Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Oleh:
Nama

: Ahmad Kuswantoro

NPM

: E1G014084

Prodi

: Teknologi Industri Pertanian

Kelompok

: (3) Tiga

Hari/Jam

: Rabu/08.00-10.00

Tanggal

: 12 November 2014

Ko-Ass

:1. M.Saehroni
2. Suprapti Widayati

Dosen

:1. Dra. Devi Silsia, M.Si


2. Drs. Syafnil. M.Si

Objek Praktikum:

: CARA-CARA MENYATAKAN KONSENTRASI

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu kimia larutan merupakan pokok yang sangat penting. Karena
hampir dari semua reaksi kimia terjadi dalam bentuk larutan. Larutan
didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang
terdispersi dengan baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapat berpariasi. Larutan juga di definisikn gabungan antara pelarut dan terlarut.
Larutan pada dasarnya itu adalah fase yang homogen yang mengandung lebih
dari satu komponen. Yaitu komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut
pelarut atau solvent. Yaitu Sedangkan komponen dalam jumlah sedikit disebut zat
terlarut atau solute dan Konsentrasi dalam suatu larutan didefinisikan sebagai
jumlah solute yang ada dalam sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi juga
dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Antara lain molaritas, molalitas,
normalitas dan sebagainya.

1.2 Tujuan
Dalam praktikum ini brtujuan untuk:
1. Menjelaskan berbagai satuan konsentrasi larutan
2. Mampu membuat larutan pada berbagai konsentrasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan
konsentrasi. Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah
pelarut, dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah
volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan
konsentrasi, yaitu fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah
dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004).
Larutan dapat didefenisikan sebagai campuran homogen antara dua zat
atau lebih. Dalam larutan (solution) dikenal dua macam unsur, yaitu zat terlarut
(solute) dan zat pelarut (solvent). adapun larutan di dalam air dinamakan aqueous
solution. biasanya kita mengambil zat yang banyak sebagai pelarut dan yang
sedikit sebagai zat terlarut.
(Sunaryo,2001)
Karena fase yang ada berupa zat padat, cair, dan gas, maka dikenal ada
sembilan kemungkinan larutan. adapun larutan yang penting adalah : gas dalam
cair, cair dalam cair,dan padat dalam cair. adapun di dalam praktikum hanya akan
dibahas larutan cair dalam cair.( Sukardjo, 1990 )
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu
larutan. apabila zat terlarut banyak sekali, sedangkan zat pelarutnya sedikit, maka
dapat dikatakan bahwa larutan itu pekat atau konsentrasinya sangat tinggi.
sebaliknya bila zat yang terlarut sedikit sedangkan pelarutnya sangat banyak,
maka dapat dikatakan bahwa larutan itu encer atau konsentrasinya sangat rendah.
(Hiskia,1996)
Konsentrasi dari larutan dapat dinyatakan dengan bermacam-macam cara.
Cara-cara ini dapat dibagi dua, yaitu Massa zat terlarut dalam sejumlah massa
pelarut atau larutan dan Massa zat terlarut dalam sejumlah volume larutan.
Masing-masing mempunyai keuntungan, karena konsentrasi di sini tidak
dipengaruhi temperatur. ( Sukardjo, 1990 )
Campuran zat-zat yang homogeny disebut larutan, yang memiliki
komposisi merata atau serba sama di seluruh volumenya.

