Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillahirobbilaalamiin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam atas nikmat,
rahmat dan inayah-Nya sehingga Modul Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal ini
dapat tersusun.
Menurut Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia, seorang dokter dapat
memberikan bantuan sesuai keilmuaannya untuk kepentingan peradilan atas permintaan resmi
dari penyidik. Bantuan yang diberikan berupa pemeriksaan terhadap tubuh atau bagian dari
tubuh manusia. Diharapkan pada modul ini mahasiswa mampu menterjemahkan aspek medis
ke dalam bahasa hukum dalam bentuk visum et repertum, mampu untuk menjadi saksi ahli di
sidang peradilan, dan mampu berpraktek sesuai rambu hukum dan etika yang berlaku.
Fakultas kedokteran Al-Azhar telah melakukan inovasi dengan menerapkan Kurikulum
Berbasis Kompetensi pada sistem pembelajaran berdasarkan masalah (problem based
learning). Mahasiswa belajar dalam bentuk terintegrasi sehingga diharapkan mendapat
pemaparan klinis sejak dini (early clinical exposure). Dengan demikian mahasiswa memiliki
motivasi kuat untuk belajar mandiri dan dapat langsung mengetahui aplikasi penerapan ilmu
yang dipelajari dan memiliki keterampilan belajar yang menunjang belajar seumur hidup
(longlife learning).
Pembahasan pada modul ini terdiri 7 skenario yang akan dipelajari pada diskusi tutorial.
Masing-masing skenario memiliki tujuan pembelajaran. Mahasiswa diharapkan senantiasa
aktif untuk mencari sumber belajar secara mandiri.
Demikian buku panduan ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai
acuan fasilitator dan study guide mengarahkan diskusi dan membantu mahasiswa mencapai
tujuan belajar yang ditargetkan. Masukan demi kesempurnaan buku panduan ini senantiasa
kami harapkan untuk perbaikan selanjutnya.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Denpasar,

Oktober 2014
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ...........................................................................................................
Kata Pengantar ...........................................................................................................
Daftar Isi ...................................................................................................................
Tim Modul Kedokteran Forensik dan Medikolegal ...................................................
Informasi Umum ........................................................................................... ............
Pendahuluan ......... .....................................................................................................
Hubungan dengan modul lain ....................................................................... ............
Cabang ilmu yang mendukung...................................................................... ............
Komponen Kompetensi .
a. Area kompetensi ............................................................................................
b. Kompetensi inti .............................................................................................
c. Learning outcome...........................................................................................
Daftar penyakit ..........................................................................................................
Topik dari Modul Kedokteran Forensik dan Medikolegal.........................................
Metode Pembelajaran ................................................................................... ............
Evaluasi pembelajaran .................................................................................. ............
Referensi ....................................................................................................................
MATERI MASALAH
LBM I
: Malpraktek Medis .
LBM II
: Surat Keterangan Medis
LBM III
: Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak .
LBM IV
: Traumatologi Forensik .
LBM V
: Asfiksia dan tenggelam
LBM VI
: Kematian mendadak .
LBM VII
: Laboratorium Forensik .
Jadwal modul: ...........................................................................................................

i
ii
iii
iv
1
1
1
1

MODUL ILMU KEDOKTERAN


FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
EDISI KELIMA
2014
Penanggung jawab
:
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
dr. H. Fanani Sp.Rad
TIM PENYUSUN MODUL
Koordinator
:
dr. Ika Dian Anggraini MMKes
Tim Penyusun Modul :
dr. Ida Bagus Putu Alit, SpF, DFM
dr. Dudut Rustyadi, SpF
dr. Kunthi Yulianti, Sp.KF
dr. Henky, SpF
Tim Pendukung Modul :
dr. Naji Aldino
dr. Sahrun
dr. Rahmania
dr. Indrajid MS
dr. Ika Dian Anggraini M.Kes
dr. Fachrudi Hanafi M.Epid
dr. Muchdar
dr. Agus Wiajaya MHA
dr. Dian Rahardianti
dr. Dina Qurratulaini

INFORMASI UMUM
I.

