Anda di halaman 1dari 72

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
MODUL I
: PENGENALAN CASEMIX/INA-CBG................................................
MODUL II : KOSTING DALAM INA-CBG.............................................................
MODUL III : KODING DALAM INA-CBG...............................................................
MODUL IV : SOFTWARE INA-CBG......................................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................

1
2
3
25
42
55
69

1
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

KATA PENGANTAR

Perubahan metode pembayaran rumah sakit secara paket dengan


menggunakan Indonesia Case Base Group (INA-CBG) mendorong rumah sakit dan
dokter untuk melakukan penyesuaian baik pada sisi pengelolaan rumah sakit
maupun pasien.
Pemahaman yang baik tentang metode pembayaran paket dengan INA-CBG
oleh rumah sakit sangat diperlukan agar rumah sakit tetap mampu menjalankan
fungsinya dengan baik. Perubahan metode pembayaran dari fee for service ke INACBG akan menyebabkan potensi risiko keuangan yang lebih besar di sisi rumah
sakit. Metode INA-CBG juga mengharuskan rumah sakit lebih baik dalam hal
pelayanan sistem rekam mediknya.
Modul workshop ini adalah untuk membantu agar rumah sakit lebih
memahami dan lebih siap dalam menghadapi dan mengelola risiko metode
pembayaran paket INA-CBG. Beberapa materi yang diajarkan dalam workshop ini
meliputi Pengenalan sistem casemix/INA-CBG, Kosting dalam INA-CBG, Koding
dalam INA-CBG serta Software INA-CBG sehingga rumah sakit dan atau
stakeholder lainnya seperti Asuransi Kesehatan dan lain lain dalam mendapat
pemahaman secara menyeluruh mengenai sistem INA-CBG yang berlangsung di
rumah sakit.
Mudah mudahan dengan modul ini dapat memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi semua pihak sehingga secara umum dapat mendukung
kelancaran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Ketua Tim Teknis INA-CBG


Ttd
dr. Bambang Wibowo, SP.OG (K), MARS

2
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

MODUL I
PENGENALAN SISTEM CASEMIX/INA-CBG

Sistem Casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada tahun 2006


dengan nama INA-DRG Casemix dan dijalankan menggunakan grouper milik PT.
3M Indonesia yang disebut dengan "IR-DRG" dimana Grouper tersebut berakhir
masa penggunaannya (lisensi) pada tanggal 30 September 2010, untuk
mengantisipasi pelaksanaan klaim Jamkesmas agar tidak terhambat Kementerian
Kesehatan RI melakukan kajian dan diskusi dengan beberapa pihak agar sistem
INA-DRG dapat berjalan kembali.
Pada akhirnya Kementerian Kesehatan RI melalui Tim Center for Casemix Direktorat
Jenderal Bina Upaya kesehatan menjajaki kerjasama dengan UNU-IIGH (United
Nation University International Institute for Global Health) yang merupakan suatu
institusi pendidikan dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berkedudukan
di Kuala Lumpur Malaysia, dimana salah satu programnya adalah mengembangkan
sistem Case-Mix untuk membantu negara-negara berkembang dengan
menggunakan UNU Grouper yang berdampak pada perubahan nomenklatur dari
INA-DRG (Indonesia Diagnosis Related Groups) menjadi INA-CBGs (Indonesia
Case Based Groups).
Modul ini membahas tentang definisi Casemix, perbedaan INA DRG dan INA CBGs,
dan Costing dalam INA CBGs yang perlu diketahui oleh peserta Pelatihan.
DEFINISI CASEMIX
Pembiayaan RS pemerintah akan bergeser dari system alokasi
anggaran/subsidi (global budget) menjadi pembiayaan berdasar kinerja
(output/performance based). Dalam sistem Casemix, alokasi langsung berdasarkan
output layanan dan biaya. Pergeseran pola pembiayaan layanan kesehatan di
rumah sakit-rumah sakit didunia saat ini mengarah pada pembiayaan prospektif /
prospektif payment.
Terdapat beberapa perbedaan antara pembiayaan retrospektif dibanding
dengan pembiayaan prospektif, diantaranya pada Pembiayaaan berdasar Fee for
service :
1. Tidak memiliki pengaruh besar terhadap kualitas penegakan diagnosa.
2. Kurang sensitif terhadap rasionalisasi penggunaan obat, AMHP dll
3. Kurang sensitif terhadap rasionalisasi penggunaan teknologi canggih dan
mahal
4. Pemberi Pelayanan Kesehatan baik fasilitas kesehatan maupun dokter menjadi
kurang sensitif terhadap biaya
5. Kemungkinan moral hazard oleh penyedia layanan kesehatan yang
menimbulkan supply induced demand (unnecessary services)
3
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Pembiayaan system prospektif ( prospektif payment) :


1. Memiliki pengaruh besar terhadap akurasi diagnosa serta kualitas rekam medik
karena sangat terkait dengan tarif
2. Sensitif terhadap rasionalisasi penggunaan obat, AMHP, dll, karena termasuk
dalam tarif paket
3. Sensitif terhadap rasionalisasi penggunaan teknologi canggih dan mahal
karena termasuk dalam tarif paket
4. Pemberi Pelayanan Kesehatan baik fasilitas kesehatan maupun dokter menjadi
sensitif terhadap biaya
5. Peluang moral hazard oleh penyedia layanan kesehatan menjadi kurang
karena tidak ada insentif dalam melakukan pelayanan yang tidak diperlukan
Beberapa pengertian Casemix, diantaranya :
Casemix / DRGs adalah pengklasifikasian setiap tahapan pelayanan kesehatan
yang sejenis ke dalam kelompok yang mempunyai arti relatif sama.
Casemix merupakan suatu sistem pengelompokkan penyakit berdasarkan ciri
klinis serta biaya perawatan yang kurang lebih sama, dikaitkan dengan
pembiayaan untuk tujuan meningkatkan mutu dan efektifitas pelayanan.
Sistem casemix adalah system pembayaran pelayanan kesehatan secara
paket dimana pembayaran / biaya ditentukan sebelum pelayanan diberikan.
Beberapa komponen dalam sistem casemix, diantaranya :
1. Coding
2. Costing
3. Clinical Pathway
4. Teknologi Informasi
Manfaat implementasi Casemix dalam sistem pembiayaan untuk rumah sakit di
Indonesia, dirasakan baik secara umum, maupun bagi rumah sakit selaku
penyelenggara pelayanan kesehatan, bagi masyarakat selaku penerima manfaat
pelayanan serta bagi Kementerian Kesehatan selaku regulator.
Secara Umum :
Tarif terstandarisasi dan lebih transparan
Penghitungan tarif pelayanan lebih objektif dan berdasarkan kepada biaya yang
sebenarnya;
RS mendapat pembiayaan berdasarkan kepada beban kerja sebenarnya;
Dapat meningkatkan mutu & efisiensi pelayanan RS.
Bagi Rumah Sakit :
Salah satu cara untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan;
4
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Secara objektif memantau pelaksanaan Program Quality Assurance;


Bisa mendapatkan informasi mengenai variasi pelayanan;
Dapat mengevaluasi kualitas pelayanan;
Dapat mempelajari proses perawatan pasien;
Adanya rencana perawatan yang tepat.

Bagi Masyarakat
Memberikan prioritas perawatan pada pasien berdasar tingkat keparahan
penyakit
Pasien menerima kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik
Mengurangi resiko yang dihadapi pasien
Mempercepat pemulihan dan meminimalisasi kecacatan
Adanya kepastian mutu dan kepastian biaya.
Bagi Kementerian Kesehatan
Dapat mengevaluasi dan membandingkan kinerja rumah sakit
Benchmarking
Area untuk audit klinis
Mengembangkan clinical pathway dan SPO
Menstandarisasi proses pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Adanya standar untuk pengalokasian biaya jamkesmas.

SISTEM INA-CBG
Sistem casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada tahun 2006
dengan nama INA-DRG (Indonesia- Diagnosis Related Group). Implementasi
pembayaran dengan INA-DRG dimulai pada 1 September 2008 pada 15 rumah sakit
vertikal, dan pada 1 Januari 2009 diperluas pada seluruh rumah sakit yang bekerja
sama untuk program Jamkesmas.
Pada tanggal 31 September 2010 dilakukan perubahan nomenklatur dari INADRG (Indonesia Diagnosis Related Group) menjadi INA-CBG (Indonesia Case
Based Group) seiring dengan perubahan grouper dari 3M Grouper ke UNU (United
Nation University) Grouper. Dengan demikian, sejak bulan Oktober 2010 sampai
Desember 2013, pembayaran kepada Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)
Lanjutan dalam Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) menggunakan INACBG.
Sejak diimplementasikannya sistem casemix di Indonesia telah dihasilkan 3 kali
perubahan besaran tarif, yaitu tarif INA-DRG tahun 2008, tarif INA-CBG tahun 2013
dan tarif INA-CBG tahun 2014. Tarif INA-CBG mempunyai 1.077 kelompok tarif
terdiri dari 789 kode grup/kelompok rawat inap dan 288 kode grup/kelompok rawat
jalan, menggunakan sistem koding dengan ICD-10 untuk diagnosis serta ICD-9-CM
5
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

untuk prosedur/tindakan. Pengelompokan kode diagnosis dan prosedur dilakukan


dengan menggunakan grouper UNU (UNU Grouper). UNU-Grouper adalah Grouper
casemix yang dikembangkan oleh United Nations University (UNU).

STRUKTUR KODE INA CBG


Dasar pengelompokan dalam INA CBG menggunakan sistem kodifikasi dari
diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan
acuan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur.
Pengelompokan menggunakan sistem teknologi informasi berupa Aplikasi INA-CBG
sehingga dihasilkan 1.077 Group/Kelompok Kasus yang terdiri dari 789 kelompok
kasus rawat inap dan 288 kelompok kasus rawat jalan. Setiap group dilambangkan
dengan kode kombinasi alfabet dan numerik dengan contoh sebagai berikut :
Struktur Kode INA-CBG

Keterangan :
1. Digit ke-1 merupakan CMG ( Casemix Main Groups)
2. Digit ke-2 merupakan tipe kasus
3. Digit ke-3 merupakan spesifik CBG kasus
4. Digit ke-4 berupa angka romawi merupakan severity level
Struktur Kode INA-CBG terdiri atas :
a. Case-Mix Main Groups (CMGs)
Adalah klasifikasi tahap pertama
Dilabelkan dengan huruf Alphabet (A to Z)
Berhubungan dengan sistem organ tubuh
Pemberian Label Huruf disesuaikan dengan yang ada pada ICD 10 untuk
setiap sistem organ
Terdapat 30 CMGs dalam UNU Grouper (22 Acute Care CMGs, 2 Ambulatory
CMGs, 1 Subacute CMGs, 1 Chronic CMGs, 4 Special CMGs dan 1 Error
CMGs)
Total CBGs sampai saat ini sebanyak 1220.
31 CMGs yang ada dalam INA-CBG terdiri dari :

6
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

7
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Casemix Main Groups (CMG)


CMG
Codes

Case-Mix Main Groups (CMG)

NO
1

Central nervous system Groups

Eye and Adnexa Groups

Ear, nose, mouth & throat Groups

Respiratory system Groups

Cardiovascular system Groups

Digestive system Groups

Hepatobiliary & pancreatic system Groups

Musculoskeletal system & connective tissue Groups

Skin, subcutaneous tissue & breast Groups

10

Endocrine system, nutrition & metabolism Groups

11

Nephro-urinary System Groups

12

Male reproductive System Groups

13

Female reproductive system Groups

14

Deleiveries Groups

15

Newborns & Neonates Groups

16

Haemopoeitic & immune system Groups

17

Myeloproliferative system & neoplasms Groups

18

Infectious & parasitic diseases Groups

19

Mental Health and Behavioral Groups

20

Substance abuse & dependence Groups

8
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI


NO

Case-Mix Main Groups (CMG)

CMG
Codes

21

Injuries, poisonings & toxic effects of drugs Groups

22

Factors influencing health status & other contacts with health


services Groups

23

Ambulatory Groups-Episodic

24

Ambulatory Groups-Package

QP

25

Sub-Acute Groups

SA

26

Special Procedures

YY

27

Special Drugs

DD

28

Special Investigations I

II

29

Special Investigations II

IJ

30

Special Prosthesis

RR

31

Chronic Groups

CD

32

Errors CMGs

b. Case-Based Groups (CBG) :


Sub-group kedua yang menunjukkan tipe kasus (1-9)
Group Tipe Kasus dalam INA-CBG
TIPE KASUS
a. Prosedur Rawat Inap
b. Prosedur Besar Rawat Jalan
c. Prosedur Signifikan Rawat Jalan
d. Rawat Inap Bukan Prosedur
e. Rawat Jalan Bukan Prosedur
f. Rawat Inap Kebidanan
g. Rawat Jalan kebidanan
h. Rawat Inap Neonatal
i. Rawat Jalan Neonatal
j. Error

GROUP
Group-1
Group-2
Group-3
Group-4
Group-5
Group-6
Group-7
Group-8
Group-9
Group-0

9
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

c. Kode CBG
Sub-group ketiga menunjukkan spesifik CBG yang dilambangkan dengan
numerik mulai dari 01 sampai dengan 99.
d. Severity Level
Sub-group keempat merupakan resource intensity level yang menunjukkan
tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun
komplikasi dalam masa perawatan. Keparahan kasus dalam INA-CBG terbagi
menjadi :
1) 0 Untuk Rawat jalan
2) I - Ringan untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 1 (tanpa komplikasi
maupun komorbiditi)
3) II - Sedang Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 2 (denganmild
komplikasi dan komorbiditi)
4) III - Berat Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 3 (dengan major
komplikasi dan komorbiditi)
Contoh kode INA-CBG
Tipe Layanan
Rawat Inap

