Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN 2A

PENGUJIAN KERTAS

I.

Tujuan
1. Memahami dan trampil melakukan penetapan kadar abu berbagai macam kertas.
2. Mengetahui manfaat pengujian kertas dalam forensik.
3. Mengetahui kadar abu berbagai macam kertas.
4. Mengamati bentuk anyaman pada berbagai macam jenis jenis kertas.

II.

Dasar Teori
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat
yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung
selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak
serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas
pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet. (Wikipedia,
2014)
Kertas yang dalam bahasa Inggris disebut paper diperkirakan berasal dari kata
papyrus yakni bahan alami (sejenis tumbuhan) yang berasal dari Mesir yang digunakan
secara luas pada masa peradaban Greco Roman. Pada mulanya kertas digunakan orang
untuk menulis dan mencetak Sejalan dengan disempurnakannya proses industri kertas yang
berkembang berabad-abad, penggunaan kertas terus berkembang pesat dikarenakan
potensinya yang istimewa. Kertas dapat dibuat dari beragam serat, seperti serbuk gergaji,
serutan kayu, daun kering, bubuk kayu, kulit jagung, dan sebagainya. Saat ini kertas
digunakan untuk tujuan dan fungsi yang tak terbatas.(Tsien,1985)
Bahan baku kertas dari tanaman yang banyak mengandung serat seperti : jerami
padi, bamboo, tebu, rumput-rumputan, jute, manila, rosella, murbai, kapas, lena dan jenis
tanaman-tanaman lainnya yang cukup banyak tersedia di alam. Batang-batang kayu pun
digunakan sebagai bahan baku. Hampir semua jenis kayu baik kayu keras maupun lunak
tanpa kecuali dapat dijadikan bahan baku kertas. Karena kayu mempunyai kandungan
selulosa cukup banyak (40-45 %). Seperti yang kita ketahui selulosa adalah komponen

utama pembuatan kertas. Namun, produk kertas dari bahan nonkayu masih dibuat karena
bahan jenis ini mempunyai keunggulan yakni lebih kuat dibandingkan dengan selulosa kayu.
Kertas jenis ini dipergunakan sebagai kertas tulis, kertas penjilidan buku, kertas cetak biru,
uang kertas, dan bahan lain yang memerlukan kertas dengan ketahanan tinggi (Tsien,1985)
Pengujian kertas pada pemalsuan dokumen merupakan hal yang penting, karena
banyak pemalsuan yang tertangkap menggunakan kertas yang salah. Berbagai uji analitik
yang dilakukan harus didasari oleh pemahaman tentang bahan-bahan yang digunakan dan
alur proses pembuatan suatu jenis kertas. Uji awal yang biasa dilakukan pada pengujian
kertas meliputi uji-uji fisik kertas, misalnya tentang ketebalan, berat per meter
persegi,ataupun jenis watermarknya, juga beberapa uji warna, dan uji mikroskopis tentang
jenis serat bahan pembuat kertas, produsen, dan mungkin kisaran masa pembuatannya. Salah
satu uji fisik kertas adalah jenis watermark-nya, watermark adalah kualitas khas yang dapat
ditemukan dalam setiap kertas. watermark adalah desain anyaman serat yang ditemukan di
kertas. Kita dapat melihat dengan memegang sebuah kertas di depan sebuah sumber cahaya.
watermark ini menandakan asal produsen kertas, tanggal pembuatan, dan, untuk siapa kertas
diproduksi. Setiap upaya untuk menempa watermark dengan mudah dapat dideteksi. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa watermark sebenarnya memiliki serabut yang lebih sedikit dari
sisa kertas. Kerapatan serat yang mendasari dalam analisis sebuak kertas

dokumen.

Disamping uji awal, ada beberapa uji analitik tambahan yang biasa dipergunakan yaitu :
a. Metode mempersiapkan cuplikan yang bersih untuk dipergunakan pada uji mikrokimia.
b. Metode spektrografik untuk mengidentifikasi adanya substansi anorganik dalam kertas.
c. Metode kromaografik untuk mendeterminasi adanya logam-logam alkali adan alkali tanah.
(anonym, 2001)

III.