Suatu larutan

mengandung satu zat terlarut atau lebih dari satu pelarut. Zat terlarut merupakan
komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponene yang
terdapat dalam jumlah yang banyak. Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat
terlarut pada temperatur tertentu disebut larutan jenuh. Sebelum mencapai titik
jenuh, larutan tidak jenuh.(Sukardjo,1990)
Fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair atau fasa padat yang bergantung
pada sifat kedua komponen pembentuk larutan. Apabila fasa larutan dan fasa zatzat pembentukannya sama, zat yang berada dalam jumlah terbanyak umumnya
disebut pelarut sedangkan zat lainnya sebagai zat terlarutnya.(Hiskia,1996)
Selain itu, masih ada beberapa macam penggolongan lain teradap larutan.
Berdasarkan banyak jenis zat yang menyusun larutan, dikenal larutan biner
(tersusun dari dua jenis zat),larutan terner (3 jenis zat

penyusun),larutan

kuarterner (4 jenis zat penyusun).(Hiskis,1996)


Larutan terdapat dua macam yaitu larutan baku primer dan skunder.
Larutan

baku primer berfungsi untuk membakukan atau untuk memastikan

konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan atau pereaksi yang ketepatan/kepastian


konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan
yang sukar dibuat secara kuantitatif ini selanjutnya dapat berfungsi sebagai larutan
baku (disebut larutan baku sekunder) setelah dibakukan jika larutan tersebut
bersifat stabil sehingga dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan
lain atau kadar suatu cuplikan.(Sunaryo,2001)
Suatu zat dapat dilarutkan dan menghasilkan larutan baku (molaritas atau
normalitasnya) disebut larutan larutan baku primer.

Disamping larutan baku

primer, dikenal juga larutan baku sekunder. Larutan sekunder kebakuannya


(kapasitas molaritasnya) ditetapkan langsung terhadap larutan baku primer, jika
suatu larutan baku sekunder bersifat stabil dan dikemas atau disimpan dengan
benar, maka larutan ini dapat berfungsi sebagai larutan baku dan langsung dapat
digunakan tanpa harus dibakukan lagi. Larutan baku sekunder adalah suatu
larutan dimana konsentrasinya ditentukan dengan jalan pembakuan menggunakan
larutan baku primer, biasanya melalui metode titrimetri.(Sunaryo,2001)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat

Bahan

Pipet Ukur

H2SO4

Pipet Gondok

HCl

Neraca Anlitik

NaOH

Botol Semprot

NaCl

Kaca Arliji

KIO3

Labu Ukur

Asam Oksalat

Corong

Urea

3.2 Prosedur Kerja


1. Membuat Larutan NaCl 1%
Di timbang sebanyak 0,5 gram NaCl dengan neraca analitik.kemudian di
larutkan dengan aquades di dalam lbu ukur 50 ml,sampai tanda batas.
2. Membuat Larutan Etanol 5%
Dipipet sebanyak 2,5 ml etanol absolute dengan pipet ukur, kemudian di
masukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Tambahkan aquades sampai tanda
batas. Kocok sampai homogen.
3. Membuat Larutan 0,01 M KIO3 (Mr. 214 Gram /Mol)
Di timbang sebanyak 0,107 gram KIO3 dengan neraca analitik, kemudian
di masukkan ke dalam labu ukur 50 ml, di larutkan dengan aquades
sampai tanda batas.

4. Membuat Larutan 0,1 M H2SO4 ( Mr. 98 Gram/Mol)


Dipipet sebanyak 0,5 ml H2SO4 dengan pipet ukur,kemudian di encerkan
dengan aquades dalam labu ukur 5 ml sampai tanda batas.
Labu ukur 50 ml di isi terlebih dahulu dengan aquades, kira-kira 25
ml selanjutnya baru di pipetkan H2SO4 kedalam labu
ukur,selanjutnya ditambahkan legi dengan aquades sampai tanda
batas. Cara seperti ini berlaku untuk membuat asam kuat dan basa
kuat.
5. Membuat Larutan 0,1 N HCl ( Mr. 36,5 Gram/Mol)
Di pipet sebanyak 0,415 ml HCl 37 % dengan pipet ukur,kemudian di
encerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml,sampai tanda batas.
6. Membuat Larutan 0,1 N Asam Oksalat (Mr. H2 C2 O4 . 2H2O. 126 Gram/Mol)
Di timbang 0,3151 gram asam oksalat dengan neraca analitik,kemudian di
encerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
7. Membuat Larutan 1N NaOH ( Mr. 40 Gram/Mol)
Di timbang 0,2 gram NaOH,kemudian di larutkan ke dengan aquades
dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
8. Membuat Larutan 1000 ppm Nitrogen (N2) (Mr. Urea 60 Gram/Mol)
Di timbang 0,1086 gram urea,kemudian di encerkan dengan aquqdes
dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
1. Membuat Larutan NaCl 1%
Ditimbang sebanyak 0,5 gram NaCl dengan neraca analitik. Kemudian
dilarutkan dengan aquads di dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.