PENDAHULUAN

Modul Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal dilaksanakan pada semester 7


tahun ke 4 dengan waktu 4 minggu. Pencapaian belajar mahasiswa dijabarkan dengan
penetapan area kompetensi, kompetensi inti, komponen kompetensi, learning objective
sebagaimana yang diatur dalam Standar Kompetensi Dokter serta sasaran pembelajaran
yang dapat diperoleh dari penjabaran learning objective.
Modul ini terdiri dari 7 lembar belajar mahasiswa sebagai bahan untuk diskusi.
Dan masing-masing LBM dilengkapi dengan learning objective, learning task, skenario
dan pertanyaan minimal. Pada modul ini mahasiswa akan mengetahui tatalaksana bantuan
dokter untuk kepentingan peradian (prosedur medikolegal), pemeriksaan pada korban
baik hidup maupun mati, pendokumentasian hasil pemeriksaan, menafsirkan hasil
pemeriksaan, serta memformulasikannya ke dalam bentuk visum et repertum
Yang dipelajari oleh mahasiswa meliputi pengetahuan dasar kedokteran,
patofisiologi, proses penegakan diagnosis dan .Untuk itu diperlukan pembelajaran
mengenai teori dan ketrampilan tentang anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang dan ketrampilan prosedural yang diperlukan. Mahasiswa juga akan
mempelajari sikap profesionalisme yang terkait dengan topik diatas.
Metode PBL yang menggunakan pendekatan SPICES, merupakan metode
pembelajaran yang dinilai sangat bermanfaat untuk mengembangkan dan meningkatkan
kemampuan berfikir kritis (critical thinking) dan belajar mandiri (self-directed
learning) yang sangat penting dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian
yang mengarah kepada pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Karena itu,
metode PBL dianggap merupakan metode pembelajaran yang tepat bagi mahasiswa
pada level pendidikan dasar umum dan pendidikan dasar kedokteran yang merupakan
pendidikan kedokteran terintegrasi yang dilaksanakan pada semester satu sampai
semester tujuh.
Modul ini akan dipelajari dengan menggunakan strategi Problem Based-learning,
dengan metode diskusi tutorial menggunakan seven jump steps, kuliah, praktikum,
laboratorium dan belajar ketrampilan klinik di laboratorium ketrampilan.
II.

HUBUNGAN DENGAN MODUL LAIN

Modul ini merupakan modul komprehansive yang berhubungan langsung dengan


modul-modul sebelumnya antara lain modul seperti bioetika kedokteran, HAM, Hukum
Kedokteran, belajar efektif, modul musculoskeletal, modul cardiovascular, Modul
respirasi dan lain sebagainya
III.

CABANG ILMU YANG MENDUKUNG


1. Hukum Kedokteran
2. Anatomi
3. Fisiologi
4. Patologi anatomi
5. Ilmu Penyakit Dalam

6. Ilmu Kesehatan Anak


7. Ilmu Bedah
8. Obsetri dan ginekologi
9. Radiologi
10. Ilmu Kesehatan Mata
11. THT
12. Psikiatri
13. Neurologi
14. Patologi klinik
IV.

KOMPONEN KOMPETENSI
Kurikulum berbasis kompetensi yang telah disepakati dan telah disahkan
oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) untuk digunakan sebagai acuan dasar
dalam menyusun kurikulum pendidikan dokter di Institusi pendidikan kedokteran
di seluruh Indonesia diterapkan dengan menggunakan pendekatan SPICES
(student-centered, problem-based, integrated, community based, elective, early
exposure to clinical situation, systematic). Dengan demikian, terjadi perubahan
metode pendidikan, dari metode pengajaran (teaching method) yang bersifat
teacher- centered, menjadi metode pembelajaran (learning method) yang bersifat
student-center

