Anda di halaman 1dari 10

REAKSI ELIMINASI

1. Pengertian
Reaksi eliminasi adalah pegurangan suatu gugus (molekul) dari suatu
molekul (kebalikan dari reaksi adisi. Bila suatu alkil halida diolah dengan basa
kuat, dapat terjadi reaksi eliminasi. Dalam reaksi ini sebuah molekul kehilangan
atom-atom atau ion-ion dari dalam strukturnya. Produk organik suatu reaksi
eliminasi suatu alkil halida adalah suatu alkena. Dalam tipe reaksi ini, unsur H
dan X keluar dari dalam alkil halid; oleh karena itu reaksi ini juga disebut reaksi
dehidrohalogenasi. (Awalan de- berarti minus atau hilangnya. Secara umum
reaksi eliminasi mengikuti persamaan sebagai berikut:
>C

C<

>C = C< + AB

Dalam hal ini, molekul yang dieliminasi dapat homogen (A=B) atau
heterogen (AB). Molekulyang lazim dieliminasi selain unsur halogena jua
seperti H2 (dehidrogenasi), H2O (dehidrasi).
Contoh:
CH2

CH3

H3C C Cl

OH

H2O

Cl

CH3

CH3

metilpropena
(isobutilena)

2-Kloro-2-metilpropana
(t-butil klorida)

2.

H3C C

Kaidah Saytzev dan Hofman


Apabila suatu alkil halida mempunyai atom hidrogen pada dua atom C di

posisi yang berlainan maka proses eliminasi dapat menghasilkan lebih dari satu
macam alkena. Sebagai contoh reaksi eliminasi 2-bromopropana dengan ion
etoksida sebagai berikut:
CH3CH2CH=CH2

Br

CH3CH2O

1-butena (20%)

CH 3CH 2CH CH 3

CH3CH=CHCH3
2-butena (80%)

Berlandaskan pada persamaan reaksi di atas dapatlah dipahami kaidah Saytzev


yang dinyatakan sebagai berikut:
Bila reaksi eliminasi terjadi maka produk dengan kestabilan tinggi
merupakan produk utama
Kaidah Saytzev ini dapat dipahami dengan meninjau struktur kompleks transisi.
Perhatikan struktur komplek transisi pembentukan alkena yang dituliskan dibawah
ini:
CH 3CH 2O
C 2H 5 H
H
C C
H
H
Br
Komplek transisi I

CH3CH2O
H3C H
C
H

C
Br

CH3
H

Komplek transisi II

Dengan menganggap energi ruang yang disebabkan interaksi antara gugus


etoksida, gugus alkil, atom Br dan atom H sama maka dapat dikatakan bahwa
energi komplek transisi kedua struktur tersebut sama.
Alkena yang tersubtitusi mempunyai kestabilan yang tinggi. Hal ini berarti
alkena yang tersubtitusi mempunyai energi G yang rendah. Dari penjelasan ini
dapat digambarkan profil energi reaksi di atas sebagai berikut:
G
RX + EtO-

Reaksi I
Reaksi II

Diagram energi eliminasi orientasi reaksi I dan II

Berdasarkan profil energi tersebut kaidah Saytzev dapat ditafsirkan sebagai


berikut:
Pada reaksi eliminasi dapat diasumsikan bahwa reaksi eliminasi
dikawal oleh hukum termodinamika
Kebanyakan dehidrohalogenasi tunduk dalam aturan Saytzev dan alkena
yang lebih tersubtitusi lebih melimpah. Tetapi dalam suatu keadaan, produk utama
dari suatu dehidrohalogenasi justru alkena yang kurang stabil dan kurang
tersubtitusi. Bila alkena yang kurang tersubtitusi merupakan produk yang lebih
melimpah, dikatakan reaksi itu menghasilkan Produk Hofmann.

