Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa, mycobacterium bovis serta Mycobacterium avium, tetapi lebih
sering

disebakan oleh Mycobacterium tuberculosa. Pada tahun 1995,

diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB


diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB
didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian
wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan,
persalinan dan nifas (Depkes RI, 2007)
Pada tahun 2011 Indonesia (dengan 0,38-0,54 juta kasus) menempati
urutan keempat setelah India, Cina, Afrika Selatan. Indonesia merupakan
negara dengan beban tinggi TB pertama di Asia Tenggara yang berhasil
mencapai target Millenium Development Goals (MDG) untuk penemuan
kasus TB di atas 70% dan angka kesembuhan 85% pada tahun 2006 (Depkes
RI, 2013)
Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan
pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003).
Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam
penyebaran kuman tuberkulosis. Kuman tuberkulosis dapat hidup selama 1
2 jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung
pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu
rumah dan kepadatan penghuni rumah.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Apa pengertian dari penyakit Tuberkulosis ?

2. Apa klasifikasi dari penyakit Tuberkulosis ?


3. Bagaimana Etiologi dari penyakit Tuberkulosis?
4. Bagaimana Patofisiologi dari penyakit Tuberkulosis?
5. Apa yang menjadi agent, host dan environment penyakit Tuberkulosis ?
6. Faktor apa saja yang mampengaruhi kejadaian penyakit Tuberkulosis ?
7. Bagaimana cara penularan Penyakit Tuberkulosis ?
8. Bagaimana gejala dari penyakit Tuberkulosis ?
9. Bagaimana cara mendiagnosa penyakit Tuberkulosis ?
10. Bagaimana Manifestasi klinis Penyakit Tuberkulosis ?
11. Bagaimana pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis ?
12. Bagiamana cara pengobatan Penyakit Tuberkulosis ?

C. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu :
1. Untuk Mengetahui pengertian dari penyakit Tuberkulosis
2. Untuk Mengetahui Klasifikasi dari penyakit Tuberkulosis
3. Untuk Mengetahui Etiologi dari penyakit Tuberkulosis
4. Untuk Mengetahui Patofisiologi dari penyakit Tuberkulosis
5. Untuk Mengetahui agent, host dan environment dalam penular penyakit
Tuberkulosis
6. Untuk Mengetahui Faktor apa saja yang mampengaruhi kejadaian penyakit
Tuberkulosis
7. Untuk Mengetahui cara penularan penyakit Tuberkulosis
8. Untuk Mengetahui gejala dari penyakit Tuberkulosis
9. Untuk Mengetahui Diagnosis penyakit Tuberkulosis
10. Untuk Mengetahui Manifestasi klinis Penyakit Tuberkulosis
11. Untuk Mengetahui Pencegahan Penyakit Tuberkulosis
12. Untuk Mengetahui pengobatan Penyakit Tuberkulosis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tuberkulosis (TB)


Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
terutama meningens, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suddarth, 2003).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi, akibat kuman
mycobacterium tuberkulosis sistemik sehingga dapat mengenai semua organ
tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi
infeksi primer (Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, RI
2007)
B. Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis
a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena
1) Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang
menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput
paru) dan kelenjar pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada
TB Paru
1) Tuberkulosis paru BTA positif.

a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA


positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB
positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif Kasus yang tidak memenuhi definisi
pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif
harus meliputi:
a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative.
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.

C. Etiologi Penyakit Tuberkulosis


Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, sejenis
kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 4 m dan tebal 0,3
0,6 m dan digolongkan dalam basil tahan asam (BTA). (Suyono, 2001)
D. Patofisiologi Penyakit Tuberkulosis
Individu rentan yang menghirup basil tuberkulosis dan terinfeksi. Bakteri
dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli untuk memperbanyak diri, basil
juga dipindahkan melalui system limfe dan pembuluh darah ke area paru lain
dan bagian tubuh lainnya.
Sistem imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit
menelan banyak bakteri, limfosit specific tuberkulosis melisis basil dan
jaringan normal, sehingga mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam
alveoli dan menyebabkan bronkopnemonia. Massa jaringan paru/granuloma

(gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati) dikelilingi makrofag
membentuk dinding protektif.
Granuloma diubah menjadi massa jaringan fibrosa, yang bagian
sentralnya disebut komplek Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi
nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami
klasifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa
perkembangan penyakit aktif.
Individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon
inadekuat sistem imun, maupun karena infeksi ulang dan aktivasi bakteri
dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah, melepaskan bahan seperti
keju ke bronki. Bakteri kemudian menyebar di udara, mengakibatkan
penyebaran lebih lanjut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak
mengakibatkan bronkopnemonia lebih lanjut (Smeltzer, 2001).
E. Agent, Host dan Environment Penular Penyakit Tuberkulosis
Teori John Gordon, mengemukakan bahwa timbulnya suatu penyakit
sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bibit penyakit (agent), penjamu
(host), dan lingkungan (environment). Ketiga faktor penting ini disebut segi
tiga epidemiologi (Epidemiologi Triangle), hubungan ketiga faktor tersebut
digambarkan secara sederhana sebagai timbangan yaitu agent penyebab
penyakit pada satu sisi dan penjamu pada sisi yang lain dengan lingkungan
sebagai penumpunya.
Bila agent penyebab penyakit dengan penjamu berada dalam keadaan
seimbang, maka seseorang berada dalam keadaan sehat, perubahan
keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau sakit, penurunan daya
tahan tubuh akan menyebabkan bobot agent penyebab menjadi lebih berat
sehingga seseorang menjadi sakit, demikian pula bila agent penyakit lebih
banyak atau lebih ganas sedangkan faktor penjamu tetap, maka bobot agent
penyebab menjadi lebih berat. Sebaliknya bila daya tahan tubuh seseorang
baik atau meningkat maka ia dalam keadaan sehat. Apabila faktor lingkungan
berubah menjadi cenderung menguntungkan agent penyebab penyakit, maka

orang akan sakit, pada prakteknya seseorang menjadi sakit akibat pengaruh
berbagai faktor berikut :
a. Agent
Mycobacterium

tuberculosis

adalah

suatu

anggota

dari

famili

Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetalis. Mycobacterium


tuberculosis menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan
penyebab terjadinya infeksi tersering.
Masih

terdapat

Mycobacterium

patogen

lainnya,

misalnya

Mycobacterium leprae, Mycobacterium paratuberkulosis dan Mycobacterium


yang dianggap sebagai Mycobacterium non tuberculosis atau tidak dapat
terklasifikasikan (Heinz, 1993).
Di luar tubuh manusia, kuman Mycobacterium tuberculosis hidup baik
pada lingkungan yang lembab akan tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari.
Mycobacterium tuberculosis mempunyai panjang 1-4 mikron dan lebar 0,20,8 mikron. Kuman ini melayang diudara dan disebut droplet nuclei. Kuman
tuberkulosis dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap
tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya. Tetapi kuman
tuberkulosis akan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol, karbol dan
panas api (Atmosukarto & Soewasti, 2000).
Kuman tuberkulosis jika terkena cahaya matahari akan mati dalam waktu
2 jam, selain itu kuman tersebut akan mati oleh tinctura iodi selama 5 menit
dan juga oleh ethanol 80 % dalam waktu 2 sampai 10 menit serta oleh fenol 5
% dalam waktu 24 jam. Mycobacterium tuberculosis seperti halnya bakteri
lain pada umumnya, akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan
kelembaban yang tinggi. Air membentuk lebih dari 80 % volume sel bakteri
dan merupakan hal essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel
bakteri. Kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik
untuk bakteri-bakteri patogen termasuk tuberkulosis.

