Anda di halaman 1dari 30

Bab

4
Rencana Tata Ruang

ung
Band

SM)
B
(
l
rma
Supe

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang

4.1 Rencana Struktur Tata Ruang

encana struktur tata ruang disusun untuk mewujudkan


efisiensi pemanfaatan ruang, keserasian pengembangan
ruang, dan keefektifan sistem pelayanan. Sebagian besar struktur
pemanfaatan ruang yang telah direncanakan dalam RUTR 1992
tetap dipertahankan karena sudah menjadi pedoman dalam
pelaksanaan pembangunan. Kurang berkembangnya pusat
sekunder akan ditangani dengan kebijakan dan program tersendiri.
Beberapa penyempurnaan struktur ruang didasarkan pada
perkembangan terakhir yang dihadapi Kota Bandung.
Struktur ruang Kota Bandung terdiri dari unsur-unsur pembagian
wilayah pengembangan (WP), sistem pusat pelayanan, struktur
kegiatan fungsional, dan struktur jaringan transportasi.
4.1.1 Pembagian Wilayah Pengembangan (WP)

Bandung Supermal
Jl. Gatot Subroto

44

Untuk mendukung struktur ruang yang direncanakan, wilayah


Kota Bandung dibagi menjadi 6 (enam) wilayah pengembangan
(WP), yaitu wilayah yang secara geografis berada dalam satu pusat

pelayanan pusat sekunder. Adapun pembagian WP di Kota


Bandung adalah sebagai berikut:
1. WP Bojonagara dengan pusat WP adalah Pusat Sekunder
Setrasari, mencakup Kecamatan Andir, Sukasari, Cicendo dan
Sukajadi.
2. WP Cibeunying dengan pusat WP adalah Pusat Sekunder
Sadang Serang, mencakup Kecamatan Cidadap, Coblong,
Bandung Wetan, Cibeunying Kidul, Cibeunying Kaler dan
Sumur Bandung.
3. WP Tegallega dengan pusat WP adalah Pusat Sekunder Kopo
Kencana, mencakup Kecamatan Astana Anyar, Bojongloa
Kidul, Bojongloa Kaler, Babakan Ciparay dan Bandung Kulon.
4. WP Karees dengan pusat WP ada, mencakup Kecamatan
Regol, Lengkong, Batununggal dan Kiaracondong.
5. WP Ujungberung, mencakup Kecamatan Cicadas, Arcamanik,
Ujungberung, Cibiru dan Kelurahan Mekar Mulya Kecamatan
Rancasari.
6. WP Gedebage, mencakup Kecamatan Bandung Kidul,
Margacinta dan Rancasari di luar Kelurahan Mekar Mulya.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang


Pembagian WP ini lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1
Pembagian Wilayah Pengembangan.
4.1.2 Sistem Pusat Pelayanan
Sistem pusat pelayanan Kota Bandung direncanakan terdiri atas 2
(dua) pusat primer dan 6 (enam) pusat sekunder. Dua pusat
primer yang direncanakan adalah Inti Pusat Kota di bagian barat
dan Gedebage di bagian timur. Dengan mengembangkan 2 pusat
primer, maka struktur pusat pelayanan Kota Bandung akan
bergeser dari satu pusat (monosentrik) menjadi dua pusat
(duosentrik).
Adanya dua pusat ini dimaksudkan untuk lebih mendorong
perkembangan kota ke arah timur agar perkembangan kota antara
bagian barat dan timur dapat lebih merata. Pengembangan Pusat
Primer Gedebage juga merupakan upaya untuk mengurangi
ketergantungan yang sangat tinggi terhadap Inti Pusat Kota.
Pengembangan pusat-pusat sekunder pada setiap Wilayah
Pengembangan berfungsi sebagai penyangga dua pusat primer,
dan meratakan pelayanan pada skala bagian wilayah kota.
Penyebaran pusat sekunder juga dimaksudkan untuk mendukung
keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarbagian
wilayah kota.
Pusat-pusat sekunder yang direncanakan adalah seperti yang telah
disebutkan pada sub bab sebelumnya yaitu pusat sekunder
Setrasari melayani WP Bojonegara, pusat sekunder Sadang Serang
melayani WP Cibeunying, pusat sekunder Kopo Kencana
melayani WP Tegallega, pusat sekunder Turangga melayani WP
Karees, pusat sekunder Arcamanik melayani WP Ujungberung
dan pusat sekunder Margasari melayani WP Gedebage.
Secara geografis pusat primer baru akan terletak pada wilayah
Timur Kota Bandung namun tetap bersinergi/berkaitan dengan
pusat dan sub pusat yang telah ada. Pusat baru ini berperan
menunjang eksistensi kota yang telah ada/berkembang, karena itu
harus didukung oleh sistem transportasi yang andal untuk
mobilitas ulang-alik antara pusat baru dengan pusat lama.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Sistem pusat kegiatan yang akan dikembangkan sebagai berikut:

A. Pusat Primer Inti Pusat Kota


Pusat Primer Inti Pusat Kota melayani Pusat Sekunder Setrasari,
Sadang Serang, Kopo Kencana dan Turangga. Kebijakan dasar
pengembangannya adalah urban renewal. Wilayah belakang Pusat
Primer Inti Pusat Kota adalah:
1. Pusat sekunder Setrasari, melayani:
a. Kecamatan Andir
b. Kecamatan Sukasari
c. Kecamatan Cicendo
d. Kecamatan Sukajadi
2. Pusat sekunder Sadang Serang, melayani:
a. Kecamatan Cidadap
b. Kecamatan Coblong
c. Kecamatan Bandung Wetan
d. Kecamatan Cibenying Kidul
e. Kecamatan Cibeunying Kaler
f. Kecamatan Sumur Bandung
3. Pusat sekunder Kopo Kencana, melayani:
a. Kecamatan Astana Anyar
b. Kecamatan Bojongloa Kidul
c. Kecamatan Bojongloa Kaler
d. Kecamatan Babakan Ciparay
e. Kecamatan Bandung Kulon
4. Pusat sekunder Turangga, melayani:
a. Kecamatan Regol
b. Kecamatan Lengkong
c. Kecamatan Batununggal
d. Kecamatan Kiaracondong
B. Pusat Primer Gedebage
Pusat Primer Gedebage melayani Pusat Sekunder Arcamanik dan
Margasari. Kebijakan dasar pengembangannya adalah urban
development. Wilayah belakang Pusat Primer Gedebage adalah:
1. Pusat sekunder Arcamanik, melayani:
a. Kecamatan Cicadas
b. Kecamatan Cicadas
c. Kecamatan Arcamanik
d. Kecamatan Ujungberung
e. Kecamatan Cibiru
2. Pusat sekunder Margasari, melayani:
a. Kecamatan Bandung Kidul

b. Kecamatan Margacinta
c. Kecamatan Rancasari
Khusus untuk pusat primer yang baru yaitu Pusat Primer
Gedebage, direncanakan minimal mempunyai fungsi-fungsi
pelayanan sebagai berikut:
1. Pendidikan, meliputi: perguruan tinggi dan perpustakaan.
2. Kesehatan, meliputi: rumah sakit tipe b dan rumah sakit gawat
darurat. Rumah sakit umum kelas b adalah rumah sakit umum
yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis
sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik terbatas.
Pelayanan medis spesialistik luas adalah pelayanan medis
spesialistik dasar ditambah dengan pelayanan spesialisitik
telinga, hidung, tenggorokan, mata, syarat, jiwa, kulit dan
kelamin, jantung, paru, radiologi, anestesi, rehabilitasi medis,
patologis klinis, patologi anatomi dan pelayanan spesialistik lain
sesuai kebutuhan.
3. Peribadatan, meliputi: masjid wilayah dan tempat eribadatan
lainnya.
4. Bina sosial, meliputi: gedung pertemuan umum.
5. Olahraga/rekreasi, meliputi: komplek olahraga dengan
gelanggang olahraga, gedung hiburan dan rekreasi, bioskop,
gedung kesenian, taman kota, gedung seni tradisional.
6. Pelayanan pemerintah, meliputi: kantor pemerintahan, kantor
pos wilayah, kantor kodim, kantor telekomunikasi wilayah,
kantor pln wilayah, kantor pdam wilayah, kantor urusan
agama, pos pemadam kebakaran.
7. Perbelanjaan/niaga, meliputi: pusat perbelanjaan utama, pasar,
pertokoan, pusat belanja, bank-bank, perusahaan swasta dan
jasa-jasa lain.
8. Transportasi, meliputi: terminal dan parkir umum.
Untuk masing-masing pusat sekunder yang akan dikembangkan
minimal menyediakan fungsi-fungsi pelayanan sebagai berikut:
1. Pendidikan, meliputi: akademi dan perpustakaan.
2. Kesehatan, meliputi: rumah sakit pembantu tipe c. Rumah
sakit umum kelas c adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis
spesialistik dasar. Pelayanan medis spesialistik dasar adalah
pelayanan medis spesialistik penyakit dalam, kebidanan dan
penyakit kandungan, bedah dan kesehatan anak.

45

46

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang


3. Peribadatan, meliputi: masjid dan tempat ibadah lain.
4. Bina sosial, meliputi: gedung serba guna.
5. Olahraga/rekreasi, meliputi: stadion mini, museum, gedung
olah seni dan bioskop.
6. Pelayanan pemerintah, meliputi: kantor kecamatan, kantor
pelayanan umum, koramil, kua/bp-4/balai nikah, pos
pemadam kebakaran, kantor pos, telekomunikasi, dipo
kebersihan dan gardu listrik.
7. Perbelanjaan/niaga, meliputi: pusat perbelanjaan/pasar.
8. Transportasi, meliputi: terminal transit dan parkir umum.

Kegiatan yang melayani internal Kota Bandung meliputi:


1. Komplek pemerintahan Kota Bandung di sekitar Jl. MerdekaWastukencana.
2. Rekreasi di Taman Lalu-lintas; Gasibu; Tegalega; Punclut.
3. Kawasan perkantoran di ruas jalan Asia-Afrika, Jl. Sudirman; Jl.
Sukarno-Hatta.
4. Kawasan komersial dan perdagangan eceran di beberapa ruas
jalan utama kota.
5. Kawasan pendidikan tinggi, Jl. Ganesha, Jl. Dipatiukur, Jl.
Tamansari, Jl. Surapati.

Untuk lebih jelasnya, rencana struktur pelayanan dapat dilihat


pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.2

Rencana struktur Kota Bandung dapat dilihat pada Gambar 4.3


untuk memperjelas struktur fungsional.

Selain pengembangan dan penataan Pusat Primer dan Pusat


Sekunder (Pusat WP) direncanakan pula penataan pusat-pusat
sub-WP dan pusat-pusat lingkungan agar dapat memberikan
pelayanan yang optimal.
4.1.3 Struktur Kegiatan Fungsional

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Struktur kegiatan fungsional Kota Bandung dibagi menjadi kegiatan


primer yang melayani wilayah lebih luas dari Kota Bandung, dan
kegiatan sekunder yang melayani internal Kota Bandung. Kegiatan
primer Kota Bandung meliputi:
1. Pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat di Kawasan Gedung
Sate dan sekitarnya.
2. Komplek Pertahanan dan Keamanan Kodam Siliwangi.
3. Komplek industri PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, sekitar
Jl. Surapati-Cicaheum.
4. Bandara Husein Sastranegara.
5. Stasiun kereta api Kebon Kawung dan Kiaracondong.
6. Terminal terpadu Gedebage.
7. Kawasan rekreasi di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda dan
Kebun Binatang Bandung.
8. Kawasan komersial di Inti Pusat Kota ( Alun-alun dan
sekitarnya); Gedebage dan sekitarnya; Jl. Cibaduyut; Jl.
Cihampelas.
9. Kawasan perdagangan grosir/kulakan di Pasar Induk Caringin,
Pasar Induk Gedebage.

jaringan kereta api, pembangunan terminal dan transportasi udara.