A. AREA KOMPETENSI
1. Keterampilan komunikasi efektif dengan pasien simulasi
2. Keterampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedik, klinik, perilaku dan
epidemiologi dalam praktik dokter keluarga
3. Keterampilan melakukan pemeriksaan pada korban hidup atau mati sebagai individu
serta melakukan rujukan.
4. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga maupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir dan bekerjasama dalam konteks pelayanan kesehatan primer
5. Keterampilan menilai secara kritis semua informasi yang diperlukan untuk
penegakan diagnosis.
6. Mawas diri dan mengembangkan kemampuan professional melalui belajar sepanjang
hayat
7. Mampu mengedepankan moral dan etika profesi dalam melaksanakan praktik
kedokteran dan pelayanan kesehatan.
B. KOMPETENSI INTI
1. Mahasiswa mampu menerapkan pengetahuan tentang komunikasi efektif, baik verbal
maupun nonverbal, mendengar aktif, mengelola benda bukti, klien dan/pasien dengan
mengintegrasikan penalaran klinis dan medikolegal sehingga menunjang terciptanya
kerjasama yang baik antar dokter dengan pasien, keluarga, komunitas, teman sejawat
dan tenaga profesional lain yang terlibat dalam penanganan kedokteran khususnya
forensic dan medikolegal
2. Mahasiswa mampu melakukan anamnesis dengan lengkap dengan teknik yang tepat
dan kontekstual, dan menafsirkan hasil pemeriksaan serta memformulasikannya ke
dalam bentuk visum et repertum
3. Mahasiswa mampu menggunakan ilmu biomedik, klinik, perilaku dan komunitas
untuk memahami dan menjelaskan masalah medikolegal yang dihadapi

4. Mahasiswa mampu memanfaatkan sarana dan prasaran yang dimiliki secara optimal
untuk membantu memecahkan masalah forensik dan atau mengambil keputusan dalam
kaitan dengan pelayanan kedokteran forensik.
5. Mahasiswa mampu mengenali isu dan dilema etik serta masalah medikolegal dalam
situasi klinik yang berkaitan dengan pelayanan dan kebijakan kesehatan. Mahasiswa
mengetahui saat dan cara yang tepat untuk mendapatkan bantuan pakar atau sumber
lain dalam menyelesaikan pilihan etik dan medikolegal tersebut
6. Mahasiswa mampu mencari, mengenal dan menemukan benda bukti berupa
luka/cidera, racun atau benda bukti lain terkait dugaan pidananya.
C. LEARNING OUTCOME SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan dasar hukum yang berkaitan dengan kasus korban hidup (forensik klinik)
2. Menjelaskan tatalaksana pemeriksaan korban sesuai kasus
3. Membuat visum et repertum korban hidup dan mati
4. Menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan pada Visum et Repertum sesuai kasus
5. Menjelaskan pemeriksaan laboratorium forensik sederhana yang harus dilakukan
sesuai dengan kasus
6. Menjelaskan tatalaksana dokumentasi kasus forensik
V.

DAFTAR PENYAKIT

No

Daftar Penyakit

Tingkat
Kemampuan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Kekerasan tumpul
Kekerasan tajam
Trauma kimia
Luka tembak
Luka listrik dan petir
Barotrauma
Trauma suhu
Asfiksia
Tenggelam
Pembunuhan anak sendiri
Pengguguran kandungan
Kematian mendadak
Toksikologi forensik

4A
4A
3A
3A
2
2
2
3A
3A
3A
3A
3B
3A

VI.

TOPIK DARI MODUL ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN


MEDIKOLEGAL
Topik 1
: Malpraktek Medis
Topik 2
: Surat Keterangan Medis
Topik 3
: Kekerasan terhadap perempuan dan anak
Topik 4
: Traumatology forensik
Topik 5
: Asfiksia dan tenggelam
Topik 6
: Kematian mendadak
Topik 7
: Laboratorium Forensik