Mycobacterium tuberculosis memiliki rentang suhu yang disukai,


merupakan bakteri mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang 25 40 C,
tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31-37 C. Pengetahuan mengenai
sifat-sifat agent sangat penting untuk pencegahan dan penanggulangan
penyakit, sifat-sifat tersebut termasuk ukuran, kemampuan berkembang biak,
kematian agent atau daya tahan terhadap pemanasan atau pendinginan.
Agent adalah penyebab yang essensial yang harus ada, apabila penyakit
timbul atau manifest, tetapi agent sendiri tidak sufficient/memenuhi syarat
untuk menimbulkan penyakit. Agent memerlukan dukungan faktor penentu
agar penyakit dapat manifest. Agent yang mempengaruhi penularan penyakit
tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosis. Agent ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pathogenitas, infektifitas dan
virulensi.
Pathogenitas adalah daya suatu mikroorganisme untuk menimbulkan
penyakit pada host. Pathogenitas agent dapat berubah dan tidak sama
derajatnya bagi berbagai host. Berdasarkan sumber yang sama pathogenitas
kuman tuberkulosis paru termasuk pada tingkat rendah. Infektifitas adalah
kemampuan suatu mikroba untuk masuk ke dalam tubuh host dan
berkembang biak didalamnya. Berdasarkan sumber yang sama infektifitas
kuman tuberkulosis paru termasuk pada tingkat menengah. Virulensi adalah
keganasan suatu mikroba bagi host. Berdasarkan sumber yang sama virulensi
kuman tuberkulosis paru termasuk tingkat tinggi, jadi kuman ini tidak dapat
dianggap remeh begitu saja.
b. Host
Manusia merupakan reservoar untuk penularan kuman Mycobacterium
tuberculosis, kuman tuberkulosis menular melalui droplet nuclei. Seorang
penderita tuberkulosis dapat menularkan pada 10-15 orang (Depkes RI,
2002). Menurut penelitian pusat ekologi kesehatan (1991), menunjukkan
tingkat penularan tuberkulosis di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi,
dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di

dalam rumahnya. Di dalam rumah dengan ventilasi baik, kuman ini dapat
hilang terbawa angin dan akan lebih baik lagi jika ventilasi ruangannya
menggunakan pembersih udara yang bisa menangkap kuman TB.
Menurut penelitian Atmosukarto dari Litbang Kesehatan (2000),
didapatkan data bahwa Tingkat penularan tuberkulosis di lingkungan
keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat
menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya.
Besar resiko terjadinya penularan untuk rumah tangga dengan penderita
lebih dari 1 orang adalah 4 kali dibanding rumah tangga dengan hanya 1
orang penderita tuberkulosis.
Hal yang perlu diketahui tentang host atau penjamu meliputi
karakteristik; gizi atau daya tahan tubuh, pertahanan tubuh, higiene pribadi,
gejala dan tanda penyakit dan pengobatan. Karakteristik host dapat dibedakan
antara lain; Umur, jenis kelamin, pekerjaan, keturunan, pekerjaan, keturunan,
ras dan gaya hidup.
Host atau penjamu; manusia atau hewan hidup, termasuk burung dan
anthropoda yang dapat memberikan tempat tinggal atau kehidupan untuk
agent menular dalam kondisi alam (lawan dari percobaan). Host untuk kuman
tuberkulosis paru adalah manusia dan hewan, tetapi host yang dimaksud
dalam penelitia ini adalah manusia. Beberapa faktor host yang mempengaruhi
penularan penyakit tuberkulosis paru adalah; kekebalan tubuh (alami dan
buatan), status gizi, pengaruh infeksi HIV/AIDS.
c. Environment
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda
mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat
interaksi semua elemen-elemen termasuk host yang lain. Lingkungan terdiri
dari lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan fisik terdiri dari; Keadaan
geografis (dataran tinggi atau rendah, persawahan dan lain-lain), kelembaban
udara, temperatur atau suhu, lingkungan tempat tinggal. Adapun lingkungan

non fisik meliputi; sosial, budaya, ekonomi dan politik yang mempengaruhi
kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu penyakit.
F. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Tuberkulosis
Penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
status sosial ekonomi, status gizi, umur dan jenis kelamin untuk lebih
jelasnya dapat kita jelaskan seperti uraian dibawah ini:
a. Faktor Sosial Ekonomi
Disini sangat erat dengan keadaan rumah, kepadatan tempat
penghunian, lingkungan perumahan dan sanitasi tempat bekerja yang
buruk dapat memudahkan penularan TBC. Pendapatan keluarga sangat
erat juga dengan penularan TBC, karena pendapatan yang kecil membuat
orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan.
b. Status Gizi
Keadaan kekurangan gizi akan mempengaruhi daya tahan tubuh
sesoeranga sehingga rentan terhadap penyakit termasuk TB-Paru. Keadaan
ini merupakan faktor penting yang berpengaruh dinegara miskin, baik pada
orang dewasa maupun anak-anak.
c. Umur
Penyakit TB-Paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia
produktif (15 50) tahun. Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi
menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia
lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga
sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit TB-Paru.
d. Jenis Kelamin.
Menurut WHO, sedikitnya dalam jangka waktu setahun ada sekitar 1
juta perempuan yang meninggal akibat TB-Paru, dapat disimpulkan bahwa