Rawat Jalan

Kode INA-CBG
I 4 10 I
I 4 10 II
I 4 10 III
Q 5 18 0
Q 5 35 0

Deskripsi Kode INA-CBG


Infark Miocard Akut Ringan
Infark Miocard Akut Sedang
Infark Miocard Akut Berat
Konsultasi atau pemeriksaan lain-lain
Infeksi Akut

Istilah ringan, sedang dan berat dalam deskripsi dari Kode INA CBG bukan
menggambarkan kondisi klinis pasien maupun diagnosis atau prosedur namun
menggambarkan tingkat keparahan (severity level) yang dipengaruhi oleh diagnosis
sekunder (komplikasi dan ko-morbiditi).
TARIF INA-CBG DALAM JKN
Tarif INA-CBG yang digunakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) per 1 Januari 2014 diberlakukan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan,
dengan beberapa prinsip sebagai berikut :
1. Pengelompokan Tarif 7 kluster rumah sakit, yaitu :
Tarif Rumah Sakit Kelas A
Tarif Rumah Sakit Kelas B
Tarif Rumah Sakit Kelas B Pendidikan
Tarif Rumah Sakit Kelas C
Tarif Rumah Sakit Kelas D
Tarif Rumah Sakit Khusus Rujukan Nasional
Tarif Rumah Sakit Umum Rujukan Nasional
10
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Pengelompokan tarif berdasarkan penyesuaian setelah melihat besaran


Hospital Base Rate (HBR) sakit yang didapatkan dari perhitungan total biaya
pengeluaran rumah sakit. Apabila dalam satu kelompok terdapat lebih dari
satu rumah sakit, maka digunakan Mean Base Rate.
2. Regionalisasi, tarif terbagi atas 5 Regional yang didasarkan pada Indeks
Harga Konsumen (IHK) dan telah disepakati bersama antara BPJS
Kesehatan dengan Asosiasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan
3. Terdapat pembayaran tambahan (Top Up) dalam sistem INA CBG versi 4.0
untuk kasus kasus tertentu yang masuk dalam special casemix main group
(CMG) ,meliputi :

Special Prosedure

Special Drugs

Special Investigation

Special Prosthesis

Special Groups Subacute dan Kronis

Top up pada special CMG tidak diberikan untuk seluruh kasus atau kondisi,
tetapi hanya diberikan pada kasus dan kondisi tertentu. Khususnya pada
beberapa kasus atau kondisi dimana rasio antara tarif INA-CBG yang sudah
dibuat berbeda cukup besar dengan tarif RS. Penjelasan lebih rinci tentang
Top Up dapat dilihat pada poin D.
4. Tidak ada perbedaan tarif antara rumah sakit umum dan khusus, disesuaikan
dengan penetapan kelas yang dimiliki untuk semua pelayanan di rumah sakit
berdasarkan surat keputusan penetapan kelas yang dikeluarkan oleh
Kementerian Kesehatan RI.
5. Tarif INA-CBG merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen
sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis
maupun non-medis.
Untuk Rumah Sakit yang belum memiliki penetapan kelas, maka tarif INA-CBG
yang digunakan setara dengan Tarif Rumah Sakit Kelas D sesuai regionalisasi
masing-masing.
Penghitungan tarif INA CBGs berbasis pada data costing dan data koding
rumah sakit. Data costing didapatkan dari rumah sakit terpilih (rumah sakit sampel)
representasi dari kelas rumah sakit, jenis rumah sakit maupun kepemilikan rumah
sakit (rumah sakit swasta dan pemerintah), meliputi seluruh data biaya yang
dikeluarkan oleh rumah sakit, tidak termasuk obat yang sumber pembiayaannya dari
program pemerintah (HIV, TB, dan lainnya). Data koding diperoleh dari data koding
11
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

rumah sakit PPK Jamkesmas. Untuk penyusunan tarif JKN digunakan data costing
137 rumah sakit pemerintah dan swasta serta 6 juta data koding (kasus).
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 111 tahun 2013,
mengamanatkan tarif ditinjau sekurang-kurangnya setiap 2 (dua) tahun. Upaya
peninjauan tarif dimaksudkan untuk mendorong agar tarif makin merefleksikan
actual cost dari pelayanan yang telah diberikan rumah sakit. Selain itu untuk
meningkatkan keberlangsungan sistem pentarifan yang berlaku, mampu mendukung
kebutuhan medis yang diperlukan dan dapat memberikan reward terhadap rumah
sakit yang memberikan pelayanan dengan outcome yang baik. Untuk itu keterlibatan
rumah sakit dalam pengumpulan data koding dan data costing yang lengkap dan
akurat sangat diperlukan dalam proses updating tarif.
REGIONALISASI
Regionalisasi dalam tarif INA-CBG dimaksudkan untuk mengakomodir
perbedaan biaya distribusi obat dan alat kesehatan di Indonesia. Dasar penentuan
regionalisasi digunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari Badan Pusat Statistik
(BPS), pembagian regioalisasi dikelompokkan menjadi 5 regional. Kesepakatan
mengenai pembagian regional dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
(PERSI) dengan hasil regionalisasi tingkat propinsi sebagai berikut.
Daftar regionalisasi tarif INA-CBG
REGIONALISASI
I
II
III
IV
IV
Banten
Sumatera Barat
NAD
Kalimantan Selatan Bangka Belitung
DKI Jakarta Riau
Sumatera Utara
Kalimantan Tengah NTT
Jawa Barat
Sumatera Selatan Jambi
Kalimantan Timur
Jawa Tengah Lampung
Bengkulu
Kalimantan Utara
DI Yogyakarta Bali
Kepulauan Riau
Maluku
Jawa Timur
NTB
Kalimantan Barat
Maluku Utara
Sulawesi Utara
Papua
Sulawesi Tengah
Papua Barat
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan

12
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

SPECIAL CMG DALAM INA CBGs


Special CMG atau special group pada tarif INA-CBG saat ini dibuat agar
mengurangi resiko keuangan rumah sakit. Saat ini hanya diberikan untuk beberapa
obat, alat, prosedur, pemeriksaan penunjang serta beberapa kasus penyakit subakut
dan kronis yang selisih tarif INA-CBG dengan tarif rumah sakit masih cukup besar.
Besaran nilai pada tarif special CMG tidak dimaksudkan untuk menganti biaya yang
keluar dari alat, bahan atau kegiatan yang diberikan kepada pasien, namun
merupakan tambahan terhadap tarif dasarnya.
Dasar pembuatan special CMG adalah CCR (cost to charge ratio ) yaitu
perbandingan antara cost rumah sakit dengan tarif INA-CBG, data masukan yang
digunakan untuk perhitungan CCR berasal dari profesional (dokter specialis),
beberapa rumah sakit serta organisasi profesi. Rincian special CMG yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
1. Special CMG untuk Drugs, Prosthesis, Prosedur serta Investigasi
Daftar Special CMG
Kode
Special
CMG

List Item Special


CMG

DD01 Streptokinase

DD02 Deferiprone

DD03 Deferoksamin

DD04 Deferasirox

Jenis
Kode
Peraw
INA-CBG
atan
I-4-10-I
Rawat
I-4-10-II
Inap
I-4-10-III
D-4-13-I
Rawat
D-4-13-II
Inap
D-4-13-III
D-4-13-I
Rawat
D-4-13-II
Inap
D-4-13-III
D-4-13-I
Rawat
D-4-13-II
Inap
D-4-13-III
A-4-10-I

DD05 Human Albumin

Rawat A-4-10-II
Inap
A-4-10-III

Kode ICD 10 dan ICD 9 CM


Diagnosis/Prosedur

Tipe
Special CMG

I210,I211,I212,I213,I214,I219,I2
Special Drug
33
D561,D562,D563,D564,D568

Special Drug

D561,D562,D563,D564,D568

Special Drug

D561,D562,D563,D564,D568

Special Drug

A021,A207,A227,A391,A392,A39
3,A394,A398,A399,A400,A401,A
402,A403,A408,A409,A410,A411, Special Drug
A412,A413,A414,A415,A418,A41
9,A427,B377,R571

13
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Daftar Special CMG (lanjutan)


Kode
Special
CMG
YY01

YY02

YY03

YY04

YY05

YY06

YY08

List Item Special


CMG

Jenis
Peraw
atan

Kode
INA-CBG

E-1-01-I
Rawat
E-1-01-II
Inap
E-1-01-III
M-1-04-I
Hip Replacement
Rawat
M-1-04-II
/knee replacement
Inap
M-1-04-III
I-1-40-I
Rawat
PCI
I-1-40-II
Inap
I-1-40-III
H-1-30-I
Rawat
Keratoplasty
H-1-30-II
Inap
H-1-30-III
B-1-10-I
Rawat
Pancreatectomy
B-1-10-II
Inap
B-1-10-III
Repair of septal defect
I-1-06-I
Rawat
of heart with
I-1-06-II
Inap
prosthesis
I-1-06-III
C-4-12-I
Stereotactic Surgery & Rawat
C-4-12-II
Radiotheraphy
Inap
C-4-12-III
Tumor pineal Endoskopy

YY09

Torakotomi

YY10

Lobektomi /
bilobektomi

YY11

Air plumbage

YY12

Timektomi

YY13

Vitrectomy

YY14

Phacoemulsification

YY15

Microlaringoscopy

YY16

Cholangiograph

J-1-30-I
Rawat
J-1-30-II
Inap
J-1-30-III
J-1-10-I
Rawat
J-1-10-II
Inap
J-1-10-III
J-4-20-I
Rawat
J-4-20-II
Inap
J-4-20-III
D-1-20-I
Rawat
D-1-20-II
Inap
D-1-20-III
H-1-30-I
Rawat
H-1-30-II
Inap
H-1-30-III
Rawat
H-2-36-0
Jalan
Rawat
J-3-15-0
Jalan
Rawat
B-3-11-0
Jalan

Kode ICD 10 dan ICD 9 CM


Diagnosis/Prosedur

Tipe
Special CMG

0713,0714,0715,0717

Special
Procedure

8151,8152,8153,8154,8155

Special
Procedure

3606,3607,3609

Special
Procedure

1160,1161,1162,1163,1164,1169

Special
Procedure

5251,5252,5253,5259,526

Special
Procedure

3550,3551,3552,3553,3555

Special
Procedure

Z510,9221,9222,9223,9224,9225
,9226,9227,9228,9229,9230,923
1,9232,9233,9239

Special
Procedure

3402,3403

Special
Procedure

3241,3249

Special
Procedure

3332

Special
Procedure

0780,0781,0782

Special
Procedure

1473

Special
Procedure

1341
3141,3142,3144
5110,5111,5114,5115,5213

Special
Procedure
Special
Procedure
Special
Procedure

14
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Daftar Special CMG (lanjutan)


Kode
Special
CMG

List Item Special


CMG

II01

Other CT Scan

II02

Nuclear Medicine

II03

MRI

II04

Diagnostic and
Imaging Procedure of

RR01

Subdural grid
electrode

RR02

Cote graft

RR03

TMJ Prothesis

RR04

Liquid Embolic (for


AVM)

RR05

Hip Implant/ knee


implant

Jenis
Peraw
atan
Rawat
Jalan
Rawat
Jalan
Rawat
Jalan
Rawat
Jalan

Kode
INA-CBG

Kode ICD 10 dan ICD 9 CM


Diagnosis/Prosedur

Z-3-19-0

8741,8801,8838

Z-3-17-0

9205,9215

Z-3-16-0

8892,8893,8897

H-3-13-0

9512

G-1-10-I
Rawat
G-1-10-II
Inap
G-1-10-III
I-1-03-I
Rawat
I-1-03-II
Inap
I-1-03-III
M-1-60-I
Rawat
M-1-60-II
Inap
M-1-60-III
G-1-12-I
Rawat
G-1-12-II
Inap
G-1-12-III
M-1-04-I
Rawat
M-1-04-II
Inap
M-1-04-III

Tipe
Special CMG
Special
Investigation
Special
Investigation
Special
Investigation
Special
Investigation

0293

Special
Prosthesis

3581

Special
Prosthesis

765

Special
Prosthesis

3974

Special
Prosthesis

8151,8152,8153,8154,8155

Special
Prosthesis

2. Special CMG untuk Subakut dan Kronis dengan penjelasan sebagai berikut :
Special CMG subakut dan kronis diperuntukkan untuk kasus-kasus Psikiatri serta
kusta dengan ketentuan lama hari rawat (LOS) dirumah sakit sebagai berikut :
Fase Akut
: 1 s/d 42 Hari
Fase subakute
: 43 s/d 103 Hari
Fase Kronis
: 104 s/d 180 Hari
Special CMG subakut dan kronis berlaku di semua rumah sakit yang memiliki
pelayanan psikiatri dan kusta serta memenuhi kriteria lama hari rawat sesuai
ketentuan diatas. Perangkat yang akan digunakan untuk melakukan penilaian
pasien subakut dan kronis dengan menggunakan WHO-DAS (WHO Disability
Assesment Schedule) versi 2.0. Penghitungan tarif special CMG subakut dan
kronis akan menggunakan rumus sebagai berikut :
Fase Akut
: Tarif Paket INA-CBG
Fase Subakut
: Tarif Paket INA-CBG + Tarif Subakut
Fase Kronis
: Tarif Paket INA-CBG + Tarif Subakut + Tarif Kronis

15
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

WHO-DAS
1. WHO-DAS adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur disabilitas.
Instrumen ini dikembangkan oleh Tim Klasifikasi, Terminologi, dan standar WHO
dibawah The WHO/National Institutes of Health (NIH) Joint Projecton Assesment
of Classification of Disability.
2. Dalam konteks INA-CBG :
a. Versi yang digunakan adalah versi 2.0, yang mengandung 12 (duabelas)
variabel penilaian (s1-s12)dengan skala penilaian 1 (satu) sampai dengan 5
(lima), sehingga total skor 60 (enampuluh)
b. Tidak digunakan sebagai dasar untuk pemulangan pasien tetapi sebagai
dasar untuk menghitung Resource Intensity Weight (RIW) pada fase
subakut dan kronis bagi pasien psikiatri dan pasien kusta
c. Penilaian/assessment dilaksanakan pada awal fase subakut (hari ke-43)
dan awal fase kronis (hari ke-104) yang dihitung sejak hari pertama pasien
masuk.
d. Penilaian dilakukan dengan metode wawancara langsung (interview)
dan/atau observasi oleh psikiater atau dokter ahli lainnya, dokter umum,
maupun perawat yang terlatih
e. Lembar penilaian ditandatangani oleh Dokter Penanggung Jawab
Pelayanan (DPJP) dengan mencantumkan nama jelas (Perangkat lengkap
WHO-DAS terlampir)
3. Salinan lembar hasil scoring WHO-DAS yang telah ditandatangani oleh
DPJP dilampirkan sebagai bahan pendukung pengajuan klaim.
4. Petugas administrasi klaim atau koder melakukan input hasil scoring WHODAS berupa angka penilaian awal masuk pada periode subakut atau kronis
ke dalam software INA-CBG pada kolom ADL, selanjutnya software akan
melakukan penghitungan tarif secara otomatis.