Untuk sistem jaringan kereta api, direncanakan pengembangan
sistem jaringan kereta api yang berfungsi sebagai penghubung
kegiatan primer dan antarpusat primer dan rencana pemantapan
stasiun kereta api Kebon Kawung dan Kiaracondong sebagai
stasiun regional. Pembangunan Terminal Terpadu yang mencakup
terminal angkutan jalan raya, terminal peti kemas, dan stasiun
kereta api direncanakan di Gedebage. Selain itu direncanakan
pembangunan terminal tipe B yang berada di batas kota. Untuk
transportasi udara direncanakan pemantapan fungsi Bandara
Husein Sastranegara sampai terbangun dan berfungsinya bandara
pengganti. Rencana hirarki jaringan jalan, rencana pengembangan
jaringan jalan dan rencana koridor jalan layang (tol dalam kota)
dapat dilihat pada Gambar 4.4 , Gambar 4.5 dan Gambar 4.6

4.1.4 Struktur Jaringan Transportasi


Rencana pengembangan struktur jaringan transportasi disusun
untuk mewujudkan pelayanan aksesibilitas yang merata di seluruh
wilayah Kota Bandung, dan mengarahkan pertumbuhan wilayah
dengan mempertahankan keseimbangan lingkungan dan
ketersediaan sumberdaya daerah. Oleh sebab itu, rencana
struktur prasarana jalan meliputi rencana pengembangan jaringan
jalan arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, dan kolektor
sekunder dan lokal primer.
Dalam UU No. 13 Tahun 1980 tentang Jalan, berdasarkan
perannannya, jalan dapat dikelompokkan menjadi jalan primer dan
jalan sekunder. Jalan primer adalah jalan yang melayani
pergerakan lalu-lintas wilayah, sedangkan jalan sekunder adalah
jalan yang melayani pergerakan kota. Peranan jalan ini terkait
dengan hirarki sistem jaringan yang harus disesuaikan dengan
hirarki kegiatan kota baik sistem primer maupun sekunder. Hirarki
sistem jaringan di Kota Bandung perlu dimantapkan.
Untuk melengkapi hirarki sistem jaringan jalan, direncanakan
pengembangan jalan alternatif dengan memprioritaskan
pembuatan jalan-jalan tembus yang sudah direncanakan sesuai
dengan fungsinya. Selain itu diupayakan peningkatan akses melalui
rencana pengembangan jalan bebas hambatan dalam kota,
rencana pembangunan jalan di Bandung bagian Utara dan akses
Utara-Selatan di wilayah Bandung Timur. Rencana struktur
jaringan transportasi ini didukung pula oleh rencana sistem

4.2 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang


Rencana pola pemanfaatan ruang meliputi rencana pola
pemanfaatan kawasan lindung, rencana pola pemanfaatan
kawasan budidaya, rencana pengembangan sistem transportasi,
rencana pengembangan prasarana dan sarana kota serta rencana
daya tampung dan daya dukung lingkungan. Peta rencana guna
lahan dapat dilihat pada Gambar 4.7
4.2.1 Pola Pemanfaatan Kawasan Lindung
Jenis kawasan lindung yang terdapat di Kota Bandung meliputi
kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan
pelestarian alam dan kawasan cagar budaya.
Kawasan lindung di Kota Bandung yang direncanakan adalah:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya adalah wilayah Bandung Utara.
Yang dimaksud dengan kawasan yang memberikan
perlindungan terhadap kawasan bawahannya adalah kawasan
resapan air di wilayah Bandung Utara. Kawasan resapan air
adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian
air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air.
Perlindungan terhadap kawasan resapan air, dilakukan untuk
memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada

47

Rencana Tata Ruang

Kriteria kawasan resapan air adalah :


a. Kawasan dengan curah hujan rata-rata lebih dari 1.000
mm per tahun.
b. Lapisan tanahnya berupa pasir halus berukuran minimal
1/16 mm.
c. Mempunyai kemampuan meluluskan air dengan kecepatan
lebih dari 1 meter per hari.
d. Kedalaman muka air tanah lebih dari 10 meter terhadap
muka tanah setempat.
e. Kelerengan kurang dari 15 %.
f. Kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari
kedudukan muka air tanah dalam.
Lokasi kawasan perlindungan kawasan bawahanya dapat dilihat
pada Tabel 4.2.
2. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi pula sebagai
ruang terbuka hijau kota (RTH) meliputi:
a. Jalur sempadan sungai
Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan
sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer,
yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan
kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan
sungai dilakukan untuk melindungi fungsi sungai dari
kegiatan budidaya yang dapat mengganggu dan merusak
kondisi sungai dan mengamankan aliran sungai.
Kriteria jalur sempadan sungai adalah:
! Sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang
kaki tanggul di luar kawasan perkotaan dan 3 meter di
sebelah luar sepanjang kaki tanggul di dalam kawasan
perkotaan.
! Sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri sungai
besar dan 50 meter di kanan kiri sungai kecil yang tidak
bertanggul di luar kawasan perkotaan.
! Sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai untuk
sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3
meter.

48

Sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai untuk


sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 meter
sampai dengan 20 meter.
! Sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai untuk
sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20
meter.
Ketentuan garis sempadan sungai diatur lebih lanjut oleh
Peraturan Daerah yang berlaku.
!

b. Kawasan sekitar danau buatan/bendungan


Kriteria untuk kawasan lindung ini yaitu daratan sepanjang
tepian danau buatan/bendungan yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau
buatan/bendungan antara 50-100 meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat.
c. Kawasan sekitar mata air
Kriteria untuk kawasan lindung ini yaitu kawasan di sekitar
mata air dengan jari-jari sekurangkurangnya 200 meter.
d. Jalur sempadan jalan kereta api
Kriteria jalur sempadan jalan kereta api yaitu kawasan di sisi
kiri dan kanan rel kereta api dengan jarak sekurangkurangnya 10 meter.
e. Kawasan dibawah saluran udara tegangan tinggi
Kriteria kawasan sekitar jalur udara utama listrik tegangan
tinggi diatur dalam Peraturan Daerah No.14 Tahun 1998
tentang Bangunan di Wilayah Kotamadya DT II Bandung.
f. Sempadan jalan dan jalan bebas hambatan
Sempadan jalan bebas hambatan diatur oleh pengelola
jalan bebas hambatan sesuai dengan rancangan teknis dan
peraturan-perundangan yang berlaku.
g. Taman kota, taman lingkungan dan pemakaman umum
Taman kota, taman lingkunan, dan pemakaman umum
disesuaikan dengan standar prasarana kota dan besaran
atau lokasi.
Rencana pola pengembangan kawasan lindung setempat yang
berfungsi pula sebagai ruang terbuka hijau ini adalah:
a. Menambah jalur hijau jalan di sepanjang jaringan jalan yang
ada dan direncanakan termasuk jalur hijau Pasupati
sehingga diperkirakan seluas 2 % dari total wilayah Kota
Bandung.

b. Intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di sepanjang sempadan


sungai, jaringan jalan, saluran udara tegangan tinggi,
sempadan jalan, dan jalan bebas hambatan.
c. Intensifikasi dan ekstensifikasi RTH di kawasan taman kota,
pemakaman umum, serta di sekitar danau buatan dan
mata air.
d. Secara mikro dilakukan penyediaan taman-taman
lingkungan yang berada di pusat-pusat lingkungan
perumahan dengan standar sebagai berikut:
! Taman lingkungan RT atau untuk 250 penduduk
dengan luas 250m2 , atau satandar 1 m2/pdd.
! Taman lingkungan RW atau untuk 2500 penduduk
dengan luas 1.250m2 , atau standar 0,5 m2/pdd, yang
dapat berdekatan dengan fasilitas pendidikan SD.
! Taman skala kelurahan atau untuk 25.000-30.000
penduduk dengan dan taman-taman dengan luas
9.000 m2;, atau standar 0,3 m2/pdd.
! Taman skala kecamatan atau untuk 120.000 penduduk
dengan luas 24.000 m2, atau standar 0,2 m2/pdd.
! Taman skala wilayah pengembangan atau untuk
480.000 penduduk dengan luas 12,4 Ha atau 0,3
m2/pdd.
Bentuk upaya Intensifikasi ruang terbuka hijau dapat dilakukan
dengan pemilihan jenis tanaman, letak tanaman, ruang antar
permukiman, taman-taman rumah, selain itu dilakukan juga
diantaranya melalui penataan ulang makam dan taman kota
yang dijadikan SPBU. Untuk ekstensifikasi RTH dilakukan
dengan pembuatan RTH-RTH baru.
3. Kawasan pelestarian alam, yaitu taman wisata alam Kebun
Binatang Bandung di Kecamatan Coblong.
Kriteria kawasan lindung untuk taman wisata alam:
a. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa
beserta ekosistemnya yang masih asli serta formasi geologi
yang indah, unik dan nyaman
b. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin sumberdaya
alam hayati yang dapat dimanfaatkan bagi pariwisata dan
rekreasi alam
c. kondisi lingkungan sekitarnya mendukung upaya
pengembangan pariwisata alam

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air


tanah dan pengendalian banjir, baik untuk kawasan
bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.

Rencana Tata Ruang

Tabel 4.1
Rencana Struktur Pelayanan Kota Bandung Tahun 2013

1.

2.

3.

Struktur Sistem Pusat


Pusat Primer Alun-Alun

Pusat Primer Gedebage

!
!
!
!
!
!

Komersial
Perdagangan
Sosial Budaya
Terminal
Sosial
Jasa/Pergudangan

Skala
! Kota Dan Regional
! Nasional Dan
Internasional
! Regional Dan
Internasional
! Kota

Bentuk
!
!
!
!

Perkantroran

Historical Building, Pelestarian Kawasan

Rekreasi
Orang Dan
Barang
! Stadion

! Pasar
! Perkantoran

! Sempadan Sungai,
Mata Air
! Taman

Lokasi
Alun-Alun Dan
Sekitarnya
Gedebage Dan
Sekitarnya

Kecamatan
Cidadap
Cibiru
Coblong

Pusat Sekunder
a. Bojonegara

b. Tegallega

c. Karees

d. Cibeunying

e. Gedebage

f. Ujung Berung

4.

Fungsi

Pusat Lingkungan

! Permukiman
! Industri Teknologi
Tinggi
! Perdagangan
! Lindung
! Permukiman
! Perdagangan
! Perkantoran
! Industri Non Polutan
! Perdagangan
! Industri
! Permukiman
! Perkantoran
! Pemerintahan
! Pendidikan Tinggi
! Perdagangan
! Lindung
! Permukiman
! Industri
! Jasa
! Permukiman
! Industri
! Lindung
! Perdagangan
! Perumahan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

No

Tabel 4.2
Lokasi Kawasan Perlindungan Kawasan Bawahan

!
!
!
!

Kota/Bagian Kota
Kota
Kota/Bagian Kota
Kota

! Retail
! Grosir
! Pasar

!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!

Kota
Bagian Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Bagian Kota
Bagian Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Kota
Skala Lingkungan

! Retail
! Grosir
! Pasar

! Sempadan Sungai,
Mata Air
! Taman

Kopo Kencana

! Retail
! Grosir
! Pasar

! Sempadan Sungai,
Mata Air
! Taman

Turangga

! Historical Building
Preservasi Kawasan
! Sempadan Sungai,
Mata Air

Sadang Serang

! Sempadan Sungai,
Mata Air
! Taman

Margasari

! Sempadan Sungai,
Mata Air
! Taman

Arcamanik

Setrasari

Ujung Berung

!
!
!
!
!
!
!
!
!
!
!

Retail
Grosir
Pasar
Taman
Retail
Grosir
Pasar
Retail
Grosir
Pasar
Retail

Cicadas
Cibeunying Kaler
Sukasari

Sukajadi

Cicendo
Husen Sastranegara
Pamoyanan
Cibeunying Kidul

Arcamanik

Kelurahan
Ledeng
Hegarmanah
Ciumbuleuit
Cisurupan
Palasari
Pasir Biru
Dago
Cipaganti
Sadangserang
Lebakgede
Sekeloa
Lebak Siliwangi
Pasir Endah
Cigending
Pasirwangi
Pasirjati
Pasanggrahan
Mandalajati
Karang Pamulang
Sukaluyu
Neglasari
Isola
Gegerkalong
Sukarasa
Sarijadi
Sukawarna
Sukabungah
Pasteur
Sukagalih
Pajajaran
Sukaraja
Sukapada
Pasirhonje
Pasirlayung
Sindang Jaya

49

50

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

51

52

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

53

54

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

55

56

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang


Tabel 4.3
Rincian Klasifikasi Kawasan Lindung dan Lokasi
Klasifikasi
Kawasan
Lindung
Kawasan yang
memberikan
perlindungan
terhadap
kawasan
bawahannya
Kawasan
perlindungan
setempat (ruang
terbuka hijau)

Kawasan
pelestarian alam
Kawasan Cagar
Budaya

Rincian

Lokasi

kawasan lindung yang terletak di Bagian utara kota


bagian utara Kota Bandung
Bandung
kawasan resapan air tersebar di
beberapa kecamatan
! Jalur sempadan sungai
! Kawasan sekitar
danau/bendungan/ waduk
! Kawasan sekitar mata air atau
eks-situ
! Jalur sempadan jalan kereta api
! Kawasan sekitar tegangan tinggi
! Sempadan jalan tol
! Taman kota dan pemakaman
umum
taman wisata alam dan kawasan
perlindungan alam plasma nutfah
eks-situ
kawasan yang mempreservasi
bangunan fisik serta
mengkonservasi lingkungan alami
yang memiliki nilai historis dan
budaya Kota Bandung.