VII. METODE PEMBELAJARAN


6.1
SGD (small group discussion)/diskusi kelompok kecil yang akan
dilakukan 2x dalam seminggu.setiap SGD berlangsung selama 150 menit. Dengan
berpedoman pada Seven jump steps, meliputi :
L-1 = Menjelaskan istilah dan konsep yang belum diketahui
L-2 = Menetapkan masalah
L-3 = Menganalisa masalah
L-4 = Menarik kesimpulan dari L-3
L-5 = Menyusun persoalan yang tidak bisa diselesaikan dalam diskusi tersebut
menjadi tujuan pembelajaran kelompok (learning issue/ learning objective)
L-6 = Mengumpulkan informasi tambahan
L-7
= Menyebarkan temuan informasi yang telah dikumpulkan oleh Anggota
kelompok, disentesakan dan didiskusikan temuan tersebut agar tersusun penjelasan
yang komperhensif untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah
Aturan main :
- SGD sesion I
: Menjalankan langkah 1-5
- Belajar mandiri
: Menjalankan langkah 6
- SGD sesion II
: Menjalankan langkah 7
6.2 Kuliah
- Kuliah diberikan untuk memberikan gambaran untuk isi Modul Kedokteran
Forensik dan medikolegal, mengenai relevansi dan kontribusi dari berbagai
disiplin ilmu yang berbeda.
- Kuliah memberikan klarifikasi dari materi yang sukar dimengerti agar
dapat
mencegah atau mengkoreksi misconception yang timbul pada waktu mahasiswa
berdiskusi atau belajar mandiri
- Kuliah dapat memberikan stimulasi kepada mahasiswa untuk belajar lebih dalam
tentang materi tersebut
6.3 Journal Reading
Journal reading untuk memberikan tugas kepada mahasiswa membaca journal
dalam negeri maupun luar agar mendapatkan banyak informasi terkini yang
mungkin belum masuk dalam topic pembahasan dilembar pembelajaran
mahasiswa namun merupakan pengembangan dari ilmu kedokteran forensic dan
medikolegal.
6.4 Skill Lab
Skill lab memeberikan latihan berupa ketrampilan klinik kepada mahasiswa agar
mampu melakukan skill yang berkaitan dengan modul kedokteran forensic dan
medikolegal.
VIII. EVALUASI PEMBELAJARAN
Secara garis besar jenis penilaian untuk program pendidikan sarjana
kedokteran adalah sebagai berikut :
1. Modul assessment
Penilaian meliputi komponen kognitif (pengetahuan) dan attitude. Kegiatan
evaluasi modul terdiri dari
:
a. Evaluasi kegiatan harian (SGD, Pleno, Praktikum, kuliah, Penugasan)
b. Evaluasi akhir modul
2. Longitudinal assessment
Dilakukan secara berkesinambungan selama mahasiswa belajar di FK Unizar
berupa Skill lab assessment terutama menilai komponen ketrampilan (skills), yang

didapat dari penilaian di skill laboratory yang dilakukan disetiap akhir semester
dengan menggunakan metode OSCE (Objective Structured Clinical Examination).
Untuk sistem penilaian mahasiswa dan aturan assesmen adalah sebagai
berikut:
Ujian knowledge
a. Nilai Pelaksanaan Skill Lab ( 20% dari nilai sumatif knowledge)
Pada pelaksanaan Skill Lab mahasiswa akan dinilai berdasarkan kehadiran,
aktifitas interaksi dan kesiapan materi. Mahasiswa yang tidak mengikuti skill lab
dengan alasan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, harap melapor ke tim
modul untuk mengganti dengan tugas.
b. Nilai Pelaksanaan Penugasan (10% dari nilai sumatif knowledge)
Pada pelaksanaan penugasan mahasiswa akan dinilai berdasarkan kehadiran
dan hasil penugasan tersebut
c. Nilai ujian akhir modul (70% knowledge)
Ujian knowledge merupakan ujian terhadap semua materi baik SGD, kuliah
pakar, praktikum. Materi dan pelaksanaan ujian akhir modul setelah meyelesaikan
seluruh isi modul. Soal akhir modul terdiri dari 100 soal.
Ketentuan bagi mahasiswa
Siswa dapat mengikuti ujian akhir modul jika memenuhi prasyarat sebagai berikut :
1. Mengikuti 80% dari keseluruhan SGD
2. Mengikuti 100% dari keseluruhan praktikum
3. Mengikuti 75% dari keseluruhan kuliah
Apabila mahasiswa berhalangan hadir pada kegiatan SGD, praktikum dan
maka mahasiswa harus
:
1. Memberikan surat ijin ketidakhadiran pada kegiatan tersebut
2. Mengganti kegiatan SGD dengan melaksanakan tugas dari tim modul,
untuk penggantian tersebut mahasiswa harus berkoordinasi dengan tim
modul.
3. Mengganti kegiatan skill lab pada hari lain , untuk penggantian tersebut,
mahasiswa harus berkoordinasi dengan tim modul.
4. Setelah melaksanakan tugas pengganti SGD, dan mahasiswa mengikuti
kegiatan pengganti praktikum dan skill lab, maka mahasiswa telah
dinyatakan mengikuti kegiatan 100%.
-