EPISODE
Episode adalah jangka waktu perawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai
pasien keluar rumah sakit, termasuk konsultasi dan pemeriksaan dokter,
pemeriksaan penunjang maupun pemeriksaan lainnya. Pada sistem INA-CBG,
hanya ada 2 episode yaitu episode rawat jalan dan rawat inap, dengan beberapa
kriteria di bawah ini :
1. Episode rawat jalan
Satu episode rawat jalan adalah satu rangkaian pertemuan konsultasi antara
16
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

pasien dan dokter serta pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis dan
obat yang diberikan pada hari pelayanan yang sama. Apabila pemeriksaaan
penunjang tidak dapat dilakukan pada hari yang sama maka tidak
dihitung sebagai episode baru.
Pasien yang membawa hasil pada hari pelayanan yang berbeda yang
dilanjutkan dengan konsultasi dan pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi
medis, dianggap sebagai episode baru.
Pemeriksaan penunjang khusus dirawat jalan (MRI, CT Scan) tidak menjadi
episode baru karena termasuk dalam special CMG.
Pelayanan IGD, pelayanan rawat sehari maupun pelayanan bedah sehari
(One Day Care/Surgery) termasuk rawat jalan
Pasien yang datang ke rumah sakit mendapatkan pelayanan rawat jalan pada
satu atau lebih klinik spesialis pada hari yang sama, terdiri dari satu atau lebih
diagnosis, dimana diagnosis satu dengan yang lain saling berhubungan atau
tidak berhubungan, dihitung sebagai satu episode.
2. Pasien datang kembali ke rumah sakit dalam keadaan darurat pada hari
pelayanan yang sama, maka dianggap sebagai episode baru.
3. Episode rawat Inap adalah satu rangkaian pelayanan jika pasien mendapatkan
perawatan > 6 jam di rumah sakit atau jika pasien telah mendapatkan fasilitas
rawat inap (bangsal/ruang rawat inap dan/atau ruang perawatan intensif)
walaupun lama perawatan kurang dari 6 jam, dan secara administrasi telah
menjadi pasien rawat inap.
4. Pasien yang masuk ke rawat inap sebagai kelanjutan dari proses perawatan di
rawat jalan atau gawat darurat, maka kasus tersebut termasuk satu episode
rawat inap, dimana pelayanan yang telah dilakukan di rawat jalan atau gawat
darurat sudah termasuk didalamnya.
5. Dalam hal pelayanan berupa prosedur yang berkelanjutan di pelayanan rawat
jalan seperti radioterapi, kemoterapi, rehabilitasi medik dan pelayanan gigi,
episode yang berlaku adalah per satu kali kunjungan.

17
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

IMPLEMENTASI DIRUMAH SAKIT


Metode pembayaran rumah sakit dengan INA-CBG harus diikuti dengan
berbagai perubahan di rumah sakit baik pada level manajemen maupun profesi
khususnya dokter. Karena perubahan tidak hanya dilakukan pada cara pandang
mengelola pasien tetapi juga cara pandang dalam mengelola rumah sakit.
Beberapa upaya yang sebaiknya dilakukan adalah:
1. Membangun tim rumah sakit

Manajemen dan profesi serta komponen rumah sakit yang lain harus
mempunyai persepsi dan komitmen yang sama serta mampu bekerja sama
untuk menghasilkan produk pelayanan rumah sakit yang bermutu dan cost
efective. Bukan sekedar untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sebagai
tim semua komponen rumah sakit harus memahami tentang konsep tarif paket,
dimana dimungkinkan suatu kasus atau kelompok CBG tertentu mempunyai
selisih positif dan pada kasus atau kelompok kasus CBG yang sama pada
pasien berbeda ataupun pada kelompok CBG lain mempunyai selisih negatif.
Surplus atau selisih positip pada suatu kasus atau kelompok CBG dapat
digunakan untuk menutup selisih negatif pada kasus lain atau kelompok CBG
lain (subsidi silang). Sehingga pelayanan rumah sakit tetap mengedepankan
mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
2. Meningkatkan efisiensi
Efisiensi tidak hanya dilakukan pada sisi proses seperti penggunaan sumber
daya farmasi, alat medik habis pakai, lama rawat, pemeriksaan penunjang yang
umumnya menjadi area profesi tetapi juga pada sisi input seperti perencanaan
dan pengadaan barang dan jasa yang umumnya menjadi area/tanggung jawab
menejemen. Sisi proses umumnya lebih menekankan pada aspek efektifitas
sedangkan sisi input umumnya lebih menekankan aspek efisiensi. Keduanya
harus mampu berinteraksi untuk menghasilkan produk pelayanan yang cost
effective. Sisi proses dalam hal melakukan efisiensi juga harus mampu
mengurangi atau bahkan menghilangkan pelayanan yang berlebih dan tidak
diperlukan (over treatment dan atau over utility). Seperti penggunaan/pemilihan
obat yang berlebihan dan pemeriksaan penunjang yang tidak selektif dan tidak
kuat indikasinya. Efisiensi juga harus dilakukan pada biaya umum seperti
penggunaan listrik, air, perlengkapan kantor dan lain-lain. Inefisiensi pada sisi
input maupun proses akan berpengaruh pada ongkos/biaya produksi pelayanan
rumah sakit yang mahal.
3. Memperbaiki mutu rekam medis
Tarif INA-CBG sangat ditentukan oleh output pelayanan yang tergambar pada
diagnosis akhir (baik diagnosis utama maupun sekunder) dan prosedur yang
telah dilakukan selama proses perawatan. Kelengkapan dan mutu dokumen
rekam medis berpengaruh pada koding, grouping dan tarif INA-CBG.
18
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Memperbaiki kecepatan dan mutu klaim


Kecepatan dan mutu klaim akan mempengaruhi cash flow rumah sakit.
Kecepatan klaim sangat dipengaruhi oleh kecepatan penyelesaian berkas rekam
medis. Sehingga rumah sakit harus menata sistem pelayanan rekam medis yang
baik agar kecepatan dan mutu rekam medis bisa memperbaiki dan
meningkatkan cash flow rumah sakit.
5. Melakukan standarisasi
Perlu terus dibangun standard input dan proses di tingkat rumah sakit. Standard
input misalnya farmasi, alat medik habis pakai . Perlu dibuat formularium rumah
sakit (perencanaan), perlu dibuat standar pengadaan obat rumah sakit (e
katalog dan atau lelang), standar penulisan resep misal dokter hanya menulis
nama generik sedangkan obat yang diberikan berdasar hasil/perolehan
pengadaan. Standar proses misalnya PPK/SPO dan atau clinical pathway.
Keputusan/penetapan standar proses akan sangat berpengaruh pada
pembuatan keputusan pada standar input.
6. Membentuk Tim Casemix/Tim INA-CBG rumah sakit
Tim Casemix/Tim INA-CBG rumah sakit akan menjadi penggerak membantu
melakukan sosialisasi, monitoring dan evaluasi implementasi INA-CBG di rumah
sakit.
7. Memanfaatkan data klaim.
Data INA-CBG rumah sakit dapat digunakan/dimanfaatkan tidak hanya untuk
klaim tetapi juga dapat digunakan untuk menilai performance rumah sakit dan
performance SDM khususnya profesi dokter. Data INA-CBG bisa juga
digabungkan dengan data HIMS (Health Information Management System)
bahkan bisa dibandingkan dengan rumah sakit lain yang sekelas. Jadi data INACBG dan data klaim dapat digunakan sebagai bahan untuk pengambilan
keputusan/kebijakan tingkat rumah sakit.
8. Melakukan review post-claim
Reviu post-claim yang dilakukan secara berkala sangat penting dalam
menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian biaya dan mutu
dalam pelayanan yang akan diberikan. Idealnya kegiatan reviu ini melibatkan
seluruh unit yang ada di rumah sakit baik manajemen, tenaga professional, serta
unit penunjang maupun pendukung dan dilakukan dengan data yang telah
dianalisis oleh tim Casemix rumah sakit.
9. Pembayaran jasa medis
Perubahan metode pembayaran rumah sakit dengan metode paket INA-CBG
sebaiknya diikuti dengan perubahan pada cara pembayaran jasa medis.
Pembayaran jasa medis sebaiknya disesuaikan dengan menggunakan sistem
remunerasi berbasis kinerja.
10. Untuk masa yang akan datang diharapkan seluruh rumah sakit provider JKN
bisa berkontribusi untuk mengirimkan data koding dan data costing sehingga
dapat dihasilkan tarif yang mencerminkan actual cost pelayanan di rumah sakit.
4.

19
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Apa saja yang sebaiknya TIDAK dilakukan oleh rumah sakit.


Implementasi INA-CBG sebaiknya dilakukan dengan benar dan penuh
tanggunggung jawab dari semua pihak. Sebaiknya rumah sakit tidak melakukan hal
hal dibawah ini:
1. Menambah diagnosis yang tidak ada pada pasien yang diberikan pelayanan

untuk tujuan meningkatkan tingkat keparahan atau untuk tujuan mendapatkan


grouping pada kelompok tariff yang lebih besar.
2. Menambah prosedur yang tidak dilakukan atau tidak ada bukti pemeriksaan

untuk tujuan mendapatkan grouping pada kelompok tariff yang lebih besar.
3. Melakukan input diagnosis dan prosedur hingga proses grouping berkali-kali

dengan tujuan mendapatkan kelompok tarif yang lebih besar.


4. Upcoding,

yaitu memberikan koding dengan


meningkatkan pembayaran ke rumah sakit.

sengaja

dengan

tujuan

5. Melakukan manipulasi terhadap diagnosis dengan menaikkan tingkatan jenis

tindakan. Misalnya : appendiectomy tanpa komplikasi ditagihkan sebagai


appendiectomy dengan komplikasi, yang memerlukan operasi besar sehingga
menagihkan dengan tarif yang lebih tinggi.
6. Memberikan

pelayanan dengan mutu yang kurang baik. Misalnya:


memperpendek jam pelayanan poliklinik, pelayanan yang bisa diselesaikan
dalam waktu satu hari dilakukan pada hari yang berbeda, tidak melakukan
pemeriksaan penunjang yang seharusnya dilakukan, tidak memberikan obat
yang seharusnya diberikan, serta membatasi jumlah tempat tidur yang tersedia
di rumah sakit untuk peserta JKN.

20
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

STRATEGI PENGENDALIAN BIAYA (COST CONTAINMENT)


Cost Containment yang memiliki arti penekanan atau pengendalian biaya
terhadap berbagai sisi bisnis rumah sakit dari mulai kepegawaian, infrastruktur,
peralatan, obat-obatan bahan habis pakai dan seluruh aspek bisnis lainnya di rumah
sakit. Cost containment merupakan cara mengendalikan biaya sampai ketitik cost
effectiveness bukan ketitik efficiency. Artinya berapa besaran biaya yang secara
rasional dibutuhkan untuk pelayanan tertentu dan berapa besar pembiayaan untuk
perawatan atau pemeliharan peralatan secara rasional.
Sesungguhnya inti dari cost containment adalah bagaimana seluruh karyawan
menjadi sadar biaya. Manajemen rumah sakit mengetahui dengan persis, bahwa
biaya yang dibebankan kepada pasien adalah akibat dari pekerjaannya dan biaya
tesebut yang harus ditanggung oleh pasien.
Langkah Langkah Strategis Penekanan Biaya
Diperlukan langkah langkah strategis yang memadai dalam merancang
penekanan biaya di rumah sakit, agar seluruh karyawan memahami adanya
kebijakan berkaitan dengan penekanan biaya yang mengarah kepada cost
effectiveness. Sebagai landasan utama adalah dibangunnya suatu komitmen dan
membentuk budaya sadar biaya pada semua lini.
1. Perencanaan
Seperti layaknya suatu organisasi bisnis, maka rumah sakit diwajibkan memiliki
perencanaan antara lain Business plan sebagai dokumen perencanaan suatu
rumah sakit, atau beberapa tahun yang lalu cukup hanya rencana strategis.
Kemudian setiap unit memiliki Strategic Action Plan, implementation plan dan
annual plan serta accountability system. Namun perencanaan dalam suatu rumah
sakit adalah sejak rumah sakit itu akan didirikan sehingga streamline
perencanaan yang berwawasan penekanan biaya akan menjadi jelas sampai
pada perencanaan proses pelayanan.
a. Perencanaan Dalam Mendirikan Rumah Sakit
Sebelum rumah sakit didirikan, sebaiknya investor memiliki business plan yang
jelas, yang kemudian akan diuji dengan studi kelayakan dan jika layak maka
disusun suatu master plan. Disinilah sebenarnya awal penekanan biaya bisa bisa
dipikirkan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman tentang bangunan rumah sakit.
Bangunan rumah sakit memiliki dua aspek utama yaitu fungsi dan estetika
bangunan. Keduanya harus dipikirkan dengan baik jangan sampai terjadi
bangunan hanya mengutamakan estetika akan tetapi mengabaikan fungsi
bangunan itu sendiri. Banyak kejadian bahwa bangunan tampak estetik dan
menarik akan tetapi kurang fungsional, akibatnya banyak ruangan yang idle dan
tidak bisa difungsikan. Hal ini akan berdampak terhadap semakin tinggi
21
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