Tersebar

Kec. Cidadap,
Cibeunying

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Kawasan Alun-alun
Bandung, Asia Afrika,
Cikapundung, Braga,
Kelenteng, Pasar Baru,
Oto Iskandardinata,
ABC, Pecinan,
Sumatera, Jawa, Aceh,
Bali, Gudang Utara,
Lengkong,
Sasakgantung, Karapitan,
Dewi Sartika, Melong,
Dipati Ukur, Ir. H
Juanda, Ganesha, Pager
Gunung, Tamansari,
Diponegoro, RE
Martadinata, Cipaganti,
Pasteur, Setiabudi,
Gatot Subroto, Malabar,
Arjuna, Jatayu dan
Kebon Jati
Kawasan Rawan kawasan yang diidentifikasi sering Bagian utara kota
Bencana
dan berpotensi tinggi mengalami Bandung
bencana alam seperti gempa
bumi dan tanah longsor serta
banjir

4. Kawasan cagar budaya merupakan kawasan pelestarian


bangunan fisik serta pelestarian lingkungan alami yang memiliki
nilai historis dan budaya Kota Bandung.
Kriteria kawasan lindung untuk cagar budaya yaitu tempat
serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi dan situs
yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu
pengetahuan. Fungsi bangunan pada kawasan ini dapat
berubah dengan mempertahankan bentuk asli bangunan.
Kawasan pelestarian Kota Bandung mencakup 6 kawasan,
yaitu:
a. Kawasan Pusat Kota Bersejarah, terdiri dari subkawasan
eks pemerintahan Kabupaten Bandung, Alun-alun, AsiaAfrika, Cikapundung, dan Braga;
b. Kawasan Pecinan, terdiri dari subkawasan Jl. Kelenteng, Jl.
Pasar Baru, Oto Iskandardinata, ABC, dan Pecinan;
c. Kawasan Pertahanan dan Keamanan, terdiri dari
subkawasan perkantoran Pertahanan dan Keamanan Jl.
Sumatera, Jl. Jawa, Jl. Aceh, Jl. Bali, dan gudang militer (Jl.
Gudang Utara dan sekitarnya)
d. Kawasan Etnik Sunda, terdiri dari subkawasan Lengkong, Jl.
Sasakgantung, Jl. Karapitan, Jl.Dewi Sartika, dan Jl. Melong;
e. Kawasan Perumahan Villa, terdiri dari subkawasan Dipati
Ukur, Ir. H. Juanda, Ganesha, Pager Gunung, Tamansari,
Diponegoro, RE Martadinata, Cipaganti, Pasteur,
Setiabudi, Gatot Subroto, dan Malabar;
f. Kawasan Industri, terdiri dari subkawasan Arjuna, Jatayu
dan Kebon Jati.
Seluruh jenis kawasan lindung tersebut diatas diupayakan untuk
tetap dilestarikan. Rincian klasifikasi kawasan lindung dan lokasinya
dapat dilihat pada Tabel 4.3, sedangkan peta rencana kawasan
lindung dapat dilihat pada Gambar 4.8.
4.2.2 Pola Pemanfaatan Kawasan Budidaya
Rencana pengembangan kawasan budidaya ini merupakan salah
satu implementasi dari perhatian Pemerintah Kota Bandung
terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup kota
dengan tetap memperhatikan Keppres No. 57 Tahun 1989
tentang Kawasan Budidaya. Untuk konteks Kota Bandung,
rencana pengembangan kawasan budidaya ini diarahkan kepada
upaya untuk mengendalikan alih fungsi guna lahan yang tidak

sesuai dengan peruntukannya yang telah ditetapkan dalam RTRW


Kota. Kawasan budidaya tersebut terdiri dari perumahan,
pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, industri
dan pergudangan, pariwisata dan rekreasi, dan militer.
A. Perumahan
Kebutuhan perumahan di Kota Bandung terus meningkat seiring
dengan perkembangan jumlah penduduk. Sejalan dengan
penerapan Konsep Pembangunan Bandung sebagai kota Jasa,
maka untuk memperoleh kualitas lingkungan kota yang baik dan
nyaman, sebaiknya luas lahan yang diperuntukan untuk
permukiman pada tahun 2013 maksimal adalah 60 % dari luas
keseluruhan Kota Bandung atau sebesar 10.037.790 Ha dan ini
disiapkan untuk menampung lebih kurang 2.944.860 jiwa.
Sementara itu pada tahun 2000 luas lahan permukiman sudah
mencapai 53 % dari lahan keseluruhan yaitu seluas 8.866,715
Ha menampung 2.136.260 jiwa.
Karena itu untuk mencapai tingkat pelayanan permukiman dan
yang memenuhi persyaratan pelayanan prasarana dasar selain
pengembangan horizontal juga pengembangan vertikal berupa
rumah susun. Pengembangan secara vertikal ini dilakukan kecuali
di kawasan yang ditetapkan sebagai cagar budaya, atau kapasitas
prasarananya terbatas, atau tingkat pelayanan jalannya rendah.
Pengembangan perumahan diklasifikasikan dengan perumahan
kepadatan tinggi, kepadatan sedang dan kepadatan rendah.
Perumahan dengan kepadatan tinggi berbentuk rumah susun, flat
atau apartemen. Perumahan kepadatan sedang rata-rata kapling
bangunan direncanakan 150 m2, yaitu di wilayah Tegallega,
Karees dan Gedebage. Perumahan kepadatan rendah rata-rata
kapling bangunan direncanakan 200 m2, yaitu di wilayah
Bojonegara, Cibeunying dan Ujung Berung. Kepadatan
perumahan yang direncanakan ini untuk rata-rata per wilayah dan
kecamatan dengan pengembangan secara horizontal yang
disesuaikan dengan ketersediaan ruang untuk pengembangan
perumahan. Dari rencana luas kapling perumahan ini
menunjukkan bahwa pengembangan perumahan di Kota Bandung
semakin terbatas sehingga pengembangan perumahan akan
cenderung makin intensif di wilayah kota dan makin ekstensif ke
wilayah luar Kota Bandung. Dengan rencana rata-rata kapling
perumahan yang terbatas ini tidak berarti perumahan dengan

57

Rencana Tata Ruang


perimer dan sekunder prasarana lingkungan sesuai dengan
rencana tata ruang lingkungan yang ditetapkan pemkot dan
memenuhi persyaratan pembakuan pelayanan prasarana dan
sarana lingkungan.

Selain itu, kebijakan pembangunan perumahan secara vertikal


diterapkan untuk perencanaan perumahan di kawasan sekitar Inti
Pusat Kota, yang saat ini merupakan kawasan sangat padat yang
sebagian besar merupakan slum area (daerah kumuh) dengan
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) yang mendekati 80 % - 90 %;
sementara nilai lahannya sangat strategis dan bernilai ekonomi
tinggi. Pada daerah kumuh ini akan dilakukan urban renewal dan
revitalisasi sehingga tercapai kualitas lingkungan yang baik, baik
dengan cara pendekatan land consolidation (konsolidasi lahan)
maupun land sharing (sharing lahan). Urban renewal dan
redevelopment direncanakan pada beberapa daerah kumuh
antara lain di Kelurahan Tamansari, Andir, Braga, Cigondewah,
Cicadas dan Kiara Condong di atas tanah milik pemerintah
daerah.

Lingkungan Siap Bangun (LISIBA) merupakan sebidang tanah yang


merupakan bagian dari KASIBA ataupun berdiri sendiri yang telah
dipersiapkan dan dilengkapi dengan prasarana lingkungan dan
selain itu juga sesuai dengan persyaratan pembakuan tata
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan dan selain itu juga sesuai
dengan persayaratan pembakuan tata lingkungan tempat tinggal
atau lingkunagan hunian dan pelayanan lingkungan untuk
membangun kaveling tanah matang; lisiba berdimensi lebih kecil
daripada KASIBA. Ketentuan pembangunan KASIBA dan LISIBA
yang berdiri sendiri diatur dalam PP No. 80 Tahun 1999 tentang
Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun.

Peremajaan kota (urban renewal) merupakan kegiatan untuk


memperbaiki daerah kota; bermaksud agar dapat meningkatkan
pemanfaatan daerah-daerah yang dirasakan sudah kurang
menguntungkan bagi kehidupan sosial dan penghidupan ekonomi
kota. Pembangunan kembali kota (urban redevelopment)
merupakan pengaturan dan pembangunan kembali lahan kota;
berupa upaya meningkatkan manfaat lahan bagi masyarakat
maupun pemerintah kota.

B. Pemerintahan
Kegiatan pemerintahan yang ada di Kota Bandung terdiri dari
kegiatan pemerintahan berskala nasional, regional dan kota:
1. Perkantoran Pemerintah Tingkat Nasional
Perkantoran pemerintah pusat berskala nasional yang berada
di kota Bandung seperti PT.Dirgantara Indonesia (PTDI),
PT.Barata, PT.INTI, PT.LEN, PT.POS, PT.KA, PT.TELKOM
dan sejumlah Balai Penelitian yang berskala nasional dan
internasional seperti LAPAN, BATAN, Puslitbang Jalan,
Puslitbangair, Lembaga Pasteur, Lembaga Metrologi, Geologi
Tata Lingkungan dsb. Yang sebaiknya tetap dapat
dipertahankan di Bandung, agar bisa berafiliasi langsung
dengan lembaga-lembaga pendidikan (tinggi) yang ada di Kota
Bandung.
2. Pemerintahan Tingkat Propinsi dan Kota
Kota Bandung mengemban fungsi sebagai pusat pemerintahan
Propinsi Jawa Barat, maka fasilitas pemerintahan di Kota
Bandung tidak hanya fasilitas pemerintahan Kota Bandung saja
tetapi juga fasilitas pemerintahan Propinsi Jawa Barat.