Kapan alkena yang kurang tersubtitusi mungkin merupakan produk yang


lebih melimpah? Suatu gejala yang biasa menghasilkan alkena yang kurang
tersubtitusi ialah rintangan sterik (steric hindrance) dalam keadaan transisi yang
seharusnya menghasilkan alkena yang paling tersubtitusi. Rintangan sterik ini
dapat disebabkan oleh salah satu dari tiga faktor beriktu:
a. Ukuran basa yang menyerang.
Dalam reaksi eliminasi 2-bromobutana dengan ion etoksida yang kecil itu,
alkna yang lebih tersubtitusi akan melimpah. Dengan ion t-butoksida yang
lebih besar 1- dan 2-butena terbentuk sama banyak.
CH3CH2Okecil

CH3CH CHCH3

Br
CH3CH2

+ CH3CH2CH CH2

2- butena
(80%)

1- butena
(20%)

C CH3
H

2- bromobutana

(CH3)3COmeruah

CH3CH CHCH3 +
2- butena
(50%)

CH3CH2CH CH2
1- butena
(50%)

1.

Serangan pada karbon 3: rintangan sterik lebih besar daripada bila karbon 1 yang diserang

2.

Serangan pada karbon 1: rintangan sterik lebih kecil daripada bila karbon 1 yang diserang

b. Meruahnya gugus-gugus yang mengelilingi gugus pergi


2-Bromo-2,4,4-trimetilpentena yangterintangi itu menghaislkan alkena yang
kurang tersubtitusi dalam suatu reaksi E2, bahkan dengan suatu basa kecil
sekalipun, seperti ion etoksida.
H yang tidak berjejalan

H yang berjejalan

CH3

Br

H3C C CH2C CH3


CH3

CH3CH2O-

CH3

2-bromo-2,4,4-trimetilpentena

(CH3)3

C C C CH2
H2
CH3

2,4,4-trimetil-1-pentena

c. Gugus pergi itu sendiri melimpah dah meruah

3.

Mekanisme Reaksi Eliminasi

Pemerian terinci mengenai bagaimana reaksi berlangsung disebut


mekanisme reaksi. Suatu mekanisme reaksi harus bisa menjelaskan semua fakta
yang diketahui.

A. Reaksi E1
Suatu karbokation adalah suatu zat antara yang takstabil dan berenergi
tinggi, yang dengan segera bereaksi lebih lanjut. Salah satu cara karbotion
mencapai produk yang stabil ialah dengan bereaksi dengan sebuah nukelofil (tentu
ini merupakan reaksi SN1), namun terdapat suatu alternatif: karbon itu dapat
memberikan sebuah proton kepada suatu basa dalam suatu reaksi eliminasi,
dalam hal ini reaksi E1, menjadi sbuah alkana.
Subtitusi (SN1):
H2O

(CH3)3CBr
t-butil bromida

- Br -

[(CH3)3C+]

- H+

(CH3)3COH

Kation t-butil

t-butil alkohol

Eliminasi (E1):

t-butil bromida

Kation t-butil

Metilpropena

Tahap pertama dalam reaksi E1 identik dengan tahap pertama SN1:


ionisasi halida. Tahap ini adalah lambat, jadi tahap penentu laju, dari reaksi
keseluruhan. Seperti reaksi SN1, suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika
orde-pertama, dengan laju reaksi bergantung hanya pada konsentrasi alkil halida
saja. Karena hanya menlibatkan satu pereaksi dalam keadaan transisi (dari) tahap
penentu laju, reaksi E1 adalah unimolekul seperti reaksi SN1.
Tahap 1 (lambat)
eu

(CH3)3CBr

H3C

[(CH3)3C+- - -Br]
H3C

+
C CH3
H

Br-

keadaantransisi I

zat antara karbokation

Dalam tahap kedua reaksi eliminasi, basa itu membuat sebuah proton dari
sebuah atom karbon yang terletak berdampingan dengan karbon positif. Elektron
ikatan sigma karbon hidrogen ini bergeser ke arah muatan positif, karbon itu
mengalami rehibridasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2, dan terbentuklah sebuaj
alkena.