2. Membuat Larutan Etanol 5%


Pembuatan larutan Etanol 5% membutuhkan 2,5 ml etanol absolute
dengan pipet ukur, kemudian di masukkan ke dalam labu ukur 50 ml.
Tambahkan aquades sampai tanda batas. Kocok sampai homogen.
3. Membuat Larutan 0,01 M KIO3 (Mr. 214 Gram /Mol)
Di timbang sebanyak 0,107 gram KIO3 dengan neraca analitik, kemudian
di masukkan ke dalam labu ukur 50 ml, di larutkan dengan aquades
sampai tanda batas.
4. Membuat Larutan 0,1 M H2SO4 ( Mr. 98 Gram/Mol)
Dipipet sebanyak 0,5 ml H2SO4 dengan pipet ukur,kemudian di encerkan
dengan aquades dalam labu ukur 5 ml sampai tanda batas.
5. Membuat Larutan 0,1 N HCl ( Mr. 36,5 Gram/Mol)
Di pipet sebanyak 0,415 ml HCl 37 % dengan pipet ukur,kemudian di
encerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml,sampai tanda batas.
6. Membuat Larutan 0,1 N Asam Oksalat (Mr. H2 C2 O4 . 2H2O. 126 Gram/Mol)
Di timbang 0,3151 gram asam oksalat dengan neraca analitik,kemudian di
encerkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
7. Membuat Larutan 1N NaOH ( Mr. 40 Gram/Mol)

Di timbang 0,2 gram NaOH,kemudian di larutkan ke dengan aquades


dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
8. Membuat Larutan 1000 ppm Nitrogen (N2) (Mr. Urea 60 Gram/Mol)
Di timbang 0,1086 gram urea,kemudian di encerkan dengan aquqdes
dalam labu ukur 50 ml sampai tanda batas.
\

4.2 Pembahasan
1. Membuat Larutan NaCl 1%
Dalam pembuatan larutan 1% NaCL ternyata membutuhkan

0,5 gram dan

larutan aquades 100 ml. Dengan perhitungannya adalah sebagai berikut.

% W/V=

x 100%

1% =

x 100%

100 gram = 50
Gram=

= 0,5

2. Membuat Larutan Etanol 5%


Dalam pembuatan larutan etanol dengan konsentrasi 5% ternyata membutuhkan
2,5 etanol absolut dan aquades 50 ml. Dengan perhitungan sebagai berikut.

V/V =
5% =
100 m l = 250
ml =

= 2,5

3. Membuat larutan 0,01 M KIO3


Daam pembuatan 0,01 M KIO3 ternyata yang di butuhkan 0,107 gram KIO3 dan
di larutkan dlam aquades 50 ml dengan perhitungan sebagai berikut.

M=
0,01 M=
gram = 214 x 0,05 x 0,01
= 0,107

4. Membuat Larutan 0,1 M H2SO4


Dalam pembuatan larutan asam sulfat dengan konsentrasi 0,1 M membutuhkan
0,5 ml H2SO4 yang di larutkan dalam 50 ml. Dengn perhitungan sebagai berikut.

M=
M=

mol =

= 0,005 mol

=0,1 Molaritas

5. Membuat Larutan 0,1 N HCl


Dalam pembuatan larutan HCl dengan konsentrasi 0,1 N ternyata membutuhkan
0,415 ml HCl 37%.yang di larutkan ke dalam 50 ml aquades. Dengan perhitungn sebagai
berikut.