pada kaum perempuan lebih banyak terjadi kematian yang disebabkan oleh
TB-Paru dibandingkan dengan akibat proses kehamilan dan persalinan.
Pada jenis kelamin laki-laki penyakit ini lebih tinggi karena merokok
tembakau dan minum alkohol sehingga dapat menurunkan sistem
pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan agent penyebab
TB-Paru.
G. Cara Penularan Penyakit Tuberculosis
Cara penularan tuberkulosis paru melalui percikan dahak (droplet)
sumber penularan adalah penderita tuberkulosis paru BTA(+), pada waktu
penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin. Droplet yang mengandung
kuman TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam, sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi
dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.
Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman, percikan dapat bertahan selama beberapa
jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
Orang akan terinfeksi apabila droplet tersebut terhirup kedalam saluran
pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas
atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari
seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahaknya maka
makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahaknya negatif
maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
H. Gejala Klinis Tuberkulosis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu
atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan

10

menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa


kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.
Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru
selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lainlain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai
seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis langsung.
I. Diagnosis Penyakit Tuberkulosis
1. Diagnosis TB Paru
a. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,
yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
b. Diagnosis

TB

Paru

pada

orang

dewasa

ditegakkan

dengan

ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan


BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis
utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan
dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan
indikasinya.
c. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan
foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang
khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
d. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas
penyakit.
e. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB
paru.
2. Diagnosis TB ekstra paru
a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku
kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis),
pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan
deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lainlainnya.

11

b. Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat


ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan
menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis
tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan
ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi
anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.

J. Pencegahan Penyakit Tuberkulosis


Sebenarnya seseorang bisa terhindar dari penyakit TBC dengan berpola
hidup yang sehat dan teratur. Dengan sistem pola hidup seperti itu diharapkan
daya tubuh seseorang akan cukup kuat untuk membersihkan perlindungan
terhadap berbagai macam penyakit. Orang yang benar-benar sehat meskipun
ia diserang kuman TBC, diperkirakan tidak akan mempan dan tidak akan
menimbulkan gejala TBC.
Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi penyakit tuberkulosis,
mempertahankan status kesehatan dengan asupan nutrisi yang cukup, minum
susu yang

telah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum

terdapat bakteri hingga dilakukan pengobatan, pemberian imunisasi BCG


untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberkulosis
virulen.
K. Pengobatan Penyakit Tuberkulosis
Untuk program pemberantasan TB paru, WHO menganjurkan panduan
obat sesuai dengan kategori penyakit. Kategori didasarkan pada urutan
kebutuhan pengobatan dalam program. Untuk itu, penderita dibagi dalam
empat kategori sebagai berikut:
1) Kategori 1
Kategori 1 adalah kasus baru dengan sputum positif dan penderita dengan
keadaan yang berat seperti meningitis, TB milier, perikarditis, peritonitis,
pleuritis masif atau bilateral, spondiolitis dengan gangguan neurologis, dan
penderita dengan sputum negatif tetapi kelainan parunya luas, TB usus,

12

TB saluran perkemihan, dan sebagainya. Selama 2 bulan minum obat INH,


rifampisin, pirazinamid, dan ethambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4
bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tigakali dalam
seminggu (tahap lanjutan).
2) Kategori 2
Kategori 2 adalah kasus kambuh atau gagal dengan sputum tetap positif,
diberikan kepada:
a) Penderita kambuh
b) Penderita gagal terapi
c) Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat
3) Kategori 3
Kategori 3 adalah kasus sputum negatif tetapi kelainan parunya tidak luas
dan kasus TB diluar paru selain yg disebut dalam kategiri 1.
4) Kategori 4
Kategori 4 adalah adalah tuberkulosis kronis. Prioritas pengobatan rendah
karena kemungkinan keberhasilan rendah sekali.
Jenis dan dosis OAT (Obat Anti Tuberculosis) :
a. Isoniazid (H)
Isoniazid (dikenal dengan INH) bersifat bakterisid, efektif terhadap kuman
dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang.
Efek samping yang mungkin timbul berupa neuritis perifer, hepatitis rash,
demam Bila terjadi ikterus, pengobatan dapat dikurangi dosisnya atau
dihentikan sampai ikterus membaik. Efek samping ringan dapat berupa
kesemutan, nyeri otot, gatal-gatal. Pada keadaan ini pemberian INH dapat
diteruskan sesuai dosis.
b. Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dorman (persisten).
Efek samping rifampisin adalah hepatitis, mual, reaksi demam,
trombositopenia. Rifampisin dapat menyebabkan warnam merah atau
jingga pada air seni dan keringat, dan itu harus diberitahukan pada