Untuk pengembangan baru di wilayah Bandung Timur akan


dilakukan new development yaitu pembangunan baru lengkap
dengan ketersediaan sarana dan prasarananya dengan konsep
pengembangan kota baru yang memiliki daya tarik tersendiri bagi
perkembangan wilayah. Pengembangan kota baru di Bandung
Timur ini dapat dengan konsep pembangunan kawasan siap
bangun (Kasiba, minimal 3.000 unit) dan lingkungan siap bangun
(Lisiba) yang berdiri sendiri, minimal 1.000 unit.
Kawasan Siap Bangun (KASIBA) merupakan sebidang tanah yang
fisiknya telah dipersiapkan untuk pmebangunan perumahan dan
permukiman skala besar yang terbagi dalam satu atau lebih
lingkungan siap bangun atau lebih yang pelaksanaannya dilakukan
secara bertahap dengan lebih dahulu dilengkapi dengan jaringan

58

Kebutuhan rumah serta pengaturan perumahan di Kota Bandung


Tahun 2008 dan Tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Rencana pengembangan kawasan pemerintahan ini adalah


mempertahankan perkantoran pemerintah berskala nasional,
propinsi dan kota pada lokasi saat ini.
Tabel 4.4
Perkiraan Kebutuhan Rumah dan Lahan Perumahan
di Kota Bandung Tahun 2008 Dan 2013
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Kecamatan
Wilayah Bojonagara
Kec. Andir
Kec. Sukasari
Kec. Cicendo
Kec. Sukajadi
Wilayah Cibeunying
Kec. Cidadap
Kec. Coblong
Kec. Bandung Wetan
Kec. Cibeunying Kidul
Kec. Cibeunying Kaler
Kec. Sumur Bandung
Wilayah Tegallega
Kec. Astana Anyar
Kec. Bojongloa Kidul
Kec. Bojongloa Kaler
Kec. Babakan Ciparay
Kec. Bandung Kulon
Wilayah Karees
Kec. Regol
Kec. Lengkong
Kec. Batununggal
Kec. Kiaracondong
Wilayah Ujungberung
Kec. Cicadas
Kec. Arcamanik
Kec. Ujungberung
Kec. Cibiru
Wilayah Gedebage
Kec. Bandung Kidul
Kec. Margacinta
Kec. Rancasari
Kota Bandung

Kebutuhan Rumah
Kebutuhan Lahan
(unit)
(Ha)
2008
2013
2008
2013
72915
82496
1823
2062
20589
23294
515
582
14008
15849
350
396
19778
22377
494
559
18540
20976
463
524
88114
99693
2203
2492
9966
11275
249
282
22520
25480
563
637
12779
14459
319
361
21122
23897
528
597
12616
14273
315
357
9112
10309
228
258
91094 103064
1366
1546
16221
18352
243
275
13717
15520
206
233
19676
22262
295
334
19542
22109
293
332
21938
24821
329
372
80327
90883
1205
1363
16165
18290
242
274
16178
18304
243
275
23893
27033
358
405
24090
27256
361
409
63575
71929
1589
1798
19878
22490
497
562
16193
18321
405
458
13823
15640
346
391
13681
15479
342
387
37007
41870
555
628
7939
8982
119
135
17097
19343
256
290
11971
13544
180
203
72915

82496

17483

19780

Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2003

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

kapling besar terutama di lokasi perumahan terencana


(perumahan lama yang prestisius) yang menjadi ciri khas Kota
Bandung di wilayah Bandung Barat dilarang tetapi sebaliknya tetap
dipertahankan dalam kerangka perlindungan cagar budaya.

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

C. Perdagangan
Pengembangan kegiatan perdagangan meliputi pengembangan
perdagangan formal (pasar, pusat perbelanjaan, pertokoan) dan
perdagangan informal.
1. Pasar
Pasar merupakan salah satu orientasi pergerakan penduduk.
Oleh sebab itu dengan mengadopsi konsep yang telah
diterapkan oleh Belanda dalam penataan Kota Bandung, maka
peletakan pasar dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Bandung pada tahun 2013 akan mengadopsi konsep yang
sama yaitu sebagai bagian dari pelayanan pusat sekunder yang
berfungsi untuk menahan pergerakan penduduk ke pusat kota
(sebagai buffer). Pasar-pasar tersebut akan berada di sekitar
pusat kegiatan, yang akan dijadikan sebagai pusat sekunder.
Bentuk pasar ini bisa berupa pasar modern (shopping mall),
ataupun pasar tradisional namun dengan penataan dan
pengaturan yang ketat agar terjaga lingkungannya (sebaiknya
berupa
pasar
tertutup/dalam
gedung).
Rencana
pengembangan fasilitas pasar adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan
Pasar
Gedebage
terpadu
dengan
pengembangan Kawasan Pusat Gede Bage. Sejalan
dengan rencana pegembangan pusat lelang ternak, maka
di Gede Bage ini akan dibangun juga Pasar Pusat
Pelelangan Ternak. Untuk itu diperlukan perencanaan
yang lebih lengkap, mengingat bahwa untuk pasar hewan
tentu ada prasarana dan sarana khusus yang harus
disiapkan, seperti tempat pemeriksaan kesehatan ternak,
kandang, pool kendaraan pengangkut dll.
b. Redevelopment
kawasan
Pasar
Andir,
Pasar
Kiaracondong, Pasar Ciroyom, Pasar Ujungberung juga
pasar-pasar khusus seperti pasar Jatayu, Cikudapateuh,
dsb.
c. pengaturan dan penataan pasar yang masih sesuai dengan
peruntukannya di seluruh kecamatan.
d. Relokasi pasar lingkungan kelurahan/ kecamatan dan
sekitarnya yang sudah tidak sesuai lagi peruntukannya
dalam rencana tata ruang kota. Pasar-pasar tersebut antara
lain Pasar Suci, Pasar Kordon, Pasar Balubur, Pasar
Simpang, Pasar Gandok, Pasar Gegerkalong, Pasar
Palasari, Pasar Sukajadi.
e. Pengaturan kegiatan perdagangan grosir di Jalan SukarnoHatta, termasuk Pasar Induk Caringin dan Gedebage.

2. Pusat Belanja
Pusat perbelanjaan sudah cukup banyak di Kota Bandung.
Sampai dengan tahun 2001 jumlah pusat perbelanjaan lk. 90
buah dengan lokasi berkonsentrasi di wilayah Bandung lama,
hampir 90 % dan kurang berkembang di wilayah perluasan.
Karena itu perkembangan pusat perbelanjaan di wilayah
Bandung Barat harus dikendalikan dan diarahkan ke wilayah
Bandung Timur, yaitu wilayah Ujung Berung dan Gedebage.
Selain itu perkembangan pusat perbelanjaan yang cenderung
linier sepanjang jalan arteri dan kolektor juga harus
dikendalikan mengingat perkembangan linier cenderung
memicu terjadinya kemacetan.
3. Pertokoan
Pertokoan adalah pelayanan perdagangan berdiri sendiri atau
secara kelompok. Pertokoan secara kelompok biasanya
berkembang secara linier mengikuti jalur jalan utama kota
melengkapi kegiatan perkotaan lain, seperti pendidikan,
perkantoran dan perdagangan lainnya.
Bentuk lain berkembangnya pertokoan di Kota Bandung
adalah berkembangnya Factory Outlet (FO) atau toko pakaian
jadi yang semakin menarik pendatang/wisatawan untuk datang
ke Kota Bandung, keberadaan FO ini bisa menguntungkan
Kota Bandung karena bisa menjadi tujuan wisata belanja dan
menyerap tenaga kerja. Akan tetapi sebagian besar
keberadaan FO tidak mempunyai ijin perdagangan dan mulai
menginfiltrasi (penetrasi) kelingkungan perumahan, sehingga
menambah kesemrawutan kota Bandung.

berbagai pihak dalam tubuh pemerintahan dari tingkat walikota


hingga RT. Oleh karena itu, dalam pengelolaannya,
menyangkut tugas pokok dan fungsi instansi terkait.
Menjamurnya PKL terutama di pusat-pusat perdagangan dan
pusat kota, misalnya di sekitar Jalan Oto Iskandardinata dan
Kawasan Inti Pusat Kota. Jika PKL ini tidak segera mendapat
penanganan yang serius maka akan menimbulkan masalahmasalah perkotaan lain diantaranya adalah kesemrawutan kota
dan kemacetan lalulintas. Rencana penanganan PKL Kota
Bandung dilakukan dengan penetapan lokasi-lokasi kegiatan
perdagangan informal yang tidak mengganggu kepentingan
umum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
D. Jasa
Jasa yang dimaksud dalam pembahasan ini meliputi jasa keuangan
(bank, asuransi, keuangan non bank, pasar modal), jasa pelayanan
(komunikasi, konsultan, kontraktor), jasa profesi (pengacara,
dokter praktek, psikolog), jasa perdagangan (ekspor-impor dan
perdagangan berjangka) dan jasa pariwisata (agen dan biro
perjalanan serta penginapan)

Perkembangan pertokoan linier sepanjang jalan dan di


lingkungan perumahan harus dikendalikan.

Rencana pengembangan kawasan kegiatan jasa ini adalah :


1. Mengembangkan dan memprioritaskan kegiatan jasa
profesional, jasa perdagangan, jasa pariwisata, dan jasa
keuangan ke wilayah Bandung Timur.
2. Memprioritaskan pengembangan kegiatan jasa profesional, jasa
perdagangan, jasa pariwisata, dan jasa keuangan di pusat-pusat
sekunder wilayah Bandung Timur, pusat sekunder di Sadang
Serang, dan sisi jalan arteri primer dan arteri sekunder sesuai
dengan peruntukannya.
3. Membatasi konsentrasi perkantoran jasa di wilayah Bandung
Barat, khususnya kawasan inti pusat kota.

4. PKL (Pedagang Kaki Lima)


Persoalan mengenai PKL yang muncul di Kota Bandung adalah
kondisinya yang berjumlah banyak, tidak tertampung, tidak
dikelola dengan baik dan sebagian dari para PKL tersebut
bukan warga Bandung. Pengelolaan PKL akan menyangkut
aspek kependudukan (dalam hal pencatatan status
kependudukan) dan aspek ekonomi (khususnya terkait dengan
usaha kecil dan informal). Permasalahan PKL ini ditangani oleh

E. Pendidikan
Secara kuantitas kebutuhan fasilitas pendidikan telah memenuhi
kebutuhan penduduk kota Bandung, bahkan wilayah-wilayah
diluar Kota Bandung. Khusus untuk keberadaan fasilitas pendidikan
tinggi di Kota Bandung, hal ini dapat menjadi potensi jasa sekaligus
juga dapat menimbulkan permasalahan perkotaan. Contoh
permasalahan yang terjadi adalah keberadaan kegiatan pendidikan
tinggi menjadi salah satu penarik migrasi yang tinggi dari luar Kota

59

Rencana Tata Ruang

Walaupun cukup berpotensi perkembangan pendidikan ini perlu


pengarahan lokasinya, yaitu :
1. Membatasi lokasi pendidikan dasar dan menengah, serta
pendidikan non-formal yang ada di wilayah Bandung Barat.
2. Membatasi pengembangan perguruan tinggi di wilayah
Bandung Barat pada lokasi-lokasi yang telah berkembang,
dengan mewajibkan memenuhi penyediaan prasarana dan
parkir yang memadai. Lokasi aglomerasi di Kawasan Lembah
Cikapundung (Tamansari Siliwangi CihampelasWastukencana), sekitar Jl. PHH Mustopa, Ciumbeuleuit,
Ir.H.Juanda (Dago), Dipati Ukur dan Setiabudhi dikendalikan
perkembangannya karena telah berdampak pada kelancaran
arus lalu-lintas.
3. Mengembangkan pendidikan tinggi di wilayah Bandung Timur
dengan prasarana dan sarana pendukung yang memadai.
Pengembangan sarana dan prasarana pendukung pendidikan
tinggi di wilayah BandungTimur ini untuk mendukung dan
memanfaatkan daya tarik Kawasan Pendidikan Tinggi di
Jatinangor. Sarana dan prasarana ini dapat berupa balai
penelitian, asrama, pertokoan dsb. Selain itu peningkatan
dukungan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di
pusat konsentrasi pendidikan tinggi tersebut berada, diarahkan
sebagai primadona potensi jasa dan potensi ekonomi kota
4. Merelokasikan
kegiatan pendidikan yang tidak mampu
menyediakan prasarana, sarana, dan parkir, dan/atau tidak
sesuai lagi lokasinya.
5. Mempertahankan balai penelitian dan pusat penelitian yang
sudah ada, dan mengembangkan yang baru pada lokasi
konsentrasi pendidikan tinggi terdekat.
F. Kesehatan
Rumah sakit di Kota Bandung merupakan sarana kesehatan

60

pelayanan regional (tidak hanya melayani penduduk Kota Bandung


saja, akan tetapi melayani penduduk Kabupaten Bandung dan
kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Barat). Bahkan Rumah Sakit
Hasan Sadikin direncanakan akan di tingkatkan dan dikembangkan
menjadi fasilitas kesehatan yang melayani skala nasional dan
internasional
(RSHS sebagai Teaching Hospital skala
internasional).
Permasalahan fasilitas kesehatan ini, terutama untuk fasilitas
kesehatan rumah sakit adalah sebarannya yang terkonsentrasi di
wilayah Bandung Barat. Oleh sebab itu rencana pengembangan
fasilitas kesehatan adalah:
1. Membatasi fasilitas kesehatan di wilayah Bandung Barat pada
lokasi yang sudah ada.
2. Mengarahkan pengembangan fasilitas kesehatan di wilayah
Bandung Timur.
3. Mempertahankan dan meningkatkan prasarana dan sarana
pendukung fasilitas kesehatan yang ada agar tingkat pelayanan
setiap jenis fasilitas kesehatan dapat lebih optimal. Sarana dan
prasarana pendukung di sini di antaranya adalah sekolah
keperawatan yang lokasinya direncanakan berdekatan dengan
rumah sakit dan prasarana pengolahan limbahnya perlu
mendapat perhatian khusus, karena sifat limbahnya yang
sangat berbahaya bagi penduduk kota.
4. mewujudkan keseimbangan penyebaran prasarana dan sarana
pendukung fasilitas kesehatan.
G. Industri dan Pergudangan
Sektor perindustrian yang akan dikembangkan di Kota Bandung
berupa sektor industri kecil dan menengah yang berwawasan
lingkungan, sehingga industri polutif harus keluar Kota Bandung.
Hal ini sesuai dengan visi dan misi Kota Bandung yang menuju
kota jasa, hal ini juga dengan mempertimbangkan kondisi fisik Kota
Bandung sudah tidak mungkin dikembangkan industri berat
khususnya yang tidak berwawasan lingkungan seperti yang rakus
air, berpolusi udara tinggi, dll.
Rencana untuk pengembangan kawasan industri dan pergudangan
ini adalah sebagai berikut :
1. Industri kecil dan menengah berwawasan lingkungan yang ada
di lingkungan permukiman dapat dipertahankan selama tidak
menimbulkan dampak negatif.