Jika mahasiswa tidak mengikuti ujian akhir modul maka niali akhir modul
dinyatakan nol.
Tata cara permohonan ujian susulan dilaksanakan sebagaimana yang berlaku,
yakni siswa mengajukan permohonan kepada Dekan dilampiri alasan
ketidakhadirannya pada ujian tersebut maksimal 1 (satu) minggu setelah
ujian dilaksanakan. Selanjutnya surat permohonan ujian susulan dikeluarkan
oleh MEU, untuk disampaikan kepada Tim modul terkait. Sebelum proses
pembuatan surat permohonan ujian susulan kepada tim modul, MEU akan
melakukan verifikasi prosentase kehadiran mahasiswa selama modul tersebut
berlangsung.

IX.
REFERENSI
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S,
et al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003
3. Safitri O. Mudah Membuat Visum et repertum Kasus Luka. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
4. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
5. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 2004.
6. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press;
2001
7. Staf pengajar FK UI. Teknik Autopsy Forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000.
8. Ludwig J. Handbook of Autopsy Practice. Third Edition. New Jersey : Humana
Press; 2002
9. Sheaff MT, Hopster DJ. Post mortem technique handbook.Second Edition. London:
Springer; 2005.
10. Dahlan S. Hukum Kesehatan. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro;
2000.
11. Wirasuta IMAG. Buku Ajar Analisis Toksikologi Forensik. Bukit Jimbaran:
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana; 2008.
12. Gallo MA. History and scope of toxicology. In: Casarett & Doull's Toxicology:
The Basic Science of Poisons. 7th ed. Klaassen CD, editor. USA: McGraw-Hill;
2008.
13. Moffat AC, Osselton MD, Widdop B, Jickells S, Negrusz A. Introduction to
forensic toxicology. In: Clarke's Analytical Forensic Toxicology. 2nd ed. Negrusz
A, Jickells S, editors. Great Britain: Pharmaceutical Press; 2013
14. Sudiono S. Kumpulan Makalah dan Penelitian Ilmiah Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI-RSCM;
2008.
15. Gaensslen RE, Camp FR. Identification of body fluids. In: Sourcebook in forensic
serology, immunology, and biochemistry. U.S. Department of Justice: National
Institute of Justice; 1983.
16. Darnell C, Michel C. Forensic Notes. Philadelphia: F. A. Davis Company; 2012.
17. Rudin N, Inman K. An Introduction to Forensic DNA Analysis. 2nd ed. Boca
Raton: CRC Press; 2002.
18. Butler JM. Forensic DNA typing: biology, technology, and genetics of STR
Markers. 2nd ed. USA: Elsevier; 2005.
19. Kumar V, Stanley L. Robbins Basic Pathology. 8th ed. Philadelphia:
Saunders/Elsevier; 2007.
20. Henham AP, Lee KAP. Photography in forensic medicine. Journal of Audiovisual
Media in Medicine. 1994; 17(1):15-20.
21. Yudhistira A. Fotografi Forensik. In: Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Idries AM, Tjiptomartono AL, editors. Jakarta: CV Sagung
Seto; 2008.

22. Aristotle. excerpt from Nichomachean Ethics. In: Cahn SM, editor. Classics of
Political and Moral Philosophy. New York: Oxford University Press; 2002. p. 182221.
23. Beauchamp TL, Childress JF. The Principles of Biomedical Ethics 7th ed. New
York: Oxford University Press; 2013.
24. El-Nageh M, Linehan B, Cordner S, Wells D, McKelvie H. Ethical Practice in
Laboratory Medicine and Forensic Pathology. WHO Regional Publications; 1999.
25. Kode Etik Kedokteran Forensik Indonesia; 2004.
26. KUHAP.
27. KUHP.
28. Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
29. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
30. PERMENKES no 755 tentang Komite Medis