Materi dan Metode


3.1 Materi (Alat dan Bahan)
Alat alat:
1. Furnace
2. Cawan porselin
3. Desikator

4. Pinset
5. Gunting
6. Penggaris
7. Neraca analitik
Bahan bahan:
1. Bermacam macam jenis kertas

3.2 Prosedur Kerja


A. Penetapan Kadar Abu
1. Kertas dipotong dengan ukuran 1 x 1 cm.
2. Kertas ditimbang dan kemudian diletakkan dalam cawan yang telah diketahui
beratnya.
3. Cawan beserta isinya dipijarkan untuk mendapatkan sisa abu.
4. Untuk menyempurnakan proses pembakaran, cawan diletakkan dalam Furnace
dan terperatur diatur 5000C hingga kertas telah menjadi abu.
5. Cawan diletakkan dalam desikator untuk didinginkan, kemudian ditimbang
hingga beratnya konstan.

B. Identifikasi Watermark
1. Tiap tiap kertas dilihat anyamannya di bawah sinar matahari.
2. Digambarkan jenis anyaman yang tampak

dimana setiap jenis kertas

mempunyai jenis anyaman yang berbeda. Anyaman tersebut yang disebut


watermark.

3.3 Skema Kerja


A. Penetapan Kadar Abu

B. Identifikasi Watermark

IV.

Hasil dan Pembahasan


4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Penetapan Kadar Abu Kertas HVS
Percobaan

Berat cawan

Berat cawan +

Berat kertas

Berat cawan +

Berat abu

(gram)

kertas (gram)

(gram)

abu (gram)

(gram)

34,0206

34,0328

0,0122

34,0209

0,0003

34,0234

34,0380

0,0146

34,0238

0,0004

34,0254

34,0308

0,0054

34,0256

0,0002

Ratarata

34,0231

34,0339

0,0107

34,0234

0,0003

Kadar abu =
=

x 100 %
x 100 %

= 2,80 %
4.1.2 Penetapan Kadar Abu Kertas Buram
Percobaan

Berat cawan

Berat cawan +

Berat kertas

Berat cawan +

Berat abu

(gram)

kertas (gram)

(gram)

abu (gram)

(gram)

34,0234

34,0309

0,0075

34,0219

-0,0015

34,0255

34,0341

0,0086

34,0218

-0,0037

34,0280

34,0313

0,0033

34,0219

-0,0061

Ratarata

34,0256

34,0321

0,0065

34,0219

-0,0038

Kadar abu =
=

x 100 %
x 100 %

= -58,46 %
4.1.3 Identifikasi Watermark

4.2 Pembahasan
4.2.1

Penetapan Kadar Abu


Dalam percobaan penetapan kadar abu bertujuan untuk mengidentifikasi adanya

substansi anorganik yang terkandung dalam kertas melalui proses pengabuan. Selain itu
percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pori pori kertas dalam
menyerap zat cair yaitu tinta. Abu yaitu suatu zat organik yang merupakan sisa dari hasil
pembakaran. Dimana kandungan dari abu tergantung dari bahan yang dibakar serta cara
pengabuannya. Kadar abu berkaitan dengan mineral yang terkandung dari suatu bahan.
Mineral yang terkandung dapat dibagi menjadi dua yaitu mineral organik dan mineral
anorganik.
Pada penentuan kadar abu ini digunakan sampel yaitu ketas buram. Sebelum
proses pengabuan kertas dipoting dengan ukuran 1 x 1 cm kemudian ditimbang. Setelah
ditimbang diletakkan dalam cawan yang telah diketahui beratnya, dipijarkan untuk
mendapatkan sisa abu. Cawan dimasukkan ke dalam furnace yang suhunya diatur 5000C
hingga kertas benar benar menjadi abu. Setelah proses pengabuan selesai, cawan
diletakkan dalam desikator untuk didinginkan kemudian ditimbang sampai beratnya
konstan. Fungsi desikator sendiri sebagai penyerap panas dan menghindari terjadinya
kontak dengan udara luar.
Hasil perhitungan data didapatkan kadar abu kertas HVS sebesar 2,80%
sedangkan kadar abu kertas buram sebesar -58,46%. Nilai minus yang didapat pada
kertas buram disebabkan kurangnya ketelitian pada praktikan dan mungkin penyebabnya
yaitu saat penimbangan cawan terdapat uap air atau pengotor dan seharusnya
dikeringkan dengan menggunakan oven. Dengan didapatkannya kadar abu kertas
tersebut maka didalam kertas terkandung bahan bahan organik maupun anorganik.
Hasil yang diperoleh menunjukan adanya serapan kertas. Berdasarkan literatur, yang
mana semakin kecil nilai kadar abu semakin banyak rongga udara dan semakin kuat
daya serapnya.
4.2.2

Identifikasi watermark
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi watermark dari kertas.