2. Industri yang tidak berwawasan lingkungan dan menimbulkan


dampak terhadap lalu lintas dan jaringan jalan harus keluar dari
kota secara bertahap.
3. Lokasi industri tidak berwawasan lingkungan diarahkan untuk
menjadi industri berwawasan lingkungan atau dialihfungsikan
menjadi kegiatan jasa.
4. Kawasan pergudangan di wilayah Bandung Barat dibatasi, dan
diarahkan untuk dikembangkan ke wilayah Bandung Timur.
H. Pariwisata dan Rekreasi
Pengembangan kegiatan pariwisata dan rekreasi yang
direncanakan mencakup obyek wisata dan rekreasi, serta sarana
pariwisata dan rekreasi.
Obyek wisata dan rekreasi yang dikembangkan meliputi wisata
bangunan bersejarah, wisata belanja, wisata pendidikan, wisata
budaya, wisata konferensi dan obyek rekreasi.
Rencana pengembangan kegiatan pariwisata dan rekreasi ini
adalah sebagai berikut :
1. Mempertahankan kawasan dan bangunan bersejarah yang
ada;
2. Mengembangkan obyek wisata belanja baru di wilayah
Bandung Timur;
3. Mempertahankan obyek wisata pendidikan yang ada;
4. Mempertahankan obyek wisata budaya di lokasi yang ada, dan
mengembangkan obyek wisata baru di wilayah Bandung
Timur;
5. Mengembangkan sarana konferensi ke arah wilayah Bandung
Timur. Yang dimaksud sarana konferensi adalah sarana untuk
mendukung pengembangan pariwisata dengan konsep MICE,
di antaranya adalah convention hall, hotel internasional dengan
ruang sidang berskala internasional, dll.
6. Mempertahankan obyek rekreasi yang ada dan
mengembangkan obyek rekreasi baru di wilayah Bandung
Timur.
Untuk obyek wisata dan rekreasi yang merupakan tempat hiburan
khusus Yang dimaksud dengan tempat hiburan khusus meliputi
bar, pub, panti pijat, karaoke, mesin ketangkasan, diskotik, kelab
malam, diluar fasilitas yang melekat pada fungsi kegiatan lain
seperti hotel dsb harus dikendalikan, dibatasi dan/atau dilarang.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

(Luar Jawa). Oleh sebab itu dalam kebijaksanaan Bandung


Metropolitan Area (BMA) fasilitas pendidikan perguruan tinggi
sebagian akan direlokasikan di daerah Jatinangor. Dalam
pelaksanaan rencana tersebut diperlukan kerjasama antara
pemerintah daerah dengan Kopertis, khususnya dalam perijinan
pembangunan perguruan tinggi agar tidak mengganggu tata ruang
kota. Lokasi fasilitas perguruan tinggi ini masih menyebar di
kawasan Bandung Barat. Hal ini menambah kecenderungan
pengkonsentrasian penduduk di bagian Barat Kota Bandung.

Rencana Tata Ruang


keselamatan penerbangan dan desain estetika kota secara
vertikal dan keserasian lingkungan.

Rencana sistem transportasi Kota Bandung terdiri dari :


1. Rencana pengembangan transportasi jalan
2. Rencana pengembangan angkutan umum
3. Rencana pengembangan bandar udara
4. Rencana pengembangan kereta api
Masing-masing rencana tersebut diuraikan berikut ini.

1. Penataan hirarki jalan untuk mendukung pengaturan perijinan


guna lahan.
2. Memelihara fungsi jaringan jalan primer dengan membatasi
jalan akses lokal dan pengendalian pemanfaatan ruang di
sepanjang jaringan jalan.
3. Meningkatkan fungsi jaringan jalan yang sudah ada dan
pembangunan jaringan jalan baru untuk peningkatan kapasitas
jaringan jalan.
4. Mengembangkan jalan-jalan penghubung yang diprioritaskan,
yaitu: dibukanya lintas utara-selatan dan barat-timur.
5. Mengembangkan jalan bebas hambatan dalam kota yang layak
ditinjau dari pertimbangan teknis, pembiayaan, ekonomi kota
dan pemerintah kota, lingkungan, hukum, politik, dan sosial
dan menguntungkan. Yang dimaksud dengan menguntungkan
disini adalah memberikan keuntungan bagi investor,
pemerintah kota, masyarakat pemakai, dan masyarakat yang
terkena dampak pembangunan jalan tersebut.
6. Melengkapi rambu dan marka jalan pada seluruh ruas jalan
kota dalam rangka meningkatkan keamanan dan ketertiban lalu
lintas.
7. Membangun jalan-jalan tembus sebagai jalan alternatif untuk
melengkapi hirarki jalan.
8. Membatasi lalu lintas angkutan barang yang masuk ke kota.
9. Melarang lalu lintas angkutan berat masuk ke kota.
10. Penetapan disinsentif berupa biaya dampak pembangunan bagi
kegiatan-kegiatan yang menimbulkan gangguan bagi
kepentingan umum, seperti kemacetan, kebisingan,
keselamatan, keindahan, bau, dan gangguan lainnya.
11. Penyediaan lahan dan atau gedung parkir di pusat-pusat
kegiatan.
12. Menghilangkan secara bertahap kegiatan parkir di badan jalan
khususnya pada kawasan-kawasan rawan macet.

4.3.1 Rencana Pengembangan Transportasi Jalan

4.3.2 Rencana Pengembangan Angkutan Umum

Rencana pengendalian dan/atau pembatasan kegiatan pariwisata


dan rekreasi adalah pengalokasian pada lokasi tertentu serta
pelarangan pada lokasi sekitar kegiatan peribadatan, pendidikan
dan permukiman penduduk. Rencana kawasan pariwisata dan
rekreasi dapat dilihat pada Gambar 4.9.

Aturan KDB dan KLB maksimum untuk setiap rencana


penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 4.5.

I. Pertahanan dan Keamanan

4.2.4 Pengaturan Garis Sempadan dan Kapling Bangunan

Kondisi eksisting dari kawasan kegiatan Pertahanan dan Keamanan


adalah terkonsentrasi di wilayah Bandung Barat, yaitu berada di
WP Cibeunying dan WP Karees. Pengembangan kawasan
kegiatan Pertahanan dan Keamanan ini direncanakan sebagai
berikut :
1. Mempertahankan perkantoran dan instalasi Pertahanan dan
Keamanan yang ada.
2. mengamankan kawasan,perkantoran dan instalasi Pertahanan
dan Keamanan yang baru sesuai dengan rencana tata ruang
pertahanan keamanan.

Sempadan bangunan merupakan pengaturan jarak antar bangunan


(sempadan muka bangunan, samping bangunan dan sempadan
belakang bangunan) dan bangunan dengan jaringan jalan. Garis
sempadan bangunan adalah batas dimana bangunan boleh
didirikan, dihitung dari batas persil terluar. Tujuan pengaturan garis
sempadan bangunan selain menciptakan keteraturan bangunan
juga memperkecil resiko penjalaran bahaya kebakaran,
memperlancar aliran udara segar, penyinaran matahari dan
estetika lingkungan.

4.2.3 Rencana Intensitas Bangunan


Intensitas bangunan yang diatur meliputi koefisien dasar bangunan
dan koefisien lantai bangunan.
1. Koefisien Dasar Bangunan
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) merupakan persentase
berdasarkan perbandingan antara luas lantai dasar bangunan
terhadap luas persil atau tapak perencanaan yang dikuasai.
Penetapan nilai KDB di Kota Bandung akan
mempertimbangkan pada karakteristik dan daya dukung
wilayah, guna lahan yang direncanakan serta lebar dan kelas
jalan yang direncanakan. Salah satu pertimbangan dalam
penentuan KDB dalam arahan pengembangan kegiatan antara
lain dalam rangka penyediaan ruang parkir yang memadai.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

2. Koefisien Lantai Bangunan


Koefisien Lantai Bangunan (KLB) merupakan besaran ruang
yang dihitung dari perbandingan antara luas seluruh lantai
bangunan terhadap luas persil atau tapak perencanaan yang
dikuasai. Penetapan nilai KLB di Kota Bandung akan
mempertimbangkan pada karakteristik dan daya dukung
wilayah, dalam batas daya dukung prasarana (jalan dan air
bersih) serta sesuai dengan fungsi guna lahan yang
direncanakan. Pertimbangan lain dalam penentuan KLB adalah

Secara umum pengaturan garis sempadan bangunan di Kota


Bandung akan didasarkan pada Perda No. 14 Tahun 1998,
dimana penerapan peraturan garis sempadan tersebut akan
berlaku secara umum pada kota-kota di Indonesia. Agar lebih
optimal dalam pengendalian dan pengawasan pembangunan maka
penetapan garis sempadan harus didasarkan pada peraturan
daerah.
4.3 Rencana Sistem Transportasi

Pada dasarnya rencana pengembangan transportasi jalan meliputi


4 (empat) hal yaitu berkaitan dengan fungsi dan hirarki jalan,
kapasitas jalan, pengembangan jalan alternatif dan ketersediaan
fasilitas parkir.
Berkaitan dengan 4 (empat) hal tersebut diatas, maka rencana
pengembangan transportasi jalan adalah sebagai berikut :

Pengembangan angkutan umum yang direncanakan berkaitan


dengan pengembangan jenis armada angkutan umum dan
penataan lintasan pelayanannya, penyediaan angkutan umum
massal, penataan ulang sistem terminal dan pelayanan angkutan
paratransit. Lebih rincinya, rencana pengembangan angkutan
umum ini adalah sebagai berikut :

61

62

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang


Tabel 4.5
Rencana Pengaturan KDB Dan KLB Maksimum

Fungsi
Kawasan Lindung
Kawasan Budidaya
Perumahan
Bangunan Tinggi

KDB Maksimum
KLB Maksimum
Fungsi Jalan
Fungsi Jalan
Arteri Kolektor Lokal Arteri Kolektor Lokal
2%
2%
2% 0,02
0,02 0,02
20%

15%

4,0

2,4

1,5 !
!
!
1,25
!

25%

25%

25%

1,25

1,25

! Kepadatan Bangunan Tinggi

60%

70%

80%

1,2

1,4

1,6

! Kepadatan Bangunan Sedang

50%

60%

60%

1,2

1,2

1,2

! Kepadatan Bangunan Rendah


Wilayah Bandung Utara
Luas > 10.000 m2
Luas > 5.000 m2
Luas 1.000 5000 m2
Luas min 200 1.000 m2
Pusat Primer

40%
20%
25%
25%
50%
60%
50%

50%
20%
40%
40%
50%
60%
50%

60%
20%
50%
50%
50%
60%
50%

1,2
0,6
2,0
2,0
1,5
1,2
4,0

1,2
0,6
1,6
1,6
1,5
1,2
3,0

1,2
0,4
1,5
1,5
1,2
1,2
2,0

Pusat Sekunder
Luas 5000 m2

50%
40%

50%
50%

50%
50%

3,0
1,6

2,5
1,5

Grosir

50%

2,0

2,0 Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
1,2 Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
! Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
x
! Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
! Batas tinggi bangunan maksimum adalah pada bidang kemiringan 45% dari as jalan.

