia. 2008.
7. Habib TP. Squamous Cell Carcinoma. Dalam : A Colour Guide to Diagnosis and
Terapi. St Louis : Mosby. 1996.
8. Karo WA. Benign and Malignant Growth. Dalam : A Large Medical Book ed,
Dermatology. Canada : Prentice Hall International. 1991.

9. Kelompok Kerja Kanker FK UI/ RSUPNCM. Protokol Karsinoma Sel Skuamosa


Kulit. Dalam : Protokol Kanker Kulit. Jakarta. 1995.
10. Pfister David, and Alan C. Harpen. Skin Squamos Cell Cancer : The Time Is Right
For Greater Involvement of The Medical Oncologist. Journal of Clinical Oncology,
2007.
11. NR, Colver GB, and Morton CA. Guidelines For The Management of Basal Cell
Carcinoma. British Journal of Dermatology. 2008.
12. College of American Pathologists. Skin Cancer. Squamous Cell Carcinoma. 2010.
13. BMJ Group. Skin Cancer (Squamous Cell). 2009.
14. NR Telfer and C.A. Mortont. Guidelines For The Management of Basall Cell
Carcinoma. British Journal Of Dermatology, 2008.
15. Anonymous. Melanoma Skin Cancer. American Cancer Society.

Anda mungkin juga menyukai