Tahap 2 (cepat):
+
eu

H3C

H
+
C CH2

H3C
+ HOH
basa

H3C

H3C

eu

OH2

H3C
C CH2 + H O
3

C CH2
H

H3C

a
a

keadaan transis

suatu alkena

Karena suatu reaksi E1, seperti SN1, berlangsung lewat zat antara
karbokation, maka tak mengherankan bahwa alkil halida tersier bereaksi lebih
cepat daripada alkil halida lain. Reaksi E1 (dari) alkil halida berlangsung pada
kondisi yang sama seperti reaksi SN1 (pelarut polar, basa sangat lemah, dan
sebagainya); oleh karena itu reaksi SN1 dan E1 adalah reaksi bersaingan, produk
SN1 biasanya menang dibandingkan produk E1. Dari segi ini reaksi E1 alkil halida
dianggap relatif tidak penting.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat digambarkan energi reaksi E1 yang
terjadi dalam dua tahap.

B. Reaksi E2
Reaksi elimiasi alkil halida yang paling berguna ialah reaksi E2 (reaksi
bimolekuler). Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila dignakan basa kuat,
seperti OH dan OR, dan temperatur tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan
dengan memanaskan alkil halida dengan K+-OH atau Na+-OCH2CH3 dalam etanol.
CH3CH2OH

Br
CH3CH2O

H3C CH CH3 +

H3C C CH2 + CH3CH2OH + Br


H

E2

2-bromopropana
(isopropil bromida)

propena

Reaksi E2 berjalan tidak lewat suatu karbokation sebagai zat-antara,


melainkan berupa reaksi serempak (concerted reaction) yakni terjadi pada suatu
tahap, sama seperti reaksi SN2.
1

Br

ROH + H2C CHCH3 + Br

RO + H C CHCH3
H2

1. Basa membentuk ikatan dengan hidrogen


2. Elektron-elektron C-H membentuk ikatan pi
3. Brom bersama sepasang elektronnya meninggalkan ikatan sigma C-Br

Persamaan diatas menunjukkan mekanisme, (dengan anak-panah bengkok)


menyatakan pendorongan-elektron (electron-pushing). Struktur keadaan transisi
dalam satu tahap ini adalah:
RO
H
C
H2

CHCH3
Br

Keadaan transisi E2

Dalam reaksi E2, seperti dalam E1, alkil halida tersiser bereaksi paling
cepat dan alkil halida primer paling lambat. (Bila diolah dengan suatu basa, alkil
halida primer biasanya begitu mudah bereaksi subtitusi, sehingga hanya sedikit
alkena terbentuk).

Dapat digambarkan energi yang terjadi dalam reaksi E2 (reaksi satu


tahap).

4.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Reaksi Eliminasi

a.

Struktur alkil halida


Metil halida dan alkil halida primer cenderung menjalani reaksi SN2.

Mereka tidak membentuk karbokation, namun jika bereaksi E2, alkil halida
primer bereaksi lambat dibandingkan dengan alkil halida lain.
Alkil halida sekunder dapat bereaksi dengan jalan manapun, tetapi reaksi
E2 lebih lazim daripada E1. Reaksi-reaksi alkil halida sekunder lebih peka
terhadap kondisi reaksi dalam labu reaksi (konsentrasi nukleofil, pelarut, dan lainlain) daripada reaksi alkil halida lainnya.
Alkil halida tersier terutama bereaksi E2 dengan suatu basa kuat (seperti
OH- atau OR), tetapi dalam beberapa hal bereaksi E1, dengan basa sangat lemah
(seperti H2O dan ROH).
b.