pembiayaan. Dan jika hal ini terjadi maka biaya tetap atau Fixed cost suatu rumah
sakit akan sangat tinggi dan sudah pasti akan berpengaruh terhadap kebijakan
pentarifan, terif menjadi sulit bersaing dan tentu saja akan merugikan investornya.
Hal lain adalah bagaimana kita mensiasati agar rumah sakit menjadi rumah
sakit dengan bangunan yang mampu mengakomodasi fungdi fungsi yang
nantinya akan dilaksanakan di rumah sakit tersebut. Tentu saja fungsi harus
diterjemahkan menjadai bangunan yang memadai dengan melihat luasan,
pencahaayan, ventilasi, akses, integrasi, zoning bahkan ramah lingkungan, dan
faktor estetika.
Pada saat ini perencanaan bangunan rumah sakit mengarah kepada yang kita
kenal green hospital atau khususnya green building. Yang dimaksud disini adalah
bagaimana bangunan yang tidak terlalu menghamburkan biaya dan pencemaran.
Misalnya one bed one window, jendela yang cukup memadai, sehingga setiap
pasien bisa menikmati pencahayaan dan sirkulasi udara yang memadai.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa pasien yang dirawat pada bangunan rumah
sakit yang seperti ini tingkat kesembuhannya lebih cepat dua setengah hari
dibanding dirawat pada ruangan yang mengandalkan air kondition dan
pencahayaan listrik healing power of nature.
Tentunya open space dan
pertamanan juga merupakan dukungan yang seharusnya ada di rumah sakit.
Menggunakan bahan bahan bangunan yang ramah lingkungan, jika rumah
sakit berada pada daerah gempa sebaiknya menggunakan seismic isolation agar
bangunan tahan gempa, walaupun harganya tiga kali lipat dari fondasi bangunan
tersebut dan setiap kolom bangunan harus dipasang alat ini.
b. Perencanaan Pengadaan Peralatan Medis
Didalam master plan akan tercantum peralatan medis yang akan digunakan,
perlu di listing dan dikelompokkan kemudian lakukan standarisasi peralatan
medis, yang diupayakan dengan merek yang sama, atau dari fabrikan yang sama
dengan mempertimbangkan sisi harga dan maintenance peralatan medis
tersebut.
Ada rumah sakit yang menggunakan peralatan medis dari fabrikan yang sangat
terkenal, pertimbangannya adalah akurasi, daya tahan alat dan rendah energy,
akan tetapi harganya sangat mahal. Adapula yang menggunakan peralatan medis
dari fabrikan yang kurang terkenal, harganya murah akan tetapi biasanya boros
energy dan daya tahannya tidak sebaik merek terkenal. Namun hal ini berpulang
kepada para investor itu sendiri.
c. Perencanaan Bisnis Rumah Sakit
Business plan sebaiknya memunculkan cost containment didalamnya dengan
target atau standar penekanan biaya, misalnya didalam standar atau target
22
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

strategy map, pada kolom internal business process the Balance scorecard,
dimunculkan angkanya atau kebijakannya.
Kemudian setiap pejabat struktural dan pejabat fungsional menyusun strategic
action plan untuk menjabarkan business plan rumah sakit dengan mencantumkan
rencana cost containment dan nantinya akan dijabarkan menjadi annual plan
yang secara otomatis akan memunculkan cost containment yang harus
dilaksanakan oleh unit unit yang memiliki Annual plan unit. Dan disini
perencanaan cost containment akan menjadi jelas untuk dilaksanakan.
d. Perencanaan Rekruitmen Pegawai
Sama halnya dengan perencanaan pada setiap unit, pejabat yang
bertanggung jawab pada kepegawaian atau HRD, menyusun Strategic Action
Plan, Annual Plan, Accountability System. Yang harus ditekankan disini adalah :
Pada saat penerimaan pegawai maka penerimaan pegawai harus sesuai
dengan persyaratan kompetensi (skill, knowledge dan attitude) yang diminta
oleh jabatan yang akan dipangkunya, termasuk kesehatan fisik, jiwa dan
sosialnya.
Sistem remunerasinya harus sesuai dengan kompetensinya
Pada saat jabatannya akan dikukuhkan maka perlu diikat dengan contractual
agreement antara direktur RS dengan karyawan yang bersangkutan.
Pendidikan dan latihan harus terprogram dan dilaksanakan, agar
pengetahuan, keterampilan dan perilakunya berkembang kearah perbaikan.
Kontrolling keadaan karyawan dari mulai kesehatannya dan kinerjanya serta
kekeliruannya dalam bekerja
Rotasi dan mutasi yang sesuai dengan perkembangan kinerjanya.
Pemutusan hubungan kerja termasuk pensiun.
2. Kebijakan Direktur rumah sakit tentang cost containment
Kebijakan yang ditandatangani oleh direktur rumah sakit tentang penekanan
biaya rumah sakit. Prinsip kebijakan tersebut adalah:
Seluruh karyawan harus memiliki budaya sadar biaya
Seluruh pejabat cost center maupun pejabat revenue center bertanggung
jawab terhadap penerapan kebijakan cost costainment.
Seluruh pejabat cost center maupun pejabat revenue center diwajibkan
memiliki dokumen SAP, Annual Plan Unit, Accountability System yang
didalamnya tercantum standar dan target penekanan biaya lengkap dengan
indikator keberhasilannya.
Menerapkan Cost containment strategy yang telah disusun oleh unit unit yang
bersangkutan.
Evaluasi bulanan tentang penerapan CCS.
Reward and punishment.

23
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

3. Strategi Aplikasi Penekanan Biaya Dalam Proses Pelayanan


Kebijakan tentang Cost containment pada proses pelayanan, yang isinya antara
lain:
Pelayanan harus mengacu kepada standar pelayanan yang telah ditetapkan
oleh rumah sakit.
Penggunaan peralatan medis dan non medis sesuai SPO.
Pemakaian obat obatan dan BHP sesuai dengan standar obat dan terapi
Penggunaan obat generik 100% pada jamkesmas dan kelas III sesuai dengan
keputusan Menteri Kesehatan RI
Melaksanakan program patient safety
Setiap unit pelayanan menyusun strategic action plan, implementation plan,
annual plan dan accountability system
Setiap unit memiliki dokumen tentang unit cost, pembiayaan, pendapatan dan
breakeven point.
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan KTD secara kontinu.
Melakukan Post Delivery Audit pada setiap unit pelayanan dengan
memaparkan hasil proses pelayanan yang telah dilaksanakan
Sanksi bagi yang tidak mematuhi dan tidak melaksanakan kebijakan cost
containment.
Penghargaan bagi yang berhasil menekan pembiayaan berdasarkan evaluasi
bulanan.
Saling mengingatkan antara anggota tim pemberi pelayanan didalam proses
pelayanan, sesuai dengan budaya sadar biaya.
Selalu menyadari bahwa selama proses pelayanan diperlukan orientasi
terhadap penekanan biaya
Menggunakan alat, BHP dan obat obatan secara rasional selama proses
pelayanan
Menghindari moral hazzard dalam proses pelayanan agar pembiayaan bisa
dilaksanakan secara rasional
Menumbuhkan stewardship dilingkungan para pemberi pelayanan
Menhindari terjadinya error dalam proses pelayanan
Pengisian status secara lengkap setiap selesai pelayanan
Dengan demikian, SPO di rumah sakit khususnya tentang proses pelayanan
harus didukung oleh kebijakan direktur yang memadai agar cost costainment strategi
bisa dilaksanakan secara baik. Dalam penggunaan obat obatan dan BHP para
profesional seringkali tidak pernah memikirkan penekanan biaya, para pelaksana
tidak terbiasa dengan budaya penghematan atau penekanan pembiayaan. Padahal
jika penghematan bisa dilakukan akan menekan biaya operasional dan pada
akhirnya rumah sakit akan diuntungkan. Sebab jika rumah sakit bisa eksis dan dapat
bertahan hidup, hal itu berarti institusi atau lapangan pekerjaan akan menjadi kuat,
atau dengan kata lain institusi akan tetap berdiri dengan kokoh. Seperti kita ketahui
bahwa didalam organisasi ada istilah Inspiration, culture and institution. Budaya
24
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

yang tidak sadar biaya akan meneggelamkan institusi dan jika institusi tenggelam,
maka secara tidak disadari bahwa tempat dimana para prosfesional bekerja akan
menjadi cedera dan tidak mampu membiayai perasional. Dengan demikian
sebenarnya akan merugikan para profesi itu sendiri, artinya kesinambungan
organisasi menjadi uncertainty.
Pada sisi lain inspirasi tidak akan bisa diakomodasi oleh institusi, akibatnya
banyak keluhan dikalangan para profesi bahwa organisasi tidak mampu memberikan
akomodasi yang memadai. Sesungguhnya bisa atau tidaknya suatu organisasi
mendukung pengembangan palayanan atas dasar inspirasi para profesi, akan
sangat tergantung kepada tersedianya biaya atau tidak. Banyak keluhan seperti ini
terjadi di beberapa rumah sakit sebenarnya hal ini akibat ketidak berdayaan rumah
sakit dalam pengendalian biaya yang diakibatkan karena budaya sadar biaya sangat
lemah di rumah sakit. Jadi apakah rumah sakit mampu berada pada staying in
business amat sangat tergantung kepada kesadaran semua pihak yang terkait di
rumah sakit itu sendiri. Apakah kita semua telah memiliki kesadaran tentang
pentingnya pembiayaan yang efektif atau hanya bekerja sesuai keinginan kita tanpa
memperhatikan efektifitas biaya. Karenanya budaya sadar biaya sangat penting
untuk dibentuk secara dini, agar rumah sakit mampu berada pada staying in
business dan mampu memberikan dukungan penuh terhadap para profesi sesuai
dengan ketersediaan dana yang efektif di rumah sakit. Jika budaya sadar biaya
sudah terbentuk di rumah sakit, maka secara otomatis institusi menjadi sehat dan
inspirasi para karyawan akan berkembang serta mampu terbiayai secara efektif.

25
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

MODUL II
KOSTING DALAM INA-CBG
Tujuan diadakannya sistem pembiayaan kesehatan diantaranya untuk
mendorong peningkatan mutu, mendorong layanan berorientasi pasien, mendorong
efisiensi, tidak memberikan reward thd provider yang melakukan overtreatment,
undertreatment maupun melakukan adverse event, mendorong terbentuknya
pelayanan tim.
Metode pembayaran yg digunakan saat ini ada 2 (dua) jenis yaitu sistem
prospektif (Prospective Payment) dan retrospektif (Retrospective Payment)
Prospective Payment
Payment are made or agreed upon in advance before provision of services
Case-mix payment
Capitation payment
Global budget
Retrospective Payment
Payment are made or agreed upon after provision of services
Fee-for-service
Payment per itemised bill
Payment perdiem

BIAYA
Pengertian Biaya ( Cost)
Biaya (cost) adalah seluruh pengorbanan (sacrifice) untuk memproduksi atau
mengkonsumsi suatu komoditas atau produk tertentu yang berwujud barang atau
jasa. Bentuk pengorbanan bisa berupa uang, tenaga, barang, kenyamanan, waktu
atau kesempatan (yang diukur dengan nilai moneter). Pengertian lainnya, Biaya
adalah nilai seluruh input yang dipakai untuk menghasilkan output.
Pengelompokan biaya
1. Berdasar fungsi :
a. Biaya Investasi
(Investment Cost) adalah biaya yang dipakai untuk
pembelian barang investasi/barang modal, barang investasi adalah barang
yang bisa dipakai berulang- ulang dan harganya lebih dari 500 ribu Rupiah,
dipakai lebih dari satu tahun dan tidak untuk dijual. Contoh : biaya investasi
gedung, investasi alat medis, investasi alat non medis, investasi saranaprasarana lainya dll. Biaya investasi berhubungan dengan opportunity cost
dan depreciation cost.
26
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

b. Biaya Pemeliharaan (Maintenance Cost) adalah biaya yang dipakai untuk


melakukan pemeliharaan dan untuk mempertahankan kapasitas barang
modal dalam proses produksi. Misal biaya pemeliharaan gedung, biaya
pemeliharaan alat, biaya pemeliharaan kendaraan dll.
c. Biaya Operasional (Operational Cost) adalah biaya yang dipakai untuk
operasionalisasi barang modal dalam suatu proses produksi (pelayanan
atau kegiatan). Misal : obat-obatan, bahan habis pakai, reagen, dll.
2. Berdasar lokasi/penggunaannya :
a. Biaya Langsung (Direct Cost) adalah biaya yang secara langsung terkait
dengan pelayanan pasien di unit produksi. Secara jelas dapat ditelusuri
penggunaannya dalam suatu unit kegiatan produksi tertentu misal unit rawat
inap, unit rawat jalan, unit radiologi, unit laboratorium dll
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) adalah biaya yang tidak terkait secara
langsung dengan pelayanan pasien diunit produksi. Tidak dapat secara jelas
ditelusuri penggunaannya dalam suatu unit kegiatan produksi tertentu. Misal
unit administrasi, keuangan, laundry, security dll.
3. Berdasar hubungan antara biaya dengan volume produksi (Output)
a. Biaya tetap (Fixed Cost) adalah biaya yang tidak terpengaruh besaran
output/produk. Biaya yang tidak berubah dengan berubahnya volume atau
jumlah produksi. Misal : Gedung, Peralatan, Furniture dll
b. Biaya variable (Variable Cost) adalah biaya yang terpengaruh besaran
output. Biaya berubah sesuai dengan perubahan volume atau jumlah
produksi (layanan yang dihasilkan/diberikan ). Misalnya obat, reagen, bahan
habis pakai, makanan pasien, utilitas, dll.
c. Semi Fixed Cost
d. Total Cost
e. Annualized Fixed Cost
4. Berdasar masa/ frekuensi pengeluaran :
a. Biaya modal adalah biaya yang dikeluarkan sekali saat permulaan
menjalankan usaha. Biaya yang digunakan untuk pengadaan barang
investasi yang digunakan lebih dari setahun, misal : gedung, kendaraan dll.
b. Biaya berulang adalah biaya yang dikeluarkan secara berulang-ulang setiap
tahun untuk menjalankan usaha. Misalnya : gaji karyawan, biaya bahan
habis pakai, pemeliharaan dll. Karena dikeluarkan secara berulang-ulang
disebut juga biaya rutin.
5. Pengelompokan lainnya, yaitu :
a. Biaya Penyusutan (Depreciation Cost)
b. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)
27
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

c. Biaya penggantian (Replacement Cost)