Percobaan ini dilakukan dengan cara melihat jenis anyaman kertas yang tampak di
bawah sinar matahari. Watermarking adalah salah satu solusi teknis yang digunakan

untuk menangani keamanan materi digital. Watermarking adalah potongan informasi


yang disisipkan pada materi data dan berfungsi sebagai alat untuk identifikasi
kepemilikan, hak penggunaan, kontrol distribusi dan integritas data, secara umum
watermarking dapat diterapkan pada citra, audio, video maupun teks.
Uji awal yang dilakukan pada pengujian kertas meliputi uji uji fisik kertas
misalnya tentang ketebalan, berat per meter persegi, ataupun jenis watermark-nya,
juga beberapa uji warna dan uji mikroskopis tentang jenis serat bahan pembuat kertas,
produsen dan mungkin kisaran masa pembuatannya. Berdasarkan hasil pengamatan
diperoleh pengamatan sebagai berikut: jenis anyaman dari sampel (kertas buram) berupa
garis garis kesamping dan lurus jenis anyaman dari sampel (kertas HVS) berupa garis
garis yang berbentuk vertical dan horizontal dengan kerapatan yang tinggi. Yang mana
setiap jenis kertas mempunyai watermark yang berbeda beda menurut bahan penyusun
dari kertas tersebut.

V.

Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan
1. Sampel yang dipergunakan dalam penentuan kadar abu yaitu kertas buram dan kertas
HVS.
2. Penentuan kadar abu bertujuan untuk mengetahui kemampuan rongga udara kertas
dalam menyerap tinta serta mengetahui kadar senyawa anorganik yang terdapat
dalam kertas.
3. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai kadar abu kertas HVS sebesar 2,80% dan
kertas buram sebesar -58,46%
4. Nilain minus yang didapat diakibatkan kurangnya ketelitian praktikan saat
penngerjaan maupun penimbangan dan diperkirakan adanya uap air dan pengotor
saat penimbangan cawan kosong
5. Menurut literatur semakin tingga kadar abu dari suatu bahan maka semakin sedikit
rongga udaranya.
6. Watermarking adalah salah satu solusi teknis yang diususlkan untuk menangani
keamanan materi digital.

7. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk anyaman dari kertas buram berupa garis
garis kesamping dan lurus dan kertas HVS berupa garis garis vertical dan
horizontal dengan kerapatan yang tinggi.
8. Setiap jenis kertas mempunyai watermark yang berbeda beda menurut bahan
penyusun dari kertas tersebut.
5.2 Saran
Adapun saran untuk kedepannya pada percobaan pengujian kertas sebagai berikut:
1. Selain menggunakan metode penentuan kadar abu dan identifikasi watermark
sebaiknya digunakan metode pendukung lainnya karena sering terjadi kesalahan
pengerjaan saat praktikum berangsung.
2. Perlu digunakan jenis dokumen yang asli untuk melakukan praktikum agar dapat
lebih mengetahui pengerjaan yang sesungguhnya dilapangan.
3. Perlu disediakannya neraca analitik di laboratorium agar praktikan tidak terlalu jauh
untuk menimbang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Pengujian Kertas. http://pusgrafin.go.id/main/index.php?option=com_content


&task =view&id=16&Itemid=30. Diakses tanggal : 14 November 2041
Gani, M.Husni, dr. DSF, 2002, Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas, Padang, Indonesia
Kage, H.Brian, 1995, Sciene and the Detective, VCH, Federal Republik of Germany
Tim Laboratorium Kimia Forensik. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Forensik. Universitas
Udayana : Jurusan Kimia FMIPA
Tsien, Tsuen-Hsuin, 1985, Paper and Printing, Joseph Needham, Science and Civilisation in
China, Chemistry and Chemical Technology. 5 part 1. Cambridge University Press
Wikipedia. 2014. Kertas. http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas . diakses tanggal : 15 November
2014

LAMPIRAN
1. Identifikasi watermark pada kertas

Gambar 1. Kertas buram

2. Penetapan kadar abu

Gambar 3. Pengovenan kertas

Gambar 2. Kertas HVS

Gambar 4. Abu kertas didinginkan

Gambar 5. Abu kertas

Gambar 6. Penimbangan abu kertas