Sifat (nature) nukleofil atau basa


Suatu basa kuat umumnya juga suatu nukleofilik yang baik. Dua faktor

yang dapat memengaruhi nukleofilisitas pereaksi, yaitu pelarut dan polarizabilitas


suatu ion atau molekul. Derajat nukleofilisitas lawan kebasaan dapat menentukan
7

jalan reaksi. Reaksi alkil halida primer dengan suatu nukleofil kuat mengikuti
jalan SN2, bahkan juga bila nukleofil suatu basa kuat. Tetapi untuk alkil halida
tersier, basa agak kuat apa saja akan memilih reaksi E2. Hanya basa-basa terlemah
menghasilkan subtitusi (SN1). Untuk alkil halida sekunder, nukelofil kuat (seperti
CN-) menyukai reaksi SN2, sementara nukleofil lemah (seperti H2O) menyukai
reaksi-reaksi karbokation, terutama SN1 dengan sedikit E1. Basa-basa kuat
smenykai E2.

c.

Sifat pelarut
Pengaruh pelarut pada reaksi subtitusi dan eliminasi terletak pada

kemampuan atau ketidak mampuan mensolvasi ion-ion: karbokation, nukleofil


atau basa, dan gugus-gugus pergi. Kemampuan mensolvi ion ditentukan oleh
polaritas molekul pelarut itu, yang biasanya dilaporkan sebagai tetapan
dielektrik (dielectric constant). Bila momen dipol mengukur polaritas sebuah
molekul, maka tetapan dielektrik mengukur polaritas suatu cairan (banyak
molekul yang berantaraksi satu dengan yang lain). Pelarut yang sangat polar
mempunyai tetapan dielektri yang sangat tinggi.
Meskipun tetapan dielektrik dapat memberikan pedoman dalam meilih
pelarut, namun tidak ada aturan yang tetap mengenai bagaimana meramalkan
pelarut mana yang terbaik untuk suatu reaksi tertentu. Pada umumnya pelarut
yang sangat polar (seperti air) mendorong reaksi SN1 dengan membantu
menstabilkan karbokation dengan jalan solvasi. Sebaliknya pelarut yang kurang
polar (seperti aseton) memilih reaksi SN2 dan E2, karena pelarut itu tidak
membentuk ionisasi.
Disamping solvasi (dari) karbokation, solvasi nukleofil juga sangat
penting. Pemilihan pelarut benar-benar dapat mengubah urutan nukleofilisitas
dakam suatu kelompok nukleofil. Suatu pelarut yang dapat mensolvi suatu ion
(jadi menstabilkan anion) akan mengurangi nukleofilisitasnya. Kebalikannya,
suatu pelarut yang tak dapat mensolvi suatu anion , akan meningkatkan
nukelofilisitas anion itu.

d.

Konsentrasi nukelofil atau basa


Dengan mengatur konsentrasi nukleofil atau basa, kita dapat langsung

mengontrol laju reaksi SN2 dan E2. Naiknya konsentrasi nukleofil umumnya tidak
memengaruhi laju reaksi SN1 atau E1, tetapi menaikkan laju reaksi SN2 atau E2
secara proporsional.

e.

Konsetrasi tinggu Nu: - atau basa:

SN2 atau E2

Konsentrasi rendah Nu: -

SN1 dan E1

Tempteratur
Kenaikan temperatur menaikkan laju semua reaksi subtitusi dan eliminasi.

Tetapi biasaya kenikan laju reaksi-reaksi eliminasi lebih besar (karena reaksi
eliminasi biasanya memiliki Eakt yang lebih tinggi, dan temperatur tinggi
memungkinkan lebih banyak molekul untuk sanggup mencapai keadaan transisi
eliminasi).

DAFTAR PUSTAKA

Fesenden, Ralp J, Joan S. Fesenden, 1997, Kimia Organik; Edisi Ketiga, Jakarta:
Penerbit Erlangga
Layli Prasojo, Stefanus, Kimia Organik ; Jilid 1.
Matsjeh, Sabirin, dkk., 1993, Kimia Organik Dasar, Yogyakarta: Laboratorium
Kimia Organik Universitas Gajah Mada
Sitorus, Marham, 2008, Kimia Organik Fisik, Yogyakarta: Graha Ilmu

10