UNIT COST
Pengertian Unit Cost
Biaya Satuan (Unit Cost) adalah biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi
atau mengkonsumsi satu barang atau jasa. Ditentukan oleh total biaya dan total
produksi. Dipakai sebagai alat untuk mengukur efisiensi, pricing policy, dan profit
suatu unit usaha.
Unit Cost
BIAYA INVESTASI
PEMELIHARAAN
OPERASIONAL

BIAYA TOTAL
OUTPUT

UNIT
COST

Dalam menghitung unit cost diperlukan juga penghitungan Annualized investment


cost :
AIC

IIC (1 + r)t
L

Keterangan :
1. Suku Bunga Bank/Inflasi BI
2. Usia Teknis Gedung Ditjen Cipta Karya
3. Usia Teknis Alat Medik & Non Medik AHA
Contoh :
AIC 2004
= Rp. 8.100.000,AIC 2005
= Rp. 8.748.000,AIC 2006
= Rp. 9.447.840,AIC 2007
= Rp. 10.203.667,AIC 2008
= Rp. 11.019.961,AIC 2009
= Rp. 11.901.557,Jumlah Total = Rp. 59.421.025,Atau menggunakan table WHO Annualization factor .
Cara Menghitung Unit Cost
a. Metode Top Down Costing :
metode simple distribusi, Double Distribusi, metode multiple distribusi.
b. Metode Bottom Up Costing :
metode ABC (Activity Based Costing)
c. Metode Hybrid :
28
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

kombinasi Double distribusi dan metode ABC (Activity Based Costing)

29
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

COSTING DALAM CASEMIX INA-CBGs


Prinsip Kosting dalam INA-CBGs
Metode Kosting dalam INA-CBGs menggunakan metode top-down/stepdown costing. Namun terkadang, untuk beberapa kasus digunakan metode
gabungan antara topdown costing dan bottom up costing / Activity Based Costing
(ABC).
Metode Top-Down Costing
Metode Top down costing menggunakan beberapa indikator untuk
mengalokasikan seluruh biaya, mulai dengan mengalokasikan biaya dari pusat biaya
overhead ke pusat biaya intermediate dan pusat biaya final serta mengalokasikan
biaya dari pusat biaya intermediate ke pusat biaya final. Metode ini menggunakan
informasi utama dari rekening atau data keuangan rumah sakit yang telah ada (topdown), untuk itu diperlukan data dasar pembiayaan dan dataset minimal rumah
sakit.
Hasil penghitungan adalah unit cost rawat jalan per kunjungan dan unit cost
rawat inap perhari rawat per unit layanan. Unit cost setelah dikalikan LOS (Length Of
Stay) masing-masing kasus secara individual akan menghasilkan individual CBG
cost yang kemudian digunakan untuk menghitung costweight masing-masing
kelompok CBG.
The essence of the Step-down costing methodology is to accurately
determine the cost
of achieving program outputs or results, by allocating all the
costs of running a hospital to departments providing the final output of the hospital.
(Lewis et al 1990, Drummond et al 1997)
Step-down costing starts with total expenditures & then divides these by a
measure of total output to give averagecost per patient per visit, per day or per
admission. (Creese and Parker 1994)

30
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Stepdown alocation process

OVERHEAD
COST CENTRE
INTERMEDIATE
COST CENTRE
FINAL/PATIENT
CARE COST CENTRE

Metode Gabungan
Top-down costing exercises sometimes use bottom-up approaches based on
clinical pathway to generate allocation statistics or to cost a limited number of
services to validate top-down cost estimates. Bottom up designs within a top down
costing exercise typically include bottom up measurement of:
Priority services, treatment episodes, activities, or cost items
Services that are heterogeneous in their resource use (vary widely in their
complexity and coste.g., ICU services, laboratory tests, surgical procedures
Services where precision and accuracy of cost measurement is considered
important
Services where there is heavy personnel time or overheads that go into a
technology
Services or technologies where there is extensive sharing of personnel,
buildings, or equipment
Cost items that are anticipated to have the highest impact on total cost
Data that are missing or not routinely captured
Data for allocation statistics (e.g., personnel time worked)

31
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Perbandingan Metode Top-down Dan Bottom-Up Costing

Cost Accounting Methodologies


Compared
Bottom-up Approach
A.K.A.
Objective
Best For

Process

Macrocosting, Gross Costing, Average


Costing

To calculate the individual cost of a service


or patient.

To calculate the average cost for a volume


of services or patients.

Unit cost point estimates

Relative unit costs

1. Measure the quantity of resources


consumed by a service/patient

1. Document the total cost of resources used


by a hospital

2. Attach a unit cost to each resource

2. Assign costs to departments directly

3. Sum the unit costs to calculate the total cost 3. Allocate costs to departments
per service/patient
proportionally according to their
consumption of resources
4. Construct the average cost for a particular
service or patient group

Cost Flow

Top-down Approach

Microcosting, Detailed Costing

Unit cost estimates are built from the


individual service or patient level upwards

4. Divide department costs by its service


volume to estimate unit costs
Unit cost estimates are averaged from the
facility and department level downwards

Resource DRG Forum

5 | R4D.org

32
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Top-down Approach

Resource DRG Forum

7 | R4D.org

Unit Cost Interpretation


Top-down results are best for relative cost comparisons and bottom-up
results are best for absolute cost estimates.
Top-down Costing Results

Bottom-up Costing Results

The average cost of a Medicine discharge is $80, compared to


$140 for Surgery and $110 for Maternity. Assuming the
average hospital discharge costs $100, the cost weights are
0.80, 1.40, and 1.10 respectively.

On average, a complicated delivery costs $122, ranging


from $100 to $140 across patients. Staff time and
drugs/medical supplies account for the majority of the cost,
at 55% and 23%.

Resource DRG Forum

33
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Data dari rumah sakit yang digunakan dalam proses penghitungan tarif terdiri dari :
1. Data Kosting meliputi dasar kinerja RS selama tiga hingga lima tahun terakhir
dan data pembiayaan RS selama satu tahun terakhir
2. Data Koding 14 (empat belas) variable, dalam bentuk txt file
Data-data tersebut diverifikasi kelengkapan dan akurasinya, selanjutnya data kosting
diisikan sesuai Format Template Kosting, jangan sampai terjadi losscounting atau
double counting. Setelah data diisikan dalam format yg tersedia dilakukan analisa
data dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Analisis data kosting untuk pusat biaya overhead
2. Analisis data kosting untuk pusat biaya intermediate
3. Analisis data kosting untuk pusat biaya final
4. Analisis data dasar yang meliputi data kinerja dan data keuangan agregat
5. Analisis data tambahan
6. Hitung unit cost rawat jalan dan rawat inap
7. Hitung CBGs cost
8. Lakukan analisis statistik untuk data-data tersebut diatas
Hal penting dalam costing INA CBGs adalah :
Pengumpulan data yg terstandar
Metodologi kosting
Standar alokasi dan proporsi biaya
Kelengkapan dan akurasi data
Data koding yang dibutuhkan terdiri dari 14 (empat belas) variable yang terdiri dari :
1. Identitas Pasien
2. Tanggal Lahir
3. Umur
4. Jenis Kelamin
5. Jenis Perawatan
6. Tanggal Masuk RS
7. Tanggal Keluar RS
8. Lama Rawatan(Length Of Stay/LOS)
9. Status Pulang
10. Berat Badan Bayi usia 0 28 hari (Gram)
11. Diagnosis Utama dan Diagnosis Sekunder (bila ada)
12. Prosedur/Tindakan
13. Score ADL
14. Item Special CMG

34
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Data dasar RS diisikan dalam template yg tersedia dibawah ini :

Data Dasar Rumah Sakit

Nama Rumah Sakit :


Kode Rumah Sakit :
Kelas Rumah Sakit :
DATA DASAR RUMAH SAKIT

Tahun

Tahun

Tahun

Tahun

2008

2009

2010

2011

BOR
ALOS
Turnover Interval (Hari)
Throughput/BTO (Pesakit/tempat tidur)
Jumlah Tempat Tidur Yang Tersedia
Jumlah Tempat Tidur Sebenarnya(Total)
Jumlah Tempat Tidur ICU/CCU/HDU
Jumlah Tempat Tidur Private Wing
Jumlah Hari Rawat Pasien
Jumlah Pasien Rawat Inap (Episode)
Jumlah Pasien Rawat Jalan (Episode)
Jumlah Perawat
Jumlah Semua Staf
Jumlah Biaya Operasional (Bukan Gaji)
Jumlah Biaya Operasional (Gaji)
Jumlah Biaya Non-Operasional (Investasi Alat)
Jumlah Biaya Non Operasional (Investasi Gedung
&Sarana Fisik Lainnya)
Total Biaya Rumah Sakit
Penerimaan Fungsional Rumah Sakit
a. Fungsional dari Jamkesmas
b. Fungsional dari Jamkesda
c. Fungsional dari Non Jamkesmas Jamkesda
Total Pendapatan

35
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

DATA PEMBIAYAAN RUMAH SAKIT

36
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Proses pembentukan tarif digambarkan dalam alur dibawah ini.

Data
Costing
DATA DASAR
DATA TEMPLATE

Data
Coding

Langkah Pembentukan
Tarif

TEMPLATE TXT
FILE

ANALISA

EKSPLORING
CLEANING

REKAP VARIABEL

TRIMING

INPUT CCM
CBGS-N-LOS
(14 VAR)

UNIT COST

CBGs COST
COST WEIGHT
CMI
HBR
PRELEMINARY TARIF
AF
TARIF

Tarif INA-CBGs disusun mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :


1. Struktur tarif stabil (should be as stable as possible)
2. Struktur tarif sederhana (should be as simple as possible)
3. Struktur tarif berbasis pada pelayanan, bukan organisasi (should be based on
services not organisations)
4. Seluruh pemangku kepentingan harus dilibatkan dalam proses penyusunan tarif
5. Tarif memiliki rujukan berbasis acuan biaya (should continuous to be based on
referrence cost)
Tujuan pembentukan tarif :
a. To ensure that providers are fairly reimbursed for their work
b. To ensure that the price reflects the actual cost of providing services which will
promote system sustainability
c. To ensure that the price structure support appropriate medical and reward those
providing good outcomes
Sumber : UNU-IIGH
37
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Berikut adalah hal-hal yang dapat menjadi akibat pembentukan tarif yg tidak baik :
1. Providers may charge informal payment to compensate for inadequate formal
payment.
2. Providers may avoid treating sicker patients.
3. Inappropriate referrals may occur.
4. Providers provide suboptimal care.
5. Services may be over or under utilize.

Disain Keputusan strategis


Tarif

HBR

Which services
will be
included?
What costs will
be included in
the base rate?
Will the base
rate be the
same for all
hospitals?

Cost
Weight

Will cost
weights be
developed or
taken off the
shelf?
Will cost
weights be used
to give higher
priority to some
services?

Ajustmen
Factor

Will some
hospitals be
paid
more/less per
case? E.g.
rural or
teaching
hospitals

23

38
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Statistic alocation factor/alocation bases


A. Overhead Cost Centre
1. Administration
2. Maintenance
3. Utilities
4. Consumables
5. Dietetic
6. Laundry & Linen

Allocation Statistics
No. of staff
Floor area
Floor area
No. of staff
Patient days
Patient days

6. Pharmacy
7. Radiology
8. Laboratory
9. Physiotherapy
10. Operation Theatre (General)

Prescribtions/drugs
Tests
Tests
Exams
Surgeries

B. Intermediate Cost Centre

C. Final Cost Centre


Inpatient Department
11. Medicine Department
12. Surgical Department
Outpatient Department
13. Medical Specialist Clinic
14. Surgical Specialist Clinic
Total

Patient days
Patient days

Visit
Visit

39
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Tahapan Lanjutan untuk Unit Cost dan CBGs Cost


Unit cost dalam INA-CBG terbagi menjadi 4 (empat) Layanan Kasus yaitu Unit
Kos Penyakit Dalam, Anak, Bedah dan Obstetri-Ginekologi. Untuk Rawat Jalan,
berlaku unit kos per kunjungan, sedangkan untuk Rawat Inap berlaku unit kos
per hari rawat.
Unit Cost dalam INA-CBG dihitung menggunakan Clinical Cost Modelling (CCM)
Unit kos dari seluruh sampel RS digabung untuk mencari nilai rata-rata yang
akan ditetapkan menjadi Unit Kos Nasional
UC x individual LOS per CBG = individual CBG Cost
Dikelompokkan per CBG dihitung averagenya
Sebagai dasar perhitungan CW
Formula Tarif INA-CBG dirumuskan sebagai berikut :

Tarif = Hospital Based Rate x Cost Weight x Adjustment Factor


Tarif tersebut dihitung secara nasional perkelompok kelas RS dan mengacu pada
Perpres no12 thn 2013 ttg JKN,tariff harus direview sekurang2nya setiap 2 thn

Average Cost for Specific DRG


CW =
Aggregate Average Cost

Relative resource use of one CBG in relation to average cost


of all CBGs
Also called Resource Intensity Weights or Relative Weights
Cost Weights are Unitless Numbers
Ideally to be developed from trimmed CBG Cost
Meliputi CW ranap dan rajal
Dihitung secara nasional
Menggambarkan rasio sumber daya yg digunakan antar CBG
CW ranap : local CW + Maryland CW
CW rajal : Maryland CW

Sumber UNU -IIGH

40
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

A Hospitals Case-Mix Index is a Value Which Relates one Hospitals


Production to Another Hospitals Production.
CMI =

(Cost weight X # of cases)


Total # of cases for hospital A

Merupakan agregat dari CW per RS/perkelas RS


Dihitung per RS/per kelas RS
Menggambarkan produktifitas suatu RS thd RS lainya
Menggambarkan kompleksitas pelayanan di suatu RS thd RS
lainya
Variabel utk menghitung HBR
Sumber UNU-IIGH

Overall cost of treating a patient in the hospital by taking into account the
complexities of cases managed in the hospital
HBR =

Total Cost
Total # of equivalent cases x CMI

Dihitung masing2 RS
Dikelompokkan berdasar kelas dan jenis RS
Perkelompok RS diambil Mean HBR
Menggambarkan total biaya RS ((inpatient,outpatient) dibagi
jmlh output (inpatient/outpatient)
Meliputi HBR ranap dan rajal

Sumber UNU -IIGH

41
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

MENGAPA DIPERLUKAN ADJUSTMENT?