Bangunan Rendah:

Pemerintahan
Perdagangan

Industri

Hanya untuk prasarana dan sarana vital

25%

Bangunan Sedang

Jasa

Keterangan

Eceran aglomerasi (pusat


belanja/mall)
Eceran aglomerasi (linier)
Eceran tunggal/toko
Pusat Primer
Pusat Sekunder

50%

60%

2,0

1,8

50%
50%
70%
70%

60%
60%
70%
70%

x
60%
70%
60%

1,5
1,0
2,8
2,8

0,9
0,9
2,1
2,1

x
0,6
1,4
1,4

Besar

40%

1,2

Sedang
Kecil
Rumah tangga

40%
-

40%
60%
60%

x
60%
60%

1,2
-

0,8
1,2
1,2

Perguruan
Tinggi

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Fasilitas sosial/
Fasilitas umum

50%

50%

2,0

1,0

50%

50%

60%

1,0

1,0

Bangunan tinggi adalah bangunan dengan tinggi lebih dari 8 lantai (misalnya untuk apartemen).
Bangunan sedang adalah bangunan dengan tinggi antara 4-8 lantai (misalnya rumah susun/flat).
Batas tinggi bangunan maksimum adalah pada bidang kemiringan 45% dari as jalan.
Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
Bangunan dengan tinggi maksimum 3 lantai.
Kepadatan bangunan rata-rata lebih dari 40 bangunan/Ha, kepadatan penduduk rata-rata di
atas 200 jiwa/Ha
Kepadatan bangunan rata-rata 10-40 bg/Ha, kepadatan penduduk rata-rata maksimum 200
jiwa/Ha
Kepadatan bangunan rata-rata kurang dari 15 bg/Ha, kepadatan penduduk rata-rata 75 jiwa/Ha
Kepadatan bangunan rata-rata kurang dari 10 bg/Ha, kepadatan penduduk rata-rata 50 jiwa/Ha
! Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
! Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
! Batas tinggi bangunan maksimum adalah pada bidang kemiringan 45% dari as jalan.

Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
x dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
x
1,2
1,2
! Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
x
! Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
! Batas tinggi bangunan maksimum adalah pada bidang kemiringan 45% dari as jalan.
! Permohonan pembangunan harus melalui pengkajian rancangan (design review) yang menilai
dampak pembangunan tersebut terhadap berbagai aspek yang berkaitan
0,6
! Prasarana harus disediakan sesuai standar teknis, terutama kebutuhan parkir
! Batas tinggi bangunan maksimum adalah pada bidang kemiringan 45% dari as jalan.

63

Rencana Tata Ruang

64

ojek. Sebagai kota jasa, maka kriteria minimum kelengkapan


dan pelayanan minimum bagi seluruh angkutan umum kota
bandung harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
4.3.3 Rencana Pengembangan Bandar Udara
Rencana pengembangan bandar udara adalah :
1. Peningkatan pelayanan bandar udara dengan perbaikan
lingkungan sekitar agar memenuhi persyaratan keselamatan
penerbangan internasional dan pelayanan angkutan dari dan
ke bandara (internal kota). Peningkatan bandara ini penting
karena bandara merupakan salah satu potensi etalase bagi kota
jasa bandung.
2. Menetapkan kawasan aman bagi jalur penerbangan dengan
pembatasan ketinggian bangunan di sekitar kawasan bandar
udara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Meninjau kembali fungsi bandara Husein Sastranegara sampai
terbangun dan berfungsinya bandara pengganti.
4.3.4 Rencana Pengembangan Kereta Api
Rencana pengembangan kereta api adalah :
1. Pemantapan stasiun kereta api Kebon Kawung dan
Kiaracondong sebagai stasiun regional dan pembangunan
stasiun kereta api baru dalam rangka pengembangan terminal
terpadu di Primer Pusat Gedebage. Selain itu pengembangan
double track ke terminal Terpadu Gedebage, antara
Padalarang/CimindiRancaekekCicalengka
2. Menghilangkan kegiatan yang mengganggu lalu lintas kereta api
disepanjang jalur kereta api.
3. Meningkatkan keamanan perlintasan kereta api dengan lalu
lintas moda lain melalui perbaikan dan pemeliharaan pintu
perlintasan atau mengupayakan pembangunan perlintasan
tidak sebidang. Pembangunan perlintasan tidak sebidang (fly
over) di beberapa perlintasan KA untuk mengurangi
kemacetan lalulintas dan kecelakaan, khususnya di perlintasan
Jl. Kiaracondong, Jl. A.Yani, Jl. Sunda, Jl. Braga, Jl.
Otoiskandardinata, Jl. Arjuna, Jl. Garuda. Pembangunan
perlintasan tidak sebidang (fly over) dilaksanakan pula pada
persimpangan dengan volume lalu lintas tinggi, terutama di
lokasi pada jalan arteri primer seperti simpang Jalan. Buah
Batu, Jalan Moch. Toha dan lain-lain.

4.4 Sarana dan Prasarana Kota


4.4.1 Air Bersih
Dengan menggunakan standar kebutuhan air bersih sebesar 175
l/o/h dan cakupan daerah pelayanan sebesar 70% pada tahun
2008 dan 80% pada tahun 2013, maka air bersih minimal yang
harus disediakan adalah sebesar 4202 l/detik pada tahun 2008
dan 5690 l/detik pada tahun 2013.
Pada saat ini kapasitas produksi PDAM baru mencapai 2200 l/det,
hal ini berarti hingga tahun 2008 diperlukan tambahan kapasitas
sebesar 2002 l/det dan hingga tahun 2013 diperlukan tambahan
kapasitas sebesar 3490 l/det. Sementara itu pada saat ini aliran air
tanah alami di Kota Bandung yang dapat dimanfaatkan hanya
sebesar 447 l/det. Hal ini menunjukkan perlunya penggunaan
sumber air baku yang berasal dari aliran permukaan.
Rencana pengembangan prasarana air baku dan air bersih adalah
sebagai berikut:
1. Mengendalikan debit air limpasan pada musim hujan dan
penggunaan air tanah. Pada saat ini, banyak daerah-daerah di
Kota Bandung yang tergenang pada saat musim hujan, namun
mengalami kekeringan pada musim kemarau. Langkah untuk
mengendalikan debit air limpasan pada musim hujan, dan
mempergunakannya pada musim kemarau merupakan
langkah yang cukup penting untuk mencapai dua tujuan, yaitu
pengendalian banjir dan penyediaan air pada musim kemarau.
Penggunaan air tanah secara liar, baik untuk keperluan
domestik maupun industri, menyebabkan penggunaan air
tanah secara tidak terkendali. Bila hal ini tidak dikendalikan,
maka akan terjadi kerusakan lingkungan dan penurunan muka
air tanah. Oleh karena itu penggunaan air tanah perlu
dikendalikan.
2. Meningkatkan cakupan wilayah pelayanan distribusi air bersih
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk seluruh wilayah
Kota Bandung. Upaya peningkatan cakupan pelayanan ini akan
dilaksanakan secara bertahap, hingga akhirnya pada tahun
2013 seluruh wilayah Kota Bandung sudah dapat dilayani oleh
sistem publik, dengan tetap memperhatikan kecukupan
kuantitas dan persyaratan kualitas. Upaya pengembangan
sistem publik ini dapat pula dilakukan dengan bekerjasama

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Penataan rute angkutan umum dalam rangka meningkatkan


distribusi pelayanan serta efisiensi penggunaan jalan.
1. Pemisahan antara moda angkutan dalam kota dan luar kota.
2. Pengembangan sistem angkutan umum massal (saum) yang
dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar, yang
beroperasi secara cepat, nyaman, aman, terjadwal dan
berfrekuensi tinggi pada koridor-koridor utama (jalur primer)
berbasis rel atau jalan raya. Dalam hal ini angkot diarahkan
sebagai angkutan pengumpan (feeder) untuk moda angkutan
dengan hirarki yang lebih tinggi (mikro bus) dan diteruskan
kepada jalur jalur primer (trunk route) yang dilayani oleh
saum.
3. Pengembangan terminal untuk melayani pergerakan regional
dengan membangun terminal terpadu gedebage dan
membangun terminal tipe b di batas kota dengan penetapan
lokasi yang dikoordinasikan dengan pemerintah daerah yang
berbatasan.
4. Pengembangan terminal tipe c dengan pengaturan kembali
terminal untuk pergerakan lokal yang sudah ada.
5. Pengembangan terminal angkutan barang terpadu di gedebage
yang dilengkapi dengan pergudangan, perkantoran, pool
kendaraan dan terpadu dengan angkutan lanjutannya yaitu
kereta api.
6. Pemisahan pergerakan lokal dan regional dengan cara
penempatan terminal-terminal regional yang tidak
mengganggu arus pergerakan lokal, yaitu
a. Pergerakan regional ke arah barat (wilayah jabotabek) dan
timur (jawa tengah, jawa timur, dst) atau pergerakan antar
propinsi (akap) akan dilayani oleh terminal terpadu gede
bage.
b. Pergerakan intra-regional ke arah timur (antar kota dalam
propinsi akdp) akan dipindahkan dari terminal cicaheum
ke terminal terpadu gede bage, sedangkan akdp ke arah
barat dan selatan akan dilayani oleh terminal leuwipanjang.
c. Pergerakan intra-regional ke arah utara (kabupaten
subang) akan dilayani oleh terminal ledeng.
7. Penataan pelayanan angkutan paratransit yang berkualitas dan
terpadu dengan pelayanan angkutan umum lain. Angkutan
paratransit ini merupakan angkutan umum yang tidak
mempunyai lintasan dan waktu pelayanan yang tetap.
Termasuk dalam angkutan paratransit adalah taksi, becak dan

Rencana Tata Ruang


dengan pihak swasta dan masyarakat
3. Menurunkan tingkat kebocoran air sampai dengan 40% pada
tahun 2008 dan 35% pada tahun 2013. Pada saat ini tingkat
kebocoran air di Kota Bandung masih cukup tinggi. Tingkat
kebocoran yang cukup tinggi mengurangi kuantitas air yang
diterima oleh pelanggan dalam jumlah yang cukup signifikan.
Untuk itulah penurunan tingkat kebocoran air ini merupakan
langkah yang cukup penting dalam rangka mengefisienkan
pelayanan sistem publik
Rencana pelayanan air bersih seperti disebutkan diatas,
selanjutnya dijabarkan dalam Gambar 4.10. Berdasarkan rencana
tersebut, penyediaan air bersih yang berasal dari mata air
Cikareo, Sungai Cikapundung, Cipanjalu, dan pemanfaatan air
yang berasal dari Waduk Gedebage dapat mencapai 3070 l/detik.
Jumlah ini masih di bawah kebutuhan air pada tahun 2013,
sehingga masih terdapat kekurangan sebesar 420 l/detik.
Kekurangan sebesar ini dapat diminimasi melalui upaya
penghematan air dan menurunkan tingkat kebocoran air.
4.4.2 Air Kotor/Limbah Domestik
Berdasarkan hasil proyeksi dengan menggunakan standar
kebutuhan air bersih sebesar 173 l/o/h dan 80% dari air bersih
yang dikonsumsi akan menjadi air kotor, produksi limbah
domestik Kota Bandung tahun 2008 adalah sebesar 218638
m3/hari (dengan asumsi cakupan pelayanan sebesar 60%) dan
329864 m3/hari pada tahun 2013 (dengan asumsi cakupan
pelayanan sebesar 80%).