13

keluarga atau penderita agar tidak menjadi cemas. Warna merah tersebut
terjadi karena proses metabolism obat dan tidak berbahaya.
c. Pirazinamid (P)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan
suasana asam. Efek samping pirazinamid adalah hiperurikemia, hepatitis,
atralgia.
d. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, efek samping dari streptomisin adalah nefrotoksik dan
kerusakan nervus kranialis VIII yang berkaitan dengan keseimbangan dan
pendengaran.
e. Ethambutol (E)
Bersifat

bakteriostatik,

ethambutol

dapat

menyebabkan

gangguan

penglihatan berupa berkurangnya ketajaman penglihatan, buta warna


merah dan hijau, maupun optic neuritis.

14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini yaitu :
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis.
Agent penyebab Tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis
menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya
infeksi tersering. Mycobacterium tuberculosis hidup baik pada lingkungan
yang lembab akan tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari.
Host penyebab Tuberculosis. Seorang penderita tuberkulosis dapat
menularkan pada 10-15 orang. Penderita rata-rata dapat menularkan kepada
2-3 orang di dalam rumahnya. Di dalam rumah dengan ventilasi baik, kuman
ini dapat hilang terbawa angin dan akan lebih baik lagi jika ventilasi
ruangannya menggunakan pembersih udara yang bisa menangkap kuman TB.
Environment penyakit Tuberculosis adalah Lingkungan yang segala
sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata atau
abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen
termasuk host yang lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Tuberculosis Untuk
terpapar penyakit TBC pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti : status sosial ekonomi, status gizi, umur, jenis kelamin, dan faktor
toksis.
Cara penularan

tuberkulosis paru melalui percikan dahak (droplet)

sumber penularan adalah penderita tuberkulosis paru BTA(+), pada waktu


penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin. Umumnya penularan terjadi
dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.

15

Gejala penyakit tuberculosis antara lain Batuk, Sesak nafas, Nyeri dada,
Demam, Malaise (keadaan lesu)
Gambaran klinis tuberculosis mungkin belum muncul pada infeksi awal
dan mungkin tidak akan pernah timbul bila tidak terjadi infeksi aktif.
Pengobatan penyakit Tuberculosis. Terdapat 5 jenis antibotik yang dapat
digunakan yaitu Antibiotik yang paling sering digunakan adalah Isoniazid
(H), Rifampicin (R), Pirazinamid (P), Streptomisin (S) dan Etambutol (E).
Jika penderita benar-benar mengikuti pengobatan dengan teratur, maka tidak
perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat sebagian paru-paru. Kadang
pembedahan dilakukan untuk membuang nanah atau memperbaiki kelainan
bentuk tulang belakang akibat tuberkulosis.
B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah dengan kita telah
mengetahui apa itu penyakit Tuberculosis, kita dapat lebih menjaga lagi
kesehatan kita yaitu dengan selalu menjaga lingkungan dan kesehatan diri
kita sendiri supaya tetap bersih, mengingat bahwa penyakit ini adalah
penyakit menular yang sangat berbahaya dan angka kematiannya cukup
tinggi.

16

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. (2013). Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran Tata Laksana Tubetkulosis Edisi 3. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2007). Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis Edisi 2. Jakarta
http://fildza.wordpress.com/2008/04/24/penyakit-tuberkulosis/

Diunduh

tanggal 2 November 2014.


http://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis Diunduh tanggal 2 November 2014.
http://jundul.wordpress.com/2008/09/14/penularan-tbc/ Diunduh tanggal 3
November 2014.
http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm Diunduh tanggal 2 November 2014.
http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-tuberkulosis-tbc.html
Diunduh tanggal 4 November 2014.
http://www.totalkesehatananda.com/tuberculosis6.html Diunduh tanggal 2
November 2014.
http://www.scribd.com/doc/32087430/makalah-TBC Diunduh tanggal 2
November 2014.

17