Menutup biaya yg belum diperhitungkan dalam sistim casemix
Rumah sakit pendidikan
Biaya untuk penelitian dan pengembangan
Kelas Rumahsakit
RS swasta atau pemerintah
Memberikan Insentif bagi yang melakukan efisiensi
Insentif untuk pelayanan preventif
Insentif untuk pelayanan Day Care Surgery
Menutup biaya pelayanan yang mahal
Kasus yg memerlukan perawatan lama
Transplantasi
Perbedaan wilayah
Inflasi
Perbedaan biaya transportasi

Adjusment factor dipengaruhi oleh :


Location Geographic
Local wage rates
Direct and indirect health professions
education
Hospital role in healthcare delivery
Metode Adjustment
Formula
Pass throught of actual cost
Hospital spesific rates
Peer grouping

42
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

AF INA CBGs 2014

AF INA CBGs 2013

Kelas RS
RS Pendidikan non pendidikan
Jenis RS : Umum, Khusus
Regionalisasi
Ketersediaan anggaran agar terlaksana
kontinuitas pelayanan.

Kelas RS
Jenis RS : Umum, Khusus
Regionalisasi
Ketersediaan anggaran agar terlaksana
kontinuitas pelayanan.
CBGs ttt utk RS kelas C dan D
CBGs ttt utk kelas A-B
CBGS ttt vs tarif RS (cost to charge ratio )
Special CMG

Who is involves in Tariff Updating?


National Level
National Casemix Team

Senior Management of Social Health Insurance Agency


Senior Management of MOH Hospital Level
Profesi
Asosiasi provider (RS dan klinik )
Akademisi

HOSPITAL LEVEL
Hospital Casemix Team
Clinical Specialists

Hospital Directors

43
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

MODUL III
KODING DALAM INA-CBG
Koding adalah kegiatan memberikan kode diagnosis utama dan diagnosis
sekunder sesuai dengan ICD-10 serta memberikan kode prosedur sesuai dengan
ICD-9-CM. Koding sangat menentukan dalam sistem pembiayaan prospektif yang
akan menentukan besarnya biaya yang dibayarkan ke Rumah Sakit.
Koding dalam INACBG menggunakan ICD-10 tahun 2008 untuk mengkode
diagnosis utama dan sekunder serta menggunakan ICD-9-CM untuk mengkode
tindakan/prosedur. Sumber data untuk mengkoding berasal dari rekam medis yaitu
data diagnosis dan tindakan/prosedur yang terdapat pada resume medis pasien.
Ketepatan koding diagnosis dan prosedur sangat berpengaruh terhadap hasil
grouper dalam aplikasi INA-CBG.
Koder adalah profesi rekam medis yang memforkuskan kegiatannya pada
pekerjaan koding penyakit dan prosedur/tindakan. Dalam melakukan tugasnya
seorang koder harus mengetahui, memahami dan mengimplementasikan pedoman
dan aturan pengkalisifikasian penyakit ICD-10 dan prosedur/ tindakan ICD-9CM.
berdasarkan hal tersebut, dirasakan perlu disusun modul Koding ICD-10 dan ICD-9
CM pada Sistem INACBG.
A. Koding Diagnosis Berdasarkan ICD-10
1. Sejarah dan Perkembangan Pemakaian ICD.
Konferensi di Genewa dilaksanakan berdasarkan atas kejadian yang terus
menerus dalam sejarah klasifikasi/statistik yang berlatar belakang peristiwa
Abad 18.
Pada edisi-edisi awal klasifikasi tersebut hanya menekankan pada sebabsebab kematian, pada revisi ke-6 thun 1948 cakupannya diperluas hingga
termasuk penyakit-penyakit yang tidak fatal akibatnya.
Perluasan atau pengembangan klasifikasi berlanjut terus hingga pada revisi
ke-9, dengan penemuan-penemuan tertentu untuk kebutuhan statistik secara
menyuluruh dari organisasi-organisasi yang berbeda.
Pada Konferensi Internasional revisi ke-9 (Genewa, 1975) disetujui untuk
publikasi ujicoba pemakaian tambahan dari prosedur pengobatan dan
kecacatan, ketidak mampuan dan cacat bawaan.
Pada Konferensi Internasional revisi ke-10 (Genewa, 1989) disetujui ICD-10.
2. Definisi
Suatu klasifikasi penyakit merupakan suatu sistem kategori yang
mengelompokkan suatu penyakit menurut kriteria yang telah disepakati.
44
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

3. Tujuan dan Kegunaan ICD-10


ICD mempunyai tujuan untuk mendapatkan rekaman sistematik, melakukan
analisa, interprestasi serta membandingkan data morbiditas dan mortalitas
dari negara yang berbeda atau antar wilayah dan pada waktu yang berbeda.
ICD digunakan untuk menterjemahkan diagnosa penyakit dan masalah
kesehatan dari kata-kata menjadi kode alfanumerik yang akan memudahkan
penyimpanan, mendapatkan data kembali dan analisa data.
Dalam praktek ICD merupakan standar klasifikasi diagnosa internasional yang
berguna untuk epidemiologi umum dan manajemen kesehatan, termasuk
didalamnya analisa situasi kesehatan secara umum pada sekelompok
populasi, monitoring angka kejadian, prevalensi penyakit dan masalah
kesehatan dalam hubungannya dengan beberapa variabel seperti ciri dan
keadaan dari orang yang terkena.
ICD dapat digunakan untuk klasifikasi penyakit dan masalah kesehatan lain
yang terdapat pada beberapa macam rekaman tentang kesehatan dan
rekaman vital. Mula-mula ICD digunakan untuk klasifikasi penyebab kematian
yang tercatat dalam register kematian. Kemudian diperluas hingga mencakup
diagnosa morbiditas. Meskipun ICD diutamakan untuk klasifikasi penyakit dan
cedera dengan diagnosa formal tetapi tidak semua problem atau alasan yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan dapat digolongkan dengan cara
ini. Akibatnya ICD memberikan variasi yang luas mengenai tanda, gejala,
temuan abnormal, keluhan dan keadaan sosial yang berbeda dengan
diagnosa pada rekaman yang berhubungan dengan kesehatan (lihat buku I
bab XVIII dan XXI). Oleh karena itu dapat digunakan untuk klasifikasi data
yang tercatat dalam judul diagnosa, alasan MRS, kondisi pengobatan
dan alasan untuk konsultasi, yang tampak dalam rekam medis.
4. Struktur Dasar dan Prinsip Klasifikasi ICD-10
Dasar ICD adalah suatu daftar kode tunggal kategori 3 karakter, masingmasing dapat dibagi lagi menjadi hinggal 10 subkategori 4 karakter. Pada
revisi sebelumnya digunakan sistem kode numerik. Pada revisi 10 digunakan
kode alfanumerik dengan huruf pada posisi pertama dan nomor pada posisi
yang kedua,ketiga dan keempat. Dengan demikian kode nomor bervariasi dari
A00.0 hingga Z99.9.
ICD-10 terdiri dari 3 jilid : Buku jilid I berisi klasifikasi utama; Buku jilid 2 berisi
petunjuk pemakaian ICD; dan Buku jilid 3 berisi indeks alfabet klasifikasi.
Sebagian besar buku jilid 1 terdiri dari daftar kategori 3 karakter dan daftar
tabel inklusi dan subkategori 4 karakter. Inti klasifikasi adalah daftar kategori
3 karakter yang dianjurkan untuk pelaporan ke WHO mortality database dan
perbandingan umum internasional. Daftar bab dan judul blok juga termasuk
inti klasifikasi. Daftar tabular memberikan seluruh rincian level 4 karakter dan
dibagi dalam 21 bab.
45
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

5. Langkah langkah menggunakan ICD-10


a. Identifikasi tipe pernyataan yang akan dikode dan lihat di buku ICD
volume 3 (Alphabetical Index). Jika pernyataannya adalah penyakit atau
cedera atau lainnya diklasifikasikan dalam bab 1-19 dan 21 (Section I
Volume 3). Jika pernyataannya adalah penyebab luar atau cedera
diklasifikasikan pada bab 20 (Section II Volume 3)
b. Tentukan Lead Term. Untuk penyakit dan cedera biasanya adalah kata
benda untuk kondisi patologis. Namum, beberapa kondisi dijelaskan
dalam kata sifat atau xxx dimasukkan dalam index sebagai Lead Term.
c. Baca dan ikuti semua catatan atau petunjuk dibawah kata kunci.
d. Baca setiap catatan dalam tanda kurung setelah kata kunci (penjelasan
ini tidak mempengaruhi kode) dan penjelasan indentasi dibawah lead
term (penjelasan ini mempengaruhi kode) sampai semua kata dalam
diagnosis tercantum.
e. Ikuti setiap petunjuk rujukan silang ( see dan see also) yang ditemukan
dalam index.
f. Cek ketepatan kode yang telah dipilih pada volume 1. Untuk Kategori 3
karakter dengan .- (point dash) berarti ada karakter ke 4 yang harus
ditentukan pada Volume 1 karena tidak terdapat dalam Index.
g. Baca setiap inclusion atau exclusion dibawah kode yang dipilih atau
dibawah bab atau dibawah blok atau dibawah judul kategori.
h. Tentukan Kode.
6. Pedoman Koding Diagnosis Berdasarkan ICD-10
Kriteria diagnosis utama menurut WHO Morbidity Reference Group adalah
diagnosis akhir / final yang dipilih dokter pada hari terakhir perawatan dengan
kriteria paling banyak menggunakan sumber daya atau hari rawatan paling
lama. Diagnosis Sekunder adalah diagnosis yang menyertai diagnosis utama
pada saat pasien masuk atau yang terjadi selama episode pelayanan.
Diagnosis sekunder merupakan ko-morbiditas ataupun komplikasi.
Komorbiditas adalah penyakit yang menyertai diagnosis utama atau kondisi
pasien saat masuk dan membutuhkan pelayanan/asuhan khusus setelah
masuk dan selama rawat.
Komplikasi adalah penyakit yang timbul dalam masa pengobatan dan
memerlukan pelayanan tambahan sewaktu episode pelayanan, baik yang
disebabkan oleh kondisi yang ada atau muncul akibat dari pelayanan yang
diberikan kepada pasien.
a. Penentuan diagnosis utama
1) Penulisan diagnosis harus lengkap dan spesifik (menunjukkan letak,
topografi, dan etiologinya). Diagnosis harus mempunyai nilai informatif
sesuai dengan kategori ICD yang spesifik. Contoh : Acute appendicitis
with perforation, Diabetic cataract, insulin-dependent
46
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2) Kode diagnosis Dagger () dan Asterisk (*)


Jika memungkinkan, kode dagger dan asterisk harus digunakan
sebagai kondisi utama, karena kode kode tersebut menandakan dua
pathways yang berbeda untuk satu kondisi
Contoh :
- Measles pneumonia = B05.2 J17.1*
- Pericarditis tuberculosis
= A18.8 I32.0*
3) Symptoms (gejala), tanda dan temuan abnormal dan situasi yang
bukan penyakit :
Hati hati dalam mengkode diagnosis utama untuk BAB XVIII (kode
R) dan XXI (kode Z) untuk KASUS RAWAT INAP.
- Jika diagnosis yang lebih spesifik (penyakit atau cidera) tidak
dibuat pada akhir rawat inap maka diizinkan memberi kode R
atau kode Z sebagai kode kondisi utama.
- Jika diagnosis utama masih disebut suspect dan tidak ada
informasi lebih lanjut atau klarifikasi maka harus dikode seolah-olah
telah ditegakkan.
Kategori Z03.- (Medical observation and evaluation for suspected
diseases and conditions) diterapkan pada Suspected yang dapat
dikesampingkan sesudah pemeriksaan.
contoh :
Kondisi utama : Suspected acute Cholecystitis
Kondisi lain
:Diberi kode Acute Cholecystitis (K81.0) sebagai diagnosis utama
4) Kode kondisi multiple
Pada suatu episode perawatan dengan kondisi multiple (injury,
sequelae, HIV), kondisi yang nyata lebih berat dan membutuhkan
resources lebih dari yang lain harus dicatat sebagai kondisi utama. Bila
terdapat kondisi Multiple . dan tidak ada kondisi tunggal yang
menonjol, diberi kode multiple.. dan kode sekunder dapat
ditambahkan untuk daftar kondisi individu
Kode ini diterapkan
terutama pada yang berhubungan dengan penyakit HIV, Cedera dan
Sequelae
5) Kode kategori kombinasi
Dalam ICD 10, ada kategori tertentu dimana dua kondisi atau kondisi
utama dan sekunder yang berkaitan dapat digambarkan dengan satu
kode.
Kondisi utama
: Renal failure
Kondisi lain
: Hypertensive renal disease
Diberi kode Hypertensive renal disease with renal failure (I12.0)