LBM I
MALPRAKTEK MEDIS
Dr. Dudut Rustyadi, SpF
Skenario
Pasien anak laki-laki berumur 12 tahun datang dalam keadaan sadar ke IGD
rumah sakit diantar oleh ibunya denga keluhan pharyngitis dan nyeri pada leher sejak
3 jam yang lalu setelah makan coklat. Pada pasien terdapat riwayat alergi debu dan
beberapa jenis makanan dan sudah seringkali datang ke rumah sakit tersebut dengan
keluhan yang sama. Pasien ini sebelumnya membaik dengan injeksi cortisone 2 ml
dan dipenhydramine 2 ml . Tanpa melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut,
dokter jaga IGD langsung menulis di rekam medis ditemukan hiperemis pada
mukosa faring, tonsil T1/T1 dan didiagnosis pharyngitis dengan differensial diagnosis
reaksi alergi. Pasien tersebut segera diberi injecti cortisone : dela = 2:2. Setelah
diobservasi selama 45 menit, nyeri tidak menghilang, pasien kemudian dikonsulkan
ke Bagian penyakit dalam.
Dari hasil pemeriksaan Bagian penyakit dalam, ditemukan kesadaran
E3V5M6, tampak gelisah, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 110 kali/ menit,
pernafasan 24 kali/ menit, leher tampak membengkak, wheezing +/+. Oleh dokter
penyakit dalam, didiagnosis dengan reaksi anafilaktik berat. Dokter penyakit dalam
menjelaskan kondisi pasien kepada ibunya dan tindakan yang akan dilakukan. Pasien
kemudian dalam keadaan kritis, oleh dokter penyakit dalam, diberikan injeksi
adrenalin pada lengan kiri. Setelah diinjeksi, kesadaran pasien menurun, tampak
kongesti dan ujung jari sianosis. Dilakukan resusitasi, akan tetapi mengalami kesulitan
saat dilakukan intubasi karena spasme dan oedem laring. Lima menit kemudian pasien
meninggal. Ayah pasien menuntut dokter penyakit dalam karena menganggap dokter
tersebut yang melakukan kesalahan dan menyebabkan anaknya meninggal setelah
diinjeksi tanpa memberitahu terlebih dahulu.
References:
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003
3. Safitri O. Mudah Membuat Visum et repertum Kasus Luka. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
4. KUHAP.
5. KUHP.
6. Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
7. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
8. Web site: http://www.nh.gov/insurance tentang kejahatan asuransi

LBM II
SURAT KETERANGAN MEDIS
Dr. Dudut Rustyadi, SpF

Skenario :
Seorang suami memukul istrinya sehingga jatuh membentur meja. Pemukulan
ini dilatarbelakangi suami mencurigai anak mereka yang sudah berumur 2 tahun
bukan hasil perkawinan mereka. Sang istri dibawa ke RS dan diperiksa oleh dokter A.
Pada pemeriksaan didapatkan luka memar pada dahi kanan dan luka terbuka yang
memerlukan perawatan pada pelipis kiri.
Sang istri diantar ke Rumah Sakit Oleh Polisi dan meminta kepada dokter
pemeriksa dibuatkan Visum et Repertum perlukaan. Karena korban bekerja di sebuah
perusahaan swasta, korban minta dibuatkan Surat Keterangan Sakit untuk tidak masuk
kerja beberapa waktu. Beberapa hari kemudian,pihak perusahaan tempat korban
bekerja meminta Surat Keterangan Medis agar dana asusransi kesehatan korban dapat
dicairkan.
Dilain pihak,suami ingin melakukan test paternitas untuk anaknya dengan
pemeriksaan DNA agar jelas siapa sesungguhnya ayah anaknya tersebut dan setelah
ada hasil minta dibuatkan Surat Keterangan Keayahan bagi anak tersebut. Beberapa
saat setelah diperiksa sang istri tiba-tiba meninggal atau Death On Arrival (DOA).
Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD untuk dilakukan pemeriksaan forensik. Dan
dalam waktu yang bersamaan telah ditemukan pula jenazah tanpa didentitas.
References:
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003
3. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
4. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 2004.
5. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press; 2001