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Pada saat ini jaringan air kotor sistem terpusat hanya mampu
melayani 881.000 jiwa atau sekitar 38.6 juta m3/tahun atau
sebesar 105753.4 m3/hari, sementara IPAL Bojongsoang hanya
mampu melayani 420.000 jiwa atau sekitar 18.4 juta m3/tahun
atau 50410.96 m3/hari. Dengan memperhatikan angka-angka ini,
terlihat bahwa kondisi pelayanan publik dari air kotor masih jauh
dari yang dibutuhkan, sehingga perlu penambahan kapasitas
jaringan air kotor dan IPAL. Namun demikian, pengembangan
sistem publik prasarana air kotor ini tidak memungkinkan untuk
dikembangkan dalam jangka pendek, mengingat investasi yang
cukup besar, dan perbaikan kondisi air bersih lebih mendapatkan
prioritas, sehingga hingga tahun 2013 penanganan air limbah lebih
ditekankan pada pengoptimalan sistem yang sudah ada, dan

mengembangkan sistem individual dan komunal yang sudah


diarahkan pada sistem publik.
Rencana pengelolaan air kotor dan limbah cair di Kota Bandung
secara lebih detail adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan sistem setempat yang diarahkan pada sistem
publik bagi wilayah yang tidak terlayani saluran air limbah
terpusat. Saat ini tidak semua wilayah di Kota Bandung
terlayani oleh sistem terpusat, terutama di wilayah Bandung
Timur.
Wilayah yang tidak terlayani sistem terpusat
menggunakan sistem individu, berupa cubluk atau tanki septik.
Untuk daerah yang padat, sistem individu ini sebenarnya tidak
memenuhi syarat kesehatan. Oleh karena itu di daerahdaerah yang belum terlayani sistem terpusat, akan
dikembangkan sistem setempat, namun sistem ini sudah
didesain agar dapat disambungkan satu dengan yang lain,
sehingga dapat membentuk sistem terpusat di masa yang akan
datang. Pada saat ini wilayah Bandung Timur masih cukup
rendah kepadatan penduduknya, sehingga tidak ekonomis
apabila langsung dikembangkan sistem terpusat
2. Mengoptimalkan pelayanan sistem terpusat pada wilayahwilayah yang sudah dilayani sistem tersebut. Di wilayah
pelayanan sistem terpusat, masih terdapat juga rumah tangga
yang belum menjadi pelanggan dari sistem terpusat tersebut,
padahal kapasitas dari sistem jaringan (kecuali IPAL), masih
cukup memadai. Mengoptimalkan pelayanan sistem terpusat
dimaksudkan untuk memanfaatkan kapasitas sistem terpusat
yang belum dimanfaatkan.
3. Pengelolaan penanganan limbah cair dari kegiatan industri,
rumah sakit, hotel, dan restoran. Kegiatan industri dan rumah
sakit umumnya menghasilkan limbah berbahaya, yang
seharusnya diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan
air, sedangkan kegiatan hotel dan restoran umumnya tidak
menghasilkan limbah berbahaya, namun secara kuantitas
limbah yang dihasilkan cukup besar, sehingga diharapkan agar
hotel dan restoran mempunyai sistem pengelolaan limbah
tersendiri.
Untuk lebih jelas, rencana sistem air limbah dapat dilihat pada
Gambar 4.11.
4.4.3 Drainase
Rencana penataan jaringan drainase air hujan dibangun dengan

prinsip agar pengaliran air hujan di atas permukaan tanah (surface


run off) dapat secepatnya dialirkan menuju ke sungai/saluran
pembuangan, agar tidak terjadi genangan air hujan dan pengikisan
terhadap badan jalan. Terjadinya genangan dan banjir di Kota
Bandung pada umumnya disebabkan oleh beberapa hal:
1. Masih kurangnya drainase mikro, sementara drainase mikro
yang ada tidak optimal karena penyumbatan dan tidak
terintegrasi
2. Penurunan kapasitas drainase makro
Rencana pengembangan prasarana drainase adalah sebagai
berikut:
1. Menyempurnakan dan meningkatkan jaringan drainase mikro
yang ada serta mengembangkan jaringan drainase mikro yang
baru secara terpadu pada tempat-tempat yang belum
terlayani. Jaringan drainase mikro merupakan jaringan yang
terdapat di sisi kiri-kanan jalan atau drainase jalan. Pada saat ini
masih banyak jaringan drainase mikro yang tidak terhubungkan
satu dengan yang lain, sehingga perlu pengembangan jaringan
yang terpadu atau terintegrasi.
2. Meningkatkan fungsi pelayanan drainase makro. Drainase
makro umumnya berupa sungai atau anak sungai. Pada saat ini
banyak sungai di Kota Bandung yang fungsinya mengalami
penurunan, yang disebabkan karena penurunan kapasitas.
Penurunan kapasitas ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti
pembuangan sampah ke sungai dan erosi.
Rencana perbaikan jaringan drainase pada lokasi genangan banjir
dapat dilihat pada Gambar 4.12
4.4.4 Persampahan
Volume sampah yang dihasilkan di Kota Bandung berasal dari
kegiatan rumah tangga (domestik) dan berasal dari kegiatan fasilitas
sosial, perkantoran, pasar, pertokoan dan kegiatan lainnya (non
domestik). Dengan menggunakan standar produksi sampah
sebesar 2.5 l/o/h, produksi sampah di Kota Bandung pada tahun
2008 sebesar 7152 m3/hari dan pada tahun 2013 sebesar 7362
m3/hari. Dengan mengasumsikan bahwa cakupan pelayanan pada
tahun 2008 sebesar 80% dan pada tahun 2013 sebesar 90%,
maka timbulan sampah yang harus ditangani adalah sebesar 5206
m3/hari dan 6626 m3/hari. Sementara itu kapasitas TPA yang ada

65

Rencana Tata Ruang

Upaya pengelolaan sampah di Kota Bandung haruslah ditekankan


pada dua aspek, yaitu aspek demand, dengan cara mengurangi
produksi sampah, dan aspek supply, yaitu dengan meningkatkan
kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana. Secara lebih rinci,
upaya pengelolaan persampahan di Kota Bandung adalah sebagai
berikut:
1. Memanfaatkan teknik-teknik yang lebih berwawasan
lingkungan berdasarkan konsep daur ulang-pemanfaatan
kembali-pengurangan dalam pengolahan sampah di TPA yang
ada maupun yang akan dikembangkan.
2. Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampaan,
bergerak dan tidak bergerak, seperti TPS, TPA, kontainer, dan
truk.
3. Mengembangkan kemitraan dengan swasta dan kerjasama
dengan kabupaten dan kota sekitarnya yang berkaitan untuk
pengelolaan sampah dan penyediaan TPA.
Program pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar
4.13.

66

4.4.5 Pemadam Kebakaran

Tabel 4.6
Perkiraan Timbulan Sampah Domestik
Di Kota Bandung 2008 Dan 2013
Kecamatan
Wilayah Bojonegara
1 Kec. Andir
2 Kec. Sukasari
3 Kec. Cicendo
4 Kec: Sukajadi
Wilayah Cibeunying
5 Kec. Cidadap
6 Kec. Coblong
7 Kec. Bandung Wetan
8 Kec. Cibeunying Kidul
9 Kec. Cibeunying Kaler
10 Kec: Sumur Bandung
Wilayah Tegallega
11 Kec. Astana Anyar
12 Kec. Bojongloa Kidul
13 Kec. Bojongloa Kaler
14 Kec. Babakan Ciparay
15 Kec. Bandung Kulon
Wilayah Karees
16 Kec. Regol
17 Kec. Lenglong
18 Kec. Batununggal
19 Kec. Kiaracondong
Wilayah Ujungberung
20 Kec. Cicadas
21 Kec. Arcamanik
22 Kec. Ujungberung
23 Kec. Cibiru
Wilayah Gedebage
24 Kec. Bandung Kidul
25 Kec. Margacinta
26 Kec. Rancasari
Kota Bandung

2008
3

(M /Hari)

2013
(M3/Hari)

308,8
210,1
296,7
278,1

349,4
237,7
335,7
314,6

149,5
337,8
191,7
316,8
189,2
136,7

169,1
382,2
216,9
358,5
214,1
154,6

243,3
205,8
295,1
293,1
329,1

275,3
232,8
333,9
331,6
372,3

242,5
242,7
358,4
361,4

274,3
274,6
405,5
408,8

298,2
242,9
207,3
205,2

337,4
274,8
234,6
232,2

119,1
256,4
179,6

134,7
290,2
203,2

6495,5

7349,0

Rencana pengembangan sarana pemadam kebakaran adalah


menyebarkan pembangunan pos pemadam kebakaran di lokasi
yang strategis. Pembangunan pos pemadam kebakaran
dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tahap pertama
dikembangkan 2 pos pemadam kebakaran, yaitu:
1. Pos 1 terletak di Jl Sukabumi
2. Pos 2 terletak di Jl Arya Graha
Tahap kedua dikembangkan 14 pos pemadam kebakaran, yaitu:
1. Pos 3 terletak di sekitarJl Soekarno Hatta sebelah barat Pasar
Caringin
2. Pos 4 terletak di sekitar Jl Ciroyom
3. Pos 5 terletak di sekitar rumah makan Babakan Siliwangi
4. Pos 6 terletak di dekat PT Pindad di Jl Kiaracondong
5. Pos 7 terletak di sekitar Alun-alun Ujungberung
6. Pos 8 terletak di kelurahan Cibadak
7. Pod 9 terletak di UPI di Jl Setiabudhi
8. Pos 10 terletak di terminal Sadang Serang
9. Pos 11 terletak di lapangan kuda Arcamanik
10. Pos 12 terletak di Jl Moch. Toha sekitar Kelurahan Ciateul
11. Pos 13 terletak di Gedebage dekat Kecamatan Rancasari
12. Pos1 4 terletak di sekitar perumahan Cigondewah
13. Pos 15 terletak di perumahan Sukajadi
14. Pos 16 terletak di sekitar Kecamatan Sumur Bandung
Tahap selanjutnya adalah pembangunan 8 pos sisa yang
merupakan pos-pos pembantu untuk membantu pos yang telah
terbangun pada pos tahap I dan tahap II. Selain itu rencana
pengembangan sarana pemadam kebakaran ini adalah rencana
pengembangan fasilitas pendukung pemadam kebakaran, seperti
hidran dan tandon air.
4.4.6 Energi dan Telekomunikasi
Pada dasarnya seluruh wilayah Kota Bandung sampai tahun 2001
sudah terlayani aliran listrik. Namun demikian, permintaan akan
sambungan baru dan penambahan kapasitas, senantiasa akan terus
meningkat sebagai akibat dari dibukanya kawasan-kawasan
permukiman baru, peningkatan kegiatan perdagangan dan
kegiatan perkotaan lainnya.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

sebesar 3837899 m3. Dengan menggunakan asumsi bahwa


volume sampah yang dihasilkan dari tahun 2008 hingga 2013
adalah tetap, yaitu sebesar 2.4 juta m3/tahun, dan jumlah sampah
yang dihasilkan dapat direduksi hingga 70% dengan menggunakan
teknik-teknik pemadatan, pengomposan, dan daur ulang, maka
volume sampah yang tersisa di TPA dari tahun 2008 hingga 2013
adalah sebesar 3.6 juta m3. Angka 3.6 juta m3 ini sudah hampir
mendekati kapasitas TPA yang ada, yaitu sebesar lebih kurang 3.8
juta m3. Analisis ini belum mempertimbangkan volume sampah
yang dihasilkan sejak TPA dibuka hingga tahun 2008. Apabila
volume sampah tersebut dipertimbangkan, ada kemungkinan
bahwa untuk sepuluh tahun mendatang TPA yang ada sudah tidak
lagi dapat menampung sampah yang dihasilkan. Hal yang sama
juga berlaku untuk TPS. Pada saat ini terdapat 202 TPS dan 279
kontainer dengan volume 10 m3 dan 6 m3. Apabila diasumsikan
bahwa semua kontainer yang digunakan di TPS adalah kontainer
dengan volume 10 m3, maka TPS yang ada pada saat ini
mempunyai kapasitas 2790 m3. Pada tahun 2008 diperlukan
tambahan kapasitas sebesar 2416 m3 atau sama dengan 242
kontainer 10 m3, dan pada tahun 2013 diperlukan tambahan
kapasitas sebesar 1420 m3 (dari tahun 2008) atau 142 kontainer
10 m3 yang dapat disebarkan pada lokasi TPS yang ada atau TPSTPS baru.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