47
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

6) Kode morbiditas penyebab eksternal


Untuk cedera dan kondisi lain karena penyebab eksternal, kedua sifat
dasar kondisi dan keadaan penyebab eksternal harus diberi kode.
Biasanya sifat dasar diklasifikasi pada BAB XIX (S00-T98). Kode
penyebab external pd BAB XX (V01-Y98) digunakan sebagai kode
tambahan
contoh :
Kondisi utama : Fraktur colum femoris karena jatuh tersandung pd
trotoar yang tidak rata.
Diberi kode Fracture of neck of femur (S72.0) sebagai kode utama.
Kode penyebab eksternal pada fall on the same level from slipping,
tripping or stumbing on street or hagway (W01.4) sebagai kode
sekunder.
7) Kode sequelae pada kondisi tertentu
Sequelae of (B90-B94, E64-E68, G09, I69, O97, T90-T98, Y85Y89) digunakan untuk kondisi yang sudah tidak ada lagi saat ini (telah
diobati/diperiksa).
Kode utamanya adalah sifat dasar sequelae itu sendiri, kode sequelae
of .. (old; no longer present) sebagai kode sekunder opsional.
Jika terdapat beberapa sequalae yang sangat spesifik, namun tidak
ada yang dominan dalam tingkat keparahan dan penggunaan sumber
daya terbanyak, Sequalae of . dapat dicatat sebagai kondisi utama.
Contoh :
Kondisi utama
: Dysphasia dari old cerebral infarction
Diberi kode Dysphasia (R47.0) sebagai kode utama.
Kode untuk sequelae
cerebral infarction (I69.3) sebagai kode
sekunder.
8) Kode kondisi Akut dan Kronis
Bila kondisi utama adalah akut dan kronis dan dalam ICD dijumpai
kategori atau sub kategori yang terpisah, tetapi bukan kode kombinasi,
kode kondisi akut digunakan sebagai kondisi utama yang harus dipilih.
contoh :
Kondisi utama
: Cholecystitis akut dan kronis
kondisi lain : Diberi kode acute cholecystitis (K81.0) sebagai kode utama dan
chronic cholecystitis (K81.1) digunakan sebagai kode sekunder
9) Kode kondisi dan komplikasi post prosedur
Bab XIX (T80-T88) digunakan untuk komplikasi yang berhubungan
dengan pembedahan dan tindakan lain, misalnya, Infeksi luka operasi,
komplikasi mekanis dari implant, shock dan lainnya. Sebagian besar
bab sistem tubuh berisi kategori untuk kondisi yang terjadi baik sebagai
akibat dari prosedur dan teknik khusus atau sebagai akibat dari
48
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

pengangkatan
organ,
misalnya,
sindrom
lymphoedema
postmastectomy, hypothyroidism postirradiation. Beberapa kondisi
misalnya pneumonia, pulmonary embolism yang mungkin timbul dalam
periode postprocedural tidak dipandang satu kesatuan yang khas dan
diberi kode dengan cara yang biasa, tetapi kode tambahan opsional
dari Y83-Y84 dapat ditambahkan untuk identifikasi hubungan tersebut
dengan suatu prosedur.
Bila kondisi dan komplikasi postprocedural dicatat sebagai kondisi
utama referensi untuk modifier atau qualifier dalam indeks alfabet
adalah penting untuk pemilihan kode yang benar.
Contoh :
Kondisi utama
: Hypothyroidism karena thyroidektomi satu tahun
lalu
kondisi lain : Diberi kode postsurgical hypothyroidism (E89.0) sebagai kode utama
10) Aturan Reseleksi Diagnosis MB1 MB5
RULE MB1 :
Kondisi minor direkam sebagai diagnosis utama (main condition),
kondisi yang lebih bermakna direkam sebagai diagnosis sekunder
(other condition).
Diagnosis utama adalah kondisi yang relevan bagi perawatan yang
terjadi, dan jenis spesialis yang mengasuh, maka pilih kondisi yang
relevan sebagai Diagnosis utama.
Contoh :
Diagnosis utama
: Sinusitis akut
Diagnosis sekunder : Carcinoma endoservik, Hypertensi
Prosedur
: Histerektomi Total
Spesialis
: Ginekologi
Reseleksi Carcinoma endoserviks sebagai kondisi utama.
RULE MB2 :
Beberapa kondisi yang direkam sebagai diagnosis utama :
- Jika beberapa kondisi yang tidak dapat dikode bersama dicatat
sebagai diagnosis utama dan informasi dari rekam medis
menunjukkan salah satu dari diagnosis tersebut sebagai diagnosis
utama maka pilih diagnosis tersebut sebagai diagnosis utama.
- Jika tidak ada informasi lain, pilih kondisi yang disebutkan pertama
Contoh :
a) Diagnosis Utama : Osteoporosis
Bronchopnemonia
49
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Rheumatism
Diagnosis Sekunder : Bidang specialisasi
: Penyakit Paru
Reseleksi Diagnosis utama Bronchopneumonia (J 18.9)
b) Diagnosis Utama : Ketuban pecah dini, presentasi bokong, anemia
Diagnosis Sekunder : Partus spontan
Reseleksi Diagnosis Utama Ketuban pecah dini
RULE MB3 :
Kondisi yang direkam sebagai diagnosis utama menggambarkan suatu
gejala yang timbul akibat suatu kondisi yang ditangani.
Suatu gejala yang diklasfikasikan dalam Bab XVIII (R.-), atau suatu
masalah yang dapat diklasfikasikan dalam bab XXI (Z) dicatat sebagai
kondisi utama, sedangkan informasi di rekam medis, terekam kondisi
lain yang lebih menggambarkan diagnosis pasien dan kepada kondisi
ini terapi diberikan maka reseleksi kondisi tersebut sebagai diagnosis
utama.
Contoh:
Diagnosis Utama : Hematuria
Diagnosis Sekunder : Varises pembuluh darah tungkai bawah,
Papiloma
dinding posterior kandung kemih
Tindakan
: Eksisi diatermi papilomata
Specialis
: Urologi
Reseleksi Papiloma dinding posterior kandung kemih (D41.4) sebagai
diagnosis utama.
RULE MB4 :
Spesifisitas
Bila diagnosis yang terekam sebagai diagnosis utama adalah istilah
yang umum, dan ada istilah lain yang memberi informasi lebih tepat
tentang topografi atau sifat dasar suatu kondisi, maka reseleksi kondisi
terakhir sebagai diagnosis utama : Contoh:
Diagnosis Utama
: Cerebrovascular accident
Diagnosis Sekunder
: Diabetes mellitus, Hypertensi, Cerebral
haemorrhage
Reseleksi cerebral haemorrhage sebagai diagnosis utama ( I61.9.)
RULE MB5 :
Alternatif diagnosis utama
Apabila suatu gejala atau tanda dicatat sebagai kondisi utama yang
karena satu dan lain hal gejala tersebut dipilih sebagai kondisi utama.
50
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Bila ada 2 atau lebih dari 2 kondisi direkam sebagai pilihan diagnostik
sebagai kondisi utama, pilih yang pertama disebut.
Contoh :
a) Diagnosis Utama : Sakit kepala karena stess dan tegang atau
sinusitis akut
Diagnosis Sekunder : Reseleksi sakit kepala headache (R51) sebagai Diagnosis utama
b) Diagnosis Utama : akut kolesistitis atau akut pankreatitis
Diagnosis Sekunder : Reseleksi akut kolesistitis K81.0 sebagai diagnosis utama
b. Penentuan kode morbiditas penyebab eksternal:
Untuk cedera dan kondisi lain karena penyebab eksternal, kedua sifat
dasar kondisi dan keadaan penyebab eksternal harus diberi kode.
Biasanya sifat dasar diklasifikasi pada BAB XIX (S00-T98). Kode penyebab
external pd BAB XX (V01-Y98) digunakan sebagai kode tambahan
contoh :
Kondisi utama : Fraktur colum femoris karena jatuh tersandung pd
trotoar yang tidak rata.
Diberi kode Fracture of neck of femur (S72.0) sebagai kode utama. Kode
penyebab eksternal pada fall on the same level from slipping, tripping or
stumbing on street or hagway (W01.4) sebagai kode sekunder
B. Koding Prosedur atau Tindakan Berdasarkan ICD-9CM
1. Definisi ICD-9CM
Suatu klasifikasi tindakan/prosedur merupakan suatu sistem kategori yang
mengelompokkan suatu tindakan/prosedur menurut kriteria yang telah
disepakati.
2. Buku ICD-9CM
ICD-9CM terdiri dari 2 jilid : Buku jilid 1 berisi klasifikasi utama; Buku jilid 2
berisi indeks alphabet klasifikasi.
Daftar bab dan judul blok juga termasuk inti klasifikasi. Daftar tabular
memberikan seluruh rincian level 4 karakter dan dibagi dalam 16 bab.
3. Langkah langkah menggunakan ICD-9CM
a. Identifikasi tipe pernyataan prosedur/tindakan yang akan dikode dan lihat
di buku ICD-9-CM Alphabetical Index.
b. Tentukan Lead Term. Untuk prosedur/tindakan.
c. Baca dan ikuti semua catatan atau petunjuk dibawah kata kunci.
51
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

d. Baca setiap catatan dalam tanda kurung setelah kata kunci (penjelasan
ini tidak mempengaruhi kode) dan penjelasan indentasi dibawah lead
term (penjelasan ini mempengaruhi kode) sampai semua kata dalam
diagnosis tercantum.
e. Ikuti setiap petunjuk rujukan silang (see dan see also) yang ditemukan
dalam index
f. Cek ketepatan kode yang telah dipilih pada Tabular List.
g. Baca setiap inclusion atau exclusion dibawah kode yang dipilih atau
dibawah bab atau dibawah blok atau dibawah judul kategori.
h. Tentukan Kode
4. Pedoman Koding Prosedur atau Tindakan Berdasarkan ICD-9CM
a. Prosedur Operasi
Didefinisikan sebagai prosedur diagnostik terapeutik atau besar yang
melibatkan penggunaan instrumen atau manipulasi bagian dari tubuh dan
pada umumnya terjadi dalam ruang operasi. Beberapa prosedur yang
dilakukan dalam ruang operasi dan atau dengan menggunakan general
anestesi termasuk pasien melahirkan normal.
b. Prosedur Non Operasi
Prosedur Investigasi dan terapi lainnya yang tidak termasuk operasi
seperti radiologi, laboratorium, fisioterapi, psikologi dan prosedur lainnya.
C. Penggunaan Koding ICD-10 dan ICD-9CM pada Aplikasi Software INACBG
1. Pengkodingan Bayi
Bayi lahir sehat maka tidak memiliki kode diagnosis penyakit (P), hanya perlu
kode bahwa ia lahir hidup di lokasi persalinan, tunggal atau multiple (Z38.-)
Bayi yg lahir dipengaruhi oleh faktor ibunya yaitu komplikasi saat hamil dan
melahirkan dapat digunakan kode P00-P04
Tetapi yang dapat diklaimkan hanya yang menggunakan kode P03.0 P03.6
2. Penggunaan kode Z pada pasien kontrol ulang
Pasien yang datang untuk kontrol ulang dengan diagnosis yang sama seperti
kunjungan sebelumnya dan terapi (rehab medik, kemoterapi, radioterapi) di
rawat jalan menggunakan kode Z sebagai diagnosis utama dan kondisi
penyakitnya sebagai diagnosis sekunder. Contoh :
Kondisi utama
: Kemoterapi
Kondisi lain
: Ca. Mammae
Diagnosis Utama (DU) : kode kemoterapi (Z51.1)
Diagnosis Sekunder (DS) :Ca. Mammae (C50.9)