LBM III
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK
Dr Ida Bagus Putu Alit, SpF, DFM
Skenario :
Seorang anak perempuan,berusia 6 tahun, dibawa ke Rumah Sakit oleh ibunya
dengan keluhan kejang-kejang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka-luka memar
dengan warna yang berbeda-beda terutama pada punggung dan perut anak. Ditemukan
juga luka-luka memar kedil-kecil berbentuk bulan sabit pada leher. Pada pemeriksaan
Kelamin dicurigai telah terjadi pelecehan seksual, ditemukan lendir agak kental dan
luka lecet pada fourcehete porterior ukuran satu sentimeter kali satu sentimeter. Dan
ditemukan bercak pada hymen arah jam 6 sesuai dengan arah jarum jam.
Ibu korban langsung melapor ke Polisi dan meminta agar anaknya dilakukan
Visum (SPV). Pada heteroanamnesis, orang tua korban menyatakan melihat anaknya
dipangku dalam keadaan telanjang oleh ayah tirinya sekitar empat jam sebelum ke
rumah sakit. Setelah dirawat selama 3 hari kondisi sang anak semakin memburuk dan
akhirnya meninggal dunia. Untuk mengevaluasi layanan yang telah diberikan pihak
RS melakukan Audit.
References:
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
3. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 1996.
4. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press; 2001.
5. Pedoman Pengembangan Puskesmas Mampu Tatalaksana Kasus Kekerasan Terhadap
Perempuan dan Anak. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2011
6. Idries AM. Pedoman ilmu kedokteran forensik. 1st ed. Jakarta: Binarupa Aksara;
1997.
7. Sampurna B, Samsu Z. Peranan ilmu forensik dalam penegakan hukum: sebuah
pengantar. Jakarta; 2003.
8. Angelo PG,Elizabeth M, Janica B. Sexual Assault,G.W Medical Publishing Inc;2008.
9. PERMENKES no 755 tentang Komite Medis

LBM IV
TRAUMATOLOGI FORENSIK
dr. Kunthi Yulianti, SpKF
Skenario

Seorang dokter Jaga UGD menerima 4 orang pasien yang datang hampir
bersamaan. Ny A nyeri pada dahi setelah jatuh dari motor, sedangkan Tn B mengeluh
mengeluh nyeri pada dada setelah berkelahi dengan temannya. Keadaan kedua pasien
dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 1. Luka-luka pada Ny A


Gambar 2. Luka pada Tn. B
Sedangkan yang kedua adalah sepasang suami istri yang mengalami
pembunuhan berencana. Sang suami mengalami luka tembak dibagian dada dan sang
istri mengalami luka bakar pada daerah leher, dagu hingga dada kanan karena bensin
pada motor mengalami kebakaran dengan bentuk luka bakar kering. . Pada pakaian
pasien yang berwarna merah muda tampak adanya bercak-bercak berwarna
kecokelatan pada daerah dada ditempat yang sama dengan luka bakar pada dada.
Keduanya diantar polisi ke UGD kemudian langsung dibawa ke Instalasi Kedokteran
Forensik disertai Surat Permintaan Visum et repertum jenazah. Pada pemeriksaan luar
jenazah didapatkan pada dada luka seperti tampak pada foto.

References:
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003
3. Idries AM, Tjiptomartono AL, editors. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Jakarta: CV Sagung Seto; 2008.
4. Safitri O. Mudah Membuat Visum et repertum Kasus Luka. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
5. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
6. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 2004.
7. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press; 2001

LBM V
ASFIKSIA DAN TENGGELAM
dr. Kunthi Yulianti, SpKF

Skenario :
Penyidik dari kepolisan ke Instalasi Kedokteran Forensik RSUD dengan
membawa Surat Permintaan Visum et Repertum Jenazah untuk 2 jenazah yang baru
saja ditemukan yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dari keterangan polisi
yang mengantar, jenazah Ny. IMD ditemukan dalam posisi setengah duduk di pohon
mangga di kebun yang jauh dari pemukiman dengan tali melilit dilehernya yang
diikatkan pada dahan terendah dari pohon mangga tersebut. Dari pemeriksaan tampak
luka seperti pada gambar :

Gambar 1. Luka pada leher


samping kiri sampai

Gambar

2. Luka pada

Sedangkan Jenazah Tn. IKD ditemukan tergeletak di pantai. Penyidik ingin


mengetahui sebab kematian dari jenazah jenazah tersebut.
References:

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et


al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Sampurna B, Samsu Z. Peranan Ilmu Forensik Dalam Penegakan Hukum. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003
3. Idries AM, Tjiptomartono AL, editors. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Jakarta: CV Sagung Seto; 2008
4. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
5. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 2004.
6. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press; 2001.
7. Staf pengajar FK UI. Teknik Autopsy Forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000.
8. Safitri O. Mudah Membuat Visum et repertum Kasus Luka. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
9. Ludwig J. Handbook of Autopsy Practice. Third Edition. New Jersey : Humana
Press; 2002
10. Sheaff MT, Hopster DJ. Post mortem technique handbook.Second Edition. London:
Springer; 2005.

LBM VI
KEMATIAN MENDADAK
dr. Henky, SpF, M. Beth
Skenario :
Seorang laki-laki, umur 35 tahun, ditemukan meninggal didalam mobil mewah
dalam keadaan mesinnya menyala. Jenazah dalam keadaan kaku dengan posisi
membungkuk dan memegang dada. Di dalam mobil tersebut juga ditemukan beberapa
tablet kecil berwarna putih dan kuning kecokelatan. Polisi ingin mengetahui penyebab
kematian korban dan mengirim jenazah tersebut ke puskesmas tempat anda bekerja.
References:
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu kedokteran forensik. First Edition. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
2. Shepherd R. Simpsons forensic medicine. Twelfth Edition. Great Britain: Arnold;
2003.
3. Knight B. Forensic pathology. Second Edition. Great Britain: Arnold; 1996.
4. Di Maio VJ, Di Maio D. Forensic pathology. Second Edition. USA: CRC Press; 2001.

LBM VII
LABORATORIUM FORENSIK
dr. Henky, Sp.F., M,BEth.
Skenario :
Seorang wanita, umur 24 tahun, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan
telanjang. Pada hampir seluruh tubuhnya ditemukan memar-memar. Ditemukan juga
bercak darah dan cairan disekitar alat kelaminnya. Dokter kemudian melakukan
pemeriksaan kelamin, pemeriksaan genitalia, pengambilan sampel, dan fotografi.
Penyidik dengan surat permintaan visum et repertum, memohon untuk dilakukan
bedah mayat. Namun Keluarga korban tidak mengizinkan dokter untuk melakukan
otopsi.
References :
1. Sudiono S. Kumpulan Makalah dan Penelitian Ilmiah Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI-RSCM; 2008.
2. Gaensslen RE, Camp FR. Identification of body fluids. In: Sourcebook in forensic
serology, immunology, and biochemistry. U.S. Department of Justice: National
Institute of Justice; 1983.
3. Darnell C, Michel C. Forensic Notes. Philadelphia: F. A. Davis Company; 2012.
4. Rudin N, Inman K. An Introduction to Forensic DNA Analysis. 2nd ed. Boca Raton:
CRC Press; 2002.
5. Butler JM. Forensic DNA typing: biology, technology, and genetics of STR Markers.
2nd ed. USA: Elsevier; 2005.
6. Kumar V, Stanley L. Robbins Basic Pathology. 8th ed. Philadelphia:
Saunders/Elsevier; 2007.
7. Henham AP, Lee KAP. Photography in forensic medicine. Journal of Audiovisual
Media in Medicine. 1994; 17(1):15-20.
8. Yudhistira A. Fotografi Forensik. In: Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Idries AM, Tjiptomartono AL, editors. Jakarta: CV Sagung Seto;
2008.
9. Aristotle. excerpt from Nichomachean Ethics. In: Cahn SM, editor. Classics of
Political and Moral Philosophy. New York: Oxford University Press; 2002. p. 182221.
10. Beauchamp TL, Childress JF. The Principles of Biomedical Ethics 7th ed. New York:
Oxford University Press; 2013.

11. El-Nageh M, Linehan B, Cordner S, Wells D, McKelvie H. Ethical Practice in


Laboratory Medicine and Forensic Pathology. WHO Regional Publications; 1999.
12. Kode Etik Kedokteran Forensik Indonesia; 2004.