%W/V=
37% =

x100%

100 gram=15,355
Gram=

N=

=0,19

mol =

= 0,1 Normalitas

= 0,005

6. Membuat Larut an 0,1 N Asam Oksalat


Dalam pemuatan larutan 0,1 N asam oksalat membutuhkan 0,3151 gram. Dan di
encerkan dalam aquqdes dengan perhitungan sebagai berikut.
`BE =

= 63

mol EK =

= 0,005

N =

= 0,1 normalitas

7. Membuat Larutan 1 N NaOH


Dalam pembuatan larutan 1 N NaOH membutuhkan 0,2 gram. Dan kemudian
dilarutkan ke dalam aquades 50 ml. Dengan perhitungan sebagai berikut.
BE =

=4

Mol Ek =
N=

=
=

0,05

= 1 normalitas

8. Membuat Larutan 1000 ppm N2 dalam Urea


Membuat larutan 1000 ppm N2 Dalam perhitungannya adalah sebagai berikut.
ppm =

x 106

ppm = 2172 / gram

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dapat di tarik kesimpulan bahwa:
1. Dalam menyatakan konsentrasi suatu larutan dapat di gunakan rumus
persen berat,persen volume,persen berat per volume,part permillion dan
part perbillion,fraksi mol, molaritas, molalitas dan normalitas.
2. Dalam membuat larutan daam berbagai konsentrasi caranya menggunakan
rumus-rumus tersebut. Setelah melakukan perhitungan barulah
menimbang bahan yang akan di gunakan.

5.2 Saran
Dalam membuat larutan hendaknya kita memakai sarung tangan. Karena
untuk melindungi tangan kita dari zat-zat yang berbahaya.

Daftar Pestaka
Baroroh, Umi.2004.Diktat Kimia Dasar I.Jakarta:MGU
Hiskia,Achmad.1996. Kimia Larutan, Bandung:Bumi Aksara
Jaya,Sukardjo.1990.Kimia Larutan.Bandung:Quadra
Sunaryo,bagus.2001. cara cara menyatakan konsentrasi larutan.Jakarta:
Erlangga

Tugas mandiri
1. 80 gram H2SO4 dilarutkan dengan 120 gram air.
Dik : Mr. H2SO4 98 gram / mol

Mr. air ( H2O ) 18 gram / mol

BJ H2SO4 1,303 gram / ml

BJ Air 1 gram / ml

Konsentrasi H2SO4 100 %


Mr. air 18
a) Persen Berat =

x 100%
=

x 100% = 40 %

b) Molalitas ( m ) =

mol= =0,82

= 6,83

c) Molaritas ( M ) =
=

= 41

Liter larutan
V terlarut = 80 gram / 1,303 gram / ml = 61,39 ml
V pelarut = 120 gram / 1 gram / ml = 120 ml
V larutan = 181,39 ml = 0,18139 l
M = 98 mol

= 540,27 mol / l

0,18139 l
d)

Fraksi Mol zat terlarut

Mol terlarut = 0,816


Fraksi=

d) fraksi mol zat pelarut


Mol pelarut = 6,67
Fraksi=

2. lengkapi tabel di bawah ini


Zat Terlarut

Gram Zat
Terlarut

NaNO3

25

Mol Zat
Terlarut
A=0,29

Volume
larutan
B=0,24

Molaritas
1,2

NaNO3

C=31,45

D=0,37

16 L

0,023

KBr

91

E=0,83

450 ml

F=1,84

KBr

G= 45,78

0,42

H=0,23

1,8

Mr NaNO3 =85
Mr KBr = 109
e. Mol=

a. Mol=
b. Volume =

=0,24

f. M=

= 0,83
= 1,84

c. Gram= 0,37 x 85 = 31,45

g. Gram= 0,47 x 109 = 45,78

d. Mol terlarut=0,023x16= 0,37

h. Volume=

0,23