52
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Kondisi utama
: Kontrol Hipertensi
Kondisi lain
:DU : kode kontrol (Z09.8) dan DS : Hipertensi (I10)
3. Dual klasifikasi
Apabila ada dua kondisi atau kondisi utama dan sekunder yang berkaitan,
maka dalam ICD 10 harus menggunakan satu kode.
Contoh :
Kondisi utama : Renal failure
Kondisi lain
: Hypertensive renal disease
Diberi kode hypertensive renal disease with renal failure (I12.0)
4. Pengkodean untuk pasien Thalasemia
Pasien selain Thalasemia Mayor tidak mendapatkan top-up special drug.
Pasien Thalasemia Mayor adalah pasien yang mempunyai diagnosis baik
diagnosis primer maupun sekunder mempunyai kode ICD10 : D56.1
Jika pasien Thalasemia Mayor pada saat kontrol tidak diberikan obat kelasi
besi (Deferipone, Deferoksamin, dan Deferasirox) maka tetap diinpuntukan
sebagai rawat jalan dengan menggunakan kode Z09.8 sebagai diagnosis
utama
Jika pasien Thalasemia Mayor dirawat inap hanya untuk tranfusi darah tanpa
diberikan obat kelasi besi maka tetap menggunakan kode D56.1 sebagai
diagnosis utama dan tidak mendapatkan top-up special drug
5. Pengkodean untuk persalinan
Kaidah koding dalam ICD-10 kode O80-O84 digunakan sebagai diagnosis
sekunder jika ada penyulit dalam persalinan, kecuali jika penyulitnya kode
O42.0 dan O42.1 maka O80-O84 digunakan sebagai diagnosis utama.
Contoh :
Diagnosis utama : Kehamilan (dilahirkan)
Diagnosis sekunder : Kegagalantrial of labour
Tindakan : Seksiosesarea
Diberi kode pada failed trial of labour, unspecified (O66.4) sebagai
diagnosis utama. Kode untuk caesarean section delivery, unspecified
(O82.9), dapat digunakan sebagai kode diagnosis sekunder
Diagnosis utama : Ketuban Pecah Dini kurang 24 jam
Diagnosis sekunder
: Tindakan
: Seksio sesar
Diberi kode caesarean section delivery, unspecified (O82.9) sebagai
diagnosis utama dan Premature rupture of membranes, onset of labour
53
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

within 24 hours (O42.0), dapat digunakan sebagai kode diagnosis


sekunder.
Pasien seksio sesar dalam satu episode rawat dilakukan tindakan sterilisasi
maka kode tindakan sterilisasi tidak perlu diinput ke dalam aplikasi INA-CBG.
Persalinan normal maupun tidak normal tidak diperbolehkan menginput high
risk pregnancy (Z35.5, Z35.6, Z35.7, dan Z35.8) ke dalam aplikasi INA-CBG
Kasus umum disertai dengan kehamilan yang tidak ditangani oleh dokter
obstetric pada akhir episode perawatan maka diagnosis utamanya adalah
kasus umumnya.
Contoh :
Diagnosis utama
: Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Diagnosis sekunder
: Keadaan hamil
Dokter yang merawat : dokter penyakit dalam
Pasien dalam keadaan hamil, maka diberi kode A91 sebagai diagnosis
utama dan O98.5 sebagai diagnosis sekunder.
Kasus umum disertai dengan kehamilan yang ditangani oleh dokter obstetric
sampai akhir episode perawatan maka diagnosis utamanya adalah kasus
kehamilan.
Contoh :
Diagnosis utama
: Keadaan hamil
Diagnosis sekunder
: Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Dokter yang merawat : dokter obstetri
Pasien dalam keadaan hamil, maka diberi kode O98.5 sebagai
diagnosis utama dan A91 sebagai diagnosis sekunder.
D. Code Creep
Menurut Seinwald dan Dummit (1989) code creep diartikansebagai perubahan
dalam pencatatan Rumah Sakit (rekam medis) yang dilakukan praktisi untuk
meningkatkan penggantian biaya dalam sistem Casemix.
Code Creep sering disebut sebagai upcoding, dan apabila mengacu pada
konteks Tagihan RumahSakit (hospital billing) maka disebut DRG Creep.
Kurangnya pengetahuan koder juga dapat menimbulkan code creep. Namun,
tidak semua variasi yang timbul dalam pengkodingan dapat disebut code creep.
Pengembangan, revisi sistem koding dan kebijakan yang diambil oleh suatu
negara dalam pengklaiman kasus tertentu dapat menyebabkan variasi
pengkodean.

54
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Contoh:
1. Kode Z dan R dipakai sebagai diagnosis utama, padahalada diagnosis lain
yang lebihspesifik.
Contoh :
Diagnosis Utama
: Chest Pain (R07.1)
Diagnosis Sekunder
: Unstable Angina Pectoris (I20.0),
Seharusnya
Diagnosis Utama
: Unstable Angina Pectoris (I20.0)
Diagnosis Sekunder
: Chest Pain (R07.1)
2. Beberapa diagnosis yang seharusnya dikode jadi satu, tetapi dikode terpisah
Contoh :
Diagnosis Utama
: Hypertensi (I10)
Diagnosis Sekunder : Renal disease (N28.9)
Seharusnya dikode jadi satu yaitu Hypertensive Renal Disease (I12.9)
3. Kode asteris diinput menjadi diagnosis utama dan dagger sebagai diagnosis
sekunder.
Contoh :
Diagnosis Utama
: Myocardium (I41.0*)
Diagnosis Sekunder
: Tuberculosis of after specified organs (A18.5)
Seharusnya
Diagnosis Utama
: Tuberculosis of after specified organs (A18.5)
Diagnosis Sekunder
: Myocardium (I41.0*)
4. Kode untuk rutin prenatal care Z34-Z35 digunakan sebagai diagnosis
sekunder pada saat proses persalinan.
Contoh :
Diagnosis Utama
: Persalinandengan SC (O82.9)
Diagnosis Sekunder
:Supervision of other high-risk pregnancies (Z35.8)
KetubanPecahDini (O42.9)
Seharusnya
Persalinan dengan SC (O82.9)
Ketuban Pecah Dini (O42.9)
5. Diagnosis Utama tidak signifikan dibandingkan diagnosis sekundernya
Contoh :
Diagnosis Utama
: D69.6 Thrombocytopenia
Diagnosis Sekunder
: A91 Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
Seharusnya
Diagnosis Utama
: A91 Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)
Diagnosis Sekunder
: D69.6 Thrombocytopenia
55
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

6. Tindakan/Prosedur seharusnya relevan dengan diagnosis utama


Contoh :
Diagnosis Utama
: K30 Dyspepsia
Diagnosis Sekunder
: I25.1 Atherocsclerotic heart disease (CAD)
Tindakan
: 36.06 Percutaneoustransluminal coronary
angioplasty (PTCA)
Seharusnya
Diagnosis Utama
: I25.1 Atherosclerotic heart disease (CAD)
Diagnosis Sekunder
: K30 Dyspepsia
Tindakan
: 36.06 Percutaneoustransluminal coronary
angioplasty (PTCA)

56
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

MODUL IV
SOFTWARE INA-CBG 4.0

DESKRIPSI SINGKAT
Software INA-CBG 4.0 merupakan software yang dikembangkan oleh
kementerian kesehatan RI yang merupakan pengembangan dari INACBG versi
sebelumnya, untuk mengakomodir perubahan yang terjadi pada sistem INA-CBG
yang digunakan pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Software INACBG saat ini sudah terinstall dirumah sakit yang bekerja sama dalam program JKN.
Pengembangan Software INA-CBG 4.0

Bab ini membahas tentang software serta mekanisme kerja INA-CBG dalam
melakukan input klaim yang dilakukan oleh petugas RS yang perlu diketahui oleh
petugas dirumah sakit yang bertanggung jawab dalam melakukan penginputan data
klaim. Metode yang digunakan dalam modul ini adalah demo, praktek dan tanya
jawab. Perubahan yang terjadi pada update software INA-CBG 4.0 diantaranya
adalah :
1. Penambahan Varibale Spesial CMG
2. Terdapat tarif kelas perawatan rawat inap kelas 1,2 dan 3
3. Terdapat tarif Top Up Spesial CMG
4. Input BHP (Bahan Habis Pakai) ditiadakan

57
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

TATA CARA INSTALASI SOFTWARE INA-CBG


Software INA-CBG diberikan secara gratis kepada seluruh rumah sakit atau
pihak lain untuk dipergunakan sesuai dengan kegunaannya, software INA-CBG
dapat diperoleh dengan cara :
1. Mendownload di website buk.depkes.go.id
2. Mengcopy dari rumah sakit lain yang sudah memiliki software INA-CBG
3. Sekretariat Tim Teknis INA-CBG.
Persyaratan bagi rumah sakit untuk dapat menggunakan software INA-CBG
sebagai input data klaim adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai kode registrasi rumah sakit yang dikeluarkan oleh kementerian
kesehatan RI, bagi rumah sakit yang belum memiliki kode registrasi rumah
sakit harus melakukan registrasi terlebih dahulu, dengan persyaratan sebagai
berikut :
a. Surat Izin Operasional Rumah Sakit
b. Surat Penetapan Kelas Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Kementerian
Kesehatan (bila ada)
c. Persyaratan dapat diantar langsung ke Kementerian Kesehatan RI atau
dikirim melalui email ke informasi.buk@gmail.com, kode rumah sakit akan
langsung dikirim ke email rumah sakit.
2. Bekerja sama dengan BPJS Kesehatan
Setelah rumah sakit mendapatkan software INA-CBG berupa paket software,
dalam paket software terdapat file file sebagai berikut :
1. Folder Extra
2. REGUNU
3. INACBGs-4.exe
Persyaratan Laptop atau PC yang akan digunakan untuk proses instalasi
software INA-CBG demi kelancaran proses klaim rumah sakit ,sebaiknya :
1. Hardware PC/Laptop dalam kondisi baik dan mempunyai tingkat keamanan
yang bagus/dilengkapi dengan antivirus.
2. Bagi rumah sakit yang menggunakan PC sebaiknya dlengkapi dengan UPS
(baterai cadangan) untuk menghindari PC mati mendadak yang berakibat
merusak input data klaim.
3. Dalam PC/Laptop tidak terdapat aplikasi yang menggunakan database yang
sama dengan INA-CBG, hal ini dikarenakan dapat terjadi crash.

58
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Proses Instalasi software INA-CBG 4.0


1. Klik file dengan nama INACBGs-4.exe
Maka akan otomatis melakukan rangkaian proses instalasi XAMPP, software
4.0 serta grouper.
1

Tahap Instalasi Xampp


Klik Next :
1

59
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Klik Yes dan

Akan muncul xampp control


panel dan Instalasi INACBG 4.0

Finish

Tahap Instalasi Software INA-CBG 4.0


Klik next dan Install, ikuti panduan dan klik finish
1

60
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Instalasi Grouper :
Klik next , kemudian masukkan password nya unucasemix selanjutnya ikuti
petunjuk sampai finish
1

61
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

62
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Tahap Instalasi Registry


Masuk kembali ke paket software INA-CBG 4.0, kemudian cari folder REGUNU

Klik Registry sesuai dengan regunu32/64 sesuai dengan sistem komputer

Jika sudah melakukan registry silahkan re-start komputer.


Software INA-CBG sebelum bisa digunakan harus dilakukan setting database
tarif sesuai dengan kelas Rumah Sakit yang dimiliki. Saat instalasi setting awal
database adalah kelas A regional 1.
Cara melakukan setting database tarif rumah sakit :

Dalam Aplikasi INA-CBG juga terdapat menu untuk melakukan back up data
untuk pasien sudah dimasukkan apabila terjadi kerusakan pada software INACBG sehingga data bisa dilakukan restore kembali.
63
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

I.

TATA CARA PENGGUNAAN SOFTWARE INA-CBGS


TAHAPAN PENGGUNAAN SOFTWARE INA-CBG v3.1
1. Memulai aplikasi INA-CBG 4.0
Klik Icon Xampp dalam desktop, kemudian klik start pada Apache
dan Mysql sampai posisi running

Buka Browser Mozilla kemudian masukkan alamat dalam url :


www.localhost/inacbg
Apabila berhasil akan timbul tampilan seperti berikut :
Masuk (Login ) Kedalam Software INA-CBG.
ID
: NCC
Password
: NCC

64
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

2. Masukkan data pasien : Nomer Rekam Medis, Nama Lengkap, Jenis


Kelamin dan tanggal Lahir kemudian klik simpan untuk menyimpan data
pasien utama dan siap ke proses selanjutnya

3. Jika data yang kita masukkan belum pernah ada klaim/grouping maka
akan keluar pesan Belum ada klaim/grouping klik Klaim/grouping baru
untuk melanjutkan proses selanjutnya.

65
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

4. Isikan data data klaim pasien kemudian klik simpan, kemudian lanjutkan
ke proses selanjutnya :

5. Masukkan diagnosa yang diambil terhadap pasien, masukkan nama


penyakit atau kode ICD 10 untuk mencari atau klik browse. Klik Simpan
untuk menyimpan data, batal untuk mengulang dan hapus untuk
menghapus data yang sudah disimpan.

66
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

6. Lakukan Hal yang


prosedur/tindakan.

sama

seperti

point

nomer

untuk

kode

7. Setelah memasukkan kode diagnosis dan prosedur yang ada dalam


resume medis, kemudian klik tombol reflesh untuk mengetahui apakah
pasuen tersebut mendapat tambahan tarif untuk spesial group.
Catatan :
Variable ADL akan aktif apabila LOS lebh dari 42 hari dan hanya untuk
kasus psikiatri, kusta dan rehabilitasi obat.

67
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

8. Setelah kode diagnosa dan prosedur sudah selesai tersimpan klik Proses
CBG Grouper dan apabila sudah sesuai datanya klik final

9. Akan timbul menu konfirmasi . Ya jika telah benar atau klik Tidak jika ingin
mengedit ulang datanya

10. Klik Tab Laporan untuk membuat laporan

68
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

11. Isikan data yang akan dibuat laporannya: range pasien pulang, kelas
perawatan, rawat inap/rawat jalan, lalu klik tampilkan untuk melihat
datanya. Klik klaim pasien (PDF) untuk membuat laporan klaim perpasien
dengan format PDF, klik rekap TXT untuk membuat rekapitulasi dalam
bentuk TXT, klik Rekap PDF untuk membuat rekapitulasi dalam bentuk
PDF atau klik Hasil Grouper TXT untuk melihat hasil grouper dalam
bentuk TXT.

12. Hasil Rekap TXT. File hasil Rekap TXT inilah yang akan digunakan untuk
persyaratan klaim ke BPJS yang berasal dari software INA-CBG.

69
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

13. Rekap PDF

70
Copyright 2014 National Casemix Center

WORKSHOP IMPLEMENTASI INA-CBG KEMENTERIAN KESEHATAN RI

DAFTAR PUSTAKA

1. International Statistical Classification of Diseases and Related Health


Problems ICD-10 WHO
2. International Classification of Diseases 9th Revision Clinical Modification
3. Aplikasi Software INACBG
4. PetunjukTeknis INACBG
5. PedomanPelaksanaan JKN
6. Undang-undang dan Peraturan JKN-BPJS
7. Modul Cost Containment (pengendalian biaya rumah sakit), Dr. Hanna
Permana Subanegara, MARS.

71
Copyright 2014 National Casemix Center