67

68

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

69

70

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Rencana Tata Ruang

Rencana Tata Ruang


Media telekomunikasi yang umumnya digunakan di Kota Bandung
yaitu berupa telepon, telex, faksimili yang mana segala
pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana telekomunikasi
tersebut dari segi kualitas dan kuantitas jumlah sambungannya
sepenuhnya disediakan oleh PT Telkom, yang merupakan salah
satu Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam pelayanan
jasa telekomunikasi.
Dalam kaitannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Bandung, hendaknya pelayanan dan pemasangan jaringan telepon
di masa mendatang akan mengikuti dan menyesuaikan dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah disusun agar dapat
mendukung sepenuhnya pola tata ruang sebagaimana telah
direncanakan. Namun demikian pihak PT. Telkom sendiri sejauh
ini telah menyusun rencana pengembangan pelayanannya, baik
dari segi persiapan teknik pemasangan maupun jumlah unit
sambungan yang akan terpasang.
Dari segi teknologi komunikasi, sekarang ini sudah berkembang
jaringan telepon tanpa kabel, sehingga tumbuhnya permintaan
baru akan cukup mudah untuk dipenuhi tanpa mengubah struktur
spasial dari infrastruktur lainnya.
Rencana pengembangan prasarana dan sarana energi dan
telekomunikasi adalah sebagai berikut:
1. Penambahan kapasitas jaringan listrik dan telekomunikasi
sesuai dengan arah pengembangan
2. Menyebarkan fasilitas telekomunikasi umum, seperti telepon
umum dan warung telekomunikasi di lokasi strategis.
4.4.7 Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Fasilitas sosial dan fasilitas umum akan ditempatkan di setiap pusatpusat permukiman (baik skala kelurahan, kecamatan, wilayah
maupun skala kota), sesuai dengan hirarki fasilitas sosial dan fasilitas
umum tersebut. Fasilitas sosial dan fasilitas umum berupa sarana
pemerintahan (kantor kecamatan/kelurahan), sarana kesehatan
(puskesmas, BKIA, apotik), perdagangan (pasar retail, toko, kios),
pendidikan (Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum) dan terminal
penumpang (berupa sub terminal). Rencana pengembangan
fasilitas sosial dan fasilitas umum tiap Wilayah Pengembangan
dapat dilihat pada Tabel 4.7

A. Pendidikan
Jumlah fasilitas pendidikan skala lingkungan
(TK, SD,
SLTP,SLTA) di Kota Bandung apabila dikaitkan dengan jumlah
minimum penduduk pendukung setiap tingkatan pendidikan
pada umumnya telah memadai terutama pada wilayah
Bandung lama. Berdasarkan persebaran fasilitas pendidikan,
maka lokasi fasilitas pendidikan yang ada pada saat ini masih
cukup dan dapat dipertahankan, sedangkan pada wilayah di
luar Bandung lama perlu penambahan seiring dengan
perkembangan jumlah penduduk. Sarana pendidikan
SD/sederajat, dan SLTP/sederajat tersebar cukup merata di
setiap pusat-pusat permukiman di Kota Bandung. Oleh sebab
itu yang perlu ditingkatkan dalam pengembangan sarana
pendidikan ini, selain kuantitas di wilayah Ujung Berung dan
Gedebage adalah peningkatan dan pemerataan kualitas
pelayanan pendidikan.
B. Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada di Kota Bandung apabila ditinjau
dari lingkup pelayanan lingkungan terdiri dari puskesmas,
puskesmas pembantu, balai pengobatan, BKIA/rumah bersalin,
apotek/toko obat dan praktek dokter yang berfungsi sebagai
sarana kesehatan skala lingkungan. Penyediaan sarana
kesehatan di Kota Bandung berupa peningkatan sarana dan
prasarana pendukungnya serta pemerataan distribusi fasilitas
kesehatan, terutama apotek dan tempat praktek dokter, agar
tingkat pelayanan setiap jenis fasilitas kesehatan dapat lebih
optimal baik untuk pelayanan skala kota, regional, maupun
nasional. Pelayanan jasa kesehatan dapat menjadi salah satu
bentuk jasa yang potensial ditawarkan oleh kota Bandung
dalam kapasitasnya sebagai kota Jasa, menimbang di kota
Bandung ini pendidikan tenaga Medis dan Paramedis telah
tersedia dengan cukup dalam kuantitas dan kualitas baik.
C. Pemerintahan / Pelayanan Umum
Sarana pemerintahan skala lingkungan (lokal) berupa kantor
pemerintahan kecamatan/kelurahan, LP3M (Lembaga
Pemberdayaan Pembangunan Masyarakat), pos pemadam
kebakaran, pos keamanan dan ketertiban, KUA/BP-4, pos
polisi (polsekta/koramil), dan pos/depo kebersihan. Sarana
pemerintahan lingkungan ini harus tersedia di masing-masing
wilayah administratif kecamatan/ kelurahan.

D. Perdagangan
Sarana perdagangan skala lingkungan disediakan berupa pasar
eceran (dapat berupa pasar tradisional tapi sebaiknya berupa
pasar tertutup) dan toko lingkungan. Kebutuhan sarana ini
memang besar sesuai dengan jumlah penduduk Kota Bandung
yang terus meningkat, namun penyediaannya harus
mempertimbangkan kondisi wilayah setempat, jangan sampai
penyediaannya dalam satu kecamatan/ kelurahan bertumpuk
dalam jumlah yang melebihi kebutuhan yang berakibat pada
persaingan tidak sehat dan gangguan terhadap tata ruang kota
secara keseluruhan. Sebagai contoh lokasi pasar yang terletak
di jalan kolektor atau arteri, ditambah dengan tidak tertatanya
PKL (Pedagang Kaki Lima) sekitar pasar dengan baik akan
berdampak kepada kemacetan lalu lintas dan bertumpuknya
sampah di ruas kolektor atau di ruas arteri tadi.
Oleh sebab itu masalah fasilitas perdagangan ini memerlukan
perhatian yang besar agar tercipta kondisi ruang kota yang
nyaman, aman dan indah. Dengan demikian penyediaan
sarana perdagangan ini untuk kota Bandung ditekankan pada
pengaturan dan pengendalian jumlah sarana ini di tiap
lingkungan (kelurahan/kecamatan) dengan tujuan agar
perekonomian tetap berkembang dengan merata dan
seimbang.
E. Peribadatan
Kota Bandung sebagai salah satu kota metropolitan di
Indonesia, menunjukkan keragaman etnis, ras serta agama
penduduknya. Ketersediaan fasilitas peribadatan di Kota
Bandung jika dilihat dari komposisi jumlah penduduk
berdasarkan agama, secara kuantitas sudah cukup memadai.
Sehingga penyediaan fasilitas peribadatan di Kota Bandung
lebih ditekankan pada peningkatan kualitas sarana dan
prasarananya, seperti rehabilitasi dan perawatan bangunan
tempat ibadah baik untuk tempat ibadah yang ada di bagian
Barat terlebih untuk yang ada di bagian Timur Kota Bandung.
4.5 Daya Tampung dan Daya Dukung Lingkungan
Daya tampung dan daya dukung lingkungan dipertimbangkan dan
dikembangkan dalam RTRW Kota Bandung ini sebagai
implementasi dari konsep governance untuk konteks kota (the
good urban governance) sebagaimana yang digariskan oleh
UNDP terutama berkaitan dengan konsep sustainable city.

71

Rencana Tata Ruang


Pada intinya, sustainable city ini berupaya meyakinkan hak bagi
keberlanjutan kehidupan (life sustaining) dan peningkatan kualitas
kehidupan (life enhancing) dari lingkungan alami bagi seluruh
masyarakat, untuk saat ini dan masa yang akan datang. Upaya
tersebut dilakukan melalui peningkatan daya dukung lingkungan
alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya tampung
lingkungan untuk menjaga proses pembangunan berkelanjutan.
Untuk recana daya dukung dan daya tampung lingkungan akan
mencakup:

1. Pengendalian pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam di


wilayah Utara Kota Bandung karena ada kecenderungan
perkembangan perumahan ke wilayah utara yang merupakan
kawasan lindung.
2. Pengendalian laju pertumbuhan penduduk terutama dari
migrasi/urbanisasi yang cenderung lebih besar dari
pertambahan penduduk alami. Selain itu kecenderungan
penduduk komuter dari sekitar Bandung perlu dikendalikan
dengan pengembangan kawasan perumahan mandiri di luar
Kota Bandung.

3. Pendistribusian penduduk sesuai dengan daya tampungnya,


mengingat kosentrasi penduduk masih di wilayah Bandung
lama sehingga kepadatannya sangat tinggi dan cenderung
kekurangan penyediaan prasarana dasar lingkungan.
4. Pengendalian pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi
penduduk sesuai dengan daya dukungnya.

Tabel 4.7
Jumlah dan Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Tiap WP Tahun 2013
Jenis Fasilitas
Pendidikan

TK
SD
SLTP
SLTA
Akademik
Kesehatan
Rumah Sakit C
Rumah Sakit
Poliklinik
Puskesmas
Posyandu
Apotik
Peribadatan
Langgar/ Mushola
Mesjid Lingkungan
Mesjid Raya
Mesjid Raya
Gereja
Vihara
Pura
Perekonomian Pusat Perbelanjaan
Pusat Perbelanjaan
Pasar
Toko
Bank
Rekreasi/
Gedung Bioskop
Taman/
Taman
Olah raga
Taman
Taman
Taman
Gedung olah raga
Gedung Pertunjukan
Tranpotasi
Terminal transit

Standar
Penduduk
(jiwa)
1.000
1.600
4.800
4.800
120.000
480.000
240.000
10.000
30.000
2.500
10.000
2.500
30.000
120.000
480.000
30.000
30.000
30.000
480.000
120.000
120.000
1.000
120.000
120.000
250
2.500
30.000
120.000
30.000
30.000
480.000

Jumlah Prasarana yang Dibutuhkan (unit)


Tambahan Kebutuhan Lahan untuk Prasarana (m2)
Standar
Luas
TegalUjung GedeKota
TegalUjung
GedeKota
Bojonagara Cibeunying
Karees
Bojonagara Cibeunying
Karees
(m2)
lega
Berung
bage
Bandung
lega
Berung
bage
Bandung
170
106
109
98
106
143
81
643
18020
18530
16660
18020
24310
13770
109310
1.100
67
69
61
67
89
50
403
73700
75900
67100
73700
97900
55000
443300
3.000
23
23
20
23
30
17
136
69000
69000
60000
69000
90000
51000
408000
3.000
23
23
20
23
30
17
136
69000
69000
60000
69000
90000
51000
408000
1
1
1
1
1
1
6
10.000
0
1
1
0
0
0
2
0
10000
10000
0
0
0
20000
3.000
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
3000
0
3000
200
11
11
10
11
14
7
64
2200
2200
2000
2200
2800
1400
12800
500
3
3
3
3
4
2
18
1500
1500
1500
1500
2000
1000
9000
200
43
44
39
43
57
32
258
8600
8800
7800
8600
11400
6400
51600
400
11
11
10
11
14
7
64
4400
4400
4000
4400
5600
2800
25600
300
43
44
39
43
57
32
258
12900
13200
11700
12900
17100
9600
77400
1.000
3
3
3
3
4
2
18
3000
3000
3000
3000
4000
2000
18000
2.000
1
1
1
1
1
1
6
2000
2000
2000
2000
2000
2000
12000
12.000
0
1
1
0
0
0
2
0
12000
12000
0
0
0
24000
1.000
3
3
3
3
4
2
18
3000
3000
3000
3000
4000
2000
18000
1.000
3
3
3
3
4
2
18
3000
3000
3000
3000
4000
2000
18000
1.000
3
3
3
3
4
2
18
3000
3000
3000
3000
4000
2000
18000
36.000
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
36000
0
36000
10.000
0
0
0
0
1
1
2
0
0
0
0
10000
10000
20000
10.000
1
1
1
1
1
1
6
10000
10000
10000
10000
10000
10000
60000
100
106
110
98
106
143
80
643
10600
11000
9800
10600
14300
8000
64300
1
1
1
1
1
1
6
0
0
0
0
0
0
0
3.000
1
1
1
1
1
1
6
3000
3000
3000
3000
3000
3000
18000
250
427
439
391
426
572
321
2576
106750
109750
97750
106500
143000
80250
644000
1.250
43
44
39
43
57
32
258
53750
55000
48750
53750
71250
40000
322500
9.000
3
3
3
3
4
2
18
27000
27000
27000
27000
36000
18000
162000
24.000
1
1
1
1
1
1
6
24000
24000
24000
24000
24000
24000
144000
750
3
3
3
3
4
2
18
2250
2250
2250
2250
3000
1500
13500
3
3
3
3
4
2
18
0
0
0
0
0
0
0
8.000
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

72

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung

2013

Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2003